PARUH BAYA ANAK KU MENCINTAIKU
Bu
Supiyah sangat heran melihat putra tunggalnya, Amir yang setiap malam
minggu tak pernah keluar rumah. Justru selalu saja bermanja dengan
dirinya. Padahal usianya sudah 24 tahun dan sudah diwisuda jadi sarjana
teknis mesin di sebuah institut besar. Amir anak yang cerdas.
"Kamu kenapa tak keluar malam mingguan seperti teman-temanmu, Mir," tanya Supiyah suatu malam. Amir hanya tersenyum.
"Sana kunjungi pacaramu, masak di rumah terus," kata Supiyah lagi.
"Aku gak punya pacar Mam."
"Kamu ini ganteng dan anak pintar, kok gak punya pacar sih?"
"Gak ada yang cocok."
"Kamu mau punya pacar, perempua yang seperti apa sih?"
"Seperti Mami. Cantik dan penuh kasih sayang," kata Amir.
Bu
Supiyah yang tersenyum saja. Begitu senangnya dia dipouja-puji oleh
anak semata wayangnya itu. Memang sejak kematian suami Supiyah, dia
menumpahkan kasih sayangnya kepda putra tunggalnya itu. Dia jalankan
perusahaan peninggalan suaminya, justru semakin pesat kemajuannya.
Lama
kelamaan, Supiyah heran dan semakin heran saja. Apa mungkin Amir bukan
seorng laki-laki yang normal. Supiyah kasihan juga jadinya, jika
memikirkan itu. Setiap malam, Amir, selalu merebahkan kepalanya di atas
paha ibunya. Bu Supiah pun mengelus-elus kepala Amir dengan penuh kasih
sayang dan memanjakan. Mereka sembari menonton TV di ruang tamu.
"Mana mungkin, ada perempuan yang persis Mami, sayang. Cari perempuan yang kamu suka," kata Supiyah.
"Aku hanya mau perempuan yang seperti Mami," katanya.
"Apakah..."
"Ada apa, Mi?"
"Maaf,
jangan marah. Apakah kamu tidak normal, sebagai laki-laki?" tanya
Supiyah. Setelah mengucapkan kata-kata itu, Supiyah menyesal. Dia takut,
kalau putra tungalnya itu jadi marah atau tersinggung.
"Mami, boleh buktikan, apakah aku normal atau tidak," kata Amir.
"Ya buktikan dong. Cari perempuan untuk pacarmu," kata Supiyah.
"Boleh aku berterus terang Mi? Tapi janji tidak marah," kata Amir.
"Mana mungkin Mami marah pda anak Mami. Berterus teranglah," kata Supiyah pula.
"Tapi
janji, jangan marah. Jangan sampai Aku berterus terang, Mami tidak
sayang lagi padaku. Aku akan pigi, dari rumah dan tidak akan kembali
lagi, karena malu. Janji ya Mi?" kata Amir antara terdengar tidak.
Suaranya sangat perlahan.
"Berters teranglah. Mami janji tidak akan marah," kata Supiyah.
"Aku mencintai Mami. Aku mau Mami jadi isteriku," kata Amir berterus terang, walau suaranya perlahan dan tersendat.
Bagaikan
tersambar petir, Supiyah seperti tak percaya mendengarkan kata-kata
anaknya itu. Dia diam sejenak menenangkan perasaannya dan dadanya yang
menggemuruh. Ingin dia segera menolak Anaknya dari pangkuannya dan
mengatakan tidak. ANcaman Amir akan pergi dari rumah untuk selamanya,
membuatnya tak berani menolak kepala Amir dari pangkuannya.
"Mami marah?" tanya Amir dengan suara yang parau dan ragu. Amir sendiri dadanya mengemuruh, takut kalau Maminya marah.
"Apa mungkin kita menikah, sayang. Aku kan Mami mu sayang," kata Supiyah ragu.
"Kita
tak perlu menikah mam. Aku hanya ingin menjadi suami Mami dan mami
isteriku. Kita suami isteri. Ini rahasia kita berdua," kata Amir semakin
mantap. Menetes airmata Supiyah di pipinya. Tetes airmata itu menetes
ke wajah Amir.
"Kenapa
Mami menangis? Mami marah dan tak suka dengan kata-kataku?" tanya Amir
sedikit meningi. Supiyah ketakutan dan menghela nafasnya dengan kuat.
"Mami tidak marah sayang. Tidak marah. Tidak," kata Supiyah.
"Kalau
begitu, Mami setuju menjadi isteriku?" kata Amir penuh percaya diri
jadinya. Supiyah diam tak mampu menjawa. Dia harus menjawab apa dengan
menjaga seluruh perasaan anak tunggalnya itu.
"Kata
orang-orang tua, kalau diam, itu pertanda setuju. Jika gadis dilamar
tak menjawab, artinya setuju," kata Amir. Hampir saja dada supiyah
meledak mendengar kata-kata itu. Apakah itu sebuah lamaran dari anak
kandungnya sendiri? Supiyah pun diam seribu basa.
"Terima
kasih, Mam. Berarti Mami setuju atas lamaranku. Sejak sekarang, Mami
adalah isteriku. Aku akan memanggilmu dengan nama mesra. Sufi," kata
Amir. Mendengar itu, airmata Supiyah semakain menderas. Dia tak tau mau
berkata apa. Amir pun duduk dan menghapus airmata Supiyah dengan kedua
ibujarinya.
"Jangan
menangis sayang. Terima kasih atas kesediaanmu menjadi isteriku," kata
Amir penuh mesra. Dipeluknya Supiyah yang sudah dia anggap sebagai
isterinya. Dikecupnya bibir Supiyah dengan mesra.
Malam
itu juga Amir pindah kamar dari kamarnya ke kamar Supiyah. Supiyah tak
tau mau berbuat apa. Mereka tidur di atas tempat tidur yang sama.
Sebelum terbaring, Amir, membuka pakaian Supiyah dan mengantinya dengan
baju tidur biru yang sangat tipis dan halus. Ingin rasanya Supiyah
berontak. Tapi dalam hati kecilnya dia ingin juga membuktikan, apakah
anakntya Amir memang seorang perjaka tulen atau tidak. Supiyah
ditelanjangi dan dipakaiakan pakaian tidur, tanpa bra dan tanpa celana
dalam. Amir mengenakan kimono yang tipis jua tanpa pakaian dalam.
Melihat penis anaknya itu, hatinya bergetar juga.
Mereka
tidur berpelukan. Amir menciumi bibir Supiyah. Mempermainkan lidahnya
dalam ronga mulut Supiyah. Perlahan dia meraba dengan lembut tubuh
ibunya yang berusia 47 tahun itu. Perlahan dia preteli pakaian ibunya,
sampai telanjang bulan. Ketika Supiyah mau melarangnya dengan mesra Amir
mengatakan:" Tenang saja sayang. Semuanya akan menjadi indah dan
nikmat. Aku mencintaimu dengan tulus Sufi... aku mencintaimu, saang"
Berdesir hati Supiyah mendengar rayua anaknya.
Persis
20 tahun dia tak pernah merasakan elusan dan rabaan dari seorang
laki-laki setelah kematian suaminya. Kini rabaan dan elusan iotu datang
dari anak kandungnya sendiri. Haruskah...
Yah...
Supiyah tak mampu menahan gairahnya. Tanpa sadar dia membalas ciuman
anak tunggalnya itu. Dia mengelus-elus kepala Amir, saat Amir menjilati
pentilteteknya, saat Amir menjilati ketiaknya, menjilati perutnya dan
menjilati lubang memeknya dan mempermainkan klitorisnya. Supiyah sudah
tak mampu berbuat apa-apa lagi, selain menikmatinya dan memberikan
respons pada Amir. Rasa malu seketika hiloang. Supiyah sudah
mendesah-desah dijilati oleh anaknya sendiri.
"Sayang... Mamai sudah tak tahan. Ayo dimasuki..." kata Supiyah memohon.
"Panggil aku Papi, sayang. Panggil aku Papi Sufi..." kata Amir.
"Ya.. Papi... ayo dong, Sufi sudah tak tahan," kata Supiyah menurut, seperti kerbau ditusk hidungnya.
Amir
menaiki tubuh Supiyah dan mengangkangkan kedua kaki Supiyah. Perlahan
ditusuknya penisnya ke lubang Supiyah. Perlahan dan perlahan. Memek yang
sudah 20 tahun tak pernah dimasuki itu, merasakan sensasi yang sangat
luar biasa. Terasa memeknya penuh dengan masuknya penis anaknya itu. Dia
mengoyangnya dari bawah dan emminta Amir semakin cepat menusuknya.
Mereka berpelukan erat dan saling memagut bibir. Sepuluh kenit kemudian,
Amir melepaskan spermanya di dalam rahim Supiyah, ibunya. Berkelai-kali
dan mereka berpelukan. Amir menciumi pipi Supiyah dengan lembut,
sebaliknya Supiyah juga membalasnya dengan lembut.
"Terima kasih, papi," kata Supiyah.
"Aku juag berterima kasih Sufi. AKu sangat mencintaimu, Sufi," kata Amir.
Mereka
terus melakukannya dengan kasih sayang dan penuh cinta. Sampai akhirnya
pada bulan ke empat, Supiyah hamil. Dia sangat takut dan menyesal. Hal
itu dilaporklannya pda Amir, agar digugurkan. Amir marah besar. Dia tak
mau anaknya digugurkan. Akhirnya mereka mengambil kesimpula, anak itu
harus lahir. Pada udia ke lima bulan lebih, Amir diserahi tugas memimpin
perusahaan. Supiyah harus ke Singapura selama beberapa bulan. Sampai
dia melahirkan anak laki-laki yang ganteng. Setelah anak itu berusia 2
bulan, Supiyah mengirimkan berita kepada teman-temannya, bahwa dia
mengadopsi anak dari rumah sakit di Singapura. Dia ingin kembali ke
Indonesia dan merayakan anak yang dia adopsi. Amir pun tersenyum, karean
ibunya ternyata orang pintar juga.
Di
Singapura, SUpiyah operasi peranakan agar tak hamil lagi. Pesta
perayaan anak yang katanya anak adopsi itu pun berlangsung meriah dan
singkat. Setelah para tamu pulang, AMir membisikkan sesuatru kepada
Supiyah.
"Aku ingin menyetubuhimu Sufi. Malam ini," katanya.
"Aku
sudah siap Papi sayang. Kita letakkan dulu anak kita ke dalam bos-nya,
Kata Supiyah setelah menyusui anak mereka dengan ASI.
Amir
dan Supiyah melakukan hubungan suami Isteri. Sebab ketika Amir
menjemput Sufi ke Singapura, mereka melakukan pernikahan catatan Sipil
di negeri jiran itu.
Amir
sangat mencintai Supiyah, akhirnya Supiyah juga sangat mencintai Amir.
Mereka bertekad untuk pindah dari kota itu, ke kota ibukota yang lebih
bebas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar