Pages

Senin, 02 Juli 2012

NIKMAT YANG KUDAMBAKAN



Pak Rudy adalah seorang agen perusahaan asuransi tempat dimana keluarga kami menjadi kliennya. Ia baru tiga kali datang ke rumahku untuk keperluan menagih premi asuransi. Biasanya yang menagih premi asuransi adalah Bu Sri dan 2 bulan yang lalu beliau memperkenalkan pak Rudy sebagai penggantinya. Dia adalah seorang pria berusia sekitar 30 tahunan, tinggi badan sekitar 170 cm an dan memiliki tubuh yang atletis. Sebelum bekerja sebagai agen asuransi, pak Rudy adalah seorang pemain Bola Volley yang handal di daerahnya. Tak heran kalau bentuk tubuhnya masih terlihat atletis dan bisa membuat wanita kesepian seperti aku mabuk kepayang.
Pada awalnya sih kedatangan pak Rudy ke rumahku layaknya seorang agen asuransi biasa, ngobrol tentang asuransi sebentar dan setelah kubayar premi asuransi beliau langsung pamit. Tapi pada kedatangan yang ketiga ke rumahku, jalan ceritanya menjadi hal yang tidak biasa dan menjadi kenangan paling indah dan sensasional semenjak aku menjadi ibu rumah tangga dari suami seorang pengusaha dan memiliki 2 orang anak yang mulai beranjak remaja. Usiaku memang tidak muda lagi, 42 tahun, tapi kata orang-orang bentuk tubuh indahku tetap saja bisa membuat seorang laki-laki terperangkap dalam hayalan kenikmatan sesaat. Apalagi bentuk buah dadaku ukuran 36A? (ohh….indah nian) yang tetap terjaga dengan baik, tidak kalah dengan [buah dada wanita usia 20 tahunan.
Pada suatu hari aku sedang di rumah sendirian, setelah suamiku berangkat ke kantor dan 2 anakku pergi ke sekolah. Untuk mengisi kegiatan harian, biasanya antara jam 9 – 10 pagi aku melakukan fitness di rumah. Aku biasanya memakai pakaian yang enak dipakai dan menyerap keringat berupa sebuah kaos putih tipis tanpa lengan dengan belahan dada rendah sehingga buah dadaku yang montok itu agak tersembul keluar terutama kalau sedang menunduk. Apalagi aku tidak memakai BH (Bra kesukaanku merk atau Wacoal, juga sebuah celana pendek ketat merk ‘Wacoal’ yang berbahan tipis dan mencetak pantatku yang padat berisi. Waktu aku sedang melatih pahaku dengan sepeda fitness, tiba-tiba terdengar bel berbunyi, segera saja kuambil handuk kecil dan mengelap keringatku sambil berjalan ke arah pintu. Kulihat dari jendela, ternyata Pak Rudy yang datang, pasti dia mau menagih premi asuransi karena ini memang sudah waktunya kami membayar.
Kubukakan pagar dan kupersilakan dia masuk. “Silakan Pak duduk dulu ya, sambil nunggu saya ambil uangnya” senyumku dengan ramah sambil mempersilakannya duduk di ruang tengah.
“Kok sepi sekali ya Bu, pada kemana yang lain?”
“Biasalah pak Rudy, kalau jam segini memang sepi di rumah ini, ya anak-anak kan belum pada pulang dan bapaknya anak-anak juga biasanya pulangnya malam”
“Ohh………?!” Pak Rudy tersenyum manis sambil matanya sekilas menatap ke arah gunung kembarku dengan 2 buah putting yang tersembul dibalik kaos putih tipis yang basah oleh keringat. Saat itu aku memang tidak memakai BH, sehingga putting buah dadaku terlihat jelas. Aku jadi risih juga dan buru-buru aku bilang
“Sebentar ya Pak, saya ambil uangnya dulu” untuk mengalihkan perhatian.
“Silahkan bu….” Jawab pak Rudy dengan tetap memberikan senyum manisnya dan tatapan matanya yang agak nakal saat itu.
Setelah ku ambil uang di kamar dan balik ke dapur untuk membuatkan minuman, sesaat imajinasi nakal mulai merambah pikiranku. Apalagi tadi malam hasrat untuk melakukan hubungan badan dengan suamiku tidak tercapai akibat kelelahan setelah sehari penuh bekerja di kantor. Dan kejadian seperti ini sudah berjalan lama, menahan hasrat birahi kewanitaan yang menggebu-gebu dan siap meledak setiap saat. Aku menggigit bibir bawahku menahan hasrat birahiku yang tiba-tiba muncul bak gunung berapi yang siap meledak memuntahkan magma panas yang membara.
“Mari diminum air-nya Pak!”, tawarku lalu aku duduk di depannya dengan menyilangkan kaki kananku sehingga pahaku yang jenjang dan putih itu makin terlihat. Suasana mesum mulai terasa di ruang tamuku yang nyaman itu dan itu mulai menggoda nafsu birahiku Dia menanyaiku sekitar masalah anak-ana, seperti sekolah, hoby, keluarga, dan kegiatan ku dan suami selama ini, tapi mata nakalnya terus memandang ke arah buah dada dan dua putting yang kian mengeras dan menggoda (sengaja kereman-remas buah dada dan putingku agar tambah membesar dan mengeras saat menyiapkan minuman di dapur).
“Bu Dewi lagi olah raga yah, soalnya badannya keringatan dan kaosnya basah kuyup gitu” Tanya pak Rudy sambil matanya menatap wajahku dengan lembut.
“Iya nih Pak, biasa kan ibu-ibu seusia saya harus bisa menjaga bentuk tubuh agar suami puas dan betah tinggal di rumah” kataku mulai memancing suasana makin panas.
“Cuma sekarang jadi pegel banget nih, pengen dipijat rasanya, Bapak bisa bantu pijitin nggak?” godaku sambil mengurut-ngurut paha mulusku.
Tanpa diminta lagi dia segera bangkit berdiri dan pindah ke sebelahku, waktu berdiri kuperhatikan ia melihat putingku yang menonjol dari balik kaosku, juga kulihat penisnya mengencang dibalik celananya yang membuatku tidak sabar ingin rasanya mengenggam benda itu
“Mari Bu, kesinikan kakinya biar saya pijat” Aku lalu mengubah posisi dudukku menjadi menyamping dan menjulurkan kakiku ke arahnya. Dia mulai mengurut paha hingga betisku. Uuuhh.. pijatannya benar-benar enak, telapak tangannya yang kasar itu membelai pahaku yang putih mulus hingga membangkitkan birahiku. Akupun mendesah-desah sambil menggigit bibir bawahku.
“Pijatan saya enak ya Bu?” tanyanya.
“Iya Rudy, terus dong.. enak nih.. emmhh!” aku terus mendesah membangkitkan nafsu Rudy, desahanku kadang kusertai dengan geliat tubuh. Dia semakin berani mengelus paha dalamku, bahkan menyentuh pangkal pahaku dan meremasnya.
“Enngghh.. Rudd…!” desahku lebih kuat lagi ketika kurasakan jari-jarinya mengelusi bagian paling sensitive dari tubuh indahku. Saat-saat seperti yang paling kunantikan selama ini.
Tubuhku makin menggelinjang-gelinjang sehingga nafsu Rudy pun semakin naik dan tidak terbendung lagi. Celana sportku ditariknya secara perlahan sambil matanya menatap mataku untuk meminta ijin dan aku kedipkan 2 mataku dengan senyum lembut tanda kepasrahan (Emh…ini yang aku harapkan, ucapku dalam hati). Dengan perlahan pula, ditariknya celana dalamku (CD kesukaanku merk Hanky Panky).
“Aaww.. Rudy kamu nakal ihh….!” aku berlagak kaget sambil menutupi kemaluanku dengan telapak tanganku.
Melihat reaksiku yang malu-malu kucing ini dia makin gemas saja, ditariknya celanaku yang sudah tertarik hingga lutut itu lalu dilemparnya ke belakang, tanganku yang menutupi kemaluan juga dibukanya sehingga kemaluanku yang berambut tipis itu (baru 1 bulan yang lalu kucukur rambut di kemaluanku) tampak olehnya, klitorisku yang merah merekah dan sudah becek kini siap dijelajahinya.


Rudy tertegun beberapa saat memandangiku yang sudah bugil bagian bawahnya itu. “Tubuh ibu memang sempurna, apalagi bagian bawah ini, benar-benar luar biasa” sambil tangannya mulai meraba dan mengelus lembut di bagian paling nikmat ini.
Dia mulai melepas kemejanya sehingga aku dapat melihat perutnya yang rata dan berotot serta dadanya yang berbulu itu. Lalu dia membuka sabuk dan celananya sehingga benda dibaliknya kini dapat mengacung dengan gagah dan tegak. Aku menatap takjub pada organ tubuh itu, begitu besar dan berurat aku sudah tidak sabar lagi menggenggam dan mengulumnya. Rudy begitu membuka pahaku lalu membenamkan kepalanya di situ sehingga selangkanganku tepat menghadap ke mukanya.




“Hhmm.. wangi, pasti Tante rajin merawat diri yah” godanya waktu menghirup kemaluanku yang kurawat dengan apik dengan sabun pembersih wanita. Sesaat kemudian kurasakan benda yang lunak dan basah menggelitik vaginaku, oohh.. lidahnya menjilati klitorisku, terkadang menyeruak ke dalam menjilati dinding kemaluanku. Lidah tebal dan kumis tipisnya itu terasa menggelitik bagiku, aku benar-benar merasa geli di sana sehingga mendesah tak tertahan sambil meremasi rambutnya “ohh…ohhh…nikmatnya….ohhh hh”. Kedua tangannya menyusup ke bawah bajuku dan mulai meremas payudara montokku, jari-jarinya yang besar bermain dengan liar disana, memencet putingku dan memelintirnya hingga benda itu terasa makin mengeras.

“Rud…. oohh.. saya juga mau….Rud….ohh…!” desahku tak tahan lagi ingin mengulum penis itu. “Kalau begitu saya di bawah saja ya Tante” katanya sambil mengatur posisi kami sedemikian rupa menjadi gaya 69. Aku naik ke wajahnya dan membungkukkan tubuhku, kuraih benda kesukaanku itu, dalam genggamanku kukocok perlahan sambil menjilatinya. Kugerakkan lidahku menelusuri pelosok batang itu, buah “pinangnya” kuemut sejenak, lalu jilatanku naik lagi ke ujungnya dimana aku mulai membuka mulut siap menelannya. Oohh.. batang itu begitu panjaaang dan berdiameter lebar persis seperti tubuh pemiliknya, sehingga akupun harus membuka mulutku selebar-lebarnya agar bisa mamasukkannya.

Aku mulai mengisapnya dan memijati buah “pinangnya” dengan tanganku. Rudy mendesah-desah enak menikmati permainanku, sementara aku juga merasa geli di bawah sana, kurasakan ada gerakan memutar-mutar di dalam liang vaginaku oleh jarinya, jari-jari lain dari tangan yang sama mengelus-elus klitoris dan bibir vaginaku, bukan itu saja, lidahnya juga turut menjilati baik anus maupun vaginaku. Sungguh suatu sensasi yang hebat sekali sampai pinggulku turut bergoyang menikmatinya, juga semakin bersemangat mengulum penisnya. Selama 10 menitan kami menikmat permainan yang belum pernah aku lakukan sebelumnya bersama suamiku ini. Sungguh permainan kenikmatan paling sensasional….”ohhhh…..” Tiba-tiba dia menggeram sambil menepuk-nepuk pantatku “ohh….tante….oh…. ja…ohhhhh……”, sepertinya menyuruhku berhenti, tapi karena sudah tanggung aku malahan makin hebat mengocok dan mengisap penis itu sampai dia susah payah menahan geraman nikmatnya. Akhirnya muncratlah cairan putih itu di mulutku yang langsung saya minum seperti kehausan, cairan yang menempel di penisnya juga saya jilati sampai tak bersisa.

Rudy menurunkan kaos tanpa lenganku dari bahu dan meloloskannya lewat lengan kananku, sehingga kini payudara kananku yang putih montok itu tersembul keluar. Dengan penuh nafsu langsung dia lumat benda itu dengan mulutnya. Aku menjerit kecil waktu dia menggigit putingku dan juga mengisapnya kuat-kuat, bulatan mungil itu serasa makin menegang saja. Dia membuka mulutnya lebar-lebar berusaha memasukkan seluruh payudara montok ku ke mulutnya, di dalam mulutnya payudaraku disedot, dikulum, dan dijilat, rasanya seperti mau dimakan saja milikku itu. Sementara selangkanganku makin basah oleh permainan jarinya, jari-jari itu menusuk makin cepat dan dalam saja. Hingga suatu saat birahiku terasa sudah di puncak, mengucurlah cairan cintaku dengan deras “ohhh……..nikmatnya….ohhhh h……”. Aku mengatupkan pahaku menahan rasa geli di bawahku sehingga tangannya terhimpit diantara kedua paha mulusku.

Kembali lidahnya menjilati payudaraku yang sudah basah itu, sedangkan aku menjilati cairan pada tangannya yang disodorkan padaku. Tanganku yang satu meraba-raba ke bawah dan meraih penisnya, terasa olehku batang itu kini sudah mengeras lagi, siap memulai aksi berikutnya.

“Enggh.. masukin aja Rud…, Tante udah kepingin banget nih”. Dia membalik tubuhku, tepat berhadapan dengannya, tangan kananya memegangi penisnya untuk diarahkan ke vaginaku. Aku membukakan kedua bibir vaginaku menyambut masuknya benda itu. Setelah kurasakan pas aku mulai menurunkan tubuhku, secara perlahan tapi pasti penis itu mulai terbenam dalam kemaluanku. Goyanganku yang liar membuat Rudy mendesah-desah keenakan “ohh… enak…oh… terusss… tante…teruss… digoyang….ohhh…”,
untung dia tidak ada penyakit jantung, kalau iya pasti sudah kumat. Kaosku yang masih menyangkut di bahu sebelah kiri diturunkannya sehingga kaos itu menggantung di perutku dan payudara kiriku tersingkap. Nampak sekali bedanya antara yang kiri yang masih bersih dengan bagian kanan yang daritadi menjadi bulan-bulanannya sehingga sudah basah dan memerah bekas cupangan.

Kedua tangannya meremas-remas kedua payudaraku, ketika melumatnya terkadang kumisnya yang tipis itu menggesek putingku menimbulkan sensasi geli yang nikmat. Lidahnya bergerak naik ke leherku dan mencupanginya sementara tangannya tetap memainkan payudaraku. Birahiku sudah benar-benar tinggi, nafasku juga sudah makin tak teratur, dia begitu lihai dalam bercinta, kurasa bukan pertama kalinya dia berselingkuh seperti ini. Aku merasa tidak dapat bertahan lebih lama lagi, frekuensi goyanganku kutambah, lalu aku mencium bibirnya. Tubuh kami terus berpacu sambil bermain lidah dengan liarnya sampai ludah kami menetes-netes di sekitar mulut, eranganku teredam oleh ciumannya. Mengetahui aku sudah mau keluar, dia menekan-nekan bahuku ke bawah sehingga penisnya menghujam makin dalam dan vaginaku makin terasa sesak. Tubuhku bergetar hebat dan jeritanku tak tertahankan lagi terdengar dari mulutku, perasaan itu berlangsung selama beberapa saat sampai akhirnya aku terkulai lemas dalam pelukannya.

Dia menurunkanku dari pangkuannya, penisnya terlihat berkilauan karena basah oleh cairan cinta. Dibaringkannya tubuhku yang sudah lemas itu di sofa, lalu dia sodorkan gelas yang berisi teh itu padaku. Setelah minum beberapa teguk, aku merasa sedikit lebih segar, paling tidak pada tenggorokanku karena sudah kering waktu mendesah dan menjerit. Kaosku yang masih menggantung di perut dia lepaskan, sehingga kini aku bugil total. Sebelum tenagaku benar-benar pulih, Rudy sudah menindih tubuhku, aku hanya bisa pasrah saja ditindih tubuh gemuknya. Dengan lembut dia mengecup keningku, dari sana kecupannya turun ke pipi, hingga berhenti di bibir, mulut kami kembali saling berpagutan. Saat berciuman itulah, Rudy menempelkan penisnya pada vaginaku, lalu mendorongnya perlahan, dan aahh.. mataku yang terpejam menikmati ciuman tiba-tiba terbelakak waktu dia menghentakkan pinggulnya sehingga penis itu menusuk lebih dalam.

Kenikmatan ini pun berlanjut, aku sangat menikmati gesekan-gesekan pada dinding vaginaku. Payudara montokku saling bergesekan dengan dadanya yang sedikit berbulu, kedua paha rampingku kulingkarkan pada pinggangnya. Aku mendesah tak karuan sambil mengigiti jariku sendiri. Sementara pinggulnya dihentak-hentakkan diatasku, mulutnya tak henti-hentinya melumat atau menjilati bibirku, wajahku jadi basah bukan saja oleh keringat, tapi juga oleh liurnya. Telinga dan leherku pun tak luput dari jilatannya, lalu dia angkat lengan kananku ke atas dan dia selipkan kepalanya di situ. Aahh.. ternyata dia sapukan bibir dan lidahnya di ketiakku yang halus tak berbulu itu, kumis kasar itu menggelitikku sehingga desahanku bercampur dengan ketawa geli.

“Uuuhh.. Rudd.. aakkhhhhhh………. !” aku kembali mencapai orgasme. Vaginaku terasa semakin banjir, namun tak ada tanda-tanda dia akan segera keluar, dia terlihat sangat menikmati mimik wajahku yang sedang orgasme. Suara kecipak cairan terdengar jelas setiap kali dia menghujamkan penisnya, cairanku sudah meleleh kemana-mana sampai membasahi sofa, untung sofanya dari bahan kulit, jadi mudah untuk membersihkan dan menghilangkan bekasnya. Tanpa melepas penisnya, Rudy bangkit berlutut di antara kedua pahaku dan menaikkan kedua betisku ke pundaknya. Tanpa memberiku istirahat dia meneruskan mengocok kemaluanku, aku sudah tidak kuat lagi mengerang karena leherku terasa pegal, aku cuma bisa mengap-mengap seperti ikan di luar air.

“Tante… saya juga udah mauuu……… !” desahnya dengan mempercepat kocokkannya.
“Di luar.. Rudy.. aku ahh.. uuhh.. lagi subur” aku berusaha ngomong walau suaraku sudah putus-putus. Tak lama kemudian dia cabut penisnya dan menurunkan kakiku. Dia naik ke wajahku, lalu dia tempelkan penisnya yang masih tegak dan basah di bibirku. Akupun memulai tugasku, kukulum dan kukocok dengan gencar sampai dia mengerang keras dan menjambak rambutku. Maninya menyemprot deras membasahi wajahku, aku membuka mulutku menerima semprotannya. Setelah semprotannya mereda pun aku masih mengocok dan mengisap penisnya seolah tidak membiarkan setetespun tersisa. Batang itu kujilati hingga bersih, benda itu mulai menyusut pelan-pelan di mulutku. Kami berpelukan dengan tubuh lemas merenungi apa yang baru saja terjadi.

Read More..

