"Kamu cari saya kesini kalau berani, dari Palembang naik bis jurusan km
13 trus turun di km 9" sahut pacar saya sambil menutup telepon setelah
tanpa kabar selama hampir sebulan. Oh ya, panggil saja saya Erik, dan yg
diatas pacar saya panggil saja Dini. Pertama kali ketemu di pertemuan
antar rekan kerja bapa, sekitar akhir desember lah. Saat itu masih segar
segarnya lulus SMA dan lagi sibuk ngurus masuk kuliah, sedang Dini baru
lulus SMP
Ngantuk-ngatuknya nguping orang2 tua pada bicara, tiba tiba muncul Dini
bawain minuman ke ibunya, seerrr bagai kesetrum mata langsung seger dan
dia sepertinya melihat perubahan diri saya.
"Dini, ini Erik" kata bapa saya sambil memperkenalkan diri saya "Rik,
ini Dini anak pak Baskoro". Saya julurkan tangan dan astaga hangat
sekali tangan mungil ini, tangannya yang hangat atau diriku yang dingin
ketakutan. Kami langsung ngobrol berdua tanpa ada yang nyambung sama
sekali, diriku yang baru lulus SMA dan Dini yang belum tau sama sekali.
Tapi entah kenapa kami terus ngobrol berdua bahkan agak memisahkan diri
dari ngoborolan orang2 "tua", waktu terasa cepat sekali berlalu tanpa
terasa enggan rasanya buru-buru berpisah dengan bidadari didepan diriku.
Dini memang tidak terlalu cantik dengan postur tubuh yang biasa saja dan
kulit agak gelap, tapi senyumnya manis sekali. Dengan memandangi
wajahnya seolah masuk kedalam lautan yang sangat dalam tanpa ujung
hingga kadang kadang nafas terasa sesak dan sulit bernafas. Misterius
sekaligus mempersona.
Kami kemudian sepakat berpacaran walau sama sekali belum paham arti kata
tersebut, bagi kami pacaran hanyalah sekadar membagi waktu berdua dan
berbagi cerita. Pertemuan demi pertemuan diisi dengan saling bercerita
panjang lebar tanpa ujung pangkal yang jelas. Walau terkesan tanpa makna
setiap kali selalu diakhiri rasa enggan untuk berpisah jauh. "Dini
cuman di Tangerang rik, naik motor palingan 30 menit nyampe" batinku
meyakinkan diri.
Akhirnya suatu kali saya memberanikan diri menciumnya didepan rumahnya,
walau hanya dipipi. Dia kelihatan kaget sekali dan langsung masuk
kerumah tanpa keluar lagi. Saya kebingungan dan akhirnya pulang ketika
Dini tidak keluar lagi sampai larut malam. Kemudian tiba tiba Dini
menghilang tanpa ngomong apapun, kata ibunya dia pergi ke tempat
neneknya di Palembang. Ini semua salah saya, Dini masih terlalu kecil,
ah...tapi kenapa nga bilang apa apa langsung menghilang begitu
saja...seribu pikiran berkecamuk di benakku...
***********************************
Tiga jam sudah berlalu sejak bus yang saya tumpangi meninggalkan
Jakarta. Tanpa saya sadari perut terasa lapar dan saya lalu mengeluarkan
bekal roti di tas ransel kecilku. Sambil makan saya melihat ke luar
jalan, pohon rindang seakan berlomba saling mendahului berlarian di
pinggiran jalan, dari kejauhan tampak orang lalu lalang. Lalu tiba tiba
pemadangan berubah jadi kota kecil, sepertinya menjelang Merak atau,
entahlah pikiran ku seakan kosong, lelah entah harus berpikir apa lagi,
ataupun kenapa saya sampai nekad naik bus ke tempat yang belum pernah
sama sekali saya kenal.
Sambil mengikuti penumpang lain saya pun turus bus sambil menuju ke
tempat perlabuhan feri, ratusan penumpang berjejalan entah dari mana
saja seakan tumpah sekaligus di antrian panjang yang penuh sesak. Takut
terpisah dari rombongan sesama bus yang saya tumpangi, saya pun mencoba
konsentrasi berusaha mengingat wajah mereka, sambil mencari jalan
melalui lautan manusia yang sama sama berusaha naik keatas feri.
"Mas, sebelah sini" tiba tiba panggil seorang wanita yang tidak fasih di
ingatan saya, " rombongan kita disini mas" lanjutnya. "Memangnya kita
satu bus mbak?" tanya saya."Ya ampun, saya dari tadi duduknya sebelah
mas, masa nga ingat? saya lihat sih dari tadi melamun terus, apa masalah
apa sih sampai orang yang duduk disebelah aja nga ingat?"sahutnya lagi.
Aku langsung sadar dan berusaha memastikan wajah didepan saya. "Oh iya,
maaf, agak pusing dikit", jawab saya sambil menjulurkan tangan ," Erik"
. "Linda", balasnya, " emang ada masalah apasih sampai bengong gitu
seharian?, masalah cewe yah " godanya sambil tersenyum.
Linda memang terlihat agak tua dari saya, dilihat dari wajahnya sekitar
25an, postur tubuh agak tinggi dah wajah yang putih cerah. Astaga masa
dari tadi ada wanita secantik ini duduk disamping saya, sambil membatin.
Sambil menawarkan minuman kaleng Linda terus saja bicara, bercerita
tentang dirinya, tentang karirnya sebagai sekretaris di salah satu media
cetak di Jakarta, tentang macetnya jalan, tentang apa saja, sementara
saya terus saja diam sambil memandangi wajahnya yang "menawan".
Ternyata dia ke Palembang dalam rangka melarikan diri dari pacarnya, dia
belum siap untuk nikah sementara sang pria sudah pengen ngelamar ke
ortunya. Aneh batinku, saya ke Palembang untuk menemui pacarku yang
"kabur" karena.. (... entah karena apa....) sementara didepanku ada lagi
cewe lain yang menghilang menghindari nikah. Apa semua wanita di dunia
ini emang suka kabur, batinku.
Dari ceritanya ternyata dia agak menyesal bertemu dengan pacarnya,
terlalu egois katanya, selalu mau menang sendiri tanpa menghiraukan
kepuasan orang lain. Saya mengangguk tanpa memahami sedikitpun apa yang
dimaksudnya. Jangan jangan Dini juga sama saja kabur karena saye egois
menciumnya tanpa minta ijin lebih dulu, yah...andai waktu itu minta ijin
dulu....
Tanpa terasa feri pun tiba di pelabuhan Bakauheuni, dan penumpangpun
kembali antri turun kapal. "Sini mas" tarik Linda, "jangan bengong
terus, kalo sampai ketinggalan bus bisa berabe", saya jawab dengan
anggukan pelan sambil berusaha konsentrasi. "okay ini dia, naik yuk"
sahutnya yang langsung saya ikutin dari belakang.
Terlihat pantatnya yang padat berisi dah indah,.. lebih tepatnya bukan
terlihat tetapi terasa karena tanpa sengaja wajah saya menabrak dari
belakang. Sejenak tercium aroma yang agak asing tapi menyenangkan, entah
kenapa wajah saya terus menempel sampai akhirnya terlepas kerena sama
sama sudah naik ke bus. Sambil membimbing saya ke kursi kami wajahnya
kelihatan agak merah terkadang melirik agak aneh balik ke saya.
"Gantian mas saya duduk dekat jendela mas ditengah " sambil masuk ke
kursi dekat jendela sementara saya duduk disampingnya. Kemudian saya
menoleh kedepan dan belakang, ternayata kami duduk di kursi paling
belakang pas di depan toilet bus sementara kursi depan dan sebelah
samping terlihat kosong, "Pantes saya nga ingat apa apa memang nga ada
orang lain" batin saya lagi."Mikirin apa mas, hayo, bengong lagi deh.
Tapi kayanya bengongnya lain kaya tadi" cecarnya sambil tersenyum manis.
Saya hanya menunduk tanpa bepikiran apapun.
Bus kemudian melaju meninggalkan pelabuhan dan langit diluarpun terasa
makin gelap. Entah kenapa pikiran kembali kalut, namun berbeda dengan
sebelumnya, kali ini disertai rasa takut dan was was. "Aduh udah mau
gelap nih " ujarnya seakan memahami isi hati saya, "sebenarnya naik bus
paling bahaya kalau sudah gelap gini, mana busnya nga nyalain lampu,
untung mas yang duduk disebelah saya" katanya tersenyum sambil
menyenggol bahu saya. Entah kenapa di cahaya yang remang remang ini
wajahnya terlihat cantik sekali, badan saya langsung panas seolah mau
demam tinggi.
Dari senderan kursi depan lalu Linda mengeluarkan selimut yang
kelihatannya sudah disediakan, mengingat busnya memang full ac dan agak
dingin. Kemudian digelarnya menutupi kami berdua sambil seolah
menggigil. Lalu tiba tiba tangannya meraih tanganku "dingin yah" katanya
sambil melihat kewajahku. Tatapannya terlihat aneh, seakan melekat
diwajahku, ini memebuatku tambah grogi ditambah lagi tidak terlihat
tanda akan melepaskan tangan atau matanya. Kemudian dia akhirnya
berusaha merebahkan diri ke kursi sambil mengatur senderan, setelah
kelihatan agak nyaman kembali wajahnya kembali menatapku, sejenak
mengganti setelan kursi saya supaya sama sama bisa menyandar.
"Rik, saya memang lebih tua dari kamu, dan ngak sepantasnya panggil kamu
mas. Tapi bisa nga kamu untuk sekarang ini saja seolah kamu lebih tua
dari saya. Saya lagi kesepian butuh tempat untuk melepas beban dihati.
Maukan?, " tanyanya setengah berbisik kemudian membaringkan kepalanya
dibahuku.
Jantungku seakan mau meledak rasanya, kepala jadi pusing dan seluruh
badan seperti dipanggang diapi, sedang dianya terus menempel manja
selayaknya seorang anak kecil pada ayahnya."Kok tegang amat, yang rileks
dong, nga bisa tidur kalau gini" sambil membelai dada saya, yang
membuat diriku jadi tambah serba salah.
Seakan tau keadaaan saya dia pun tersenyum dan tiba tiba mencium
perlahan pipiku, saya serasa mau pingsan tanpa tau musti melakukan
apa,"rileks" katanya lagi sambil kemudia membelai rambut saya.
Selimutpun agak dinaikkan sampai ke dagu, kemudian kepalaku ditariknya
kebawah kemudian mulailah dia menciumku. Mulai dari wajah, mata, hidung,
dahi, sampai akhirnya dilumatlah bibir saya. Tangannya pun tidak
tinggal diam, dari dagu perlahan ke leher balik lagi ke pipi terus
dibelainya, sayapun menjadi agak tenang tanpa tau harus berbuat apa.
Ciuman diteruskannya semenit lima menit, sepertinya sudah satu jam,
tanpa lelah terus mencium bibir dah wajah saya, tanpa saya sadari
ternayata tangannya yang sebelah sedang memegang bajunya sendiri, sambil
dimasukkan dan terus membelai, dari dada, turun ke perut, kemudian
ditariknya tanganku dan dibimbingnya masuk ke bajunya yang entah kapan
sudah setengah dibuka. Terasa bulu yang sangat halus di perutnya, seakan
menari di sela jariku, kemudian dinaikkan ke dadanya, lalu tanganku
dilepasnya ternayata dia berusaha membuka penutup dadanya tanpa berhenti
mencium terus mencium bibirku.
Lembut sekali, lebih lembut dan empuk lagi, tanpa diperintah tanganku
bertindak sendiri membelai memeras pelan, memuntir, sejak kapan tanganku
bisa begini, boro boro megang liat aja belum pernah kaya apa yang
disebut "tete". Dari sebelah kiri berganti kekanan terus ke perut,
perlahan seperti melukis diatas mentega, lembut, halus dan hangat
sekali.
Nafasnya semakin cepat, mungkin secepat diriku, tapi aku lebih mikirin
dadanya yang terus saya belai dengan perlahan dan lembut sekali,
sesekali memuntir putingnya, kemudia dengan satu tarikan ditariknya
kepalaku ke dadanya dan terpampanglah pemandangan indah di wajahku.
Kayanya semasa bayi aku pernah menyusu di ibuku tapi perasaannya lain
sekali, dan memang saya tidak ingat sekali bagaimana rasanya waktu bayi
dulu.
Penasaran kemudian saya cium dadanya perlahan, kemudian saya cium lagi
belahan dadanya, ke putingnya "isap" bisiknya, lalu seakan jadi bayi
lagi saya rengut putingnya dengan lahap, saya isap jilat, sambil terus
membelai yang sebelahnya lagi, sesekali lidahku mempermainkan putingnya,
memutar mendorong, apa waktu kecil lidah saya ada seperti begini
batinku.
Sambil terus menghisap, menjilati, memuntir, saya lihat tangannya sudah beralih ke roknya, yang merumbai.
Dinaikkannya roknya sehingga terlihat celana dalamnya yang berwarna
putih, agak gelap memang dibawah selimut, tapi cukup terang kelihatan
warna putihnya,dimasukkannya jari kedalam celana dalammya, sambil
menggigit bibir karena takut terderngar penumpang lain. Tanpa melepaskan
dadanya, terus saya perhatikan tangannya yang sudah masuk lebih dalam
lagi sambil terlihat jarinya berusaha gerak namun karena posisinya agak
susah lalu di tariknya lagi.
Kemudian dilepaskan mulutku dari dadanya kemudian di tatapnya lekat sambil dicium pelan. "bentaryah netenya"
Agak sedikit membungkuk dilepasnya celana dalamnya kemudian diraih
talipinggangku, dibukanya dengan perlahan tanpa suara perlahan sekali.
Kembali dia memandang dan menciumku, lalu tangannya dimasukkan kecelana
dalamku, ditariknya kembali, ternyata didalamnya agak "basah" lalu dilap
tangannya ke roknya dan kembali dimasukkan. Perlahan di belai belai
terus dikeluarkan lagi kai ini aku disuruh agak berdiri lalu di
pelorotinlah celanaku sampai kelutut, kemudian celana dalamku.
Belum hilang rasa kagetku tiba tiba rasa dingin menjalar ke tubuhku,
seakan akan "basah" saya lihat kedalam selimut ternyata kemaluanku
sedang dihisap olehnya. Agak geli rasanya kemudian rasa dinginpun hilang
diusir panas yang lebih tinggi dari pertama tadi. Pikiranku serasa
diawang awang, seluruh badanku serasa bergetar lembut, sambil terus
dijilatin diciumin pangkal dan ujung kemaluanku sementara tangannya
membelai ke bijinya, dilahapnya sambil terus dihisap seakan ada sesuatu
didalamnya yang ingin dikeluarkan, kemudian dinaikkan dan diturunkan,
isapan dan jilatan dan entah apa lagi yang pasti aku hampir berteriak
dan akhirnya ujung selimut saya gigit keras menahannya.
Pikiranku melayang tanpa terkendali, segala macam pikiran dan benak
seolah berkecamuk jadi satu, anehnya tidak ada satupun yang menyangkut
ke pacarku bahkan namanyapun tak teringat, tidak...tidak bisa di ingat
sama sekali.... dalam kepalaku hanya ada
Linda...Linda...Linda...Lindaaa.....ah..... Kemudian tiba tiba bus
berhenti dan lampu dinyalakan. Serentak kami langsung bangun dan
berusaha merapikan baju, kemudian bertingkah seolah terganggu tidurnya.
Ternyata bus berhenti di sebuah rumah makan disamping jalan."Kita
istirahat satu jam, yang mau ke kemar kecil silahkan, yang mau makan
juga silahkan" teriak sang supir disertai gerakan para penumpang yang
hampir serentak bergerak turus dari bus, sementara saya dan Linda
seperti baru melihat hantu dan kemudian "kruuukkk,,,,," suara perut ku
dan Linda berbunyi nyaring sekali. Sambil melirik kami kemudian bangun
dan merapikan diri. "Ayo makan" tarik Linda, dan kami pun turun
mengikuti penumpang lainnya.
Linda memesan nasi rendang dan minuman buat kami berdua, tak lama
kemudian pelayanpun datang dan tanpa bicara panjang kamipun melahap
makanan sambil sesekali menari napas panjang, seperti orang yang
kelaparan seusai maraton. Sesekali Linda melirik dan tersenyum, akupun
tersenyum tanpa berhenti makan. Pertama kali dalam hidupku nasi yang
saya makan seolah tak habis habisnya dan buru buru sekali saya lahap
seakan tidak ingin lama lama makan. "Pelan pelan mas, waktu masih banyak
kok, lagian kayanya nga enak kalo nga bisa santai makannya" katanya
sambil tersenyum. Namun ucapan maupun senyumnya seakan tanpa arti sama
sekali hanya menambah keinginanku untuk menghabiskan makan secepatnya.
Akhirnya habis juga dan saya hirup es teh manis pesanan Linda dengan
perasaan puas seperti orang yang barusan selesai tugas maha penting,
kemudian saya liat ke dia sambil tersenyum.
Di rumah makan yang terang ini betapa saya lebih kagum melihat wajahnya
yang ternyata cantik sekali, tanpa cacat, halus dan sempurna sekali,
diapun tertawa kecil terseyum dan kembali menyendokkan nasi kedalam
mulutnya yang manis. Waktu berjalan pelan sekali, setiap suapan dan
gerakan mengunyah terlihat dalam gerak lambat, setiap desah napasnya,
kerdipan matanya, seperti sedang melihat orkestra, semuanya terlihat
sangat serasi dan indah sekali. Mimpi apa aku semalam bisa bertemu
dengan wanita secantik ini, biar umurnya lebih tua 5 tahun dariku
...tidak,,..jangankan 5, 10 tahun lebih tuapun rasanya sepadan denganku,
aku harus bisa mendapatkannya, persetan dengan pacarku yang entah
namanya apa, yang demi dia saya sampai menyeberang pulau, saat ini
jangankan nama, wajahnyapun tak terlintas dibenakku, yang ada hanya
makhluk ciptaan Tuhan yang super cantik dihadapanku saat ini.
"Sruutttt" suaranya minum dari sedotan memabangunkanku dari khalayanku.
Saling membalas senyum kamipun berpegangan tangan, tangannya dan
tanganku saling meremas.
Setelah membayar kamipun bergerak naik kembali keatas bus, lalu
keberanikan diriku berbisik padanya "Lin, jujur kamu nga masalah saya
lebih muda darimu?", "kenapa?" tanya dia memandangku kaget. "Saya harus
jujur, saya jatuh cinta padamu, untuk pertama kalinya dalam hidupku saya
jatuh cinta, memang saya ada pacar, tapi saya tidak pernah tau apa
artinya cinta, dan mungkin saat ini pun saya tidak tau apa sebenarnya
cinta itu.
Yang saya tau saat ini aku tidak ingin jauh darimu, ingin selalu berdua
denganmu, dan untuk pertama kali dalam hidupku aku menemukan arti dalam
keberadaanku. Saya memang masih muda dan masih kurang pengalaman, tapi
saya pasti bisa belajar dan berusaha, bukan buat kesuksesan atau
kepuasan diriku, tapi untuk membahagiakanmu. Aku ingin hidup demi
senyummu, saya tidak perlu yang lain dari dirimu, hanya kebahagiaanmu
dan senyumanmu yang ingin kuberikan,..". Linda terbengong, mulutnya
menganga besar seolah kaget kemana perginya bocah yang baru bermesraan
dengannya dibus, " Rik, kamu nga tau wanita seperti apa saya, jangan
terlalu cepat ambil keputusan sepenting itu dalam hidupmu,..." .
" Saya tidak sedang melamarmu Linda kalau itu maksudmu, seperti yang
saya bilang tadi, saya hanya ingin dekat denganmu, memberi kebahagiaan
padamu, saya memang masih terlalu mudah untuk menikah ataupun memahami
arti kata itu, yang saya ingin hanyalah dekat denganmu, bisa setiap hari
melihat wajahmu, ingin kujaga senyummu agar tetap diwajahmu. "...
"Sa..ya.. tidak tau harus bilang apa rik, saya pikirkan dulu. Sebaiknya
jangan terburu buru begitu, kasih saya waktu ." sahutnya sambil masuk ke
tempat duduknya, dan akupun kembali duduk disampingnya.
Ketika bus kembali bergerak, diapun kembali berbicara "Rik, saya tidak
tau apa yang aku inginkan, terus terang selama ini laki laki yang saya
temui, mereka hanya memikirkan dirinya masing masing, bertindak baik
padaku hanya untuk kepuasan diri mereka, ketika kamu tanyakan apa yang
aku inginkan, saya tidak tau harus bilang apa.." ."Kalau begitu, jangan
bilang apa apa, saya juga tidak tau haru berbuat apa, bahkan kalau boleh
bilang, yang saya tau, tidak ada sama sekali.
Tapi aku ingin cari tau, ingin belajar, dan kalau kamu memang nga tau
juga, bagaimana kalau kita sama sama cari tau, sama sama belajar, walau
saya masih muda dan kurang tau, tapi saya ingin tau, ingin belajar, aku
ingin tau arti sesungguhnya kata cinta, dan aku ingin mencarinya
bersamamu. Jangan pikirkan diri saya, pikirkanlah dirimu. Kalau kamu
ingin bahagia, ingin cinta, tapi tidak tau artinya, maukah kamu mencari
tau, dan belajar bersama denganku. Saya tidak tau apa yang akan terjadi
dengan masa depan kita berdua, tapi saya ingin berusaha, ingin tau dan
ingin belajar." Lindapun terdiam dan terlihat merenung,
.................
*********************************
"Dini..." nama itu tiba tiba terngiang di kepalaku, setelah sekian tahun
akhirnya terlintas juga nama itu. Andai saat itu aku tidak naik bus ke
Palembang ....
" HAYOOO!!!!, lagi menghayal apa lagi, udah punya cucu masih menghayal
terus, nga sembuh sembuh penyakitnya." sahut sebuah suara yang selama
ini menemani hidupku."Engga Nek, kakek cuman bayangin andai dulu tidak
naik bus itu", ujarku sambil melihat wajahnya, senyumnya, walau kini
penuh keriput demikian juga diriku, namun dimataku tidak ada berubah
sama sekali, masih ceria, cantik, dan bahagia seperti tiga puluh tahun
yang lalu.
Kuraih tangannya dan kubimbing ke dadaku, "Nek, udah ketemu belum arti
kata cinta?" tanyaku " entar cucumu kalo nanya itu kamu mau jawab apa?" .
"Cinta? untuk tau artinya cinta dibutuhkan usaha, harus terus belajar,
ingin tau, antara satu sama lain. Apa arti sesungguhnya, saya tidak tau,
yang pasti, saya bahagia, karena ada orang yang ingin berusaha, ingin
tau dan ingin belajar bersama ..."