NIKMAT YANG KUDAMBAKAN
Pak
Rudy adalah seorang agen perusahaan asuransi tempat dimana keluarga
kami menjadi kliennya. Ia baru tiga kali datang ke rumahku untuk
keperluan menagih premi asuransi. Biasanya yang menagih premi asuransi
adalah Bu Sri dan 2 bulan yang lalu beliau memperkenalkan pak Rudy
sebagai penggantinya. Dia adalah seorang pria berusia sekitar 30
tahunan, tinggi badan sekitar 170 cm an dan memiliki tubuh yang atletis.
Sebelum bekerja sebagai agen asuransi, pak Rudy adalah seorang pemain
Bola Volley yang handal di daerahnya. Tak heran kalau bentuk tubuhnya
masih terlihat atletis dan bisa membuat wanita kesepian seperti aku
mabuk kepayang.
Pada
awalnya sih kedatangan pak Rudy ke rumahku layaknya seorang agen
asuransi biasa, ngobrol tentang asuransi sebentar dan setelah kubayar
premi asuransi beliau langsung pamit. Tapi pada kedatangan yang ketiga
ke rumahku, jalan ceritanya menjadi hal yang tidak biasa dan menjadi
kenangan paling indah dan sensasional semenjak aku menjadi ibu rumah
tangga dari suami seorang pengusaha dan memiliki 2 orang anak yang mulai
beranjak remaja. Usiaku memang tidak muda lagi, 42 tahun, tapi kata
orang-orang bentuk tubuh indahku tetap saja bisa membuat seorang
laki-laki terperangkap dalam hayalan kenikmatan sesaat. Apalagi bentuk
buah dadaku ukuran 36A? (ohh….indah nian) yang tetap terjaga dengan
baik, tidak kalah dengan [buah dada wanita usia 20 tahunan.
Pada
suatu hari aku sedang di rumah sendirian, setelah suamiku berangkat ke
kantor dan 2 anakku pergi ke sekolah. Untuk mengisi kegiatan harian,
biasanya antara jam 9 – 10 pagi aku melakukan fitness di rumah. Aku
biasanya memakai pakaian yang enak dipakai dan menyerap keringat berupa
sebuah kaos putih tipis tanpa lengan dengan belahan dada rendah sehingga
buah dadaku yang montok itu agak tersembul keluar terutama kalau sedang
menunduk. Apalagi aku tidak memakai BH (Bra kesukaanku merk atau
Wacoal, juga sebuah celana pendek ketat merk ‘Wacoal’ yang berbahan
tipis dan mencetak pantatku yang padat berisi. Waktu aku sedang melatih
pahaku dengan sepeda fitness, tiba-tiba terdengar bel berbunyi, segera
saja kuambil handuk kecil dan mengelap keringatku sambil berjalan ke
arah pintu. Kulihat dari jendela, ternyata Pak Rudy yang datang, pasti
dia mau menagih premi asuransi karena ini memang sudah waktunya kami
membayar.
Kubukakan
pagar dan kupersilakan dia masuk. “Silakan Pak duduk dulu ya, sambil
nunggu saya ambil uangnya” senyumku dengan ramah sambil mempersilakannya
duduk di ruang tengah.
“Kok sepi sekali ya Bu, pada kemana yang lain?”
“Biasalah
pak Rudy, kalau jam segini memang sepi di rumah ini, ya anak-anak kan
belum pada pulang dan bapaknya anak-anak juga biasanya pulangnya malam”
“Ohh………?!”
Pak Rudy tersenyum manis sambil matanya sekilas menatap ke arah gunung
kembarku dengan 2 buah putting yang tersembul dibalik kaos putih tipis
yang basah oleh keringat. Saat itu aku memang tidak memakai BH, sehingga
putting buah dadaku terlihat jelas. Aku jadi risih juga dan buru-buru
aku bilang
“Sebentar ya Pak, saya ambil uangnya dulu” untuk mengalihkan perhatian.
“Silahkan bu….” Jawab pak Rudy dengan tetap memberikan senyum manisnya dan tatapan matanya yang agak nakal saat itu.
Setelah
ku ambil uang di kamar dan balik ke dapur untuk membuatkan minuman,
sesaat imajinasi nakal mulai merambah pikiranku. Apalagi tadi malam
hasrat untuk melakukan hubungan badan dengan suamiku tidak tercapai
akibat kelelahan setelah sehari penuh bekerja di kantor. Dan kejadian
seperti ini sudah berjalan lama, menahan hasrat birahi kewanitaan yang
menggebu-gebu dan siap meledak setiap saat. Aku menggigit bibir bawahku
menahan hasrat birahiku yang tiba-tiba muncul bak gunung berapi yang
siap meledak memuntahkan magma panas yang membara.
“Mari
diminum air-nya Pak!”, tawarku lalu aku duduk di depannya dengan
menyilangkan kaki kananku sehingga pahaku yang jenjang dan putih itu
makin terlihat. Suasana mesum mulai terasa di ruang tamuku yang nyaman
itu dan itu mulai menggoda nafsu birahiku Dia menanyaiku sekitar masalah
anak-ana, seperti sekolah, hoby, keluarga, dan kegiatan ku dan suami
selama ini, tapi mata nakalnya terus memandang ke arah buah dada dan dua
putting yang kian mengeras dan menggoda (sengaja kereman-remas buah
dada dan putingku agar tambah membesar dan mengeras saat menyiapkan
minuman di dapur).
“Bu
Dewi lagi olah raga yah, soalnya badannya keringatan dan kaosnya basah
kuyup gitu” Tanya pak Rudy sambil matanya menatap wajahku dengan lembut.
“Iya
nih Pak, biasa kan ibu-ibu seusia saya harus bisa menjaga bentuk tubuh
agar suami puas dan betah tinggal di rumah” kataku mulai memancing
suasana makin panas.
“Cuma
sekarang jadi pegel banget nih, pengen dipijat rasanya, Bapak bisa
bantu pijitin nggak?” godaku sambil mengurut-ngurut paha mulusku.
Tanpa
diminta lagi dia segera bangkit berdiri dan pindah ke sebelahku, waktu
berdiri kuperhatikan ia melihat putingku yang menonjol dari balik
kaosku, juga kulihat penisnya mengencang dibalik celananya yang
membuatku tidak sabar ingin rasanya mengenggam benda itu
“Mari
Bu, kesinikan kakinya biar saya pijat” Aku lalu mengubah posisi dudukku
menjadi menyamping dan menjulurkan kakiku ke arahnya. Dia mulai
mengurut paha hingga betisku. Uuuhh.. pijatannya benar-benar enak,
telapak tangannya yang kasar itu membelai pahaku yang putih mulus hingga
membangkitkan birahiku. Akupun mendesah-desah sambil menggigit bibir
bawahku.
“Pijatan saya enak ya Bu?” tanyanya.
“Iya
Rudy, terus dong.. enak nih.. emmhh!” aku terus mendesah membangkitkan
nafsu Rudy, desahanku kadang kusertai dengan geliat tubuh. Dia semakin
berani mengelus paha dalamku, bahkan menyentuh pangkal pahaku dan
meremasnya.
“Enngghh..
Rudd…!” desahku lebih kuat lagi ketika kurasakan jari-jarinya mengelusi
bagian paling sensitive dari tubuh indahku. Saat-saat seperti yang
paling kunantikan selama ini.
Tubuhku
makin menggelinjang-gelinjang sehingga nafsu Rudy pun semakin naik dan
tidak terbendung lagi. Celana sportku ditariknya secara perlahan sambil
matanya menatap mataku untuk meminta ijin dan aku kedipkan 2 mataku
dengan senyum lembut tanda kepasrahan (Emh…ini yang aku harapkan, ucapku
dalam hati). Dengan perlahan pula, ditariknya celana dalamku (CD
kesukaanku merk Hanky Panky).
“Aaww.. Rudy kamu nakal ihh….!” aku berlagak kaget sambil menutupi kemaluanku dengan telapak tanganku.
Melihat
reaksiku yang malu-malu kucing ini dia makin gemas saja, ditariknya
celanaku yang sudah tertarik hingga lutut itu lalu dilemparnya ke
belakang, tanganku yang menutupi kemaluan juga dibukanya sehingga
kemaluanku yang berambut tipis itu (baru 1 bulan yang lalu kucukur
rambut di kemaluanku) tampak olehnya, klitorisku yang merah merekah dan
sudah becek kini siap dijelajahinya.
Rudy
tertegun beberapa saat memandangiku yang sudah bugil bagian bawahnya
itu. “Tubuh ibu memang sempurna, apalagi bagian bawah ini, benar-benar
luar biasa” sambil tangannya mulai meraba dan mengelus lembut di bagian
paling nikmat ini.
Dia
mulai melepas kemejanya sehingga aku dapat melihat perutnya yang rata
dan berotot serta dadanya yang berbulu itu. Lalu dia membuka sabuk dan
celananya sehingga benda dibaliknya kini dapat mengacung dengan gagah
dan tegak. Aku menatap takjub pada organ tubuh itu, begitu besar dan
berurat aku sudah tidak sabar lagi menggenggam dan mengulumnya. Rudy
begitu membuka pahaku lalu membenamkan kepalanya di situ sehingga
selangkanganku tepat menghadap ke mukanya.
“Hhmm..
wangi, pasti Tante rajin merawat diri yah” godanya waktu menghirup
kemaluanku yang kurawat dengan apik dengan sabun pembersih wanita.
Sesaat kemudian kurasakan benda yang lunak dan basah menggelitik
vaginaku, oohh.. lidahnya menjilati klitorisku, terkadang menyeruak ke
dalam menjilati dinding kemaluanku. Lidah tebal dan kumis tipisnya itu
terasa menggelitik bagiku, aku benar-benar merasa geli di sana sehingga
mendesah tak tertahan sambil meremasi rambutnya
“ohh…ohhh…nikmatnya….ohhh hh”. Kedua tangannya menyusup ke bawah bajuku
dan mulai meremas payudara montokku, jari-jarinya yang besar bermain
dengan liar disana, memencet putingku dan memelintirnya hingga benda itu
terasa makin mengeras.
“Rud….
oohh.. saya juga mau….Rud….ohh…!” desahku tak tahan lagi ingin mengulum
penis itu. “Kalau begitu saya di bawah saja ya Tante” katanya sambil
mengatur posisi kami sedemikian rupa menjadi gaya 69. Aku naik ke
wajahnya dan membungkukkan tubuhku, kuraih benda kesukaanku itu, dalam
genggamanku kukocok perlahan sambil menjilatinya. Kugerakkan lidahku
menelusuri pelosok batang itu, buah “pinangnya” kuemut sejenak, lalu
jilatanku naik lagi ke ujungnya dimana aku mulai membuka mulut siap
menelannya. Oohh.. batang itu begitu panjaaang dan berdiameter lebar
persis seperti tubuh pemiliknya, sehingga akupun harus membuka mulutku
selebar-lebarnya agar bisa mamasukkannya.
Aku
mulai mengisapnya dan memijati buah “pinangnya” dengan tanganku. Rudy
mendesah-desah enak menikmati permainanku, sementara aku juga merasa
geli di bawah sana, kurasakan ada gerakan memutar-mutar di dalam liang
vaginaku oleh jarinya, jari-jari lain dari tangan yang sama
mengelus-elus klitoris dan bibir vaginaku, bukan itu saja, lidahnya juga
turut menjilati baik anus maupun vaginaku. Sungguh suatu sensasi yang
hebat sekali sampai pinggulku turut bergoyang menikmatinya, juga semakin
bersemangat mengulum penisnya. Selama 10 menitan kami menikmat
permainan yang belum pernah aku lakukan sebelumnya bersama suamiku ini.
