Senin, 02 Juli 2012
BERCINTA DI RUMAH ORTU
Sekedar untuk mengingatkan para pembaca sekali lagi, namaku Irma tapi biasa dipanggil I’in olehorang
di rumah. Aku sulung dari 4 bersaudara yang semuanya perempuan. Saat
ini usiaku 34 tahun dan adik bungsuku Tita 21 tahun. Aku sangat menjaga
bentuk tubuhku, dengan tinggi badan 167 cm dan berat badan 59 kg, tidak
ada yang menyangka kalau aku sudah memiliki 2 orang anak yaitu Echa 6
dan Dita
3 tahun. Kalau kata suamiku, teman-temannya sering memuji tubuhku,
terutama pada bagian pinggul dan payudaraku yang berukuran 34B hingga
terlihat sangat seksi jika sedang mengenakan baju yang pressed body.
Percumbuanku
dengan Hasan terus berlanjut tanpa pernah ada halangan yang benar-benar
mengganggu, seperti jika suamiku datang dari kota tempat dia bekerja,
atau “tamu” wanita yang datang rutin tiap bulannya. Setiap kali bercumbu
dengannya aku selalu mendapatkan kenikmatanorgasme
yang tak terhingga, mulai dari gaya yang baru sampai tempat-tempat yang
selama ini tak pernah kukira akan dapat melakukan hubungan sex di sana
hingga itu membuatku semakin merasa terikat dan sulit untuk dapat lepas
darinya.
Salah
satu tempat yang sangat berkesan olehku adalah saat kami berdua
melakukannya di rumah orang tuaku. Itu semua berawal dari keberangkatan
kedua orang tuaku kekota Bpp karena ada keluarga yang akan menikah,
rencananya mereka akan menginap satu malam di sana. Atas permintaan
Tita, aku dan kedua anakku diminta bermalam karena dia takut kalau harus
sendirian. Selain itu atas izin ayah kami, Hasan diminta Tita untuk
bermalam dan keberadaanku di sana bertindak untuk menjaga kalau sampai
mereka kelepasan.
Ternyata
Hasan memiliki kejutan yang dia persiapkan begitu mendengar kalau aku
juga akan ikut bermalam di sana. Malam itu sekitar jam 20:10, kami baru
saja selesai makan malam. Setelah menyikat gigi, aku menidurkan kedua
anakku di kamar
yang dulu kutempati. Setelah 10 menit aku yakin kalau kedua anakku
telah tertidur pulas, aku mematikan lampu dan keluar pelan-pelan dari
kamar itu.
Saat
sampai di depan TV aku mencari Tita, tapi dia tidak ada di sana
sementara Hasan sedang asyik di sofa sambil tidur-tiduran di sana. Lalu
aku mencarinya di dapur, kuketuk pintu WC, di sana tidak ada juga.
Akhirnya aku kembali ke ruang tengah.
“Geser dikit San.. Kamu lihat Tita nggak..?” tanyaku padanya.
“Sudah tidur Kak..” jawab Hasan sambil duduk.
“Tumben sudah pulas jam segini.. Biasanya juga jam 10? komentarku.
Hasan
tersenyum mendengar perkataanku, lalu dia merapatkan posisi duduknya ke
tubuhku. Sementara matanya menatap tajam ke arahku dari atas sampai ke
bawah. Walau tahu sedang dipelototi aku pura-pura cuek sambil menonton
TV.
Malam itu aku mengenakan T-shirt
tipis tanpa lengan yang lebih mirip singlet warna putih dengan dalaman
BH warna hitam. T-shirt itu agak longgar, tapi tidak dapat
menyembunyikan bentuk lekukan yang menonjol di dadaku. Tipisnya kain
T-shirt dan BH yang kupakai membuat bentuk puting susuku secara samar
bisa terlihat. Dengan belahan dada T-shirt yang rendah membuat kedua
payudaraku akan terlihat dengan jelas jika sedang membungkuk sedikit
saja.
Bawahanku
adalah celana ketat selutut yang juga warna putih. Celana ketat itu
memamerkan keindahan garis tubuhku pada bagian bawah. Lekukan pinggul
dan pantatku yang sekal tercetak secara nyata di celana yang kukenakan
saat itu. Sebenarnya aku memakai semua itu untuk menyenangkan Hasan,
tapi aku tak mau mengatakannya karena aku sengaja ingin membuatnya
menjadi panas dingin. Selain itu aku tak ada rencana untuk bercinta
dengannya karena kondisi yang kurang mendukung, apa mau dikata rencana
tinggal rencana.
“Kakak seksi banget malam ini.. Aku jadi terangsang nih” bisik Hasan di telingaku sebelah kiri.
“Jangan San.. ini di rumah ayah..” aku menolak sambil mendorong dadanya dengan kedua tanganku.
“Nggak apa Kak.. Toh mereka juga nggak bakal tahu..” kata Hasan sambil meremas payudaraku.
“Mmmh..
Tapi.. Ada.. Tita di kamar.. Kalo dia.. Akkh.. Bangun.. Gimana..?”
ujarku sambil mencoba menahan kedua tangannya yang mencoba menelusup ke
dalam T-shirt yang aku kenakan.
“Tenang
aja Kak.. Aku udah masukin obat tidur ke dalam teh yang dia minum
tadi.. Kalo kakak nggak mau.. Aku tidur sama Tita aja dah..”
Mendengar
perkataannya itu, aku kaget bukan kepalang. Selain masalah obat tidur,
aku takut kalau Hasan akan benar-benar meniduri Tita malam ini. Selang
beberapa waktu aku tenggelam dalam pikiranku, dan saat aku sadar
ternyata tubuhku bagian atas tinggal tertutup oleh BH yang kaitannya
telah terlepas.
“Oke San.. Kakak mau.. Tapi jangan disini..” pintaku pada Hasan.
“Terserah kakak aja..” kata Hasan sambil menghentikan kegiatannya.
“Setengah jam lagi kamu masuk ke kamar.. Kakak mau siap-siap dulu..”
Hasan
mengangguk, lalu mengangkat tubuhnya yang sedang menindihku yang sudah
setengah telanjang. Setelah mengenakan kembali BH dan T-Shirt yang tadi
dipreteli oleh Hasan, aku langsung berdiri. Saat hendak melangkah,
tiba-tiba Hasan merangkul pinggulku, kepalanya langsung tenggelam di
pangkal pahaku sementara kedua tangannya meremas pantatku. Aku mendesah
saat merasakan lidahnya yang menusuk-nusuk celana tipis yang kukenakan.
Selang 5 menit kemudian Hasan melepaskan tubuhku dan membiarkan aku
berjalan ke kamar.
Masuk
ke kamar orang tuaku, pintu langsung kututup dan kulepaskan semua kain
yang melekat di tubuhku kemudian dengan setengah berlari aku masuk ke toilet
yang terdapat di kamar tersebut. Kuambil sabun sirih khusus untuk
membersihkan alat vital wanita lalu kubersihkan kelaminku dengan sabun
itu. Sekitar sepuluh menit kemudian aku keluar dan langsung duduk di
meja rias ibuku. Kuperhatikan tubuhku di cermin, sepasang payudara
berukuran 34B yang montok dan kenyal menggelantung indah dan
menggairahkan. Kuturunkan mataku
ke bawah, liang senggamaku yang merah terlihat dengan jelas tanpa
terganggu oleh rambut kemaluan yang baru tumbuh pendek. Itu karena
beberapa hari yang lalu rambut itu telah dicukur habis oleh suamiku.
Kuambil
parfum khusus wanita milik ibu dan kusemprotkan ke beberapa bagian
tubuh. Seluruh bagian leher, ketiak, payudara, perut dan paha. Semua itu
adalah bagian tubuh yang biasa dijilat Hasan jika sedang mencumbuku.
Tanpa mengenakan dalaman, kukenakan kimono
tidur milik ibuku dan mengikat tali di pinggangnya. Kukecilkan volume
cahaya kamar agar menjadi lebih romantis. Saat akan bercinta dengan
suami saja aku tak pernah melakukan persiapan seperti saat itu, Hasan
benar-benar telah membiusku. Setelah itu aku naik ke atas kasur. Kupeluk
guling sambil menunggu Hasan masuk, aku merasa deg-degan seperti saat
melalui malam pertamaku dengan suami.
Aku langsung menyambut hangat ciuman Hasan sambil merangkulnya dengan erat. Ciuman itu benar-benar membuatku terhanyut oleh gairah yang semakin meninggi. Terlebih lagi saat kurasakan batang kejantanan Hasan yang keras menggesek-gesek perutku, gairahku semakin meledak-ledak dibuatnya. Hasan kembali menciumi buah dadaku, kurasakan dan kuresapi setiap remasan dan hisapannya dengan penuh kenikmatan. Aku tak mau berdiam saja dimanja seperti itu.
Dengan nakal tanganku menggerayang ke sekujur tubuh Hasan, bergerak perlahan namun pasti ke arah batang kemaluannya. Hatiku berdesir kencang saat merasakan batang nan keras itu dalam genggamanku, kutelusuri mulai dari ujung sampai ke pangkalnya. Jemariku menari-nari lincah menelusuri urat-urat yang melingkar di sekujur batang kejantanannya. Kudengar Hasan mengeluh panjang. Kuingin dia merasakan kenikmatan yang kuberikan. Ujung jariku menggelitik moncongnya yang sudah licin oleh cairan. Lagi-lagi Hasan melenguh, kali ini lebih panjang.
Tiba-tiba saja dia membalikkan tubuhnya, kepalanya persis berada di atas selangkanganku sementara miliknya persis di atas wajahku. Kulihat batang kejantanan Hasan bergelantungan, ujungnya menggesek-gesek wajahku hingga dengan refleks mulutku langsung menangkap batang kejantanan itu. Kukulum pelan-pelan dengan penuh perasaan. Hasan sepertinya tidak mau kalah dengan gerakanku yang agresif. Lidahnya menjulur menelusuri garis memanjang bibir kemaluanku.
Hal ini membuatku terkejut, tubuhku bergetar seakan diserang listrik. Kurasakan darahku berdesir kemana-mana, sementara lidah Hasan bermain semakin lincah. Menjilat, menusuk-nusuk, menerobos rongga rahimku. Ini membuatku seperti melayang-layang di atas awan. Nikmatnya sungguh tidak terkira, pinggulku tak bisa diam mengikuti kemana jilatan lidah Hasan berada.
Tubuhku seperti dialiri listrik berkekuatan tinggi. Gemetar menahan desakan kuat dalam tubuhku. Aku semakin tak tahan menerima berbagai kenikmatan yang dibuat oleh lidah Hasan. Perutku mengejang, kakiku merapat, menjepit kepala Hasan. Seluruh otot-ototku menegang, dan jantungku serasa berhenti berdetak. Sekuat tenaga aku bertahan sampai akhirnya tubuhku tak mampu lagi menahan kenikmatan gelombangorgasme yang meledak-ledak.
Diiringi jeritan lirih dan panjang, tubuhku menghentak berkali-kali mengikuti semburan cairan hangat dalam liang kewanitaanku. Aku terhempas di atas ranjang dengan tubuh lunglai tak bertenaga. Lagi-lagi puncak kenikmatan orgasme yang kuraih bersama Hasan terasa dahsyat dan luar biasa.
“Oohh.. Ssann.. Nghh.. Enak sekali..” rintihku tak kuasa menahan diri.
Mengapa kenikmatan seperti ini tak bisa lagi kudapatkan dari suami yang sangat kucintai, yang ada hanya rasa menggantung jika sedang bercumbu dengannya. Semenatara Hasan memberikan kenikmatan tak terhingga setiap kali kami bercinta. Sambil menetralisir nafasku yang naik-turun tak karuan, kulihat Hasan tersenyum di bawah sana. Dia pasti sangat bangga dengan kehebatannya bercinta karena selalu mampu membuatku mencapai puncak kenikmatan orgasme yang sejati.
Hasan tahu bahwa suamiku tidak dapat memuaskan tubuhku seperti saat dia mencumbuku. Aku tak bisa berbuat banyak, karena kuakui kalau aku sangat membutuhkannya saat ini. Membutuhkan apa yang sedang kugenggam dalam tanganku ini, benda yang berulang kali telah memberikan kenikmatan lebih daripada apa yang kurasakan barusan. Hasan masih menjilati sisa-sisa cairan yang keluar dari liang senggamaku.
Jemariku meremas-remas kembali batang kejantanannya. Kukocok perlahan lalu kumasukkan ke dalam mulutku, kukulum dan kujilat-jilat. Kurasakan tubuh Hasan meregang dan dari mulutnya keluar rintihan kenikmatan. Aku tersenyum melihatnya seperti itu, aku ingin memberi kepuasan pada Hasan seperti dia telah memuaskan tubuhku. Kulumanku semakin panas, lidahku melata-lata liar di sekujur batang kejantanannya.
Terdengar suara kuluman mulutku, sementara Hasan terus merintih-rintih keenakan. Dia menggerakkan tubuhnya di atasku seperti sedang bersenggama, hanya saja saat itu batang kelaminnya menancap dalam mulutku. Kuhisap dan kusedot kuat-kuat, tapi dia belum memperlihatkan tanda-tanda akan segera mencapai klimaks. Mulutku mulai terasa kaku karena kelelahan sementara gairahku mulai bangkit kembali, liang kemaluanku sudah mulai mengembang dan basah lagi. Sementara batang kejantanan Hasan masih tegak dengan gagah perkasa, bahkan lebih keras.
“Udah Kak.. Ganti posisi aja ya..” kata Hasan seraya membalikkan tubuhnya dalam posisi umumnya bersetubuh.
Dasar pejantan tangguh pujiku dalam hati. Hasan memang piawai dalam bercinta, padahal baru sebulan kami berhubungan, dia sudah sepandai ini, batinku. Dia tidak langsung memasukkan batang kelaminnya dalam lubang vaginaku, tetapi digesek-gesekkan dahulu di sekitar bibir kemaluanku. Dengan sengaja ia menekan seperti hendak dimasukkan, tetapi kemudian di gesekan kembali ke ujung atas bibir vaginaku hingga menyentuh klitoris. Ngilu, enak dan entah apa rasanya.
“Saann.. Aduuhh.. Aduuhh saann! Sshh.. Mmppffhh.. Ayo saann.. Masukin aja.. Nggak tahann..” pintaku menjerit-jerit tanpa malu.
Aku hampir mencapai orgasme lagi saat membayangkan betapa nikmatnya saat batang kemaluan Hasan yang perkasa itu mengisi liang kewanitaanku yang masih rapat dan singset terawat.
“Udah nggak tahan ya.. Kak..” candanya hingga membuatku blingsatan menahan nafsu.
Aku gemas sekali melihatnya menyeringai seperti itu. Aku langsung menekan pantat Hasan dengan kedua tanganku sekuat tenaga. Hasan sama sekali tak menyangka akan hal itu, ia tak sempat lagi menahannya. Maka tak ayal lagi batang kejantanan Hasan melesak ke dalam liang kewanitaanku. Aku segera membuka kedua kakiku lebar-lebar, memberi jalan seleluasa mungkin bagi batang kelamin perkasa itu. Terasa batang kejantanan itu sangat sesak sehingga membuat liang kewanitaanku terkuak lebar-lebar.
Kulihat wajah Hasan terbelalak tak menyangka akan perbuatanku. Ia melirik ke bawah melihat seluruh batang kemaluannya telah terbenam dalam liang senggamaku. Aku tersenyum menyaksikannya, Hasan balas tersenyum.
“Kakak nakal ya.. Awas.. Ntar aku bikin mati keenakan..” ujarnya.
“Mau doongg..” jawabku genit sambil memeluk tubuh kekarnya.
Hasan mulai menggerakkan pinggulnya, pantatnya kulihat naik turun dengan teratur. Kadang-kadang digoyang-goyangkan sehingga ujung batang kemaluannya menyentuh seluruh relung-relung vaginaku. Aku turut mengimbanginya, pinggulku berputar penuh irama. Bergerak patah-patah, kemudian berputar lagi. Efeknya luar biasa, Hasan memuji-muji goyanganku. Dia belum pernah melihat aku begitu bergairah sampai bisa bergoyang sehebat ini.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar