Pages

Rabu, 04 Juli 2012

ISTRI BOS DENGAN PEROMPAK

Sebuah perampokan di bank membawa pengalaman baru bagi istri seorang juragan. Suaminya menganggap itu kejadian musibah biasa, tapi sang istri menyimpan itu sebagai suatu rahasia. Diikat menjadi satu dengan Satpam bank akhirnya membawa sensasi luar biasa bagi sang istri.


Chapter 1: Pandangan Suami

Perampokan bersenjata di bank siang itu membawa pengalaman traumatik bagi Hendarto, seorang pengusaha . Siang itu ia bersama istrinya Irma berada dalam bank tersebut untuk sebuah transaksi keuangan perusahaan mereka.Suasana bank cukup ramai, bersama para nasabah lainnya Hendarto dan Irma mengantri menunggu layanan kasir. Tiga kasir bank sibuk melayani nasabah, satu persatu. Semula semua berjalan normal sampai suatu saat ,lima orang lelaki berbusana serba hitam ditutup jaket kulit hitam dan berpenutup muka tiba-tiba masuk ke ruang tunggu dan langsung mengeluarkan senjata api jenis pistol dan sebuah senjata laras panjang.

“Jangan ada yang bergerak.. semuanya diam, jangan membuat tindakan ceroboh atau kepala kalian akan pecah,” teriak seorang lelaki yang memimpin.

Ini perampokan, pikir Hendarto. Suasana sempat kacau penuh teriakan dan para nasabah berhamburan. Hendarto mengikuti beberapa nasabah yang lari ke lantai dua. Istrinya entah kemana, dicari kiri kanan tak nampak. Kawanan rampok itu kemudian menyebar, dua orang masuk ke sisi kasir, sedangkan tiga lainnya sibuk mengacungkan senjata ke nasabah. Seorang lainnya mengejar nasabah yang lari ke lantai dua. Hendarto dan enam nasabah dilantai dua tak berkutik ditodong senjata, mulut mereka ditempel lakban, sementara para nasabah di lantai dasar juga sudah sepi tak berani bersuara.

Kawanan rampok mengikat para nasabah. Ada yang tiga menjadi satu, ada yang dua menjadi satu, dan semua mulut mereka ditempel lakban.

Dari balkon lantai dua, bisa melihat semua di lantai satu, tapi ia mendadak khawatir karena tidak melihat Irma istrinya. Seorang perampok menjaga di pintu, satpam yang berjaga di meja dalam juga tidak terlihat, hanya pakaiannya tergeletak di lantai, mungkin ia ditelanjangi perampok.

Dua kawanan rampok naik ke lantai dua untuk memeriksa letak brankas diantar seorang wanita kasir yang ditodong pistol. Hendarto mencoba bergeser ke ujung balkon, ia mencari Irma. Hendarto lega, ternyata Irma berada di sebuah lorong sempit menuju toilet. Hendarto meihatnya terikat menjadi satu dengan seorang lelaki tegap, ia pasti satpam bank, karena hanya mengenakan celana kolor dan kaos dalam. Dan rupanya pakaian satpam yang tadi dilihatnya adalah seragam satpam tersebut.

Tubuh Irma dan satpam itu terikat menyatu berhadapan dilakban melingkar dibagian pinggang dan dada. Tangan mereka juga diikat lakban ke belakang. Keduanya berbaring dilorong menyamping berhadapan, mulut masing-masing juga tertutup lakban.

Dalam suasana tegang itu, Hendarto melihat satpam dan Irma terus berusaha melepas ikatan mereka dengan cara bergerak terus bersamaan untuk melonggarkan lilitan lakban. Akhirnya Hendarto tak melihat mereka lagi. Rupanya satpam dan Irma telah berguling masuk kedalam suatu ruangan, akibat pergerakan mereka itu yang berusaha melepaskan ikatannya.
Perampokan berjalan hampir satu jam, sampai akhirnya kawanan rampok berhasil kabur membawa jarahannya.

Hendarto bersyukur, Irma dan satpam bank akhirnya terlepas dari ikatan. Si satpam kemudian membantu nasabah lainnya sementara Irma membuka ikatan Hendarto.

“Untung kita nggak diapa-apakan ya ma..,” kata Hendarto merangkul istrinya. Mereka kemudian pulang.

Bagi Irma, perampokan di bank itu menimbulkan trauma sesaat tetapi berakhir dengan sensasi seks yang selama ini tak pernah ia bayangkan. Terikat di lorong sempit dengan tubuh berdempetan berhadapan dengan lelaki lain membuat Irma risih bukan kepalang, apalagi si lelaki hanya mengenakan kaos dalam dan celana kolor. Tapi perasaan itu terkubur lantaran takut yang dirasakannya melihat kawanan rampok bersenjata itu.

“Tenang bu.. saya Partodi satpam di bank ini. Maaf pakaian saya tadi dilucuti rampok. Sepertinya sekarang mereka sedang membongkar brankas dan tak mungkin kembali ke mari, ayo kita berusaha lepaskan ikatan ini
bersama ya..,” kata satpam Partodi. Irma mengangguk saja dan berharap upaya mereka berhasil.Begini bu, kita berguling kekanan, disebelah kanan kita ada ruangan, kita usahakan agar bisa masuk dulu, biar tidak kelihatan oleh perampok. Kalau sudah didalam kita baru berusaha lagi untuk melepaskan ikatan kita. Dengan beringsut perlahan, akhirnya masuk juga mereka kedalam mruangan kosong tsb.
Sekitar tiga menit berbaring berhadapan seperti itu, Irma melihat lelaki di depannya berhasil membuka lakban di mulutnya setelah berusaha keras mendorong lakban itu dengan lidahnya.

Partodi kemudian melepaskan lakban di mulut Irma dengan cara menggigit sisi lakban dan menariknya. Irma
sempat terpekik merasakan perih bibirnya tertarik rekatan lakban, tapi kemudian berusaha tenang.

“Terus bagaimana caranya,” tanya Irma menanyakan cara mereka melepaskan ikatan lakban di tubuh. Sepertinya sulit karena masing-masing tangan mereka terikat ke belakang dililit lakban, sementara lakban lainnya melilit rapat menyatukan bagian pinggang, perut mereka berdempetan.

Partodi lalu menjelaskan pada Irma bahwa sifat karet pada lakban dapat digunakan sebagai kesempatan mereka lolos dari ikatan. Caranya dengan terus bergerak agar lakban menjadi molor dan longar elastis.

“Kita masih punya kaki yang bebas bu. Saya akan membalik badan dan ibu harus berusaha berposisi di atas saya. Setelah itu kaki ibu bisa menjejak lantai mendorong ke arah atas tubuh saya… mungkin akan berhasil,” kata Partodi. Ia segera mengubah posisi mereka dari yang sebelumnya berbaring miring berhadapan, menjadi saling tindih, Irma berada di atas. Ini dilakukan Partodi agar Irma tidak merasa berat jika Partodi yang berada di atas, sebab bobot Partodi yang tinggi besar tentu akan menyesakkan Irma bila tertindih.

Posisi Irma sudah di atas tubuh Partodi. Ia menuruti perintah Partodi dan mulai menggerakan badannya ke arah atas tubuh Partodi dengan menjejakkan kaki di lantai. Tapi rok span yang dikenakannya menghalangi usaha Irma menjejakkan kaki secara maksimal kelantai, sebab ia harus lebih mengangkangkan kakinya agar bisa melewati kaki Partodi di bawah kakinya.

Irma terus berupaya dan akhirnya ia bisa mengangkangkan kaki lebih lebar, akibat gesekan tubuh mereka, rok Irma naik sampai bongkahan pantatnya terlihat. Tapi tak apa, pikir Irma, demi usahanya menjejak kaki ke lantai. Lagi pula Partodi tak mungkin melihat pantatnya karena ia berada di bawah Irma.

“Terus goyang bu.. sudah mulai longgar ikatannya,” Partodi berbisik pada Irma. Entah mengapa kata-kata “goyang” yang dibisikan Partodi membuat Irma risih. Ia baru sadar gerakannya berusaha melepas ikatan terkesan menjadi gerakan yang erotis.

Ia juga baru sadar kalau sejak tadi payudara nya terus menggerus dada Partodi, dan gerakan demi gerakan yang menimbulkan gesekan di tubuh keduanya mulai mempengaruhi libido Irma.

“Astaga.., bang Partodi. Apa ini..? kok terasa keras.. Tolong bang, abang nggak boleh terangsang.. ini dalam perampokan..,” Irma berbisik balik ke Partodi saat merasakan sesuatu benda mengeras hangat terasa di bawah pusar Irma. Penis Partodi rupanya ereksi setelah beberapa lama merasakan gesekan tubuh Irma.

“Oh.. ehh.. maaf bu.. saya sudah berusaha untuk mengabaikan rasanya tapi gesekan-gesekan itu mengalahkan pikiran saya bu. Maaf bu.. tapi saya pikir ini alami bagi lelaki, yang terpenting sekarang kita harus terus berusaha melepas ikatan ini bu.. sebelum perampok itu kembali ke mari,” Partodi agak gugup dan malu menyadari Irma mengetahui penisnya mulai bangun.

“Ya sudah.. nggak apa-apa, asal bang Partodi jangan macam-macam ya..,” kata Irma. Ia sadar tak bisa menyalahkan Partodi. Dan lagi benar apa Yang Partodi katakan ,bahwa itu sangat alami dan Irma juga merasakan hal yang sama, ada kenikmatan menjalari tubuhnya setiap kali gerakan bergesek yang dia lakukan.

Pikirnya, perampokan bank yang menyebabkan mereka berdua berada dalam posisi terikat seperti itu, dan mereka harus bersama kompak melepaskan ikatan tersebut.

Irma kembali memusatkan pikirannya pada upaya melepaskan lakban. Ia kembali menggerakan tubuhnya
menggesek tubuh Partodi dari atas ke bawah dan sebaliknya dari bawah ke atas, agar ikatan lakban melonggar. Upayanya cukup berhasil, kini jarak gesekan sudah bisa lebih jauh menandakan lakban mulai longgar elastis.

Bagian perut Irma sudah bisa menjangkau perut Partodi bagian atas, Irma berusaha terus menjejak lantai agar tubuhnya terdorong naik lebih jauh.

“Ehmm bu.. coba lagi ke bawah.. terus dorong lagi ke atas.. sudah mulai longgar lakbannya..,” suara Partodi semakin parau. Tubuh Irma yang terdorong ke atas membuat penis Partodi kehilangan sentuhan, sebab selangkangan Irma kini sudah diatas melewati ujung penisnya.

Irma setuju dengan Partodi, mungkin gerakan harus kembali ke bawah lalu kembali lagi ke atas sehingga ikatan lakban makin molor elastis.Tapi gerakan ke bawah yang dilakukan Irma justru membuat keadaan mereka berdua berubah. Pikiran masing-masing mulai terpecah antara kenikmatan yang mulai dirasakan atau upaya melepas lakban.

“Enghhh..,” Irma melenguh kecil. Ia merasakan ujung penis Partodi menyentuh CD yang dipakainya. Penis Partodi yang sudah sangat tegang terdorong keluar dari balik celana kolornya, lantaran gesekan membuat
kolornya melorot. Kini, setiap gerakan Irma membuat koneksi ujung penis Partodi kian terasa mendorong-
dorong CD Irma. Rasa nikmat dari kekenyalan secuil daging milik Partodi itu terasa semakin sering di bibir vagina Irma yang terhalang CD.

Oh My God...Irma membatin,tadi sebelum berangkat dia memakai CD crotchless thong. CD jenis itu merupakan
CD favoritnya jika dirasakannya hari sangat panas.Alasan kedua adalah masalah kepraktisan. Jika ingin buang air kecil, tak perlu repot harus dipelrorotkan kebawah, cukup disingkap sedikit, maka tuntaslah sudah.


Irma terus berupaya memecah pikirannya agar tetap konsentrasi bergerak demi melepas ikatan lakban, tapi semakin bergerak dan semakin gesekan terjadi membuat gairah seksualnya terdongkrak naik. Lama-lama ia
merasakan CD nya membasah oleh cairan vaginannya sendiri. Apalagi, dari bawah Partodi juga terus bergerak
berusaha melepaskan ikatan lakban ditanganya yang tertindih ke belakang. Hal ini membuat erotisme tersendiri dirasakan Irma.

“Enghh.. ahhss..,” Irma mendesah dan menghentikan gerakannya. Ia menyadari kini posisi sudah sangat gawat. Gerakan-gerakannya justru mengantar ujung penis Partodi mengakses bibir vaginanya lewat lobang celah CD-nya. Irma merasakan kepala penis Partodi sudah berada tepat di tengah bibir vaginanya yang basah dan sudah tidak terhalang CD .

“Hmm.. bu, kenapa berhenti.. sudah hampir lepas ikatannya nih..,” Partodi terus bergerak berusaha melepas
ikatan tangannya. Tapi ia juga merasakan penisnya sudah menyentuh kulit dan bulu vagina Irma secara langsung. Partodi membatin, apakah ibu ini tak memakai CD.

Irma berusaha mengembalikan konsentrasinya, dan berusaha menjejak kaki ke lantai agar tubuhnya naik dan
vaginanya menjauh dari penis Partodi. Namun upayanya gagal, kini ikatan lakban justru mengancing posisi itu, Irma tak mungkin naik, hanya bisa turun ke bawah beberapa kali lalu naik lagi setelah ikatan melonggar kembali.

Irma mulai putus asa. Ia harus bisa lebih cepat melepaskan ikatan lakban itu sebelum penis Partodi mengakses lebih jauh vaginanya. Pikiran sadarnya masih berjalan dan menyadari sesaat lagi ia akan disetubuhi Partodi, dalam keadaan terpaksa begitu. Konsentrasi Irma gagal. Gerakan Partodi dari bawah membuat kepala penisnya mulai masuk membelah bibir vagina Irma. 

“Ough..,” Partodi tak kuasa menahan desah kenikmatan merasakan kepala penisnya menguak bibir vagina Irma.
Ia terus bergerak berusaha melepas ikatan ditangannya yang tertindih tubuh, tapi setiap gerakannya membuat kepala penisnya mulai bermain keluar masuk di bibir vagina Irma.

Hal itu memberi sensasi kenikmatan pada Irma, ia masih berusaha diam diatas tubuh Partodi sampai ada
kesempatan menjejak kaki agar vaginanya menjauh dari penis Partodi. Irma akhirnya berspekulasi. Sekali
gerakan ke bawah, lalu sekuat tenaga menjejak kaki ke lantai tentu akan membantunya menjauhkan vaginanya dari penis Partodi.

“Enghhsshh.. ahh.., bang jangan gerak duluhh.. ini nggak boleh terjadi bang, saya wanita bersuami dan abang pasti sudah beristri kan?.” kata Irma, wajahnya bersemu merah. Tubuh dan wajah Irma serta kulitnya yang putih mirip dengan artis Sahrini.

“Iya bu.. saya juga pikir begitu. Tapi bagaimana lagi, posisi kita sulit berubah selama ikatan ini..belum lepas”, jawab Partodi, ia juga menjadi serba salah dengan posisi itu.

“Oke bang.. sekarang gini aja.. saya akan bergerak turun, dan mungkin itu akan terjadi.. anu abang bisa masuk ke anu saya.. tapi itu hanya sekali ya, dan saya akan mendorong ke atas membuatnya lepas lagi. Setelah itu kita konsentrasi lagi untuk melepas lakban sialan ini..,” kata Irma dengan nafas berat. Meskipun sebetulnya ia juga menikmati, tapi demi menjaga gengsi dia bicara agak ketus.

“Iya.. iya. Terserah ibu. Tapi tolong saya jangan dilaporkan ke atasan saya apalagi polisi bu. Kalau ****** saya masuk ke pepek ibu.. nanti saya dibilang memperkosa,” Partodi yang polos ketakutan.

“Hnnggaak bang.. ini kan karena perampokan sialan itu, jadi bukan salah saya atau abang.. kita sama-sama berusaha keluar dari masalah ini kok.. sekarang abang diam ya.. saya akan berusaha. Irma kasihan juga melihat ketakutan si Partodi.

Ehmm… enghhmmmpp… ahssstt banngghh… ahhhkksss,” Irma mengerakan tubuhnya bergeser ke bawah. Gerakan itu membuat bibir vaginanya yang sudah menjepit ujung penis Partodi menelan setengah penis itu.
Partodi agak hitam kulitnya, tapi wajahnya manis seperti artis Anjasmara, dan badannya kekar. Penis Partodi dirasakan Irma Jauh lebih besar dan padat dari penis Hendarto suaminya. Irma merasakan sensasi nikmat saat kepala penis Partodi terbenam di vaginanya.Irma jadi teringat lagi dengan paranormal suaminya si dukun mesum yang dulu juga pernah menggaulinya. Dalam keadaan terikat itu, masih sempat-sempatnya Irma membandingkan 3 penis yang telah masuk keliang surganya.

Ahhh....ternyata penis Partodi yang ternikmat dirasa oleh Irma. Biarpun dukun mesum itu juga pernah membuatnya kelojotan dan memperoleh kenikmatan luarbiasa, tapi Partodi yang lebih muda usianya tentu stamina dan ketegangannya pasti jauh diatas dukun itu. Membayangkan itu vaginanya mulai membasah dan berdenyut.

“Ayo bu.. dorong lagi ke atas biar lepas,” Partodi khawatir karena kini penisnya sudah mulai menyetubuhi Irma. Lamunan Irma seketika buyar. Iya bang.. hmmmpphh aahhss… banghhsss.. emmpphh.. ahssss,” Irma berusaha menjejak kaki ke lantai agar tubuhnya terdorong ke atas dan penis itu lepas dari vaginanya, tapi keadaan tak berubah, ikatan lakban mengancing bagian pinggang mereka membuat Irma tak mungkin menaikkan tubuhnya.

“Akhhss.. bangghh.. gimana inihh.. ahsss..,” Irma kembali diam tak bergerak, separuh penis Partodi yang dirasanya mebuat nafasnya semakin berat. Liang vaginanya dirasa sangat penuh mencengkaram penis Partodi.

“Oke.. sekarang ibu diam saya biar tidak semakin masuk ****** saya. Saya akan berusaha melepas ikatan tangan saya bu.. engghhh,” Partodi mengangkat pinggulnya dan pantatnya menjauh dari lantai agar tangannya bisa bergerak bebas, lalu berusaha melepas dua tangannya dari ikatan lakban. Peluh sudah membasahi tubuh keduanya.

Partodi melakukan itu beberapa kali. Pinggul dan pantatnya yang terangkat menjauh dari lantai membuat akses penisnya masuk lebih dalam ke vagina Irma. Irma sudah pecah konsentrasi, kini pikirannya hanya merasakan kenikmatan separuh penis Partodi yang keluar masuk perlahan ke vaginanya mengikuti gerakan pinggul Partodi.

“Akhhss bangghhss ouhh.. akhhh.. ahkkk… enghhhmm,” Irma semakin mendesah, kini pinggul Irma melayani
gerakan Partodi, ia malah berusaha agar penis Partodi terasa lebih dalam di vaginanya.

Tangan Partodi sudah terlepas dari ikatan dan kini bebas. Tapi libido yang sudah tinggi membuat Partodi bukannya melepaskan ikatan lakban di pinggang mereka, ia justru membuak kancing-kancing baju Irma dan
meremasi payudara Irma.

“Emmphhh… banghhsss emmphhhhsss,” Irma semakin hilang kendali diperlakukan seperti itu, kini bibirnya
menyambut bibir Partodi, mereka berkecupan sangat dalam dan cukup lama. Partodi meloloskan susu Irma dari Bra-nya dan mulai menghisapi payudara Irma, lalu kedua tangannya mengarah ke bawah dan mengamit CD Irma agar penisnya mengakses jauh vagina Irma. Saat itu penisnya sudah bisa masuk utuh ke vagina Irma,tangannya menekan dan meremasi pantan Irma membuat Irma semakin mendesis.

Hihihi Parto tertawa dalam hati, ternya ibu ini memakai CD bolong. Mana tahu Partodi ada CD jenis ini. Dikiranya Ibu ini memakai CD yang robek.

“Ouhgg.. ahhgg.. bu.., tangan saya sudah lepas.. kita bebasin dulu ikatannya atau bagaimana? ouhgg,” Partodi bertanya sambil menahan kenikmatan digenjot Irma. Ya pinggul Irma sudah cukup lama menggenjot Partodi membuat penis Partodi bebas keluar masuk ke vagina Irma.

“Akhh banghh… sshh.. terserah abanghhh sekaranghhh.. ouhss..,” Irma sudah sangat melayang merasakan
kenikmatan penis Partodi, apalagi rangsangan Partodi secara liar di payudaranya membuatnya semakin hilang
kendali. Baik buhh.. akhh.. kalau begituhh kita tuntaskan duluh.. ouhsss..,” Partodi kemudian melepaskan ikatan tangan Irma tapi membiarkan ikatan di pinnggang mereka tetap seperti semula.

“Iyaahh banghh.. terusinnn duluhh… akhhsss.. ouhh…,” tangan Irma yang sudah bebas langsung merangkul leher Partodi dan keduanya kembali saling berpagutan, sementara gerakan pinggul Irma semakin liar.
Masih disatukan dengan ikatan di pinggang, Partodi membalik tubuh Irma sehingga kini Irma ditindihnya. Ia lalu menggenjot pantatnya membuat penisnya membobol vagina Irma secara utuh. Cairan vagina Irma menimbulkan bunyi kecilpakan setiap kali berbenturan dengan pangkal penis Partodi.

Irma merasakan gerakan Partodi makin keras dan makin cepat mengakses vaginanya, kenimatan mulai memuncak di klitorisnya seolah mengumpul panas hingga bongkahan pantatnya. Ia mengimbangi gerakan Partodi dengan menggoyang pinggulnya.

“Oughh.. banghhhss… akhhsss.. sayaahhh banhgg… akhhhsss say..ah.. sampaaiiihhh bangghhsss… ouhhhggg…,”
Irma merasakan klimaksnya memuncak, pertahanannya bobol dihantam penis Partodi yang terus menerus
menghujam. Tubuhnya menegang merasakan kontraksi otot vaginanya berkedutan intens mengantar kenimatan
puncak.

“Aghh… ahhh… yehh… buhhh… akhhsss uhhh…mmmpphhh..,” Partodi membenamkan seluruh penisnya ke vagina Irma dan melepas spermanya menyembur dinding rahim Irma sambil bibirnya langsung melumat bibir Irma. Tubuh keduanya seakan menegang bersamaan mencapi klimaks seksual.

Beberapa saat setelah itu, Partodi lalu melapas iakatan lakban yang menyatukan pingang mereka. Mereka berdua lalu merapihkan busana masing-masing. Perampokan baru saja usai, dan kawanan perampok sudah meninggalkan bank dengan barang jarahannya.

“Emm.. bu.. maafkan atas yang barusan terjadi bu. Saya hilaf… engg..,”

“Sudah.. sudah bang. Lupakan saja ya.. saya juga hilaf..,” Irma memotong pembicaraan Partodi. Keduanya lalu berkenalan lebih jauh dan berjanji untuk sama-sama menyimpan kejadian itu hanya di antara mereka berdua.

Keduanya lalu berpisah, Partodi menolong membebaskan nasabah bank di ruang tunggu, sementara Irma mencari Hendarto suaminya.. Irma menjaga rahasia apa yang terjadi sebenarnya. Hendarto hanya tahu bahwa Irma hanya terikat berdua dengan satpam. Selebihnya biar itu menjadi rahasia nikmatnya Irma.

Tidak ada komentar: