SOPIR VS MAJIKAN
Kadang
aku bingung memahami kehidupan ini. Dulu waktu di desa sebagai bujang
ngejar-ngejar wanita desa aja banyak yang menolak. Eh giliran sekarang
jadi sopir pribadi malah dapat rejeki nomplok. Bisa numpaki dan ngeloni
nyonya majikanku yang cuantiik buanget biar usianya sudah 35. Badan
masih bagus, singset, kulit kuning mulus. Hidung mancung dan di bibirnya
suka muncul bintik-bintik kayak keringat. Syeddapp. Dulu sebelum
numpaki nyonya aku sering curi-curi pandang Demi melihat hidung dan
bibirnya itu. Dia tahu, tapi cuek. Pura-pura kali ya. Wanitakan suka
ditatap penuh nafsu oleh laki-laki. Meskipun oleh sopirnya kayak aku
ini. Memang sih suka menampakkan tampang tidak suka kayaknya sebal gitu
lho, duluu kala, tapi aku nggak percaya kalau dia sama sekali nggak
senang dan tersanjung. Naluri wanitakan sama. Mau babu, mau model iklan,
kalau ada laki-laki yang memperhatikan berarti dirinya masih dinilai
cantik. Wanita kalau nggak ada yang memperhatikan padahal sudah dandan
habis-habisan bisa bete seharian deh. Merana. Mikirin dirinya yang sudah
tidak menarik lagi (meskipun hanya sopir tapi saya pernah belajar
psikologi wanita, dari buku yang kubaca di tukang loak ketika sambil
menunggu tuan belanja waktu itu.
Nyonyaku
katanya eks primadona kampus. Tapi namanya manusia, biar mantan
primadona atau mantan pramuniaga kalau sudah digigit kesepian yang amat
sangat sekali dan sudah tak tertahankan ya harus mencari solusinya.
Boleh jadi orang disekitarnya bisa digoda pula. Ingat kasus nyonya muda
Pondok Indah yang beradu syahwat sama pembantunya yang sudah tua?
Awalnya
suka membentak-bentak memarahi sang bapak pembantu rumah tangga itu eh
lama-lama malah suka dan ketagihan dihentak-hentak oleh si bapak itu
dalam gairah asmara yang ganjil.
Itulah
dunia erotis, susah dicerna tetapi sebenarnya mudah diterima dengan
suatu sudut pandang yang polos. Jadi teorinya sederhana saja
sesungguhnya, bahwa yang namanya syahwat itu adalah suatu naluri dasar.
Naluri yang dibawa manusia sejak lahir ke dunia ini. Dia belum mengenal
adat, tata krama, hukum, dsb. Benar-benar murni. Setelah mulai menjadi
dewasa maka manusia menjadi milik lingkungannya. Harus peduli sama
lingkungan sosialnya. Padahalkan awalnya nafsu itu nggak ada kaitannya
dengan ideologi, sosial, ekonomi, politik, budaya dan hankam segala deh
(inget pelajaran SMP).
Nah
lebih-lebih bila nafsunya itu ternyata memberi pengalaman kenikmatan
yang tiada tara yang tidak didapatkan dari pasangan resminya. Wah tambah
ketagihan deh. Lha yang awalnya diperkosa aja ada yang akhirnya bisa
menikmati, apalagi bagi yang didasari sama-sama butuh. Para pelaku yang
sudah pengalaman merasakan nikmatnya bersenggama pasti pusing deh kalau
lama nggak digauli lawan jenisnya.
Emang
sumpah nggak kepikir di benakku kalau aku orang yang jelek dan
kampungan ini ternyata kebagian juga mendapat anugerah dalam bentuk
wanita cantik. Yaitu bisa menikmati seluruh lekuk tubuh dan khususnya
memek sang eks primadona yang wangi itu. Hehehe. Enak gila. Sudah gratis
eh malah dihadiahin lagi. Nggak usah maksa. Nggak usah merayu. Nggak
usah mikirin kasih makan. Nggak usah rebutan segala. Kebayang dulu
ketika beliau masih mahasiswi, wah pasti seru ajang kompetisinya. Kayak
AFI kali. Yang ngrebutin pastilah ada anak orang kaya, yang ganteng,
yang bonafid, yang playboy, yang aktivis, yang jagoan olah raga, dan
seterusnya. Tereliminasi semua bleh. Rugi mereka. Mending jadi sopir
kayak aku ini nggak usah modal kuliah segala.
Sebenarnya
aku kadang suka melamun (melamun adalah satu-satunya harta kekayaanku)
mencari pemahaman mengenai keadaan ini. Siapa yang salah ya? Tuanku yang
terlalu sibuk cari duit demi menyenangkan hati nyonya, atau nyonya yang
nggak punya kesibukan (emang dari dulu dilarang tuan kerja karena
bisnis tuan masih berjalan dengan baik bahkan cenderung meningkat
pesat).
Sempet
juga aku juga merasa kasihan sama tuanku kalau dia hanya mikirin
bisnisnya melulu. Cari duit banyak-banyak maunya demi kebahagiaan istri
eh malah istri jarang dinikmati alias banyak dianggurin aja. Tahu deh
kalau di luar suka jajan atau nyimpen WIL. Tetapi kalau sampai nyimpen
WIL segala apa ya maksimal pemakaiannya. Paling dipakainya pas lagi
refreshing, itupun kalau sempet. Bisnismen itu pasti lebih banyak sibuk
ke bisnisnya ketimbang ngurusin lain-lainnya. Gitu kali. Tapi yang
penting prinsipku: urusan atas adalah kewajiban tuanku (mulut yang
dikasih makan), urusan bawah (vegy yang dikasih semprotan) adalah
jatahku.
Adilkan?
Menurut kaca mataku sih orang-orang sibuk kayak tuanku itu mending
memperistri babu. Kalau capek pasti dengan suka rela mau mijitin. Nggak
banyak protes. Siap mendengar keluh kesah setiap saat tanpa berani
menyela. Menurutku lhoo. Nah yang cantik-cantik kayak nyonya dan mudah
kesepian itu jodohnya ya laki-laki yang punya banyak waktu luang untuk
memperhatikan dan siap sedia setiap saat kalau dibutuhkan. Misalnya
sopir kayak aku ini. Huahahaha. Tapi masuk akalkan? Gimana nggak masuk
akal.
Orang
seelite tuan pasti sudah biasa ketemu wanita kelas tinggi yang
cantik-cantik. Karena sudah biasa maka ya jadi biasa. Lha orang kayak
aku ini kan selalu melotot dan melongo melihat wanita-wanita sekelas
nyonya. Pasti bawaannya kagum dan kagum melulu. Melamun sepanjang hari
gimana bisa ******* dengan wanita-wanita kelas ini. Sama halnya dengan
nyonya, bergaul sama laki-laki berkelas pasti sudah biasalah. Yang
jarang adalah bergaul dengan laki-laki kasar. Pasti menimbulkan khayalan
erotis untuk bersenggama dengan para lelaki kasar, yang berotot,
ngomong sembarangan, berpeluh kalau bekerja, hidupnya cuma untuk hari
ini, dan bla-bla. Pastilah menimbulkan empati campur sensasi begitu.
Nah
gara-gara sering diminta melayani nyonyaku yang hobi kesepian itu aku
dimanjain dengan hadiah-hadiah mahal. Kadang-kadang sih. Misal dibeliin
baju, sepatu, minyak wangi dan sebagainya yang bermerk. Sekarang aku
kenal baju merk Arrow, kata orang sih harganya ratusan ribu. Tapi aku
nggak berani pakai kalau lagi ada tuan, nanti ditanya kok bisa beli baju
mahal. Masak mau nggak makan setengah bulan demi beli baju semahal itu.
Kan bisa ketahuan, kasihan nyonya. Aku sih paling dipecat. Lha kalau
nyonya dicerai? Apa ya mau ikut aku jadi istri
keduaku.
Pasti enggak mau. Memang lucu juga ya. Urusan perut sama bawah perut
bisa demikian jauhnya. Tapi nggak apa-apa. Mendingan begini. Jauh lebih
menguntungkan bagiku. Dikasih tapi nggak dituntut. Kayak bintang
sinetron yang dituduh memperkosa seorang cewek, disebarluaskan di media
massa. Coba kalau yang memperkosa cuma tukang ojek, preman, kuli, atau
sopir nggak bakalan diberita-beritain besar-besaran sama korban. Nggak
usah dituntut kawin cukup laporin polisi aja (atau malah dipetieskan aja
kasusnya). Lha, apa malah nggak enak. Kalau mau dipenjara ya nggak
masalah. Nggak punya apa-apa ini kecuali kolor. Dibiarkan bebas ya lebih
asyik bisa cari yang lebih ranum lagi. Enak juga sebenarnya yah kaum
‘nothing to lose’ alias kaum yang cuma bermodal nafas ini.

Tiba-tiba lamunanku dibubarkan secara sepihak oleh nyonya.
“Rusmiin.. Hayo sore-sore gini sudah bejo (bengong jorok) ya. Kebeneran, sini masuk kamar, Dear”
Tugas
sampingan sudah memanggil-manggil. Syeddaapp. Kebetulan kami dua hari
ini lagi nginep di villa keluarga di daerah puncak. Tuan seperti biasa
lagi urusan ke luar kota. Anak-anak nyonya pada mau ujian jadi mereka
harus belajar di rumah. Ibunya beralasan mau menengok villa-nya dan
kebun buah-buahannya. Berdua saja kami ini. Makanya nyonya berani
teriak-teriak semaunya ketika mau ngajak ML. Kulihat nyonya sudah pakai
daster tipis putih dan sedang duduk di pinggir ranjang. Kaki kanan
diangkat di bibir ranjang sementara yang kiri menyentuh lantai. Waduh
seksi sekali Yayangku ini.
“Wah sudah nggak sabaran yah Yang?”
“Iya tahu, mau cepetan dirudal ama penismu yang nggak kira-kira gedenya itu. Ayyoo cepetan sinnii. Jangan sok maless gitu aah..”
Aku emang kadang suka menggodanya dengan berlagak malas melayaninya. Kalau udah gitu kemanjaan nyonya suka muncul.
“Iya deh, mau apa dulu nih Say?”
“Jilatin seluruh tubuhku tanpa tersisa. Ini perintah..!”
Lalu
dasternya telah merosot ke bawah secara kilat. Seperti biasa kalau sudah
siap tempur nyonyaku nggak pakai CD dan Bra. Sudah polos total. Dia
tengkurap. Aku mendekat. Kumulai jilatan dari ujung jari kaki.
“Ehm”
Belum
apa-apa. Pelan-pelan sekali kujilat dan kuhisap jari-jarinya satu per
satu. Telapak kakinya. Betisnya yang berbulu agak jarang dan
panjang-panjang. Bikin naik darah.
“Emh..” Mulai ada reaksi. Pindah ke kaki satunya.
“Emh..” Lagi ketika tiba di betis.
Kuteruskan
ke arah paha belakang. Permainan semacam ini memang perlu kesabaran
tersendiri. Di samping itu juga membantuku untuk tidak cepat naik selain
membantunya untuk mulai warming up duluan. Oh ya perlu kuberitahu,
sejak aku didayagunakan begini jadi rajin minum jamu kuat kalau enggak
wah bisa remuklah aku. Kuat banget dan tahan lama sih nyonya mainnya.
“Ahh.. Hemhh..”
Begitu
bunyi mulutnya ketika lidahku mulai mengusap pangkal pantatnya (Mau
enggak ya tuan disuruh begini ama nyonya? Mungkin inilah kelebihanku mau
apa aja. Biarin, gratis dan ueennakk ini. Hehehe.)
Kubikin
lama dalam melulurin area x, kubikinnya libidonya memuncak lebih cepat.
Kupercepat sapuanku. Kuselingi dengan sodokan-sodokan memasuki
celahnya.
“Aauuhh.. Auuhh.. Auuhh.. Ruuss..”
Mulai
kepanasan dia. Basah. Kuremas-kuremas pantatnya yang montok putih
mulus. Lalu kujulurkan tangan kananku menuju punggung. Kuusap sejenak
terus menukik melesak ke bawah, teteknyalah sekarang sasaran sentuhanku.
“Buussyyeet.. Ruuss.. Pentil.. Ooh.. Ya..Yaa.. Pentilku diusap.. Ussaaph.. Ahh”
Aku
merambat naik dan kukangkangi dengan sedikit merapat. Tidak kontak
ketat. Gesekan-gesekan burungku yang masih dalam sangkar celana sengaja
kuarahkan ke pantatnya. Kujilati pinggang, punggung, pundak, leher,
belakang telinga.
Dan, “aahh balikk..” Nyonya membalikkan badannya.
Sebenarnya
aku sudah enggak tahan mengulum bibirnya. Penisku sudah demikian
kencangnya. Tapi ya sabar dah. Belum ada perintah selain menjilat sih.
Kumulai menjilati leher depan, turun ke ketiak yang licin, ke lengan,
telapak tangan, jari, ke dada. Di sekitar itu aku berlama-lama. Kuputari
gunung kembarnya bergantian. Kiri-kanan. Kiri-kanan. Diselingi mengisep
pentilnya.
“Auh..
Auh.. Auhh.. Ah.. Ahh”, tangannya mulai menjambak rambutku dan kadang
ditekan-tekannya kepalaku agar teteknya mendapat kenikmatan paripurna.
Sesek napas juga sih kalau kelamaan. Kucek selangkangannya. Woow, tambah
basah. Kupegang tangan satunya lalu kuarahkan untuk mulai mengusapi dan
memencet rudalku. Menurut dia.
“Kulum,
Dear” Dengan menjatuhkan berat badanku sementara kakinya sudah mulai
mengangkang, tangan kiriku keselipkan dibawah punggungnya, tangan
kananku memegang tetek kanannya, maka kuserbu bibirnya tanpa ampun.
Saling memilin lidah kami. Saling tumpah ludah kami. Sambil
kusodok-kusodokkan burungku yang masih tersimpan dalam sangkarnya tepat
di area tempiknya (memeknya). Gemes aku ingin memasukkan. Tapi ada
kenikmatan juga ketika menyodok namun terhambat.
Meskipun agak sakit juga. Sensasi begini kadang lebih mengasyikkan
ketimbang main masuk langsung. Terus kukulum, kuhisap, kujilat, ambil
napas, lalu serbu lagi. Seperempat jam kami beradu mulut dan bibir.
Setelah mengambil nafas sebentar kukulum hidung bangirnya. Kujilati. Aku
hobi juga mengulum dan menjilati hidung-hidung yang mancung begini.
Kadang kumasukkan (tentu saja tidak masuk, bego) lidahku ke
lobang-lobangnya. Kakinya yang kanan mulai membelit, menumpangi kaki
kiriku.
“Lepass baaju dann celanamuu..”
Kulepaskan
ikatan ragawi kami. Turun dari ranjang untuk menelanjangi diriku.
Polos. Kunaiki ranjang lagi. Kutempelkan penisku mengarah ke bawah
memeknya sehingga dalam posisi masih bebas di luar liangnya. Kutindih
lagi. Kunikmati setiap inchi tubuh halus mulusnya melalui kontak tubuh
kami yang penuh. Kalau bisa tidak ada yang lolos. Kulanjutkan dengan adu
ciuman. Kujilati dagunya, pipinya, kukulum kupingnya. Mendongak-dongak
dia. Desahnya semakin kacau. Jepitan kakinya sudah dua sekarang.
Tiba-tiba tangannya merogoh burungku. Ditekan-tekannya ke arah bibir
liang.
Lalu,
“slep..” Masuklah burungku. Kubiarkan berdiam diri dulu. Aku masih
menikmati kontak total begini sambil menggeliat-geliat. Kuingin
menikmati tekanan tetek-teteknya di dadaku lebih lama. Kuingin menikmati
gesekan-gesekan antar paha, gesekan-gesekan antar perut,
gesekan-gesekan antar kulit. Kupejamkan mataku agar indera sentuhku
bekerja dengan sempurna dalam memberikan sarafku kenikmatan sebuah
persetubuhan.
“Sooddook..”
Tanpa rela kumelepaskan belitanku mulai kupompa memeknya dengan
melengkung-lengkunkan pinggulku. Tangan kiriku menyusup di bawah
punggungnya menggapai pinggir luar tetek kanannya, tangan kananku
menyusup ke bawah menjangkau ujung memek belahan belakang.
Kujawil-jawil.
Kaki-kakinya merangkul kaki-kakiku semakin erat. Digoyang naik turun
pantatnya seirama dengan maju mundurnya sodokanku. Nafas-nafas kami
dalam dan berat dalam mendukung kerja persetubuhan. Erangan-erangannya
meningkahi sodokanku yang kubikin dalam-dalam. Sedalam mungkin. Suara
kecipak cairan memeknya mengiringi maju mundurnya penisku yang memenuhi
liang memeknya. Penuh. Diameter rudalku tak menyisakan sela. Padat dan
kesat. Itulah mengapa nyonyaku jadi keranjingan.
“Cepetin.. Cepetin.. Nyoddookknyaa.. Aah.. Ahh..”
Aku
terus menghujaminya bagaikan antan penumbuk padi yang terus bertalu-talu
berirama konstan. Kuingin melesak lebih dalam lagi. Lebih jauh lagi.
Urat-urat rudalku pasti sebesar-besar kabel listrik kalau bisa dilihat.
“Edaann.. Teruss.. Banggsaatt.. Jembbuut.. Konttoll..”
“Aahh.. Aahh.. Aahh.. Ayoo.. Genjott.. Teruss.. Teruss”
Kejorokan
nyonyaku sudah tidak asing lagi di telingaku ketika persenggamaan
sedang mendaki puncak. Akan menambah daya hentak dan meluapkan
sensasi-sensasi paling primitif sang nafsu yang dimiliki makhluk hidup.
Dengan cepat dan kasar kubalikkan tubuhnya tengkurap lalu buru-buru
kusodokkan lagi rudalku ke memeknya melalui belakang. Kubelit lagi
dirinya. Kususupkan kembali kedua tanganku menjangkau tetek-teteknya
secara menyilang. Kuremas-kuremas dengan kasar. Kususupkan kepalaku di
samping lehernya. Kuendus dan kuhisap leher jenjangnya yang wanginya
telah pudar karena leleran keringat.
“Plak..
Plok.. Plak.. Plok..” bunyi pantatnya beradu dengan selangkanganku.
Kurangsak. Klitorisnya lebih mudah kugasaki dari belakang. Kupercepat
tonjokan-tonjokan ke klitorisnya. Semakin menggila dia.
“Bajingann..
Sopirr.. Dassarr.. Teruss.. Yah.. Yah.. Bangsat.. Kamuu.. Adduh..
Ennakk.. Uahh.. Uahh.. Auhh.. Ahh.. Eaarghh.. Mmpphh.. Ooh..”
Semakin cepat kedut-kedutan memeknya memijiti rudalku. Dan, “aahh.. Hh.. Aku keluaarhh.. Russ.”
Mengejang
dia dan terangkat pantatnya kuat-kuat. Namun masih saja kugasaki sampai
beberapa detik akhirnya menyemburlah pancaran magma dari rudalku.
“Jrrott.. Jroott.. Crrott ” Liangnya kupenuhi dengan semburan-semburan
maniku. Lemas. Masih kutumpangi dia. Tersengal-sengal nafas kami.
Kugesek-kegesekin hidungku ke lehernya.
****
Awal bagaimana akhirnya kami memadu
asmara begini yaitu ketika setelah mengantar anak-anaknya sekolah.
Ketika berangkat mengantar anak-anaknya sekolah nyonya duduk sama yang
kecil di belakang. Yang gede di depan di sampingku. Mereka kelas 5 dan
kelas 2. Cewek semua. Pada jalan pulang nyonya duduk di depan. Dia
memintaku untuk tidak langsung pulang. Dimintanya aku masuk tol dalam
kota. Kami berputar-putar beberapa kali. Rupanya sudah agak lama dia
sebenarnya ingin curhat. Berhubung nyonyaku membatasi pergaulannya sejak
menikah demi suaminya, maka pergaulannya jadi amat terbatas. Sebatas
keluarga dan para pembantu-pembantunya, termasuk aku sebagai sopirnya.
Sehingga ketika nggak tahan untuk bercurhat maka akulah yang tersedia
untuk menjadi sasaran tumpahan emosinya. Lebih mudah dan lebih terjaga
kerahasiaannya karena dilakukan di luar rumah, sambil keliling-keliling
seperti sekarang ini. Rupanya jatah dari tuan baik dalam bentuk
perhatian maupun keintiman dirasanya kurang. Nyonya memaklumi kesibukan
tuan, namun sebagai wanita yang masih kuat kebutuhan emosi dan
biologisnya menuntut jatah yang normal ketimbang cuma sebulan sekali
atau paling banter 2 kali. Tidak terus terang sih ngomongnya, tapi
diserempetin.
“Kamu sama isterimu berapa kali dalam sebulan berkasih-kasihan, Rus?”
“Seminggu sekali atau ya bisa dua tiga kali, Nya.”
“Wah bahagia sekali dong isterimu ya.”
“Ya namanya kewajiban suami untuk membahagiakan isteri mau gimana lagi.”
Lalu diam seperti melamun. Waktu aku
mau oper gigi persneling rupanya tanpa sengaja tanganku menyinggung
pahanya. Baru kusadari rupanya nyonya duduknya agak mepet ke tongkat
persneling. Aku minta maaf. Nyonya diam saja. Seerr juga aku sebenarnya.
Tapi aku mana berani memikirkan kejadian barusan. Entah ini sudah
putaran yang ke berapa tapi nyonya masih minta diputerin lagi. Kalau ada
yang tahu berapa kali kami muterin Jakarta pasti mikir ini orang mau
jalan-jalan tapi maunya irit ya. Sekali bayar tol tapi puas muter-muter.
Ketika mau pindah gigi lagi aku sebenarnya sudah agak sungkan-sungkan
tapi harus kulakukan karena aku
sudah mengurangi kecepatan.
Semoga
sudah geser duduknya. Eh hayyaaah, kesenggol lagi. Busyet ini nyonya
kayak nggak peduli atau sengaja. Sempet kurasakan tadi kalau yang
kesenggol bukan kain, lebih halus dari itu, pura-pura nengok spion
sebelah kiri maka dengan sudut mataku kucoba cari info apa yang
sebenarnya kusenggol tadi apakah benar kulit manusia. Nyonyaku ikut
nengok melihat spion kiri. Kesempatan dalam waktu sedetik kulihat ke
lokasi persenggolan tadi.
Benar.
Deg. Ternyata pahanya yang kesenggol tadi. Wah rok nyonya kok telah
tersingkap. Sadar nggak ya dia. Kubiarkan. Ternyata rok yang dipakai ada
belahan tinggi di sisi kanan, dan kini belahannya ternyata telah
menyibakkannya diri sedemikian rupa sampai.. Pangkalnya. Deg. Deg. Wah.
Eh secepat kilat nyonya membalikkan kepalanya ke arahku dan ada senyum
tipis. Matanya menatapku tanpa sepatah katapun. Terus kembali lurus
menatap jalan di depan.
“Nggak
apa-apa kok” Modar kowe. Meriang panas dingin sekarang hawa tubuh yang
kurasakan. Sebagai lelaki bangkitlah keberanianku mencandainya.
“Nggak apa-apa gimana, Nya?”
“Nyenggol-nyenggolnya tadi itu.”
“Maaf gak sengaja, Nya.”
“Sengaja juga nggak apa-apa.”
“Ah nyonya, mana berani.”
“Lho, inikan dikasih ijin. enggak mau ya sama aku? Ya sudah kalo gitu”
“Wadduh Nya, mana ada lelaki yang sebodoh itu. Nyonya itu cantik banget. Saya minder di dekat nyonya, sungguh.”
“Ah masak sih.”
Tiba-tiba
tangan kiriku diraihnya dan disentuhkan ke pahanya. Yang kesenggol
tadi, ingat? Ehhm, kutatapnya dia. Saya balasannya. Mulai berani
kugerakkan tangan kiriku yang beruntung itu, lebih menyerupai mengelus.
Nyonyaku mulai bersandar. Agak dimajukan duduknya sehingga pahanya
semakin mudah kujangkau. Coba kutelusuri menuju pangkal. Merem dia. Agak
ke dalam lagi. Lalu sampai pangkal.
“Ah.”
Lenguhan pendeknya keluar. Kuusap-usapnya pangkal pahanya, tempat sang
memek bersemayam. Mendesah dia. Tiba-tiba tangan kanannya menerobos ke
pangkalanku juga.
“Oh, gede punyamu, Min.”
“Bagilah dirimu denganku selain istrimu, maukan Rus?”
Aku
diam. Semua ini terjadi mendadak. Lalu aku nafsu dan mengangguk. Dan
kami terus saling mengusap sampai bocor bersama. Sebenarnya sejak
kejadian itu dia menyatakan menyesal karena telah berbuat sejauh itu
yang tidak terbayangkan sebelumnya. Dia berjanji untuk tidak
mengulanginya karena akan menyakiti hati suaminya dan isteriku kalau
ketahuan nanti. Akupun setuju.
Tapi
waktu jua yang akhirnya mengalahkan kami sesuai kodrat alam yang minta
dipenuhi. Akhirnya kami mengulanginya dan mengulanginya lagi sampai
akhirnya benar-benar alat vital kami beradu. Pernah aku sarankan untuk
mencari gigolo-gigolo saja yang tampan dan keren daripada aku yang hanya
bagian dari kumpulan manusia kasar, jelek dan rendah. Dia hanya
menggeleng. Mungkin dia ingin kerahasiaannya lebih terjaga kalau
berhubungan dengan satu orang saja. Orang terdekatnya. Apakah demi
status sosialnya atau martabatnya atau nama baiknya. Entahlah. Atau
takut menjurus ke arah kecanduan, cenderung ingin mencoba-coba berbagai
jenis pria. Entahlah. Atau memang sudah tercukupi kebutuhannya.
Entahlah.
Atau memang bagian dari fantasinya, mencoba ekstrimitas, menikmati
dunia-dunia kasar. Entahlah juga. Kalau aku jelas, sulit menghindari
daya pikat wanita dari kelas yang jauh di atasku dan memiliki kecantikan
yang bagaikan putri dari langit. Lalu kapan lagi. Hehe…
*****
Itulah waktu pertama kali ketika debut kami dimulai. Sopir yang memiliki
tugas rangkap menembak nyonya majikan. Dengan dimulai kesenggol lalu
menjadi saling meraba pangkal paha di mobil yang muterin Jakarta
berkali-kali.
-- The End --
Tidak ada komentar:
Posting Komentar