BERCINTA DI RUMAH ORTU

Sekedar untuk mengingatkan para pembaca sekali lagi, namaku Irma tapi biasa dipanggil I’in olehorang di rumah. Aku sulung dari 4 bersaudara yang semuanya perempuan. Saat ini usiaku 34 tahun dan adik bungsuku Tita 21 tahun. Aku sangat menjaga bentuk tubuhku, dengan tinggi badan 167 cm dan berat badan 59 kg, tidak ada yang menyangka kalau aku sudah memiliki 2 orang anak yaitu Echa 6 dan Dita 3 tahun. Kalau kata suamiku, teman-temannya sering memuji tubuhku, terutama pada bagian pinggul dan payudaraku yang berukuran 34B hingga terlihat sangat seksi jika sedang mengenakan baju yang pressed body.
Percumbuanku dengan Hasan terus berlanjut tanpa pernah ada halangan yang benar-benar mengganggu, seperti jika suamiku datang dari kota tempat dia bekerja, atau “tamu” wanita yang datang rutin tiap bulannya. Setiap kali bercumbu dengannya aku selalu mendapatkan kenikmatanorgasme yang tak terhingga, mulai dari gaya yang baru sampai tempat-tempat yang selama ini tak pernah kukira akan dapat melakukan hubungan sex di sana hingga itu membuatku semakin merasa terikat dan sulit untuk dapat lepas darinya.
Salah satu tempat yang sangat berkesan olehku adalah saat kami berdua melakukannya di rumah orang tuaku. Itu semua berawal dari keberangkatan kedua orang tuaku kekota Bpp karena ada keluarga yang akan menikah, rencananya mereka akan menginap satu malam di sana. Atas permintaan Tita, aku dan kedua anakku diminta bermalam karena dia takut kalau harus sendirian. Selain itu atas izin ayah kami, Hasan diminta Tita untuk bermalam dan keberadaanku di sana bertindak untuk menjaga kalau sampai mereka kelepasan.
Ternyata Hasan memiliki kejutan yang dia persiapkan begitu mendengar kalau aku juga akan ikut bermalam di sana. Malam itu sekitar jam 20:10, kami baru saja selesai makan malam. Setelah menyikat gigi, aku menidurkan kedua anakku di kamar yang dulu kutempati. Setelah 10 menit aku yakin kalau kedua anakku telah tertidur pulas, aku mematikan lampu dan keluar pelan-pelan dari kamar itu.
Saat sampai di depan TV aku mencari Tita, tapi dia tidak ada di sana sementara Hasan sedang asyik di sofa sambil tidur-tiduran di sana. Lalu aku mencarinya di dapur, kuketuk pintu WC, di sana tidak ada juga. Akhirnya aku kembali ke ruang tengah.
“Geser dikit San.. Kamu lihat Tita nggak..?” tanyaku padanya.
“Sudah tidur Kak..” jawab Hasan sambil duduk.
“Tumben sudah pulas jam segini.. Biasanya juga jam 10? komentarku.
Hasan tersenyum mendengar perkataanku, lalu dia merapatkan posisi duduknya ke tubuhku. Sementara matanya menatap tajam ke arahku dari atas sampai ke bawah. Walau tahu sedang dipelototi aku pura-pura cuek sambil menonton TV.
Malam itu aku mengenakan T-shirt tipis tanpa lengan yang lebih mirip singlet warna putih dengan dalaman BH warna hitam. T-shirt itu agak longgar, tapi tidak dapat menyembunyikan bentuk lekukan yang menonjol di dadaku. Tipisnya kain T-shirt dan BH yang kupakai membuat bentuk puting susuku secara samar bisa terlihat. Dengan belahan dada T-shirt yang rendah membuat kedua payudaraku akan terlihat dengan jelas jika sedang membungkuk sedikit saja.
Bawahanku adalah celana ketat selutut yang juga warna putih. Celana ketat itu memamerkan keindahan garis tubuhku pada bagian bawah. Lekukan pinggul dan pantatku yang sekal tercetak secara nyata di celana yang kukenakan saat itu. Sebenarnya aku memakai semua itu untuk menyenangkan Hasan, tapi aku tak mau mengatakannya karena aku sengaja ingin membuatnya menjadi panas dingin. Selain itu aku tak ada rencana untuk bercinta dengannya karena kondisi yang kurang mendukung, apa mau dikata rencana tinggal rencana.
“Kakak seksi banget malam ini.. Aku jadi terangsang nih” bisik Hasan di telingaku sebelah kiri.
“Jangan San.. ini di rumah ayah..” aku menolak sambil mendorong dadanya dengan kedua tanganku.
“Nggak apa Kak.. Toh mereka juga nggak bakal tahu..” kata Hasan sambil meremas payudaraku.
“Mmmh.. Tapi.. Ada.. Tita di kamar.. Kalo dia.. Akkh.. Bangun.. Gimana..?” ujarku sambil mencoba menahan kedua tangannya yang mencoba menelusup ke dalam T-shirt yang aku kenakan.
“Tenang aja Kak.. Aku udah masukin obat tidur ke dalam teh yang dia minum tadi.. Kalo kakak nggak mau.. Aku tidur sama Tita aja dah..”
Mendengar perkataannya itu, aku kaget bukan kepalang. Selain masalah obat tidur, aku takut kalau Hasan akan benar-benar meniduri Tita malam ini. Selang beberapa waktu aku tenggelam dalam pikiranku, dan saat aku sadar ternyata tubuhku bagian atas tinggal tertutup oleh BH yang kaitannya telah terlepas.
“Oke San.. Kakak mau.. Tapi jangan disini..” pintaku pada Hasan.
“Terserah kakak aja..” kata Hasan sambil menghentikan kegiatannya.
“Setengah jam lagi kamu masuk ke kamar.. Kakak mau siap-siap dulu..”
Hasan mengangguk, lalu mengangkat tubuhnya yang sedang menindihku yang sudah setengah telanjang. Setelah mengenakan kembali BH dan T-Shirt yang tadi dipreteli oleh Hasan, aku langsung berdiri. Saat hendak melangkah, tiba-tiba Hasan merangkul pinggulku, kepalanya langsung tenggelam di pangkal pahaku sementara kedua tangannya meremas pantatku. Aku mendesah saat merasakan lidahnya yang menusuk-nusuk celana tipis yang kukenakan. Selang 5 menit kemudian Hasan melepaskan tubuhku dan membiarkan aku berjalan ke kamar.
Masuk ke kamar orang tuaku, pintu langsung kututup dan kulepaskan semua kain yang melekat di tubuhku kemudian dengan setengah berlari aku masuk ke toilet yang terdapat di kamar tersebut. Kuambil sabun sirih khusus untuk membersihkan alat vital wanita lalu kubersihkan kelaminku dengan sabun itu. Sekitar sepuluh menit kemudian aku keluar dan langsung duduk di meja rias ibuku. Kuperhatikan tubuhku di cermin, sepasang payudara berukuran 34B yang montok dan kenyal menggelantung indah dan menggairahkan. Kuturunkan mataku ke bawah, liang senggamaku yang merah terlihat dengan jelas tanpa terganggu oleh rambut kemaluan yang baru tumbuh pendek. Itu karena beberapa hari yang lalu rambut itu telah dicukur habis oleh suamiku.
Kuambil parfum khusus wanita milik ibu dan kusemprotkan ke beberapa bagian tubuh. Seluruh bagian leher, ketiak, payudara, perut dan paha. Semua itu adalah bagian tubuh yang biasa dijilat Hasan jika sedang mencumbuku. Tanpa mengenakan dalaman, kukenakan kimono tidur milik ibuku dan mengikat tali di pinggangnya. Kukecilkan volume cahaya kamar agar menjadi lebih romantis. Saat akan bercinta dengan suami saja aku tak pernah melakukan persiapan seperti saat itu, Hasan benar-benar telah membiusku. Setelah itu aku naik ke atas kasur. Kupeluk guling sambil menunggu Hasan masuk, aku merasa deg-degan seperti saat melalui malam pertamaku dengan suami.


Selama beberapa saat aku tidak merasakan ada gerakan, ini membuatku hendak membuka mata karena penasaran. Tiba-tiba aku merasakan angin hangat pada pangkal pahaku, kubuka mataku sedikit, ternyata angin hangat tadi disebabkan oleh Hasan yang bernafas di selangkanganku. Pasti dia sedang menikmati wangi sabun sirih yang kupakai barusan. Hembusan nafas dari hidungnya bertiup ke arah pintu liang vaginaku. Ini menimbulkan sensasi nikmat tersendiri dalam tubuhku.
Hasan terus menghembuskan nafasnya di bagian bawah perutku, rasa geli dan nikmat bercampur menjadi satu dan merangsang tubuhku. Aku mencoba bertahan dan melawan kenikmatan yang terus menyerang, tapi tubuhku berkata lain. Kurasakan ada cairan hangat yang mengalir keluar dari lubang kemaluanku, padahal Hasan hanya menghembuskan nafas saja tanpa melakukan penetrasi yang lain.Seiring keluarnya cairan hangat dari liang kenikmatanku, udara hangat dari hidung Hasan mulai naik ke atas. Udara itu berputar-putar sejenak di lubang pusar, kemudian menjelajahi setiap jengkal kedua payudaraku, bergerak ke atas lagi hingga ke leher. Di sini dia bergerak bolak-balik dari kanan ke kiri. Semua perbuatan Hasan itu membuatku semakin terangsang dan hampir saja kehilangan kontrol, berkali-kali aku ingin mengerang saat hidungnya menggesek-gesek puting susuku.“Sampai kapan mau tidur Kak..?” bisik Hasan di telinga kiriku sementara salah satu tangannya memelintir puting susuku sebelah kanan.“Aucch.. Sshh.. Ampuun Saan.. Aku dah banguunn” erangku sambil membuka kedua kelopak mata.Astaga ternyata Hasan sudah hanya mengenakan CD. Wajah Hasan tampak jelas sekali di hadapanku, ada senyum nakal penuh kemenangan di sana. Kubalas senyumnya dan dengan penuh hasrat kulingkarkan kedua tanganku di lehernya. Kutarik wajah Hasan lebih mendekat ke arahku sampai bibir kami berdua bertemu dan langsung beradu.Bibir Hasan langsung saja melumat bibirku seakan ingin menelannya, lidahnya menusuk ke dalam rongga mulutku dan mencari-cari lidahku. Aku tak mau kalah, kujulurkan lidahku untuk menggelitik rongga mulut Hasan, ia terpejam merasakan seranganku. Tapi dia tak membiarkan aku mengendalikan permainan kami malam itu, dia melepaskan ciumannya dari bibirku dan menciumi wajahku sesuka hati. Sesekali dia mengulum bibirku, lalu menjilati wajahku. Aku semakin mengeratkan rangkulan tanganku pada lehernya.Ingin rasanya aku menjerit sekeras mungkin saat merasakan cumbuannya yang semakin liar saja, setelah menggerayang ke leher bibirnya terus turun hingga sampai ke atas payudaraku. Aku menahan nafas manakala bibirnya mulai menciumi kulit di seputar buah dadaku. Lidahnya menari-nari dengan bebas menelusuri kemulusan kulit sepasang payudaraku yang sekal dan menggairahkan. Nafas Hasan menderu semakin kencang disertai suara kecipak mulutnya yang dengan penuh hasrat melumat payudaraku yang montok seolah ingin merasakan setiap inci kekenyalannya.
Dari bibirku meluncur desisan dan rintihan nikmat, sementara tanganku meremas rambut Hasan dan menekan kepalanya ke dadaku. Rangsangan maha dahsyat menghajar tubuhku manakala bibir Hasan mulai menjilat dan mengulum puting susuku yang telah mengeras. Dengan lihai lidahnya menyapu seluruh permukaan putingku secara bergantian, aku mengerang halus tiap kali bibir Hasan berhenti di salah satu puting susuku. Kemudian ia mulai menyedot-nyedot putingku yang malang itu sebelum mengakhirinya dengan sebuah gigitan halus dan menariknya perlahan dengan giginya yang putih.Saat Hasan melakukan itu, puting susuku yang lain tidak dibiarkannya menganggur begitu saja. Dengan nakal jari-jari tangan Hasan memilin dan memelintir puting susuku ini. Dan jika dia telah menggigit salah satu di antaranya, maka tangannya akan memencet puting yang lain dan menariknya dengan penuh gairah. Dan itu dilakukan Hasan bergantian kepada kedua puting susuku secara berulang-ulang. Perbuatannya itu makin membuatku lupa daratan dan serasa melayang-layang di awan.
“Saann..!” Jeritku lirih memanggil namanya saat untuk yang kesekian kali, puting susuku disedotnya kuat-kuat.
Aku menggelinjang kegelian. Hisapan itu nikmat luar biasa. Selangkanganku semakin basah dan meradang. Tubuhku menggeliat-geliat bagai ular kepanasan mengimbangi permainan lidah dan bibir Hasan di buah dadaku yang terasa semakin menggelembung keras.
“Oohh Kak.. Teteknya bagus banget.. Mmphh.. Wuih.. Montok banget..” rayu Hasan sambil terus memainkan sepasang payudaraku.
Tubuhku terus menyambut hangat setiap kecupan mesra bibirnya. Badanku melengkung dan dadaku kubusungkan untuk mengejar kecupan bibir Hasan. Lalu kudorong kepala Hasan ke bawah menyusur perutku. Dia mengerti dengan apa yang kuinginkan saat ini. Dengan nafas menggebu-gebu, ia mulai bergerak. Kedua tangan Hasan menyelusup ke bawah tubuhku dan mencekal pinggang, mengangkat pinggulku dan meloloskankimono yang tersangkut di bawah kemudian mencampakkannya entah ke mana.
Kini aku benar-benar telanjang bulat tanpa sehelai benang pun yang menghalangi. Kulirik Hasan yang terpesona memandangi ketelanjanganku. Gairahku semakin meletup melihat tatapan penuh birahi Hasan, membuatku begitu bangga dan tersanjung. Walau sudah sering melihatnya, tetap saja Hasan terkagum-kagum jika melihatku dalam keadaan telanjang seperti ini. Mataku melirik ke bawah melihat tonjolan keras di balik CD-nya. Dadaku berdegup, selangkanganku berdenyut dan semakin membasah oleh gairah membayangkan batang keras dibalik CD-nya.
“Saann.. Nnghh.. Jangan diliatin aja.. Dingin nih..” rengekku manja dengan gaya yang genit. Hasan seperti tersadar dari lamunannya, dan mulai beraksi lagi.
“Abisnya badan kakak seksi banget sih.. Gak bosen aku ngeliat ni badan kalo lagi telanjang..” katanya seraya melepaskan CD hingga kini kami sama-sama telanjang.
Kulihat batang kejantanannya yang keras itu meloncat keluar seperti ada pernya begitu lepas dari kungkungan CD. Mengacung tegang dengan gagahnya, besar dan panjang. Terlihat olehku otot-otot melingkar di sekujur batang itu. Aku sudah tak sabar lagi ingin merasakan kekerasannya dalam genggamanku. Yang dimiiki Hasan ini membuat punya suamiku seperti milik anak kecil saja. Segera kusambut tubuh Hasan yang menindih badanku lagi.

Aku langsung menyambut hangat ciuman Hasan sambil merangkulnya dengan erat. Ciuman itu benar-benar membuatku terhanyut oleh gairah yang semakin meninggi. Terlebih lagi saat kurasakan batang kejantanan Hasan yang keras menggesek-gesek perutku, gairahku semakin meledak-ledak dibuatnya. Hasan kembali menciumi buah dadaku, kurasakan dan kuresapi setiap remasan dan hisapannya dengan penuh kenikmatan. Aku tak mau berdiam saja dimanja seperti itu.
Dengan nakal tanganku menggerayang ke sekujur tubuh Hasan, bergerak perlahan namun pasti ke arah batang kemaluannya. Hatiku berdesir kencang saat merasakan batang nan keras itu dalam genggamanku, kutelusuri mulai dari ujung sampai ke pangkalnya. Jemariku menari-nari lincah menelusuri urat-urat yang melingkar di sekujur batang kejantanannya. Kudengar Hasan mengeluh panjang. Kuingin dia merasakan kenikmatan yang kuberikan. Ujung jariku menggelitik moncongnya yang sudah licin oleh cairan. Lagi-lagi Hasan melenguh, kali ini lebih panjang.
Tiba-tiba saja dia membalikkan tubuhnya, kepalanya persis berada di atas selangkanganku sementara miliknya persis di atas wajahku. Kulihat batang kejantanan Hasan bergelantungan, ujungnya menggesek-gesek wajahku hingga dengan refleks mulutku langsung menangkap batang kejantanan itu. Kukulum pelan-pelan dengan penuh perasaan. Hasan sepertinya tidak mau kalah dengan gerakanku yang agresif. Lidahnya menjulur menelusuri garis memanjang bibir kemaluanku.
Hal ini membuatku terkejut, tubuhku bergetar seakan diserang listrik. Kurasakan darahku berdesir kemana-mana, sementara lidah Hasan bermain semakin lincah. Menjilat, menusuk-nusuk, menerobos rongga rahimku. Ini membuatku seperti melayang-layang di atas awan. Nikmatnya sungguh tidak terkira, pinggulku tak bisa diam mengikuti kemana jilatan lidah Hasan berada.
Tubuhku seperti dialiri listrik berkekuatan tinggi. Gemetar menahan desakan kuat dalam tubuhku. Aku semakin tak tahan menerima berbagai kenikmatan yang dibuat oleh lidah Hasan. Perutku mengejang, kakiku merapat, menjepit kepala Hasan. Seluruh otot-ototku menegang, dan jantungku serasa berhenti berdetak. Sekuat tenaga aku bertahan sampai akhirnya tubuhku tak mampu lagi menahan kenikmatan gelombangorgasme yang meledak-ledak.
Diiringi jeritan lirih dan panjang, tubuhku menghentak berkali-kali mengikuti semburan cairan hangat dalam liang kewanitaanku. Aku terhempas di atas ranjang dengan tubuh lunglai tak bertenaga. Lagi-lagi puncak kenikmatan orgasme yang kuraih bersama Hasan terasa dahsyat dan luar biasa.
“Oohh.. Ssann.. Nghh.. Enak sekali..” rintihku tak kuasa menahan diri.
Mengapa kenikmatan seperti ini tak bisa lagi kudapatkan dari suami yang sangat kucintai, yang ada hanya rasa menggantung jika sedang bercumbu dengannya. Semenatara Hasan memberikan kenikmatan tak terhingga setiap kali kami bercinta. Sambil menetralisir nafasku yang naik-turun tak karuan, kulihat Hasan tersenyum di bawah sana. Dia pasti sangat bangga dengan kehebatannya bercinta karena selalu mampu membuatku mencapai puncak kenikmatan orgasme yang sejati.
Hasan tahu bahwa suamiku tidak dapat memuaskan tubuhku seperti saat dia mencumbuku. Aku tak bisa berbuat banyak, karena kuakui kalau aku sangat membutuhkannya saat ini. Membutuhkan apa yang sedang kugenggam dalam tanganku ini, benda yang berulang kali telah memberikan kenikmatan lebih daripada apa yang kurasakan barusan. Hasan masih menjilati sisa-sisa cairan yang keluar dari liang senggamaku.
Jemariku meremas-remas kembali batang kejantanannya. Kukocok perlahan lalu kumasukkan ke dalam mulutku, kukulum dan kujilat-jilat. Kurasakan tubuh Hasan meregang dan dari mulutnya keluar rintihan kenikmatan. Aku tersenyum melihatnya seperti itu, aku ingin memberi kepuasan pada Hasan seperti dia telah memuaskan tubuhku. Kulumanku semakin panas, lidahku melata-lata liar di sekujur batang kejantanannya.
Terdengar suara kuluman mulutku, sementara Hasan terus merintih-rintih keenakan. Dia menggerakkan tubuhnya di atasku seperti sedang bersenggama, hanya saja saat itu batang kelaminnya menancap dalam mulutku. Kuhisap dan kusedot kuat-kuat, tapi dia belum memperlihatkan tanda-tanda akan segera mencapai klimaks. Mulutku mulai terasa kaku karena kelelahan sementara gairahku mulai bangkit kembali, liang kemaluanku sudah mulai mengembang dan basah lagi. Sementara batang kejantanan Hasan masih tegak dengan gagah perkasa, bahkan lebih keras.
“Udah Kak.. Ganti posisi aja ya..” kata Hasan seraya membalikkan tubuhnya dalam posisi umumnya bersetubuh.
Dasar pejantan tangguh pujiku dalam hati. Hasan memang piawai dalam bercinta, padahal baru sebulan kami berhubungan, dia sudah sepandai ini, batinku. Dia tidak langsung memasukkan batang kelaminnya dalam lubang vaginaku, tetapi digesek-gesekkan dahulu di sekitar bibir kemaluanku. Dengan sengaja ia menekan seperti hendak dimasukkan, tetapi kemudian di gesekan kembali ke ujung atas bibir vaginaku hingga menyentuh klitoris. Ngilu, enak dan entah apa rasanya.
“Saann.. Aduuhh.. Aduuhh saann! Sshh.. Mmppffhh.. Ayo saann.. Masukin aja.. Nggak tahann..” pintaku menjerit-jerit tanpa malu.
Aku hampir mencapai orgasme lagi saat membayangkan betapa nikmatnya saat batang kemaluan Hasan yang perkasa itu mengisi liang kewanitaanku yang masih rapat dan singset terawat.
“Udah nggak tahan ya.. Kak..” candanya hingga membuatku blingsatan menahan nafsu.
Aku gemas sekali melihatnya menyeringai seperti itu. Aku langsung menekan pantat Hasan dengan kedua tanganku sekuat tenaga. Hasan sama sekali tak menyangka akan hal itu, ia tak sempat lagi menahannya. Maka tak ayal lagi batang kejantanan Hasan melesak ke dalam liang kewanitaanku. Aku segera membuka kedua kakiku lebar-lebar, memberi jalan seleluasa mungkin bagi batang kelamin perkasa itu. Terasa batang kejantanan itu sangat sesak sehingga membuat liang kewanitaanku terkuak lebar-lebar.
Kulihat wajah Hasan terbelalak tak menyangka akan perbuatanku. Ia melirik ke bawah melihat seluruh batang kemaluannya telah terbenam dalam liang senggamaku. Aku tersenyum menyaksikannya, Hasan balas tersenyum.
“Kakak nakal ya.. Awas.. Ntar aku bikin mati keenakan..” ujarnya.
“Mau doongg..” jawabku genit sambil memeluk tubuh kekarnya.
Hasan mulai menggerakkan pinggulnya, pantatnya kulihat naik turun dengan teratur. Kadang-kadang digoyang-goyangkan sehingga ujung batang kemaluannya menyentuh seluruh relung-relung vaginaku. Aku turut mengimbanginya, pinggulku berputar penuh irama. Bergerak patah-patah, kemudian berputar lagi. Efeknya luar biasa, Hasan memuji-muji goyanganku. Dia belum pernah melihat aku begitu bergairah sampai bisa bergoyang sehebat ini.


Aku semakin bergairah, pinggulku terus bergoyang tanpa henti sambil mengedut-ngedutkan otot vaginaku. Ini membuat Hasan merasa batang kejantanannya seperti dikulum-kulum dalam jepitan liang senggamaku.
“Akkhh.. Kaa.. Eennaakkhh.., hebaathh.. Uugghh..” erangnya berulang-ulang.
Sementara tangan Hasan semakin kuat meremas-remas dan memilin-milin puting susuku dan bibirnya terus menyapu seluruh wajahku hingga ke leher, Hasan semakin mempercepat irama tusukannya, kurasakan batang kejantanannya yang besar keluar masuk liang senggamaku dengan cepatnya. Aku berusaha terus mengimbangi kecepatan gerak pinggul Hasan, dan harus kuakui permainan Hasan sangat luar biasa. Aku bisa merasakan bagaimana rasa nikmat yang berawal dari liang kewanitaanku mulai menjalari seluruh tubuhku, tanda bahwa puncak orgasme mulai merasuki tubuhku.
Sementara Hasan nampak berusaha keras untuk bertahan, padahal tubuhnya juga mulai mengejang-ngejang tak karuan. Aku merasa kalau dia juga hampir mencapai klimaks. Pinggulku meliuk-liuk semakin liar, sementara pantat Hasan mengaduk-ngaduk kewanitaanku semakin cepat. Semakin cepat tak beraturan, sehingga aku yakin kalau dia akan segera mengeluarkan sperma hangatnya dalam liang kenikmatanku.
Tetapi secara tiba-tiba saja aliran kencang berdesir dalam tubuhku. Nampaknya tubuhku juga sudah hampir tidak tahan menerima rangsangan Hasan terus-menerus. Liang kenikmatanku terasa merekah semakin lebar, kedua ujung puting susuku semakin mengeras, mencuat berdiri tegak. Bibir Hasan langsung menangkapnya, dan menyedot kuat-kuat kemudian menjilatinya dengan penuh nafsu. Aku membusungkan dadaku sebisa mungkin dan oohh.. Rasanya aku tak kuat lagi bertahan.
“Ssaann..! Cepat keluarin doonng..!” teriakku sambil menekan pantatnya kuat-kuat agar kejantanannya lebih masuk ke selangkanganku.
Beberapa detik kemudian tubuhku bergetar hebat, diiringi oleh gelombang rasa nikmat tak terhingga saat cairan hangat menyembur dari liang kewanitaanku. Bersamaan dengan itu, tubuh Hasan bergetar keras yang diiringi semprotan cairan hangat dari batang kejantanannya di dalam liang kewanitaanku.
Hasan langsung memeluk tubuhku erat-erat, dengan penuh perasaan aku membalas pelukan itu. Kami lalu bergulingan di ranjang merasakan kenikmatan puncak permainan cinta ini dengan penuh kepuasan. Kami merasakan dan meresapinya bersama-sama, peluh yang membasahi tubuh kami berdua menjadi satu dan tak kami pedulikan lagi. Bantal dan guling berjatuhan ke lantai. Sprei berantakan tak karuan terlepas dari ikatannya.
Eranganku, jeritan nikmatku saling bersahutan dengan geraman Hasan. Kakiku melingkar di sekitar pinggangnya, sementara bibirnya terus menghujani sekujur wajah dan leherku dengan ciuman-ciuman lembut. Aku masih bisa merasakan kedutan-kedutan batang kejantanan Hasan yang perkasa menggesek dinding vaginaku. Nikmat sekali permainan cinta yang penuh dengan gelora nafsu birahi ini.
Aku termenung merasakan sisa-sisa akhir kenikmatan ini. Tak kusangka kalau aku akan berhubungan badan dengan Hasan di kamar orang tuaku. Dia memang seorang laki-laki jantan yang selalu memberi kejutan setiap kali kami bercinta. Setelah itu kami berdua tertidur dengan posisi aku menindih tubuhnya, sementara batang kejantanannya masih menancap di dalam liang kewanitaanku.
 
Read More..

ANTARA JAKARTA DAN PALEMBANG

"Kamu cari saya kesini kalau berani, dari Palembang naik bis jurusan km 13 trus turun di km 9" sahut pacar saya sambil menutup telepon setelah tanpa kabar selama hampir sebulan. Oh ya, panggil saja saya Erik, dan yg diatas pacar saya panggil saja Dini. Pertama kali ketemu di pertemuan antar rekan kerja bapa, sekitar akhir desember lah. Saat itu masih segar segarnya lulus SMA dan lagi sibuk ngurus masuk kuliah, sedang Dini baru lulus SMP
Ngantuk-ngatuknya nguping orang2 tua pada bicara, tiba tiba muncul Dini bawain minuman ke ibunya, seerrr bagai kesetrum mata langsung seger dan dia sepertinya melihat perubahan diri saya.

"Dini, ini Erik" kata bapa saya sambil memperkenalkan diri saya "Rik, ini Dini anak pak Baskoro". Saya julurkan tangan dan astaga hangat sekali tangan mungil ini, tangannya yang hangat atau diriku yang dingin ketakutan. Kami langsung ngobrol berdua tanpa ada yang nyambung sama sekali, diriku yang baru lulus SMA dan Dini yang belum tau sama sekali. Tapi entah kenapa kami terus ngobrol berdua bahkan agak memisahkan diri dari ngoborolan orang2 "tua", waktu terasa cepat sekali berlalu tanpa terasa enggan rasanya buru-buru berpisah dengan bidadari didepan diriku.

Dini memang tidak terlalu cantik dengan postur tubuh yang biasa saja dan kulit agak gelap, tapi senyumnya manis sekali. Dengan memandangi wajahnya seolah masuk kedalam lautan yang sangat dalam tanpa ujung hingga kadang kadang nafas terasa sesak dan sulit bernafas. Misterius sekaligus mempersona.

Kami kemudian sepakat berpacaran walau sama sekali belum paham arti kata tersebut, bagi kami pacaran hanyalah sekadar membagi waktu berdua dan berbagi cerita. Pertemuan demi pertemuan diisi dengan saling bercerita panjang lebar tanpa ujung pangkal yang jelas. Walau terkesan tanpa makna setiap kali selalu diakhiri rasa enggan untuk berpisah jauh. "Dini cuman di Tangerang rik, naik motor palingan 30 menit nyampe" batinku meyakinkan diri.

Akhirnya suatu kali saya memberanikan diri menciumnya didepan rumahnya, walau hanya dipipi. Dia kelihatan kaget sekali dan langsung masuk kerumah tanpa keluar lagi. Saya kebingungan dan akhirnya pulang ketika Dini tidak keluar lagi sampai larut malam. Kemudian tiba tiba Dini menghilang tanpa ngomong apapun, kata ibunya dia pergi ke tempat neneknya di Palembang. Ini semua salah saya, Dini masih terlalu kecil, ah...tapi kenapa nga bilang apa apa langsung menghilang begitu saja...seribu pikiran berkecamuk di benakku...

***********************************
Tiga jam sudah berlalu sejak bus yang saya tumpangi meninggalkan Jakarta. Tanpa saya sadari perut terasa lapar dan saya lalu mengeluarkan bekal roti di tas ransel kecilku. Sambil makan saya melihat ke luar jalan, pohon rindang seakan berlomba saling mendahului berlarian di pinggiran jalan, dari kejauhan tampak orang lalu lalang. Lalu tiba tiba pemadangan berubah jadi kota kecil, sepertinya menjelang Merak atau, entahlah pikiran ku seakan kosong, lelah entah harus berpikir apa lagi, ataupun kenapa saya sampai nekad naik bus ke tempat yang belum pernah sama sekali saya kenal.

Sambil mengikuti penumpang lain saya pun turus bus sambil menuju ke tempat perlabuhan feri, ratusan penumpang berjejalan entah dari mana saja seakan tumpah sekaligus di antrian panjang yang penuh sesak. Takut terpisah dari rombongan sesama bus yang saya tumpangi, saya pun mencoba konsentrasi berusaha mengingat wajah mereka, sambil mencari jalan melalui lautan manusia yang sama sama berusaha naik keatas feri.

"Mas, sebelah sini" tiba tiba panggil seorang wanita yang tidak fasih di ingatan saya, " rombongan kita disini mas" lanjutnya. "Memangnya kita satu bus mbak?" tanya saya."Ya ampun, saya dari tadi duduknya sebelah mas, masa nga ingat? saya lihat sih dari tadi melamun terus, apa masalah apa sih sampai orang yang duduk disebelah aja nga ingat?"sahutnya lagi. Aku langsung sadar dan berusaha memastikan wajah didepan saya. "Oh iya, maaf, agak pusing dikit", jawab saya sambil menjulurkan tangan ," Erik" . "Linda", balasnya, " emang ada masalah apasih sampai bengong gitu seharian?, masalah cewe yah " godanya sambil tersenyum.

Linda memang terlihat agak tua dari saya, dilihat dari wajahnya sekitar 25an, postur tubuh agak tinggi dah wajah yang putih cerah. Astaga masa dari tadi ada wanita secantik ini duduk disamping saya, sambil membatin.
Sambil menawarkan minuman kaleng Linda terus saja bicara, bercerita tentang dirinya, tentang karirnya sebagai sekretaris di salah satu media cetak di Jakarta, tentang macetnya jalan, tentang apa saja, sementara saya terus saja diam sambil memandangi wajahnya yang "menawan".

Ternyata dia ke Palembang dalam rangka melarikan diri dari pacarnya, dia belum siap untuk nikah sementara sang pria sudah pengen ngelamar ke ortunya. Aneh batinku, saya ke Palembang untuk menemui pacarku yang "kabur" karena.. (... entah karena apa....) sementara didepanku ada lagi cewe lain yang menghilang menghindari nikah. Apa semua wanita di dunia ini emang suka kabur, batinku.

Dari ceritanya ternyata dia agak menyesal bertemu dengan pacarnya, terlalu egois katanya, selalu mau menang sendiri tanpa menghiraukan kepuasan orang lain. Saya mengangguk tanpa memahami sedikitpun apa yang dimaksudnya. Jangan jangan Dini juga sama saja kabur karena saye egois menciumnya tanpa minta ijin lebih dulu, yah...andai waktu itu minta ijin dulu....
Tanpa terasa feri pun tiba di pelabuhan Bakauheuni, dan penumpangpun kembali antri turun kapal. "Sini mas" tarik Linda, "jangan bengong terus, kalo sampai ketinggalan bus bisa berabe", saya jawab dengan anggukan pelan sambil berusaha konsentrasi. "okay ini dia, naik yuk" sahutnya yang langsung saya ikutin dari belakang.

Terlihat pantatnya yang padat berisi dah indah,.. lebih tepatnya bukan terlihat tetapi terasa karena tanpa sengaja wajah saya menabrak dari belakang. Sejenak tercium aroma yang agak asing tapi menyenangkan, entah kenapa wajah saya terus menempel sampai akhirnya terlepas kerena sama sama sudah naik ke bus. Sambil membimbing saya ke kursi kami wajahnya kelihatan agak merah terkadang melirik agak aneh balik ke saya.

"Gantian mas saya duduk dekat jendela mas ditengah " sambil masuk ke kursi dekat jendela sementara saya duduk disampingnya. Kemudian saya menoleh kedepan dan belakang, ternayata kami duduk di kursi paling belakang pas di depan toilet bus sementara kursi depan dan sebelah samping terlihat kosong, "Pantes saya nga ingat apa apa memang nga ada orang lain" batin saya lagi."Mikirin apa mas, hayo, bengong lagi deh. Tapi kayanya bengongnya lain kaya tadi" cecarnya sambil tersenyum manis. Saya hanya menunduk tanpa bepikiran apapun.

Bus kemudian melaju meninggalkan pelabuhan dan langit diluarpun terasa makin gelap. Entah kenapa pikiran kembali kalut, namun berbeda dengan sebelumnya, kali ini disertai rasa takut dan was was. "Aduh udah mau gelap nih " ujarnya seakan memahami isi hati saya, "sebenarnya naik bus paling bahaya kalau sudah gelap gini, mana busnya nga nyalain lampu, untung mas yang duduk disebelah saya" katanya tersenyum sambil menyenggol bahu saya. Entah kenapa di cahaya yang remang remang ini wajahnya terlihat cantik sekali, badan saya langsung panas seolah mau demam tinggi.

Dari senderan kursi depan lalu Linda mengeluarkan selimut yang kelihatannya sudah disediakan, mengingat busnya memang full ac dan agak dingin. Kemudian digelarnya menutupi kami berdua sambil seolah menggigil. Lalu tiba tiba tangannya meraih tanganku "dingin yah" katanya sambil melihat kewajahku. Tatapannya terlihat aneh, seakan melekat diwajahku, ini memebuatku tambah grogi ditambah lagi tidak terlihat tanda akan melepaskan tangan atau matanya. Kemudian dia akhirnya berusaha merebahkan diri ke kursi sambil mengatur senderan, setelah kelihatan agak nyaman kembali wajahnya kembali menatapku, sejenak mengganti setelan kursi saya supaya sama sama bisa menyandar.

"Rik, saya memang lebih tua dari kamu, dan ngak sepantasnya panggil kamu mas. Tapi bisa nga kamu untuk sekarang ini saja seolah kamu lebih tua dari saya. Saya lagi kesepian butuh tempat untuk melepas beban dihati. Maukan?, " tanyanya setengah berbisik kemudian membaringkan kepalanya dibahuku.
Jantungku seakan mau meledak rasanya, kepala jadi pusing dan seluruh badan seperti dipanggang diapi, sedang dianya terus menempel manja selayaknya seorang anak kecil pada ayahnya."Kok tegang amat, yang rileks dong, nga bisa tidur kalau gini" sambil membelai dada saya, yang membuat diriku jadi tambah serba salah.

Seakan tau keadaaan saya dia pun tersenyum dan tiba tiba mencium perlahan pipiku, saya serasa mau pingsan tanpa tau musti melakukan apa,"rileks" katanya lagi sambil kemudia membelai rambut saya.
Selimutpun agak dinaikkan sampai ke dagu, kemudian kepalaku ditariknya kebawah kemudian mulailah dia menciumku. Mulai dari wajah, mata, hidung, dahi, sampai akhirnya dilumatlah bibir saya. Tangannya pun tidak tinggal diam, dari dagu perlahan ke leher balik lagi ke pipi terus dibelainya, sayapun menjadi agak tenang tanpa tau harus berbuat apa.

Ciuman diteruskannya semenit lima menit, sepertinya sudah satu jam, tanpa lelah terus mencium bibir dah wajah saya, tanpa saya sadari ternayata tangannya yang sebelah sedang memegang bajunya sendiri, sambil dimasukkan dan terus membelai, dari dada, turun ke perut, kemudian ditariknya tanganku dan dibimbingnya masuk ke bajunya yang entah kapan sudah setengah dibuka. Terasa bulu yang sangat halus di perutnya, seakan menari di sela jariku, kemudian dinaikkan ke dadanya, lalu tanganku dilepasnya ternayata dia berusaha membuka penutup dadanya tanpa berhenti mencium terus mencium bibirku.

Lembut sekali, lebih lembut dan empuk lagi, tanpa diperintah tanganku bertindak sendiri membelai memeras pelan, memuntir, sejak kapan tanganku bisa begini, boro boro megang liat aja belum pernah kaya apa yang disebut "tete". Dari sebelah kiri berganti kekanan terus ke perut, perlahan seperti melukis diatas mentega, lembut, halus dan hangat sekali.
Nafasnya semakin cepat, mungkin secepat diriku, tapi aku lebih mikirin dadanya yang terus saya belai dengan perlahan dan lembut sekali, sesekali memuntir putingnya, kemudia dengan satu tarikan ditariknya kepalaku ke dadanya dan terpampanglah pemandangan indah di wajahku. Kayanya semasa bayi aku pernah menyusu di ibuku tapi perasaannya lain sekali, dan memang saya tidak ingat sekali bagaimana rasanya waktu bayi dulu.

Penasaran kemudian saya cium dadanya perlahan, kemudian saya cium lagi belahan dadanya, ke putingnya "isap" bisiknya, lalu seakan jadi bayi lagi saya rengut putingnya dengan lahap, saya isap jilat, sambil terus membelai yang sebelahnya lagi, sesekali lidahku mempermainkan putingnya, memutar mendorong, apa waktu kecil lidah saya ada seperti begini batinku.
Sambil terus menghisap, menjilati, memuntir, saya lihat tangannya sudah beralih ke roknya, yang merumbai.

Dinaikkannya roknya sehingga terlihat celana dalamnya yang berwarna putih, agak gelap memang dibawah selimut, tapi cukup terang kelihatan warna putihnya,dimasukkannya jari kedalam celana dalammya, sambil menggigit bibir karena takut terderngar penumpang lain. Tanpa melepaskan dadanya, terus saya perhatikan tangannya yang sudah masuk lebih dalam lagi sambil terlihat jarinya berusaha gerak namun karena posisinya agak susah lalu di tariknya lagi.

Kemudian dilepaskan mulutku dari dadanya kemudian di tatapnya lekat sambil dicium pelan. "bentaryah netenya"
Agak sedikit membungkuk dilepasnya celana dalamnya kemudian diraih talipinggangku, dibukanya dengan perlahan tanpa suara perlahan sekali. Kembali dia memandang dan menciumku, lalu tangannya dimasukkan kecelana dalamku, ditariknya kembali, ternyata didalamnya agak "basah" lalu dilap tangannya ke roknya dan kembali dimasukkan. Perlahan di belai belai terus dikeluarkan lagi kai ini aku disuruh agak berdiri lalu di pelorotinlah celanaku sampai kelutut, kemudian celana dalamku.

Belum hilang rasa kagetku tiba tiba rasa dingin menjalar ke tubuhku, seakan akan "basah" saya lihat kedalam selimut ternyata kemaluanku sedang dihisap olehnya. Agak geli rasanya kemudian rasa dinginpun hilang diusir panas yang lebih tinggi dari pertama tadi. Pikiranku serasa diawang awang, seluruh badanku serasa bergetar lembut, sambil terus dijilatin diciumin pangkal dan ujung kemaluanku sementara tangannya membelai ke bijinya, dilahapnya sambil terus dihisap seakan ada sesuatu didalamnya yang ingin dikeluarkan, kemudian dinaikkan dan diturunkan, isapan dan jilatan dan entah apa lagi yang pasti aku hampir berteriak dan akhirnya ujung selimut saya gigit keras menahannya.

Pikiranku melayang tanpa terkendali, segala macam pikiran dan benak seolah berkecamuk jadi satu, anehnya tidak ada satupun yang menyangkut ke pacarku bahkan namanyapun tak teringat, tidak...tidak bisa di ingat sama sekali.... dalam kepalaku hanya ada Linda...Linda...Linda...Lindaaa.....ah..... Kemudian tiba tiba bus berhenti dan lampu dinyalakan. Serentak kami langsung bangun dan berusaha merapikan baju, kemudian bertingkah seolah terganggu tidurnya.

Ternyata bus berhenti di sebuah rumah makan disamping jalan."Kita istirahat satu jam, yang mau ke kemar kecil silahkan, yang mau makan juga silahkan" teriak sang supir disertai gerakan para penumpang yang hampir serentak bergerak turus dari bus, sementara saya dan Linda seperti baru melihat hantu dan kemudian "kruuukkk,,,,," suara perut ku dan Linda berbunyi nyaring sekali. Sambil melirik kami kemudian bangun dan merapikan diri. "Ayo makan" tarik Linda, dan kami pun turun mengikuti penumpang lainnya.

Linda memesan nasi rendang dan minuman buat kami berdua, tak lama kemudian pelayanpun datang dan tanpa bicara panjang kamipun melahap makanan sambil sesekali menari napas panjang, seperti orang yang kelaparan seusai maraton. Sesekali Linda melirik dan tersenyum, akupun tersenyum tanpa berhenti makan. Pertama kali dalam hidupku nasi yang saya makan seolah tak habis habisnya dan buru buru sekali saya lahap seakan tidak ingin lama lama makan. "Pelan pelan mas, waktu masih banyak kok, lagian kayanya nga enak kalo nga bisa santai makannya" katanya sambil tersenyum. Namun ucapan maupun senyumnya seakan tanpa arti sama sekali hanya menambah keinginanku untuk menghabiskan makan secepatnya. Akhirnya habis juga dan saya hirup es teh manis pesanan Linda dengan perasaan puas seperti orang yang barusan selesai tugas maha penting, kemudian saya liat ke dia sambil tersenyum.

Di rumah makan yang terang ini betapa saya lebih kagum melihat wajahnya yang ternyata cantik sekali, tanpa cacat, halus dan sempurna sekali, diapun tertawa kecil terseyum dan kembali menyendokkan nasi kedalam mulutnya yang manis. Waktu berjalan pelan sekali, setiap suapan dan gerakan mengunyah terlihat dalam gerak lambat, setiap desah napasnya, kerdipan matanya, seperti sedang melihat orkestra, semuanya terlihat sangat serasi dan indah sekali. Mimpi apa aku semalam bisa bertemu dengan wanita secantik ini, biar umurnya lebih tua 5 tahun dariku ...tidak,,..jangankan 5, 10 tahun lebih tuapun rasanya sepadan denganku, aku harus bisa mendapatkannya, persetan dengan pacarku yang entah namanya apa, yang demi dia saya sampai menyeberang pulau, saat ini jangankan nama, wajahnyapun tak terlintas dibenakku, yang ada hanya makhluk ciptaan Tuhan yang super cantik dihadapanku saat ini.

"Sruutttt" suaranya minum dari sedotan memabangunkanku dari khalayanku. Saling membalas senyum kamipun berpegangan tangan, tangannya dan tanganku saling meremas.
Setelah membayar kamipun bergerak naik kembali keatas bus, lalu keberanikan diriku berbisik padanya "Lin, jujur kamu nga masalah saya lebih muda darimu?", "kenapa?" tanya dia memandangku kaget. "Saya harus jujur, saya jatuh cinta padamu, untuk pertama kalinya dalam hidupku saya jatuh cinta, memang saya ada pacar, tapi saya tidak pernah tau apa artinya cinta, dan mungkin saat ini pun saya tidak tau apa sebenarnya cinta itu.

Yang saya tau saat ini aku tidak ingin jauh darimu, ingin selalu berdua denganmu, dan untuk pertama kali dalam hidupku aku menemukan arti dalam keberadaanku. Saya memang masih muda dan masih kurang pengalaman, tapi saya pasti bisa belajar dan berusaha, bukan buat kesuksesan atau kepuasan diriku, tapi untuk membahagiakanmu. Aku ingin hidup demi senyummu, saya tidak perlu yang lain dari dirimu, hanya kebahagiaanmu dan senyumanmu yang ingin kuberikan,..". Linda terbengong, mulutnya menganga besar seolah kaget kemana perginya bocah yang baru bermesraan dengannya dibus, " Rik, kamu nga tau wanita seperti apa saya, jangan terlalu cepat ambil keputusan sepenting itu dalam hidupmu,..." .

" Saya tidak sedang melamarmu Linda kalau itu maksudmu, seperti yang saya bilang tadi, saya hanya ingin dekat denganmu, memberi kebahagiaan padamu, saya memang masih terlalu mudah untuk menikah ataupun memahami arti kata itu, yang saya ingin hanyalah dekat denganmu, bisa setiap hari melihat wajahmu, ingin kujaga senyummu agar tetap diwajahmu. "... "Sa..ya.. tidak tau harus bilang apa rik, saya pikirkan dulu. Sebaiknya jangan terburu buru begitu, kasih saya waktu ." sahutnya sambil masuk ke tempat duduknya, dan akupun kembali duduk disampingnya.

Ketika bus kembali bergerak, diapun kembali berbicara "Rik, saya tidak tau apa yang aku inginkan, terus terang selama ini laki laki yang saya temui, mereka hanya memikirkan dirinya masing masing, bertindak baik padaku hanya untuk kepuasan diri mereka, ketika kamu tanyakan apa yang aku inginkan, saya tidak tau harus bilang apa.." ."Kalau begitu, jangan bilang apa apa, saya juga tidak tau haru berbuat apa, bahkan kalau boleh bilang, yang saya tau, tidak ada sama sekali.

Tapi aku ingin cari tau, ingin belajar, dan kalau kamu memang nga tau juga, bagaimana kalau kita sama sama cari tau, sama sama belajar, walau saya masih muda dan kurang tau, tapi saya ingin tau, ingin belajar, aku ingin tau arti sesungguhnya kata cinta, dan aku ingin mencarinya bersamamu. Jangan pikirkan diri saya, pikirkanlah dirimu. Kalau kamu ingin bahagia, ingin cinta, tapi tidak tau artinya, maukah kamu mencari tau, dan belajar bersama denganku. Saya tidak tau apa yang akan terjadi dengan masa depan kita berdua, tapi saya ingin berusaha, ingin tau dan ingin belajar." Lindapun terdiam dan terlihat merenung, .................

*********************************
"Dini..." nama itu tiba tiba terngiang di kepalaku, setelah sekian tahun akhirnya terlintas juga nama itu. Andai saat itu aku tidak naik bus ke Palembang ....
" HAYOOO!!!!, lagi menghayal apa lagi, udah punya cucu masih menghayal terus, nga sembuh sembuh penyakitnya." sahut sebuah suara yang selama ini menemani hidupku."Engga Nek, kakek cuman bayangin andai dulu tidak naik bus itu", ujarku sambil melihat wajahnya, senyumnya, walau kini penuh keriput demikian juga diriku, namun dimataku tidak ada berubah sama sekali, masih ceria, cantik, dan bahagia seperti tiga puluh tahun yang lalu.

Kuraih tangannya dan kubimbing ke dadaku, "Nek, udah ketemu belum arti kata cinta?" tanyaku " entar cucumu kalo nanya itu kamu mau jawab apa?" . "Cinta? untuk tau artinya cinta dibutuhkan usaha, harus terus belajar, ingin tau, antara satu sama lain. Apa arti sesungguhnya, saya tidak tau, yang pasti, saya bahagia, karena ada orang yang ingin berusaha, ingin tau dan ingin belajar bersama ..."
Read More..

PARUH BAYA TANTE TITIN

Cerita yang gue buat ini bener2 true story...Darimana gue dapetnya..??Kebanyakan sih aku alamin sendiri atau yah sekedar berbagi pengalaman ama temen..jujur gue sendiri juga ga nyangka kalo ini bakal terjadi ama gue...


tante titin..menurut gue sih orang nya biasa,ga cantik..malahan face nya agak kelaki-lakian..tapi bukan masalah gue juga sih..awal nya sih aku memandang juga biasa-biasa aja,secara itu kan bude nya calon bini gue( Sekarang Udah jadi Bini )...tapi pandangan itu brubah ketika gue ngeliat dia lagi tidur siang secara ga sengaja daster yang dia pake kesingkap..sehingga paha yang selalu tertutup itu akhirnya kelihatan..namun aku ga berani lama2 memandang soalnya takut ketahuan POLDA....


Semenjak kejadian itu perasaan ku aneh kalo lagi deket ma tante titin,entah itu pas nganter dia belanja,atau pas lagi nonton televisi...sampai suatu saat dia mau balik ke kos'an nya di daerah SDA,seperti biasanya gue di suruh nganter,setelah sampe depan kos'an nya,tante titin nawarin aku masuk,aku ngerasa aneh,karna nga biasanya kayak gitu,ya itung2 di luar mau hujan gede akhirnya aku mampir lah sejenak,saat aku masuk aku ngerasa ada yang aneh,kos'2 an nya ternyata sepi banget,terus gue tanya ma tante titin,” Kok sepi banget tante kos'an nya..pada kemana” Tante Titin “ biasa kok dic,temen2 pada pulang kampung,aku sendirian agak takut...,kamu mau nga temenin tante sebentar..?” ya langsung aja gue jawab “ iya ga apa2 kok tante “.


dic aku mandi dulu ya..kalo kamu mau makan ada sossis di kulkas yang bisa kamu ambil,kata tante titin sambil ngeloyor ke kamar mandi,karna gue boring iseng2 gue nonton televisi,akhirnya ga lama kemudian entah gue capek atau kenapa gue ketiduran,ga selang beberapa lama gue tidur gue ngerasa ada yang lagi jilatin n sedot-sedot k*ntol gue...setelah gue buka mata,gue kaget setengah mati..ternyata tante titin lagi di bawah sambil nyepong k*ntol gue...karna gue kaget gue buru2 cabut K*ntol gue yang masih nancep di mulut nya sambil gue tanya '” tante lagi ngapain..? “ trus dia jawab “ km tenang aja,tante udah tau kok kalo kamu sebenernya kamu suka curi2 pandang ke tante kan...”.”tapi tante,tante kan belum nikah...kok tante mau ngelakuin ini sama aku..?” “ya ga apa2 donk...lagian tante tuh sebenernya penasaran gimana sih rasanya orang ngent*t” “Wih,Gila nih pikirku...bagai dapet rejeki nomplok nih..dapet tante2 yang masih perawan lagi..maklum lah meskipun umurnya udah 34 tahun,tante titin belum merried n belum pernah pacaran,padahal kalo secara face sih nga jelek2 banget....”


abis itu gue akhirnya berdiri n gue lepas semua baju gue...terus gue suruh tante titin sepongin K*ntol gue,”arghh...yess..terus tante..enak....terus tante...tante pinter..ouch..”karna gue takut crots duluan akhirnya aku suruh tante titin lepasin sepongan nya terus gue preteli satu persatu baju yang dia pake,mulai dari blus sampe celana panjang nya...dan hanya tinggal Bra ama CD doank...abis itu aku ajak aja tante titin ke kamar mandi,maklum kos'2an nya kecil gan,bisa gawat kalo sampe di cek ama bapak/ibu kos nya...


abis itu setelah nyampe kamar mandi,gue pretelin juga CD ma Bra nya tante titin,trus gue suruh duduk di kloset angsa....abis itu gue jilmek tuh meqi perawan....sampe akhirnya dia menggerang “ ahhh...shhhh...ouchh....enak dic,terusin dic...ayo sayang lebih dalem lagi jilat nya..ouch...sshhhh...ahhhh” saking ke-enakannya akhirnya tante titin mengalami orgasme yang pertama kali yang ga pernah dia alamin sebelum nya... “ ahhh...shhh..ouchhh..dic,aku mau .piiiii....piiissssss.....ahhhh , crots..crots...crots....cairan itu menyembur dan kujilat sampe habis..ternyata peju perawan emang gurih banget..enak gan....


setelah beberapa lama,setelah tante titin pulih dari capek nya..akhirnya aku suruh tante titin berdiri...”tante gantian aku yang duduk ya tante” “ OK,terus aku sepongin kamu lagi yah” “kok sepong terus tante,emang tante ga mau ngerasain gimana enak nya batang aku masuk ke memiaw nya tante apa..?” kataku, “tapi aku takut dic,ntar kalo hamil gimana..aku kan ga enak juga..”,”tante nga usa takut..aku janji nga akan sampe hamilin tante kok,gimana tante mau kan..?”,”Gimana yah....ok deh tapi pelan2 yah..soalnya tante belum pernah...”,”iya tante tenang aja” kataku,dalam hati gue ngomong “ asik gue dapet perawan lagi...”


Akhirnya setelah aku rangsang lagi...memiaw nya tante titin becek lagi...setelah ambil posisi...akhirnya...aku tancepin batang ku pelan-pelan ke memiaw nya tante titin “ Aw..Sakit dic ”, “sebentar tante tahan ya sakitnya nga lama kok” , setelah beberapa lama diem di tempat,akhirnya gue suruh tante titin maju mundurin pantatnya “ shhh..ahhh...ouchh...yes...enak dic...terus ...dalemin lagi dic....ouch.....yeah...ashhh....shhhh enak dic.........” , “ gimana tante?enak nga rasanya..? “ iya dic,enak banget..ouch..shhhh...” ceracau nya...


setelah lama dengan gaya itu akhirnya aku suruh tante turun dari dudukan nya....aku suruh dia nungging di lantai...aku bilang “ tante coba gaya lain ya..dijamin lebih enak “, “terserah kamu aja deh dic,aku ok2 ajah”....its doggy time...setelah tante titin nungging,akhirnya aku masukin k*ntol aku ke memiaw nya tante titin..dan bener apa dugaan gue...tante titin emang masih virgin..aku lihat darah netes2 dari samping dalam paha nya....tapi aku ga ada urusan..yang pentin genjot terus....


ouch..ah....shhh..enak banget tante memeiw nya...peret banget.....,kamu juga dic k*ntol kamu nikmat banget...bkin tante melayang-layang...,setelah beberapa lama gaya doggie akhirnya gue ga tahan juga...ouch...yah..ashh..tante aku mau keluar nih...tante lagi subur nga....?..nga dic,jawab nya..aku keluarin di dalem ya tante....,iyah ..tante juga mau keluar..ouchh..ahhh..ssshhhhh...ahhhh...crotss..cr ortsss..crostsss..akhirnya aku sama tante titin keluar barengan....aku ngerasa ada yang anget2 lagi melumuri batang ku...sampe akhirnya k*ntol aku mengecil dan keluar dari sarangnya sendiri...


setelah itu kita mandi bareng,dan ga lupa juga gue ma tante titin main sekali lagi di kamar mandi....gaya duduk,berdiri,doggie,samping semuanya di lakuin sampe ga kerasa udah malem banget....setelah memakai pakaian aku dan tante titn ngobrol2 di tempat tidur..ga lupa juga aku sambil grepe2...dan sebelum aku pulang..tante titin sepongin K*ntol aku di balik pintu,biar ga keliatan orang...ternyata dia mau minum semua peju yang aku keluarin di mulutnya..”wih enak bener” katanya.


Semenjak kejadian itu,aku sering mampir ke kos'an tante titin,ya meskipun agak jauh sih...tapi ga apa2lah...sampai pada akhirnya aku dikabari bahwa tante titin udah menikah dan ikut suaminya ke kediri,tapi kalo ada pertemuan keluarga,kita sering curi2 kesempatan berdua di kamar mandi,atau pun di halaman belakang rumah calon bini gue....ga nyangka banget...


sekian dulu cerita gue...sebenernya masih banyak pengalaman2 gue yang ga sengaja namun itu terjadi...tunggu ja next tread gue yah..


thanks..For...attention...
Read More..

PARUH BAYA ANAK KU MENCINTAIKU


Bu Supiyah sangat heran melihat putra tunggalnya, Amir yang setiap malam minggu tak pernah keluar rumah. Justru selalu saja bermanja dengan dirinya. Padahal usianya sudah 24 tahun dan sudah diwisuda jadi sarjana teknis mesin di sebuah institut besar. Amir anak yang cerdas.
"Kamu kenapa tak keluar malam mingguan seperti teman-temanmu, Mir," tanya Supiyah suatu malam. Amir hanya tersenyum.

"Sana kunjungi pacaramu, masak di rumah terus," kata Supiyah lagi.

"Aku gak punya pacar Mam."

"Kamu ini ganteng dan anak pintar, kok gak punya pacar sih?"

"Gak ada yang cocok."

"Kamu mau punya pacar, perempua yang seperti apa sih?"

"Seperti Mami. Cantik dan penuh kasih sayang," kata Amir.

Bu Supiyah yang tersenyum saja. Begitu senangnya dia dipouja-puji oleh anak semata wayangnya itu. Memang sejak kematian suami Supiyah, dia menumpahkan kasih sayangnya kepda putra tunggalnya itu. Dia jalankan perusahaan peninggalan suaminya, justru semakin pesat kemajuannya.


Lama kelamaan, Supiyah heran dan semakin heran saja. Apa mungkin Amir bukan seorng laki-laki yang normal. Supiyah kasihan juga jadinya, jika memikirkan itu. Setiap malam, Amir, selalu merebahkan kepalanya di atas paha ibunya. Bu Supiah pun mengelus-elus kepala Amir dengan penuh kasih sayang dan memanjakan. Mereka sembari menonton TV di ruang tamu.

"Mana mungkin, ada perempuan yang persis Mami, sayang. Cari perempuan yang kamu suka," kata Supiyah.

"Aku hanya mau perempuan yang seperti Mami," katanya.

"Apakah..."

"Ada apa, Mi?"

"Maaf, jangan marah. Apakah kamu tidak normal, sebagai laki-laki?" tanya Supiyah. Setelah mengucapkan kata-kata itu, Supiyah menyesal. Dia takut, kalau putra tungalnya itu jadi marah atau tersinggung.

"Mami, boleh buktikan, apakah aku normal atau tidak," kata Amir.

"Ya buktikan dong. Cari perempuan untuk pacarmu," kata Supiyah.

"Boleh aku berterus terang Mi? Tapi janji tidak marah," kata Amir.

"Mana mungkin Mami marah pda anak Mami. Berterus teranglah," kata Supiyah pula.

"Tapi janji, jangan marah. Jangan sampai Aku berterus terang, Mami tidak sayang lagi padaku. Aku akan pigi, dari rumah dan tidak akan kembali lagi, karena malu. Janji ya Mi?" kata Amir antara terdengar tidak. Suaranya sangat perlahan.

"Berters teranglah. Mami janji tidak akan marah," kata Supiyah.

"Aku mencintai Mami. Aku mau Mami jadi isteriku," kata Amir berterus terang, walau suaranya perlahan dan tersendat.


Bagaikan tersambar petir, Supiyah seperti tak percaya mendengarkan kata-kata anaknya itu. Dia diam sejenak menenangkan perasaannya dan dadanya yang menggemuruh. Ingin dia segera menolak Anaknya dari pangkuannya dan mengatakan tidak. ANcaman Amir akan pergi dari rumah untuk selamanya, membuatnya tak berani menolak kepala Amir dari pangkuannya.
"Mami marah?" tanya Amir dengan suara yang parau dan ragu. Amir sendiri dadanya mengemuruh, takut kalau Maminya marah.

"Apa mungkin kita menikah, sayang. Aku kan Mami mu sayang," kata Supiyah ragu.

"Kita tak perlu menikah mam. Aku hanya ingin menjadi suami Mami dan mami isteriku. Kita suami isteri. Ini rahasia kita berdua," kata Amir semakin mantap. Menetes airmata Supiyah di pipinya. Tetes airmata itu menetes ke wajah Amir.

"Kenapa Mami menangis? Mami marah dan tak suka dengan kata-kataku?" tanya Amir sedikit meningi. Supiyah ketakutan dan menghela nafasnya dengan kuat.

"Mami tidak marah sayang. Tidak marah. Tidak," kata Supiyah.

"Kalau begitu, Mami setuju menjadi isteriku?" kata Amir penuh percaya diri jadinya. Supiyah diam tak mampu menjawa. Dia harus menjawab apa dengan menjaga seluruh perasaan anak tunggalnya itu.

"Kata orang-orang tua, kalau diam, itu pertanda setuju. Jika gadis dilamar tak menjawab, artinya setuju," kata Amir. Hampir saja dada supiyah meledak mendengar kata-kata itu. Apakah itu sebuah lamaran dari anak kandungnya sendiri? Supiyah pun diam seribu basa.

"Terima kasih, Mam. Berarti Mami setuju atas lamaranku. Sejak sekarang, Mami adalah isteriku. Aku akan memanggilmu dengan nama mesra. Sufi," kata Amir. Mendengar itu, airmata Supiyah semakain menderas. Dia tak tau mau berkata apa. Amir pun duduk dan menghapus airmata Supiyah dengan kedua ibujarinya.

"Jangan menangis sayang. Terima kasih atas kesediaanmu menjadi isteriku," kata Amir penuh mesra. Dipeluknya Supiyah yang sudah dia anggap sebagai isterinya. Dikecupnya bibir Supiyah dengan mesra.


Malam itu juga Amir pindah kamar dari kamarnya ke kamar Supiyah. Supiyah tak tau mau berbuat apa. Mereka tidur di atas tempat tidur yang sama. Sebelum terbaring, Amir, membuka pakaian Supiyah dan mengantinya dengan baju tidur biru yang sangat tipis dan halus. Ingin rasanya Supiyah berontak. Tapi dalam hati kecilnya dia ingin juga membuktikan, apakah anakntya Amir memang seorang perjaka tulen atau tidak. Supiyah ditelanjangi dan dipakaiakan pakaian tidur, tanpa bra dan tanpa celana dalam. Amir mengenakan kimono yang tipis jua tanpa pakaian dalam. Melihat penis anaknya itu, hatinya bergetar juga.


Mereka tidur berpelukan. Amir menciumi bibir Supiyah. Mempermainkan lidahnya dalam ronga mulut Supiyah. Perlahan dia meraba dengan lembut tubuh ibunya yang berusia 47 tahun itu. Perlahan dia preteli pakaian ibunya, sampai telanjang bulan. Ketika Supiyah mau melarangnya dengan mesra Amir mengatakan:" Tenang saja sayang. Semuanya akan menjadi indah dan nikmat. Aku mencintaimu dengan tulus Sufi... aku mencintaimu, saang" Berdesir hati Supiyah mendengar rayua anaknya.


Persis 20 tahun dia tak pernah merasakan elusan dan rabaan dari seorang laki-laki setelah kematian suaminya. Kini rabaan dan elusan iotu datang dari anak kandungnya sendiri. Haruskah...

Yah... Supiyah tak mampu menahan gairahnya. Tanpa sadar dia membalas ciuman anak tunggalnya itu. Dia mengelus-elus kepala Amir, saat Amir menjilati pentilteteknya, saat Amir menjilati ketiaknya, menjilati perutnya dan menjilati lubang memeknya dan mempermainkan klitorisnya. Supiyah sudah tak mampu berbuat apa-apa lagi, selain menikmatinya dan memberikan respons pada Amir. Rasa malu seketika hiloang. Supiyah sudah mendesah-desah dijilati oleh anaknya sendiri.

"Sayang... Mamai sudah tak tahan. Ayo dimasuki..." kata Supiyah memohon.

"Panggil aku Papi, sayang. Panggil aku Papi Sufi..." kata Amir.

"Ya.. Papi... ayo dong, Sufi sudah tak tahan," kata Supiyah menurut, seperti kerbau ditusk hidungnya.


Amir menaiki tubuh Supiyah dan mengangkangkan kedua kaki Supiyah. Perlahan ditusuknya penisnya ke lubang Supiyah. Perlahan dan perlahan. Memek yang sudah 20 tahun tak pernah dimasuki itu, merasakan sensasi yang sangat luar biasa. Terasa memeknya penuh dengan masuknya penis anaknya itu. Dia mengoyangnya dari bawah dan emminta Amir semakin cepat menusuknya. Mereka berpelukan erat dan saling memagut bibir. Sepuluh kenit kemudian, Amir melepaskan spermanya di dalam rahim Supiyah, ibunya. Berkelai-kali dan mereka berpelukan. Amir menciumi pipi Supiyah dengan lembut, sebaliknya Supiyah juga membalasnya dengan lembut.

"Terima kasih, papi," kata Supiyah.

"Aku juag berterima kasih Sufi. AKu sangat mencintaimu, Sufi," kata Amir.

Mereka terus melakukannya dengan kasih sayang dan penuh cinta. Sampai akhirnya pada bulan ke empat, Supiyah hamil. Dia sangat takut dan menyesal. Hal itu dilaporklannya pda Amir, agar digugurkan. Amir marah besar. Dia tak mau anaknya digugurkan. Akhirnya mereka mengambil kesimpula, anak itu harus lahir. Pada udia ke lima bulan lebih, Amir diserahi tugas memimpin perusahaan. Supiyah harus ke Singapura selama beberapa bulan. Sampai dia melahirkan anak laki-laki yang ganteng. Setelah anak itu berusia 2 bulan, Supiyah mengirimkan berita kepada teman-temannya, bahwa dia mengadopsi anak dari rumah sakit di Singapura. Dia ingin kembali ke Indonesia dan merayakan anak yang dia adopsi. Amir pun tersenyum, karean ibunya ternyata orang pintar juga.


Di Singapura, SUpiyah operasi peranakan agar tak hamil lagi. Pesta perayaan anak yang katanya anak adopsi itu pun berlangsung meriah dan singkat. Setelah para tamu pulang, AMir membisikkan sesuatru kepada Supiyah.

"Aku ingin menyetubuhimu Sufi. Malam ini," katanya.

"Aku sudah siap Papi sayang. Kita letakkan dulu anak kita ke dalam bos-nya, Kata Supiyah setelah menyusui anak mereka dengan ASI.

Amir dan Supiyah melakukan hubungan suami Isteri. Sebab ketika Amir menjemput Sufi ke Singapura, mereka melakukan pernikahan catatan Sipil di negeri jiran itu.

Amir sangat mencintai Supiyah, akhirnya Supiyah juga sangat mencintai Amir. Mereka bertekad untuk pindah dari kota itu, ke kota ibukota yang lebih bebas.

Read More..