Sungguh permainan kenikmatan paling sensasional….”ohhhh…..” Tiba-tiba
dia menggeram sambil menepuk-nepuk pantatku “ohh….tante….oh….
ja…ohhhhh……”, sepertinya menyuruhku berhenti, tapi karena sudah tanggung
aku malahan makin hebat mengocok dan mengisap penis itu sampai dia
susah payah menahan geraman nikmatnya. Akhirnya muncratlah cairan putih
itu di mulutku yang langsung saya minum seperti kehausan, cairan yang
menempel di penisnya juga saya jilati sampai tak bersisa.
Rudy
menurunkan kaos tanpa lenganku dari bahu dan meloloskannya lewat lengan
kananku, sehingga kini payudara kananku yang putih montok itu tersembul
keluar. Dengan penuh nafsu langsung dia lumat benda itu dengan
mulutnya. Aku menjerit kecil waktu dia menggigit putingku dan juga
mengisapnya kuat-kuat, bulatan mungil itu serasa makin menegang saja.
Dia membuka mulutnya lebar-lebar berusaha memasukkan seluruh payudara
montok ku ke mulutnya, di dalam mulutnya payudaraku disedot, dikulum,
dan dijilat, rasanya seperti mau dimakan saja milikku itu. Sementara
selangkanganku makin basah oleh permainan jarinya, jari-jari itu menusuk
makin cepat dan dalam saja. Hingga suatu saat birahiku terasa sudah di
puncak, mengucurlah cairan cintaku dengan deras
“ohhh……..nikmatnya….ohhhh h……”. Aku mengatupkan pahaku menahan rasa geli
di bawahku sehingga tangannya terhimpit diantara kedua paha mulusku.
Kembali
lidahnya menjilati payudaraku yang sudah basah itu, sedangkan aku
menjilati cairan pada tangannya yang disodorkan padaku. Tanganku yang
satu meraba-raba ke bawah dan meraih penisnya, terasa olehku batang itu
kini sudah mengeras lagi, siap memulai aksi berikutnya.
“Enggh..
masukin aja Rud…, Tante udah kepingin banget nih”. Dia membalik
tubuhku, tepat berhadapan dengannya, tangan kananya memegangi penisnya
untuk diarahkan ke vaginaku. Aku membukakan kedua bibir vaginaku
menyambut masuknya benda itu. Setelah kurasakan pas aku mulai menurunkan
tubuhku, secara perlahan tapi pasti penis itu mulai terbenam dalam
kemaluanku. Goyanganku yang liar membuat Rudy mendesah-desah keenakan
“ohh… enak…oh… terusss… tante…teruss… digoyang….ohhh…”,
untung
dia tidak ada penyakit jantung, kalau iya pasti sudah kumat. Kaosku
yang masih menyangkut di bahu sebelah kiri diturunkannya sehingga kaos
itu menggantung di perutku dan payudara kiriku tersingkap. Nampak sekali
bedanya antara yang kiri yang masih bersih dengan bagian kanan yang
daritadi menjadi bulan-bulanannya sehingga sudah basah dan memerah bekas
cupangan.
Kedua
tangannya meremas-remas kedua payudaraku, ketika melumatnya terkadang
kumisnya yang tipis itu menggesek putingku menimbulkan sensasi geli yang
nikmat. Lidahnya bergerak naik ke leherku dan mencupanginya sementara
tangannya tetap memainkan payudaraku. Birahiku sudah benar-benar tinggi,
nafasku juga sudah makin tak teratur, dia begitu lihai dalam bercinta,
kurasa bukan pertama kalinya dia berselingkuh seperti ini. Aku merasa
tidak dapat bertahan lebih lama lagi, frekuensi goyanganku kutambah,
lalu aku mencium bibirnya. Tubuh kami terus berpacu sambil bermain lidah
dengan liarnya sampai ludah kami menetes-netes di sekitar mulut,
eranganku teredam oleh ciumannya. Mengetahui aku sudah mau keluar, dia
menekan-nekan bahuku ke bawah sehingga penisnya menghujam makin dalam
dan vaginaku makin terasa sesak. Tubuhku bergetar hebat dan jeritanku
tak tertahankan lagi terdengar dari mulutku, perasaan itu berlangsung
selama beberapa saat sampai akhirnya aku terkulai lemas dalam
pelukannya.
Dia
menurunkanku dari pangkuannya, penisnya terlihat berkilauan karena
basah oleh cairan cinta. Dibaringkannya tubuhku yang sudah lemas itu di
sofa, lalu dia sodorkan gelas yang berisi teh itu padaku. Setelah minum
beberapa teguk, aku merasa sedikit lebih segar, paling tidak pada
tenggorokanku karena sudah kering waktu mendesah dan menjerit. Kaosku
yang masih menggantung di perut dia lepaskan, sehingga kini aku bugil
total. Sebelum tenagaku benar-benar pulih, Rudy sudah menindih tubuhku,
aku hanya bisa pasrah saja ditindih tubuh gemuknya. Dengan lembut dia
mengecup keningku, dari sana kecupannya turun ke pipi, hingga berhenti
di bibir, mulut kami kembali saling berpagutan. Saat berciuman itulah,
Rudy menempelkan penisnya pada vaginaku, lalu mendorongnya perlahan, dan
aahh.. mataku yang terpejam menikmati ciuman tiba-tiba terbelakak waktu
dia menghentakkan pinggulnya sehingga penis itu menusuk lebih dalam.
Kenikmatan
ini pun berlanjut, aku sangat menikmati gesekan-gesekan pada dinding
vaginaku. Payudara montokku saling bergesekan dengan dadanya yang
sedikit berbulu, kedua paha rampingku kulingkarkan pada pinggangnya. Aku
mendesah tak karuan sambil mengigiti jariku sendiri. Sementara
pinggulnya dihentak-hentakkan diatasku, mulutnya tak henti-hentinya
melumat atau menjilati bibirku, wajahku jadi basah bukan saja oleh
keringat, tapi juga oleh liurnya. Telinga dan leherku pun tak luput dari
jilatannya, lalu dia angkat lengan kananku ke atas dan dia selipkan
kepalanya di situ. Aahh.. ternyata dia sapukan bibir dan lidahnya di
ketiakku yang halus tak berbulu itu, kumis kasar itu menggelitikku
sehingga desahanku bercampur dengan ketawa geli.
“Uuuhh..
Rudd.. aakkhhhhhh………. !” aku kembali mencapai orgasme. Vaginaku terasa
semakin banjir, namun tak ada tanda-tanda dia akan segera keluar, dia
terlihat sangat menikmati mimik wajahku yang sedang orgasme. Suara
kecipak cairan terdengar jelas setiap kali dia menghujamkan penisnya,
cairanku sudah meleleh kemana-mana sampai membasahi sofa, untung sofanya
dari bahan kulit, jadi mudah untuk membersihkan dan menghilangkan
bekasnya. Tanpa melepas penisnya, Rudy bangkit berlutut di antara kedua
pahaku dan menaikkan kedua betisku ke pundaknya. Tanpa memberiku
istirahat dia meneruskan mengocok kemaluanku, aku sudah tidak kuat lagi
mengerang karena leherku terasa pegal, aku cuma bisa mengap-mengap
seperti ikan di luar air.
“Tante… saya juga udah mauuu……… !” desahnya dengan mempercepat kocokkannya.
“Di
luar.. Rudy.. aku ahh.. uuhh.. lagi subur” aku berusaha ngomong walau
suaraku sudah putus-putus. Tak lama kemudian dia cabut penisnya dan
menurunkan kakiku. Dia naik ke wajahku, lalu dia tempelkan penisnya yang
masih tegak dan basah di bibirku. Akupun memulai tugasku, kukulum dan
kukocok dengan gencar sampai dia mengerang keras dan menjambak rambutku.
Maninya menyemprot deras membasahi wajahku, aku membuka mulutku
menerima semprotannya. Setelah semprotannya mereda pun aku masih
mengocok dan mengisap penisnya seolah tidak membiarkan setetespun
tersisa. Batang itu kujilati hingga bersih, benda itu mulai menyusut
pelan-pelan di mulutku. Kami berpelukan dengan tubuh lemas merenungi apa
yang baru saja terjadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar