Kisah ini terjadi sejak lima tahun lalu, saat aku berusia 14 tahun dan ibuku berusia 34 tahun. Aku sendiri tidak mengenal siapa ibuku. Tapi kami hanya berdua. Kami juga tinggal di pondok kecil dekat persawahan kami yang kata ibu ladang dan sawah itu diberikan oleh keluarga ibuku. Saat aku mengajak ibuku ke rumah orangtuanya, nenek dan kakekku, ibuku selalu menolak. Bahkan ibu sering menangis kalau aku bertanya soal
ayahku dan orangtua ibuku, atau orangtua ayahku. Setelah aku SMA baru aku mengetahui, kalau ibuku, hamil karena kecelakaan. Tak seorang yang mau mengakui kehamilan ibuku, oleh siapapun. Akhirnya ibuku, dipaksa tinggal di perladangan dan sawah milik orangtuanya, karena orangtuanya merasa malu, ibuku hamil tanpa suami.
Aku mengetahui ini, dari seseorang yang mau bercerita tentang siapa aku sebenarnya, setelah berjanji aku tidak bercerita kepada siapapun. Akhirnya aku sangat menyayangi ibuku, karean ibulah satu-satunya milikku.
"Sudahlah, Mak. Aku adalah milik Emak dan Emak adalah milikku. Kita hanya berdua saja," kataku pada suatu petang. Ibuku pun diam. Sepertinya dia sudah mulai curiga, aku mengetahui sejarah kehidupan kami. Ibuku menatapku lembut.
"Yah... hanya kita berdua. Pasti kamu sudah tau cerita dari orang lain," katanya. Aku mengangguk. Ibu pun tak bertanya dari siapa aku mengetahuinya dan ibu juga tidakbercerita tentang apa sebenarnya.
Hanya dengan dililit kain batik sebatas dada, ibuku pun memeluk diriku dengan kasih sayang.
"Rajin-rajinlah belajar," katanya. Aku mengangguk. Dalam pelukannya, aku mencium aroma sabun wangi melintas ke rongga hidungku. Aku balas memeluk ibuku dan kepalaku direbahkan ke dadanya, sembari kepalaku dielus-elus dan sesekali ibu mencium pipiku.
"Hanya kita saling memiliki," katanya lembut. Tanpa sengaja kain batik yang hanya disedikit dimasukkan ke lipatan lain, terlepas. Buah dada ibu menempel di bibirku. Terasa lembut sekali pentil buah dada ibuku. Perlahan aku menjilat dan mengisap pentil tetek ibu.
"Kamu menetek?" sapa ibu.
"Iya, Mak. Bolehkan?" Ibuku pun tersenyum dan mengangguk.
"Nanti lagi neteknya, masukkan dulu bebek ke kandangnya. Setelah itu kita boleh malam malam."
"Setelah makan malam aku boleh menetekkan, Mak?" kataku ingin menetek. Aku merasa begitu nikmat tadi. Ibu tersenyum dan mengangguk.
Bebek dan ayah serta empat ekor kambing aku masukkan ke dalam kandang, sementara ibu menyiapkan makan malam kami. Ingin rasanya ayam dan bebek serta kambing itu cepat memasuki kandang agar aku cepat bersama ibu. Masih terbayang, aku menetek pada ibu tadi. Akhirnya semuanya sudah masuk kandang dan aku berlari kecil menaiki tangga gubuk kami yang terbuat dari bambu bulat. Lampu sentir sudah menyala dan makanan sudah siap. Kami pun makan dengan lahapnya. Sepulang sekolah tadi, aku sudah membantu ibu menanami padi. AKu juga sudah menyelesaikan 15 buah PR yang besok di sekolah akan diperiksa oleh guru.
Usai makan, aku menagih janji ibu, akan mengizinkan aku menetek. Ibu tersenyum, sembari mengangkati piring kotor ke petmpatnya untuk besok pagi, kami menyucinya.
Pukul 19.00 sudah gelap. Hanya ada lampu sentir di depan gubuk kami dan kami memang ada 200 meter dari tepian kampung. AKu pun sedih setelah mendengar cerita, sejak usia 40 hari, aku dan ibuku sudah tinggal digubuk itu, karena ibuku tidak diizinkan tingal di kampung bersama orang kampung.
Seperti biasa, ibu cepat masuk kelambu untuk tidur karena lelah dan besok pagi biasanya akan bertanak nasi serta memerah susu kambing untuk minuman pagi setiap pagi, masing-masing satu gelas. Aku pun memasuki kelambu mengikuti ibu, setelah mengecilkan lampu sentir, agar hemat minyak tanah.
AKu mendekati ibu. Ibu sudah melepaskan jepitan kain batiknya dan dua buah teteknya menyembul keluar. Ibu menyodorkan kepadaku sebelah buah dadanya dan aku mulai mengisapnya. Aku terkejut saat ibu mendesis-desis.
"Kenapa, Mak? Apa sakit?" tanyaku. Aku melihat senyum ibu di keremangan malam itu.
"Tidak, Nak. Teruskan saja," bisiknya. Dia sodorkan kembali pentil teteknya ke mulutku. Aku mulai mengisapnya dan ibu mengelus-elus kepalaku. Kembali ibu mendesis-desis dan memelukku. Dicabutnya pentil teteknya dan ibu mengganti dengan pentil yang lain. Aku terus mengisapinya. Sebelah tangankui dibimbingnya untuk mengelus elus teteknya yang barui saja kuhisap. Aku melakukannya. Bulan hanya mengelus, bahkan meremas-remasnya.
"Teruskan, Nak<" bisik ibu mendesis. Desisnya membuat aku ragu, ta[pi kata teruskan, itu membuat aku makin semangat. Aku terus mengisap tetek ibu dan meremasnya. Saat itu ibu meraba burungku. Diselipkannya tangannya memasuki celanaku. Burungku memang sudah mengeras sejak tadi.
Perlahan ibu menurunkan celanaku yang berkaret, sampai aku telanjang bulat. AKu memang biasa tidur tidak makai baju, agar hemat. Bila aku sudah tertidur, biasanya ibu akan menyelimutiku dengan kain panjang atau sarung.
Ibu pun melepaskan kain batik yang menutupi tubuhnya. Aku merasakan ibu juga sudah telanjang bulat. Ibu memelukku dan kami berpelukan. Dalam pelukan itu, ibu membalikkan tubuhnya dari tidur ibu menyamping jadi terlentang dan aku sudah berada di atasnya. Aku merasakan bulu-bulu kemaluan ibu menggesek-gesek di bawah perutku. Kedua tangan ibu mengelus-elus pantatku. Lalu sebelah tangannya memegang kepalaku dan merapatkan mulutku ke mulutnya. Bibir ibu menjilati bibirku dan mengisapnya.
"Burungnya dimasuki ke tempat Emak," katanya. Aku tau tahu masukan kemana. Aku hanya menggesek-gesekkan burungku ke rambut kemaluan ibu. Ibu mengangkangkan kedua kakinya lebar-lebar dan menangkap burungku lalu dicelupkannya ke dalam lubang. Terasa hangat dan aku merasa nikmat. Ibu pum memeluk pinggangku dengan kedua kakinya dan menolak-nolak pantatku dengan tumit kakinya. Burungku terasa keluar masuk pada lubang itu. Aku merasa enak. Kemudian aku yang memaju mundurkan burungku di dalam lubang itu
Ibu mendesis-desis dan terus mengisap-isap bibirku. Dimintanya aku mengeluarkan lidahku. Lisahku diisap-isapnya dengan lembut. Kemudian diulurkannya lidahnya, aku pun memperlakukan lidahnya seperti ibu memperlakukan lidahku tadi. Kami terus berpelukan, sampai akhirnya aku menekan kuat tubuhku memasukkan sedalam-dalamnya burungku ke dalam lubang itu dan ibu pun mendesis, memelukku sekuat-kuatnya. Aku merasakan ada desir cairan kental melumuri burungku.
"Mak.. aku aku mau kencing," bisikku, sembari terus menekan burungku sedalam-dalamnya.
"Kencing saja, Nak," bisik ibu tersendah. Dan aku pun pipis di lubang ibu. Kali ini, air kencingku tidak seperti kencing biasa. Tapi kencingku nikmat sekali, seperti beberapa hari lalu, aku kencing enak dan terasa demikian kental pada celanaku. Saat aku menceritakan kencing kental itu pada ibuku, dia tersenyum saja.
Kami pun berpelukan, sampai kami terbangun baginya. Aku ikut bangun dan membawa piring kotor ke pancuran kecil di samping rumah dan menyucinya, sementara ibu melepas ayam dan bebek, serta memerah susu kambing dua gelas untuk dimasak dan akan kami minum bersama, setiap pagi.
Saat aku mau pergi ke sekolah, ibu memanggilku.
"Kamu tidak boleh bercerita apapun soal tadi malam ya,' kata ibuku lembut dan tersenyum. Aku mengangguk.
"Berjanji?" ibu menegaskan lagi.
"Berjanji,: kataku. AKu pun pergi ke sekolah, sembari membawa 30 butir telur bebek dan 10 butir telur ayam. Nanti sepulah sekolah uangnya aku setor semua pada ibuku.
bersambung.....
Rabu, 04 Juli 2012
IBU JANDA MERGER
Cepat kuserahkan uang penjualan telur kepada ibu, sepulangku dari sekolah. Ibutersenyum menerimanya. Pekan depan, aku akan membelikan baju baru untuk sekolahmu dan sepatu, kata ibu. Aku senang sekali. Aku pun kembali mencari bekicot untuk bebek, lalu memberi makan ayam dan merumput untuk kambing. Pukul 13, kami makan siang. Seusai makan siang ibu menumbuk jejamuan. Ketika kutanya untuk apa, ibu bilang, agar dia tidak hamil.
"Kenapa hamil, Mak?"
"Karena tadi malam," kata ibu.
"Kan Emak tidak punya suami?"
"Ya tidak. Tapi tadi malam kita kan sudah seperti suami isteri?" jawab Emak. AKu mengerti akhirnya. Ternyata apa yang dikatakan temen-temanku, ******* itu, adalah apa yang kami lakukan tadi malam. Aku diam saja, kemudian aku turun ke sawah meneruskan menanam padi, beerjejer lurus. Emak tersenyum., melihat aku semakin rajin. Setelah selesai membuat jamu, ibu datang mendampingiku, sembari kami menanam padi. Kami terbungkuk-bunguk berhampiran.
"So, apa tadi malam kamu merasa enak, Nak?" tanya ibu perlahan, takut di dengar orang di seberang sawah.
"Enak sungguh, Mak. Easanya Wonsgo ingin lagi," kataku berbisik pula. Ibu tersenyum.
"Anak Enak, ternyata sudah dewasa. Sudah pintar dan harus rajin belajar dan rajin bekerja, supaya terus bisa seperti tadi malam," kata ibu. Aku tersenyum membalas senyum ibu. Setelah selesai satu petak, aku minta izin untuk mengerjakan PR-ku. Ibu tersenyum mengikutiku dan membuatkan aku teh manis panas dan segelas untuk ibu. IBu selalu saja istirahat bekerja, bila aku menyelesaikan PR ku. Ibu juga selalu mengajariku bila aku kurang paham.
"Kamu harus sekolah yang tinggi. Biar nanti hidupmu senang, aku boleh numpang sama kamu," kata ibu selalu saja aku belajar. Aku berjanji akan menyenangkan hati ibu kelak.
Ibu kembali lagi menanam pagi dan aku mengarit rumput untuk empat ekor kambing, tiga betina dan satu jantan. Dua betina sedang memiliki masing-masing tiga ekor anak dan susjnya sangat lancar. Aku selalu memberinya rumput segar, agar susunya banyak dan kami bisa minum susu setiap pagi.
Akhirnya tringgal setengah petak lagi sawah kami belum tertanami. Kami yakin besok kami akan bisa menyelesaikannya.
Sore itu kami istirahat. Kami pun bercerita. Aku sudah kelas dua SMP dan aku memohon agar ibu mau bercerita tentang diriku dan dirinya. Setelah lama terdiam ibu menghapus airmatanya. Kata ibu, dia pernah berpacaran dengan seseorang dari kampung yang 200 meter dari gubuk kami. Dia tak mau menyebutkan namanya. Ibu pun hamil. Tapi keluarga bapakku tak mau mengakui, ibu hamil karena dia. Ibu pun tidak menuntut. Lalu keluarga ibu mengusir ibu karena menanggung aib. Ibu dibuatkan gubuk dan tinggal sendirian di ladang/sawah seluar satu hektar sendirian. Sepanjang malam ibu terus menerus menangis sembari menguatkan hatinya. Sampai menjelang kelahiranku, keluarga ibu membawaku ke rumah seorang bidang kampung dan aku pun lahir. Setelah 40 hari usiaku, ibu kembali ke gubuk bersamaku. Aku meneteskan airmata mendengar cerita ibu. Ibu pun memelukku sembari mencium pipiku. Akhirnya aku tahu, rumah kakek dan nenekku, dekat dengan sekolahku. Nenek membuka warung tak jauh dari sekolahku. Di sanalah aku selalu menjualkan telur-telur bebek dan ayamku. Hampir setiap hari nenek melebihkan uang telur. Lain uang telur, nenek menyelipkan uang ke sakuku dan aku terus menabungnya. Itu kulaporkan pada ibu dan ibu mengatakan, agar aku tetap sopan kepada nenek pembeli telur kami, agar nenek tetap memberiku uang. Aku pun selalu sopan pada nenek dan nenek sangat senang padaku atas sopan santunku. Anak-anak nenek yang laki-laki selalu membeliaku bila ada teman sekolahku menggangguku. Aku tidak tahu, kalau mereka dalah paman-pamanku.
"Kamu terus seakan-akan tidak mengetahui kalau aku sudah menceritakan semua ini padamu, Nak," kata ibu.
"Kenap Mak. Bukankah mereka kanen, nenek dan pamanku?"
"Bila kamu sayang pada ibu, ibukti kata-kata ibu. Kalau tidak, ibu akan lari meninggalkanmu," kata ibu sedikit berang. Aku pun mengangguk. Aku kembali di peluk ibu. Saat kepalaku direbahkannya di dadanya, aku langsung meremas tetek ibu dari balik kain batiknya yang ditutupi kebaya pendek. Ibu jarang memakai BH. Ibu pun mendesis-desis.
"Setelah ibu ada di dalam gubuk kamu masuk dan segera kunci pintu," kata ibu melompat ke dalam gubuk kami. Aku mengikuti ibu yang sudah berada di atas kasur meremas-remas teteknya sendiri dan melapas kain batiknya dan kancing kebayanga, walau kebaya itu masih melekat di tubuhnya. Aku cepat memeluk ibu dan mengisapi teteknya, sementara sebelah t anganku meremas tetek yang lainnya. Ibu mengarahkan tanganku sebelah lagi untuk meraba-raba memeknya. Sampai memek ibu menjadi basah dan mengeluarkan aroma aneh.
"Ayo, Nak. Naiki ibu. Masukkan yang dalam," kata ibu. Aku menaiki tubuh ibu, setelah melepas celanaku. Cepat pula ibu mengarahkan burungku ke lubang memeknya. Ibu melebarkan kedua kakinya dan memelukku, sembari mulut kami berpagutan. Aku mencucuk tarik burungku dalam memek ibuku. Nampaknya ibutak sabar. Dia membalikkan tubuh kami. Kini ibu sudah berada di atas tubuhku. Ibu duduk di atas tubuhku, lalu pantatnya dia putar-putar ke kanan dan kekiri. Burungku terasa dielus-elus di dalam lubang ibuku. Sampai akhirnya, ibu berhenti memutar pantatnya, kemudian memelukku dan kembali membuat aku berada di atas tubuh ibu. Aku memompa tubuh ibu. Ibu tidak lagi menggoyang-goyang tubuhnya, selain mengusapusap pungungku dengan kedua telapak tangannya, dengan lembut.
Akhrinay aku pipis lagi du lubang ibuku. Aku memeluknya dan ibu memelukku. Di turunkannya aku dari tubuhnya dan dia berdiri, sembari melilitkasn kembali kain batik panjang di tubuhnya.
"Nanti kamu baru turun, setelah ibu kembali ke dalam sawah," katanya. Aku mengangguk, sembari memakai celanaku. AKu tahu ibu ke pancuran kecil samping rumah untuk cebok, kemudian dia kembali menanam padi ke dalam sawah. Aku pun turun dari gubuk kami. Ikut menolong ibu bertanam padi.
"Nanti malam lagi, ya Mak?" kataku perlahan. Ibu merilikku.
"Kok gak puas-puasnya?" bisk ibu pula dengan tersenyum. Dia terus menenam padi dan aku membantunya. Ketika sore dan mata hari sudah benar-benar redup, ibuku naik dan pergi mandi ke pancuran, lalu bertanak tasi dan lauk seadanya. Dua buah telur bebek akan jadi lauk kami malam ini selain sayuran segar. AKu mulai memasukkan rumput ke kandang kambing dan menuntun satu persatu kambing dari tempatnya bertambat. Pintu kandang ayam dan bebek kubuka lebar, kemudian aku merazia telur bebek di tempatnya bermain. Ada beberapa butir yang aku temukan dan aku masukkan ke dalam keranjang untuk disatukan dengan telur yang dapat besok pagi untuk kujual ke tempat nenekku.
Bebask, ayam, kambing sudah masuk ke kandang, dan aku pergi mandi.
"Malamnya lama sekali," kataku. Ibu ku tersenyum mengerti apa yang kumau.
Seusai mandi, ibuku mengatakan, hal seperti itu tidak boleh terlalu sering dilakukan. Cuukup hanya dua kali seminggu, biar sehat.
"Jadi malam ini tidak bisa, Mak?" tanyaku kecewwa. Ibu tau aku kecewa. :Lalu kata ibu, Malam ini boleh, tapi setelah itu tiga hari kemudian baru boleh. Pokoknya tiga hari sekali baru boleh. Bila aku berjanji, ibuku akan memberinya, bila tidak, aku tidak bolegh lagi tidur bersama ibuku. Dari pada tidak, aku terpaksa mengikutinya.
Makan malam sudah selesai. Semua pirik kotor sudah disingkirkan. Lampu sentir sudah dikecilkan. IBuku masuk ke dalam kelambu dan aku mengikutinya.
bersambung.....
Ibuku tidak setuju, kalau aku kos. Lagi pula, jarak buguk kami dengan SMU tempat sekolahku hanya 11 Km. Akhirnya, aku setuju, dibelikan sepeda. Lagi pula aku kasihan melihat ibu, akan sendirian di gubuk. JIka ada apa-apa, tentu tidak ada yang menolong ibuku.
Dengan pohon bambu yang rimbun tumbuh di tepian sungai, aku memperbesar kandang kambingku dan akhirnya aku mampu membeli seekor lembu betina. Bebek bertambah demikian juga ayam. Aku harus kerja keras, agar aku bisa sekolah tinggi. Bisa jadi sarjana, seperti cita-cita ibuku. Aku akan membawa pindah ibuku, kalau aku sudah mendapatkan pekerjaan. Aku juga melarang ibuku untuk tidak terlalu keras bekerja. Ibuku harus tetap sehat dan cantik, agar dia bisa menyaksikan aku nanti jadi sarjana. Ibuku tersenyum.
"Ya, aku akan tetapcantik," katanya tersenyum. Ibuku memang pendiam. Dia tidak pernah ke pekan. Dia hidupnya hanya di ladang dan sawah. AKu yang selalu belanja membeli beras dan keperluan lainnya, setelah aku mencatat apa yang kami butuhkan untuk dibeli.
Sepedaku memang sepeda bekas. Tapi aku yakin sepeda itu kuat. Setiap pagi aku naik sepeda ke sekolah. Seusai subuh, aku makan kenanyang, lalu mengayuh sepedaku dengan membawa telur. Terkadang aku membawa genjer, pesanan nenek pemilik warung, untuk dijualkan di warungnya. Sedikit cabai atau apa saja, jika aku berikan, nenek pasti menerimanya dan menjualkannya, lalu diberikan uangnya padaku. Terkadang nenek pemilik warung itu, tidak menerima pembagian hasil. Aku sadar, kalau dia adalah nenek kandungku. Aku pun menyadari, kalau dia menyayangiku dan merindukan untuk memelukku atau apalah namanya. Aku pura-pura saja tidak mengetahui siapa dia sebenarnya. Ketika itu kuceritakan pada ibuku, ibuku tersenyum pahit. Ibu tahu, kalau aku sudah mengetahui segalanya. Nampaknya ada kepuasan pada ibuku, karean keluarganya mulai menyayangiku, tapi aku pura-pura tidak tahu. Aku dan ibuku tahu, kalau kakek dan nenek mulai menyadari kesalahan mereka.
Sepulang sekolah, cepat aku makan dan berganti pakaian. Aku membantu ibu panen padi dan mengakatinya ke lumbung padi yang mungil. Butir-butir padi yang berjatuhan, mulai dimakani oleh bebek dan ayam. Aku tersenyum saja.
Aku bercerita, kalau tadi siang orang di kedai nenek bercerita mengatakan aku mirip dengan Parjo.
"Wajah si Wongso ini mirip sekali dengan Parjo. Sedikit pun tidak membuang," kata mereka. Dan nenek mendelik pada orang yang mengucapkan itu. Aku bertanya pada ibu, siapa Parjo itu. Dengan linangan airmata, ibu pun bercerita siapa Parjo dan dimana rumahnya dan apapekerjaannya. Aku terkesima, kalau Parho itu adalah ayahku yang menghamili ibuku sekian belas tahun lalu dan tidak mengakuinya. Aku geram. Ibu melarangku marah. Aku harus membuktikan aku bisa jadi sarjana dan lebih baik dari anak-anak Parjo kelak. Jangan dendam. Kalau ditegur, jawab saja dengan lembut dan santun. Jawaban lembut dan santun, akan membuatnya semakin hancur. Kita harus balaskan dendam kita dengan keberhasilan kita, kata ibu padaku. Aku mengikuti saran ibu.
"Ini hari apa bu," tanyaku. Ibu tersenyum.
"Ibu ingat, malam ini jatahmu, Nak. Ibu juga sudah kepingin sekali, tapi janji kita dua kali seminggu, harus kita pegang," kata ibu sembari memarut ramuan jamunya. Dan sudah hampir dua tahun aku menyetubuhi ibuku, ibuku memang tidak hamil. Malamnya kami melakukan persetubuhan yang luar biasa. Kami sama-sama merindu dan sama-sama membutuhkannya. Biasanya setiap pagi, aku akan kembali segar, bila malamnya aku menyetubuhi ibuku.
Siang ini aku pulang sekolah, aku melihat Parjo ada di gubuk kami dan ibu sedang membentaknya. Aku mempercepat laju sepedaku. Setelah sepeda kusandarkan, aku menurunkan keranjang tempat telur, langsung kudekati Parjo, tapi aku bertanya tegas pada ibuku.
"Apa apa, Mak?" kutatapwajah Parjodengan lekat.
"Gak apa-apa?" kata ibu lembut.
"He... ada apa. Koe apain ibuku?" aku menggenggam arit rumput yang baru kemarin sore aku asah tajam. Melihat mataku melotot dan siap mengayunkan arit, ibuku memelukku.
"Jangan So. Aku tidak diapa-apain kok. Usir saja dia pigi dari gubuk kita ini," pinta ibuku.
"Kalau koe tidak segera angkat kaki, kusabit lehermu. Segera pergi. Satu...dua..." aku menghitung. Dengan cepat Parjo meninggalkan gubuk kami. Saat itu, ibu memeluk tubuhku dan menangis. Aku menanyai ibu, apa yang terjadi. Ibu mengatakan, agar ibu mengizinkan Parjo boleh ikut menyekolahkannya. Ibu berang, kenapa setelah Parjo besar, baru mau ikut menyekolahkannya. Ibu terus memelukku dan teteknya menempel di dadaku. Aku membelai rambutnya dan mencium lehernya. Tetangga kami menyaksikan kami dari kejauhan dan akhirnya mereka kembali mengerjakan ladang mereka. Aku membimbing ibu ke dalam gubuk dan aku mengganti pakaian sekolahku. Tapi... ******ku tegang saat dipeluk erat oleh ibu. Hanya dengan memakai celana dalam aku mendekati ibu yang sedang melap airmata di pipinya, aku membisikinya.
"Maaak... aku mau. Izinkan aku..." langsung kupeluk ibuku dan mencium bibirnya. Ibu langsung meresponsnya dan kami berciuman. Lidah kami saling berkait dan kami saling menyedot lidah bergantian. Ketika aku melepaskan kain batiknya, ibu mengatakan dia sedang haid. Tadi pagi haidnya datang. Aku kecewa. Ibu tau aku kecewa.
"Jangan kecewa. Ada jalan keluar. Aku dengar dari tetangga," katanya. Cepat di mengambil minyak goreng, dilumaskannya ke ******ku dan ke duburnya. Lalu ibu telungkup dan memintaku menaikinya. Aku enggak mengertyi kenapa ******ku dilumasi dan ibu telungkup. Aku menindih ibu. Dituntunnya ******ku memasuki lubang duburnya.
"Ayo tekan perlahan-lahan," katanya. Aku menekan ******ku. Sulit sekali masuknya. Ibu memintaku agar menekannya lebih kuat lagi dan aku menekannya, sementara ******jku dalam genggaman tangan ibu. Aku merasakan ******ku memasuki ruang sempit. IBu meringis kuat.
"Sakit, Mak?" tanyaku kasihan.
"Sedikit. Tahan dulu... yah. sudah tekan lagi perlahan," kata ibu dan aku menurutinya. ******ku sudah lebih separo yang masuk. Ibu meminta aku menahannya sebentar dan aku menahannya. Setelah dua menit ibu meminta agar aku memompanya, bagaimana aku biasa memompa memek-nya. Perlahan aku memompanya. Terasa ******ku seperti di remas-remas. Aku mulai menikmatinya dan ibu mulai mendesah nikmat. Sampai akhirnya aku memuntahkan spermaku.
Akhirnya kesepakatan kami, tidak dua kali seminggu kami melakukan persetubuhan, melainkan tiga kali. Dua kali kami senggama memalui memek dan sekali melalui dubur. Ibu pun akhirnya menikmati persetubuhan kami melalui apa saja dan ibu tak pernah hamil.
Setelah aku mengandangkan kambing dan anak l;embu betina yang baru aku beli, juga ayam dan bebek, aku ke kedai membeli minyak tanah. Aku ketemu dengan Parjo. Kutatap dia dengan tajam, lalu kukeluarkan pisau dari sakuku. Kulihat Parjo tertunduk takut. Setelah aku membeli minyak tanah, kudekati dia.
"Jangan sekali-kali lagi kau dekati ibuku. Kubunuh kau," kataku tegas. Dia diam dan menunduk. Aku melihat airmatanya berlinang.
Aku tidak ingin ibuku menikah lagi dengan laki-laki yang tak bertanggungjawab. Lagi pula kebutuhan ibu lahir bathin, mampu kupenuhi demikian sebaliknya.
Kini aku sudah tamat SMU. Aku masuk D-3. Aku berharap, sebentar lagi aku bisa bekerja dan memboyong ibu ke konta, meninggalkan gubuk kami yang reot.
GOYANGAN PANTAT BU YENTI
Aku suka dengan goyangan pantat Bu Yenty ketika manggung menyanyikan lagu dangdut, wajahnya yang cantik dan buah dadanya montok sering membuatku mengkhayalkan bisa aku tiduri, aku ingin meremas pantatnya yang berisi itu. Aku menjadi semakin menggoda, pernah dalam suatu kali sehabis manggung aku diberi senyum sangat menggoda ketika di kenalkan oleh teman yang menjadi ketua panitia konser dangdut saat tahun baru, malah Bu Yenty sering mencuri pandang ketika aku sedang bicara dengan temanku itu. Seperti adan yang lain dalam diriku, tidak memandang ke arah selakangku tapi pada wajahku, seolah aku pernah dikenalnya. Saat itu aku hanya memberikan nomer telponnya.
Namun malam itu aku nggak bisa tidur karena ada sms masuk ke hape dari nomer yang tak ada dalam memori hapeku, aku segera menyimpan nomer hapeku, lalu aku kembali mengeloni Tamara Bleszynski yang sudah puas aku genjot sebanyak tiga ronde.
Kalo aku memandang penuh nafsu, sedang dia entah butuh apa, aku mengingatnya ketika dicuri pandang oleh Bu Yenty. Padahal besok pagi aku harap datang ke rumahnya, entah apa yang mengusiknya. Aku pagi pagi sudah meninggalkan ketiga istri dan tanteku yang masih molor. Aku hanya menulis pesan di kertas dan kutempel, dengan alasan ke gedung Cyber Kuningan, serverku ambruk keterjang spam bejibun.
Aku suka dengan pandangan menggoda Bu Yenty itu, bibirnya yang seksi dan tidak besar ingin kusampal dengan penisku yang besar, berbeda dengan bibir Nia Zulkarnaen atau Emma Waroka yang lancar memasukkan penisku ke mulutnya untuk dioral. Bibir Tamara Bleszynski juga sesak untuk ukuran penisku, yang paling menggelikan adalah bibir mungil Yuni Shara yang sangat susah memasukkan penisku. Kini targetku adalah Bu Yenty ini, karyawati dangdut yang kalo bergoyang di pantatnya membuatku menjadi bernafsu untuk mendapatkan karyawati ini. Apalagi aku suka dengan wanita berambut panjang sampai di buah dadanya. Aku senang melihat rambut para karyawati yang berhasil aku keloni dan kuajak ngeseks, nikmatnya sangat luar biasa dari pada nidurin janda kelas rumah tangga. Selain itu, janda kelas rumah tangga terkenal dengan pelitnya dan tidak mau royal setelah dipuaskan. Berbeda dengan para karyawati kesepian ini, menjadi tantangan sendiri jika melakukan selingkuh kudu pintar pintar menjaga rahasia, terkadang aku menguntit karyawati yang hendak kutiduri datang ke villa dengan mengamati siapa yang mengikuti, jika ada yang mengikuti aku langsung mengabari perjanjian batal, lagi pula aku selalu memarkir semua mobil masuk ke garasi yang muat sampai tiga mobil.
Dengan berbekal keyakinan juga nafsu ingin merasakan kesintalan, kemontokan Bu Yenty yang siang itu aku datang sendirian. Aku sengaja memarkir mobilku jauh dari rumahnya agar tidak menimbulkan kesan ada tamu menginap dan berbirahi dengan yang aku kelonin dan genjotin. Aku masuk ke pekarangan rumahnya yang mewah, spanyolan, namun sepi seperti tak ada penghuninya, ketika aku masuk lebih dalam ke taman depan rumah yang rimbun itu aku disapa
“Haaalooo Han .. datang juga “ sapa Bu Yenty yang ternyata sedang jongkok membenahi tanaman di balik rerimbunan pohon. Bu Yenty lalu berdiri lalu menyamperin aku yang tersenyum, lalu Bu Yenty menyalami dan kubalas salamanya itu. dimintanya tasku untuk dibawakan dan aku diminta masuk.
“Capek ya ke sini ?”
“Huuuh capek lah .. macet di mana mana .. mosok dari Bogor ke Jakarta bisa 4 jam “ sungutku sambil membanting pantatku ke sofa empuk, sofa yang mungkin akan menjadi tempat menggauli Bu Yenty sampai dirinya merintih rintih. Hari itu Bu Yenty memakai kaos warna putih dengan tulisan You Can See, dengan celana pendek longgar, namun dari kaosnya itu yang membuatku menjadi ngaceng karen besaran buah dadanya tercetak menonjol ke depan.
“Bogor ? kata temanmu kamu tinggal di Jakarta ?” tanya Bu Yenty dengan duduk di sampingku
“Yaaah .. cuma ngurus villa teman yang nganggur saja kok Tante .. “ kataku dengan menyebut tante, namun Bu Yenty tak keberatan walau setengah protes
“Kok tante .. biasanya khan Mbak Bu Yenty gitu .. “ sergah Bu Yenty
“Biarin .. biar aku merasakan punya tante sebaik Tante Bu Yenty .. “ kataku dengan setengah tertawa lalu membuka tasku mengambil handphone satuku.
“Ya sudah .. kamu mau minum apa ?” tanya Bu Yenty dengan berdiri
“Kalo ada sih susu yang dingin .. biar segar .. “ kataku dengan menekan tombol tuts handphone tanpa melihat ke Bu Yenty, walau Bu Yenty sangat terkejut dikira susunya yang nemplok di dadanya, melihatku bicara tanpa ekspresi membuat Bu Yenty terkesiap.
“Susu segar nggak ada Han .. adanya yang hangat tuh .. “ goda Bu Yenty yang lenyap ke balik pintu
“Kalo gitu yang hangat saja tante .. “ jawabku dengan suara kukeraskan, Bu Yenty balik muncul
“Jahiiiiiiiil “ semprot Bu Yenty. Tak lama kemudian Bu Yenty kembali dengan es susu segar buatan sendiri, susu Milo bercampur es batu.
“Naah ini .. rasanya lega minum milo .. “
“Kirain tadi aku kira kamu jorok .. “ tukas Bu Yenty dengan tersenyum dan duduk di sampingku.
“Sebenarnya ada perlu apa sih tante .. kok penting banget manggil guwe “ tanyaku dengan meletakkan gelas yang tinggal separo.
“Kamu mau nggak nolongin aku .. aku dengar dari temanmu kalo kamu suka jual aplikasi akunting untuk butik butik, itu aku dengar dari Mbak Nafa .. katanya aplikasi itu murah dan handal, malah lebih murah 60 % dari yang ada .. “
“Nafa ? memang kenal ?”
“Kenal donk ..walau nggak akrab, waktu itu aku sedang belanja ke butik dia .. trus proses pembukuannya bisa dibikin online jadi bisa dikontrol dari rumah .. aku sedang merintis usaha sampingan .. siapa tahu nggak laku lagi menyanyi dangdut”
“Goyangnya ditambah gitu “
Bu Yenty “Huuuusss .. jorok aaah .. Sayang Nafa sendiri nggak banyak buka mulut, cuma nyaranin cari sendiri dengan email ini .. tapi ketika mendapat email itu kok kamu, ya dah aku langsung saja sms, katanya kamu nggak suka ditelpon lebih suka menggunakan sms“ semprot Bu Yenty.
“Aku bantu Tante semampuku .. aku harus melihat dulu mau usaha apa .. prospeknya bagaimana, aku juga berusaha mencari pasar mana yang dibidik, nggak bisa aku langsung kasih aplikasinya trus jalanin sendiri, jadi kudu bikin plan dulu .. dari modal dan sebagainya .. “ jawabku dengan diplomatis.
“Siip .. berapa harganya tuh ?” tanya Bu Yenty pengin memastikan
“Ya nggak bisa aku kasih .. soalnya aku belum tahu bentuk usahanya gitu .. soalnya seberapa produk yang mau dijual dan bagaiman ribetnya setiap unsur dari produk itu .. “
“Oh begitu .. jadi kamu mau bantu seluruhnya ?”
“Ya nggak donk .. memang aku pegawai tante apa .. cukup laporan saja deh .. ntar aku olah .. kecuali tante mau bayar aku untuk survey .. aku punya banyak peluang usaha untuk tante kalo mau .. tapi aku harus memikirkan dulu mana yang tepat .. soalnya aku juga punya jaringan dagang … bisa saja tante aku rujuk ke grosir grosir yang harganya jatuh dibawah harga pasar jika mengambil dalam bentuk rutinitas bukan dalam bentuk partai besar”
“Oke sip … “ ujar Bu Yenty dengan tersenyum.
Wanita ini kadang menggodaku dengan nakal, sehingga aku berasumsi suka seks juga, namun aku tak terpancing dulu, jangan jangan dia berkilah dapat info dari karyawati yang pernah aku tidurin.
“Tante .. boleh aku ke belakang .. kebelet nih “ ujarku dengan berdiri
“Boleh .. yuuk .. aku antarin saja ke kamar kecil .. soale rumah ini luas .. “ ajak Bu Yenty dengan berdiri, aku memalingkan mukaku, ketika memalingkan mukaku itu, terlintas mata Bu Yenty mencuri ke selakanganku, aku ditariknya ke arah menuju dapur, belok kanan, belok kiri dan dekat dengan tempat masak
“Tuh .. kamar mandinya .. “ tunjuk Bu Yenty. Mendadak di depanku ada tikus melintas membuat Bu Yenty kaget dan langsung memelukku, terasa sekali buah dadanya mengencet dadaku, kurasakan harum tubuhnya yang menusuk hidungku, kupegang tubuhnya dan kupeluk dengan erat. Ketika tikus itu lenyap keluar lewat pintu dapur menuju halaman baru Bu Yenty terkejut
“Kok meluk meluk istri orang sih “ ujar Bu Yenty dengan terjut dan mencekal tanganku, aku hanya tersenyum saja dengan cengegesan lalu meninggalkan Bu Yenty masuk ke kamar mandi dan sengaja kamar mandi itu tidak aku kancing, kubuat celah agar Bu Yenty penasaran. Aku memejamkan mataku ketika kencing, terasa berat karena aku ngaceng membayangkan kesintalan Bu Yenty, selepas aku kencing merasakan kebebasan, namun tak disangka ada tangan jahil yang lentik dan lembut memegang penisku. Aku terkejut dan membuka mataku.
“Besar sekali penismu, sayang “ bisik Bu Yenty ke telingaku bahkan malah menempelkan buah dadanya ke punggungku
Ternyata dugaanku tak jauh, ternyata Bu Yenty lebih bernafsu padaku.
“Oh . Tante nakal aah .. “ ujarku dengan mencekal tangan Bu Yenty dan melepaska penisku lalu aku membalik badanku, dan aku lebih terkejut yang kulihat ini Bu Yenty sudah telanjang bulat tanpa sehelai benangpun.
“Hmmm .. aku sudah bernafsu sama kamu sejak dulu .. sayaang .. aku yakin kamu menyimpan magnit daya tarik pada wanita seumurku .. “ ceplos Bu Yenty dengan menggoda memamerkan kesintalan tubuhnya. Aku menjadi semakin ngaceng tak karuan.
“Kok tahu ?” tanyaku untuk lebih menggoda
“Sudahlah itu rahasia wanita .. kamu mau memuasi aku ?” pancing Bu Yenty dengan nakal kembali memegang penisku.
“Nggak mau “ godaku lagi dan membuat Bu Yenty semakin gemas, langsung jongkok dan menarik celana melorot.
“Duuuuuh .. besar sekali .. nggak muat dalam mulutku nih kalo dioral .. “ ujar Bu Yenty dengan mata berbinar.
Bu Yenty ternyata nakal dan suka dengan sikap agresifnya, padahal aku belum melancarkan rayuan malah sudah diterjang duluan tanpa ba bi bu lagi.
“Tugasmu tidak hanya mengurusi usahaku .. juga tubuhku .. “ goda Bu Yenty dengan menepuk kakiku agar celanaku bisa lepas semuanya.
“Aku pengin tante goyang dulu seperti manggung .. setelah itu aku mau melayani tante memberikan kepuasan” kataku dengan pandangan nafsu ke vaginanya yang jembutnya lebat itu.
“Kenapa tidak “ tukas Bu Yenty dengan berdiri lalu menutup pintu kamar mandi, kemudian bergerak menggoyangkan pantatnya dengan merangsang, goyangan itu bergerak membelakangiku dan memamerkan bongkahan pantatnya, aku langsung meremas pantatnya, liukan badannya ke kiri dan menepis tanganku yang nakal, sangat hot dan merangsangku sehingga aku tak tahan.
“Kita ke kamar tante .. “ ajakku penuh nafsu
“Aku pengin oral dulu di sini .. ijinkan aku menelan air manimu .. setelah itu kita lanjutkan di ranjang “ ujar Bu Yenty dengan genit dan sangat nakal sekali.
Luar biasa wanita ini, selain cantik bodynya sangat menggiurkan, buah dadanya besar dan montok, bibirnya tebal tapi tidak lebar. Lagi lagi mempunyai sikap sangat agresif dibanding Bu Sinta atau Bu Selfi Rachmawanti. Baru kali ini aku mendapatkan wanita seperti Bu Yenti yang sangat agresif dan menggoda, namun sering disembunyikan. Namun dihadapanku, wanita ini sangat agresif sekali walaupun aku tidak menyangkanya kalo Bu Yenti berani masuk ke kamar mandi dengan bertelanjang bulat langsung meremas penisku. Akupun menjadi langsung panas melihat Bu Yenti telanjang itu, apalagi mau melakukan goyangan pantat dengan hot di depanku. Sehingga aku menjadi tak sabaran dan langsung meremas pantatnya yang aduhai itu. Dipegangnya penisku dengan dipandang penuh nafsu, seyakinku lebar bibir Bu Yenti tidak akan muat penisku yang besar itu, dengan tersenyum kepadaku, mulailah dijilati batangku dengan lidahnya menyentuh kepala penisku dan membuatku geli
“Tante Bu Yenti sangat nakal aaaaaah .. awas lho kalo nakal “ godaku dengan meremas kepalanya, kemudian mengatur rambutnya dengan membungkukkan badanku agak condong. Dengan tersenyum sangat nakal mengerling menghindari tatapan mataku, lalu melepaskan batangku.
“Tante Bu Yenti-mu memang nakal kok .. tante akan selalu nakal padamu .. boleh ndak kalo tante genit ?”
“Duuuh .. aku suka tante yang nakal dan genit . segera donk … pengin dioral .. tapi jangan sampai muncrat .. aku nggak tahan ingin menindih dan ditindih tante di ranjang “ kataku semakin nakal
“Kamu palingan ingin meremas susuku khan ? Tante tahu kok kamu minta susu segar dingin cuma memancingku .. “ sudut Bu Yenti dengan tersenyum manis, kemudian sikapnya makin nakal, memamerkan buah dadanya dengan membusung ke depan. Pelan pelan bibirnya didekatkan kembali ke batangku dan menjilat dengan rakus, tangan kirinya mengelus elus pahaku untuk memberi rangsangan padaku, sehingga kakiku kadang menjadi gemetar. Aku masih tidak mempercayai sikap nakalnya Bu Yenti ini. Namun yang jelas aku menyukai kenakalannya, kegenitannya, padahal aku tidak menyukai kegenitan Emma Waroka, bahkan Nia Zulkarnaen sering aku ejek jika genit.
“Oke deh .. terserah tante .. tapi jangan tante jangan sebut dengan kata aku, sebut diri tante dengan nama tante, Tante Bu Yenti yang hot, Tante Bu Yenti yang nakal dan genit .. “ kataku semakin ingin bernafsu segera menggumuli wanita ini. Jilatannya sangat rakus dan menjilat di bagian bawah batangku. Menyeluruh bagian bawahnya dijilati sampai menjilati buah zakarku, lalu menurun ke bawah sampai pahaku.
“Terusss Tanteee .. enak tante .. huuuuh .. Tante Bu Yenti bikin geli aaah .. “ lenguhku merasakan jilatan dari lidah Bu Yenti yang semakin asyik dengan mainan penisku yang besar dan panjang itu. Dijilatinya kemudian bagian atas batang penisku dengan menekan agar batangku tidak mengacung, batangku terasa ngilu ditekan agar tegak ke arah bibir Bu Yenti
“Aaaaaaaaah .. rasanya nggak nggenah tante .. uuuuh .. tante rakus sekali … “ lenguhku merasakan kenakalan tangan Bu Yenti itu, lebih nakal dari semua artis yang pernah melakukan jilatan dan kuluman pada penisku. Nia Zulkarnaen, Emma Waroka juga agresif, namun aku merasakan Bu Yenti akan lebih agresif dalam mengadu birahi denganku, libidonya lebih tinggi dari Bu Sinta yang suka memaksakan kehendak jika bercinta denganku, sehingga aku menjadi ogah bercinta dengannya. Jilatan demi jilatan, bahkan dengan nakal diludahinya batangku memakai air liurnya, kemudian dijilati air liur itu, malah ketika air liurku menetes jatuh, dengan cepat tangannya menangkap tetesan air liurnya itu kemudian dijilatinya.
“Minta air liurmu, sayang “ kata Bu Yenti dengan memandangku ke atas, aku langsung mengeluarkan air liurku, kemudian kuludahkan dengan pelan tepat di mulutnya, Bu Yenti langsung membuka mulutnya kemudian air liur itu masuk ke dalam mulutnya dan menelannya ke dalam tenggorokan. Aneh aneh saja ini wanita dalam fantasi seksnya.
Pelan pelan kepalanya naik menuju ke depan penisku yang ditekan agar lurus, dengan membuka mulutnya, kepala penisku dimasukkan dengan membuka mulutnya lebar lebar. Terasa sekali batangku langsung tersentuk di giginya, terasa sangat sesak sekali mulutnya mau menelan penisku, hanya di kepala penisku itu tak bisa masuk lebih dalam. Bagaimana kalo aku memasukkan batangku ke lubangnya ? biasanya lelaki suka mengukur ukuran besar mulut dan dibandingkan dengan lebar vaginanya. Jika memang ukuran lebar mulut kecil bisa dipastikan lebar vaginanya juga kecil sehingga perlu perjuangan ekstra untuk memasukkan batangku, lebih parah jika dalam posisi terjepit dan mengering pas ngaceng .. akan sangat sulit sekali mencabutnya.
Dugaanku tak meleset besaran mulut Bu Yenti tak muat akan penisku itu, sehingga batangku hanya masuk pada kepala penisku. Bu Yenti mencabut penisku lalu tersenyum
“Luar biasa sayaaaang .. mulutku nggak sanggup menelan penismu .. Hmmm … tante senang mendapat penis sebesar ini .. ini akan luar biasa dalam lubang tante .. ssiip .. yuk ke kamar saja .. kamu siap khan menggumuli Tante Bu Yenti ?” tanya Bu Yenti dengan berdiri lalu menarik penisku
Kami tertawa dengan penuh birahi, dibukanya pintu kamar mandi itu dan Bu Yenti tetap menarik penisku dengan menggerakkan tangannya mengaba aba padaku sambil tersenyum sangat nakal dan genit. Keluar dari kamar mandi terlihat tumpukan kaos, celana pendek longgar, BH warna coklat muda dan celana dalam warna hitam, diambilnya BH dan celana dalam itu dan diberikan padaku
“Ini oleh oleh buat kamu, sayaaang .. kuberikan BH dan celana dalam ini untukmu .. “ ujar Bu Yenti dengan tersenyum dan aku menjadi senang dengan khayalan dan fantasi seks Bu Yenti ini, semakin aneh saja Bu Yenti ini.
“Kalo boleh aku bawa pulang Tante Bu Yenti saja .. “ candaku dengan menerima BH dan celana dalam itu, dengan semakin nakal aku ditariknya masuk ke dalam kamarnya yang berdekatan dengan dapur dan kamar mandi itu.
“Boleeh .. selepas kamu memuasi tante .. tante akan ikut kamu .. ajak tante ke villa yaaa .. “ rengek Bu Yenti dengan tersenyum.
Sesampai di kamar aku langsung mencekal tangan Bu Yenti yang menarik penisku, aku langsung memondongnya dan kuangkat lalu kulemparkan ke ranjang yang sangat empuk itu. BH dan celana dalam masih dalam genggamanku, kuusap penisku dengan celana dalamnya dan membuat Bu Yenti menjadi senang.
“Tante akan menjadi milikmu sayaaang .. Hmmm .. sudah lama tante menginginkan ini .. tante naksir berat sama kamu .. sejak bertemu denganmu, tante suka dengan wajahnya itu .. cool, nakal dan ternyata suka wanita setengah baya .. “
Bu Yenti1 “Tahu saja tante .. “ ujarku dengan langsung memeluk dan menindihnya dengan gemas, aku langsung melumat bibirnya dengan rakus, kuremas buah dadanya yang kenyal dan mulai mengeras seiring birahinya meletup letup itu. Lumatanku yang ganas it membuat Bu Yenti semakin kewalahan, dilawannya lumatanku, lidahku kulesakkan ke dalam mulut Bu Yenti dan mencari bibirnya, bibirnya langsung aku tekan ke dalam dan membuat Bu Yenti langsung tersedak menarik kepalanya. Lepas dari lumatanku itu, nafasnya megap megap dan matanya terkesan sangat lapar sekali ingin dipuasi. Gila ini wanita .. pikirku dengan menggeleng geleng.
Aku langsung kembali bermain dengan buah dadanya, kuremas sebelah kiri, sebelah kanan puntingnya aku masukan ke dalam mulutku dan kuhisap sekuatku
“Haaaaaaaaan .. yaaaaaa .. hisaaap ..sedot lagi “ lenguh Bu Yenti dengan suara keras. Berkali kali aku menghisapnya dengan sekuatku, lalu kulepaskan kuluman punting itu dan kedua tanganku memegang buah dadanya dan kuremas sekuatku.
“Iyaaaaaaaaa aah .. remeess susu tante .. hhhhhsssss … hhhhsssss “ desis Bu Yenti dengan suara yang membuatku semakin panas. Kepalaku tetap bermain di kedua bongkahan itu dengan meremas dan menghisap puntingnya, kulitnya yang putih itu terasa sangat halus, aku menjilati buah dadanya mengitari gudukan sebelah kiri.
“Uuuuuh .. tante suka jilatanmu sayaang “ tukas Bu Yenti dengan tersenyum padaku, meremasi kepalaku dan berusaha membenamkan kepalaku, hidungku menjadi terjepit ketika pegangan Bu Yenti dilepaskan dan menekan ke tanganku kiriku yang meremas buah dadanya sebelah kiri, sedang buah dada sebelah kanan diremasnya sendiri. Kutarik kepalaku karena aku tidak bisa bernafas
“Naaaakaal sekali Tante Bu Yentiaa … “
“Yaaa .. tantemu akan selalu nakal padamu .. awas kalo tante jahili penismu kamu nggak boleh marah ya”
“Oke deh .. nelan penisku saja nggak mampu .. huuuh “ semprotku dengan menggoda.
“Waduuuuh … itu salah penismu yang besar “ rajuk Bu Yenti dengan tersenyum. Aku lalu kembali menjilati ke perutnya kemudian turun menuju ke selakangannya yang sudah sangat basah itu, lubangnya sangat sempit sekali, aku sempat menggeleng gelengkan, bagaimana penisku bisa masuk, apalagi aku suka dengan jembutnya yang lebat itu.
“Segera oral Tante Bu Yentiaa “ pinta Bu Yenti dengan tersenyum, mengambil bantal dan mengganjal di bagian punggung dekat pundaknya agar bisa melihatku mengoralnya
Tanpa basa basi, aku langsung dengan rakus menjilatinya, kusapu bibir vaginanya dengan lidahku membuat Bu Yenti langsung melenguh.
Bu Yenti 2 “Hhhhhhhhhssssssssss. …. hhhhsssssss… “ desis Bu Yenti dengan merem melek, kusapu terus bibir vaginanya itu, lalu kuhisap lubang itu sekuatku membuat Bu Yenti langsung membusungkan dadanya ke atas. Lenguhan dan erangannya semakin tak karuan. Kuludahi vagina itu lalu kujilati lagi dan membuat Bu Yenti menjadi senang
“Yaaa .. tante suka kamu .. sayaang .. teruuus .. buat tante menggelepar “ kata Bu Yenti dengan disambung desisan yang membuatku semakin senang.
Bibir vaginanya kembali kuserbu, dengan semakin nakal, jari telunjukku aku tusukan ke dalam lubangnya, ketika jariku masuk itu sudah terasa sekali kedutannya
“Naakaaaaaaaaaaaaaaal “ seru Bu Yenti dengan suara menggoda, bagian dadanya menggelinjang, bergerak tak karuan kesana kemari akibat tusukan jariku itu. Lubangnya semakin merengkah dan terasa sangat lentur tapi terkesan alot, hmmm .. aku yakin tak bakalan tahan akan jepitannya.
Sapuan lidahku, sedotan bibirku yang menghisap itu membuat Bu Yenti semakin tak karuan gerakkannya, seperti meronta ronta, matanya terpejam dengan erat. Pelan pelan dengan kesabaran aku memperlebar lubang jalan bayi itu dengan lidahku, hisapanku. Sedang Bu Yenti semakin tak tahan
“Sayaaaaaaaaaaaangg .. nggak taaaahaaaaaan aaah .. mau sampaaai “ jerit Bu Yenti dengan keras, bahkan kakinya sebelah kiri ditopangkan ke punggung yang dimana aku sedang membungkuk mengoral dengan rakus dan bahkan terkesan cepat. Lenguhan, erangan dan desisan semakin cepat berganti, tubuhnya oleng kesana kemari tak karuan, kaki satunya kini ditopangkan lagi dan menjepit penisku. Aku terus kuoral, sedang tangan kiri Bu Yenti mengelus elus bagian di atas vaginanya untuk memancing agar cepat orgasme. Klitorisnya aku sedot dan jilatin dengan gemas
“Sudaaah aaah .. awasss .. tante mau muncraaaaaaaaaaaat “seru Bu Yenti suara keras, didorongnya kepalaku ke belakang dengan ditarik kemudian aku tak menyangka, dari lubang itu memancur dengan sangat tinggi cairan bening itu, cairan orgasme yang muncrat seperti air mancur bahkan bisa mencapai lebih 2 meter. Gilaaaaaaaaaa .. tubuhnya yang menegang itu kemudian berkelonjotan tak karuan. Tak lama kemudian melemas dengan cepat dan diam dengan dada nai turun. Aku semakin heran bahkan senang dengan Bu Yenti ini yang sangat berbeda dengan wanita lain, akan kujadikan kumpul keboku.
Tak terasa kami sudah sangat basah keringat karena berlomba saling mengoral, kini saatnya perjuangan yang paling berat bagiku, memasukkan penisku ke lubang surgawi milik Bu Yenti, aku bahkan sangat tidak yakin bisa menenggelamkan batangku, walau kelihatan seukuran dengan lebar penisku namun aku tetap meragukan, sehingga aku hanya memandang lubang basah itu dengan seksama. Karena masih diam dan melihat tidak segera berindak, Bu Yenti langsung beranjak bangun dan menunggangi aku di selakanganku
“Masukin segera “ perintah Bu Yenti dengan gemas karena melihatku diam saja.
“Tan .. terlalu sempit .. maaf ya kalo dijepit gitu bisa cepat muncrat “
“Nggak apa apa deh .. yuk .. aku masukin ya “ ajak Bu Yenti lagi dengan bertopang pada pundakku.
“Oke deh .. “ jawabku singkat
“Tante ingin menumpaki kamu yaaa, tante mau main kuda kudaan sama kamu, ntar nanti kita main ayam jago yang genjot ayam betinanya, tante jadi ayam betinanya, kamu ayam jagonya, tante ingin disodok sodok dari belakang dan depan .. “ goda Bu Yenti lebih lanjut, aku sampai tertawa akan kata kata Bu Yenti yang lucu itu.
Bu Yenti langsung memegang penisku, kemudian mengarahkan ke penisku, dengan mataku terpejam merasakan hal yang luar biasa, kali ini aku dibuat akan terkapar dengan kelelahan dan jepitan sangat ketat dan rapat sekali. Pelan pelan selakangan Bu Yenti turun menempel ke kepala penisku dan ditekan, terasa sekali kalo lubangnya seperti buntet, namun dipaksakan batangku, hanya kepala penisku yang masuk namun di bawah kepalaku langsung masuk mili demi mili. lubang kemaluan itu seakan lentur dan membuka dengan pelan, tapi ketika mulai melebar ke batangku setelah kepala penis terasa sangat susah untuk dimasukan lebih dalam. Aku sampai mengerang tak karuan merasakan jepitan kepala penisku yang terjepit itu.
“Tanteeeeeeeee .. duuuuh .. rasanya nggak karuan nih .. jepitan tante nggak nggenaaaah .. ngilu rasanya “ jeritku dengan menggerakan dadaku ke sana kemari karena tak tahan akan jepitan yang sangat erat itu. Belum tawa gemas Bu Yenti membuatku sampai tak bisa berpikir, sudah berusaha menjepit penisku masih saja bisa tertawa.
“Haaaaaaaan … rasanya ketat sekali .. tante juga ngerasa nggak kuaaat.. kita muncrat bareng yaaaaaaa “ tukas Bu Yenti dengan memagut bibirku, penisku masih berhenti di bawah kepala penisku dan susah sekali Bu Yenti mendesakkan batangku lebih dalam. Baru kali ini kuraasakan kesulitan luar biasa menembus lubang basah itu. Pengin rasanya aku menarik kembali, namun karena selakanganku diduduki dengan gemas dan ditekan itu, aku harus menerima konsekwensi harus amblas sampai tenggelam.
Kami berdua sangat bersusah payah untuk terus memasukan batangku lebih dalam, tawa gemas, senyum nakal, sifat genit yang menggodaku sampai membuatku semakin suka dengan Bu Yenti ini. Penyanyi dangdut yang hot dan sangat menggoda itu, bahkan mempunyai sikap nakal dan genit, lebih genit dari pada yang lain. Dengan sangat memaksa Bu Yenti langsung kembali menekan selakangannya sehingga membuat dirinya langsung merintih kesakitan.
“Haaaaaaaaaan .. uuuuh .. sakit sekali .. tante tetap ingin terus … ayo bantu tante masukin penismu .. duh ****** macam apa ini ?” sungut Bu Yenti dengan tertawa genit. Bu Yenti langsung nakal menekan dengan keras membuatku sampai mendelik dan kakiku sampai terangkat, sedang kaki Bu Yenti mengangkang lebar menekan ke ranjang, aku sangat kesakitan ditekan sedemikian kuat, kami berdua terpekik bersamaan.
“Hhhhhhsssssssssssssss………. Uuuuuuuuuuuuuuuh …. “ pekik kami berdua hampir bersamaan, akibat tekanan keras itu, penisku masuk melesak lebih dalam, sehingga mendekati ke tengah batangku. Luar biasa rasanya jepitan yang sangat kencang itu. Aku merasakan remasan dan plintiran pada penisku yang besar itu.
“Susaah yaaa .. “ goda Bu Yenti dengan memagut bibirku
“Iya tanteeee “ sahutku dengan lemah.
“Makanya, tante pengin kamu .. tante sejak bertemu denganmu sudah menyakini kalo ******mu besar sekali .. uuuh . kini bukan besar saja, tapi juga sesak… tante bangga deh kalo vagina tante bisa dimasukin sebesar punyamu .. uuuuh .. penismu sungguh gila “ puji Bu Yenti dengan tersenyum dan mengatur nafasnya lagi, bulir bulir keringat menetes dari wajah cantik Bu Yenti yang kini banyak meringis merasakan penisku yang hendak mengoyak liangnya.
“Yang jelas aku suka dengan pantat dan buah dada Tante Bu Yenti .. tekan pelan pelan, sayang “ ajakku dengan meremas buah dadanya, Bu Yenti lalu memajukan buah dadanya itu sehingga remasanku semakin keras.
“Suka khan .. tante tekan yaaa “ pinta Bu Yenti dengan tersenyum.
Aku tak menjawab dan hanya mengelus pahanya yang mulus itu, pelan pelan Bu Yenti kembali menekan dan membuat penisku pelan sekali menerobos masuk ke atas. Mili demi mili penisku lama lama semakin tenggelam, kami berdua hanya bisa memejamkan mata dengan menggigit bibir karena merasakan sakit yang luar biasa.
Bu Yentinatalia“Tanteee tarik dulu ya .. “ ajakku dengan mengangkat paha Bu Yenti dengan pelan, diangkatnya selakangan Bu Yenti dan kemudian menekan lagi, ketika dinaikan seretnya juga luar biasa sehingga membuat Bu Yenti sampai melenguh. Penisku terlalu besar, Bu Yenti mengulum penisku saja tidak masuk ke dalam mulutnya … Uuuuh , apalagi vaginanya yang sempit itu.
Kami terus berjuang agar penisku bisa tenggelam dalam vaginanya sampai mentok, bahkan aku menyakini kalo penisku pasti akan menyisakan sekitar 2-3 centi tidak amblas karena panjangnya penisku itu. Perlahan lahan Bu Yenti menekan lagi lebih kuat sehingga penisku kini semakin dalam masuk ke lubang surgawinya.
“Dikit lagi sayaaaang … yaaaaaaa .. tante mulai nikmat nih, tante bangga bisa kamu disodoki .. tante akan selalu suka menggnjotmu… teruuus yaaa .. jangan kapok bercinta dengan tante… “ ujar Bu Yenti dengan tertawa renyah
“Tante kudu mau goyang bugil di hadapanku dengan satu lagu” kataku dengan meminta suatu hal yang kusukai
“Tenang saja .. nanti tante akan menari bugil untukmu .. tante akan memberikan hadiah itu .. akan kuberi goyangan tante yang hot .. Hmmm .. “ jawab Bu Yenti dengan tersenyum lagi dan mencium pipiku
Pelan pelan penisku melesak lebih dari separo, tekanan semakin erat dan remasanya di dinding vaginanya mau menghancurkan penisku, ditariknya selakangan Bu Yenti dan menekan lagi, kalo ini semakin lancar, dengan sekali sentak ketika ditarik ke atas penisku akhirnya mentok dan menyisakan beberapa centi tidak amblas
“Gilaaaaaaaaaaa .. masih sisaaaa ?” pekik Bu Yenti
“Aaaaaaaaaaauh ! Luar biasa tanteee .. aku nggak tahan jepitan vagina tante .. “
“Bilang tempek donk … tante khan suka bilang ****** “ sungut Bu Yenti
“Oke deh .. aku suka tempek Tante Bu Yenti “ jawabku disambut rasa suka dan senang Bu Yenti.
Kami kemudian diam sebentar mengatur nafas kami agar bisa memulai untuk saling menggenjot, kaki Bu Yenti kemudian merapat menuju ke pinganggku dengan pelan pelan agar tidak menimbulkan rasa sakit ketika menjepit, kakinya itu ketika mau dilingkarkan aku sampai memeluk erat Bu Yenti dengan merangkul lewat pundaknya.
“Tante Bu Yenti memang hot .. aku suka tante .. maukah Tante Bu Yenti jadi teman kumpul keboku ?” ajakku
“Kumpul kebo ? mau dong .. “ jawab Bu Yenti dengan tersenyum nakal
bersambung
“Iyaaaaaa .. sekarang tante gerak donk .. udah nggak tahan mau muncrat nih .. ”
“Samaaaaaaaa .. tante juga sudah nggak kuaat “ sambut Bu Yenti dengan menaikan pantatnya kemudian pelan pelan menurunkan, terasa seret sekali, gerakan pantat Bu Yenti pelan agar penisku bisa lancar, sudah lebih dari sepuluh kali gerakan pelan Bu Yenti semakin membuat penisku lancar keluar masuk, terasa sakit dan rasa nikmat bercampur, mata Bu Yenti merem melek keenakan, ketika melek pun hanya terlihat memutih
“Haaaaaaaan … ooooh .. hhhhssss .. aaaauh .. aduuuuh “ lenguh Bu Yenti yang kupeluk itu, kuhujani dengan ciuman dan pagutan kemudian lumatan, tanganku nakal meremas buah dadanya membuat Bu Yenti semakin kewalahan. Lima menit kemudian Bu Yenti mulai bergerak lebih cepat meluluhlantakan penisku.
“Sayaaang , tante nggak tahan nih “ pekik Bu Yenti
“Genjot teruuuus … “ ajakku dengan bersemangat walau lelah merasakan jepitan sangat ketat vagina milik Bu Yenti ini.
Menit demi menit kami berpacu, kami hendak merasakan orgasme, kuajak bergerak lebih cepat, kusodokan batangku ke atas lebih keras dan membuat Bu Yenti semakin tak karuan, kempitan di vaginanya itu semakin erat, kuremas terus buah dadanya agar mencapai orgasme, aku pun semakin tak tahan. Bu Yenti menjerit ketika mencapai orgasmenya, tubuhnya melengkung, memajukan dadanya, kuremas sekuatku untuk memberikan rasa orgasme lebih dalam.
“Aaaaaaaaaaaaaaah … uuuuudaaaaaaaaaaaaaa “ jerit Bu Yenti dengan keras, penisku disiram cairan panas, tubuh Bu Yenti berkelonjotan, aku pun demikian menyusul Bu Yenti mendapatkan orgasme, wajahku tegang, nafasku berantakan dan craaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaat
“craaaaaaaaaaat …. craaaaaaaaat .. craaaaaaat … craaaaaaaaaaaat “ penisku menembak dengan sangat keras dan membuat Bu Yenti langsung membuka matanya dengan lebar merasakan tembakan spermaku ke rahimnya. Aku sampai berkelonjotan, kami berdua saling memeluk dengan kekuatan sisa yang ada, tubuh kami yang saling memeluk itu akhirnya jatuh ke kanan dan kami diam dengan memejamkan mata kami, menikmati orgasme, dari sela sela batangku tak banyak cairan mani kental yang keluar padahal aku merasakan tembakan air maniku yang banyak.
CODET PREMAN PENAKLUK
Codet adalah seorang preman yang terkenal sering keluar masuk penjara.
Kejahatan yang dia buat sangat kompleks mulai dari pembunuhan,
pemerasan, perkelahian dan perkosaan.Codet terkenal dengan kenekatannya
yang sangat di takuti oleh semua orang.
Itulah sosok Codet yang sekarang masih mendekam di sebuah rutan.
????????????????????????????????????
Di sebuah penjara yang pengap dan jauh dari keramaian kota tinggallah seorang mantan preman yang sangat di segani di dunianya. ia adalah Codet..ia tertangkap saat aksinya menjadi pembunuh bayaran seorang pengusaha terhadap saingan bisnisnya,codet saat itu tertembus peluru polisi yang mengejarnya dan akhirnya tertangkap.
Didalam penjara ini sudah hampir 5 tahun codet mendekam. Diam-diam ia telah mengatur rencananya untuk melarikan diri. ia telah pelajari situasi dan kapan saja para penjaga ini berganti jaga.
Suatu hari, saat itu dalam rutan itu terjadi perkelahian antar blok penjara dan mengakibatkan terjadi tawuran antar napi, saat itulah codet memanfaatkan situasi tersebut dengan membunuh seorang sipir penjara itu dan ia lucuti pakaian sipir itu dan ia memakainya.
setelah itu codet pura-pura ikut dalam rombongan para penjaga itu dan saat sampai di pintu, ia berbelok masuk ke dalam lorong yang menuju pintu gerbang dan saat bertemu penjaga gerbang ,codet langsung menghajarnya dengan pentungan yang di bawanya setelah itu ia buka kunci gerbang dan secara bersamaan, ke pergok seorang pengawas yang melihat di kamera, penjaga itu lalu membunyikan alarm dan semua pintu mulai terkunci namun codet sudah berhasil berada di luar dan ia segera melarikan diri masuk ke dalam hutan.
semua penjaga mengejar codet dibantu dengan anjing pelacak yang segera mencium jejak langkah codet.
Codet terus berlari dan akhirnya ia menceburkan diri ke dalam derasnya air sungai.dan pengejaran penjaga pun berakhir, karena tak ada alat untuk mengejarnya lagi dan mengharapkan pasti codet tak kan selamat???????????????
Di tempat lain ada seorang janda muda yang baru sebulan di tinggalkan suaminya karena kecelakaan. ia adalah Sari. ia baru berusia 25 tahun dan baru memiliki seorang anak yang berusia sepuluh bulan. Sari berperawakan sedang dengan kulit sawo matang,wajah manis khas perempuan desa dan kulit halus dengan buah dada yang ranum sebesar kepalan tangan orang dewasa,dan pantat yang bahenol.
Sari tinggal dekat pinggiran sungai di belakang rumahnya. Jarak rumah Sari dengan rumah tetangganya terhalang sebuah kebun dan 5 petak sawah milik warga dan memang begitulah suasana di pedesaan kala itu.
Hari itu seperti biasa Sari setelah anaknya tertidur ia bawa cucian dan sekalian hendak mandi di sungai belakang rumahnya, saat itu saat sedang nyuci , Sari terkaget melihat sesosok tubuh tergeletak dekat batu bawah pohon bambu, Sari pun penasaran dan saat ia lihat dan ternyata masih hidup,Sari kebingungan dan Codet saat itu tersadar dan ia bilang ? to..to?long.. sa?ya?..? dan kemudian ia pingsan lagi. Sari dengan sekuat tenaga tarik tubuh Codet ke atas dan di baringkan di teras belakang tempat biasa ia dan suaminya dulu menikmati sungai sambil makan.
Sari merasa kasian dan ia segera membuka baju Codet yang terlihat lusuh dan sobek,lalu ia selimuti dengan kain agar tubuhnya hangat.
2 jam kemudian Codet tersadar dan ia lihat pertamakali sesosok wajah ayu dan manis sedang mengobati luka di keningnya. Sari tersenyum manis ia bilang ? Bapak sudah sadar..?apa yang di rasakan sekarang pak?.? Suara lembut terdengar dari mulut Sari, Codet coba bangun dan di bantu Sari untuk duduk. Codet lalu menjelaskan bahwa ia terbawa arus sungai saat ia terpeleset jatuh. Kemudian Sari menanyai asal usul Codet dan dari mana ia tinggal. Codet bilang kalau ia tak ingat semuanya.akhirnya untuk sementara Codet boleh tinggal di situ sampai keadaannya pulih .
Keesokan harinya codet terbangun dari tidurnya saat ia dengar tangis anaknya Sari di kamar sebelahnya,codet bangun dan mendekati kamar Sari dan ternyata Sari tak ada, codet yang baru kali ini menggendong seorang anak kecil merasa kaku dan coba menenangkan anak itu agar tidak nangis dan berhasil ternyata anak itu pipis codet coba menggantinya dan ia menggendongnya lagi. Saat ia ke belakang rumah itu ia lihat samar-samar sesosok tubuh mulus memunggunginya sedang mandi di dekat batu yang sepertinya sudah sering di pakai mandi.
Codet saat tahu itu ternyata Sari ia tak bisa menahan ****** nya untuk ngaceng ,codet bergeser agar lebih jelas melihatnya dan saat ia intip dekat dapur yang tepat berada di atas tempat mandi itu terlihat jelas tubuh mulus Sari dengan buah dada yang sekal walau tak besar namun cukup membuat birahinya naik, Sari saat itu berdiri dan mengambil handuk di atas batu itu dan codet lihat jembut Sari yang sedikit lebat itu kontras dengan warna kulitnmya Sari pun naik ke atas dan menuju pintu dapur codet segera lari ke ruang tengah dan pura-pura ajak main anaknya Sari.
Sari saat masuk ia kaget dan bilang ?aduh kok udah bangun lagi ndok..,wah jadi ngerepotin bapak ya?..? sambil mendekati codet yang lagi menggendong anaknya.
Codet lalu bilang ? ah?nggak apa,tadi si kecil nangis mungkin celananya basah ngompol jadi saya coba gantiin? Sari lalu menyodorkan tangannya untuk memangku anaknya dan saat anaknya ia ambil dari pangkuan codet secara tak disangka handuknya terlepas dari lilitannya, kontan saja handuk melorot jatuh ke lantai saat itu Sari menjerit malu dan ia tak bisa menyembunyikan tubuhnya di hadapan codet,codet langsung terpana dan Sari pun tak lekas menutpnya saking kaget dan gugupnya, Sari langsung peluk anaknya coba jadikan penutup dadanya namun memeknya tak tertutupi.
codet lalu ambil handuk itu dan ia tutupi tubuh Sari dengan tangan bergetar menahan gejolak yang mengalir dalam dadanya. Sari mukanya memerah dan segera masuk ke dalam kamarnya dan menutup gordeng pintunya. Codet tak bisa menahan lagi konaknya ia terdiam duduk di bangku sambil membanyangkan bagaimana ****** nya yang sudah lama tak merasakan semburan dari memek wanita. Sari dengan malu-malu keluar kamarnya setelah menidurkan anaknya ia coba bersikap biasa dan ke dapur untuk masak.
codet jadi kaku saat ketemu Sari dan akhirnya hari itu keduanya tanpa ada komunikasi menahan malu.
Malam itu hujan turun dengan deras dan codet di kamar sedang membayangkan keelokan tubuh Sari, sedangkan Sari saat itu tengah tertidur dan dengan kain agak ter singkap ia tidur terlelap. Codet dalam hatinya berkecamuk antara birahi dan rasa tak tega karena Sari telah menyelamatkan hidupnya, akhirnya ia mendekati kamar Sari dan terdengar dari dalam kamar Sari anaknya nangis .
Sari terjaga dan ia bangun lalu ia menenangkan anaknya yang terbangun, mungkin ingin menyusu, Sari tanpa ragu ia keluarkan buah dadanya dalam BH kendornya dan ia susui anaknya sambil berbaring miring. Entah karena capek atau ngantuk, Sari pun tertidur sambil menyusui anaknya itu. Codet yang mengintip di lobang bilik itu kontan timbul niat birahinya, ia lalu masuk ke kamar Sari yang memang tak berpintu Cuma di tutupi kain gorden saja dan saat sudah di dalam kamar itu, ia lihat susu menetes ke seprei karena anaknya tak menyusu lagi dan sudah tertidur juga,
Codet lalu naik ke kasur itu dan ia pangku anaknya Sari ke pinggirnya, lalu codet berbaring sebelah Sari dan ia sejenak pandangi wajah ayu Sari yang tertidur damai dengan buah dada kanan terpampang menantang . codet raba buah dada itu terasa hangat dan halus, kenyal, lalu ia telusuri dan ia usap-usap bentuknya dan perlahan ia dekatkan bibirnya yang berewokan itu ke putting susu Sari dan perlahan ia jilati putingnya dan ia sedot sedot dan ia lumati buah dada Sari dengan lahapnya, tangan codet meraba paha dan ia tarik kain bawah itu dan perlahan kain penutup bagian bawah tubuh Sari terbuka, Dan terlihat cdnya Sari yang berwarna cream dan terlihat sudah kendur karetnya.
Sari diam saja saat buah dadanya di lumat codet sebab ia piker itu anaknya yang sedang ia sususi, codet tangannya meraba paha Sari dan merayap ke lembah berumputnya Sari yang terasa lembab dan hangat. Saat sari di terlentangkan dan di tindih codet Sari terbangun dan ia lihat codet sedang menelanjangi nya dan sedang memasukan ****** nya ke belahan memeknya, kontan Sari menjerit dan berontak namun codet sigap, ia dekap tubuh Sari sambil mulut Sari di sumpal dengan mulutnya dan mengulumnya agar jeritan Sari tak keras. Sari rasakan benda tumpul hangat sesak di memeknya Sari melotot matanya saat di rasakannya benda itu di tekan masuk seluruhnya ke dalam memeknya yang kesempitan karena ****** codet yang besar, Sari rasakan sesuatu dalam tubuhnya memanas dan berdesir membuat ia tak berontak malahan merasakan seperti melayang.
Codet mulai menggerakan ****** nya keluar masuk memek Sari, dan Sari mulai diam menikmati perstubuhan itu. Codet melihat Sari terpejam nikmat ia lalu meremas buah dada Sari dan putingnya ia cubit, kontan saja Sari menggelinjang dan terasa oleh codet setiap ia cubit putting itu, memek Sari terasa berdenyut seperti memijit ****** nya. Sari mengejang dan merintih sambil mencakar punggung codet dan Sari pun klimax.
Codet dengan penuh nafsu terus menggenjot memek Sari dengan ****** nya, Sari baru kali ini merasakan sesuatu yang luar biasa ia alami, dan berkali-kali ia rasakan memeknya menyemburkan air surganya, namun codet tak melepasnya ia bahkan berganti posisi kini Sari tertelungkup dan di genjot dari belakang oleh codet dan akhirnya codet percepat genjotannya dan ia pun mengerang dan menggigit bahu Sari dan ****** codet menembakkan spermanya banyak sekali karena telah lama spermanya tak ia keluarkan .
codet dan Sari terkapar kelelahan setelah pertarungn yang gila itu menghabiskan waktu hampi sejam setengah.keduanya terlelap tidur sampai pagi
Pagi itu, Sari terbangun saat anaknya menangis. Sari dengan tubuh lemas dan memek terasa masih seperti terganjal bekas tadi malam ia bangun dan di lihatnya Codet masih tertidur dengan terlentang tanpa busana, Sari terkaget saat lihat ****** Codet sebesar itu, 2 kali ukuran ****** suaminya dulu.
Sari segera mengangkangi tubuh codet karena anaknya berada di sisi sebelah kiri codet. Saat mengangkangi tubuh codet itu, entah kenapa Sari terjatuh dan menindih ****** codet Sari merasa merinding dan Sari segera pangku anaknya dan ia duduk di bibir ranjang itu.
Sari setelah susui anaknya dan ia ganti popoknya. Sari lihat ke arah ****** codet dan entah kenapa ia menelan ludahnya dan ia baringkan anaknya lagi di kasur itu.
Entah ada dorongan dari mana Sari tangannya perlahan meraba ****** codet yang terlihat masah menggelayut besar itu,
Sari saat raba ia rasaka kenyal hangat dan perlahan ia mengelusnya dan ****** itu mulai membesar dan Sari terkaget saat tangannya di pegang oleh codet dan di tahan di ****** nya. Sari coba tarik tangannya tapi tangan codet lebih kuat dan Sari dengan malu ia tertunduk tak berani menatap wajah codet yang sedang senyum menyeringai mesum. Codet lalu bilang ? Kenapa berhenti??? tuh lihat jadi besar gini ?..apa tak kasihan tuh si entongnya?..? Sari mukanya memerah dan codet dengan sengaja meremaskan tangan Sari ke ****** nya dan Sari mau mau akhirnya turuti perintah codet.
Codet dengan tenang bimbing Sari mengocok ****** nya hingga berdiri tegak.
Sari di tarik tubuhnya oleh codet dan codet dekap tubuh Sari dan ia lumati bibir Sari dengan memainkan lidahnya dalam rongga mulut Sari. Sari mulai terangsang saat tangan codet merabai memeknya dan memainkan klitorisnya. Sari sudah tak perduli dengan keadaan saat itu, yang ia kejar adalah birahi yang kini sedang ada di otaknya. Sari lau di suruh masukkan ****** codet ke dalam goa hangatnya, Sari mengangkangi ****** codet dan perlahan ia arahkan ****** codet ke lubang surganya dan Sari meringis saat memeknya mulai melahap benda tumpul dan besar itu, Sari mendesah saat ****** itu mulai menerobos memeknya.
Sari menjerit saat codet dengan sengaja menekan pinggul Sari dan ****** codet dengan sekali hentak masuk seluruhnya ke dalam memek Sari.
Sari ambruk menindih tubuh codet , dan codet hanya tersenyum dan mulai menyuruh Sari menaik turunkan pantatnya. Sari perlahan mulai menik turunkan pinggulnya dan ia rasakan gesekan dalam memeknya terasa sangat sensasional dan bikin ia melayang. Sari lama ? lama mulai liar gerakan pinggulnya dan desahan serta rintihan bercampur dengan jeritan nikmatnya.
Codet lalu balikan tubuhnya dan kini codet yang di atas. Sari tergolek pasrah dan menanti genjotan codet. Sari pagi itu sampai 2 kali klimax dan saat terakhir codet semburkan spermanya codet tumpahkan ke wajah Sari dan Sari di paksa mengulum ****** nya dan Sari hanya bias pasrah dan kembali mereka terlelap sambil berdekapan tanpa perdulikan anak Sari yang terbangun sendiri. Sari merasa sangat terpuaskan dahaga nya.terlihat kepuasan di wajahnya.
Setelah kejadian itu hampir tiap malam Sari dipuasi codet hingga suatu saat Sari rasakan mual dan muntah-muntah ia pun terbuahi benih codet. Sari mulai bingung dan ia tak cerita pada codet karena bingung,akhirnya ia pendam sendiri kehamilannya.
Codet setelah merasa pulih tubuhnya, ia mulai menghidupi Sari dan anaknya, codet mulai bercocok tanam seperti yang pernah ia lakukan juga di dalam penjara dulu. Dan Sari terlihat mulai membesar perutnya dan codet sangat menyayangi Sari, Sari walau codet ini pantasnya menjadi bapaknya, namun Sari menerima codet sebagai suaminya walau tanpa ikatan pernikahan yang syah.
3 bulan kemudian
Sari terlihat perutnya mulai membuncit. Codet mau tak mau ia harus membiayai hidup mereka kelak, dengan demikian untuk persalinan nanti codet harus mencari pekerjaan.
Setelah semalaman codet berfikir, ia kemudian memutuskan untuk mencari pekerjaan. Siang itu codet pamit untuk pergi ke kota. Sari mewanti-wanti agar codet pulang seminggu sekali untuk menengoknya dan agar Sari tidak kesepian di rumah sendirian.
Akhirnya codet pun berangkat.
Siang itu udara sangat panas dan biasanya ini akan turun hujan, seorang wanita muda sedang bersumpah serapah terjebak dalam kemacetan, wanita muda itu adalah Bunga Lestari.
Saat itu ia lagi buru-buru hendak ke kampus, dan dosen yang ngajar hari ini cukup keras dan disiplin jika tak hadir 3 kali pertemuan maka dapat di pastikan nilai mata kuliahnya akan dapat ? E ?. Bunga sangat takut kalau ia harus ngulang dipastikan akan tambah waktu lagi untuk menyelesaikan kuliahnya.
Saat itu, Bunga telpon temennya di kampus untuk memastikan kalau dosennya itu sudah datang apa belum. Bunga saat terlepas dari kemacetan ia dengan terburu-buru melajukan mobil jazz merahnya dengan kencang.
Entah sial atau memang Bunga tak hati-hati, saat mendekati kampus dan masuk jalan pintas yang terhalang taman, Bunga tak nyadar kalau di belokan itu ada seorang lelaki setengah baya hendak menyebrang dan Bunga kaget ia hendak injak rem malah gas yang di injak dan tanpa ada jeda sedetik kemudian orang itu pun ter tabrak dan terhempas cukup keras ke jalan. Bunga menjerit dan mobilnya menabrak sebuah pedagang kaki lima yang sedang berjejer. Mobil Bunga terhenti setelah menabrak trotoar jalan. Kepala Bunga terbentur pintu dan tangan kanannya terkilir.
Tak lama 4 orang lelaki menghampiri mobilnya dan Bunga ketakutan saat melihat orang-orang itu yang hendak memukulinya. Bunga di suruhnya turun, Bunga dengan gemeteran antara takut dan kaget atas kecelakaan tersebut perlahan membuka pintu mobilnya. Ke 4 orang itu ternyata yang 2 orang penjual es cendol dan bakso yang gerobaknya tertabrak mobilnya, sedang yang 2 lagi yang lagi nongkrong di dekat situ dan mau memastikan kalau Bunga gak boleh kabur. Sedang laki-laki setengah baya itu ternyata si Codet yang sudah sampai di kota untuk mencari kerja itu. Codet terluka cukup parah di kepala dan bahu. Bunga di seret menuju ke sebuah kios rokok yang tak jauh dari TKP.
Bunga di maki-maki pedagang itu, dan seorang dari mereka meminta bunga bertanggung jawab atas semuanya. Agar tidak kabur Bunga di minta KTP,SIM,dan hendak di laporkan ke POLISI. Bunga pun nangis dan memohon agar damai. Akhirnya Bunga memprioritaskan Codet yang terluka, dengan di kawal 2 pedagang itu codet di bawa ke Rumah Sakit terdekat dengan memakai mobil Bunga. Sesampai di Rumah Sakit Codet segera di obati dan Codet harus di rawat, sedang bunga yang terluka dikit hanya di spalek saja tangannya karena terkilir. Di ruang tunggu UGD, Bunga tengah negosiasi dengan 2 pedagang itu. Ke dua pedagang itu yaitu Tarjo dan Karta, mereka minta di ganti semua dagangannya, untuk sementara Bunga terpaksa berikan KTP dan SIMnya kepada 2 orang itu agar nanti Bunga tebus, sebab hari itu ia tak bawa uang.
Akhirnya setelah beres Bunga terduduk dan ia bingung harus bagaimana, jika beri tahu orang tuanya pasti kambuh serangan jantungnya. Nelpon temennya, mungkin lagi belajar sekarang. Akhirnya Bunga ambil keputusan biar ia yang tanggung sendiri.
Saat itu, Bunga dapat kabar kalau Codet sudah siuman, Bunga pun masuk ke kamar rawat, dan ia jumpai codet tengah tebaring sambil merasakan sakit di kepalanya. Bunga lalu duduk di kursi dekat Codet, Bunga perlahan merasa kasihan juga, akibat perbuatannya orang ini terluka dan kesakitan.
Bunga coba mengajak ngobrol Codet : ? gimana keadaannya pak???mana aja yang sakit?? sambil membungkukkan badannya ke arah codet. Saat itu Codet lihat ke arah Bunga yang manis dan ayu ini, dan Codet tertuju matanya ke dada Bunga yang walau gak montuk atau besar tapi belahan di dadanya bukin mata Codet tak mau lepas dari pemandangan itu. Bunga tak menyadarinya ia tak tahu kalau dari celah baju nya yang lagi posisi membungkuk itu buah dadanya terlihat dari celah leher bajunya. Codet sesaat mwnikmati pemandangan itu. Walau kepala sakit, tapi ****** nya masih normal. Bunga denganmenyesal ia meminta maaf pada Codet atas kejadian itu. Dan codet pun menganggukkan kepalanya, pertanda ia me maafkannya. Bunga lalu menanyai tempat tinggal Codet dan di jawab oleh Codet kalau dia sedang nyari kerja untuk biayai istrinya di kampung yang tengah hamil. Bunga lalu ingat kalau di rumahnya gak ada yang ngurusin kebun rumahnya. Ia lalu menawarkan untuk jadi tukang kebunnya. Dan sekalian Bantu-bantu ngurusin rumahnya.
Singkat cerita 3 hari kemudian codet keluar dari Rumah Sakit, dan ikut ke rumah Bunga di kawasan bilangan. Rumah itu cukup mewah namun serba minimalis, Bunga beli sendiri rumah itu dari hasil kerjanya sebagai penyanyi dan bintang sinetron. Bunga ajak Codet masuk dan bunga ke dapur siapin makanan. Bunga bilang ?nah nanti mamang istirahat di belakang ya, udah di siapin kok ? sambil menunjuk ke arah belakang dekat dapur belakang garasi. Dan sejak itu Codet yang bernama samaran Udin ini mulai bekerja di rumah Bunga.
Seminggu kemudian terjadilah perubahan di rumah Bunga, kini terlihat hidup dan terawat setelah di tata oleh Codet ( Udin ) ini. Dan Bunga sering jarang pulang karena kesibukannya tour ke berbagai kota. Bunga sempat di telpon oleh Tarjo dan Karta yang menagih janji Bunga untuk mengganti dagangannya yang samoai saat ini Bunga belum ada waktu tuk ketemu mereka, karena kesibunkannya.
Codet selama tinggal di rumah Bunga merasa leluasa apalagi Bunga jarang di rumah, naluri masalalunya terkadang timbul . seperti saat itu, Codet masuk ke kamar Bunga dengan melewati jendela kamar Bunga, saat itu Bunga lagi di Surabaya ada acara di sana, Codet dengan keahliannya walau pintu kamar Bunga di kunci, ia bias masuk melalui jendela kamarnya yang tal berteralis. Di dalam kamar itu terasa wangi dan serba berbau pink, codet perhatikan seluruh foto dan yang ada di ruang kamar Bunga iitu, dan matanya tertuju pada sesuatu yang menggantung di dekat pintu kamar mandi, sebuah benda berwarna merah muda tergantung berbentuk segi tiga dan beberapa BH berwarnagelap.
Codet mengambilnya dan ia cium masih berbau khas karna CD itu belum di cuci alias bekas pake. Codet timbul birahinya dan ia masuk ke kamar mandi itu dan alangkah senangnya codet menemukan banyak lagi daleman Bunga yang ada di keranjang cucian dan salah satunya ada yang moel G-string dan bikini. Codet ambil beberapa dan ia masukan ke dalam kantong celananya. Codet pun keluar dan merapikan lagi jendela yang bekas ia cungkil tadi dan ia ke kamarnya dan ia mulai berfantasi dengan pekaian dalam bunga yang masih berbau badan bunga, entah mengapa saat codet berfantasi dengan pakaian dalam itu, seperti sebuah magnet, bunga yang saat itu berada di penginapan setelah tampil di acara sebuah TV swasta, merasakan hal aneh, saat lagi tidur ia bermimpi di kejar seseorang yang hendak menelanjanginya dan ia bermimpi kalau ia merasa aman di pelukan Codet di dalam mimpinya itu.
Sepulang dari Surabaya, bunga mulai dapat terror dari seseorang yang bilang kalau bunga akan di bunuhnya. Bunga anggap itu Cuma orang iseng saja, dan ternyata hal tersebut terus menerus menerornya dan puncaknya terjadi saat malam jum?at sepulang dari syuting Bunga di ikuti sebuah motor RX-KING yang membuntutinya selepas jalan kebon jeruk, Bunga yang ketakutan segera tancap gas dan setelah dirasa aman, bunga pun cepat-cepat menuju rumahnya.
Di halaman bunga pijit klakson berkali-kali sebab saat itu codet lagi asyik di kamarnya menikmati celana dalam Bunga yang sudah lusuh dengan sperma codet. Codet dengan sarungan buka gerbang dan bunga segera masukin mobilnya ke garasi, bungan terlihat kesal pada codet yang mulai lelet kerjanya. Bunga tak sengaja saat itu memaki codet. Dan tanpa menoleh ia banting pintu dan masuk kamarnya. Codet kaget baru tahu kalau bunga yang ia kira manis baik dan sopan kini menunjukkan sifat aslinya. Codet sejenak termenung dengar perkataan bunga tadi. Codet setelah kunci gerbang dan garasi ia masuk kamarnya. Dalam kamar codet tak bias tidur ia merasa sakit hatinya tersinggung oleh bunga.
Sedang bunga tak berfikir apa-apa ia memang lagi kesal saja. Setelah ia bersih-bersih, bunga dengan memakai celan pendek warna pink dan singlet warna putih dengan kontras branya yang berwarna hitam ter baying jelas membentuk sekepal buah dadanya. Bunga pun keluar kamar dan ia ke dapur dan hendak makan. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 12.30 malam suasana sepi dan hening, hanya suara bunga saja yang sedang menyantap seporsi mie goring yang di belinya tadi.
Dalam keremangan lampu taman belakang, sesosok tubuh sedang mengawasi bunga yang lagi makan di meja makan dengan kaki bersila di kursi meja makan itu, sepasang paha mulus putih terpampang seperti melambai minta di raba dan di belai. Entah dendam atau nafsu, saat itu codet mendekati bunga dari arah belakang, terlihat cd bunga yang berwarna putih dan singletnyaagak tertarik ke atas mempertontonkan bagian bawah punggungnya yang terbuka. Codet yang sudah kesetanan oleh nafsunya tiba-tiba membekap mulut bunga dan ia mendekap tubuh itu hingga terjatuh, bunga kaget dan ia coba berontak tapi dekapan codet sangat kuat. Bunga di seret ke ruang tengah dan di depan TV, bunga dapat lihat wajah yang tak asing lagi. Bunga di ciumi leher,pipi,dan dadanya oleh codet.
Codet berhasilmenindih tubuh bunga yang ramping ini dengan sekali tekan, bunga tak bias bergerak banyak. Bunga rasakan tangan codet meremas buah dadanya yang berukuran 34 B ini dengan penuh penghayatan. Codet berhasil melumat bibir bunga yang merengek menangis dan sumpah serapah di ucapkan bunga. Codet merobek kaos singlet bunga dan sekalian mencabut bh yang di pakai bunga. Meka terpampanglah apa yang selama ini codet khayalkan. Ternyata tak se kecil bayangannya. Buah dada bunga ternyata lebih empuk dan kenyal juga putingnya berwarna coklat muda dan terlihat begitu serasi dengan warna kulit tubuhnya. Bunga memohon dan menangis saat buah dadanya di lumati bibir codet yang terasa kasar.
Codet menghisap kedua putting bunga silih berganti dan tangan kanan codet masuk ke dalam celana pendek bunga dan saat jarinya menyentuh klitorisnya, bunga mengejet dan ia baru kali ini rasakan sengatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, codet memainkannya dengan ibu jarinya dan jari tengah dan telunjuknya masuk ke lubang memek bunga dan terasa hangat dan becek. Codet mengocoknya dan sambil tetap melumat buah dada bunga ia melocokan jarinya dalam lubang memek bunga.
Bunga merintih,menjerit dan mengejang saat ia rasakan orgasme yang telah sampai di ubun-ubunnya. Sejenak tubuh bunga terkulai lemas. Codet melihat lawannya tak berdaya, ia telanjangi bunga dan kini telah bugil total. Codet tersenyum ia buka sarungnya dan ****** nya sudah mengeras dari tadi, perlahan codet duduk di atas dada bunga dan dengan paksa ****** nya ia masukkan ke dalam mulut bunga, bunag tak bias berbuat banyak ia rasakan mulutnya tersumbat benda kenyal kerasa dan berbau gak enak. Bungamulai tersedak dan terbatuk-batuk tatkala ****** itu keluar masuk mulutnya. Codet merasakan hal yang tiada tara geli, dan fly??
Puas di sepong, codet kinikangkangi ke dua paha bunga dan dengan sekali tekan paksa ****** nya di masukkan ke memek bunga buang menjerit sakit,perih dan mengganjal di memeknya bungarasakan dalam memeknya perih dan sakit. Bunga nangis dan menjerit kesakitan. Codet dengan perlahan maju mundurkan rudalnya dalam jepitan memek bunga yang masih seret itu. Lama-lama locoannya mulai lancar dan kini di genjot se kuatnya. Bungayang tadi menjerit kesakitan, kini malah merintih dan mendesah.
Bibir dan buahdada bunga tak henti di lumati codet penuh nafsu. Codet rasakan bunga orgasme.sejenak ia berhenti dan setelah bunga selesai orgasmenya ia genjot lagi, kini dalam posisi kaki kanan bunga di duduku dan kaki kirinya di pelukan codet dengan gaya miring. Codet ciumi paha dan jari kaki bunga dan bunga menggelepar-gelepar rasakan orgasmenya kembali dan hal tersebut berulang-ulang sampai 3x. dan puncaknya saat bunga di kangkangi lagi dan codet percepat genjotannya sambil lumati bibir bunga dan mengocek rongga mulut bunga dengan lidahnya dan iasedot kuat-kuat lidah bunga dan ia hisap kuat di saat codet melepas klimaxnya dan sesaat kemudian ?crrrrreeeeeetttttt?.creeeet?.crettttttt? semburan sperma codet menembak dinding rahim bunga yang sedang mengejet dan menegang . codet pun terkulai lemas dan ia lumati bibir bunga yang menganga merasakan melayang dan bungapun terpejam lemas dan terlelap tertidur nikmat.
Codet sangat puas sekali dan ia kembali garap bunga saat pagi hari saat bunga masih tertidur . bunga yang kedu kalinya ia begitu pasrah dan menikmati locoan codet. Dan sejak itu, codet tak kerja di situ lagi.
Tamat...
Itulah sosok Codet yang sekarang masih mendekam di sebuah rutan.
????????????????????????????????????
Di sebuah penjara yang pengap dan jauh dari keramaian kota tinggallah seorang mantan preman yang sangat di segani di dunianya. ia adalah Codet..ia tertangkap saat aksinya menjadi pembunuh bayaran seorang pengusaha terhadap saingan bisnisnya,codet saat itu tertembus peluru polisi yang mengejarnya dan akhirnya tertangkap.
Didalam penjara ini sudah hampir 5 tahun codet mendekam. Diam-diam ia telah mengatur rencananya untuk melarikan diri. ia telah pelajari situasi dan kapan saja para penjaga ini berganti jaga.
Suatu hari, saat itu dalam rutan itu terjadi perkelahian antar blok penjara dan mengakibatkan terjadi tawuran antar napi, saat itulah codet memanfaatkan situasi tersebut dengan membunuh seorang sipir penjara itu dan ia lucuti pakaian sipir itu dan ia memakainya.
setelah itu codet pura-pura ikut dalam rombongan para penjaga itu dan saat sampai di pintu, ia berbelok masuk ke dalam lorong yang menuju pintu gerbang dan saat bertemu penjaga gerbang ,codet langsung menghajarnya dengan pentungan yang di bawanya setelah itu ia buka kunci gerbang dan secara bersamaan, ke pergok seorang pengawas yang melihat di kamera, penjaga itu lalu membunyikan alarm dan semua pintu mulai terkunci namun codet sudah berhasil berada di luar dan ia segera melarikan diri masuk ke dalam hutan.
semua penjaga mengejar codet dibantu dengan anjing pelacak yang segera mencium jejak langkah codet.
Codet terus berlari dan akhirnya ia menceburkan diri ke dalam derasnya air sungai.dan pengejaran penjaga pun berakhir, karena tak ada alat untuk mengejarnya lagi dan mengharapkan pasti codet tak kan selamat???????????????
Di tempat lain ada seorang janda muda yang baru sebulan di tinggalkan suaminya karena kecelakaan. ia adalah Sari. ia baru berusia 25 tahun dan baru memiliki seorang anak yang berusia sepuluh bulan. Sari berperawakan sedang dengan kulit sawo matang,wajah manis khas perempuan desa dan kulit halus dengan buah dada yang ranum sebesar kepalan tangan orang dewasa,dan pantat yang bahenol.
Sari tinggal dekat pinggiran sungai di belakang rumahnya. Jarak rumah Sari dengan rumah tetangganya terhalang sebuah kebun dan 5 petak sawah milik warga dan memang begitulah suasana di pedesaan kala itu.
Hari itu seperti biasa Sari setelah anaknya tertidur ia bawa cucian dan sekalian hendak mandi di sungai belakang rumahnya, saat itu saat sedang nyuci , Sari terkaget melihat sesosok tubuh tergeletak dekat batu bawah pohon bambu, Sari pun penasaran dan saat ia lihat dan ternyata masih hidup,Sari kebingungan dan Codet saat itu tersadar dan ia bilang ? to..to?long.. sa?ya?..? dan kemudian ia pingsan lagi. Sari dengan sekuat tenaga tarik tubuh Codet ke atas dan di baringkan di teras belakang tempat biasa ia dan suaminya dulu menikmati sungai sambil makan.
Sari merasa kasian dan ia segera membuka baju Codet yang terlihat lusuh dan sobek,lalu ia selimuti dengan kain agar tubuhnya hangat.
2 jam kemudian Codet tersadar dan ia lihat pertamakali sesosok wajah ayu dan manis sedang mengobati luka di keningnya. Sari tersenyum manis ia bilang ? Bapak sudah sadar..?apa yang di rasakan sekarang pak?.? Suara lembut terdengar dari mulut Sari, Codet coba bangun dan di bantu Sari untuk duduk. Codet lalu menjelaskan bahwa ia terbawa arus sungai saat ia terpeleset jatuh. Kemudian Sari menanyai asal usul Codet dan dari mana ia tinggal. Codet bilang kalau ia tak ingat semuanya.akhirnya untuk sementara Codet boleh tinggal di situ sampai keadaannya pulih .
Keesokan harinya codet terbangun dari tidurnya saat ia dengar tangis anaknya Sari di kamar sebelahnya,codet bangun dan mendekati kamar Sari dan ternyata Sari tak ada, codet yang baru kali ini menggendong seorang anak kecil merasa kaku dan coba menenangkan anak itu agar tidak nangis dan berhasil ternyata anak itu pipis codet coba menggantinya dan ia menggendongnya lagi. Saat ia ke belakang rumah itu ia lihat samar-samar sesosok tubuh mulus memunggunginya sedang mandi di dekat batu yang sepertinya sudah sering di pakai mandi.
Codet saat tahu itu ternyata Sari ia tak bisa menahan ****** nya untuk ngaceng ,codet bergeser agar lebih jelas melihatnya dan saat ia intip dekat dapur yang tepat berada di atas tempat mandi itu terlihat jelas tubuh mulus Sari dengan buah dada yang sekal walau tak besar namun cukup membuat birahinya naik, Sari saat itu berdiri dan mengambil handuk di atas batu itu dan codet lihat jembut Sari yang sedikit lebat itu kontras dengan warna kulitnmya Sari pun naik ke atas dan menuju pintu dapur codet segera lari ke ruang tengah dan pura-pura ajak main anaknya Sari.
Sari saat masuk ia kaget dan bilang ?aduh kok udah bangun lagi ndok..,wah jadi ngerepotin bapak ya?..? sambil mendekati codet yang lagi menggendong anaknya.
Codet lalu bilang ? ah?nggak apa,tadi si kecil nangis mungkin celananya basah ngompol jadi saya coba gantiin? Sari lalu menyodorkan tangannya untuk memangku anaknya dan saat anaknya ia ambil dari pangkuan codet secara tak disangka handuknya terlepas dari lilitannya, kontan saja handuk melorot jatuh ke lantai saat itu Sari menjerit malu dan ia tak bisa menyembunyikan tubuhnya di hadapan codet,codet langsung terpana dan Sari pun tak lekas menutpnya saking kaget dan gugupnya, Sari langsung peluk anaknya coba jadikan penutup dadanya namun memeknya tak tertutupi.
codet lalu ambil handuk itu dan ia tutupi tubuh Sari dengan tangan bergetar menahan gejolak yang mengalir dalam dadanya. Sari mukanya memerah dan segera masuk ke dalam kamarnya dan menutup gordeng pintunya. Codet tak bisa menahan lagi konaknya ia terdiam duduk di bangku sambil membanyangkan bagaimana ****** nya yang sudah lama tak merasakan semburan dari memek wanita. Sari dengan malu-malu keluar kamarnya setelah menidurkan anaknya ia coba bersikap biasa dan ke dapur untuk masak.
codet jadi kaku saat ketemu Sari dan akhirnya hari itu keduanya tanpa ada komunikasi menahan malu.
Malam itu hujan turun dengan deras dan codet di kamar sedang membayangkan keelokan tubuh Sari, sedangkan Sari saat itu tengah tertidur dan dengan kain agak ter singkap ia tidur terlelap. Codet dalam hatinya berkecamuk antara birahi dan rasa tak tega karena Sari telah menyelamatkan hidupnya, akhirnya ia mendekati kamar Sari dan terdengar dari dalam kamar Sari anaknya nangis .
Sari terjaga dan ia bangun lalu ia menenangkan anaknya yang terbangun, mungkin ingin menyusu, Sari tanpa ragu ia keluarkan buah dadanya dalam BH kendornya dan ia susui anaknya sambil berbaring miring. Entah karena capek atau ngantuk, Sari pun tertidur sambil menyusui anaknya itu. Codet yang mengintip di lobang bilik itu kontan timbul niat birahinya, ia lalu masuk ke kamar Sari yang memang tak berpintu Cuma di tutupi kain gorden saja dan saat sudah di dalam kamar itu, ia lihat susu menetes ke seprei karena anaknya tak menyusu lagi dan sudah tertidur juga,
Codet lalu naik ke kasur itu dan ia pangku anaknya Sari ke pinggirnya, lalu codet berbaring sebelah Sari dan ia sejenak pandangi wajah ayu Sari yang tertidur damai dengan buah dada kanan terpampang menantang . codet raba buah dada itu terasa hangat dan halus, kenyal, lalu ia telusuri dan ia usap-usap bentuknya dan perlahan ia dekatkan bibirnya yang berewokan itu ke putting susu Sari dan perlahan ia jilati putingnya dan ia sedot sedot dan ia lumati buah dada Sari dengan lahapnya, tangan codet meraba paha dan ia tarik kain bawah itu dan perlahan kain penutup bagian bawah tubuh Sari terbuka, Dan terlihat cdnya Sari yang berwarna cream dan terlihat sudah kendur karetnya.
Sari diam saja saat buah dadanya di lumat codet sebab ia piker itu anaknya yang sedang ia sususi, codet tangannya meraba paha Sari dan merayap ke lembah berumputnya Sari yang terasa lembab dan hangat. Saat sari di terlentangkan dan di tindih codet Sari terbangun dan ia lihat codet sedang menelanjangi nya dan sedang memasukan ****** nya ke belahan memeknya, kontan Sari menjerit dan berontak namun codet sigap, ia dekap tubuh Sari sambil mulut Sari di sumpal dengan mulutnya dan mengulumnya agar jeritan Sari tak keras. Sari rasakan benda tumpul hangat sesak di memeknya Sari melotot matanya saat di rasakannya benda itu di tekan masuk seluruhnya ke dalam memeknya yang kesempitan karena ****** codet yang besar, Sari rasakan sesuatu dalam tubuhnya memanas dan berdesir membuat ia tak berontak malahan merasakan seperti melayang.
Codet mulai menggerakan ****** nya keluar masuk memek Sari, dan Sari mulai diam menikmati perstubuhan itu. Codet melihat Sari terpejam nikmat ia lalu meremas buah dada Sari dan putingnya ia cubit, kontan saja Sari menggelinjang dan terasa oleh codet setiap ia cubit putting itu, memek Sari terasa berdenyut seperti memijit ****** nya. Sari mengejang dan merintih sambil mencakar punggung codet dan Sari pun klimax.
Codet dengan penuh nafsu terus menggenjot memek Sari dengan ****** nya, Sari baru kali ini merasakan sesuatu yang luar biasa ia alami, dan berkali-kali ia rasakan memeknya menyemburkan air surganya, namun codet tak melepasnya ia bahkan berganti posisi kini Sari tertelungkup dan di genjot dari belakang oleh codet dan akhirnya codet percepat genjotannya dan ia pun mengerang dan menggigit bahu Sari dan ****** codet menembakkan spermanya banyak sekali karena telah lama spermanya tak ia keluarkan .
codet dan Sari terkapar kelelahan setelah pertarungn yang gila itu menghabiskan waktu hampi sejam setengah.keduanya terlelap tidur sampai pagi
Pagi itu, Sari terbangun saat anaknya menangis. Sari dengan tubuh lemas dan memek terasa masih seperti terganjal bekas tadi malam ia bangun dan di lihatnya Codet masih tertidur dengan terlentang tanpa busana, Sari terkaget saat lihat ****** Codet sebesar itu, 2 kali ukuran ****** suaminya dulu.
Sari segera mengangkangi tubuh codet karena anaknya berada di sisi sebelah kiri codet. Saat mengangkangi tubuh codet itu, entah kenapa Sari terjatuh dan menindih ****** codet Sari merasa merinding dan Sari segera pangku anaknya dan ia duduk di bibir ranjang itu.
Sari setelah susui anaknya dan ia ganti popoknya. Sari lihat ke arah ****** codet dan entah kenapa ia menelan ludahnya dan ia baringkan anaknya lagi di kasur itu.
Entah ada dorongan dari mana Sari tangannya perlahan meraba ****** codet yang terlihat masah menggelayut besar itu,
Sari saat raba ia rasaka kenyal hangat dan perlahan ia mengelusnya dan ****** itu mulai membesar dan Sari terkaget saat tangannya di pegang oleh codet dan di tahan di ****** nya. Sari coba tarik tangannya tapi tangan codet lebih kuat dan Sari dengan malu ia tertunduk tak berani menatap wajah codet yang sedang senyum menyeringai mesum. Codet lalu bilang ? Kenapa berhenti??? tuh lihat jadi besar gini ?..apa tak kasihan tuh si entongnya?..? Sari mukanya memerah dan codet dengan sengaja meremaskan tangan Sari ke ****** nya dan Sari mau mau akhirnya turuti perintah codet.
Codet dengan tenang bimbing Sari mengocok ****** nya hingga berdiri tegak.
Sari di tarik tubuhnya oleh codet dan codet dekap tubuh Sari dan ia lumati bibir Sari dengan memainkan lidahnya dalam rongga mulut Sari. Sari mulai terangsang saat tangan codet merabai memeknya dan memainkan klitorisnya. Sari sudah tak perduli dengan keadaan saat itu, yang ia kejar adalah birahi yang kini sedang ada di otaknya. Sari lau di suruh masukkan ****** codet ke dalam goa hangatnya, Sari mengangkangi ****** codet dan perlahan ia arahkan ****** codet ke lubang surganya dan Sari meringis saat memeknya mulai melahap benda tumpul dan besar itu, Sari mendesah saat ****** itu mulai menerobos memeknya.
Sari menjerit saat codet dengan sengaja menekan pinggul Sari dan ****** codet dengan sekali hentak masuk seluruhnya ke dalam memek Sari.
Sari ambruk menindih tubuh codet , dan codet hanya tersenyum dan mulai menyuruh Sari menaik turunkan pantatnya. Sari perlahan mulai menik turunkan pinggulnya dan ia rasakan gesekan dalam memeknya terasa sangat sensasional dan bikin ia melayang. Sari lama ? lama mulai liar gerakan pinggulnya dan desahan serta rintihan bercampur dengan jeritan nikmatnya.
Codet lalu balikan tubuhnya dan kini codet yang di atas. Sari tergolek pasrah dan menanti genjotan codet. Sari pagi itu sampai 2 kali klimax dan saat terakhir codet semburkan spermanya codet tumpahkan ke wajah Sari dan Sari di paksa mengulum ****** nya dan Sari hanya bias pasrah dan kembali mereka terlelap sambil berdekapan tanpa perdulikan anak Sari yang terbangun sendiri. Sari merasa sangat terpuaskan dahaga nya.terlihat kepuasan di wajahnya.
Setelah kejadian itu hampir tiap malam Sari dipuasi codet hingga suatu saat Sari rasakan mual dan muntah-muntah ia pun terbuahi benih codet. Sari mulai bingung dan ia tak cerita pada codet karena bingung,akhirnya ia pendam sendiri kehamilannya.
Codet setelah merasa pulih tubuhnya, ia mulai menghidupi Sari dan anaknya, codet mulai bercocok tanam seperti yang pernah ia lakukan juga di dalam penjara dulu. Dan Sari terlihat mulai membesar perutnya dan codet sangat menyayangi Sari, Sari walau codet ini pantasnya menjadi bapaknya, namun Sari menerima codet sebagai suaminya walau tanpa ikatan pernikahan yang syah.
3 bulan kemudian
Sari terlihat perutnya mulai membuncit. Codet mau tak mau ia harus membiayai hidup mereka kelak, dengan demikian untuk persalinan nanti codet harus mencari pekerjaan.
Setelah semalaman codet berfikir, ia kemudian memutuskan untuk mencari pekerjaan. Siang itu codet pamit untuk pergi ke kota. Sari mewanti-wanti agar codet pulang seminggu sekali untuk menengoknya dan agar Sari tidak kesepian di rumah sendirian.
Akhirnya codet pun berangkat.
Siang itu udara sangat panas dan biasanya ini akan turun hujan, seorang wanita muda sedang bersumpah serapah terjebak dalam kemacetan, wanita muda itu adalah Bunga Lestari.
Saat itu ia lagi buru-buru hendak ke kampus, dan dosen yang ngajar hari ini cukup keras dan disiplin jika tak hadir 3 kali pertemuan maka dapat di pastikan nilai mata kuliahnya akan dapat ? E ?. Bunga sangat takut kalau ia harus ngulang dipastikan akan tambah waktu lagi untuk menyelesaikan kuliahnya.
Saat itu, Bunga telpon temennya di kampus untuk memastikan kalau dosennya itu sudah datang apa belum. Bunga saat terlepas dari kemacetan ia dengan terburu-buru melajukan mobil jazz merahnya dengan kencang.
Entah sial atau memang Bunga tak hati-hati, saat mendekati kampus dan masuk jalan pintas yang terhalang taman, Bunga tak nyadar kalau di belokan itu ada seorang lelaki setengah baya hendak menyebrang dan Bunga kaget ia hendak injak rem malah gas yang di injak dan tanpa ada jeda sedetik kemudian orang itu pun ter tabrak dan terhempas cukup keras ke jalan. Bunga menjerit dan mobilnya menabrak sebuah pedagang kaki lima yang sedang berjejer. Mobil Bunga terhenti setelah menabrak trotoar jalan. Kepala Bunga terbentur pintu dan tangan kanannya terkilir.
Tak lama 4 orang lelaki menghampiri mobilnya dan Bunga ketakutan saat melihat orang-orang itu yang hendak memukulinya. Bunga di suruhnya turun, Bunga dengan gemeteran antara takut dan kaget atas kecelakaan tersebut perlahan membuka pintu mobilnya. Ke 4 orang itu ternyata yang 2 orang penjual es cendol dan bakso yang gerobaknya tertabrak mobilnya, sedang yang 2 lagi yang lagi nongkrong di dekat situ dan mau memastikan kalau Bunga gak boleh kabur. Sedang laki-laki setengah baya itu ternyata si Codet yang sudah sampai di kota untuk mencari kerja itu. Codet terluka cukup parah di kepala dan bahu. Bunga di seret menuju ke sebuah kios rokok yang tak jauh dari TKP.
Bunga di maki-maki pedagang itu, dan seorang dari mereka meminta bunga bertanggung jawab atas semuanya. Agar tidak kabur Bunga di minta KTP,SIM,dan hendak di laporkan ke POLISI. Bunga pun nangis dan memohon agar damai. Akhirnya Bunga memprioritaskan Codet yang terluka, dengan di kawal 2 pedagang itu codet di bawa ke Rumah Sakit terdekat dengan memakai mobil Bunga. Sesampai di Rumah Sakit Codet segera di obati dan Codet harus di rawat, sedang bunga yang terluka dikit hanya di spalek saja tangannya karena terkilir. Di ruang tunggu UGD, Bunga tengah negosiasi dengan 2 pedagang itu. Ke dua pedagang itu yaitu Tarjo dan Karta, mereka minta di ganti semua dagangannya, untuk sementara Bunga terpaksa berikan KTP dan SIMnya kepada 2 orang itu agar nanti Bunga tebus, sebab hari itu ia tak bawa uang.
Akhirnya setelah beres Bunga terduduk dan ia bingung harus bagaimana, jika beri tahu orang tuanya pasti kambuh serangan jantungnya. Nelpon temennya, mungkin lagi belajar sekarang. Akhirnya Bunga ambil keputusan biar ia yang tanggung sendiri.
Saat itu, Bunga dapat kabar kalau Codet sudah siuman, Bunga pun masuk ke kamar rawat, dan ia jumpai codet tengah tebaring sambil merasakan sakit di kepalanya. Bunga lalu duduk di kursi dekat Codet, Bunga perlahan merasa kasihan juga, akibat perbuatannya orang ini terluka dan kesakitan.
Bunga coba mengajak ngobrol Codet : ? gimana keadaannya pak???mana aja yang sakit?? sambil membungkukkan badannya ke arah codet. Saat itu Codet lihat ke arah Bunga yang manis dan ayu ini, dan Codet tertuju matanya ke dada Bunga yang walau gak montuk atau besar tapi belahan di dadanya bukin mata Codet tak mau lepas dari pemandangan itu. Bunga tak menyadarinya ia tak tahu kalau dari celah baju nya yang lagi posisi membungkuk itu buah dadanya terlihat dari celah leher bajunya. Codet sesaat mwnikmati pemandangan itu. Walau kepala sakit, tapi ****** nya masih normal. Bunga denganmenyesal ia meminta maaf pada Codet atas kejadian itu. Dan codet pun menganggukkan kepalanya, pertanda ia me maafkannya. Bunga lalu menanyai tempat tinggal Codet dan di jawab oleh Codet kalau dia sedang nyari kerja untuk biayai istrinya di kampung yang tengah hamil. Bunga lalu ingat kalau di rumahnya gak ada yang ngurusin kebun rumahnya. Ia lalu menawarkan untuk jadi tukang kebunnya. Dan sekalian Bantu-bantu ngurusin rumahnya.
Singkat cerita 3 hari kemudian codet keluar dari Rumah Sakit, dan ikut ke rumah Bunga di kawasan bilangan. Rumah itu cukup mewah namun serba minimalis, Bunga beli sendiri rumah itu dari hasil kerjanya sebagai penyanyi dan bintang sinetron. Bunga ajak Codet masuk dan bunga ke dapur siapin makanan. Bunga bilang ?nah nanti mamang istirahat di belakang ya, udah di siapin kok ? sambil menunjuk ke arah belakang dekat dapur belakang garasi. Dan sejak itu Codet yang bernama samaran Udin ini mulai bekerja di rumah Bunga.
Seminggu kemudian terjadilah perubahan di rumah Bunga, kini terlihat hidup dan terawat setelah di tata oleh Codet ( Udin ) ini. Dan Bunga sering jarang pulang karena kesibukannya tour ke berbagai kota. Bunga sempat di telpon oleh Tarjo dan Karta yang menagih janji Bunga untuk mengganti dagangannya yang samoai saat ini Bunga belum ada waktu tuk ketemu mereka, karena kesibunkannya.
Codet selama tinggal di rumah Bunga merasa leluasa apalagi Bunga jarang di rumah, naluri masalalunya terkadang timbul . seperti saat itu, Codet masuk ke kamar Bunga dengan melewati jendela kamar Bunga, saat itu Bunga lagi di Surabaya ada acara di sana, Codet dengan keahliannya walau pintu kamar Bunga di kunci, ia bias masuk melalui jendela kamarnya yang tal berteralis. Di dalam kamar itu terasa wangi dan serba berbau pink, codet perhatikan seluruh foto dan yang ada di ruang kamar Bunga iitu, dan matanya tertuju pada sesuatu yang menggantung di dekat pintu kamar mandi, sebuah benda berwarna merah muda tergantung berbentuk segi tiga dan beberapa BH berwarnagelap.
Codet mengambilnya dan ia cium masih berbau khas karna CD itu belum di cuci alias bekas pake. Codet timbul birahinya dan ia masuk ke kamar mandi itu dan alangkah senangnya codet menemukan banyak lagi daleman Bunga yang ada di keranjang cucian dan salah satunya ada yang moel G-string dan bikini. Codet ambil beberapa dan ia masukan ke dalam kantong celananya. Codet pun keluar dan merapikan lagi jendela yang bekas ia cungkil tadi dan ia ke kamarnya dan ia mulai berfantasi dengan pekaian dalam bunga yang masih berbau badan bunga, entah mengapa saat codet berfantasi dengan pakaian dalam itu, seperti sebuah magnet, bunga yang saat itu berada di penginapan setelah tampil di acara sebuah TV swasta, merasakan hal aneh, saat lagi tidur ia bermimpi di kejar seseorang yang hendak menelanjanginya dan ia bermimpi kalau ia merasa aman di pelukan Codet di dalam mimpinya itu.
Sepulang dari Surabaya, bunga mulai dapat terror dari seseorang yang bilang kalau bunga akan di bunuhnya. Bunga anggap itu Cuma orang iseng saja, dan ternyata hal tersebut terus menerus menerornya dan puncaknya terjadi saat malam jum?at sepulang dari syuting Bunga di ikuti sebuah motor RX-KING yang membuntutinya selepas jalan kebon jeruk, Bunga yang ketakutan segera tancap gas dan setelah dirasa aman, bunga pun cepat-cepat menuju rumahnya.
Di halaman bunga pijit klakson berkali-kali sebab saat itu codet lagi asyik di kamarnya menikmati celana dalam Bunga yang sudah lusuh dengan sperma codet. Codet dengan sarungan buka gerbang dan bunga segera masukin mobilnya ke garasi, bungan terlihat kesal pada codet yang mulai lelet kerjanya. Bunga tak sengaja saat itu memaki codet. Dan tanpa menoleh ia banting pintu dan masuk kamarnya. Codet kaget baru tahu kalau bunga yang ia kira manis baik dan sopan kini menunjukkan sifat aslinya. Codet sejenak termenung dengar perkataan bunga tadi. Codet setelah kunci gerbang dan garasi ia masuk kamarnya. Dalam kamar codet tak bias tidur ia merasa sakit hatinya tersinggung oleh bunga.
Sedang bunga tak berfikir apa-apa ia memang lagi kesal saja. Setelah ia bersih-bersih, bunga dengan memakai celan pendek warna pink dan singlet warna putih dengan kontras branya yang berwarna hitam ter baying jelas membentuk sekepal buah dadanya. Bunga pun keluar kamar dan ia ke dapur dan hendak makan. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 12.30 malam suasana sepi dan hening, hanya suara bunga saja yang sedang menyantap seporsi mie goring yang di belinya tadi.
Dalam keremangan lampu taman belakang, sesosok tubuh sedang mengawasi bunga yang lagi makan di meja makan dengan kaki bersila di kursi meja makan itu, sepasang paha mulus putih terpampang seperti melambai minta di raba dan di belai. Entah dendam atau nafsu, saat itu codet mendekati bunga dari arah belakang, terlihat cd bunga yang berwarna putih dan singletnyaagak tertarik ke atas mempertontonkan bagian bawah punggungnya yang terbuka. Codet yang sudah kesetanan oleh nafsunya tiba-tiba membekap mulut bunga dan ia mendekap tubuh itu hingga terjatuh, bunga kaget dan ia coba berontak tapi dekapan codet sangat kuat. Bunga di seret ke ruang tengah dan di depan TV, bunga dapat lihat wajah yang tak asing lagi. Bunga di ciumi leher,pipi,dan dadanya oleh codet.
Codet berhasilmenindih tubuh bunga yang ramping ini dengan sekali tekan, bunga tak bias bergerak banyak. Bunga rasakan tangan codet meremas buah dadanya yang berukuran 34 B ini dengan penuh penghayatan. Codet berhasil melumat bibir bunga yang merengek menangis dan sumpah serapah di ucapkan bunga. Codet merobek kaos singlet bunga dan sekalian mencabut bh yang di pakai bunga. Meka terpampanglah apa yang selama ini codet khayalkan. Ternyata tak se kecil bayangannya. Buah dada bunga ternyata lebih empuk dan kenyal juga putingnya berwarna coklat muda dan terlihat begitu serasi dengan warna kulit tubuhnya. Bunga memohon dan menangis saat buah dadanya di lumati bibir codet yang terasa kasar.
Codet menghisap kedua putting bunga silih berganti dan tangan kanan codet masuk ke dalam celana pendek bunga dan saat jarinya menyentuh klitorisnya, bunga mengejet dan ia baru kali ini rasakan sengatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, codet memainkannya dengan ibu jarinya dan jari tengah dan telunjuknya masuk ke lubang memek bunga dan terasa hangat dan becek. Codet mengocoknya dan sambil tetap melumat buah dada bunga ia melocokan jarinya dalam lubang memek bunga.
Bunga merintih,menjerit dan mengejang saat ia rasakan orgasme yang telah sampai di ubun-ubunnya. Sejenak tubuh bunga terkulai lemas. Codet melihat lawannya tak berdaya, ia telanjangi bunga dan kini telah bugil total. Codet tersenyum ia buka sarungnya dan ****** nya sudah mengeras dari tadi, perlahan codet duduk di atas dada bunga dan dengan paksa ****** nya ia masukkan ke dalam mulut bunga, bunag tak bias berbuat banyak ia rasakan mulutnya tersumbat benda kenyal kerasa dan berbau gak enak. Bungamulai tersedak dan terbatuk-batuk tatkala ****** itu keluar masuk mulutnya. Codet merasakan hal yang tiada tara geli, dan fly??
Puas di sepong, codet kinikangkangi ke dua paha bunga dan dengan sekali tekan paksa ****** nya di masukkan ke memek bunga buang menjerit sakit,perih dan mengganjal di memeknya bungarasakan dalam memeknya perih dan sakit. Bunga nangis dan menjerit kesakitan. Codet dengan perlahan maju mundurkan rudalnya dalam jepitan memek bunga yang masih seret itu. Lama-lama locoannya mulai lancar dan kini di genjot se kuatnya. Bungayang tadi menjerit kesakitan, kini malah merintih dan mendesah.
Bibir dan buahdada bunga tak henti di lumati codet penuh nafsu. Codet rasakan bunga orgasme.sejenak ia berhenti dan setelah bunga selesai orgasmenya ia genjot lagi, kini dalam posisi kaki kanan bunga di duduku dan kaki kirinya di pelukan codet dengan gaya miring. Codet ciumi paha dan jari kaki bunga dan bunga menggelepar-gelepar rasakan orgasmenya kembali dan hal tersebut berulang-ulang sampai 3x. dan puncaknya saat bunga di kangkangi lagi dan codet percepat genjotannya sambil lumati bibir bunga dan mengocek rongga mulut bunga dengan lidahnya dan iasedot kuat-kuat lidah bunga dan ia hisap kuat di saat codet melepas klimaxnya dan sesaat kemudian ?crrrrreeeeeetttttt?.creeeet?.crettttttt? semburan sperma codet menembak dinding rahim bunga yang sedang mengejet dan menegang . codet pun terkulai lemas dan ia lumati bibir bunga yang menganga merasakan melayang dan bungapun terpejam lemas dan terlelap tertidur nikmat.
Codet sangat puas sekali dan ia kembali garap bunga saat pagi hari saat bunga masih tertidur . bunga yang kedu kalinya ia begitu pasrah dan menikmati locoan codet. Dan sejak itu, codet tak kerja di situ lagi.
Tamat...
PETUALANGAN ANAK ANAK KOST
Kisah ini berawal ketika gw pertama ngekost di Bandung, diantar oleh
kaka kelas gw akhirnya gw menemukan tempat kost yang cocok dengan
keinginan gw. Sebenernya rumah itu bukan tempat kostan, cuma karena ada
kamar di lantai 2 yang kosong maka kamar itu disewakan, beruntung sekali
gw, karena rumah itu cukup besar dan rapi juga memiliki pintu masuk ke
kamar gw yang terpisah melewati garasi, sehingga kalau gw pulang malam
gw ga perlu ngebangunin orang rumah lagi.
Dirumah itu hanya ada seorang perempuan setengah baya yang bertugas mengurusi rumah yang bernama teh Imas, umurnya kira 34 tahun dengan perawakan mungil dan kulit sawo matang. Dari teh Imas itulah akhirnya gw tau bahwa pemilik rumah itu adalah Ibu Itje, ibu muda yang baru setahun menikah dan bekerja sebagai seorang dokter di rumah sakit, sedangkan suami ibu Itje ini adalah pengusaha farmasi di Jakarta, yang seminggu sekali pulang ke Bandung. Sebenarnya gw ga begitu peduli dengan siapa dan bagaimana kehidupan pemilik rumah itu, yang penting gw bisa tinggal di tempat yang cocok dengan keinginan gw.
Cukup mahal juga sih sewa sebulannya, tapi dengan fasilitas yang gw dapatkan harga tersebut tidak jadi masalah, karena ortu gw menginginkan agar gw bisa nyaman dan betah sehingga lebih konsentrasi lagi dalam belajar. Tiap pagi teh Imas menyediakan sarapan pagi, ketika gw berangkat ke kampus teh Imas pun membersihkan kamar dan mencuci pakaian kotor yang gw taro di tempat yang disediakan.
Tak terasa sudah seminggu gw tinggal, tapi selama itu pula gw belum ketemu dengan pemilik rumah, dan pada malam Sabtu-nya gw mendengar teh Imas membukakan pintu garasi dan masuklah sebuah mobil sedan berwarna hitam, dan suara seorang perempuan yang ngobrol dengan teh Imas yang ternyata itu adalah suara ibu kost gw. Samar-samar gw mendengar dia bertanya ke teh Imas menanyakan siapa nama gw.
"Oh..jadi yang kost dikamar atas itu namanya Dimas", terdengar suara Ibu Itje dengan logat sundanya yang kental.
"Dah lapor belum ke RT ? Sekalian aja ntar besok pagi mintain KTP-nya, biar tidak kesalahan sama pengurus RT",tambahnya.
"Muhun bu.." sahut teh Imas.
Pagi hari seperti biasanya gw turun ke kamar mandi yang berada di bawah tangga, terdengar suara gemercik air dan suara perempuan yang sedang mandi sambil bersenandung, semula gw mengira suara itu suara teh imas yang sedang mandi, takseperti biasanya karena setiap gw bangun teh Imas masih ke pasar atau sibuk di dapur menyiapkan buat sarapan pagi gw.
Dan yang membuat gw tercengang ternyata pintu kamar mandi itu tidak ditutup, seakan dibiarkan terbuka. Gw berjalan menuju ke arah dapur untuk mengambil air putih, pas melewati kamar mandi secara reflek mata gw melirik ke dalam kamar mandi. Seketika itu pula kaki gw terasa tertancap kelantai. Karena secara jelas mata gw menangkap sesosok tubuh yang tidak terbungkus sehelai benang pun. Makin terpana mata ini seakan tak mau berkedip menyaksikan kulit putih mulus dengan body yang aduhai. Dengan posisi membelakangi gw dapat melihat ternyata orang yang bertubuh seksi tersebut adalah ibu Itje, ibu kost gw yang semalam baru gw dengar suaranya.
Darah gw berdesir dan jantung berdegup kencang ketika menyaksikan kemolekan tubuh ibu kost, tangannya yang lentik mengusapkan spon keseluruh kulit yang putih mulus, dengan kaki kiri yang di angkat bertumpu ke bathtub spon disapukan dari ujung kaki kiri menuju ke betis naik ke paha dan kebagian pangkal paha. Dibagian itu cukup lama pula spon itu di gosok-gosokannya, senandung lirih yang keluar dari mulut ibu kost perlahan berganti dengan suara desahan seperti orang kepedesan.
Makin lama spon itu dimainkan dibagian selangkangan makin bergetar pula tubuh seksi itu diiringi dengan liukan pantat yang mengkel seperti semangka, pinggul yang menyerupai biola spanyol bergerak meliuk-liuk seperti penari perut ala timur tengah. Kemudian tangan kirinya merayap kebagian dada sebelah kanan. Tampak jelas tangan itu meremas-remas payudaranya, sementara tangan kanannya masih tetap sibuk menggosok-gosok bagian selangkangannya.
Makin lama gerakan itu makin liar diserta desahan-desahan merdu seperti orang yang meracu keluar dari mulutnya. Tanpa gw sadari celana pendek yang gw pake terasa sempit bagian depannya, rupanya si otong yang dari tadi tertidur sudah bangun tegak mengacung
menyaksikan pemandangan pagi yang teramat indah.
Di dalam kamar mandi ibu Itje masih sibuk dengan kegiatan mengosok-gosok selangkangan dan tangan yang satunya sibuk meremas-remas payudaranya, wajahnya tengadah. Rambut hitam yang tadinya digulung sekarang nampak terurai sampai diatas pinggulnya. Makin mempesona saja sosok tubuh itu, kulit punggungnya yang putih mulus sekarang tertutup oleh rambutnya yang hitam dan lebat, sayangnya gw hanya bisa menyaksikan tubuh indah itu dari belakangnya saja, jadi gw tidak bisa menyaksikan ekspresi wajahnya. Namun meski demikian darah gw makin berdesir dan jantung semakin berdegup kencang sementera itu si otong makin tegang dan keras, seakan-akan menunjuk kearah tubuh yang seksi itu.
Tiba-tiba gw tersadar, kalau secara tiba-tiba tubuh itu berbalik kearah gw, pasti dia akan terkejut karena ada orang yang secara diam-diam menyaksikan tubuh telanjangnya. Sebelum hal itu terjadi dengan langkah yang mengendap-endap gw kembali menaiki anak tangga menuju kamar gw. Tinggal satu anak tangga lagi yang langsung berbelok ke arah kamar gw, tiba-tiba gw mendengar lenguhan lirih yang panjang yang keluar dari kamar mandi. Cukup jelas terdengar, rupanya ibu kost gw dah mencapai klimaks kenikmatannya meski dengan selft service. Dan tak lama kemudian terdengar guyuran air seperti layaknya orang mandi, dan tak lama pula terdengar langkah kaki yang menuju ke arah kamar depan, kamar ibu kost gw.
Agak tergesa-gesa juga gw berpakaian karena hari ini ada jam kuliah pagi, sementara saat itu sudah jam setengah delapan berarti gw hanya punya waktu kurang dari 30 menit untuk menuju kampus gw. Setengah berlari gw turun melewati ruang tengah, saking terburu-burunya gw tidak memperhatikan anak tangga yang basah bekas tadi gw lewati selepas mandi. Rupanya hal tersebut yang membuat anak tangga jadi licin, hingga kaki gw tergelincir dan gw terjatuh membentur tiang dan menimbulkan suara yang berisik.
Terdengar langkah kaki setengah berlari dari ruangan depan memburu kearah gw dan ternyata itu adalah ibu kost gw, terlihat kaget dan panik di langsung bertanya, "Kenapa kamu De ?", sambil berdiri tepat diatas kepala gw yang saat itu masih tertunduk. "Kepeleset bu, anak tangganya licin", sambil gw pegangi lutut kanan gw yang terasa sakit karena terbentur tiang. "Bagian mana yang sakit?", tanyanya kembali.
"Ini bu lutut dan paha kanan saya tadi pas jatuh terbentur tiang", kata gw sambil meringis dan menengadah ke atas melihat ke wajah ibu kost. Mata gw langsung terkesiap melihat wajah cantik nan ayu, meski nampak belum berhias tapi wajah itu nampak cantik seperti dewi dari khayangan. Bentuk wajah yang oval hidung mancung dan bibir tipis yang merah merekah, sekilas wajah itu mirip seperti almarhum Nike Ardilla.
Dalam hati gw berkata ternyata tubuh telanjang yang tadi pagi gw nikmati dari belakang memiliki wajah yang dapat membuat laki-laki bertekuk lutut, sungguh sempurna tuhan menciptakan dia, beruntung sekali lelaki yang dapat menikmati keindahan tubuh wanita ini. Tiba-tiba saja lamunan gw buyar ketika ada sesuatu yang menyentuh lutut gw, ternyata dia ingin melihat seberapa parah kaki gw yang cidera. Gw hanya meringis meski cuma sekedar acting, karena rasa sakit tadi hilang dengan sendirinya ketika tangan dia mencoba untuk menarik ujung celana jeans gw. Tapi karena jeans yang gw pake ngepres maka dia cukup kesulitan karena cuma sampai betis gw aja yang kelihatan dengan bulunya yang lebat. Seakan tidak canggung lagi dia meminta gw untuk membuka celana karena dia ingin tau seberapa parah lukanya.
Seperti terhypnotis gw menuruti perintah dia, namun ada perasaan malu karena gw baru kenal dan takut kalau ada orang lain yang memeregoki. "Ga apa-apa buka aja mas, biar lukanya bisa kelihatan dan gampang mengobatinya". sambil tangannya membantu menarik celana gw yang sebelah kanan. Setelah terbuka maka gw pun bisa melihat ternyata kaki kanan gw diatas lutut cuma memar doang.
"Oh..ga begitu parah ko mas, cuma memar doang koq, nanti dikompres aja biar tidak bengkak, sebentar saya ambilkan obat kompresnya," kata dia sambil berdiri. Sewaktu dia duduk memegangi kaki gw tadi, gw sempet mencuri pandang kebagian dadanya yang besar, gw menebak pasti ukuran 36B. Apalagi dia hanya memakai daster yang hanya sebatas lutut dengan belahan dada yang rendah sehingga gw bisa dengan jelas melihat gunung kembar dia yang kelihatan membukit seperti jarang dijamah.
Dia berjalan menuju kamarnya untuk mengambil obat kompres, dari belakang gw melihat bongkahan pantat dia yang menonjol dan ketika berjalan dua bongkahan itu bergoyang-goyang nampak guratan cd yang dipakainya tergambar di bongkahan tsb. Tanpa diperintah si otong dah terasa tegang. Dia kembali dengan membawa obat kompres dan langsung duduk didepan gw, kembali pandangan gw dihadapkan dengan dua gunung kembar dia yang menggantung seakan mau tumpah. Dan yang lebih membuat jantung gw berhenti ternyata sekarang dia sudah tidak mengenakan BH lagi. Bahkan ketika dia membungkuk untuk mengoleskan obat kompres semakin jelas terlihat belahan dada dia dengan bukit kembarnya yang menyembul dan bergelantungan dengan putingnya yang kecoklat-coklatan. Apalagi posisi duduk dia yang sembarangan membuat daster yang dipakainya tersingkap sehingga paha yang sintal dan putih dengan dihiasi bulu-bulu halus yang pirang.
CD gw terasa sesak karena si otong tiba-tiba mengeras dan berdiri tegak menonjol, gw tengsin juga kalau seandainya dia melihat perubahan yang terjadi di selangkangan gw. Nafas gw makin ngos-ngosan ketika tangan dia mulai mengusap bagian yang memar terasa dingin sehingga paha gw yang memar berasa enakan dan rasa sakitnya pun berkurang apalagi jari jemari dia yang lentik menyentuh kulit paha.
"Udah berasa enakan mas," tiba-tiba suara dia yang terasa merdu ditelinga membuyarkan pikiran kotor gw.
" E..e..enaxs..bu..!!! Ibu enaks banget..!!!" gw terbata-bata.
"Loh koq jawabnya gitu..??" sambil memandang muka gw yang memerah, "Duuuh Cantiknya ibu ini" tanpa sadar terlontar begitu saja yang keluar dari mulut gw.
"Oh maaf bu..." ucap gw seakan sadar apa yang telah tadi gw katakan.
"Ah bisa aja kamu, ya sudah coba sekarang kamu berdiri dan pake lagi celana mu." perintahnya seakan tidak mempedulikan permohonan maaf gw.
Gw coba bangkit untuk mengenakan celana, namun tiba-tiba otot kaki gw terasa tertarik sehingga gw terhuyung-huyung dan hampir tejatuh. untung saja dengan sigap tangan dia menarik tangan gw sehingga badan gw terdorong ke arahnya. Dan secara kebetulan juga posisi berdiri dia kurang kuat sehingga tubuhnya terdorong oleh badan gw dan kami pun jatuh ke sofa depan TV dengan posisi berpelukan dan tubuh diapun tertindih. Terasa dada dia yang montok mengganjal di dada gw begitu kenyal, dan sewaktu gw terjatuh tadi celana yang akan gw pake pun terpental sehingga hanya cd gw yang sudah sesak karena si otong menyentuh kulit perut dia. Begitu lembut karena daster yang dia pakepun tersingkap sampai diatas perut dan terpangpanglah paha putih dia sehingga dengan jelas gw melihat gundukan di pangkal pahanya yang hanya terbalut sehelai kain sutra dan bulu-bulu yang menghiasi kemaluannya dapat dengan jelas terlihat, karena dia mengenakan cd model G-String warna merah.
Masih dalam posisi berpelukan gw merasakan hembusan nafas dia yang menyapu leher gw, terasa hangat dan tercium aroma yang menggairahkan. Selanjutnya kami saling pandang, matanya yang sayu seakan memendam hasrat yang bergejolak dan seakan akan menelanjangi gw. Tak sepatah katapun terucap dari bibir merahnya yang merekah. Hanya deru nafasnya yang memburu sehingga bukit kembarannya terasa menempel ke dada gw.
Secara naluri gw coba untuk lebih erat memeluk dia dan diapun melakukan hal yang sama sehingga tubuh kami pun terasa menyatu.
Dua mata saling memandang, hembusan nafasnya mulai tak beraturan, seakan terhipnotis, ketika dagu dia tengadah dengan bibir merah merekah sedikit terbuka. Gw tau saatnya kini gw melanjutkan aksi gw atau gw akan menyesal seumur hidup karena menyia-nyiakan kesempatan ini. Dengan penuh keberanian gw kecup bibir merekah itu dengan penuh perasaan, dia nampak diam tak bereaksi, matanya terpejam sementara nafasnya kian memburu. Kembali gw lumat bibir merah dia, ahh..terasa manis dan kenyal, cukup lama juga gw kulum bibir merah itu, semula hanya bermain di bagian luarnya saja, karena gw merasakan ada sensasi tersendiri ketika bibir atas itu gw kulum. Ya..sebuah sensasi yang timbul karena bulu-bulu halus yang menyerupai kumis (kalau di laki-laki) ditambah segar dan harumnya mulut dia.
Masih dalam posisi berpelukan di sofa, kali ini gw mencoba lebih berani lagi memainkan lidah gw diantara rongga mulutnya, Gw sapukan lidah gw menelusuri langit-langit mulut dia, kembali gw kulum dan sedikit dihisap lidah dia yang lancip di bagian ujungnya, kata orang tipe lidah begini yang bisa memberikan sensasi berbeda pabila kita berciuman. Benar saja ketika dia membalas kecupan gw dai mainkan juga lidah dia seperti ingin mengikatkan dengan lidah gw, saling mengulum saling memilin dan saling menghisap, seperti orang kesetanan dan sungguh tiada tara sensasi yang di hasilkan dari cara ciuman seperti ini.
Sesekali keluar juga desahan lirih dari mulut mungilnya, benar-benar seksi. Setelah cukup lama kami berciuman, kini kecupan bibir gw pindahkan ke arah leher dia yang putih dan jenjang, gw sapukan ujung lidah gw menelusuri bagian leher dia mulai dari dagu kearah telinga kiri, berhenti disitu, gw mainkan kembali lidah gw untuk mengulum ujung telinga dia, Ah......sssssst....akh...ssst.... hanya suara itu yang keluar dari mulutnya ketika lidah gw bermain diujung telinga dia. Kembali gw arahkan lidah gw kebagian leher dia yang sebelah kanan, seperti tadi dia tampak melenguh dengan mengeluarkan suara desahaan yang panjang....
"Teruskan masss.....kamu pintar ssssekali mencumbu waintaaa.....akh...ohhh". Bisik dia sambil menggaitkan tangannya keleher gw. Mendapat sambutan seperti itu gw makin pede lagi, gw tingkatkan kali ini serangan gw, gw serbu lagi bibir dia kali ini dengan gerakan yang lebih cepat dari tadi. Tangan gw yang dari tadi sama sekali tak bereaksi, kali ini mendapat gilirannya. Sambil gw mainkan lidah gw dibibir dan lidah dia, tangan gw mulai menelusuri kulit punggung dia, begitu halus dan dengan lembut pula jari jemari gw bermain menelusuri lekuk-lekuk tubuhnya. Mulai dari bagian punggung terus menjalar kebagian pinggang dan terus kebagian bongkahan pantat dia, gw remas dengan gemas sekali-kali gw remas dan gw angkat pantat itu, sambil tak hentinya lidah gw bermain dimulut dia.
Ketika tangan gw aktif meremas pantat dia yang kenyal seketika itu pula dia mendesah sambil membalas kecupan lidah dia dengan rakus. Rupannya titik bagian sensitif dia ada di bibir, leher dan bagian pantatnya. Karena kalau ketiga bagian itu gw serang dia nampak lupa diri dan semakin kencang juga erangannya. Ada perasaan takut terdengar sampai keluar atau ketika teh Imas datang dia bisa memeregoki apa yang tengah gw lakukan dengan ibu kost gw. Akhirnya gw mengajak dia untuk pindah ketempat yang lebih nyaman lagi. Malah dia mengajak gw untuk melanjutkannya di kamar dia.
Sesampainya dikamar, ternyata kamar itu cukup luas dengan penataan seperti kamar hotel bintang lima serba lengkap dengan lampu yang redup sehingga menambah suasana lebih romantis, padahal saat itu sekitar pukul delapanan. Gw rebahkan tubuh mungil dia dengan posisi telentang seakan siap menerima serangan kembali dari gw. Dengan posisi seperti itu dia nampak cantik, rambutnya berserakan menutupi bantal yang dia gunakan untuk mengganjal kepalanya. Buah dada dia seakan membusung dengan nafas dia yang masih memburu sehingga dua gunung kembaran dia bergerak-gerak menunggu aksi berikutnya.
Dengan sengaja dia angkat kaki kanan dia menekuk sehingga daster tipis yang dia kenakan tersingkap memberikan pemandangan paha yang putih mulus dan gundukan bukit yang masih terbungkus g-string yang dia kenakan menunggu untuk gw daki. Melihat posisi dia yang sudah pasrah, gw coba mendekati tubuh itu dan duduk di sisi kasur sambil tangan gw mencoba untuk melepaskan daster dia, maka kini nampak tubuh setengah telanjang dia terpangpang jelas, begitu putih mulus dan bersih tanpa noda, dadanya yang besar ditambah bentuk pinggul dia yang menyerupai biola dan belum ada sedikitpun bagian yang keriput dari bagian tubuh dia, begitu kenyal dan sintal.
Gw kecup keningnya dengan penuh perasaan seakan sudah lama gw mengenal dia kemudian pindah kebagian matagw mainkan sebentar dengan menyapu alis dan bulu matanya kemudian pipi dia dan terus ke bibir dia yang mengiurkan dan seakan tak bosannya gw untuk mencumbunya. Kali ini tangan gw berusaha untuk melepas kaitan yang Bra yang membungkus gunung kembarnya. Dengan sedikit usaha akhirnya terlepasa juga dan tersembullah gundukan daging yang kenyak dengan pentilnya yang berwarna kecoklatan yang sudah tegak berdiri siap untuk di hisap.
Sapuan lidah gw kini beralih keleher dan gw teruskan untuk turun kebagian dadanya yang memang dari tadi ingin gw santap. Dari belahan tengah lidah gw bergeser meneaiki tete dia bagian kiri sementara tangan gw kembali meremas dengan lembut bagian payudara dia yang satunya sungguh betapa kenyal payudara dia. Lidah gw dengan leluasa menghisap puting dia yang sudah mengencang seperti seorang bayi dengan lahapnya gw isap sekali kali gw tambah dengan gigitan kecil dan tak hentinya dari mulut dia keluar desahan seperti orang yang kepedesan.
"Ohggg...ahkhhhh...".kepalanya menggeleng-geleng dengan mata yang terpejam. Sungguh suatau pemandangan yang indah, karena dalam keadaan mengerang dan merintih seperti itu seorang wanita akan terlihat begitu cantik. Serangan gw kini ber alaih kebagian payudara yang sebelah kiri, dengan gerakan yang sama gw kerjain lagi bongkahan daging yang lembut dan kenyal itu.
Dan suara yang keluar dari mulut mungilnya pun semakin tak tertata. Kadang dia mendesah...kadang dia melenguh... sementara tangan dia mencari pegangan karena menggapai kemana-mana hingga sprai yang tadinya tertata rapi kini berantakan.
Gw tahu bahwa dia sangat menikmati benar permainan yang gw lancarkan. Setelah puas mengerayangi dan menikmati sepasang payudara dia yang berukuran 36B, kini dengan terampilnya tangan gw beralih kebagian perut dan terus meluncur ke bagian bawah puser, dibagian itu tangan gw menemukan gundukan daging yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Dengan penuh perasaan dan dengan gerakan yang lembut gw coba bermain lebih konsentrassi lagi di situ. Gw selipkan tangan gw di balik CD dia dan jari jemari gw menemukan bagian yang hangat dan berlendir. Jari tengah gw kini yang berperan, dibagian yang basah itu jari tengah gw kembali memainkan daging ekstra yang menyembul keluar dari belahannya, gw pilin dengan lembut. dan setiap gw pilin maka pinggul dia pun megikuti arah pilinan itu, masih dengan lenguhan dan desahan yang panjang yang keluar dari mulut dia.
Sekarang gw penasaran ingin melihat seperti apa seh bentuk bagian yang paling indah dari wanita itu ??? Gw coba melepaskan tali cd dia dan dengan sedikit tarikat terlepaslah sudah kain yang menutupi gundukan mungil dengan bulu-bulu halus dia, Ah...alangkah indahnya bulu-bulu halus yang berwarna kecoklatan tersusun rapi sampai bagian tengahnya, dan dari bagian tengah ke bawah bulu-bulu itu tidak tumbuh lagi. sehingga daging ekstra yang mencuat dari belahannya begitu jelas terlihat kecil mungil tapi penuh arti.
Puas memandangi kini giliran gw menikmatinya, langsung gw sergap bagian ekstra daging yang berwarna coklat itu, gw coba mainka dengan lidah gw, maka desahan penuh kenikmatan pun kini terdengar lagi, makin lama makin kencang seiring gerakan pantat dia yang mengikuti gerakan lidah gw. Tercium aroma khas wanita namun ini lebih wangi rempah-rempah, lidah gw kini bermain di lubang kemaluan dia, gw gerakan dan coba untuk menembus belahan tersebut, namun agak susah karena ternyata lubang vagina dia masih tertutup rapat dengan belahan yang padat pula, hal serupa sangat mirip dengan kemaluan perawan. Makin penasaran gw dibuatnya dengan sapuan dan dorongan lidah gw yang coba gw julurkan lebih keras lagi akhirnya masuk juga lidah gw kebagian kemakuan dia yang dalam, nampak warna pink dan cairan berupa lendir yang keluar dan sudah berapa kali gw hisap. Gw coba mainkan lidah gw dengan gerakan keluar masuk, makin lama gerakan pantat dia semakin tak beraturan, tangannya kini mencengkram kepala gw seakan ingin menenggelamkannya kedalam selangkangannya.
Rintihannya semakin menjadi jadi dan sekarang seperti menjerit-jerit kecil, "Oh Dimmasssss...aku....mau keluarrrrrr......ohhhhhhhhh....". Dan bersamaan dengan itu pula tangan dia lebih erat lagi mencengkram kepala gw dan kini mulut gw seakan tenggelam masuk ke bagian lobang vaginanya. dan dengan lenguhan yang panjang maka muncratlah cairan putih yang kental memenuhi lidah dan bibir gw terasa gurih dan asin dan tanpa jijik cairan itupun gw telan. Sementara cengkraman dia pun melemah sehingga gw bisa kembali bernafas.
Belum juga reda nafas gw tiba-tiba dia langsung menubruk gw dan seperti kesetanan dia menelentangkan gw, dan langsung meraih cd gw. Tanpa malu diperosoti dan dilemparkan begitu saja. Maka kini si otong yang dari tadi terhimpit oleh cd kini dengan leluasa tegak berdiri dengan ujung kepala yang mengkilap. Seperti terpana dia menatap kearah si otong dan dia pun bergumam penuh takjub,"Hoo..ho...ternyata barang kamu panjang dan besar ya mas.... dan pasti banyak wanita yang bertekuk lutut di buatnya", selorohnya sambil menggenggam batang kemaluan gw yang berdiri keras mengacung. "Sebenarnya saya belum pernah melakukan hubungan intim bu", jawab gw jujur. Dan memang jujur sebenarnya gw belum pernah melakukan yang namanya bersetubuh, tapi kalau hanya dihisap hisap seh pernah dulu sama pacar gw di SMA.
"Masa iya seh Mas...Kamu belum pernah melakukannya??? Buktinya permainan kamu tadi sungguh dasyat sekali sampai-sampai saya keluar dua kali di buatnya." Selidiknya seakan ga percaya dengan apa yang gw ucapkan tadi.
"Bener Ko Bu..." Gw coba meyakinkan dengan mimik yang serius. "Ya udah kalo kamu belum pernah seh justru saya mengharapkan seperti itu, dan jangan kau panggil saya dengan sebutan ibu karena umur kamu dengan saya ga jauh beda ko cuma beda lima tahunan, jadi belum pantas kan kalau saya di panggil ibu. Biar lebih akrab kamu boleh panggil saya teteh atau apalah terserah asal jangan ibu," Ucapnya sambil terus memegang dan sambil mengelus-ngelus batang gw.
Di perlakukan seperti itu si otong semakin mantap berdiri tegak sambil mengacung ngacung. Dan gw pun menjawab,"Iya ...Bbbbbu....Eh...salah iya..ya...Teh, tadinya saya takut kurang ajar. Bukan jawaban yang dia berikan malah sekarang dengan lembutnya dia menciumi si otong, dari bagian kepala lidahnya menjulur menyapu batang tongkol gw hingga ke pangkalnya. Kemudian dia lakukan sebaliknya, sambil tak henti tangannya membelai jakar gw dielus-elusnya. Dan kini di coba masukan batangan gw ke dalam mulutnya, sepertinya tak cukup mulut dia untuk melukat bagian kepala gue yang seperti topi baja, karena terus terang gw termasuk cowo yang mempunyai peralatan super, rata-rata di atas ukuran normal orang Indonesia.
Disapukannya kembali lidah dia ke bagian topi baja gw, dan dengan ujung lidahnya dia mainkan kembali lobang kencing gw yang sudah mengeluarkan sedikit cairan. Gw menikmati sekali permainannya, yang semula tadi dia pasrah menerima cumbuan dari gw sekarang malah sebaliknya dia menyerang gw kembali. "Barang kamu barang super Mas, sampe-sampe mulut aku juga ga bisa muat utuk mengulumnya", celetuk dia sambil menatap keaarah gw yang sedang menikmati permainan lidah dia. Gw hanya bisa mendesah ketika lidah dia kembali menyapu bagian batang gw dan kemudian dia beralih memainkan biji gw sambil sekali kali dia kulum dan dia cium kembali sambil jari jemarinya yang lentik mengocok batang kemaluan gw. Seperti anak kecil yang sedang memakan es krim itu lah pemandangan yang gw saksikan saat itu, tapi menimbulkan sensasi yang luar biasa sehingga kepala batang gw pun berdenyut-denyut.
"Kamu dah mau ya Mas ?" tanyanya dengan tatapan sendu.
"Iya...." sahutku. "Sekarang kamu bangun" perintahnya. Setelah itu di kembali ber baring dan kini giliran gw beraksi untuk benar-benar melancarkan serangan terakhir gw. Dengan posisi ngangkang dia memegang dan mengarahkan batang kemaluan gw ke lobang kemaluan dia yang sudah basah oleh cairan dia sendiri. Cukup susah jg karena ketika gw coba tekan kemaluan gw malah tergelincir dan menyentuh pangkal pahanya. "Pelan-pelan mas...."sahutnya sambil kembali mengarahkan batang gw, kali ini gw berhasil menempatkan topi baja gw pas di lobang vagina dia, gw tekan sedikit cukup sempit namun karena cairan dia yang sudah keluar banyak ini menjadi pelicin untuk gw.
Gw coba tekan sedikit masuk kedalam sampai leher batang, di memejamkan mata dan menggigit bibirnya. gw coba tekan lagi di bantu tangan dia yang membantu mendorong pantat gw. Akhhhhhh....dia merintih...kesakitan. "Sakit ??? tanya gw lirih.
"Iya nih habis barang kamu besar bangett...pelan-pelan ya..." sahutnya ter bata-bata. Dengan penuh kesabaran gw coba menekan kembali sedikit demi sedikit batabg kemaluan gw hingga kini sudah masuk setengahnya, dia menjerit lirih tapi kali ini bukan sakit yang dia rasakan. Gw coba menarik pelan pelan kemudian gw tekan kembali, hingga akhirnya dengan sedikit hentakan akhirnya batang gw bisa amblas kedalam vagina dia. Terasa hangat dan sempitnya seperti batang gw terjepit. Berheti sebentar kemudian gw mencoba memaju mundurkan kembali gerakan pinggul gw.
Masih terasa sempit lobang vagina dia, hingga ketika gw tarik batang gw maka bibir kemaluannya terbawa juga seperti mulut yang dimonyongkan. Demikian juga sebaliknya. Sementara gerakan pantat dia pun seirama dengan gerakan gw. Hampir sekitar lima menit gw coba gerakan mundur maju batang gw, dan gerakan diapun semakin liar saja bibirnya tak henti-hentinya meracau, makin lama gerakan gw pun makin cepat memompa dia dengan gerakan yang lebih leluasa lagi karena vagina dia yang semakin basah saja.
Dengan satu tumpuan tangan gw yang satu coba meremas payudara dia yang mengkel, sementara gerakan maju mundur seperti orang yang sedang menggergajipun masih tetap gw lakukan, hingga sampai pada klimaksnya tubuh dia mengejang, kaki dia menjepit pinggul gw dan tangan dia coba memeluk gw dengan eratnya sambil terus mengoyangkan pantatnya sementara gw coba menekannya lebih dalam. Terasa banget batang gw seperti terpelintir dan terkunci, hingga pada beberapa hitungan saja dia menjerit sejadi jadinya sambil terus memeluk, Ahhhh.....Dimasssssss ayoooo sayangggg..... akuuu mau keluarrrrr....ahhhhhhhhkkkkhhhh....." dan akhirnya terasa ada cairan hangat yang keluar dari vagina dia membasahi kepala batang gw sementara batang gw yang menancap seperti terhisap hisap dan hal yang samapun terjadi seperti ada dorongan yang keluar dari tubuh gw dengan gerakan menekan pantat dia akhirnya, Ohhhhhhhh sayanggggg aku juga....mauuuuuuu......." Crt...Crot...Crot..... cairan kenikmatanpun keluar muncrat didalam kemaluan dia, cukup banyak sampai-sampai kemaluan dia pun tak mampu menampungnya.
Pelukakan yang tadi terasa mengunci akhirnya terlepas dan dengan tubuh yang telanjang kamipun terkapar dengan senyum penuh kepuasan. Hingga terdengar suara lonceng dari jam kuno 10 kali berarti sudah tiga jam melakukan hubungan yang sebenarnya tidak dibenarkan oleh hukum apapun.
Sambil telentang mata gw menerawang kelangit-langit kamar, membayangkan peristiwa yang baru saja terjadi, seolah tak percaya karena begitu cepat semuanya terjadi. Padahal gw baru saja mengenal wanita ini yang nota bene adalah ibu kost gw sendiri meski sebelumnya gw cuma mengenal nama dia doang tapi pagi ini sungguh diluar dugaan, bukan hanya sekedar mengenal tapi sekaligus gw dapat menikmati keindahaan tubuhnya.
"Kenapa kamu melamun Dimas ?" Tiba-tiba suara merdu itu mengejutkan gw." Ngga melamun koq teh, saya cuma heran saja, kenapa semua ini terjadi begitu cepat ?" Gw balikan tubuh gw menghadap ke dia.
"Ah jangan terlalu dipikirkan, yang sudah terjadi biarlah terjadi. Bukankah kamu juga menginginkan hal ini?" Tanyanya lagi.
"I..i..iya..." gw terbata-bata.
"Apakah kamu menyesal Mas?" selidiknya.
"Menyesal seh....?" Jawab gw sepontan. "Menyesal ??? Menyesal kenapa??? "Potongnya.
"Menyesal kenapa ga dari tadi shubuh aja kita lakukan hal ini....!!!" jawab gw sambil mencubit paha mulusnya.
"Ihhh...dasar anak nakal....Teteh juga tau tadi pagi sewaktu teteh mandi kamu sempat ngintip kan?" selidiknya.
"Ngga sengaja.....tapi sayang juga untuk dilewatkan...mubajir.."Seloroh gw sambil gw coba tuk mengecup keningnya.
"Tuh kan...untung aja Bi imas ga ada dirumah, coba kalo ada ?" Katanya lagi.
"Mang bi Imas kemana teh?" tanya gw kembali.
"Semalam dia pamit pulang ke Garut, orang tuanya sakit katanya baru seminggu balik lagi kesini." Jawabnya.
"Wah...kebetulan dong". Celetuk gw sambil beranjak tuk ngambil celana jeans gw. kaki kanan gw yang memar sudah tidak berasa lagi sakitnya. Gw nyalakan sebatang rokok sampurna Mild yang gw ambil dari saku celana gw.
"Mas...boleh teteh minta rokoknya?". Gw sodorkan sebatang dan dia langsung menghisapnya. Akhirnya sambil merokok dan minum kopi di kamar dia, kami terlibat obrolan panjang lebar dari mulai masalah keluarga sampai kemasalah pribadi.
Dari obrolan tersebut gw jadi tau ternyata teh Itje adalah salah seorang istri muda dari seorang pengusaha kaya di Jakarta, dan ternyata perbedaan usia antara teh Itje dengan suaminya berbeda sekitar 32 tahunan, teh Itje sendiri saat ini baru berumur 24 tahun. Perbedaan usia yang sangat mencolok. Namun karena dia dijodohkan orangtuanya maka dia mau saja dinikahi oleh lelaki yangsebenarnya lebih pantas menjadi bapaknya. Baru setahun mereka menikah dan belum dikaruniai keturunan. Namun semenjak menikah teh Itje belum pernah meraskan kepuasan bathin meski untuk kebutuhan lahir serba kecukupan. karena kesibukan suaminya mengurus perusahaannya maka teh itje jarang sekali ketemu dengan suaminya tersebut. Kadang sebulan sekali bahkan sampai tiga bulan lamanya Teh Itje ketemu suaminya, itu juga kalau pas suaminya ada urusan ke Bandung itu juga hanya beberapa jam saja.
"Yah udah jadi nasib teteh kali mas...teteh harus menjalani hidup begini, kadang teteh juga suka iri dengan temen-temen teteh, meski hidupnya serba kekurangan tapi mereka bisa hidup bahagia dengan rumahtangganya". Helanya dengan nada yang getir.
Melihat demikian gw jadi ga tega, gw peluk dia dari belakang. "sudahlah teh jangan sedih begini dong...kalau teteh butuh teman, saya siap melayani teteh kapan pun". Bisik gw sambil gw kecup kembali daun telinga dia kemudian merambah keleher dia yang jenjang.
Tangan gw kembali beraksi, gw remas payudara dia dari belakang.
Teh Itje membiarkan saja gw meraba-raba sepasang buah dadanya yang montok ranum. Lengkap dengan putingnya yang kemerahan tegak menantang ke atas. Puting itu bergetar-getar, seirama dengan gerakan-gerakan bukit indah itu. Dan gw meremasnya dengan lembut. Lembut sekali. Penuh perasaan.
Teh Itje merengek manja. Menggeliat sambil merintih. Matanya meredup. Oukh, telapak tangan gw terasa hangat dan seakan-akan mengandung magnit. Membuat dia jadi terangsang kemabali. Tangan gw masih juga meremas. Berpindah-pindah. Puas sebelah kanan. Beganti dengan sebelah kiri. Bervariasi dengan tekanan-tekanan yang romantis. Mendatangkan rasa geli-geli dan nikmat. "Oukh, Massssss! Hmmnrhhh . . . sssh, akh!" ujar Teh Itje sambil membusungkan dada yang sedang diremas gw, agar dia lebih dapat meresapkan rasa geli-geli nikmat itu.
Gw memang pintar menaikkan rangsang perempuan sedikit demi sedikit. Bukan hanya tangannya saja yang pintar bermain. Tetapi juga hidung dan mulut gw. Hidung gw menciumi permukaan payudara yang padat dan montok itu. Bentuknya sangat indah. Membuat gemas. Gw ciumi sepasang payudara itu secara bervariasi. Sebentar keras dan sebentar lembut. Dan darah yang mengalir di tubuh dia semakin deras saja!
"Dimasss !! Kamu pintar juga bercinta ya! Jangan-jangan banyak juga yang jadi korbanmu" tanya Teh Itje ditengah-tengah napasnya yang terengah.
"Tidak sering, Teh. Baru kali ini saja." ujar gw sambil membuka mulut dan memasukkan puting buah dada yang merah kecoklatan itu.
"Auww . . . !!" Dia menjerit lirih. Dan perempuan itu menggelinjang-gelinjang, bilamana puting buah dadanya gw kulum. Dan untuk kesekian kali, Teh Itje harus mengakui, bahwa kuluman bibir gw sangat berbeda dengan kuluman bibir lelaki-lelaki lainnya. "Hsssh, akh! Terus, Masssss! Terussss, sayangghhh . . . !! Hmmmhhh . . . !!" dua telapak tangan dia mengerumasi rambut gw sambil menekankannya.
Gw semakin terangsang. Sungguh nikmat puting buah dada itu. Dikulum.... Dilepaskan.... Dikulum. Dilepaskan lagi. Berganti-ganti kanan dan kiri. Dikulum lagi, dilepaskan lagi. Berulang-ulang dengan tak bosan-bosannya. Dan puting itu semakin tegang lagi. Gw melakukannya bervariasi. Sebentar lembut dan sebentar keras. Dan rasa geli bercampur kenikmatan semakin terasa. "Oukh, Dimassss! Teruskan, sayanghhh . . . !! Sssh ennnak, Masssss!!!" mulut dia mendecap-decap seperti orang kepedasan. Tersendat-sendat. Dan buah dada dia semakin keras, pertanda perempuan itu kian terangsang. Lebih-lebih bilamana gw menggeser-geserkan di antara gigi gw. Nikmat! Dan napas dia pun turun naik. "Dimassss!! Keras, dikit! Ya, ya. gitu. Aukh, Dimasss! Kok enakkkh, sihhhh !" dan diapun merintih-rintih.
Gw semakin bersemangat saja. Digigit-gigitnya pentil susu yang kenyal itu. Dihisapnya. Lalu dijilati dengan bernafsu. Sebentar gw tinggalkan, puting itu. Lalu gw coba mengecupi buah dada ranum itu bertubi-tubi. Lalu kembali ke pentil susu .yang siap menanti. Gw hisapnya lagi. Trus gw gigit. Dikulum-kulum Lalu gw lepaskan lagi. Sementara tangan dia tak menentu mengerumasi rambut gw yang tebal, sehingga rambut gw itu menjadi acak-acakan.
Lama juga gw mencumbu sepasang susu yang indah menggiurkan itu. Demikian pula dengan ketiak perempuan itu. Gw tak mau membiarkan menganggur. Ketiak Teh Itje berbulu lebat. Sesuai dengan selera gw. Gw memang paling senang dengan perempuan yang cantik yang ketiaknya berbulu lebat.
Ciuman gw beralih ke ketiak perempuan itu, lalu menurun sampai ke pinggang sebelah kiri. Naik lagi ke ketiaknya, menurun lagi sampai ke pinggangnya. Demikian berulang-ulang. Gw juga menggunakan ujung lidahnya untuk menjilatjilat sambil menggigiti keras dan lembut. "Uukh, Masss! Kamu sungguh pintar membahagiakan perempuan . . . !!!" bisik Teh Itje terputus-putus.
Permainan lidah gw terus dengan gencar menyerang tempat-tempat di tubuh dia yang sensitip. Dijilatinya tubuh dia yang licin dan langsing. Pusarnya menjadi sasaran ciuman gw berulang-ulang. Sambil berbuat demikian, tangan gw membelai-belai kedua paha dia yang masih terkatup.
Teh Itje sudah gemetar tubuhnya. Panas dingin. Ketika dia menengok ke bawah, pandangannya beradu pada sesuatu di antara kedua paha gw. Benda itu sejak tadi menggodanya. Dia menurunkan tangannya. Digenggamnya batang zakar gw yang aduhai. Gw yang sedang sibuk menciumi sedikit di bagian bawah pusarnya sempat tertahan. "Oukh. Teh . . . !" kata gw. Gw merasakan kwkaguman dia pada benda yang digenggamnya, yang baru separuh tegang, hangat dan besar. Rupanya dia sangat Senang sekali menggenggam seperti itu.
"Sabar ya Teh!" bisik gw. "Nanti Teteh boleh berbuat apa saja terhadap punyaku. Tetapi sekarang, aku sedang ingin mencumbu tubuh teteh. Seluruh tubuh teteh! Kurang leluasa kalau teteh menggengam punyaku begini!"
Apa boleh buat. Meskipun kelihatanya dia masih ingin menggenggam batang zakar gw yang luar biasa itu, terpaksa dilepaskan. Maka kini dengan leluasa gwmelakukan aktifitas.
Dan hmmm.... gw menahan napas bilamana pandangan gw tertuju ke selangkangan dia. Bagian itu gompyok ditutupi rambut yang tebal keriting. Hmmh! Rambut kemaluan dia bukan main lebat dan ikal. Menghitam! Kata orang, semakin tebal rambut kemaluan perempuan akan semakin enak kalau digituin. Dan sekarang, secara jujur, gw harus mengakui, bahwa baru kali ini gw mendapatkan perempuan yang rambut kemaluannya setebal dan selebat dia. Gw menelan ludah. Jika menuruti nafsu, tentu saja seketika itu juga gw akan membenamkan batang kemaluan gw yang sudah kian tegang, ke belahan daging hangat di balik rimbunan hutan lebat itu. Tetapi gw ingin lebih lama lagi memanjakan dia yang belum pernah terpuaskan oleh suaminya yang tua bangka itu.
Jari jemari gw coba untuk menggerai-geraikan rambut kemaluan yang tebal, panjang dan keriting itu. Gw ditekan-teka. Lalu gw ciumi. Kadang-kadang gw coba menariknya. Diapun merasakan kemesraan amat sangat. Secara naluriah, pahanya mulai membuka sedikit demi sedikit. Dan Jari-jari tangan gw pun bermain-main di pebukitan itu. Hmmh, mesranya! Selangit!
"Dimmmassss !!" teh Itje merintih.
Gw coba menguakkan bibir-bibir kemaluan dia. Hmm, tampak bagian dalamnya yang kemerahan. Sangat indah menawan. Gw telan ludah gw sendiri. Beginilah kiranya kemaluan perempuan. Dengan mesranya, gw meraba-raba vagina yang indah itu. Merah dan licin. Pada bagian atas, pada pertemuan antara dua bibir, tampak sekerat daging kecil. Nyempil sendirian. Tidak berteman. Sungguh kasihan. Gw pun memandangi sepuas-sepuasnya panorama indah mengesankan itu. Teh Itje memijit hidung gw agak kuat. "Oukh, Mass! Mengapa cuma melihati saja?! Memangnya punyaku barang tontonan!"
Gw tersenyum. Gw jadi tau bahwa dia sudah kepingin sekali dikerjai vaginanya. Padahal gw masih ingin lebih lama memandangi. Dengan mesra, jari-jari gw menyentuhnya. Dia tergelinjang. "Wow! Hmmh, Massssss!! Ss sh, akh!" Dia menggeliat. sementara Jari gw terus juga bermain. Mengutik-utik kelentit yang nyempil aduhai.
Tangan gw gw tempatkan di antara kedua paha dia yang sudah mengangkang. Liang vagina yang sebaris dengan sibakan bibir inilah yang dapat menjepit dan memberikan kenikmatan kepada zakar. Lagi-lagi tangan gw menyentuh kelentit yang cuma sekerat itu. Dan lagi-lagi dia bergelinjang. Nikmatnya bukan main."Oukh, geli, Masss! Geliiiii! Sssh, akhh . . . !!" Dia pun merintih-rintih.
Tidak puas dengan hanya menyentuh dengan tangan saja, bibir-bibir kemaluan yang ditumbuhi rambut itu, gw coba kuakkan lebih lebar lagi. Kedua kaki Aningsih kini telah mengangkang selebar-lebarnya, menekuk ke atas. Sekarang, bagian dalam kemaluan itu telah terpampang selebar-lebarnya. Terbebas sama sekali. Sedetik kemudian, dia terpekik: "Awww . . . !" Tubuhnya tersentak ke atas. Ketika hidung gw coba gw benamkan ke dalam belahan daging yang aduhai itu. "Dimmmasss . . . !! Uf ! Ssssh ennnakhhh, Bennn!!" Dia merintih-rintih sambil menekankan belakang kepala gw dengan kedua tangnnya. Maka hidung gw mulal menggusur ke sana-ke mari. Seperti akan membongkar seluruh bagian vagina miliknya. Kaki diapun menendang-nendang ke atas, merasakan kenikmatan tidak bertara. Dengan giatnya gw terus menciumi Vagina dia yang menyebarkan aroma yang segar merangsang!
"Oukh, Massss! Enak . . . enak . . . enak, sayangghhhh! Teruskan, mass! Ayo, lebih cepat .dikit. Hmmmh....! Terus, sayang. Terus, terus, akhhhh !!"
Mata dia merem melek. Kepalanya terlempar ke sana-ke mari. Lehernya menggeleyong-geleyong. "Mass! Kamu senang menciumi punyakuuuu . . . ?!! Shhh . . . !!!" tersendat-sendat suara teh Itje.
"iya teh.... aku suka sekali dengan vagina teteh" Ujar gw tersendat. Dan lidah gw pun terus menjilat dan menjilat. Menyapu-nyapu kelentitnya. Benar saja! Kelentit itu semakin tegak, menandakan dia telah terbakar oleh nafsu birahi. Kedua kaki dia pun terus menyentak-nyentak ke atas. Pantatnya diangkat dan digoyang-goyang. Oukh, sungguh, permainan yang mengasyikkan.
"Dimmmasss!!! Hhhssshh. Hmmm . . . hmmmhhh!" suara dia menggeletar. Badannya nienggeliat-geliat tak menentu. Tubuhnya menggelepar-gelepar, bilamana ujung lidah gw mengait-ngait dan menusuk-nusuk liang vaginanya yang terasa liat. Sentuhan-sentuhan lembut vagina yang berdenyut-denyut itu kian membakar nafsu birahi. Dan tiba-tiba dia mengejang. "Massss . . . !! Sssh ! Akkkhhhuuu tak kuaattsss, sayaugghh . . . !!" Dia merentak-rentak.
"Ayoh, Teh! Keluarkan! Aku sudah siap menerima!" ujar gw yang masih terus juga dengan bersemangat menusuknusuk vaginanya dengan ujung lidah gw.
"Iyyaa, Masss! Akhhhu shhi . . . aukhh! Masss! Ennnakkhhhh, Dia semakin meronta-ronta bagaikan kesetanan. Berbarengan dengan jeritannya yang menyayat, Dia mengangkat pantatnya tinggi-tinggi dan menekankan belakang kepala gw sekuat-kuatnya, sehingga tanpa ampun separuh wajah gw terbenam sedalam-dalam ke bagian dalam kemaluannya. Bertepatan dengan itu pula, menyemprotlah cairan hangat dan licin. Kental. Menyiram di lidah gw yang terus menusuk-nusuk lobang vaginanya.
Gw memang sudah siap menerima, bagaikan kesetanan, menghirup habis cairan yang banyak sekali itu. Terus dijilat dan disapu bersih, masuk ke kerongkongan. Sudah tentu dia semakin berkelojotan, dikarenakan rasa nikmat yang luar biasa sekali. Sampai akhirnya tetes cairan yang terakhir. Tubuh perempuan itu melemas. Sedangkan gw sendiri, merasakan pula nikmat luar biasa ketika mereguk cairan licin itu. Cairan kenikmatan Teh Itje gurih sekali, lebih gurih dari pada segala yang paling gurih di dunia ini !
Gw masih tertunduk sambil menjilati sisa-sisa cipratan cairan teh Itje yang melekati pinggiran bibirnya. Tiba-tiba dia melompat dan memeluk gw kuat-kuat. "Oukh, Dimas! Terima kasih, sayangl Kau hebat! Jantan! Kau mampu membuat teteh bahagia, kebahagiaan yang baru pertama teteh dapatkan seumur hidup teteh!" Sembari dia menciumi bibir gw bertubu-tubi.
"Terus terang selama teteh menikah dengan suami teteh, teth baru pertama kali ini mengalami yang namanya kepuasan seks. Jujur saja suami teteh sebenernya sudah tidak bangun lagi, sehingga teteh mencari kepuasan dengan dildo yang dibelikannya. Katanya biar teteh tidak selingkuh". Ujarnya kembali.
Tiba-tiba dia mendorong gw hingga tergelimpang di atas kasur. "Kamu sudah mengerjai punyaku! Sekarang, ganti aku yang mengerjai punyamu!" ujarnya yang segera menyergap selangkangan gw.
"Auwww . . . !" gw menjerit kaget.
Namun dia tidak menghiraukan. Dengan mesranya dia membelai-belai batang kemaluan gw yang bukan main luar biasa besar dan panjangnya. Demikian pula dengan kepalanya yang berkilat dan membengkak. "Oukh, punyamu hebat sekali, Mas! besar dan panjang. Hmmhh . . . !!!" Dia pun terus juga membelai sambil sesekali menggenggam. Mulai dari pangkalnya yang dipenuhi rambut lebat sampai ke ujungnya yang berkilat dan membengkak, berbentuk topi baja.
"Kamu suka pada punyaku, Teh?!" tanya gw sambil membiarkan dia mengeser-geserkan zakar gw yang hebat itu ke pipi dan matanya.
"Suka sekali, Mass! Tetapi ugh! Punyamu besar banget. Bengkak! Aku jadi negeri!"
"Ngeri kenapa?!"
"Ngeri kalau-kalau vaginaku sobek dan rusak!"
Gw cuma tertawa kecil. Tak lama kemudian gw merasakan geli dan nikmat bukan main ketika dia menciumi zakar gw yang semakin membengkak. Rasa geli yang nikmat semakin merajalela dan Tubuh gw semakin kejang. Mata gw membeliak-beliak. "Hmmh, teh...! Sssh . . . !" mulut gw mulai merintih-rintih.
Sambil menciumi, dia memijit-mijit batang bazoka yang keras bagaikan tonggak itu. Dan Menjadikan dia gemes. Ujung lidah menciumi benda aduhai itu. Benda yang dapat memberikan kenikniatan luar biasa kepada wanita. Alat vital gw yang digenggamnya itu semakin membengkak dan semakin memanjang lagi. Diapun semakin gemas bukan main, semakin tak tahan. Segera dia menempatkan dirinya sebaik-baiknya diantara kedua kaki gw yang tertekuk. Kedua paha gw terlentang selebar-lebarnya, sehingga tangan kanan dia menggenggam alat vital yang kencang itu, tangan kirinya memhelal-belai rambut kemaluan gw yang tebal dan ikal, tumbuh sanipai ke pusar.
Merinding bulu-bulu roma gw bilamana dia menciumi seluruh batang dan kepala kemaluan yang luar biasa itu. Bukan main. jari jari dia hampir tidak muat menggenggam alat vital yang luar biasa itu. Memang inilah yang sangat disukainya. Diapun yang semakin gemas segera menjulurkan lidahnya, menjilat batang kemaluan gw. Lalu dingangakannya mulutnya dan dimasukkannya bazoka luar biasa itu. Keruan saja gw nienggelinjang kaget namun nikmat. "Ouw, Teh! Hmmh . . . enak sekali, Teh!" Gw merintih. Kedua kaki gw terangkat naik dan menyepak-neyepak ke atas.
Mendengar rintihan gw, dia jadi semakin bersemangat. Kepala bazoka yang berbentuk topi baja itu dikulumnya. Digigitnya. Tingkah dia tidak ubahnya, bagaikan seseorang yang mendapat makanan lezat. Nikmat sekali. Sampai matanya terpejam-pejani. Air liurnya menetes-netes. Kepala yang berbentuk topi baja itu sangat hangat dan. kenyal. Demikian pula halnya dengan gw. Kunyahan-kunyahan mulut dia, gw rasakan sangat nikmat dan merangsang nafsu gw. Gw kembali merintih-rintih. Kedua kaki gw semakin menyepak. Mata gw mebeliak-beliak, sehingga hanya putihnya saja yang tampak. Dia pun kian bersemangat. Sekarang, bukan hanya kepalanya saja yang dikulum dan digigit, tetapi seluruh batang kemaluan yang perkasa itu. Semntara itu, kedua telapak tangannya tidak tinggal diam. Sementara mulutnya mengulum, tangannya menarik-narik rambut kemaluan gw yang luar biasa lebarnya. Dan tangan yang satu lagi mempermainkan sepasang biji gw.
"Enak, Mass . . . ?!" tanya dia ditengah-tengah kesibukannya.
"Enak sekali Teeehhhh. Ennaaakkkh !!!" Gw berusaha menyahuti tersendat-sendat.
Dia masih terus juga melalap senjata yang luar biasa itu. Demikianlah secara beraturan, kepala dan batang zakar gw keluar masuk mulutnya. Pada waktu masuk, mulut dia sampai kempot. Sedangkan pada waktu keluar sampai monyong. Semakin lama semakin cepat. Tubuh gw kian gemetar. Tanpa sadar jemari gw mencengkeram rambut dia kuat-kuat. Sementara rintihan . . . rintihan gw semakin menghebat, sementara dia kian gencar menyerbu menggebu-gebu. Akhirnya, Gw pun menjerit histeris. Pantat gw, gw angkat tinggi-tuiggi, sedangkan kedua telapak tangan gw menekan belakang kepalanya kuat-kuat. Dan batang serta kepala kemaluan gw pun membenam sedalam-dalamnya, merojok sampai ke tenggorokannya.
Dengan bersemangat sekali, tangan dia pun mengocok pangkal kemaluan gw dengan cepat dan mesra. Dan tanpa ampun lagi : "Crroott! Crrrroooottss! Crrottttsssss . . . !!!" menyemprotlah cairan kental dari dalam batang kemaluan yang berdenyut-denyut dengan dahsyatnya. Daya semprotnya luar biasa sekali. Tubuh gw menggigil. Dia pun tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dengan nikmat sekali disedotnya batang kemaluan gw. Maka tanpa ampun, bergumpal-gumpal cairan kenikmatan gw, tertumpah semuanya ke dalam mulut dan tenggorokannya. Mata dia sampai terpejam-pejam, menelan seluruhnya sampai tetes terakhir. "Oukh, Tehhhhh. Kau sungguh hebat!" bisik gw.
Dia hanya tertawa sambil menyeka mulutnya yang sebagian masih dibasahi sisa-sisa cairan kental. "Bagaimana, Mass?! Enak?!" tanyanya.
"Luarrrrr Biasa teh, kamu sungguh hebat". Ucap gw
"Gimana Masss . . . !" mata dia berkejap-kejap. Punyaku sudah ingin sekali dimasuki punyamu." Dan diapun melirik ke selangkangan gw yang masih tegang mengacung.
"Kita istirahat dulu sebentar ya, sayang!" bisik gw sambil membelai rambut dia yang hitam.
Selang beberapa lama setelah ngobrol panjang lebar akhirnya kami mandi bareng di kamar mandi yang berada di kamar dia. Dan tentunnya sambil membersihkan badan kamipun mengulangi kembali permainan tadi seakan tiada bosannya layaknya sepasang pengantin baru.
Selesai mandi dia pun berpamitan katanya tadi suaminya nelpon nyuruh dia ikut ke kota Tasik karena ada urusan bisnis disana. “Dimas...teteh pergi dulu ya, kamu baik-baik aja dirumah selama teteh pergi dan jangan macam-macam, teteh paling tiga hari disana nemenin bapak ngecek anak perusahaannya yang baru. Kalau ada keperluan kunci aja rumah dan di kulkas masih banyak persediaan makanan jadi kamu ga usah repot beli keluar tinggal masak aja.” Ujar dia sambil merapikan pakaiannya. Nampak cantik sekali seperti gadis ABG. “Iya the....”. Jawab gw seperti anak kecil yang mau ditinggal pergi oleh ibunya.
Akhirnya dia pergi dengan mobilnya meninggalkan gw yang bengong sendirian dirumah. Gw liat jam baru jam satu siang, mau pergi keluar males lagian temen-temen gw kan masih kuliah. Akhirnya gw masuk kekamar sambil tiduran merasakan rasa letih karena tadi habis bertempur habis-habisan.
Dengan mata yang masih terasa perih gw coba bangkit karena samar-samar terdengar ada orang yang mengetuk-ngetuk pintu pagar. Makin lama makin jelas terdengar suara perempuan, bergegas gw turun dengan terlebih dahulu menyisir rambut gw yang acak-acakan membuka pintu garasi dan berjalan menuju ke pintu pagar. Nampak seorang perempuan paruh baya sekitar umur 35an, berdiri didepan pintu pagar.
“Apa betul ini rumahnya ibu Itje ?”, langsung saja perempuan itu bertanya.
“Iya betul bu, dan ibu siapa?” Tanya gw kembali.
“Saya tantenya dari Bogor, Itjenya ada?” Tanyanya kembali.
“Ngga ada bu, baru saja tadi siang dia pergi ke Tasik nyusul Bapak” Jawab gw sambil membukakan pintu pagar.
“Wah... perwis dong... Dan ade ini siapa?” Tanyanya lagi.
“Saya Dimas bu yang kost disini” Jawab gw secara langsung mengenalkan diri.
“Perginya sama bi Imas apa sendiri, ko rumahnya nampak kosong begini.” Ucap di sambil berlaju menuju ke garasi yang tembus keruang tengah. Tanpa gw suruh masuk dia langsung nyelonong dan duduk di kursi ruangan tengah sambil mengipas-ngipas tubuhnya yang nampak kegerahan.
Sepintas gw melihat cara duduk dia yang sembarangan, dengan kaki yang di topangkan kekaki yang satunya, maka paha putih dia terlihat jelas karena dia menggunakan rok mini, sementara kancing baju bagian atas dia buka karena kegerahan sehingga belahan payudaranya terlihat menyembul. Meski usianya sudah paruh baya namun dia tak kalah cantik dan menariknya dengan the Itje ya mungkin karena dah keturunan kali.
“Dimas... kamu bisa masukin mobil saya ngga, soalnya kalau diparkir diluar takut menghalangi mobil lain yang lewat.” Buyar sudah lamunan gw. “Bisa bu..kuncinya mana?” jawab gw gugup.
Tak lama kemudian gw masuk lagi setelah memasukan mobil ke garasi. Diruangan tengah gw tidak melihat dia tapi di kamar mandi dekat dapur gw mendengar gemercik air seperti orang sedang mandi, mungkin dia kegerahan sehingga langsung mandi pikir gw. Tak banyak pikir gw langsung ke dapur untuk bikin kopi karena mulut gw terasa pahit habis tidur tadi ga sempet ngopi.
Gw bikin secangkir kopi dan langsung menengguknya sedikit demi sedikit, gw nyalain sebatang rokok dan duduk kembali diruang tengah. Tante itu masih dikamar mandi, dan tak lama berselang diapun keluar. Kaget gw dibuatnya karena dengan hanya mengenakan handuk yang hanya menutupi bagian dadanya yang tersenbul sementara ujung handuk bagian bawah hanya menutupi beberapa senti dari pangkal pahanya. Jelas terlihat pemandangan yang menggairahkan yang mampu membangkitkan kembali libido gw, apalagi rambut dia yang tergurai basah.
“Dimas boleh minta tolong ambilkan body lotion tante di mobil ada di tas sekalian tasnya kamu bawa kesini.”Perintahnya sekaligus membuyarkan kembali pikiran gw. “Iya tante...” Bergegas gw ke mobil dan mengambil tas dia. “Ni tan..tasnya...”Kata gw sambil menyodorkan tas kearah dia. Diapun meraihnya kemudian mengeluarkan body lotion yang ada di tasnya, kemudian tanpa sungkan dia pun membaluri badannya dengan body lotion. Mula-mula dari bagian betis merambah lagi ke bagian pahanya dengan posisi kaki dia angkat bertumpu di senderan sofa. Dengan posisi dia seperti itu maka dengan jelas gw bisa melihat keindahan betis dan paha dia yang mulus tanpa cela. Hal serupa pun dia lakukan dengan bagian kaki yang satunya. Kemudian dia beralih ke tangan dia sambil sedikit diangkat maka dada dia yang besar dia biarkan membusung seperti mau tumpah saja.
Baru melihat begitu saja dede gw dah berasa tegang, apalai gw lupa ga pake cd hanya celana basket gw aja, sehingga kalau gw berdiri pasti dede gw yang sudah tegang akan kelihatan seperti tangan menunjuk sehingga gw ga berani untuk berdiri takut di melihat.
Sambil pura-pura tidak memperhatikan gw robah posisi duduk gw, namun tiba-tiba dia menyuruh gw untuk membantu mengoleskan body lotionnya ke bagian punggung dia. “Dimas ktolongin tante dong, olesin ini ke punggung tante, tangan tante ga nyampe,”perintahnya.
Dengan terbungkuk bungkuk gw coba menghampiri dia, gw takut dede gw yang masih tegang terlihat olehnya. Tanpa bantahan sedikitpun gw coba mengolesi punggung dia dengan body lotion. Agak kaku karena gw belum pernah melakukannya apalagii sama dia orang yang baru gw kenal. “Jangan Ragu-ragu gitu dong mas, ntar malah tumpah tuh body lotionnya, diusap usap aja”Ujarnya kembali mengajari gw.
Posisi dia yang membelakangi gw jelas terlihat kulit punggung dia yang putih mulus, gw coba mengusapkan lotion tsb, dari bagian pundak terus ke bawah namun terhalang handuk, dan dia pun seakan tahu, dia lepaskan ikatan handuk yang membungkus dadanya dia kendurkan maka punggung yang putih mulusnya pun terpampang sudah di depan mata gw.
Napas gw memburu sehingga menyentuh kulit punggung dia, dan yang lebih parah lagi dede gw semakin tegak mengacung. Ada sedikit keberanian dalam diri gw, sambil mengusap-usap punggung dia dengan lotion dengan gerakan seperti memijit maka dede gw yang menonjol kedepan gw coba sentuhkan sedikit demi sedikit ke pinggang dia karena posisinya sejajar dengan pinggangnya. Ada sensasi tersendiri, apalagi tak ada reaksi dari dia, malah dia merubah posisi duduk dia dengan sedikit mengangkat pinggang dia, maka tal pelak ujung dede gw menyentuh bongkahan pantat dia yang besar dan agak sedikit menungging.
Makin lama makin gencar gw gesek-gesekan ujung dede gw ke bongkahan pantat dia sementara tangan gw terus mengusapkan lotion kepunggungnya. Makin tak beraturan saja sekarang gerakan tangan gw bukannya mengoleskan lotion tapi seperti mengelus-ngelus dengan gerakan yang halus, diluar sadara gw, tangan gw menelus-ngelus kebagian leher kemudian kepundak dia turun ke pinggul dia sampai ke bongkahan pantat dia tapi di bagian ini tangan gw bukan cuma mengelus tapi sedikit meremas. Tak ada reaksi apapun dari dia. Maka dengan sedikit keberanian gw turunkan celana gw maka dede gw yang sudah tegang keluar dengan bebas tegak mengacung seperti tugu monas.
Seperti gerakan yang tadi tangan gw terus mengelus punggung dia dari bawah keatas dan sebaliknya, sementara dede gw yang sudah terbebas kini coba gw gesek-gesekan menyentuh nyentuh belahan pantat dia yang masih terhalang handuk. Gw tekan tekan sedikit, sambil tangan gw menyentuh leher dia, terdengar desahan lirih keluar dari mulut dia seperti orang kepedesan apalagi ketika dede gw gw coba gesek-gesekan ke belahan pantat dia. Semakin lama dan makin sering gw lakukan gerakan seperti itu maka makin sering pula gw dengar lenguhan dan desahan yang keluar dari mulut dia. Hingga akhirnya......
Tiba-tiba dia berdiri dan berbalik kearah gw, dan yang lebih mengagetkan lagi dia lepas ikatan handuk yang membungkus tubuhnya. Maka terpampang jelas payudara dia yang besar bergelantungan seperti buah pepaya meski agak kendur tapi jelas bergelayut dengan putingnya yang mengacung. Sementra tepat di depan muka gw, segumpal bukit yang rimbun terpampang jelas. Belum lepas kaget gw tiba-tiba dia menarik tangan gw sehingga gw berdiri dan dia langsung memeluk gw dengan erat.
“Nikmatilah tubuh tante Dimas....Jangan kecewakan Tante!!" ujar Tante Aish merengek-rengek, seraya menggosok-gosokkan buah dadanya yang sekal padat ke dada gw yang bidang dan berbulu lebat. Sementara itu, tangan Tante Asih meluncur ke bawah dan meremas-remas milik gw yang besarnya lebih besar dari pada pisang ambon. Dalam waktu tidak lama senjata gw pun sudah benar-benar tegang. Tegak bagaikan tonggak. Besar dan panjangnya minta ampun.
Tante Asih yang sudah tidak bisa lagi menahan keinginannya, dia mendorong gw sehingga gw terbaring disofa, lantas dia melompat ke atas tubuh gw, Kedua pahanya mengangkang di atas selangkangan gw. Digenggamnya senjata yang aduhai itu. Dengan mesranya dibimhingnya menuju lobnag vaginanya yang sudah menganga, siap menanti datangnya sang perkasa. Diletakkannya tepat di mulut gua. Kemudian Tante Asih menekan pantatnya. Dan: "Ohg . . . !!" kepala kemaluan itu melesak masuk. Blesss! Tante asih nyengir-nyengir kuda, menahan rasa sakit dan linu. "Hnmmhh . . . ehg!" Gw pun nyengir, menahan nikmatnya kepala kemaluannya digigit dan dipijit-pijit oleh mulut vagina Tante Asih yang berkerinyut-kerinyut kencang.
"Oukh, Dimmmmm! Hmmhh . . . ssshhh . . . !!" Tante Asih bergemetar tubuhnya. Tetapi cuma sesaat. Tante Asih yang sudah terbiasa menikmati kepunyaan laki-laki segera hilang rasa sakitnya. Dan Tante Asih menekan lagi. Blassssh! ! !" Oukhhhh, Bennnnnn! Hmhhh . . . enak sekali , sayang hhhhh. Ssssh . . . !!" Mata Tante Asih membeliak-beliak. Batang zakar gw telah amblas seluruhnya ke pangkal-pangkalnya. Tanta Asih merasakan kenikmatan bukan alang kepalang. Demikian pula halnya gw. Dinding-dinding vagina Tante Asih bagaikan hidup, menekan-nekan batang kemaluan gw.
Nikmaaaaat! Tante Asih menarik lagi pantatnya ke atas. Dan . . . uf! Seluruh isi bagian dalam lorong vagina Tante Asih bagaikan terbongkar bersamaan dengan menggelosornya zakar gw. Demikian pula dengan gw. Lorong vagina Tanta Asih bagaikan menyedot-nyedot. Gw mendesah-desah. Tante Asih bagaikan kesetanan, menggoyang-goyangkan pantat dan pinggulnya yang besar, montok dan putih itu. Gw coba mengangkat panta gw, mengimbangi gerakan-gerakan Tante Asih. Ternyata dengan posisi ini, cukup mendatangkan kenikmatan juga. Tante Asih di atas dan gw di bawah. Sambil terus juga dengan bersemangat menaik turunkan pantatnya. Dan Tante Asih pun menciumi bibir gw bertubi-tubi. Dan gw pun membalasnya tak kalah semangat.
Lidah gw masuk dan mengait-ngait lidah serta gigi-gigi Tante Asih yang bersih, putih dan bagus bentuknya. Sementara itu, tangan gw pun tidak tinggal diam, meremas-remas payudara Tanta Asih yang kenyal, padat dan besar. Tentu saja dengan remasan-remasan mesra!
Tante Asih semakin lama semakin kesetanan. Gw pun demikian pu1a. Kami merasakan ada sesuatu yang mendesak-desak darl dalam diri. Semakln lama desakan-desakan itu semakin kuat sehingga membuat napas kami tersendat-sendat. Ibarat orang yang sedang mendaki bukit untuk mencapai puncak. "Ehh....Dimmmmmasssss . . . !!!"
"Hmnmh! Sssh . . . oukh, Tante! Cepat dikit, sayang! Ayoh, Tante!"
"Dimmmassssshhhh! Sash . . . eng! Ennaaaaaakhh, say . . . !!"
"Sssst! Hmmmh . . . !!"
"Dimmmasssss! Akh! Akhhuu mau keluarrrr . . . say!"
"Sayyyaaa jugghaaa, Tan . . . ! Oukh! Ayoh, Tante! Putar terus! Semangat, Tante! Semangat! Oukh . . . !!"
"Dimmmmmasssss !!!" Tante Asih semakin kesetanan. Tangannya mengerumasi dada gw, sampai gw kesakitan. Namun bercampur enak. Demikian pula dengan tangan gw. Membantu pantat dan pinggul Tante Asih. Disaat menurunkan pantatnya, gw bantu dengan menekankan pantat Tante Asih kuat-kuat ke bawah. Blasssh!! Maka tanpa ampun, amblaslah seluruh zakar gw ke dalam kemaluan Tante Asih. Masuk ke pangkal-pangkalnya!
"Dimmmmassss!!" Tante Asih meronta-ronta di atas tubuh gw." Ennnaaakhh, Dimmmass! Akkhhuuu tak kuatttsss laggghhhi, say!! Akhhu kelluuuuarrr! Ssssh . . . akkkhhhh . . . !!" bersamaan dengan jeritan Tante asih, tubuh perempuan itu berkelojotan ke sana-ke mari. Kedua kakinya menyepak-nyepak. Tante Asih mencapai puncak kenikmatan sempurna. Benteng pertahanannya bobol! Bertubi-tubi bagian dalam lobang vaginanya menyemprotkan cairan kental, hangat dan licin.
Secara hampir bersamaan pula gw pun mengeram keras. Bagaikan harimau lapar, gw peluk Tante Asih kuat-kuat. Dan kemudian dengan sigap, Gw membalikkan tubuh, sehingga tubuh Tante Asih yang berada di bawah. Gw tekan kuat sehingga Tante asih gelagapan. Batang zakar gw berdenyut-denyut keras. Dan cairan kental, hangat dan licin pun bertubi-tubi pula menyembur, membanjiri lorong vagina Tante Asih yang memang sudah banjir!
Tante Asih tergelincir dari atas tubuh gw. Terkulai lemas. "Dimmmasss! Oukh, aku puasss sekali!" bisik Tante Asih sambil memeluk gw dari samping.
Gw tak menjawab. Memandang langit-langit. Sementara Batang zakar gw masih tegak. Basah dan licin bekas-bekas cairan kenikmatan kami berdua. Tiba-tiba Tante Asih menciumi gw bertubi-tubi. Tangannya meluncur ke bawah dan mulai mengurut-urut batang zakar gw. Rupanya Tante Asih termasuk perempuan bertemperamen panas juga. Nafsunya menggebu-gebu. Diurut-urutnya terus oleh zakar gw dengan mesra, nafsu gw bangkit kembali. Tante Asih senang sekali. Dia melompat dari sikap berbaringnya.
"Ayoh, Dimasss! Timpah aku dari belakang!" ujarnya sambil mengambil posisi nungging. Pantatnya yang besar dan montok itu diacu-acukan ke depan. Melihat pemadangan yang sangat merangsang itu, gw tak kuat lagi menahan diri. Gw melompat ke belakang pantat Tante Aish. Dengan bernafsu, gw remas-remas dan menggigiti bungkalan pantat Tante Asih yang bundar dan putih. "Ayoh, Dimasss! Timpah aku! Hantam, Masss! Hantam! Jangan sungkan-sungkan! Lakukan saja sekehendakmu!" Ditantang seperti itu, tentu saja gw tidak akan mundur.
Gw ambil posisi di belakang tubuh Tante Asih yang nungging. Digenggamnya batang zakar gw yang sudah siap tempur. Diselipkan diantara belakang kedua paha Tante Asih, dan kemudian menerobos bibir-bibir kemaluan Tante Asih yang mencuat dan sudah terbelah. Dan, "Ehg . . . !!" Tante Asih menahan napasnya. Kepalanya menyentak ke atas. Tante Dewi merasa kaget dan sedikit sakit!
"Ayoh, Dimasss! Aku sudah siap . . . !!" ujar Tante Asih dengan tubuh sedikit bergetar, menahan berat tubuh gw yang memeluk pinggangnya dari belakang. Tante Aish lebih menunggingkan pantatnya, sehingga bukit kemaluannya yang sudah bengkak itu semakin mumbul. "Hantammm, Dimmmasss!" ujar Tante Asih
Dirumah itu hanya ada seorang perempuan setengah baya yang bertugas mengurusi rumah yang bernama teh Imas, umurnya kira 34 tahun dengan perawakan mungil dan kulit sawo matang. Dari teh Imas itulah akhirnya gw tau bahwa pemilik rumah itu adalah Ibu Itje, ibu muda yang baru setahun menikah dan bekerja sebagai seorang dokter di rumah sakit, sedangkan suami ibu Itje ini adalah pengusaha farmasi di Jakarta, yang seminggu sekali pulang ke Bandung. Sebenarnya gw ga begitu peduli dengan siapa dan bagaimana kehidupan pemilik rumah itu, yang penting gw bisa tinggal di tempat yang cocok dengan keinginan gw.
Cukup mahal juga sih sewa sebulannya, tapi dengan fasilitas yang gw dapatkan harga tersebut tidak jadi masalah, karena ortu gw menginginkan agar gw bisa nyaman dan betah sehingga lebih konsentrasi lagi dalam belajar. Tiap pagi teh Imas menyediakan sarapan pagi, ketika gw berangkat ke kampus teh Imas pun membersihkan kamar dan mencuci pakaian kotor yang gw taro di tempat yang disediakan.
Tak terasa sudah seminggu gw tinggal, tapi selama itu pula gw belum ketemu dengan pemilik rumah, dan pada malam Sabtu-nya gw mendengar teh Imas membukakan pintu garasi dan masuklah sebuah mobil sedan berwarna hitam, dan suara seorang perempuan yang ngobrol dengan teh Imas yang ternyata itu adalah suara ibu kost gw. Samar-samar gw mendengar dia bertanya ke teh Imas menanyakan siapa nama gw.
"Oh..jadi yang kost dikamar atas itu namanya Dimas", terdengar suara Ibu Itje dengan logat sundanya yang kental.
"Dah lapor belum ke RT ? Sekalian aja ntar besok pagi mintain KTP-nya, biar tidak kesalahan sama pengurus RT",tambahnya.
"Muhun bu.." sahut teh Imas.
Pagi hari seperti biasanya gw turun ke kamar mandi yang berada di bawah tangga, terdengar suara gemercik air dan suara perempuan yang sedang mandi sambil bersenandung, semula gw mengira suara itu suara teh imas yang sedang mandi, takseperti biasanya karena setiap gw bangun teh Imas masih ke pasar atau sibuk di dapur menyiapkan buat sarapan pagi gw.
Dan yang membuat gw tercengang ternyata pintu kamar mandi itu tidak ditutup, seakan dibiarkan terbuka. Gw berjalan menuju ke arah dapur untuk mengambil air putih, pas melewati kamar mandi secara reflek mata gw melirik ke dalam kamar mandi. Seketika itu pula kaki gw terasa tertancap kelantai. Karena secara jelas mata gw menangkap sesosok tubuh yang tidak terbungkus sehelai benang pun. Makin terpana mata ini seakan tak mau berkedip menyaksikan kulit putih mulus dengan body yang aduhai. Dengan posisi membelakangi gw dapat melihat ternyata orang yang bertubuh seksi tersebut adalah ibu Itje, ibu kost gw yang semalam baru gw dengar suaranya.
Darah gw berdesir dan jantung berdegup kencang ketika menyaksikan kemolekan tubuh ibu kost, tangannya yang lentik mengusapkan spon keseluruh kulit yang putih mulus, dengan kaki kiri yang di angkat bertumpu ke bathtub spon disapukan dari ujung kaki kiri menuju ke betis naik ke paha dan kebagian pangkal paha. Dibagian itu cukup lama pula spon itu di gosok-gosokannya, senandung lirih yang keluar dari mulut ibu kost perlahan berganti dengan suara desahan seperti orang kepedesan.
Makin lama spon itu dimainkan dibagian selangkangan makin bergetar pula tubuh seksi itu diiringi dengan liukan pantat yang mengkel seperti semangka, pinggul yang menyerupai biola spanyol bergerak meliuk-liuk seperti penari perut ala timur tengah. Kemudian tangan kirinya merayap kebagian dada sebelah kanan. Tampak jelas tangan itu meremas-remas payudaranya, sementara tangan kanannya masih tetap sibuk menggosok-gosok bagian selangkangannya.
Makin lama gerakan itu makin liar diserta desahan-desahan merdu seperti orang yang meracu keluar dari mulutnya. Tanpa gw sadari celana pendek yang gw pake terasa sempit bagian depannya, rupanya si otong yang dari tadi tertidur sudah bangun tegak mengacung
menyaksikan pemandangan pagi yang teramat indah.
Di dalam kamar mandi ibu Itje masih sibuk dengan kegiatan mengosok-gosok selangkangan dan tangan yang satunya sibuk meremas-remas payudaranya, wajahnya tengadah. Rambut hitam yang tadinya digulung sekarang nampak terurai sampai diatas pinggulnya. Makin mempesona saja sosok tubuh itu, kulit punggungnya yang putih mulus sekarang tertutup oleh rambutnya yang hitam dan lebat, sayangnya gw hanya bisa menyaksikan tubuh indah itu dari belakangnya saja, jadi gw tidak bisa menyaksikan ekspresi wajahnya. Namun meski demikian darah gw makin berdesir dan jantung semakin berdegup kencang sementera itu si otong makin tegang dan keras, seakan-akan menunjuk kearah tubuh yang seksi itu.
Tiba-tiba gw tersadar, kalau secara tiba-tiba tubuh itu berbalik kearah gw, pasti dia akan terkejut karena ada orang yang secara diam-diam menyaksikan tubuh telanjangnya. Sebelum hal itu terjadi dengan langkah yang mengendap-endap gw kembali menaiki anak tangga menuju kamar gw. Tinggal satu anak tangga lagi yang langsung berbelok ke arah kamar gw, tiba-tiba gw mendengar lenguhan lirih yang panjang yang keluar dari kamar mandi. Cukup jelas terdengar, rupanya ibu kost gw dah mencapai klimaks kenikmatannya meski dengan selft service. Dan tak lama kemudian terdengar guyuran air seperti layaknya orang mandi, dan tak lama pula terdengar langkah kaki yang menuju ke arah kamar depan, kamar ibu kost gw.
Agak tergesa-gesa juga gw berpakaian karena hari ini ada jam kuliah pagi, sementara saat itu sudah jam setengah delapan berarti gw hanya punya waktu kurang dari 30 menit untuk menuju kampus gw. Setengah berlari gw turun melewati ruang tengah, saking terburu-burunya gw tidak memperhatikan anak tangga yang basah bekas tadi gw lewati selepas mandi. Rupanya hal tersebut yang membuat anak tangga jadi licin, hingga kaki gw tergelincir dan gw terjatuh membentur tiang dan menimbulkan suara yang berisik.
Terdengar langkah kaki setengah berlari dari ruangan depan memburu kearah gw dan ternyata itu adalah ibu kost gw, terlihat kaget dan panik di langsung bertanya, "Kenapa kamu De ?", sambil berdiri tepat diatas kepala gw yang saat itu masih tertunduk. "Kepeleset bu, anak tangganya licin", sambil gw pegangi lutut kanan gw yang terasa sakit karena terbentur tiang. "Bagian mana yang sakit?", tanyanya kembali.
"Ini bu lutut dan paha kanan saya tadi pas jatuh terbentur tiang", kata gw sambil meringis dan menengadah ke atas melihat ke wajah ibu kost. Mata gw langsung terkesiap melihat wajah cantik nan ayu, meski nampak belum berhias tapi wajah itu nampak cantik seperti dewi dari khayangan. Bentuk wajah yang oval hidung mancung dan bibir tipis yang merah merekah, sekilas wajah itu mirip seperti almarhum Nike Ardilla.
Dalam hati gw berkata ternyata tubuh telanjang yang tadi pagi gw nikmati dari belakang memiliki wajah yang dapat membuat laki-laki bertekuk lutut, sungguh sempurna tuhan menciptakan dia, beruntung sekali lelaki yang dapat menikmati keindahan tubuh wanita ini. Tiba-tiba saja lamunan gw buyar ketika ada sesuatu yang menyentuh lutut gw, ternyata dia ingin melihat seberapa parah kaki gw yang cidera. Gw hanya meringis meski cuma sekedar acting, karena rasa sakit tadi hilang dengan sendirinya ketika tangan dia mencoba untuk menarik ujung celana jeans gw. Tapi karena jeans yang gw pake ngepres maka dia cukup kesulitan karena cuma sampai betis gw aja yang kelihatan dengan bulunya yang lebat. Seakan tidak canggung lagi dia meminta gw untuk membuka celana karena dia ingin tau seberapa parah lukanya.
Seperti terhypnotis gw menuruti perintah dia, namun ada perasaan malu karena gw baru kenal dan takut kalau ada orang lain yang memeregoki. "Ga apa-apa buka aja mas, biar lukanya bisa kelihatan dan gampang mengobatinya". sambil tangannya membantu menarik celana gw yang sebelah kanan. Setelah terbuka maka gw pun bisa melihat ternyata kaki kanan gw diatas lutut cuma memar doang.
"Oh..ga begitu parah ko mas, cuma memar doang koq, nanti dikompres aja biar tidak bengkak, sebentar saya ambilkan obat kompresnya," kata dia sambil berdiri. Sewaktu dia duduk memegangi kaki gw tadi, gw sempet mencuri pandang kebagian dadanya yang besar, gw menebak pasti ukuran 36B. Apalagi dia hanya memakai daster yang hanya sebatas lutut dengan belahan dada yang rendah sehingga gw bisa dengan jelas melihat gunung kembar dia yang kelihatan membukit seperti jarang dijamah.
Dia berjalan menuju kamarnya untuk mengambil obat kompres, dari belakang gw melihat bongkahan pantat dia yang menonjol dan ketika berjalan dua bongkahan itu bergoyang-goyang nampak guratan cd yang dipakainya tergambar di bongkahan tsb. Tanpa diperintah si otong dah terasa tegang. Dia kembali dengan membawa obat kompres dan langsung duduk didepan gw, kembali pandangan gw dihadapkan dengan dua gunung kembar dia yang menggantung seakan mau tumpah. Dan yang lebih membuat jantung gw berhenti ternyata sekarang dia sudah tidak mengenakan BH lagi. Bahkan ketika dia membungkuk untuk mengoleskan obat kompres semakin jelas terlihat belahan dada dia dengan bukit kembarnya yang menyembul dan bergelantungan dengan putingnya yang kecoklat-coklatan. Apalagi posisi duduk dia yang sembarangan membuat daster yang dipakainya tersingkap sehingga paha yang sintal dan putih dengan dihiasi bulu-bulu halus yang pirang.
CD gw terasa sesak karena si otong tiba-tiba mengeras dan berdiri tegak menonjol, gw tengsin juga kalau seandainya dia melihat perubahan yang terjadi di selangkangan gw. Nafas gw makin ngos-ngosan ketika tangan dia mulai mengusap bagian yang memar terasa dingin sehingga paha gw yang memar berasa enakan dan rasa sakitnya pun berkurang apalagi jari jemari dia yang lentik menyentuh kulit paha.
"Udah berasa enakan mas," tiba-tiba suara dia yang terasa merdu ditelinga membuyarkan pikiran kotor gw.
" E..e..enaxs..bu..!!! Ibu enaks banget..!!!" gw terbata-bata.
"Loh koq jawabnya gitu..??" sambil memandang muka gw yang memerah, "Duuuh Cantiknya ibu ini" tanpa sadar terlontar begitu saja yang keluar dari mulut gw.
"Oh maaf bu..." ucap gw seakan sadar apa yang telah tadi gw katakan.
"Ah bisa aja kamu, ya sudah coba sekarang kamu berdiri dan pake lagi celana mu." perintahnya seakan tidak mempedulikan permohonan maaf gw.
Gw coba bangkit untuk mengenakan celana, namun tiba-tiba otot kaki gw terasa tertarik sehingga gw terhuyung-huyung dan hampir tejatuh. untung saja dengan sigap tangan dia menarik tangan gw sehingga badan gw terdorong ke arahnya. Dan secara kebetulan juga posisi berdiri dia kurang kuat sehingga tubuhnya terdorong oleh badan gw dan kami pun jatuh ke sofa depan TV dengan posisi berpelukan dan tubuh diapun tertindih. Terasa dada dia yang montok mengganjal di dada gw begitu kenyal, dan sewaktu gw terjatuh tadi celana yang akan gw pake pun terpental sehingga hanya cd gw yang sudah sesak karena si otong menyentuh kulit perut dia. Begitu lembut karena daster yang dia pakepun tersingkap sampai diatas perut dan terpangpanglah paha putih dia sehingga dengan jelas gw melihat gundukan di pangkal pahanya yang hanya terbalut sehelai kain sutra dan bulu-bulu yang menghiasi kemaluannya dapat dengan jelas terlihat, karena dia mengenakan cd model G-String warna merah.
Masih dalam posisi berpelukan gw merasakan hembusan nafas dia yang menyapu leher gw, terasa hangat dan tercium aroma yang menggairahkan. Selanjutnya kami saling pandang, matanya yang sayu seakan memendam hasrat yang bergejolak dan seakan akan menelanjangi gw. Tak sepatah katapun terucap dari bibir merahnya yang merekah. Hanya deru nafasnya yang memburu sehingga bukit kembarannya terasa menempel ke dada gw.
Secara naluri gw coba untuk lebih erat memeluk dia dan diapun melakukan hal yang sama sehingga tubuh kami pun terasa menyatu.
Dua mata saling memandang, hembusan nafasnya mulai tak beraturan, seakan terhipnotis, ketika dagu dia tengadah dengan bibir merah merekah sedikit terbuka. Gw tau saatnya kini gw melanjutkan aksi gw atau gw akan menyesal seumur hidup karena menyia-nyiakan kesempatan ini. Dengan penuh keberanian gw kecup bibir merekah itu dengan penuh perasaan, dia nampak diam tak bereaksi, matanya terpejam sementara nafasnya kian memburu. Kembali gw lumat bibir merah dia, ahh..terasa manis dan kenyal, cukup lama juga gw kulum bibir merah itu, semula hanya bermain di bagian luarnya saja, karena gw merasakan ada sensasi tersendiri ketika bibir atas itu gw kulum. Ya..sebuah sensasi yang timbul karena bulu-bulu halus yang menyerupai kumis (kalau di laki-laki) ditambah segar dan harumnya mulut dia.
Masih dalam posisi berpelukan di sofa, kali ini gw mencoba lebih berani lagi memainkan lidah gw diantara rongga mulutnya, Gw sapukan lidah gw menelusuri langit-langit mulut dia, kembali gw kulum dan sedikit dihisap lidah dia yang lancip di bagian ujungnya, kata orang tipe lidah begini yang bisa memberikan sensasi berbeda pabila kita berciuman. Benar saja ketika dia membalas kecupan gw dai mainkan juga lidah dia seperti ingin mengikatkan dengan lidah gw, saling mengulum saling memilin dan saling menghisap, seperti orang kesetanan dan sungguh tiada tara sensasi yang di hasilkan dari cara ciuman seperti ini.
Sesekali keluar juga desahan lirih dari mulut mungilnya, benar-benar seksi. Setelah cukup lama kami berciuman, kini kecupan bibir gw pindahkan ke arah leher dia yang putih dan jenjang, gw sapukan ujung lidah gw menelusuri bagian leher dia mulai dari dagu kearah telinga kiri, berhenti disitu, gw mainkan kembali lidah gw untuk mengulum ujung telinga dia, Ah......sssssst....akh...ssst.... hanya suara itu yang keluar dari mulutnya ketika lidah gw bermain diujung telinga dia. Kembali gw arahkan lidah gw kebagian leher dia yang sebelah kanan, seperti tadi dia tampak melenguh dengan mengeluarkan suara desahaan yang panjang....
"Teruskan masss.....kamu pintar ssssekali mencumbu waintaaa.....akh...ohhh". Bisik dia sambil menggaitkan tangannya keleher gw. Mendapat sambutan seperti itu gw makin pede lagi, gw tingkatkan kali ini serangan gw, gw serbu lagi bibir dia kali ini dengan gerakan yang lebih cepat dari tadi. Tangan gw yang dari tadi sama sekali tak bereaksi, kali ini mendapat gilirannya. Sambil gw mainkan lidah gw dibibir dan lidah dia, tangan gw mulai menelusuri kulit punggung dia, begitu halus dan dengan lembut pula jari jemari gw bermain menelusuri lekuk-lekuk tubuhnya. Mulai dari bagian punggung terus menjalar kebagian pinggang dan terus kebagian bongkahan pantat dia, gw remas dengan gemas sekali-kali gw remas dan gw angkat pantat itu, sambil tak hentinya lidah gw bermain dimulut dia.
Ketika tangan gw aktif meremas pantat dia yang kenyal seketika itu pula dia mendesah sambil membalas kecupan lidah dia dengan rakus. Rupannya titik bagian sensitif dia ada di bibir, leher dan bagian pantatnya. Karena kalau ketiga bagian itu gw serang dia nampak lupa diri dan semakin kencang juga erangannya. Ada perasaan takut terdengar sampai keluar atau ketika teh Imas datang dia bisa memeregoki apa yang tengah gw lakukan dengan ibu kost gw. Akhirnya gw mengajak dia untuk pindah ketempat yang lebih nyaman lagi. Malah dia mengajak gw untuk melanjutkannya di kamar dia.
Sesampainya dikamar, ternyata kamar itu cukup luas dengan penataan seperti kamar hotel bintang lima serba lengkap dengan lampu yang redup sehingga menambah suasana lebih romantis, padahal saat itu sekitar pukul delapanan. Gw rebahkan tubuh mungil dia dengan posisi telentang seakan siap menerima serangan kembali dari gw. Dengan posisi seperti itu dia nampak cantik, rambutnya berserakan menutupi bantal yang dia gunakan untuk mengganjal kepalanya. Buah dada dia seakan membusung dengan nafas dia yang masih memburu sehingga dua gunung kembaran dia bergerak-gerak menunggu aksi berikutnya.
Dengan sengaja dia angkat kaki kanan dia menekuk sehingga daster tipis yang dia kenakan tersingkap memberikan pemandangan paha yang putih mulus dan gundukan bukit yang masih terbungkus g-string yang dia kenakan menunggu untuk gw daki. Melihat posisi dia yang sudah pasrah, gw coba mendekati tubuh itu dan duduk di sisi kasur sambil tangan gw mencoba untuk melepaskan daster dia, maka kini nampak tubuh setengah telanjang dia terpangpang jelas, begitu putih mulus dan bersih tanpa noda, dadanya yang besar ditambah bentuk pinggul dia yang menyerupai biola dan belum ada sedikitpun bagian yang keriput dari bagian tubuh dia, begitu kenyal dan sintal.
Gw kecup keningnya dengan penuh perasaan seakan sudah lama gw mengenal dia kemudian pindah kebagian matagw mainkan sebentar dengan menyapu alis dan bulu matanya kemudian pipi dia dan terus ke bibir dia yang mengiurkan dan seakan tak bosannya gw untuk mencumbunya. Kali ini tangan gw berusaha untuk melepas kaitan yang Bra yang membungkus gunung kembarnya. Dengan sedikit usaha akhirnya terlepasa juga dan tersembullah gundukan daging yang kenyak dengan pentilnya yang berwarna kecoklatan yang sudah tegak berdiri siap untuk di hisap.
Sapuan lidah gw kini beralih keleher dan gw teruskan untuk turun kebagian dadanya yang memang dari tadi ingin gw santap. Dari belahan tengah lidah gw bergeser meneaiki tete dia bagian kiri sementara tangan gw kembali meremas dengan lembut bagian payudara dia yang satunya sungguh betapa kenyal payudara dia. Lidah gw dengan leluasa menghisap puting dia yang sudah mengencang seperti seorang bayi dengan lahapnya gw isap sekali kali gw tambah dengan gigitan kecil dan tak hentinya dari mulut dia keluar desahan seperti orang yang kepedesan.
"Ohggg...ahkhhhh...".kepalanya menggeleng-geleng dengan mata yang terpejam. Sungguh suatau pemandangan yang indah, karena dalam keadaan mengerang dan merintih seperti itu seorang wanita akan terlihat begitu cantik. Serangan gw kini ber alaih kebagian payudara yang sebelah kiri, dengan gerakan yang sama gw kerjain lagi bongkahan daging yang lembut dan kenyal itu.
Dan suara yang keluar dari mulut mungilnya pun semakin tak tertata. Kadang dia mendesah...kadang dia melenguh... sementara tangan dia mencari pegangan karena menggapai kemana-mana hingga sprai yang tadinya tertata rapi kini berantakan.
Gw tahu bahwa dia sangat menikmati benar permainan yang gw lancarkan. Setelah puas mengerayangi dan menikmati sepasang payudara dia yang berukuran 36B, kini dengan terampilnya tangan gw beralih kebagian perut dan terus meluncur ke bagian bawah puser, dibagian itu tangan gw menemukan gundukan daging yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Dengan penuh perasaan dan dengan gerakan yang lembut gw coba bermain lebih konsentrassi lagi di situ. Gw selipkan tangan gw di balik CD dia dan jari jemari gw menemukan bagian yang hangat dan berlendir. Jari tengah gw kini yang berperan, dibagian yang basah itu jari tengah gw kembali memainkan daging ekstra yang menyembul keluar dari belahannya, gw pilin dengan lembut. dan setiap gw pilin maka pinggul dia pun megikuti arah pilinan itu, masih dengan lenguhan dan desahan yang panjang yang keluar dari mulut dia.
Sekarang gw penasaran ingin melihat seperti apa seh bentuk bagian yang paling indah dari wanita itu ??? Gw coba melepaskan tali cd dia dan dengan sedikit tarikat terlepaslah sudah kain yang menutupi gundukan mungil dengan bulu-bulu halus dia, Ah...alangkah indahnya bulu-bulu halus yang berwarna kecoklatan tersusun rapi sampai bagian tengahnya, dan dari bagian tengah ke bawah bulu-bulu itu tidak tumbuh lagi. sehingga daging ekstra yang mencuat dari belahannya begitu jelas terlihat kecil mungil tapi penuh arti.
Puas memandangi kini giliran gw menikmatinya, langsung gw sergap bagian ekstra daging yang berwarna coklat itu, gw coba mainka dengan lidah gw, maka desahan penuh kenikmatan pun kini terdengar lagi, makin lama makin kencang seiring gerakan pantat dia yang mengikuti gerakan lidah gw. Tercium aroma khas wanita namun ini lebih wangi rempah-rempah, lidah gw kini bermain di lubang kemaluan dia, gw gerakan dan coba untuk menembus belahan tersebut, namun agak susah karena ternyata lubang vagina dia masih tertutup rapat dengan belahan yang padat pula, hal serupa sangat mirip dengan kemaluan perawan. Makin penasaran gw dibuatnya dengan sapuan dan dorongan lidah gw yang coba gw julurkan lebih keras lagi akhirnya masuk juga lidah gw kebagian kemakuan dia yang dalam, nampak warna pink dan cairan berupa lendir yang keluar dan sudah berapa kali gw hisap. Gw coba mainkan lidah gw dengan gerakan keluar masuk, makin lama gerakan pantat dia semakin tak beraturan, tangannya kini mencengkram kepala gw seakan ingin menenggelamkannya kedalam selangkangannya.
Rintihannya semakin menjadi jadi dan sekarang seperti menjerit-jerit kecil, "Oh Dimmasssss...aku....mau keluarrrrrr......ohhhhhhhhh....". Dan bersamaan dengan itu pula tangan dia lebih erat lagi mencengkram kepala gw dan kini mulut gw seakan tenggelam masuk ke bagian lobang vaginanya. dan dengan lenguhan yang panjang maka muncratlah cairan putih yang kental memenuhi lidah dan bibir gw terasa gurih dan asin dan tanpa jijik cairan itupun gw telan. Sementara cengkraman dia pun melemah sehingga gw bisa kembali bernafas.
Belum juga reda nafas gw tiba-tiba dia langsung menubruk gw dan seperti kesetanan dia menelentangkan gw, dan langsung meraih cd gw. Tanpa malu diperosoti dan dilemparkan begitu saja. Maka kini si otong yang dari tadi terhimpit oleh cd kini dengan leluasa tegak berdiri dengan ujung kepala yang mengkilap. Seperti terpana dia menatap kearah si otong dan dia pun bergumam penuh takjub,"Hoo..ho...ternyata barang kamu panjang dan besar ya mas.... dan pasti banyak wanita yang bertekuk lutut di buatnya", selorohnya sambil menggenggam batang kemaluan gw yang berdiri keras mengacung. "Sebenarnya saya belum pernah melakukan hubungan intim bu", jawab gw jujur. Dan memang jujur sebenarnya gw belum pernah melakukan yang namanya bersetubuh, tapi kalau hanya dihisap hisap seh pernah dulu sama pacar gw di SMA.
"Masa iya seh Mas...Kamu belum pernah melakukannya??? Buktinya permainan kamu tadi sungguh dasyat sekali sampai-sampai saya keluar dua kali di buatnya." Selidiknya seakan ga percaya dengan apa yang gw ucapkan tadi.
"Bener Ko Bu..." Gw coba meyakinkan dengan mimik yang serius. "Ya udah kalo kamu belum pernah seh justru saya mengharapkan seperti itu, dan jangan kau panggil saya dengan sebutan ibu karena umur kamu dengan saya ga jauh beda ko cuma beda lima tahunan, jadi belum pantas kan kalau saya di panggil ibu. Biar lebih akrab kamu boleh panggil saya teteh atau apalah terserah asal jangan ibu," Ucapnya sambil terus memegang dan sambil mengelus-ngelus batang gw.
Di perlakukan seperti itu si otong semakin mantap berdiri tegak sambil mengacung ngacung. Dan gw pun menjawab,"Iya ...Bbbbbu....Eh...salah iya..ya...Teh, tadinya saya takut kurang ajar. Bukan jawaban yang dia berikan malah sekarang dengan lembutnya dia menciumi si otong, dari bagian kepala lidahnya menjulur menyapu batang tongkol gw hingga ke pangkalnya. Kemudian dia lakukan sebaliknya, sambil tak henti tangannya membelai jakar gw dielus-elusnya. Dan kini di coba masukan batangan gw ke dalam mulutnya, sepertinya tak cukup mulut dia untuk melukat bagian kepala gue yang seperti topi baja, karena terus terang gw termasuk cowo yang mempunyai peralatan super, rata-rata di atas ukuran normal orang Indonesia.
Disapukannya kembali lidah dia ke bagian topi baja gw, dan dengan ujung lidahnya dia mainkan kembali lobang kencing gw yang sudah mengeluarkan sedikit cairan. Gw menikmati sekali permainannya, yang semula tadi dia pasrah menerima cumbuan dari gw sekarang malah sebaliknya dia menyerang gw kembali. "Barang kamu barang super Mas, sampe-sampe mulut aku juga ga bisa muat utuk mengulumnya", celetuk dia sambil menatap keaarah gw yang sedang menikmati permainan lidah dia. Gw hanya bisa mendesah ketika lidah dia kembali menyapu bagian batang gw dan kemudian dia beralih memainkan biji gw sambil sekali kali dia kulum dan dia cium kembali sambil jari jemarinya yang lentik mengocok batang kemaluan gw. Seperti anak kecil yang sedang memakan es krim itu lah pemandangan yang gw saksikan saat itu, tapi menimbulkan sensasi yang luar biasa sehingga kepala batang gw pun berdenyut-denyut.
"Kamu dah mau ya Mas ?" tanyanya dengan tatapan sendu.
"Iya...." sahutku. "Sekarang kamu bangun" perintahnya. Setelah itu di kembali ber baring dan kini giliran gw beraksi untuk benar-benar melancarkan serangan terakhir gw. Dengan posisi ngangkang dia memegang dan mengarahkan batang kemaluan gw ke lobang kemaluan dia yang sudah basah oleh cairan dia sendiri. Cukup susah jg karena ketika gw coba tekan kemaluan gw malah tergelincir dan menyentuh pangkal pahanya. "Pelan-pelan mas...."sahutnya sambil kembali mengarahkan batang gw, kali ini gw berhasil menempatkan topi baja gw pas di lobang vagina dia, gw tekan sedikit cukup sempit namun karena cairan dia yang sudah keluar banyak ini menjadi pelicin untuk gw.
Gw coba tekan sedikit masuk kedalam sampai leher batang, di memejamkan mata dan menggigit bibirnya. gw coba tekan lagi di bantu tangan dia yang membantu mendorong pantat gw. Akhhhhhh....dia merintih...kesakitan. "Sakit ??? tanya gw lirih.
"Iya nih habis barang kamu besar bangett...pelan-pelan ya..." sahutnya ter bata-bata. Dengan penuh kesabaran gw coba menekan kembali sedikit demi sedikit batabg kemaluan gw hingga kini sudah masuk setengahnya, dia menjerit lirih tapi kali ini bukan sakit yang dia rasakan. Gw coba menarik pelan pelan kemudian gw tekan kembali, hingga akhirnya dengan sedikit hentakan akhirnya batang gw bisa amblas kedalam vagina dia. Terasa hangat dan sempitnya seperti batang gw terjepit. Berheti sebentar kemudian gw mencoba memaju mundurkan kembali gerakan pinggul gw.
Masih terasa sempit lobang vagina dia, hingga ketika gw tarik batang gw maka bibir kemaluannya terbawa juga seperti mulut yang dimonyongkan. Demikian juga sebaliknya. Sementara gerakan pantat dia pun seirama dengan gerakan gw. Hampir sekitar lima menit gw coba gerakan mundur maju batang gw, dan gerakan diapun semakin liar saja bibirnya tak henti-hentinya meracau, makin lama gerakan gw pun makin cepat memompa dia dengan gerakan yang lebih leluasa lagi karena vagina dia yang semakin basah saja.
Dengan satu tumpuan tangan gw yang satu coba meremas payudara dia yang mengkel, sementara gerakan maju mundur seperti orang yang sedang menggergajipun masih tetap gw lakukan, hingga sampai pada klimaksnya tubuh dia mengejang, kaki dia menjepit pinggul gw dan tangan dia coba memeluk gw dengan eratnya sambil terus mengoyangkan pantatnya sementara gw coba menekannya lebih dalam. Terasa banget batang gw seperti terpelintir dan terkunci, hingga pada beberapa hitungan saja dia menjerit sejadi jadinya sambil terus memeluk, Ahhhh.....Dimasssssss ayoooo sayangggg..... akuuu mau keluarrrrr....ahhhhhhhhkkkkhhhh....." dan akhirnya terasa ada cairan hangat yang keluar dari vagina dia membasahi kepala batang gw sementara batang gw yang menancap seperti terhisap hisap dan hal yang samapun terjadi seperti ada dorongan yang keluar dari tubuh gw dengan gerakan menekan pantat dia akhirnya, Ohhhhhhhh sayanggggg aku juga....mauuuuuuu......." Crt...Crot...Crot..... cairan kenikmatanpun keluar muncrat didalam kemaluan dia, cukup banyak sampai-sampai kemaluan dia pun tak mampu menampungnya.
Pelukakan yang tadi terasa mengunci akhirnya terlepas dan dengan tubuh yang telanjang kamipun terkapar dengan senyum penuh kepuasan. Hingga terdengar suara lonceng dari jam kuno 10 kali berarti sudah tiga jam melakukan hubungan yang sebenarnya tidak dibenarkan oleh hukum apapun.
Sambil telentang mata gw menerawang kelangit-langit kamar, membayangkan peristiwa yang baru saja terjadi, seolah tak percaya karena begitu cepat semuanya terjadi. Padahal gw baru saja mengenal wanita ini yang nota bene adalah ibu kost gw sendiri meski sebelumnya gw cuma mengenal nama dia doang tapi pagi ini sungguh diluar dugaan, bukan hanya sekedar mengenal tapi sekaligus gw dapat menikmati keindahaan tubuhnya.
"Kenapa kamu melamun Dimas ?" Tiba-tiba suara merdu itu mengejutkan gw." Ngga melamun koq teh, saya cuma heran saja, kenapa semua ini terjadi begitu cepat ?" Gw balikan tubuh gw menghadap ke dia.
"Ah jangan terlalu dipikirkan, yang sudah terjadi biarlah terjadi. Bukankah kamu juga menginginkan hal ini?" Tanyanya lagi.
"I..i..iya..." gw terbata-bata.
"Apakah kamu menyesal Mas?" selidiknya.
"Menyesal seh....?" Jawab gw sepontan. "Menyesal ??? Menyesal kenapa??? "Potongnya.
"Menyesal kenapa ga dari tadi shubuh aja kita lakukan hal ini....!!!" jawab gw sambil mencubit paha mulusnya.
"Ihhh...dasar anak nakal....Teteh juga tau tadi pagi sewaktu teteh mandi kamu sempat ngintip kan?" selidiknya.
"Ngga sengaja.....tapi sayang juga untuk dilewatkan...mubajir.."Seloroh gw sambil gw coba tuk mengecup keningnya.
"Tuh kan...untung aja Bi imas ga ada dirumah, coba kalo ada ?" Katanya lagi.
"Mang bi Imas kemana teh?" tanya gw kembali.
"Semalam dia pamit pulang ke Garut, orang tuanya sakit katanya baru seminggu balik lagi kesini." Jawabnya.
"Wah...kebetulan dong". Celetuk gw sambil beranjak tuk ngambil celana jeans gw. kaki kanan gw yang memar sudah tidak berasa lagi sakitnya. Gw nyalakan sebatang rokok sampurna Mild yang gw ambil dari saku celana gw.
"Mas...boleh teteh minta rokoknya?". Gw sodorkan sebatang dan dia langsung menghisapnya. Akhirnya sambil merokok dan minum kopi di kamar dia, kami terlibat obrolan panjang lebar dari mulai masalah keluarga sampai kemasalah pribadi.
Dari obrolan tersebut gw jadi tau ternyata teh Itje adalah salah seorang istri muda dari seorang pengusaha kaya di Jakarta, dan ternyata perbedaan usia antara teh Itje dengan suaminya berbeda sekitar 32 tahunan, teh Itje sendiri saat ini baru berumur 24 tahun. Perbedaan usia yang sangat mencolok. Namun karena dia dijodohkan orangtuanya maka dia mau saja dinikahi oleh lelaki yangsebenarnya lebih pantas menjadi bapaknya. Baru setahun mereka menikah dan belum dikaruniai keturunan. Namun semenjak menikah teh Itje belum pernah meraskan kepuasan bathin meski untuk kebutuhan lahir serba kecukupan. karena kesibukan suaminya mengurus perusahaannya maka teh itje jarang sekali ketemu dengan suaminya tersebut. Kadang sebulan sekali bahkan sampai tiga bulan lamanya Teh Itje ketemu suaminya, itu juga kalau pas suaminya ada urusan ke Bandung itu juga hanya beberapa jam saja.
"Yah udah jadi nasib teteh kali mas...teteh harus menjalani hidup begini, kadang teteh juga suka iri dengan temen-temen teteh, meski hidupnya serba kekurangan tapi mereka bisa hidup bahagia dengan rumahtangganya". Helanya dengan nada yang getir.
Melihat demikian gw jadi ga tega, gw peluk dia dari belakang. "sudahlah teh jangan sedih begini dong...kalau teteh butuh teman, saya siap melayani teteh kapan pun". Bisik gw sambil gw kecup kembali daun telinga dia kemudian merambah keleher dia yang jenjang.
Tangan gw kembali beraksi, gw remas payudara dia dari belakang.
Teh Itje membiarkan saja gw meraba-raba sepasang buah dadanya yang montok ranum. Lengkap dengan putingnya yang kemerahan tegak menantang ke atas. Puting itu bergetar-getar, seirama dengan gerakan-gerakan bukit indah itu. Dan gw meremasnya dengan lembut. Lembut sekali. Penuh perasaan.
Teh Itje merengek manja. Menggeliat sambil merintih. Matanya meredup. Oukh, telapak tangan gw terasa hangat dan seakan-akan mengandung magnit. Membuat dia jadi terangsang kemabali. Tangan gw masih juga meremas. Berpindah-pindah. Puas sebelah kanan. Beganti dengan sebelah kiri. Bervariasi dengan tekanan-tekanan yang romantis. Mendatangkan rasa geli-geli dan nikmat. "Oukh, Massssss! Hmmnrhhh . . . sssh, akh!" ujar Teh Itje sambil membusungkan dada yang sedang diremas gw, agar dia lebih dapat meresapkan rasa geli-geli nikmat itu.
Gw memang pintar menaikkan rangsang perempuan sedikit demi sedikit. Bukan hanya tangannya saja yang pintar bermain. Tetapi juga hidung dan mulut gw. Hidung gw menciumi permukaan payudara yang padat dan montok itu. Bentuknya sangat indah. Membuat gemas. Gw ciumi sepasang payudara itu secara bervariasi. Sebentar keras dan sebentar lembut. Dan darah yang mengalir di tubuh dia semakin deras saja!
"Dimasss !! Kamu pintar juga bercinta ya! Jangan-jangan banyak juga yang jadi korbanmu" tanya Teh Itje ditengah-tengah napasnya yang terengah.
"Tidak sering, Teh. Baru kali ini saja." ujar gw sambil membuka mulut dan memasukkan puting buah dada yang merah kecoklatan itu.
"Auww . . . !!" Dia menjerit lirih. Dan perempuan itu menggelinjang-gelinjang, bilamana puting buah dadanya gw kulum. Dan untuk kesekian kali, Teh Itje harus mengakui, bahwa kuluman bibir gw sangat berbeda dengan kuluman bibir lelaki-lelaki lainnya. "Hsssh, akh! Terus, Masssss! Terussss, sayangghhh . . . !! Hmmmhhh . . . !!" dua telapak tangan dia mengerumasi rambut gw sambil menekankannya.
Gw semakin terangsang. Sungguh nikmat puting buah dada itu. Dikulum.... Dilepaskan.... Dikulum. Dilepaskan lagi. Berganti-ganti kanan dan kiri. Dikulum lagi, dilepaskan lagi. Berulang-ulang dengan tak bosan-bosannya. Dan puting itu semakin tegang lagi. Gw melakukannya bervariasi. Sebentar lembut dan sebentar keras. Dan rasa geli bercampur kenikmatan semakin terasa. "Oukh, Dimassss! Teruskan, sayanghhh . . . !! Sssh ennnak, Masssss!!!" mulut dia mendecap-decap seperti orang kepedasan. Tersendat-sendat. Dan buah dada dia semakin keras, pertanda perempuan itu kian terangsang. Lebih-lebih bilamana gw menggeser-geserkan di antara gigi gw. Nikmat! Dan napas dia pun turun naik. "Dimassss!! Keras, dikit! Ya, ya. gitu. Aukh, Dimasss! Kok enakkkh, sihhhh !" dan diapun merintih-rintih.
Gw semakin bersemangat saja. Digigit-gigitnya pentil susu yang kenyal itu. Dihisapnya. Lalu dijilati dengan bernafsu. Sebentar gw tinggalkan, puting itu. Lalu gw coba mengecupi buah dada ranum itu bertubi-tubi. Lalu kembali ke pentil susu .yang siap menanti. Gw hisapnya lagi. Trus gw gigit. Dikulum-kulum Lalu gw lepaskan lagi. Sementara tangan dia tak menentu mengerumasi rambut gw yang tebal, sehingga rambut gw itu menjadi acak-acakan.
Lama juga gw mencumbu sepasang susu yang indah menggiurkan itu. Demikian pula dengan ketiak perempuan itu. Gw tak mau membiarkan menganggur. Ketiak Teh Itje berbulu lebat. Sesuai dengan selera gw. Gw memang paling senang dengan perempuan yang cantik yang ketiaknya berbulu lebat.
Ciuman gw beralih ke ketiak perempuan itu, lalu menurun sampai ke pinggang sebelah kiri. Naik lagi ke ketiaknya, menurun lagi sampai ke pinggangnya. Demikian berulang-ulang. Gw juga menggunakan ujung lidahnya untuk menjilatjilat sambil menggigiti keras dan lembut. "Uukh, Masss! Kamu sungguh pintar membahagiakan perempuan . . . !!!" bisik Teh Itje terputus-putus.
Permainan lidah gw terus dengan gencar menyerang tempat-tempat di tubuh dia yang sensitip. Dijilatinya tubuh dia yang licin dan langsing. Pusarnya menjadi sasaran ciuman gw berulang-ulang. Sambil berbuat demikian, tangan gw membelai-belai kedua paha dia yang masih terkatup.
Teh Itje sudah gemetar tubuhnya. Panas dingin. Ketika dia menengok ke bawah, pandangannya beradu pada sesuatu di antara kedua paha gw. Benda itu sejak tadi menggodanya. Dia menurunkan tangannya. Digenggamnya batang zakar gw yang aduhai. Gw yang sedang sibuk menciumi sedikit di bagian bawah pusarnya sempat tertahan. "Oukh. Teh . . . !" kata gw. Gw merasakan kwkaguman dia pada benda yang digenggamnya, yang baru separuh tegang, hangat dan besar. Rupanya dia sangat Senang sekali menggenggam seperti itu.
"Sabar ya Teh!" bisik gw. "Nanti Teteh boleh berbuat apa saja terhadap punyaku. Tetapi sekarang, aku sedang ingin mencumbu tubuh teteh. Seluruh tubuh teteh! Kurang leluasa kalau teteh menggengam punyaku begini!"
Apa boleh buat. Meskipun kelihatanya dia masih ingin menggenggam batang zakar gw yang luar biasa itu, terpaksa dilepaskan. Maka kini dengan leluasa gwmelakukan aktifitas.
Dan hmmm.... gw menahan napas bilamana pandangan gw tertuju ke selangkangan dia. Bagian itu gompyok ditutupi rambut yang tebal keriting. Hmmh! Rambut kemaluan dia bukan main lebat dan ikal. Menghitam! Kata orang, semakin tebal rambut kemaluan perempuan akan semakin enak kalau digituin. Dan sekarang, secara jujur, gw harus mengakui, bahwa baru kali ini gw mendapatkan perempuan yang rambut kemaluannya setebal dan selebat dia. Gw menelan ludah. Jika menuruti nafsu, tentu saja seketika itu juga gw akan membenamkan batang kemaluan gw yang sudah kian tegang, ke belahan daging hangat di balik rimbunan hutan lebat itu. Tetapi gw ingin lebih lama lagi memanjakan dia yang belum pernah terpuaskan oleh suaminya yang tua bangka itu.
Jari jemari gw coba untuk menggerai-geraikan rambut kemaluan yang tebal, panjang dan keriting itu. Gw ditekan-teka. Lalu gw ciumi. Kadang-kadang gw coba menariknya. Diapun merasakan kemesraan amat sangat. Secara naluriah, pahanya mulai membuka sedikit demi sedikit. Dan Jari-jari tangan gw pun bermain-main di pebukitan itu. Hmmh, mesranya! Selangit!
"Dimmmassss !!" teh Itje merintih.
Gw coba menguakkan bibir-bibir kemaluan dia. Hmm, tampak bagian dalamnya yang kemerahan. Sangat indah menawan. Gw telan ludah gw sendiri. Beginilah kiranya kemaluan perempuan. Dengan mesranya, gw meraba-raba vagina yang indah itu. Merah dan licin. Pada bagian atas, pada pertemuan antara dua bibir, tampak sekerat daging kecil. Nyempil sendirian. Tidak berteman. Sungguh kasihan. Gw pun memandangi sepuas-sepuasnya panorama indah mengesankan itu. Teh Itje memijit hidung gw agak kuat. "Oukh, Mass! Mengapa cuma melihati saja?! Memangnya punyaku barang tontonan!"
Gw tersenyum. Gw jadi tau bahwa dia sudah kepingin sekali dikerjai vaginanya. Padahal gw masih ingin lebih lama memandangi. Dengan mesra, jari-jari gw menyentuhnya. Dia tergelinjang. "Wow! Hmmh, Massssss!! Ss sh, akh!" Dia menggeliat. sementara Jari gw terus juga bermain. Mengutik-utik kelentit yang nyempil aduhai.
Tangan gw gw tempatkan di antara kedua paha dia yang sudah mengangkang. Liang vagina yang sebaris dengan sibakan bibir inilah yang dapat menjepit dan memberikan kenikmatan kepada zakar. Lagi-lagi tangan gw menyentuh kelentit yang cuma sekerat itu. Dan lagi-lagi dia bergelinjang. Nikmatnya bukan main."Oukh, geli, Masss! Geliiiii! Sssh, akhh . . . !!" Dia pun merintih-rintih.
Tidak puas dengan hanya menyentuh dengan tangan saja, bibir-bibir kemaluan yang ditumbuhi rambut itu, gw coba kuakkan lebih lebar lagi. Kedua kaki Aningsih kini telah mengangkang selebar-lebarnya, menekuk ke atas. Sekarang, bagian dalam kemaluan itu telah terpampang selebar-lebarnya. Terbebas sama sekali. Sedetik kemudian, dia terpekik: "Awww . . . !" Tubuhnya tersentak ke atas. Ketika hidung gw coba gw benamkan ke dalam belahan daging yang aduhai itu. "Dimmmasss . . . !! Uf ! Ssssh ennnakhhh, Bennn!!" Dia merintih-rintih sambil menekankan belakang kepala gw dengan kedua tangnnya. Maka hidung gw mulal menggusur ke sana-ke mari. Seperti akan membongkar seluruh bagian vagina miliknya. Kaki diapun menendang-nendang ke atas, merasakan kenikmatan tidak bertara. Dengan giatnya gw terus menciumi Vagina dia yang menyebarkan aroma yang segar merangsang!
"Oukh, Massss! Enak . . . enak . . . enak, sayangghhhh! Teruskan, mass! Ayo, lebih cepat .dikit. Hmmmh....! Terus, sayang. Terus, terus, akhhhh !!"
Mata dia merem melek. Kepalanya terlempar ke sana-ke mari. Lehernya menggeleyong-geleyong. "Mass! Kamu senang menciumi punyakuuuu . . . ?!! Shhh . . . !!!" tersendat-sendat suara teh Itje.
"iya teh.... aku suka sekali dengan vagina teteh" Ujar gw tersendat. Dan lidah gw pun terus menjilat dan menjilat. Menyapu-nyapu kelentitnya. Benar saja! Kelentit itu semakin tegak, menandakan dia telah terbakar oleh nafsu birahi. Kedua kaki dia pun terus menyentak-nyentak ke atas. Pantatnya diangkat dan digoyang-goyang. Oukh, sungguh, permainan yang mengasyikkan.
"Dimmmasss!!! Hhhssshh. Hmmm . . . hmmmhhh!" suara dia menggeletar. Badannya nienggeliat-geliat tak menentu. Tubuhnya menggelepar-gelepar, bilamana ujung lidah gw mengait-ngait dan menusuk-nusuk liang vaginanya yang terasa liat. Sentuhan-sentuhan lembut vagina yang berdenyut-denyut itu kian membakar nafsu birahi. Dan tiba-tiba dia mengejang. "Massss . . . !! Sssh ! Akkkhhhuuu tak kuaattsss, sayaugghh . . . !!" Dia merentak-rentak.
"Ayoh, Teh! Keluarkan! Aku sudah siap menerima!" ujar gw yang masih terus juga dengan bersemangat menusuknusuk vaginanya dengan ujung lidah gw.
"Iyyaa, Masss! Akhhhu shhi . . . aukhh! Masss! Ennnakkhhhh, Dia semakin meronta-ronta bagaikan kesetanan. Berbarengan dengan jeritannya yang menyayat, Dia mengangkat pantatnya tinggi-tinggi dan menekankan belakang kepala gw sekuat-kuatnya, sehingga tanpa ampun separuh wajah gw terbenam sedalam-dalam ke bagian dalam kemaluannya. Bertepatan dengan itu pula, menyemprotlah cairan hangat dan licin. Kental. Menyiram di lidah gw yang terus menusuk-nusuk lobang vaginanya.
Gw memang sudah siap menerima, bagaikan kesetanan, menghirup habis cairan yang banyak sekali itu. Terus dijilat dan disapu bersih, masuk ke kerongkongan. Sudah tentu dia semakin berkelojotan, dikarenakan rasa nikmat yang luar biasa sekali. Sampai akhirnya tetes cairan yang terakhir. Tubuh perempuan itu melemas. Sedangkan gw sendiri, merasakan pula nikmat luar biasa ketika mereguk cairan licin itu. Cairan kenikmatan Teh Itje gurih sekali, lebih gurih dari pada segala yang paling gurih di dunia ini !
Gw masih tertunduk sambil menjilati sisa-sisa cipratan cairan teh Itje yang melekati pinggiran bibirnya. Tiba-tiba dia melompat dan memeluk gw kuat-kuat. "Oukh, Dimas! Terima kasih, sayangl Kau hebat! Jantan! Kau mampu membuat teteh bahagia, kebahagiaan yang baru pertama teteh dapatkan seumur hidup teteh!" Sembari dia menciumi bibir gw bertubu-tubi.
"Terus terang selama teteh menikah dengan suami teteh, teth baru pertama kali ini mengalami yang namanya kepuasan seks. Jujur saja suami teteh sebenernya sudah tidak bangun lagi, sehingga teteh mencari kepuasan dengan dildo yang dibelikannya. Katanya biar teteh tidak selingkuh". Ujarnya kembali.
Tiba-tiba dia mendorong gw hingga tergelimpang di atas kasur. "Kamu sudah mengerjai punyaku! Sekarang, ganti aku yang mengerjai punyamu!" ujarnya yang segera menyergap selangkangan gw.
"Auwww . . . !" gw menjerit kaget.
Namun dia tidak menghiraukan. Dengan mesranya dia membelai-belai batang kemaluan gw yang bukan main luar biasa besar dan panjangnya. Demikian pula dengan kepalanya yang berkilat dan membengkak. "Oukh, punyamu hebat sekali, Mas! besar dan panjang. Hmmhh . . . !!!" Dia pun terus juga membelai sambil sesekali menggenggam. Mulai dari pangkalnya yang dipenuhi rambut lebat sampai ke ujungnya yang berkilat dan membengkak, berbentuk topi baja.
"Kamu suka pada punyaku, Teh?!" tanya gw sambil membiarkan dia mengeser-geserkan zakar gw yang hebat itu ke pipi dan matanya.
"Suka sekali, Mass! Tetapi ugh! Punyamu besar banget. Bengkak! Aku jadi negeri!"
"Ngeri kenapa?!"
"Ngeri kalau-kalau vaginaku sobek dan rusak!"
Gw cuma tertawa kecil. Tak lama kemudian gw merasakan geli dan nikmat bukan main ketika dia menciumi zakar gw yang semakin membengkak. Rasa geli yang nikmat semakin merajalela dan Tubuh gw semakin kejang. Mata gw membeliak-beliak. "Hmmh, teh...! Sssh . . . !" mulut gw mulai merintih-rintih.
Sambil menciumi, dia memijit-mijit batang bazoka yang keras bagaikan tonggak itu. Dan Menjadikan dia gemes. Ujung lidah menciumi benda aduhai itu. Benda yang dapat memberikan kenikniatan luar biasa kepada wanita. Alat vital gw yang digenggamnya itu semakin membengkak dan semakin memanjang lagi. Diapun semakin gemas bukan main, semakin tak tahan. Segera dia menempatkan dirinya sebaik-baiknya diantara kedua kaki gw yang tertekuk. Kedua paha gw terlentang selebar-lebarnya, sehingga tangan kanan dia menggenggam alat vital yang kencang itu, tangan kirinya memhelal-belai rambut kemaluan gw yang tebal dan ikal, tumbuh sanipai ke pusar.
Merinding bulu-bulu roma gw bilamana dia menciumi seluruh batang dan kepala kemaluan yang luar biasa itu. Bukan main. jari jari dia hampir tidak muat menggenggam alat vital yang luar biasa itu. Memang inilah yang sangat disukainya. Diapun yang semakin gemas segera menjulurkan lidahnya, menjilat batang kemaluan gw. Lalu dingangakannya mulutnya dan dimasukkannya bazoka luar biasa itu. Keruan saja gw nienggelinjang kaget namun nikmat. "Ouw, Teh! Hmmh . . . enak sekali, Teh!" Gw merintih. Kedua kaki gw terangkat naik dan menyepak-neyepak ke atas.
Mendengar rintihan gw, dia jadi semakin bersemangat. Kepala bazoka yang berbentuk topi baja itu dikulumnya. Digigitnya. Tingkah dia tidak ubahnya, bagaikan seseorang yang mendapat makanan lezat. Nikmat sekali. Sampai matanya terpejam-pejani. Air liurnya menetes-netes. Kepala yang berbentuk topi baja itu sangat hangat dan. kenyal. Demikian pula halnya dengan gw. Kunyahan-kunyahan mulut dia, gw rasakan sangat nikmat dan merangsang nafsu gw. Gw kembali merintih-rintih. Kedua kaki gw semakin menyepak. Mata gw mebeliak-beliak, sehingga hanya putihnya saja yang tampak. Dia pun kian bersemangat. Sekarang, bukan hanya kepalanya saja yang dikulum dan digigit, tetapi seluruh batang kemaluan yang perkasa itu. Semntara itu, kedua telapak tangannya tidak tinggal diam. Sementara mulutnya mengulum, tangannya menarik-narik rambut kemaluan gw yang luar biasa lebarnya. Dan tangan yang satu lagi mempermainkan sepasang biji gw.
"Enak, Mass . . . ?!" tanya dia ditengah-tengah kesibukannya.
"Enak sekali Teeehhhh. Ennaaakkkh !!!" Gw berusaha menyahuti tersendat-sendat.
Dia masih terus juga melalap senjata yang luar biasa itu. Demikianlah secara beraturan, kepala dan batang zakar gw keluar masuk mulutnya. Pada waktu masuk, mulut dia sampai kempot. Sedangkan pada waktu keluar sampai monyong. Semakin lama semakin cepat. Tubuh gw kian gemetar. Tanpa sadar jemari gw mencengkeram rambut dia kuat-kuat. Sementara rintihan . . . rintihan gw semakin menghebat, sementara dia kian gencar menyerbu menggebu-gebu. Akhirnya, Gw pun menjerit histeris. Pantat gw, gw angkat tinggi-tuiggi, sedangkan kedua telapak tangan gw menekan belakang kepalanya kuat-kuat. Dan batang serta kepala kemaluan gw pun membenam sedalam-dalamnya, merojok sampai ke tenggorokannya.
Dengan bersemangat sekali, tangan dia pun mengocok pangkal kemaluan gw dengan cepat dan mesra. Dan tanpa ampun lagi : "Crroott! Crrrroooottss! Crrottttsssss . . . !!!" menyemprotlah cairan kental dari dalam batang kemaluan yang berdenyut-denyut dengan dahsyatnya. Daya semprotnya luar biasa sekali. Tubuh gw menggigil. Dia pun tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dengan nikmat sekali disedotnya batang kemaluan gw. Maka tanpa ampun, bergumpal-gumpal cairan kenikmatan gw, tertumpah semuanya ke dalam mulut dan tenggorokannya. Mata dia sampai terpejam-pejam, menelan seluruhnya sampai tetes terakhir. "Oukh, Tehhhhh. Kau sungguh hebat!" bisik gw.
Dia hanya tertawa sambil menyeka mulutnya yang sebagian masih dibasahi sisa-sisa cairan kental. "Bagaimana, Mass?! Enak?!" tanyanya.
"Luarrrrr Biasa teh, kamu sungguh hebat". Ucap gw
"Gimana Masss . . . !" mata dia berkejap-kejap. Punyaku sudah ingin sekali dimasuki punyamu." Dan diapun melirik ke selangkangan gw yang masih tegang mengacung.
"Kita istirahat dulu sebentar ya, sayang!" bisik gw sambil membelai rambut dia yang hitam.
Selang beberapa lama setelah ngobrol panjang lebar akhirnya kami mandi bareng di kamar mandi yang berada di kamar dia. Dan tentunnya sambil membersihkan badan kamipun mengulangi kembali permainan tadi seakan tiada bosannya layaknya sepasang pengantin baru.
Selesai mandi dia pun berpamitan katanya tadi suaminya nelpon nyuruh dia ikut ke kota Tasik karena ada urusan bisnis disana. “Dimas...teteh pergi dulu ya, kamu baik-baik aja dirumah selama teteh pergi dan jangan macam-macam, teteh paling tiga hari disana nemenin bapak ngecek anak perusahaannya yang baru. Kalau ada keperluan kunci aja rumah dan di kulkas masih banyak persediaan makanan jadi kamu ga usah repot beli keluar tinggal masak aja.” Ujar dia sambil merapikan pakaiannya. Nampak cantik sekali seperti gadis ABG. “Iya the....”. Jawab gw seperti anak kecil yang mau ditinggal pergi oleh ibunya.
Akhirnya dia pergi dengan mobilnya meninggalkan gw yang bengong sendirian dirumah. Gw liat jam baru jam satu siang, mau pergi keluar males lagian temen-temen gw kan masih kuliah. Akhirnya gw masuk kekamar sambil tiduran merasakan rasa letih karena tadi habis bertempur habis-habisan.
Dengan mata yang masih terasa perih gw coba bangkit karena samar-samar terdengar ada orang yang mengetuk-ngetuk pintu pagar. Makin lama makin jelas terdengar suara perempuan, bergegas gw turun dengan terlebih dahulu menyisir rambut gw yang acak-acakan membuka pintu garasi dan berjalan menuju ke pintu pagar. Nampak seorang perempuan paruh baya sekitar umur 35an, berdiri didepan pintu pagar.
“Apa betul ini rumahnya ibu Itje ?”, langsung saja perempuan itu bertanya.
“Iya betul bu, dan ibu siapa?” Tanya gw kembali.
“Saya tantenya dari Bogor, Itjenya ada?” Tanyanya kembali.
“Ngga ada bu, baru saja tadi siang dia pergi ke Tasik nyusul Bapak” Jawab gw sambil membukakan pintu pagar.
“Wah... perwis dong... Dan ade ini siapa?” Tanyanya lagi.
“Saya Dimas bu yang kost disini” Jawab gw secara langsung mengenalkan diri.
“Perginya sama bi Imas apa sendiri, ko rumahnya nampak kosong begini.” Ucap di sambil berlaju menuju ke garasi yang tembus keruang tengah. Tanpa gw suruh masuk dia langsung nyelonong dan duduk di kursi ruangan tengah sambil mengipas-ngipas tubuhnya yang nampak kegerahan.
Sepintas gw melihat cara duduk dia yang sembarangan, dengan kaki yang di topangkan kekaki yang satunya, maka paha putih dia terlihat jelas karena dia menggunakan rok mini, sementara kancing baju bagian atas dia buka karena kegerahan sehingga belahan payudaranya terlihat menyembul. Meski usianya sudah paruh baya namun dia tak kalah cantik dan menariknya dengan the Itje ya mungkin karena dah keturunan kali.
“Dimas... kamu bisa masukin mobil saya ngga, soalnya kalau diparkir diluar takut menghalangi mobil lain yang lewat.” Buyar sudah lamunan gw. “Bisa bu..kuncinya mana?” jawab gw gugup.
Tak lama kemudian gw masuk lagi setelah memasukan mobil ke garasi. Diruangan tengah gw tidak melihat dia tapi di kamar mandi dekat dapur gw mendengar gemercik air seperti orang sedang mandi, mungkin dia kegerahan sehingga langsung mandi pikir gw. Tak banyak pikir gw langsung ke dapur untuk bikin kopi karena mulut gw terasa pahit habis tidur tadi ga sempet ngopi.
Gw bikin secangkir kopi dan langsung menengguknya sedikit demi sedikit, gw nyalain sebatang rokok dan duduk kembali diruang tengah. Tante itu masih dikamar mandi, dan tak lama berselang diapun keluar. Kaget gw dibuatnya karena dengan hanya mengenakan handuk yang hanya menutupi bagian dadanya yang tersenbul sementara ujung handuk bagian bawah hanya menutupi beberapa senti dari pangkal pahanya. Jelas terlihat pemandangan yang menggairahkan yang mampu membangkitkan kembali libido gw, apalagi rambut dia yang tergurai basah.
“Dimas boleh minta tolong ambilkan body lotion tante di mobil ada di tas sekalian tasnya kamu bawa kesini.”Perintahnya sekaligus membuyarkan kembali pikiran gw. “Iya tante...” Bergegas gw ke mobil dan mengambil tas dia. “Ni tan..tasnya...”Kata gw sambil menyodorkan tas kearah dia. Diapun meraihnya kemudian mengeluarkan body lotion yang ada di tasnya, kemudian tanpa sungkan dia pun membaluri badannya dengan body lotion. Mula-mula dari bagian betis merambah lagi ke bagian pahanya dengan posisi kaki dia angkat bertumpu di senderan sofa. Dengan posisi dia seperti itu maka dengan jelas gw bisa melihat keindahan betis dan paha dia yang mulus tanpa cela. Hal serupa pun dia lakukan dengan bagian kaki yang satunya. Kemudian dia beralih ke tangan dia sambil sedikit diangkat maka dada dia yang besar dia biarkan membusung seperti mau tumpah saja.
Baru melihat begitu saja dede gw dah berasa tegang, apalai gw lupa ga pake cd hanya celana basket gw aja, sehingga kalau gw berdiri pasti dede gw yang sudah tegang akan kelihatan seperti tangan menunjuk sehingga gw ga berani untuk berdiri takut di melihat.
Sambil pura-pura tidak memperhatikan gw robah posisi duduk gw, namun tiba-tiba dia menyuruh gw untuk membantu mengoleskan body lotionnya ke bagian punggung dia. “Dimas ktolongin tante dong, olesin ini ke punggung tante, tangan tante ga nyampe,”perintahnya.
Dengan terbungkuk bungkuk gw coba menghampiri dia, gw takut dede gw yang masih tegang terlihat olehnya. Tanpa bantahan sedikitpun gw coba mengolesi punggung dia dengan body lotion. Agak kaku karena gw belum pernah melakukannya apalagii sama dia orang yang baru gw kenal. “Jangan Ragu-ragu gitu dong mas, ntar malah tumpah tuh body lotionnya, diusap usap aja”Ujarnya kembali mengajari gw.
Posisi dia yang membelakangi gw jelas terlihat kulit punggung dia yang putih mulus, gw coba mengusapkan lotion tsb, dari bagian pundak terus ke bawah namun terhalang handuk, dan dia pun seakan tahu, dia lepaskan ikatan handuk yang membungkus dadanya dia kendurkan maka punggung yang putih mulusnya pun terpampang sudah di depan mata gw.
Napas gw memburu sehingga menyentuh kulit punggung dia, dan yang lebih parah lagi dede gw semakin tegak mengacung. Ada sedikit keberanian dalam diri gw, sambil mengusap-usap punggung dia dengan lotion dengan gerakan seperti memijit maka dede gw yang menonjol kedepan gw coba sentuhkan sedikit demi sedikit ke pinggang dia karena posisinya sejajar dengan pinggangnya. Ada sensasi tersendiri, apalagi tak ada reaksi dari dia, malah dia merubah posisi duduk dia dengan sedikit mengangkat pinggang dia, maka tal pelak ujung dede gw menyentuh bongkahan pantat dia yang besar dan agak sedikit menungging.
Makin lama makin gencar gw gesek-gesekan ujung dede gw ke bongkahan pantat dia sementara tangan gw terus mengusapkan lotion kepunggungnya. Makin tak beraturan saja sekarang gerakan tangan gw bukannya mengoleskan lotion tapi seperti mengelus-ngelus dengan gerakan yang halus, diluar sadara gw, tangan gw menelus-ngelus kebagian leher kemudian kepundak dia turun ke pinggul dia sampai ke bongkahan pantat dia tapi di bagian ini tangan gw bukan cuma mengelus tapi sedikit meremas. Tak ada reaksi apapun dari dia. Maka dengan sedikit keberanian gw turunkan celana gw maka dede gw yang sudah tegang keluar dengan bebas tegak mengacung seperti tugu monas.
Seperti gerakan yang tadi tangan gw terus mengelus punggung dia dari bawah keatas dan sebaliknya, sementara dede gw yang sudah terbebas kini coba gw gesek-gesekan menyentuh nyentuh belahan pantat dia yang masih terhalang handuk. Gw tekan tekan sedikit, sambil tangan gw menyentuh leher dia, terdengar desahan lirih keluar dari mulut dia seperti orang kepedesan apalagi ketika dede gw gw coba gesek-gesekan ke belahan pantat dia. Semakin lama dan makin sering gw lakukan gerakan seperti itu maka makin sering pula gw dengar lenguhan dan desahan yang keluar dari mulut dia. Hingga akhirnya......
Tiba-tiba dia berdiri dan berbalik kearah gw, dan yang lebih mengagetkan lagi dia lepas ikatan handuk yang membungkus tubuhnya. Maka terpampang jelas payudara dia yang besar bergelantungan seperti buah pepaya meski agak kendur tapi jelas bergelayut dengan putingnya yang mengacung. Sementra tepat di depan muka gw, segumpal bukit yang rimbun terpampang jelas. Belum lepas kaget gw tiba-tiba dia menarik tangan gw sehingga gw berdiri dan dia langsung memeluk gw dengan erat.
“Nikmatilah tubuh tante Dimas....Jangan kecewakan Tante!!" ujar Tante Aish merengek-rengek, seraya menggosok-gosokkan buah dadanya yang sekal padat ke dada gw yang bidang dan berbulu lebat. Sementara itu, tangan Tante Asih meluncur ke bawah dan meremas-remas milik gw yang besarnya lebih besar dari pada pisang ambon. Dalam waktu tidak lama senjata gw pun sudah benar-benar tegang. Tegak bagaikan tonggak. Besar dan panjangnya minta ampun.
Tante Asih yang sudah tidak bisa lagi menahan keinginannya, dia mendorong gw sehingga gw terbaring disofa, lantas dia melompat ke atas tubuh gw, Kedua pahanya mengangkang di atas selangkangan gw. Digenggamnya senjata yang aduhai itu. Dengan mesranya dibimhingnya menuju lobnag vaginanya yang sudah menganga, siap menanti datangnya sang perkasa. Diletakkannya tepat di mulut gua. Kemudian Tante Asih menekan pantatnya. Dan: "Ohg . . . !!" kepala kemaluan itu melesak masuk. Blesss! Tante asih nyengir-nyengir kuda, menahan rasa sakit dan linu. "Hnmmhh . . . ehg!" Gw pun nyengir, menahan nikmatnya kepala kemaluannya digigit dan dipijit-pijit oleh mulut vagina Tante Asih yang berkerinyut-kerinyut kencang.
"Oukh, Dimmmmm! Hmmhh . . . ssshhh . . . !!" Tante Asih bergemetar tubuhnya. Tetapi cuma sesaat. Tante Asih yang sudah terbiasa menikmati kepunyaan laki-laki segera hilang rasa sakitnya. Dan Tante Asih menekan lagi. Blassssh! ! !" Oukhhhh, Bennnnnn! Hmhhh . . . enak sekali , sayang hhhhh. Ssssh . . . !!" Mata Tante Asih membeliak-beliak. Batang zakar gw telah amblas seluruhnya ke pangkal-pangkalnya. Tanta Asih merasakan kenikmatan bukan alang kepalang. Demikian pula halnya gw. Dinding-dinding vagina Tante Asih bagaikan hidup, menekan-nekan batang kemaluan gw.
Nikmaaaaat! Tante Asih menarik lagi pantatnya ke atas. Dan . . . uf! Seluruh isi bagian dalam lorong vagina Tante Asih bagaikan terbongkar bersamaan dengan menggelosornya zakar gw. Demikian pula dengan gw. Lorong vagina Tanta Asih bagaikan menyedot-nyedot. Gw mendesah-desah. Tante Asih bagaikan kesetanan, menggoyang-goyangkan pantat dan pinggulnya yang besar, montok dan putih itu. Gw coba mengangkat panta gw, mengimbangi gerakan-gerakan Tante Asih. Ternyata dengan posisi ini, cukup mendatangkan kenikmatan juga. Tante Asih di atas dan gw di bawah. Sambil terus juga dengan bersemangat menaik turunkan pantatnya. Dan Tante Asih pun menciumi bibir gw bertubi-tubi. Dan gw pun membalasnya tak kalah semangat.
Lidah gw masuk dan mengait-ngait lidah serta gigi-gigi Tante Asih yang bersih, putih dan bagus bentuknya. Sementara itu, tangan gw pun tidak tinggal diam, meremas-remas payudara Tanta Asih yang kenyal, padat dan besar. Tentu saja dengan remasan-remasan mesra!
Tante Asih semakin lama semakin kesetanan. Gw pun demikian pu1a. Kami merasakan ada sesuatu yang mendesak-desak darl dalam diri. Semakln lama desakan-desakan itu semakin kuat sehingga membuat napas kami tersendat-sendat. Ibarat orang yang sedang mendaki bukit untuk mencapai puncak. "Ehh....Dimmmmmasssss . . . !!!"
"Hmnmh! Sssh . . . oukh, Tante! Cepat dikit, sayang! Ayoh, Tante!"
"Dimmmassssshhhh! Sash . . . eng! Ennaaaaaakhh, say . . . !!"
"Sssst! Hmmmh . . . !!"
"Dimmmasssss! Akh! Akhhuu mau keluarrrr . . . say!"
"Sayyyaaa jugghaaa, Tan . . . ! Oukh! Ayoh, Tante! Putar terus! Semangat, Tante! Semangat! Oukh . . . !!"
"Dimmmmmasssss !!!" Tante Asih semakin kesetanan. Tangannya mengerumasi dada gw, sampai gw kesakitan. Namun bercampur enak. Demikian pula dengan tangan gw. Membantu pantat dan pinggul Tante Asih. Disaat menurunkan pantatnya, gw bantu dengan menekankan pantat Tante Asih kuat-kuat ke bawah. Blasssh!! Maka tanpa ampun, amblaslah seluruh zakar gw ke dalam kemaluan Tante Asih. Masuk ke pangkal-pangkalnya!
"Dimmmmassss!!" Tante Asih meronta-ronta di atas tubuh gw." Ennnaaakhh, Dimmmass! Akkhhuuu tak kuatttsss laggghhhi, say!! Akhhu kelluuuuarrr! Ssssh . . . akkkhhhh . . . !!" bersamaan dengan jeritan Tante asih, tubuh perempuan itu berkelojotan ke sana-ke mari. Kedua kakinya menyepak-nyepak. Tante Asih mencapai puncak kenikmatan sempurna. Benteng pertahanannya bobol! Bertubi-tubi bagian dalam lobang vaginanya menyemprotkan cairan kental, hangat dan licin.
Secara hampir bersamaan pula gw pun mengeram keras. Bagaikan harimau lapar, gw peluk Tante Asih kuat-kuat. Dan kemudian dengan sigap, Gw membalikkan tubuh, sehingga tubuh Tante Asih yang berada di bawah. Gw tekan kuat sehingga Tante asih gelagapan. Batang zakar gw berdenyut-denyut keras. Dan cairan kental, hangat dan licin pun bertubi-tubi pula menyembur, membanjiri lorong vagina Tante Asih yang memang sudah banjir!
Tante Asih tergelincir dari atas tubuh gw. Terkulai lemas. "Dimmmasss! Oukh, aku puasss sekali!" bisik Tante Asih sambil memeluk gw dari samping.
Gw tak menjawab. Memandang langit-langit. Sementara Batang zakar gw masih tegak. Basah dan licin bekas-bekas cairan kenikmatan kami berdua. Tiba-tiba Tante Asih menciumi gw bertubi-tubi. Tangannya meluncur ke bawah dan mulai mengurut-urut batang zakar gw. Rupanya Tante Asih termasuk perempuan bertemperamen panas juga. Nafsunya menggebu-gebu. Diurut-urutnya terus oleh zakar gw dengan mesra, nafsu gw bangkit kembali. Tante Asih senang sekali. Dia melompat dari sikap berbaringnya.
"Ayoh, Dimasss! Timpah aku dari belakang!" ujarnya sambil mengambil posisi nungging. Pantatnya yang besar dan montok itu diacu-acukan ke depan. Melihat pemadangan yang sangat merangsang itu, gw tak kuat lagi menahan diri. Gw melompat ke belakang pantat Tante Aish. Dengan bernafsu, gw remas-remas dan menggigiti bungkalan pantat Tante Asih yang bundar dan putih. "Ayoh, Dimasss! Timpah aku! Hantam, Masss! Hantam! Jangan sungkan-sungkan! Lakukan saja sekehendakmu!" Ditantang seperti itu, tentu saja gw tidak akan mundur.
Gw ambil posisi di belakang tubuh Tante Asih yang nungging. Digenggamnya batang zakar gw yang sudah siap tempur. Diselipkan diantara belakang kedua paha Tante Asih, dan kemudian menerobos bibir-bibir kemaluan Tante Asih yang mencuat dan sudah terbelah. Dan, "Ehg . . . !!" Tante Asih menahan napasnya. Kepalanya menyentak ke atas. Tante Dewi merasa kaget dan sedikit sakit!
"Ayoh, Dimasss! Aku sudah siap . . . !!" ujar Tante Asih dengan tubuh sedikit bergetar, menahan berat tubuh gw yang memeluk pinggangnya dari belakang. Tante Aish lebih menunggingkan pantatnya, sehingga bukit kemaluannya yang sudah bengkak itu semakin mumbul. "Hantammm, Dimmmasss!" ujar Tante Asih
Langganan:
Postingan (Atom)