Aku suka dengan goyangan pantat Bu Yenty ketika manggung menyanyikan lagu dangdut, wajahnya yang cantik dan buah dadanya montok sering membuatku mengkhayalkan bisa aku tiduri, aku ingin meremas pantatnya yang berisi itu. Aku menjadi semakin menggoda, pernah dalam suatu kali sehabis manggung aku diberi senyum sangat menggoda ketika di kenalkan oleh teman yang menjadi ketua panitia konser dangdut saat tahun baru, malah Bu Yenty sering mencuri pandang ketika aku sedang bicara dengan temanku itu. Seperti adan yang lain dalam diriku, tidak memandang ke arah selakangku tapi pada wajahku, seolah aku pernah dikenalnya. Saat itu aku hanya memberikan nomer telponnya.
Namun malam itu aku nggak bisa tidur karena ada sms masuk ke hape dari nomer yang tak ada dalam memori hapeku, aku segera menyimpan nomer hapeku, lalu aku kembali mengeloni Tamara Bleszynski yang sudah puas aku genjot sebanyak tiga ronde.
Kalo aku memandang penuh nafsu, sedang dia entah butuh apa, aku mengingatnya ketika dicuri pandang oleh Bu Yenty. Padahal besok pagi aku harap datang ke rumahnya, entah apa yang mengusiknya. Aku pagi pagi sudah meninggalkan ketiga istri dan tanteku yang masih molor. Aku hanya menulis pesan di kertas dan kutempel, dengan alasan ke gedung Cyber Kuningan, serverku ambruk keterjang spam bejibun.
Aku suka dengan pandangan menggoda Bu Yenty itu, bibirnya yang seksi dan tidak besar ingin kusampal dengan penisku yang besar, berbeda dengan bibir Nia Zulkarnaen atau Emma Waroka yang lancar memasukkan penisku ke mulutnya untuk dioral. Bibir Tamara Bleszynski juga sesak untuk ukuran penisku, yang paling menggelikan adalah bibir mungil Yuni Shara yang sangat susah memasukkan penisku. Kini targetku adalah Bu Yenty ini, karyawati dangdut yang kalo bergoyang di pantatnya membuatku menjadi bernafsu untuk mendapatkan karyawati ini. Apalagi aku suka dengan wanita berambut panjang sampai di buah dadanya. Aku senang melihat rambut para karyawati yang berhasil aku keloni dan kuajak ngeseks, nikmatnya sangat luar biasa dari pada nidurin janda kelas rumah tangga. Selain itu, janda kelas rumah tangga terkenal dengan pelitnya dan tidak mau royal setelah dipuaskan. Berbeda dengan para karyawati kesepian ini, menjadi tantangan sendiri jika melakukan selingkuh kudu pintar pintar menjaga rahasia, terkadang aku menguntit karyawati yang hendak kutiduri datang ke villa dengan mengamati siapa yang mengikuti, jika ada yang mengikuti aku langsung mengabari perjanjian batal, lagi pula aku selalu memarkir semua mobil masuk ke garasi yang muat sampai tiga mobil.
Dengan berbekal keyakinan juga nafsu ingin merasakan kesintalan, kemontokan Bu Yenty yang siang itu aku datang sendirian. Aku sengaja memarkir mobilku jauh dari rumahnya agar tidak menimbulkan kesan ada tamu menginap dan berbirahi dengan yang aku kelonin dan genjotin. Aku masuk ke pekarangan rumahnya yang mewah, spanyolan, namun sepi seperti tak ada penghuninya, ketika aku masuk lebih dalam ke taman depan rumah yang rimbun itu aku disapa
“Haaalooo Han .. datang juga “ sapa Bu Yenty yang ternyata sedang jongkok membenahi tanaman di balik rerimbunan pohon. Bu Yenty lalu berdiri lalu menyamperin aku yang tersenyum, lalu Bu Yenty menyalami dan kubalas salamanya itu. dimintanya tasku untuk dibawakan dan aku diminta masuk.
“Capek ya ke sini ?”
“Huuuh capek lah .. macet di mana mana .. mosok dari Bogor ke Jakarta bisa 4 jam “ sungutku sambil membanting pantatku ke sofa empuk, sofa yang mungkin akan menjadi tempat menggauli Bu Yenty sampai dirinya merintih rintih. Hari itu Bu Yenty memakai kaos warna putih dengan tulisan You Can See, dengan celana pendek longgar, namun dari kaosnya itu yang membuatku menjadi ngaceng karen besaran buah dadanya tercetak menonjol ke depan.
“Bogor ? kata temanmu kamu tinggal di Jakarta ?” tanya Bu Yenty dengan duduk di sampingku
“Yaaah .. cuma ngurus villa teman yang nganggur saja kok Tante .. “ kataku dengan menyebut tante, namun Bu Yenty tak keberatan walau setengah protes
“Kok tante .. biasanya khan Mbak Bu Yenty gitu .. “ sergah Bu Yenty
“Biarin .. biar aku merasakan punya tante sebaik Tante Bu Yenty .. “ kataku dengan setengah tertawa lalu membuka tasku mengambil handphone satuku.
“Ya sudah .. kamu mau minum apa ?” tanya Bu Yenty dengan berdiri
“Kalo ada sih susu yang dingin .. biar segar .. “ kataku dengan menekan tombol tuts handphone tanpa melihat ke Bu Yenty, walau Bu Yenty sangat terkejut dikira susunya yang nemplok di dadanya, melihatku bicara tanpa ekspresi membuat Bu Yenty terkesiap.
“Susu segar nggak ada Han .. adanya yang hangat tuh .. “ goda Bu Yenty yang lenyap ke balik pintu
“Kalo gitu yang hangat saja tante .. “ jawabku dengan suara kukeraskan, Bu Yenty balik muncul
“Jahiiiiiiiil “ semprot Bu Yenty. Tak lama kemudian Bu Yenty kembali dengan es susu segar buatan sendiri, susu Milo bercampur es batu.
“Naah ini .. rasanya lega minum milo .. “
“Kirain tadi aku kira kamu jorok .. “ tukas Bu Yenty dengan tersenyum dan duduk di sampingku.
“Sebenarnya ada perlu apa sih tante .. kok penting banget manggil guwe “ tanyaku dengan meletakkan gelas yang tinggal separo.
“Kamu mau nggak nolongin aku .. aku dengar dari temanmu kalo kamu suka jual aplikasi akunting untuk butik butik, itu aku dengar dari Mbak Nafa .. katanya aplikasi itu murah dan handal, malah lebih murah 60 % dari yang ada .. “
“Nafa ? memang kenal ?”
“Kenal donk ..walau nggak akrab, waktu itu aku sedang belanja ke butik dia .. trus proses pembukuannya bisa dibikin online jadi bisa dikontrol dari rumah .. aku sedang merintis usaha sampingan .. siapa tahu nggak laku lagi menyanyi dangdut”
“Goyangnya ditambah gitu “
Bu Yenty “Huuuusss .. jorok aaah .. Sayang Nafa sendiri nggak banyak buka mulut, cuma nyaranin cari sendiri dengan email ini .. tapi ketika mendapat email itu kok kamu, ya dah aku langsung saja sms, katanya kamu nggak suka ditelpon lebih suka menggunakan sms“ semprot Bu Yenty.
“Aku bantu Tante semampuku .. aku harus melihat dulu mau usaha apa .. prospeknya bagaimana, aku juga berusaha mencari pasar mana yang dibidik, nggak bisa aku langsung kasih aplikasinya trus jalanin sendiri, jadi kudu bikin plan dulu .. dari modal dan sebagainya .. “ jawabku dengan diplomatis.
“Siip .. berapa harganya tuh ?” tanya Bu Yenty pengin memastikan
“Ya nggak bisa aku kasih .. soalnya aku belum tahu bentuk usahanya gitu .. soalnya seberapa produk yang mau dijual dan bagaiman ribetnya setiap unsur dari produk itu .. “
“Oh begitu .. jadi kamu mau bantu seluruhnya ?”
“Ya nggak donk .. memang aku pegawai tante apa .. cukup laporan saja deh .. ntar aku olah .. kecuali tante mau bayar aku untuk survey .. aku punya banyak peluang usaha untuk tante kalo mau .. tapi aku harus memikirkan dulu mana yang tepat .. soalnya aku juga punya jaringan dagang … bisa saja tante aku rujuk ke grosir grosir yang harganya jatuh dibawah harga pasar jika mengambil dalam bentuk rutinitas bukan dalam bentuk partai besar”
“Oke sip … “ ujar Bu Yenty dengan tersenyum.
Wanita ini kadang menggodaku dengan nakal, sehingga aku berasumsi suka seks juga, namun aku tak terpancing dulu, jangan jangan dia berkilah dapat info dari karyawati yang pernah aku tidurin.
“Tante .. boleh aku ke belakang .. kebelet nih “ ujarku dengan berdiri
“Boleh .. yuuk .. aku antarin saja ke kamar kecil .. soale rumah ini luas .. “ ajak Bu Yenty dengan berdiri, aku memalingkan mukaku, ketika memalingkan mukaku itu, terlintas mata Bu Yenty mencuri ke selakanganku, aku ditariknya ke arah menuju dapur, belok kanan, belok kiri dan dekat dengan tempat masak
“Tuh .. kamar mandinya .. “ tunjuk Bu Yenty. Mendadak di depanku ada tikus melintas membuat Bu Yenty kaget dan langsung memelukku, terasa sekali buah dadanya mengencet dadaku, kurasakan harum tubuhnya yang menusuk hidungku, kupegang tubuhnya dan kupeluk dengan erat. Ketika tikus itu lenyap keluar lewat pintu dapur menuju halaman baru Bu Yenty terkejut
“Kok meluk meluk istri orang sih “ ujar Bu Yenty dengan terjut dan mencekal tanganku, aku hanya tersenyum saja dengan cengegesan lalu meninggalkan Bu Yenty masuk ke kamar mandi dan sengaja kamar mandi itu tidak aku kancing, kubuat celah agar Bu Yenty penasaran. Aku memejamkan mataku ketika kencing, terasa berat karena aku ngaceng membayangkan kesintalan Bu Yenty, selepas aku kencing merasakan kebebasan, namun tak disangka ada tangan jahil yang lentik dan lembut memegang penisku. Aku terkejut dan membuka mataku.
Rabu, 04 Juli 2012
GOYANGAN PANTAT BU YENTI
“Besar sekali penismu, sayang “ bisik Bu Yenty ke telingaku bahkan malah menempelkan buah dadanya ke punggungku
Ternyata dugaanku tak jauh, ternyata Bu Yenty lebih bernafsu padaku.
“Oh . Tante nakal aah .. “ ujarku dengan mencekal tangan Bu Yenty dan melepaska penisku lalu aku membalik badanku, dan aku lebih terkejut yang kulihat ini Bu Yenty sudah telanjang bulat tanpa sehelai benangpun.
“Hmmm .. aku sudah bernafsu sama kamu sejak dulu .. sayaang .. aku yakin kamu menyimpan magnit daya tarik pada wanita seumurku .. “ ceplos Bu Yenty dengan menggoda memamerkan kesintalan tubuhnya. Aku menjadi semakin ngaceng tak karuan.
“Kok tahu ?” tanyaku untuk lebih menggoda
“Sudahlah itu rahasia wanita .. kamu mau memuasi aku ?” pancing Bu Yenty dengan nakal kembali memegang penisku.
“Nggak mau “ godaku lagi dan membuat Bu Yenty semakin gemas, langsung jongkok dan menarik celana melorot.
“Duuuuuh .. besar sekali .. nggak muat dalam mulutku nih kalo dioral .. “ ujar Bu Yenty dengan mata berbinar.
Bu Yenty ternyata nakal dan suka dengan sikap agresifnya, padahal aku belum melancarkan rayuan malah sudah diterjang duluan tanpa ba bi bu lagi.
“Tugasmu tidak hanya mengurusi usahaku .. juga tubuhku .. “ goda Bu Yenty dengan menepuk kakiku agar celanaku bisa lepas semuanya.
“Aku pengin tante goyang dulu seperti manggung .. setelah itu aku mau melayani tante memberikan kepuasan” kataku dengan pandangan nafsu ke vaginanya yang jembutnya lebat itu.
“Kenapa tidak “ tukas Bu Yenty dengan berdiri lalu menutup pintu kamar mandi, kemudian bergerak menggoyangkan pantatnya dengan merangsang, goyangan itu bergerak membelakangiku dan memamerkan bongkahan pantatnya, aku langsung meremas pantatnya, liukan badannya ke kiri dan menepis tanganku yang nakal, sangat hot dan merangsangku sehingga aku tak tahan.
“Kita ke kamar tante .. “ ajakku penuh nafsu
“Aku pengin oral dulu di sini .. ijinkan aku menelan air manimu .. setelah itu kita lanjutkan di ranjang “ ujar Bu Yenty dengan genit dan sangat nakal sekali.
Luar biasa wanita ini, selain cantik bodynya sangat menggiurkan, buah dadanya besar dan montok, bibirnya tebal tapi tidak lebar. Lagi lagi mempunyai sikap sangat agresif dibanding Bu Sinta atau Bu Selfi Rachmawanti. Baru kali ini aku mendapatkan wanita seperti Bu Yenti yang sangat agresif dan menggoda, namun sering disembunyikan. Namun dihadapanku, wanita ini sangat agresif sekali walaupun aku tidak menyangkanya kalo Bu Yenti berani masuk ke kamar mandi dengan bertelanjang bulat langsung meremas penisku. Akupun menjadi langsung panas melihat Bu Yenti telanjang itu, apalagi mau melakukan goyangan pantat dengan hot di depanku. Sehingga aku menjadi tak sabaran dan langsung meremas pantatnya yang aduhai itu. Dipegangnya penisku dengan dipandang penuh nafsu, seyakinku lebar bibir Bu Yenti tidak akan muat penisku yang besar itu, dengan tersenyum kepadaku, mulailah dijilati batangku dengan lidahnya menyentuh kepala penisku dan membuatku geli
“Tante Bu Yenti sangat nakal aaaaaah .. awas lho kalo nakal “ godaku dengan meremas kepalanya, kemudian mengatur rambutnya dengan membungkukkan badanku agak condong. Dengan tersenyum sangat nakal mengerling menghindari tatapan mataku, lalu melepaskan batangku.
“Tante Bu Yenti-mu memang nakal kok .. tante akan selalu nakal padamu .. boleh ndak kalo tante genit ?”
“Duuuh .. aku suka tante yang nakal dan genit . segera donk … pengin dioral .. tapi jangan sampai muncrat .. aku nggak tahan ingin menindih dan ditindih tante di ranjang “ kataku semakin nakal
“Kamu palingan ingin meremas susuku khan ? Tante tahu kok kamu minta susu segar dingin cuma memancingku .. “ sudut Bu Yenti dengan tersenyum manis, kemudian sikapnya makin nakal, memamerkan buah dadanya dengan membusung ke depan. Pelan pelan bibirnya didekatkan kembali ke batangku dan menjilat dengan rakus, tangan kirinya mengelus elus pahaku untuk memberi rangsangan padaku, sehingga kakiku kadang menjadi gemetar. Aku masih tidak mempercayai sikap nakalnya Bu Yenti ini. Namun yang jelas aku menyukai kenakalannya, kegenitannya, padahal aku tidak menyukai kegenitan Emma Waroka, bahkan Nia Zulkarnaen sering aku ejek jika genit.
“Oke deh .. terserah tante .. tapi jangan tante jangan sebut dengan kata aku, sebut diri tante dengan nama tante, Tante Bu Yenti yang hot, Tante Bu Yenti yang nakal dan genit .. “ kataku semakin ingin bernafsu segera menggumuli wanita ini. Jilatannya sangat rakus dan menjilat di bagian bawah batangku. Menyeluruh bagian bawahnya dijilati sampai menjilati buah zakarku, lalu menurun ke bawah sampai pahaku.
“Terusss Tanteee .. enak tante .. huuuuh .. Tante Bu Yenti bikin geli aaah .. “ lenguhku merasakan jilatan dari lidah Bu Yenti yang semakin asyik dengan mainan penisku yang besar dan panjang itu. Dijilatinya kemudian bagian atas batang penisku dengan menekan agar batangku tidak mengacung, batangku terasa ngilu ditekan agar tegak ke arah bibir Bu Yenti
“Aaaaaaaaah .. rasanya nggak nggenah tante .. uuuuh .. tante rakus sekali … “ lenguhku merasakan kenakalan tangan Bu Yenti itu, lebih nakal dari semua artis yang pernah melakukan jilatan dan kuluman pada penisku. Nia Zulkarnaen, Emma Waroka juga agresif, namun aku merasakan Bu Yenti akan lebih agresif dalam mengadu birahi denganku, libidonya lebih tinggi dari Bu Sinta yang suka memaksakan kehendak jika bercinta denganku, sehingga aku menjadi ogah bercinta dengannya. Jilatan demi jilatan, bahkan dengan nakal diludahinya batangku memakai air liurnya, kemudian dijilati air liur itu, malah ketika air liurku menetes jatuh, dengan cepat tangannya menangkap tetesan air liurnya itu kemudian dijilatinya.
“Minta air liurmu, sayang “ kata Bu Yenti dengan memandangku ke atas, aku langsung mengeluarkan air liurku, kemudian kuludahkan dengan pelan tepat di mulutnya, Bu Yenti langsung membuka mulutnya kemudian air liur itu masuk ke dalam mulutnya dan menelannya ke dalam tenggorokan. Aneh aneh saja ini wanita dalam fantasi seksnya.
Pelan pelan kepalanya naik menuju ke depan penisku yang ditekan agar lurus, dengan membuka mulutnya, kepala penisku dimasukkan dengan membuka mulutnya lebar lebar. Terasa sekali batangku langsung tersentuk di giginya, terasa sangat sesak sekali mulutnya mau menelan penisku, hanya di kepala penisku itu tak bisa masuk lebih dalam. Bagaimana kalo aku memasukkan batangku ke lubangnya ? biasanya lelaki suka mengukur ukuran besar mulut dan dibandingkan dengan lebar vaginanya. Jika memang ukuran lebar mulut kecil bisa dipastikan lebar vaginanya juga kecil sehingga perlu perjuangan ekstra untuk memasukkan batangku, lebih parah jika dalam posisi terjepit dan mengering pas ngaceng .. akan sangat sulit sekali mencabutnya.
Dugaanku tak meleset besaran mulut Bu Yenti tak muat akan penisku itu, sehingga batangku hanya masuk pada kepala penisku. Bu Yenti mencabut penisku lalu tersenyum
“Luar biasa sayaaaang .. mulutku nggak sanggup menelan penismu .. Hmmm … tante senang mendapat penis sebesar ini .. ini akan luar biasa dalam lubang tante .. ssiip .. yuk ke kamar saja .. kamu siap khan menggumuli Tante Bu Yenti ?” tanya Bu Yenti dengan berdiri lalu menarik penisku
Kami tertawa dengan penuh birahi, dibukanya pintu kamar mandi itu dan Bu Yenti tetap menarik penisku dengan menggerakkan tangannya mengaba aba padaku sambil tersenyum sangat nakal dan genit. Keluar dari kamar mandi terlihat tumpukan kaos, celana pendek longgar, BH warna coklat muda dan celana dalam warna hitam, diambilnya BH dan celana dalam itu dan diberikan padaku
“Ini oleh oleh buat kamu, sayaaang .. kuberikan BH dan celana dalam ini untukmu .. “ ujar Bu Yenti dengan tersenyum dan aku menjadi senang dengan khayalan dan fantasi seks Bu Yenti ini, semakin aneh saja Bu Yenti ini.
“Kalo boleh aku bawa pulang Tante Bu Yenti saja .. “ candaku dengan menerima BH dan celana dalam itu, dengan semakin nakal aku ditariknya masuk ke dalam kamarnya yang berdekatan dengan dapur dan kamar mandi itu.
“Boleeh .. selepas kamu memuasi tante .. tante akan ikut kamu .. ajak tante ke villa yaaa .. “ rengek Bu Yenti dengan tersenyum.
Sesampai di kamar aku langsung mencekal tangan Bu Yenti yang menarik penisku, aku langsung memondongnya dan kuangkat lalu kulemparkan ke ranjang yang sangat empuk itu. BH dan celana dalam masih dalam genggamanku, kuusap penisku dengan celana dalamnya dan membuat Bu Yenti menjadi senang.
“Tante akan menjadi milikmu sayaaang .. Hmmm .. sudah lama tante menginginkan ini .. tante naksir berat sama kamu .. sejak bertemu denganmu, tante suka dengan wajahnya itu .. cool, nakal dan ternyata suka wanita setengah baya .. “
Bu Yenti1 “Tahu saja tante .. “ ujarku dengan langsung memeluk dan menindihnya dengan gemas, aku langsung melumat bibirnya dengan rakus, kuremas buah dadanya yang kenyal dan mulai mengeras seiring birahinya meletup letup itu. Lumatanku yang ganas it membuat Bu Yenti semakin kewalahan, dilawannya lumatanku, lidahku kulesakkan ke dalam mulut Bu Yenti dan mencari bibirnya, bibirnya langsung aku tekan ke dalam dan membuat Bu Yenti langsung tersedak menarik kepalanya. Lepas dari lumatanku itu, nafasnya megap megap dan matanya terkesan sangat lapar sekali ingin dipuasi. Gila ini wanita .. pikirku dengan menggeleng geleng.
Aku langsung kembali bermain dengan buah dadanya, kuremas sebelah kiri, sebelah kanan puntingnya aku masukan ke dalam mulutku dan kuhisap sekuatku
“Haaaaaaaaan .. yaaaaaa .. hisaaap ..sedot lagi “ lenguh Bu Yenti dengan suara keras. Berkali kali aku menghisapnya dengan sekuatku, lalu kulepaskan kuluman punting itu dan kedua tanganku memegang buah dadanya dan kuremas sekuatku.
“Iyaaaaaaaaa aah .. remeess susu tante .. hhhhhsssss … hhhhsssss “ desis Bu Yenti dengan suara yang membuatku semakin panas. Kepalaku tetap bermain di kedua bongkahan itu dengan meremas dan menghisap puntingnya, kulitnya yang putih itu terasa sangat halus, aku menjilati buah dadanya mengitari gudukan sebelah kiri.
“Uuuuuh .. tante suka jilatanmu sayaang “ tukas Bu Yenti dengan tersenyum padaku, meremasi kepalaku dan berusaha membenamkan kepalaku, hidungku menjadi terjepit ketika pegangan Bu Yenti dilepaskan dan menekan ke tanganku kiriku yang meremas buah dadanya sebelah kiri, sedang buah dada sebelah kanan diremasnya sendiri. Kutarik kepalaku karena aku tidak bisa bernafas
“Naaaakaal sekali Tante Bu Yentiaa … “
“Yaaa .. tantemu akan selalu nakal padamu .. awas kalo tante jahili penismu kamu nggak boleh marah ya”
“Oke deh .. nelan penisku saja nggak mampu .. huuuh “ semprotku dengan menggoda.
“Waduuuuh … itu salah penismu yang besar “ rajuk Bu Yenti dengan tersenyum. Aku lalu kembali menjilati ke perutnya kemudian turun menuju ke selakangannya yang sudah sangat basah itu, lubangnya sangat sempit sekali, aku sempat menggeleng gelengkan, bagaimana penisku bisa masuk, apalagi aku suka dengan jembutnya yang lebat itu.
“Segera oral Tante Bu Yentiaa “ pinta Bu Yenti dengan tersenyum, mengambil bantal dan mengganjal di bagian punggung dekat pundaknya agar bisa melihatku mengoralnya
Tanpa basa basi, aku langsung dengan rakus menjilatinya, kusapu bibir vaginanya dengan lidahku membuat Bu Yenti langsung melenguh.
Bu Yenti 2 “Hhhhhhhhhssssssssss. …. hhhhsssssss… “ desis Bu Yenti dengan merem melek, kusapu terus bibir vaginanya itu, lalu kuhisap lubang itu sekuatku membuat Bu Yenti langsung membusungkan dadanya ke atas. Lenguhan dan erangannya semakin tak karuan. Kuludahi vagina itu lalu kujilati lagi dan membuat Bu Yenti menjadi senang
“Yaaa .. tante suka kamu .. sayaang .. teruuus .. buat tante menggelepar “ kata Bu Yenti dengan disambung desisan yang membuatku semakin senang.
Bibir vaginanya kembali kuserbu, dengan semakin nakal, jari telunjukku aku tusukan ke dalam lubangnya, ketika jariku masuk itu sudah terasa sekali kedutannya
“Naakaaaaaaaaaaaaaaal “ seru Bu Yenti dengan suara menggoda, bagian dadanya menggelinjang, bergerak tak karuan kesana kemari akibat tusukan jariku itu. Lubangnya semakin merengkah dan terasa sangat lentur tapi terkesan alot, hmmm .. aku yakin tak bakalan tahan akan jepitannya.
Sapuan lidahku, sedotan bibirku yang menghisap itu membuat Bu Yenti semakin tak karuan gerakkannya, seperti meronta ronta, matanya terpejam dengan erat. Pelan pelan dengan kesabaran aku memperlebar lubang jalan bayi itu dengan lidahku, hisapanku. Sedang Bu Yenti semakin tak tahan
“Sayaaaaaaaaaaaangg .. nggak taaaahaaaaaan aaah .. mau sampaaai “ jerit Bu Yenti dengan keras, bahkan kakinya sebelah kiri ditopangkan ke punggung yang dimana aku sedang membungkuk mengoral dengan rakus dan bahkan terkesan cepat. Lenguhan, erangan dan desisan semakin cepat berganti, tubuhnya oleng kesana kemari tak karuan, kaki satunya kini ditopangkan lagi dan menjepit penisku. Aku terus kuoral, sedang tangan kiri Bu Yenti mengelus elus bagian di atas vaginanya untuk memancing agar cepat orgasme. Klitorisnya aku sedot dan jilatin dengan gemas
“Sudaaah aaah .. awasss .. tante mau muncraaaaaaaaaaaat “seru Bu Yenti suara keras, didorongnya kepalaku ke belakang dengan ditarik kemudian aku tak menyangka, dari lubang itu memancur dengan sangat tinggi cairan bening itu, cairan orgasme yang muncrat seperti air mancur bahkan bisa mencapai lebih 2 meter. Gilaaaaaaaaaa .. tubuhnya yang menegang itu kemudian berkelonjotan tak karuan. Tak lama kemudian melemas dengan cepat dan diam dengan dada nai turun. Aku semakin heran bahkan senang dengan Bu Yenti ini yang sangat berbeda dengan wanita lain, akan kujadikan kumpul keboku.
Tak terasa kami sudah sangat basah keringat karena berlomba saling mengoral, kini saatnya perjuangan yang paling berat bagiku, memasukkan penisku ke lubang surgawi milik Bu Yenti, aku bahkan sangat tidak yakin bisa menenggelamkan batangku, walau kelihatan seukuran dengan lebar penisku namun aku tetap meragukan, sehingga aku hanya memandang lubang basah itu dengan seksama. Karena masih diam dan melihat tidak segera berindak, Bu Yenti langsung beranjak bangun dan menunggangi aku di selakanganku
“Masukin segera “ perintah Bu Yenti dengan gemas karena melihatku diam saja.
“Tan .. terlalu sempit .. maaf ya kalo dijepit gitu bisa cepat muncrat “
“Nggak apa apa deh .. yuk .. aku masukin ya “ ajak Bu Yenti lagi dengan bertopang pada pundakku.
“Oke deh .. “ jawabku singkat
“Tante ingin menumpaki kamu yaaa, tante mau main kuda kudaan sama kamu, ntar nanti kita main ayam jago yang genjot ayam betinanya, tante jadi ayam betinanya, kamu ayam jagonya, tante ingin disodok sodok dari belakang dan depan .. “ goda Bu Yenti lebih lanjut, aku sampai tertawa akan kata kata Bu Yenti yang lucu itu.
Bu Yenti langsung memegang penisku, kemudian mengarahkan ke penisku, dengan mataku terpejam merasakan hal yang luar biasa, kali ini aku dibuat akan terkapar dengan kelelahan dan jepitan sangat ketat dan rapat sekali. Pelan pelan selakangan Bu Yenti turun menempel ke kepala penisku dan ditekan, terasa sekali kalo lubangnya seperti buntet, namun dipaksakan batangku, hanya kepala penisku yang masuk namun di bawah kepalaku langsung masuk mili demi mili. lubang kemaluan itu seakan lentur dan membuka dengan pelan, tapi ketika mulai melebar ke batangku setelah kepala penis terasa sangat susah untuk dimasukan lebih dalam. Aku sampai mengerang tak karuan merasakan jepitan kepala penisku yang terjepit itu.
“Tanteeeeeeeee .. duuuuh .. rasanya nggak karuan nih .. jepitan tante nggak nggenaaaah .. ngilu rasanya “ jeritku dengan menggerakan dadaku ke sana kemari karena tak tahan akan jepitan yang sangat erat itu. Belum tawa gemas Bu Yenti membuatku sampai tak bisa berpikir, sudah berusaha menjepit penisku masih saja bisa tertawa.
“Haaaaaaaan … rasanya ketat sekali .. tante juga ngerasa nggak kuaaat.. kita muncrat bareng yaaaaaaa “ tukas Bu Yenti dengan memagut bibirku, penisku masih berhenti di bawah kepala penisku dan susah sekali Bu Yenti mendesakkan batangku lebih dalam. Baru kali ini kuraasakan kesulitan luar biasa menembus lubang basah itu. Pengin rasanya aku menarik kembali, namun karena selakanganku diduduki dengan gemas dan ditekan itu, aku harus menerima konsekwensi harus amblas sampai tenggelam.
Kami berdua sangat bersusah payah untuk terus memasukan batangku lebih dalam, tawa gemas, senyum nakal, sifat genit yang menggodaku sampai membuatku semakin suka dengan Bu Yenti ini. Penyanyi dangdut yang hot dan sangat menggoda itu, bahkan mempunyai sikap nakal dan genit, lebih genit dari pada yang lain. Dengan sangat memaksa Bu Yenti langsung kembali menekan selakangannya sehingga membuat dirinya langsung merintih kesakitan.
“Haaaaaaaaaan .. uuuuh .. sakit sekali .. tante tetap ingin terus … ayo bantu tante masukin penismu .. duh ****** macam apa ini ?” sungut Bu Yenti dengan tertawa genit. Bu Yenti langsung nakal menekan dengan keras membuatku sampai mendelik dan kakiku sampai terangkat, sedang kaki Bu Yenti mengangkang lebar menekan ke ranjang, aku sangat kesakitan ditekan sedemikian kuat, kami berdua terpekik bersamaan.
“Hhhhhhsssssssssssssss………. Uuuuuuuuuuuuuuuh …. “ pekik kami berdua hampir bersamaan, akibat tekanan keras itu, penisku masuk melesak lebih dalam, sehingga mendekati ke tengah batangku. Luar biasa rasanya jepitan yang sangat kencang itu. Aku merasakan remasan dan plintiran pada penisku yang besar itu.
“Susaah yaaa .. “ goda Bu Yenti dengan memagut bibirku
“Iya tanteeee “ sahutku dengan lemah.
“Makanya, tante pengin kamu .. tante sejak bertemu denganmu sudah menyakini kalo ******mu besar sekali .. uuuh . kini bukan besar saja, tapi juga sesak… tante bangga deh kalo vagina tante bisa dimasukin sebesar punyamu .. uuuuh .. penismu sungguh gila “ puji Bu Yenti dengan tersenyum dan mengatur nafasnya lagi, bulir bulir keringat menetes dari wajah cantik Bu Yenti yang kini banyak meringis merasakan penisku yang hendak mengoyak liangnya.
“Yang jelas aku suka dengan pantat dan buah dada Tante Bu Yenti .. tekan pelan pelan, sayang “ ajakku dengan meremas buah dadanya, Bu Yenti lalu memajukan buah dadanya itu sehingga remasanku semakin keras.
“Suka khan .. tante tekan yaaa “ pinta Bu Yenti dengan tersenyum.
Aku tak menjawab dan hanya mengelus pahanya yang mulus itu, pelan pelan Bu Yenti kembali menekan dan membuat penisku pelan sekali menerobos masuk ke atas. Mili demi mili penisku lama lama semakin tenggelam, kami berdua hanya bisa memejamkan mata dengan menggigit bibir karena merasakan sakit yang luar biasa.
Bu Yentinatalia“Tanteee tarik dulu ya .. “ ajakku dengan mengangkat paha Bu Yenti dengan pelan, diangkatnya selakangan Bu Yenti dan kemudian menekan lagi, ketika dinaikan seretnya juga luar biasa sehingga membuat Bu Yenti sampai melenguh. Penisku terlalu besar, Bu Yenti mengulum penisku saja tidak masuk ke dalam mulutnya … Uuuuh , apalagi vaginanya yang sempit itu.
Kami terus berjuang agar penisku bisa tenggelam dalam vaginanya sampai mentok, bahkan aku menyakini kalo penisku pasti akan menyisakan sekitar 2-3 centi tidak amblas karena panjangnya penisku itu. Perlahan lahan Bu Yenti menekan lagi lebih kuat sehingga penisku kini semakin dalam masuk ke lubang surgawinya.
“Dikit lagi sayaaaang … yaaaaaaa .. tante mulai nikmat nih, tante bangga bisa kamu disodoki .. tante akan selalu suka menggnjotmu… teruuus yaaa .. jangan kapok bercinta dengan tante… “ ujar Bu Yenti dengan tertawa renyah
“Tante kudu mau goyang bugil di hadapanku dengan satu lagu” kataku dengan meminta suatu hal yang kusukai
“Tenang saja .. nanti tante akan menari bugil untukmu .. tante akan memberikan hadiah itu .. akan kuberi goyangan tante yang hot .. Hmmm .. “ jawab Bu Yenti dengan tersenyum lagi dan mencium pipiku
Pelan pelan penisku melesak lebih dari separo, tekanan semakin erat dan remasanya di dinding vaginanya mau menghancurkan penisku, ditariknya selakangan Bu Yenti dan menekan lagi, kalo ini semakin lancar, dengan sekali sentak ketika ditarik ke atas penisku akhirnya mentok dan menyisakan beberapa centi tidak amblas
“Gilaaaaaaaaaaa .. masih sisaaaa ?” pekik Bu Yenti
“Aaaaaaaaaaauh ! Luar biasa tanteee .. aku nggak tahan jepitan vagina tante .. “
“Bilang tempek donk … tante khan suka bilang ****** “ sungut Bu Yenti
“Oke deh .. aku suka tempek Tante Bu Yenti “ jawabku disambut rasa suka dan senang Bu Yenti.
Kami kemudian diam sebentar mengatur nafas kami agar bisa memulai untuk saling menggenjot, kaki Bu Yenti kemudian merapat menuju ke pinganggku dengan pelan pelan agar tidak menimbulkan rasa sakit ketika menjepit, kakinya itu ketika mau dilingkarkan aku sampai memeluk erat Bu Yenti dengan merangkul lewat pundaknya.
“Tante Bu Yenti memang hot .. aku suka tante .. maukah Tante Bu Yenti jadi teman kumpul keboku ?” ajakku
“Kumpul kebo ? mau dong .. “ jawab Bu Yenti dengan tersenyum nakal
bersambung
“Iyaaaaaa .. sekarang tante gerak donk .. udah nggak tahan mau muncrat nih .. ”
“Samaaaaaaaa .. tante juga sudah nggak kuaat “ sambut Bu Yenti dengan menaikan pantatnya kemudian pelan pelan menurunkan, terasa seret sekali, gerakan pantat Bu Yenti pelan agar penisku bisa lancar, sudah lebih dari sepuluh kali gerakan pelan Bu Yenti semakin membuat penisku lancar keluar masuk, terasa sakit dan rasa nikmat bercampur, mata Bu Yenti merem melek keenakan, ketika melek pun hanya terlihat memutih
“Haaaaaaaan … ooooh .. hhhhssss .. aaaauh .. aduuuuh “ lenguh Bu Yenti yang kupeluk itu, kuhujani dengan ciuman dan pagutan kemudian lumatan, tanganku nakal meremas buah dadanya membuat Bu Yenti semakin kewalahan. Lima menit kemudian Bu Yenti mulai bergerak lebih cepat meluluhlantakan penisku.
“Sayaaang , tante nggak tahan nih “ pekik Bu Yenti
“Genjot teruuuus … “ ajakku dengan bersemangat walau lelah merasakan jepitan sangat ketat vagina milik Bu Yenti ini.
Menit demi menit kami berpacu, kami hendak merasakan orgasme, kuajak bergerak lebih cepat, kusodokan batangku ke atas lebih keras dan membuat Bu Yenti semakin tak karuan, kempitan di vaginanya itu semakin erat, kuremas terus buah dadanya agar mencapai orgasme, aku pun semakin tak tahan. Bu Yenti menjerit ketika mencapai orgasmenya, tubuhnya melengkung, memajukan dadanya, kuremas sekuatku untuk memberikan rasa orgasme lebih dalam.
“Aaaaaaaaaaaaaaah … uuuuudaaaaaaaaaaaaaa “ jerit Bu Yenti dengan keras, penisku disiram cairan panas, tubuh Bu Yenti berkelonjotan, aku pun demikian menyusul Bu Yenti mendapatkan orgasme, wajahku tegang, nafasku berantakan dan craaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaat
“craaaaaaaaaaat …. craaaaaaaaat .. craaaaaaat … craaaaaaaaaaaat “ penisku menembak dengan sangat keras dan membuat Bu Yenti langsung membuka matanya dengan lebar merasakan tembakan spermaku ke rahimnya. Aku sampai berkelonjotan, kami berdua saling memeluk dengan kekuatan sisa yang ada, tubuh kami yang saling memeluk itu akhirnya jatuh ke kanan dan kami diam dengan memejamkan mata kami, menikmati orgasme, dari sela sela batangku tak banyak cairan mani kental yang keluar padahal aku merasakan tembakan air maniku yang banyak.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar