Pages

Jumat, 29 Juni 2012

DAUN MUDA NIKMATIN DUA BUAH BUKIT KEMBAR

Sebutlah namaku Ari, cerita ini terjadi beberapa tahun yang lalu, dan merupakan awal mula aku mengenal seks….yang kumaksud adalah praktek..he..he…kalo untuk menonton film porno dan kenakalan lainnya sih aku tentu saja sudah pernah…tapi hanya sebatas itu….

Saat itu aku baru lulus kuliah dan mendapatkan kesempatan magang disebuah institusi negara di Jakarta untuk sekitar 9 bulan. Magang berjalan lancar, dan aku dengan mudah berteman dengan pegawai yang senior maupun junior, sehingga dipercaya untuk “mengasuh” peserta magang lain yang datang dari luar kota Jakarta. Termasuk seorang gadis yang berasal dari Joga bernama Niken. Niken seorang pribadi yang kalem, berparas ayu dan sopan, seperti kebanyakan orang Jogja yang terbiasa dengan tradisi keraton. Tapi yang tak kusangka, ternyata Niken penyuka kegiatan outdoor sepertiku, dibalik sikapnya yang lemah lembut dia seorang yang suka tantangan. Hampir semua gunung di Jawa tengah pernah dia daki. Maka tak heran ketika dia pun tau aku penyuka kegiatan outdoor, langsung diajaknya mendaki gunung yang terdekat dari Jakarta, hanya seminggu setelah perkenalan kami.

“Ri, weekend ke mana nih? Hiking trus kemping yuk ke Gn. Gede”

“Yah elo, baru bilang sekarang, hari ini kan udah kamis, kalo mau naek ke Taman Nasional sekarang kan harus pake surat ijin, dan permohonannya 3 hari sebelum pendakian, minimal 3 orang sama ditambah guide juga…mepet kayak gini gak bisa..trus susah nyari orang 1 lagi…tau sendiri di sini jarang yang suka outdoor”

“Lo juga gak kasih tau gw sih Ri…., coba bilang dari kemaren2…kita ngurus ijin sama nyari orang kan waktunya cukup”

“Mana tau kalo lo udah mau hiking, di sini aja belum ada seminggu……dasar!!!…hmmmh…kecuali lo mau hiking illegal…he..he…”

“Illegal gimana maksudnya Ri?”

“Di mana2 yang illegal gak pake ijin…”

“Itu gw tau……maksudnya gimana caranya Ri…….???”

“Gw dulu pernah, bersepuluh sama temen2 sekampus naek sekitar jam 10 malem…waktu itu pos udah sepi, jadi langsung aja ngendap2”

“Wah..seru tuh, yuk berangkat…..”

“Nah satu lagi orangnya siapa ken???”

“Kata lo mau illegal….ya gak usah ikut aturan 3 orang..kalo sampe besok sore gak ada yang mau…kita aja berdua tetep berangkat….”

“Oke lah….kalo gitu ntar balik kantor kita belanja ya…trus packing”

Setelah pulang kantor pun kami belanja bahan makanan untuk dibawa hiking, karena kami sudah memiliki perlengkapan jadi tidak khawatir untuk packing. Sampai Jum’at sore kami tidak menemukan orang lain yang ingin gabung bersama kami karena terlalu mendadak. Maka sekitar jam 7 malam kami pun pergi ke kampung rambutan untuk naik bus ke bandung via puncak.

Singkat cerita kami sampai di persimpangan menuju kebun raya cibodas, lalu kami pun naik ojek untuk sampai ke pasar yang merupakan awal masuk k area gunung gede. Keadaan di pasar sangat sepi, hanya ada beberapa pendaki yang tidur di lapak2 warung untuk menunggu esok. Saat itu waktu menunjukan pukul 22.33, dan kami pun langsung berjalan menyusuri jalan setapak yang cukup besar untuk menuju pintu masuk gunung gede, di mana terdapat pos lapor dan juga kantor perijinan. Di situ pun kami menemui banyak pendaki yang sedang tertidur menunggu esok hari untuk naik, sesuai dengan peraturan. Kami mengendap-ngendap di antara mereka…untung saja sedang bulan purnama…jadi keadaan agak terang, dan kamipun tak perlu menggunakan senter…dan tidak takut ketahuan..

Kami mendaki dengan menaiki tangga2 dari batu yang tersusun rapi, dengan menggunakan senter karena di dalam area ini sinar bulan tidak dapat menembus pohon2 rindang sepanjang perjalanan…kami berjalan berdampingan…hanya jika jalan sempit dia di depan dan aku di belakang mengawasi sekitar….sampai kami ke area yang terbuka di atas jembatan kayu yang membentang sepanjang jalur pendakian…kami pun beristirahat sebentar…. mungkin karena suasana yang sepi dan hanya ada kami berdua….pikiran ku ke mana2..menghayalkan bersetubuh dengan Niken di tempat itu..pasti akan menjadi pengalaman tak terlupakan….pucuk dicinta ulampun tiba…tak kusangka khayalnku menjadi kenyataan secepat itu..he..he…

Awalnya saat kami istirahat di tempat itu, sepertinya karena terbawa susana…tempat sepi, di bawah sinar bulan….obrolan kami mulai menjurus setelah aku iseng2 bercanda yang agak porno…yang ternyata dia tanggapi dengan tertawa dan tidak merasa risih….mulai dari seks dari segi kesehatan sampai kepuasan…he..he…, dan tiba2 dia pun bertanya dengan agak canggung (terilhat dari biasnaya pake gw elo, jadi aku kamu..jadi campur deh…).

“kamu pernah ML Ri?”

“hmmh….belum…kamu pernah ken?”

“belum juga..he..he…” “tapi kamu pernah nonton bokep kan?”

“ya pernah lah…gw laki2 normal…tulen….” “lo juga pernah ya…hayo ngaku….”

“he..he….iya pernah…buat referensi….he..he..”

“hahahaha…bisa aja….udah cukup referensinya?, kapan prakteknya” ….tanyaku seenaknya sambil bercanda….(padahal dalam hati aku sangat berharap dia menjawab mau praktek sekarang…denganku…hehehe)

“Dasar…praktek mbah mu..” jawab niken sambil bangkit dan mengambil minum dari dalam carrier yang ada disampingku kananku, sementara niken duduk dismaping kiriku…dan saat itulah tiba kesempatanku…entah dengan sengaja atau tidak….niken meraih minuman dari carrier dengan menjulurkan tangan kirinya melewati depanku…sehingga tubuhnya condong kearahku dan payudaranya menempel didadaku….tanpa berfikir panjang aku sentuh payudaranya dengan tangan kananku, dan ternyata dia diam saja…sambil berlama-lama mencari botol minum dalam carrier…..dan sepertinya dia kesulitan sehingga tubuhnya lebih condong yang tentu saja payudaranya jadi lebih menekan ketanganku yang menyentuhnya…dan tanpa kukira…tangan kanannya mencari tumpuan untuk menopang badannya yang mencondong..dan tangan niken akhirya mendarat diatas kemaluanku yang memang sudah agak menegang….

Akupun makin berani dan mencondongkan tubuh ku ke arahnya dan mencium pipinya, niken masih diam..tapi tangan kanannya agak meremas kemaluanku. Akupun menciumi pipinya dan lehernya sambil tangan kananku meremas payudar kanannya dan tangan kiriku meraih pantatnya dan meremas-remasnya…niken mulai merubah posisi dan sudah tidak mencari-cari botol minum lagi di carrier..sekarang tangan kirinya mengelus rambutku dan diapun melenguh….”aaaahhh…aaahh…”, hanya suara itu yang kudengar dari mulutnya….

akupun semakin nafsu mendengar lenguhan niken..aku ciumi dan jilati lehernya dari kanan ke kiri (saatnya mempraktekan semua yang aku lihat dari film2 bokep dan artikel seks..he..he…), hingga sampai ke bibirnya…dan langsung disambut oleh niken dengan ciuman penuh nafsu…lidah kami saling menjilat saat berciuman..saling menyedot ludah masing2….sensasi yang kurasakan benar2 luar biasa….posisi kamipun berubah menjadi saling berhadapan dari samping…sehingga meudahkanku untuk menjamah payudaranya sambil tangan kiriku merangkul niken untuk menopangnya…..

mulut kami saling berpagutan dan tangan saling menjamah….tangan kiri niken mengelus-ngelus dada ku…dan tangan kanannya mengelus-ngelus dan meremas kemaluanku yang semakin mengeras….akupun tak ketinggalan meremas-remas payudaranya sambil menggerakan jempolku untuk mengelus dengan gerakan memutar putingnya..dengan sekali-kali aku tekan….kuremas payudara niken bergantian yang kiri dan kanan dengan tangan kananku…sedangkan tangan kiriku mengelus lehernya dan telinganya…niken makin liar memagutku…dan mulai menarik-narik kaosku untuk segera dilepaskan…

Tangan kananku mulai meraba kebagian perut niken lalu terus kepaha dan selangkangannya…kulepaskan mulutku dari mulutnya dan mulai menjilati lehernya lalu menciumi payudaranya dari balik kaosnya…. dan niken pun makin melenguh…..”aaahhh…aaahh….eeeuuuhh….”gerak an tangannya berhenti dan tampak menikmati elusan tangan kananku ke arah selangkangnnya….niken mengigit gigit bibirnya sendiri menahan kenikmatan yang dia rasakan…kedua tangannya ia topangkan ke lantai kayu jembatan ini sambil kepalanya menghadap keatas….menikmati setiap jilatan ku ke lehernya dan elusan tanganku diselangkangannya…diapun membuka kakinya..supaya aku lebih leluasa mengelus selangkangannya dan lalu ke vaginanya yang masih ditutupi oleh celana lapang…aku gerakan secara memutar telapak tanganku di atas vaginanya…..

Dengan dada yang terbuka karena tangan niken menopang tubuhnya…aku dengan leluasa mengangkat kaosnya dan meremas payudaranya dari balik bra dengan tangan kiriku…lalu tangan kananku mulai melepas kancing celana lapangnya dan menurunkan resletingnya dan menyelusup ke bagian luar celana dalamnya…aku rasakan celana dalam niken sudah lembab..rupanya vagina niken sudah dibanjiri cairan birahinya……niken seperti terkejut saat kuelus vaginanya naik turun dari balik celana dalamnya…”Ri…terus Ri…aaahhh….eeemmmmh…..eeemmmh….” hanya kata2 itu yang kudengar dari niken….akupun semakin nafsu dibuatnya….

Tanpa kuminta, niken membuka kaosnya….terbukalah payudara yang agak menyembul dari balik bra hitam yang ia pakai…payudara niken putih dan ranum, tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, payudaranya menyembul karena branya model cup setengah…ukuran payudara niken pas dan proporsional dengan tinggi badannya yang 160 cm dan berat badan 50 kg… ketika kutarik cup itu ke bawah untuk menciumi dan menjilati payudaranya….niken membuka sendiri pengait branya….wuuih,…terbeaslah gunung kembar niken….siap kujilat dan kulumat…dengan penerangan sinar bulan purnama…kulihat putingnya niken berwarna pink..

meskipun aku tak yakin karena sinar bulan pun terangnya terbatas…tapi apa peduliku dengan warnanya…langsung kuciumi kujilati dan kuemut puting payudara niken yang kiri…sedangkan tangan kiriku meremas payudara kanannya sambil memilin putingnya dengan jari telunjuk dan jempolku….tangan kananku tak lepas dari bagian bawah niken yang kemudian aku masukan ke celana dalam niken…owwwwh….hangat sekali vagina niken….lalu kuingat mengenai klitoris dan letaknya…maka aku raba2 daerah vagina niken untuk menemukan klitorisnya….niken menggelinjang pelan dan berusaha menjilati telingaku….erangan dan lenguhan makin sering keluar dari mulutnya….”aaahhh….Ri….terus Ri….eeemmmhh….”

Akhirnya tangan kananku menemukan sesuatu yang menonjol, dan ketika kusentuh, niken langsung menggelinjang….saat itu aku tau bahwa ini pasti klitoris niken, akupun mengelus-ngelusnya dengan gerekan memutar dengan ujung 3 jari tangan ku….dan kadang hanya jari tengahku yang bermain…pinggul niken bergoyang-goyang pelan dan mengangkat-angkat..seolah memintaku untuk lebih menekankan jari2ku….gerakan tangan kananku kupercepat…dan emutan mulutku diputing payudara niken kuperkuat dan bergantian antara yang kanan dan kiri…..tubuh niken semakin bergoyang dengan lenguhan2 yang semakin keras….

aku yakin binatang2 liar yang ada disekitar langsung menjauh karena lenguhan2 niken…semakin cepat gerakan tangan kananku semakin keras lenguhannya…dan gerakan2 niken diakhiri dengan badannya yang menegang…tangan kananku dijepit oleh pangkal pahanya….dan diapun memelukku erat….terasa sekali tubuh niken menegang dan bergetar-getar…..matanya memejam dengan keras….pasti ini yang dinamakan orgasme….keadaan niken yang sepeti ini bertahan sampai beberapa menit….dan akhirnya terkulai lemas….

Dengan keadaan lemas niken mengelus-ngelus kemaluanku….dan membuka kancing celanaku dan membuka resletingnya….meskipun hanya dengan cahaya remang2 bulan, terlihat kemaluanku menggunung dari balik celana dalam….bahkan kepalanya menogol keluar…meskipun niken masih lemas, dia masih bisa bercanda… “ih..itunya kejepit….hehehehe” dan diapun mengelus kemaluanku dari balik celana dalam, setiap gerakan mengelus ke bagian atas (karena sudah keliatan, sekarang bilangnya penis aja..he..he..) penisku, kepalanya dia elus dengan gerakan memutar dengan jari telunjuk dan jempolnya…

Ternyata tak sia2 niken menjadikan film porno referensinya, dia dengan sigap membuka celana dalamku dan mulai menjilati penisku yang sudah mulai tegak…tanpa ragu niken tarik celana dalamku ke bawah dengan celanaku dan membukanya….dan diapun langsung membuka bajuku…lalu dia jilati putingku dengan ujung lidahnya…dan mengocok penisku dengan telaten….dengan gerakan memutar dan juga jempolnya mengelus-ngelus kepalanya….lalu niken menciumi dadaku terus turun ke perut dan akhirnya sampai ke penisku…yang langsung dia ciumi dan jilati….

setelah puas lalu niken tanpa ragu memasukan penisku ke dalam mulutnya….ooowwwwhhhh…sensainya luar biasa…saat penisku diciumi dan dijilati saja sudah nikmat…sekarang penisku dia kulum dan dengan lidahnya yang terus menari memanjakan penisku….aku tak dapat berkata apa2 selian melenguh..”aaahhh….aaah…” dan pinggangku bergerak-gerak kegelian…..saat itu posisiku mengangkang..dan niken membungkuk diantara kakiku..mengocok dengan tangan dan mengulum penisku yang tidak tertutupi tanganya…..diapun menjilatin kebagian pangkal penisku dan pelerku…dia kulum dan sedot2 pelerku secara bergantian….aaaahhhhh…sungguh nikmat……

Akupun meraih kaki niken yang kiri dan menariknya sehingga bagian bawah tubuh niken tertarik ke bagian atas tubuhku, niken yang tahu apa yang cob aku lakukan , melangkah menyamping tanpa melepaskan mulutnya dari penisku…akupun tiduran dan saat ini vagina niken ada didepan mukaku….posisi kami sekarang 69…aku mengambil carrier sebagai bantalan kepalaku dan mulai kujilati selangkangan niken…..dengan lenganku melingkar dipahanya dan tanganku meremas pantatnya…sambil kusentuh2 lubang duburnya….niken makin kencang mengocok dan mengulum penisku….sepetinya dia terangsang oleh sentuhan jari di liang duburnya….lalu kujilati vaginanya..dari clitoris sampai pangkal lubang vaginanya dan kusentuh…ku ulang berkali-kali…hmmh….vagina niken wangi..dan bulu2nya halus….akupun semakin nafsu dibuatnya….pinggul niken bergerak-gerak menahan kenikmatan jilatan lidahku….pinggulku pun tak mau diam maju mundur mengiringi kuluman niken atas penisku…..

Selang sekitar sepuluh menit dengan posisi 69, aku tau niken sudah tidak konsentrasi karena semakin terangsang saat dia tidak mengulum penisku lagi…dan cairan birahinya kembali membasahi vaginanya….niken pun memaju mundurkan pinggulnya…sehingga lidahku lebih menekan vaginanya…. akupun sudah tak tahan ingin menikmati lubang vagina niken…”Ri…aaahhh…masukin punyamu Ri…udah gak tahan nih…aaaahhh…..aaahhh….”

Akupun menghentikan jilatanku dan kami langsung berubah posisi, aku baringkan niken dilantai jembatan itu dengan mengangkang, akupun berada diantara kakinya dengan berjongkok…dengan memegang pinggul niken….dan niken memegang penisku untuk diarahkan ke lubangnya….hehehehe..maklum baru pertama..ntar meleset….saat kepala penisku merasakan hangat bibir vagina niken aku langsung bilang “kalo sakit bilang ya…..” niken pun mengangguk…lalu aku tekan pelan2 penisku…sangat pelan2….

ketika niken agak memejam dam mencengkram lenganku..aku hentikan tusukanku dan memutar-mutar penisku….sampai niken rileks lagi dan otot vaginanya mengendur..lalu aku teruskan gerakan menusukku…dapat kurasakan cengkraman dinding vagina niken….ooowwwhhh…sungguh nikmat lubang ini….padahal belum sepenuhnya penisku masuk…baru kepalanya saja….pikirku pasti ada darah yang keluar…karena inipun kali pertama niken ML….tapi selama dia tidak meras kesakitan..aku teruskan gerakan menusuk ke lubang vaginanya….setelah beberapa kali berhenti menusuk dan gerak memutar penis..

akhirnya seluruh penisku masuk ke lubang vagina niken…..niken menahan lenguhannya dengan mengigit bibir bawahnya dengan pelan dan memejamkan mata….setelah masuk semua, akupun mendiamkan penisku untuk sementara..dan menciumi niken….kami saling berpagutan….terdengar decak2 lidah kami yang beradu dengan air ludah….niken memeluk ku dengan erat….dan saat itu aku mulai menggerakan pinggulku..sehingga penisku maju mundur memasuki lubang vagina niken….aku tahu saat2 awal ini hrs pelan2…jadi tidak terasa sakit dan makin nikmat…setidaknya itu yang dikatakan artikel2 kesehatan seks…..dan ternyata itu terbukti…. hehehehe…

Aku lepaskan pagutanku dari mulut niken dan mengulum puting payudaranya, bersamaan dengan gerakan pinggulku untuk menyodok-nyodokan penisku ke vaginanya…..niken meracau tak karuan dan mengacak-acak rambutku…. “aaaahhhh…Ri…eeemmmmhhh…nikmat Riii…eeeemmmhhh…..penismu enak Rii….aaaahhhhhh…terus Rii….”…racauan niken semakin membuatku nafsu…akupun mengambil posisi push up…dengan niken yang mengangkang…penisku lebih leluasa untuk menyodok vagina niken…aku angkat pantatku dan dengan kencang aku sodok2 vagina niken….maju mundur dengan ritme yang naik….niken semakin meracau “aaahhhh Riii…terus sodok Rii…aaahhh…uuuuhhhhh….”….kedua tangan niken mencengkram lantai jembatan…..oooowwwwwgggghhhh…sungguh luar biasa nikmat lubang niken…sangat legit…..tanganku berpindah dari pinggul ke payudara niken dan meremas-remasnya…..sambil kupilin putingnya…..niken menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri sambil menggit bibir bawahnya dan memejamkan mata….

Niken menyadari aku mulai pegal dengan posisi ini saat genjotanku mulai memelan…..lalu dia berusaha bangkit dan mendorong badanku sehinggak aku terlentang…saat itu niken ada diatasku…dengan berjongkok…dia memasukan penisku ke lubang vaginanya….karena dia yang mengendalikan skrg….niken bisa mengira-ngira seberapa pelan dia menurunkan badannya sehingga penisku dapat masuk kembali ke lubang vaginanya tanpa kesulitan….setelah masuk semua penisku ke vaginanya…niken menggoyang-goyang kan pinggulnya….ooowwwwhhhh….sungguh nikmat aku dibuatnya….akupun meremas payudaranya…..goyangan niken semakin kencang…diiringi dengan naik turun pinggulnya…..sambil melenguh dan tampak sangat menikmati setiap gerakan penisku didalam vaginanya…..”aaaahhhh….eeemmhhh…..Rii…..pe nis kamu mantap nikmatnya…..”..”vagina kamu juga enak banget ken…..aaaahhhh….”akupun mengiringi gerakan nikan dengan menaik-naikkan pinggul ku….sungguh tak terbayang kenikmatannya…..aaaaahhhhhhh……

Lalu niken menopang tubuhnya dengan memegang pahaku…badannya condong kebelakang…..lalu menaik turunkan pinggulnya…oooooaaaahhhh….nikmat sekali…..naik turun pinggulnya diiringi pula dengan goyangan2…..seluruh batang penisku merasakan kenikmatan pijatan dinding vagina niken…dan diapun nampak sama…sangat menikmatinya…..”aaahhh….ooohhh….Riii…. “ goyangan dan naik turun pinggul niken makin kencang….dan semakin kencang…

Untuk lebih nikmat aku rubah posisi ku menjadi memangku niken diatasku, dia melingkarkan kakinya dipinggangku dan nikenpu melingkarkan tangannya di pundakku….aku raih pantatnya dan aku remas2…niken pun menaik turunkan badannya yang megunci badanku…..sambil kujilati juga payudaranya….aaahhh…kami berdua sama2 melenguh…meresapi setiap kenikmatan yang kai rasakan…..sekitar lima menit kami dengan gaya ini..niken mempercepat gerakannya….dan akupun imbangi dengan gerakan pinggulku…”aaahhh Rii…aku mau keluar…” “aku juga ken…” “aaahh….oohh….” hanya lenguhan2 kami yang ada setelahnya…dan tak berapa lama aku merasakan pijatan dinding vagina niken makin tak beraturan….akupun merasakan desakan di penisku…dan…”aaaaahhhhhhhhhhhh…..aaahhhh…. ”niken mengejang dan memeluk kencang tubuhku…akupun semakin membenamkan penisku…..dan menegang….dan keluarlah spermaku didalam vagina niken…bersamaan dengan keluarnya cairan orgasme niken…sungguh nikmat yang sulit digambarkan……kami saling memeluk erat untukbeberapa saat…..dan tubuh kami basah bercucuran keringat…..dinginnya malam itu sungguh tidak terasa…..

Kamipun lunglai dan lemas diatas lantai jembatan itu….aku melihat wajah puas niken…..dan diapun tersenyum….dibawah sinar bulan….ditengah belantara pegunungan…diatas lantai jembatan kayu..kami berbaring tanpa busana…telanjang bulat…..hanya diiringi oleh suara alam di malam hari….

Kamipun sadar ketika rasa dingin malam itu sudah terasa, badan kami sudah tidak panas lagi akibat pergumulan tadi, dan segera memakai pakaian utnuk menghindari masuk angin….dan berdiam sejenak untuk memulihkan tenaga…kami baru seper enam perjalanan…dan sudah menghabiskan sekitar 2 jam lebih di tempat itu….

Begitulah bro dan sis…pengalaman pertamaku praktek ML, ternyata tak sia2 aku mengikuti saran2 di artikel2 kesehatan seks, seperti senam kegel…yang ternyata terbukti memperkuat daya tempurku…..nah tadi itu baru seperenam perjalanan…masih ada lima perenam lagi perjalananku dengan niken kala itu…..lain kali disambung yaaa….hehehehehe……
Read More..

DAUN MUDA SUSAHNYA PUASA NGEWEK

Walaupun bulan ini penuh dengan kesibukanku, aku termasuk orang yang sangat susah untuk dapat mengontrol keinginan seks atas wanita. Pengalaman ini kualami beberapa hari sebelum bulan-bulan sibukku yang lalu di tempat kost. Di tempat kost kami berlima dan hanya ada satu-satunya cewek di kost ini, namanya Sari. Aku heran ibu kost menerima anak perempuan di kost ini. Oh, rupanya Sari bekerja di dekat kost sini.Sari cukup cantik dan kelihatan sudah matang dengan usianya yang relatif sangat muda, tingginya kira-kira 160 cm. Yang membuatku bergelora adalah tubuhnya yang putih dan kedua buah dadanya yang cukup besar. Ahh, kapan aku bisa mendapatkannya, pikirku.

Menikmati tubuhnya, menancapkan penisku ke vaginanya dan menikmati gelora kegadisannya.Perlu pembaca ketahui, umurku sudah 35 tahun. Belum menikah tapi sudah punya pacar yang jauh di luar kota. Soal hubungan seks, aku baru pernah dua kali melakukannya dengan wanita. Pertama dengan Mbak Anik, teman sekantorku dan dengan Esther. Dengan pacarku, aku belum pernah melakukannya. Swear..! Beneran.

Kami berlima di kost ini kamarnya terpisah dari rumah induk ibu kost, sehingga aku dapat menikmati gerak-gerik Sari dari kamarku yang hanya berjarak tidak sampai 10 meter. Yang gila dan memuncak adalah aku selalu melakukan masturbasi minimal dua hari sekali. Aku paling suka melakukannya di tempat terbuka. Kadang sambil lari pagi, aku mencari tempat untuk melampiaskan imajinasi seksku.Sambil memanggil nama Sari, crot crot crot.., muncratlah spermaku, enak dan lega walau masih punya mimpi dan keinginan menikmati tubuh Sari.

Aku juga suka melakukan masturbasi di rumah, di luar kamar di tengah malam atau pagi-pagi sekali sebelum semuanya bangun. Aku keluar kamar dan di bawah terang lampu neon atau terang bulan, kutelanjangi diriku dan mengocok penisku, menyebut-nyebut nama Sari sebagai imajinasi senggamaku. Bahkan, aku pernah melakukan masturbasi di depan kamar Sari, kumuntahkan spermaku menetesi pintu kamarnya. Lega rasanya setelah melakukan itu.Sari kuamati memang terlihat seperti agak binal. Suka pulang agak malam diantar cowok yang cukup altletis, sepertinya pacarnya.

Bahkan beberapa kali kulihat suka pulang pagi-pagi, dan itu adalah pengamatanku sampai kejadian yang menimpaku beberapa hari sebelum bulan itu.Seperti biasanya, aku melakukan masturbasi di luar kamarku. Hari sudah larut hampir jam satu dini hari. Aku melepas kaos dan celana pendek, lalu celana dalamku. Aku telanjang dengan Tangan kiri memegang tiang dan tangan kanan mengocok penisku sambil kusebut nama Sari.

Tapi tiba-tiba aku terhenti mengocok penisku, karena memang Sari entah tiba-tiba tengah malam itu baru pulang.Dia memandangiku dari kejauhan, melihat diriku telanjang dan tidak dengan cepat-cepat membuka kamarnya. Sepertinya kutangkap dia tidak grogi melihatku, tidak juga kutangkap keterkejutannya melihatku. Aku yang terkejut.Setelah dia masuk kamar, dengan cuek kulanjutkan masturbasiku dan tetap menyebut nama Sari. Yang kurasakan adalah seolah aku menikmati tubuhnya, bersenggama dengannya, sementara aku tidak tahu apa yang dipikirkannya tentangku di kamarnya.

Malam itu aku tidur dengan membawa kekalutan dan keinginan yang lebih dalam.Paginya, ketika aku bangun, sempat kusapa dia.”Met pagi..” kataku sambil mataku mencoba menangkap arti lain di matanya.Kami hanya bertatapan.Ketika makan pagi sebelum berangkat kantor juga begitu.”Kok semalam sampai larut sih..?” tanyaku.”Kok tak juga diantar seperti biasanya..?” tanyaku lagi sebelum dia menjawab.”Iya Mas, aku lembur di kantor, temenku sampai pintu gerbang saja semalam.” jawabnya sambil tetap menunduk dan makan pagi.”Semalam nggak terkejut ya melihatku..?” aku mencoba menyelidiki.

Wajahnya memerah dan tersenyum. Wahh.., serasa jantungku copot melihat dan menikmati senyum Sari pagi ini yang berbeda. Aku rasanya dapat tanda-tanda nih, sombongnya hatiku.Rumah kost kami memang tertutup oleh pagar tinggi tetangga sekeliling. Kamarku berada di pojok dekat gudang, lalu di samping gudang ada halaman kecil kira-kira 30 meter persegi, tempat terbuka dan tempat untuk menjemur pakaian. Tanah ibu kostku in cukup luas, kira-kira hampir 50 X 100 m. Ada banyak pohon di samping rumah, di samping belakang juga. Di depan kamarku ada pohon mangga besar yang cukup rindang.

Rasanya nasib baik berpihak padaku. Sejak saat itu, kalau aku berpapasan dengan Sari atau berbicara, aku dapat menangkap gejolak nafsu di dadanya juga. Kami makin akrab. Ketika kami berbelanja kebutuhan Puasa di supermarket, kukatakan terus terang saja kalau aku sangat menginginkannya. Sari diam saja dan memerah lagi, dapat kulihat walau tertunduk.Aku mengajaknya menikmati malam Minggu tengah malam kalau dia mau. Aku akan menunggu di halaman dekat kamarku, kebetulan semua teman-teman kostku pulang kampung. Yang satu ke Solo, istrinya di sana, tiap Sabtu pasti pulang. Yang satunya pulang ke Temanggung, persiapan Puasa di rumah.Aku harus siapkan semuanya.

Kusiapkan tempat tidurku dengan sprei baru dan sarung bantal baru. Aku mulai menata halaman samping, tapi tidak begitu ketahuan. Ahh, aku ingin menikmati tubuh Sari di halaman, di meja, di rumput dan di kamarku ini. Betapa menggairahkan, seolah aku sudah mendapat jawaban pasti.Sabtu malam, malam semakin larut. Aku tidur seperti biasanya. Juga semua keluarga ibu kost. Aku memang sudah nekat kalau seandainya ketahuan. Aku sudah tutupi dengan beberapa pakaian yang sengaja kucuci Sabtu sore dan kuletakkan di depan kamarku sebagai penghalang pandangan. Tidak lupa, aku sudah menelan beberapa obat kuat/perangsang seperti yang diiklankan.

Tengah malam hampir jam setengah satu aku keluar. Tidak kulihat Sari mau menanggapi. Kamarnya tetap saja gelap. Seperti biasa, aku mulai melepasi bajuku sampai telanjang, tangan kiriku memegangi tiang jemuran dan tangan kananku mengocok penisku. Sambil kusebut nama Sari, kupejamkan mataku, kubayangkan sedang menikmati tubuh Sari. Sungguh mujur aku waktu itu. Di tengah imajinasiku, dengan tidak kuketahui kedatangannya, Sari telah ada di belakangku.Tanpa malu dan sungkan dipeluknya aku, sementara tanganku masih terus mengocok penisku.

Diciuminya punggungku, sesekali digigitnya, lalu tangannya meraih penisku yang menegang kuat.”Sari.. Sari.. achh.. achh.. nikmatnya..!” desahku menikmati sensasi di sekujur penisku dan tubuhku yang terangkat tergelincang karena kocokan tangan Sari.”Uhh.. achh.. Sari, Sari.. ohh.. aku mau keluar.. ohh..” desahku lagi sambil tetap berdiri.Kemudian kulihat Sari bergerak ke depanku dan berlutut, lalu dimasukkannya penisku ke mulutnya.”Oohh Sari.. Uhh Sarii.., Saarrii.. Nikmat sekali..!” desahku ketika mulutnya mengulumi penisku kuat-kuat.Akhirnya aku tidak dapat menahannya lagi, crott.. crot.. crot.., spemaku memenuhi mulut Sari, membasai penisku dan ditelannya. Ahh anak ini sudah punya pengalaman rupanya, pikirku.

Lalu Sari berdiri dengan mulut yang masih menyisakan spermaku, aku memeluknya dan menciuminya. Ahh.., kesampaian benar cita-citaku menikmati tubuhnya yang putih, lembut, sintal dan buah dadanya yang menantang.Kulumati bibirnya, kusapu wajahnya dengan mulutku. Kulihat dia memakai daster yang cukup tipis. BH dan celana dalamnya kelihatan menerawang jelas. Sambil terus kuciumi Sari, tanganku berkeliaran merayapi punggung, dada dan pantatnya. Ahh.. aku ingin menyetubuhi dari belakang karena sepertinya pantatnya sangat bagus.

Aku segera melepaskan tali telami dasternya di atas pundak, kubiarkan jatuh di rumput.Ahh.., betapa manis pemandangan yang kulihat. Tubuh sintal Sari yang hanya dibalut dengan BH dan celana dalam. Wahh.., membuat penisku mengeras lagi. Kulumati lagi bibirnya, aku menelusuri lehernya.”Ehh.., ehh..!” desis Sari menikmati cumbuanku.”Ehh.., ehh..!” sesekali dengan nada agak tinggi ketika tanganku menggapai daerah-daerah sensitifnya.Kemudian kepalanya mendongak dan buah dadanya kuciumi dari atas. O my God, betapa masih padat dan montok buah dada anak ini.

Aku mau menikmatinya dan membuatnya mendesis-desis malam ini. Tanganku yang nakal segera saja melepas kancing BH-nya, kubuang melewati jendela kamarku, entah jatuh di mana, mungkin di meja atau di mana, aku tidak tahu. Uhh.., aku segera memandangi buah dada yang indah dan montok ini. Wah luar biasa, kuputari kedua bukitnya. Aku tetap berdiri. bergantian kukulumi puting susunya. Ahh.., menggairahkan.Terkadang dia mendesis, terlebih kalau tangan kananku atau kiriku juga bermain di putingnya, sementara mulutku menguluminya juga. Tubuhnya melonjak-lonjak, sehingga pelukan tangan kanan atau kiriku seolah mau lepas. Sari menegang, menggelinjang-gelinjang dalam pelukanku.

Lalu aku kembali ke atas, kutelusuri lehernya dan mulutku berdiam di sana. Tanganku sekarang meraih celana dalamnya, kutarik ke bawah dan kubantu melepas dari kakinya. Jadilah kami berdua telanjang bulat.Kutangkap kedua tangan Sari dan kuajak menjauh sepanjang tangan, kami berpandangan penuh nafsu di awal bulan ini. Kami sama-sama melihat dan menjelajahi dengan mata tubuh kami masing-masing dan kami sudah saling lupa jarak usia di antara kami. Penisku menempel lagi di tubuhnya, enak rasanya. Aku memutar tubuhnya, kusandarkan di dadaku dan tangannya memeluk leherku.

Kemudian kuremasi buah dadanya dengan tangan kiriku, tangan kananku menjangkau vaginanya. Kulihat taman kecil dengan rumput hitam cukup lebat di sana, lalu kuraba, kucoba sibakkan sedikit selakangannya. Sari tergelincang dan menggeliat-geliat ketika tanganku berhasil menjangkau klitorisnya. Seolah dia berputar pada leherku, mulutnya kubiarkan menganga menikmati sentuhan di klitorisnya sampai terasa semakin basah.Kubimbing Sari mendekati meja kecil yang kusiapkan di samping gudang.

Kusuruh dia membungkuk. Dari belakang, kuremasi kedua buah dadanya. Kulepas dan kuciumi punggungnya hingga turun ke pantatnya. Selangkangannya semakin membuka saja seiring rabaanku.Setelah itu aku turun ke bawah selakangannya, dan dengan penuh nafsu kujilati vaginanya. Mulutku menjangkau lagi daerah sensitif di vaginanya sampai hampir-hampir kepalaku terjepit.”Oohh.., ehh.., aku nggak tahan lagi.., masukkan..!” pintanya.Malam itu, pembaca dapat bayangkan, aku akhirnya dapat memasukkan penisku dari belakang. Kumasukkan penisku sampai terisi penuh liang senggamanya. Saat penetrasi pertama aku terdiam sebelum kemudian kugenjot dan menikmati sensasi orgasme.

Aku tidak perduli apakah ada yang mendengarkan desahan kami berdua di halaman belakang. Aku hanya terus menyodok dan menggenjot sampai kami berdua terpuaskan dalam gairah kami masing-masing.Aku berhasil memuntahkan spermaku ke vaginanya, sementara aku mendapatkan sensasi jepitan vagina yang hebat ketika datang orgasmenya. Aku dibuatnya puas dengan kenyataan imajinasiku malam Minggu itu. Sabtu malam atau minggu dini hari yan
g benar-benar hebat. Aku bersenggama dengan Sari dalam bebrapa posisi. Terakhir, sebelum posisi konvensioal, aku melakukan lagi posisi 69 di tempat tidur.Ahh Sari, dia berada dalam pelukanku sampai Minggu pagi jam 8 dan masih tertidur di kamarku.

Aku bangun duluan dan agak sedikit kesiangan. Ketika melihat ke luar kamar, ohh tidak ada apa-apa. Kulihat kedua cucu ibu kostku sedang bermain di halaman. Mereka tidak mengetahui di tempat mereka bermain itu telah menjadi bagian sejarah seks hidupku dan Sari.Pembaca, itulah pengalamanmu dengan Sari di kost. Aku sudah dua malam Minggu bersamanya. Betapa hebat di bulan ini. Aku bisa, aku bisa.. dan mau terus berburu lagi. Ahh.., hidup memang menggairahkan dengan seks, dengan wanita. Hanya, aku harus super selektif memilihnya.
Read More..

DAUN MUDA GAIRAH SEORANG PRIA

Setiap kali Airin putriku pulang mengajak teman temannya, aku selalu menelan liur melihat kecantikan dan kenekadan mereka dalam berpakaian maupun bersikap, mereka begitu bebas dan tak sungkan sungkan, padahal usia mereka rata rata barulah 20 tahun, tetapi gayanya sudah seperti orang yang dewasa.

Bagiku hal ini tak menyusahkan malahan menggembirakan karena dapat membuat mataku yang seperti keranjang ini terpuaskan oleh pertunjukan yang dihidangkan oleh anak anak muda ini. Yang penting mereka tak memakai obat bius, bagiku segalanya OK.
Airin sendiri sudah sering aku tanyai tentang cara dia bersikap tetapi selalu dia jawab bahwa dia dan teman temannya punya prinsip dan ini tak boleh dicampuri orang lain. Aku dan isteriku hanya tertawa setiap kali mendengar kata katanya ini, karena kami selalu teringat ketika ia masih bayi yang begitu lucu dan montok.

Sekarang dia sudah dewasa wajahnya cantik sekali dan badannya montok seperti mamanya, aku yakin kalau salah satu cowok yang sering datang itu pasti pacarnya, tetapi aku tak berani menduga apakah anakku sudah pernah berhubungan seks, padahal kalau meramal orang lain aku pandai sekali.

Salah seorang teman anakku yang sering datang dan main kerumah adalah seorang aktris sinetron yang terkenal, Diah sering membintangi sinetron yang bertemakan hantu. Aku tertarik dengan anak ini karena meskipun umurnya sepantaran dengan anakku, tetapi badannya aduhai sekali disamping wajahnya cantik sekali dengan rambut terurai panjang.

Setiap kali dia main kerumah aku selalu memperhatikannya apalagi jika dia berenang, dengan pakaian renangnya yang sangat minim itu aku selalu dapat melihat kemontokan susunya disamping juga dari samping celana renangnya selalu kelihatan bulu jembutnya yang hitam itu. Tetapi seperti juga teman anakku yang lain, mereka cuek saja meskipun aku ada didekat mereka.
Akulah yang kebingungan untuk menyembunyikan ******ku yang ngaceng melihat tubuh mereka yang merangsang itu, setiap kali aku selalu memakai handuk ditepi kolam renang.

Diah sangat manja kepadaku seringkali dia kurangkul seolah olah dia anakku tetapi sebenarnya aku ingin sekedar merasakan kekenyalan susunya serta kelembutan pantatnya yang montok itu.
Aku sudah berangan angan untuk menikmati nonok Diah , sayangnya kesempatan itu selalu tak pernah ada, padahal makin hari aku makin tak tahan memandang Diah yang bagiku terasa makin seksi dan berani didepanku itu. Pernah dia suatu hari secara terang terangan membuka baju renangnya didepanku sementara Airin menggosokkan krim penahan panas dipunggungnya.
Semua ini sangat merangsangku untuk sekali kali mencicipinya, jikalau selama ini aku berprinsip tak akan mencicipi perawan, tetapi untuk Diah aku kecualikan, karena ku benar benar tak tahan lagi. Kesempatan itu akhirnya tiba secara tak diduga duga, yaitu ketika kami sekeluarga berlibur di Puncak.

Siang itu aku bermaksud turun ke Jakarta karena tadi aku mendapat telepon dari Lily sekretarisku bahwa ada seorang ibu yang ingin berjumpa denganku untuk menyelesaikan persoalannya. Saat aku memutar Mercedesku, kudengar teriakan Airin yang memanggilku, aku berhenti dan menunggu Airin serta Diah yang berlari lari kearahku.

Ternyata Diah juga harus pulang ke Jakarta karena sore nanti dia ada shooting sedangkan Airin tak bisa turun karena ada janji dengan temannya untuk bertemu di villa. Aku langsung OK dan kamipun segera meluncur ke Jakarta berdua saja. Diah benar benar santai, dia hanya memakai short , kaus serta jacket. Tak henti hentinya mulutnya bercerita kesana kemari yang selalu kujawab apa adanya. Ketika Diah membuka jacketnya, dan melemparnya kejok belakang, aku menoleh kearahnya untuk melihat pakaian yang dikenakannya.

Ternyata Diah memakai kaus tanpa lengan serta tak memakai beha, karena kulihat susunya yang besar itu menggelayut dari balik kausnya itu dan yang paling membuat aku mata gelap adalah ketika ia menyilangkan kedua lengannya kebalik kepalanya sehingga ketiaknya yang dihiasi bulu bulu halus itu tampak jelas dihadapanku.
Tanpa sungkan aku berkata pada Diah " Diah, kamu kok tak pakai beha ? Diah tertawa sambil berkata " Kan pakai jacket Oom, kalau dimobil sih biar saja, kan cuman Oom yang ngliat, lagian enak Oom nggak risih !" Aku juga tertawa sambil berkata "Oom juga nggak pakai celana dalam, karena rasanya risih kalau pakai ! Diah tertawa ngakak, "masak sih Oom, apa Oom nggak kuatir kalau terjepit ritsliting ?" Aku jawab " ya mesti hati hati dong ! Saat itu ketika Diah melihat kearah pahaku dia tertawa geli sambil berkata " Idih burungnya Oom berdiri tuh, kok celananya jadi mencuat begitu !"

Aku tertawa sambil berkata, Oom jadi terangsang ngliat susumu yang montok itu, jadinya ya berdiri ! Sambil berkata tanganku mengusap susunya dengan tangan kiriku. Diah tertawa geli sambil berkata " kalau Oom senggol senggol nanti malahan jadi nggak karuan lho Oom ! Aku tersenyum sambil berkata lagi, "Coba kamu pegang punya Oom, pasti kamu belum pernah rasakan seperti yang satu ini !" Dengan terkikik Diah langsung memegang batang ******ku dari luar celanaku, dia langsung berteriak "Idih gede banget Oom ! Ketika kubuka celana panjangku, Diah lagi lagi terpekik melihat ******ku yang seperti anak kucing itu.

Entah karena sudah akrab dengan aku atau bagaimana, yang jelas dia dengan spontan memegang ******ku dan meremasnya. Akupun dengan berani merogoh susunya dari balik kausnya, ternyata susu Diah sangat kenyal. Ketika kusingkap kausnya keatas sehingga susunya terjuntai keluar, aku menelan ludah susunya benar indah. Pentilnya merah muda dan buah dadanya sungguh montok dan bundar sangat bagus sekali. Ketika kutawarkan pada Diah untuk berhenti disatu motel yang tampak didepan, Diah mengangguk sambil tersenyum katanya "Oom jangan bilang Airin ya, Diah malu .

Aku hanya mengangguk dan segera kubelokkan mobilku memasuki motel. Begitu pintu garasi motel ditutup, tanpa turun dari mobil aku langsung menciumi wajah Diah yang ayu itu dan mencari bibirnya. Diah sendiri balas merangkul aku dan mandah saja ketika kuhisap bibirnya dalam dalam. Kubuka kausnya dan kuajak dia turun dari mobil. Kami berdua keluar dari mobil dalam keadaan yang lucu, karena aku berjalan dengan celana terbuka sehingga ******ku terjulur keluar sedangkan Diah berjalan tanpa baju alias telanjang dada.

Begitu sampai dikamar, aku tak sabar lagi mencopot short yang dipakai Diah, serta juga celana dalamnya, tubuh Diah benar benar bagus, tak salah dia menjadi bintang sinetron. Badannya sangat mulus dan bersih seolah tanpa setitik nodapun menempel dikulitnya yang putih itu, hanya dipangkal pahanya tumbuh semak hitam yang tipis menutupi bukit nonoknya yang cembung itu. Aku mencium bibirnya serta mengulum bibir yang berlipstick merah itu, Diah balas memelukku sambil menggigit bibirku pelan pelan, bibirku turun terus menciumi seluruh lekuk tubuh Diah mulai dari lehernya yang jenjang terus kebawah kepuncak bukit susunya , mengulum pentil susunya yang sudah mengerra seperti kerikil itu.

Diah merintih rintih merasakan rasa geli dan nikmat yang kubuat itu. Setiap kali aku mengulum pentilnya, Diah menekan kepalaku kedadanya sehingga wajahku terbenam dikelembutan susu Diah, aku terus menjelajahi tubuh Diah, kujilati pelan pelan bagian bawah susunya sampai kepusarnya yang bundar itu, persis seperti anak kucing yang mandi kering.
Diah mendesis desis, kali ini aku benar dituntut kesabarannya untuk menghadapi anak seusia Diah ini, meskipun Diah sudah banyak bergaul dengan temannya yang mungkin juga jagoan merayu, tetapi aku tidak boleh kalah, justru aku harus menunjukkan bahwa aku lebih telaten dari anak muda yang biasanya main serbu dan lari itu.

Ketika jilatanku sampai kebukit nonoknya yang berjembut tipis, akupun mulai menjilati jembutnya dengan lidahku sehingga jembut Diah menjadi basah kuyup, pelan pelan jilatanku mulai menyusuri lereng bukit cembung itu menuju lipatan paha Diah yang menuju liang surga. Kulihat liang nonok Diah masih tertutup rapat, hanya tampak itilnya yang menonjol keluar seperti kacang serta lendir yang membasahi celah surga itu.

Ketika lidahku menyentuh itil Diah, Diah terlonjak kegelian, kutahan kakinya dan pelan pelan kukuakkan pahanya sehingga kepalaku tepat berada diantara pangkal pahanya. Lidahku kujulurkan menyelusupi liang nonok Diah sambil sekali kali kujilat itilnya yang makin membengkak itu. Kucium bau harum yang khas keluar dari nonok Diah, bau yang selalu kucium bila menghadapi perempuan yang sedang bernafsu, kubersihkan semua lendir yang keluar dari nonok Diah dengan menjilatinya. Saat itulah Diah mengejang sambil merintih serak, tangannya mencengkeram sprei tempat tidurnya dan kakinya menjepit kepalaku yang ada diselangkangannya itu.

Rupanya Diah sudah mencapai kepuasannya meskipun hanya dengan aku jilati saja. Kubiarkan Diah merasakan semuanya itu, sementara aku tak berhenti menjilati itilnya yang menjadi pusat rasa geli itu. Begitu kurasakan Diah melepaskan jepitan pahanya dikepalaku, aku menghentikan jilatanku dan menindih tubuhnya sambil memeluknya.

Diah membalas pelukanku sambil menciumi bibirku, ******ku yang sudah ngaceng berat itu mulai kuarahkan keliang nonoknya yang sudah licin dengan lendir itu, mudah sekali untuk menyelipkan ******ku diantara liang nonok Diah, saat itulah Diah tiba tiba berkata "Oom pelan pelan ya, Diah belum pernah berbuat seperti ini lho !" Aku benar benar kaget mendengar pengakuan Diah ini, berarti Diah masih perawan.

Memang aku sering menduga kalau kelihatannya Diah masih perawan, karena seringkali ketika kupeluk dan kuremas terasa kekenyalan seorang perawan, tetapi setelah apa yang kulakukan padanya dan begitu pasrahnya dia padaku, kukira ia sudah pernah melakukannya sehingga tak canggung lagi. Ternyata dugaanku itu salah semua, Diah masih perawan...... Dengan lembut aku mencium bibirnya dan berbisik "jangan kuatir, Oom akan pelan pelan kok!" Diah memejamkan matanya ketika aku mulai mendorong ******ku memasuki liangnya yang masih asli itu. Sebenarnya jika sudah licin seperti ini, dengan mudah ******ku akan menembus nonok Diah, tetapi karena masih terhalang dengan selaput perawannya, maka aku harus ekstra hati hati agar Diah tak merasa kesakitan.

Sambil meremas buah dadanya, ******ku terus kudorong pelahan pelahan memasuki liang Diah, memang meskipun licin, terasa dinding liang Diah menggigit ******ku. Tetapi setiap kali aku mendorong masuk selalu Diah mendorong badanku sambil merintih, aku terus mendorong sambil berkata, "tahan sedikit Diah, sebentar juga hilang, nanti yang terasa cuman enaknya saja " Diah seakan akan tak mendengar bisikanku itu, bahkan ketika ******ku menyentuh selaput gadisnya, dia langsung menjengit sambil berteriak lirih.

Aku menahan gerakanku sementara tanganku makin aktif meremas susunya serta menciumi wajahnya yang awut awutan itu. Begitu kurasakan Diah agak terlena oleh rasa nikmat yang kutimbulkan, aku langsung menekan ******ku lebih keras dan....breet...sleeeppp....blus........ ******ku berhasil menembus selaput keperawanan Diah. Diah memekik, kubekap mulutnya dengan tanganku, karena aku kuatir kalau didengar kamar sebelahku.
Setelah kulihat Diah sudah mulai tenang, kulepaskan bekapan tanganku dan kuciumi bibirnya, Diah memelukku erat erat, katanya "aduh.. sakit Oom, jangan keras keras ya Oom.... !" Aku tak menyahut, justru pelan pelan aku mulai menggerakkan batang ******ku menyusuri liang sempit Diah yang baru saja kuperawani ini. Diah berkali kali menggigit bibir menahan perih yang dirasakannya, tetapi lama kelamaan Diah kembali mulai memeluk aku sambil mendesis desis kegelian. Kuremas buah dadanya yang kenyal itu dan kucucup pentilnya yang masih membatu itu.

Gerakanku yang tadinya lambat mulai kupercepat makin cepat sampai tiba tiba aku mengejang karena air maniku ambrol memenuhi liang nonok Diah. Diah juga ikut ikutan mengejang, karena dia juga mencapai puncak kenikmatan yang kedua kalinya, Aku berbaring lemas diatas tubuh Diah, kurasakan semua kenikmatan yang kudapat dari liang nonok Diah yang hebat itu. Diah sendiri terus memeluk aku sambil memejamkan matanya, bahkan ketika aku ingin mencopot ******ku dari liangnya, Diah melarangnya. Aku menurut saja, kami berbaring berpelukkan sementara ******ku masih terbenam diliang nonok Diah sampai tertidur.

Sekitar satu jam kami berpelukan seperti itu, ketika aku terbangun Diah juga membuka matanya, ia tersenyum memandangku, dipeluknya aku sambil berbisik "Oom jangan tinggalkan Diah ya, Diah sayang sama Oom !" Aku diam saja tetapi aku membalasnya dengan mencium bibirnya yang merekah itu. Ketika akhirnya aku berhasil mencabut ******ku dari liang nonok Diah, langsung saja air mani yang memenuhi liang nonok Diah membanjir keluar membasahi sprei bercampur dengan darah perawan Diah. Kuajak Diah kekamar mandi untuk membersihkan diri, Diah menurut saja, dengan tertatih tatih ia kutuntun kekamar mandi. Kami sama sama masuk kedalam bak mandi dan berendam dalam air hangat.

Air yang hangat, Diah yang cantik dan telanjang bulat membuat ******ku jadi ngaceng lagi. Kutarik tangan Diah dan kuarahkan ke******ku agar dipegang, ketika Diah merasakan ******ku yang sudah ngaceng lagi itu, dia tertawa geli dan meremas remasnya. Kutarik Diah agar duduk diatas pangkuanku dan kuarahkan ******ku keliang nonoknya. Begitu kurasakan nonoknya sudah menjepit ******ku, kutekan tubuhnya sehingga ******ku masuk kedalam liang itu sekali lagi.

Diah kadang kadang menjengit menahan rasa perih yang mungkin masih timbul, tetapi begitu ******ku habis terbenam dalam liangnya dan kusuruh dia untuk menaik turunkan pantatnya, ternyata Diah dengan lancar dapat melakukannya, dengan memelukku sambil menempelkan buah dadanya kedadaku Diah bergerak naik turun merasakan nikmatnya ******ku. Entah karena nafsuku yang menggebu atau memang nonok Diah yang luar biasa, kali ini aku cepat mencapai klimaks, Diah hanya tertawa ketika dirasakannya ******ku lemas dan melejit keluar dari nonoknya itu.

Kami berpakaian kembali dan meninggalkan motel meneruskan perjalanan menuju Jakarta. Dalam perjalanan Diah tak lagi banyak cerita, dia hanya menyandarkan badannya kebadanku sambil memejamkan matanya. Kupeluk dia sambil tetap menyetir, saat itulah hand phone ku berbunyi, rupanya Airin putriku yang menilpon, dia ingin berbicara dengan Diah katanya. Ketika kuserahkan tilpon pada Diah, kuperhatikan Diah berkali kali tertawa sambil berceloteh. Ketika tilpon sudah ditutup, kutanyakan apa yang dikatakan Airin, Diah menjawab kalau Airin curiga karena suara Diah yang serak tidak seperti biasanya itu, dia menduga ada sesuatu yang terjadi. Aku hanya tertawa saja, begitu juga dengan Diah. ..........

Sebelum berpisah aku ajak dulu Diah makan siang sekaligus kuberikan cek tunai senilai 30 juta agar supaya bisa dipakainya belanja. Aku benar benar suka dengan Diah, karenanya aku tak sayang membuang uang sebanyak itu. Diah berterimakasih menerima cek itu, dia bilang setiap saat aku butuh, dia akan mengatur jadwalnya agar bisa bersamaku lagi. Aku hanya tersenyum, dan kupesankan agar kalau dia main sama pacarnya jangan lupa cerita padaku, karena aku senang mendengar cerita semacam itu. Diah hanya mengangguk, sambil menyeringai. Aku yakin bahwa setelah kuperawani, Diah pasti akan selalu kepengen menikmati persetubuhan dan pasti dia akan mulai mau diajak main oleh pria pria yang selama ini menguber uber dia. Aku merasa beruntung karena cewek secakep Diah ternyata aku yang berhasil memerawaninya. 



Read More..

DAUN MUDA IMAH PEMBOKAT GUA

Hari kelima, pagi-pagi sekali, aku hampir tidak tahan. Aku melihat Imah keluar dari kamar mandi dengan hanya berlilitkan handuk di tubuhnya. Dia tidak melihatku. Kemaluanku langsung mengeras. Bayangkan saja, ketika istri sedang tidak ada, seorang gadis manis memamerkan keindahan tubuhnya sedemikian rupa. Maka, diam-diam aku menghampiri begitu dia masuk kamar.

Aneh, pintu kamarnya tidak ditutup rapat. Aku dapat melihat ke dalam dengan jelas melalui celah pintu selebar kira-kira satu centi. Apa yang kusaksikan di kamar itu membuat jantungku memompa tiga kali lebih cepat, sehingga darahku menggelegak-gelegak dan nafasku memburu. Aku menelan ludah beberapa kali untuk menenangkan diri.

Nampak olehku Imah sedang duduk di tepian ranjang. Handuk yang tadi meliliti tubuhnya kini tengah digunakannya untuk mengeringkan rambut, sementara tubuhnya dibiarkannya telanjang bulat. Sepasang buah dadanya yang montok berguncang-guncang. Lalu ia mengangkat sebelah kakinya dengan agak mengangkang untuk memudahkannya melap selangkangannya dengan handuk. Dari tempatku mengintip, aku dapat melihat rerumputan hitam yang tidak begitu lebat di pangkal pahanya.

Saat itu setan-setan memberi petunjuk kepadaku. Mengapa dia membiarkan pintunya sedikit terbuka seperti ini? Setelah menyaksikan aku bermain cinta dengan istriku, tidak mustahil kalau dia sengaja melakukan ini untuk memancing birahiku. Dia pasti menginginkan aku masuk Dia pasti akan senang hati menyambut kalau aku menyergap tubuhnya di pagi yang dingin seperti ini…

Ketika kemudian dia meremas-remas sendiri kedua payudaranya yang montok, sementara mukanya menengadah dengan mata terpejam, aku benar-benar tidak tahan lagi. Batang kemaluanku seakan berontak saking keras dan panjang, menuntut dilampiaskan hasratnya. Tanganku langsung meraih handle karena aku sudah memutuskan untuk masuk…

Pada saat itu tiba-tiba terdengar anakku menangis. Aku jadi sadar, lekas-lekas aku masuk ke kamar anakku. Tak lama kemudian Imah menyusul, dia mengenakan daster batik yang terbuka pada bagian pundak. Kurang ajar, pikirku, anak ini tahu betul dia punya tubuh indah. Otomatis batang kemaluanku mengeras kembali, tapi kutahan nafsuku dengan susah payah.

Alhasil, pagi itu tidak terjadi apa-apa. Aku keluar rumah untuk menghindari Imah, atau lebih tepatnya, untuk menghindari nafsu birahiku sendiri. Hampir tengah malam, baru aku pulang. Aku membawa kunci sendiri, jadi kupikir, Imah tidak akan menyambutku untuk membukakan pintu. Aku berharap gadis itu sudah tidur agar malam itu tidak terjadi hal-hal yang negatif.

Tetapi ternyata aku keliru. Imah membukakan pintu untukku. Dia mengenakan daster yang tadi pagi. Daster batik itu berpotongan leher sangat rendah, sehingga punggungnya yang putih terbuka, membuat darahku berdesir-desir. Lebih-lebih belahan buah dadanya sedikit mengintip, dan sebagian tonjolannya menyembul. Rambutnya yang ikal sebahu agak awut-awutan. Aku lekas-lekas berlalu meninggalkannya, padahal sejujurnya saat itu aku ingin sekali menyergap tubuh montoknya yang merangsang.

Sengaja aku mengurung diri di dalam kamar sesudah itu. Tapi aku benar-benar tidak dapat tidur, bahkan pikiranku terus menerus dibayangi wajah manis Imah dan seluruh keindahan tubuhnya yang mengundang. Entah berapa lama aku melamun, niatku untuk meniduri Imah timbul-tenggelam, silih berganti dengan rasa takut dan malu. Sampai tiba-tiba aku mendengar suara orang meminta-minta tolong dengan lirih…

Tanpa pikir panjang, aku langsung melompat dari ranjang dan segera berlari ke arah suara. Ternyata itu suara Imah. Sejenak aku berhenti di muka pintu kamarnya, tetapi entah mengapa, kini aku berani masuk.

Kudapati Imah tengah meringkuk di sudut ranjang sambil merintih-rintih lirih. Aku tercekat memandangi tubuhnya yang setengah telanjang. Daster yang dikenakannya tersingkap di sana-sini, memamerkan kemulusan pahanya dan sebagian buah dadanya yang montok. Sejenak aku mematung, menikmati keindahan tubuh Imah yang tergolek tanpa daya di hadapanku, di bawah siraman cahaya lampu kamar yang terang benderang. Otomatis kelelakianku bangkit. Hasratku kian bergelora, nafsu yang tertahan-tahan kini mendapat peluang untuk dilampiaskan. Dan setan-setan pun membujukku untuk langsung saja menyergap. “Dia tidak akan melawan,” batinku. “Jangan-jangan malah senang, karena memang itu yang dia harapkan...” Kuteguk liurku berulang-ulang sambil mengatur nafas. Untuk sesaat aku berhasil mengendalikan diri. Kuraih pundak Imah, kuguncang-guncang sedikit agar dia terbangun.

Gadis itu membuka mata dengan rupa terkejut. Posisinya menelentang kini, sementara aku duduk persis di sisinya. Jantungku bergemuruh. Dengan agak gemetar, kutepuk-tepuk pipi Imah sambil berupaya tersenyum kepadanya.

“Kamu ngigo’ yaa?” godaku. Imah tersipu.

“Eh, Bapak?! Imah mimpi serem, Pak!”

Suaranya lirih. Gadis itu bangkit dari tidurnya dengan gerakan agak menggeliat, dan itu malah membuat buah dadanya semakin terbuka karena dasternya sangat tidak beraturan. Aku jadi semakin bernafsu.

“Mimpi apaan, Mah?” tanyaku lembut.

“Diperkosa…!” jawab Imah sembari menunduk, menghindari tatapanku.*

“Diperkosa siapa?”

“Orang jahat! Rame-rame!”

“Oooh… kirain diperkosa saya!”

“Kalau sama Bapak mah nggak serem…!”

Aku jadi tambah berdebar-debar, birahiku semakin membuatku mata gelap. Kurapikan anak-anak rambut Imah yang kusut. Gadis itu menatapku penuh arti. Matanya yang bulat memandangku tanpa berkedip. Aku jadi semakin nekad.

“Kalau sama saya nggak serem?” tanyaku menegaskan dengan suara agak berbisik sambil mengusap pipi Imah. Babu manis itu tersenyum.

Entah siapa yang memulai, tahu-tahu kami sudah berciuman. Aku tidak peduli lagi. Kusalurkan gejolak birahi yang selama ini tertahan dengan melumat bibir Imah. Dia membalas dengan tak kalah panas dan bernafsu. Dia bahkan yang lebih dahulu menarik tubuhku sehingga kami rebah di atas ranjang sembari terus berciuman.

Tanganku lasak meremas-remas buah dada Imah. Kupuaskan hasratku pada kedua gundukan daging kenyal yang selama beberapa hari terakhir ini telah menggodaku. Imah pun tak tinggal diam. Sambil terus membalas lumatanku pada bibirnya, tangannya merayap ke balik celana pendek yang kukenakan. Pantatku diusap-usap dan diremasnya sesekali dengan lembut.*

Ketika ciuman terlepas, kami berpandangan dengan nafas memburu. Imah membalas tatapanku dengan agak sayu. Bibirnya merekah, seakan minta kucium lagi. Kusapu saja bibirnya yang indah itu dengan lidah. Dia balas menjulurkan lidah sehingga lidah kami saling menyapu. Kemudian seluruh permukaan wajahnya kujilati. Imah diam, hanya tangannya yang terus merayap-rayat di balik celana dalamku.

Aku jadi tambah bernafsu. Lidahku merambat turun ke leher. Imah menggelinjang memberi jalan. Terus kujilati tubuhnya yang mulai berkeringat. Imah menggelinjang-gelinjang hebat ketika buah dadanya kujilati. “Geliii..” desisnya sambil mengikik-ngikik, dan itu malah membuatku tambah bernafsu. Daging-daging bulat montok itu terus kujilati, kukulum putingnya, kusedot-sedot dengan rakus, tentunya sambil kuremas-remas dengan tangan.

Payudara Imah yang lembut kurasa semakin mengeras, pertanda birahinya kian meninggi. Lebih-lebih putingnya yang mungil berwarna merah jambu, telah amat keras seperti batu. Aku jadi semakin bersemangat. Sesekali mulutku merayap-rayap menciumi permukaan perut, pusar dan turun mendekati selangkangannya.

Imah mulai merintih dan meracau, sementara tangannya mulai berani meraba batang kemaluanku yang telah menegang sedari tadi. Kurasakan pijitannya amat lembut, menambah rangsangan yang luar biasa nikmat. Aku tidak tahan, tanganku balas merayap ke balik celana dalamnya. Imah mengangkang, pinggulnya mengangkat. Kugosok celah vaginanya dengan jari. Basah. Dia mengerang agak panjang ketika jari tengahku menyelusup ke dalam liang vaginanya, batang penisku digenggamnya erat dengan gemas. Aku semakin tidak tahan, maka kubuka celana pendek dan celana dalamku sekaligus.

Imah langsung menyerbu begitu batang kemaluanku mengacung bebas tanpa penutup apa pun lagi. Dengan posisi menungging, digenggamnya batang kemaluanku, lalu dijilat-jilatnya ujungnya seperti orang menjilat es krim. Tubuhku seperti dialiri listrik tegangan tinggi. Bergetar, nikmat tak terkatakan.

“Imah udah tebak, pasti punya Bapak gede…” desis Imah tanpa malu-malu.

“Isep, Mah…!” kataku memberi komando.

Tanpa menunggu diminta dua kali, Imah memasukkan batang kemaluanku ke dalam mulutnya.

“Enak, Mah… enak banget…,” aku mendesis lirih, sementara tubuhku menggeliat menahan nikmat.

Imah semakin bersemangat mengetahui betapa aku menikmati hisapannya pada penisku. Batang kemaluanku dikocok-kocoknya dengan amat bernafsu sementara mulutnya mengulum dengan gerakan maju mundur. Sesekali lidahnya menjulur menjilat-jilat. Pintar sekali.

Belakangan baru kuketahui bahwa Imah itu seorang janda. Dia dipaksa kawin sejak usia 14 dengan lelaki berumur yang cukup kaya di desa. Ternyata suaminya seorang pemabuk, penjudi, dan mata keranjang. Satu-satunya yang disukai Imah dari lelaki itu adalah keperkasaannya di atas ranjang. Hanya itu yang membuatnya sanggup bertahan empat tahun berumah tangga tanpa anak. Baru setahun yang lalu suaminya meninggal, sehingga statusnya kini resmi menjadi janda.

Pantas saja nafsunya begitu besar. Dia mengaku bahwa hasrat seksualnya langsung bangkit kembali sejak pertama kali bertemu aku. Kenangan-kenangannya tentang kenikmatan bermain cinta terus menggodanya, sehingga diakuinya bahwa sejak hari itu dia terus berusaha untuk menarik perhatianku.*

Nafsu yang menggebu-gebu, serta hasrat yang terpendam berhari-hari, membuat gadis itu menjadi liar tak terkendali. Sambil terus mengulum dan menjilat-jilat batang kemaluanku, tubuhnya beringsut-ingsut hingga mencapai posisi membelakangi dan mengangkangi tubuhku. Pantatnya yang bulat, besar seperti tampah, tepat berada di depan wajahku. Kuusap-usap pantatnya, lalu kuminta lebih mendekat sambil kuturunkan celana dalamnya. Dia menurut, diturunkannya pinggulnya hingga aku dapat mencium selangkangannya.

Terdengar dia mendesis begitu kujulurkan lidahku menyapu permukaan liang vaginanya yang merekah basah. Kedua pahanya mengangkang lebih lebar, sehingga posisi pinggulnya menjadi lebih ke bawah mendekati mukaku. Kini aku lebih leluasa mencumbu kemaluannya, dan aku tahu, memang itu yang diharapkan Imah.

Kusibakkan bulu-bulu halus di seputar selangkangan babu cantik yang ternyata mempunyai libido besar itu. Kugerak-gerakkan ujung lidahku pada klitorisnya. Kuhirup baunya yang khas, lalu kukenyot bibir vaginanya dengan agak kuat saking bernafsu. Imah merintih. Tubuhnya sedikit mengejang, hisapannya pada kemaluanku agak terhenti.

“Jangan berhenti dong, Maaaahh,” desisku sambil terus menjilat-jilat vaginanya.

“Imah keenakan, Pak…” jawab Imah terus terang. Lalu kembali dia mengulum sambil mengocok-ngocok batang kemaluanku. Dengan bernafsu dia terus berusaha menjejal-jejalkan batang penisku sepenuhnya ke dalam mulutnya, tetapi tidak pernah berhasil karena ukuran tongkat wasiatku itu memang cukup luar biasa: gemuk, dan panjangnya hampir 20 cm!

Aku membalas dengan merekahkan mulut vaginanya dengan kedua tangan. Lubang surgawi itu menganga lebih lebar, maka kujulurkan lidahku lebih ke dalam. Imah membalas lagi dengan menghisap-hisap batang kemaluanku lebih cepat dan kuat. Aku tak mau kalah, kutekan pantatnya hingga kemaluannya menjadi lebih rapat pada mukaku, lalu kujilat dan kuhisap seluruh permukaan liang kemaluannya.

“Ooooohhh… Imah nggak kuattt….” terdengar Imah mengerang tiba-tiba. Aku tak peduli. Aku justru jadi semakin bersemangat dan bernafsu mencumbu kemaluan Imah. Gadis itu juga kian liar. Tangan dan mulutnya semakin luar biasa cepat mengerjai batang kemaluanku, sementara tubuhnya menggeliat-geliat tak terkendali. Aku tahu birahinya telah teramat sangat tinggi, maka kukomandoi dia untuk rebah menelentang, lalu segera kutindihi tubuh montoknya.*

“Enak, Mah?” tanyaku.

“Enak banget, Pak… Imah nggak tahan…”

“Kamu mau yang lebih enak, kan?”

“Ya mau, dong…” Imah nampak masih sedikit malu-malu, tapi jelas dia tidak dapat lagi mengontrol nafsunya. Wajahnya yang biasanya lugu, kini nampak sebagai perempuan berpengalaman yang sedang haus birahi.

“Kamu pernah *******, Mah?” tanyaku lembut, takut dia tersinggung. Tapi dia malah tersenyum, cukup bagiku sebagai pengakuan bahwa dia memang sudah pernah melakukan itu.

“Kamu mau?” tanyaku lagi. Imah menutup matanya sekejap sebagai jawaban.

“Buka dulu dasternya, ya?”

Dalam sekejap, Imah telah bertelanjang bulat. Aku juga membuka kaos, sehingga tubuh kami sama-sama bugil. Polos tanpa sehelai benang pun. Imah memintaku mematikan lampu kamar, tapi aku menolak. Aku justru senang menonton keindahan tubuh Imah di bawah cahaya lampu yang terang benderang begitu.

”Malu, ah, Pak…” kata Imah dengan nada manja, sementara aku memandangi sepasang payudaranya yang bulat, besar dan padat.

“Saya naksir ini sejak pertama kamu masuk,” kataku terus terang sambil mengecup puting susunya yang sebelah kanan, disusul dengan yang sebelah kiri.*

“Imah tau,” jawab Imah tersipu. “Tapi Imah pikir, Bapak mana mau sama Imah?!”

“Sejak hari pertama, saya udah ngebayangin beginian sama kamu.”

“Kok sama sih?! Imah juga…”

“Bohong!”

“Sumpah! Apalagi abis liat Bapak gituan sama Ibu… Seru banget, Imah jadi ngiri…”

“Kamu ngintip, ya?”

“Bapak juga tau, kan?”

Sambil berkata begitu, tangan kanan Imah menggenggam batang penisku. Kedua pahanya mengangkang memberi jalan dan pinggulnya mengangkat sedikit. Digosok-gosokkannya ujung batang kemaluanku pada mulut vaginanya yang semakin basah merekah.

Aku membalas dengan menurunkan pinggulku sedikit. Saat itu di benakku terlintas wajah istri dan anakku, tetapi nafsu untuk menikmati surga dunia bersama Imah membuang jauh-jauh segala keraguan. Bahkan birahiku semakin bergelora begitu aku memandang wajah Imah yang telah sedemikian sendu akibat birahi.*

“Paaak….” terdengar desis suara Imah memanggilku teramat lirih. Kedua tangannya mengusap-usap sambil sedikit menekan pantatku, sementara batang penisku telah penetrasi sebagian ke dalam vaginanya. 

Kutekan lagi pinggulku lebih ke bawah. Batang penisku bergerak masuk inci demi inci. Kurasakan Imah menahan nafas. Kutahan sejenak, lalu perlahan justru kutarik sedikit pinggulku. Imah membuang nafas. Kedua tangannya mencengkeram pantatku. Aku mengerti, kutekan lagi pinggulku. Kembali Imah menahan nafas. Dua tiga kali kuulang seperti itu. Setiap kali, kemaluanku masuk lebih dalam dari sebelumnya. Dan itu membuat Imah keenakan. Dia mengakuinya terus terang tanpa malu-malu. “Bapak pinter banget…” desisnya sambil mencubit pantatku, sesaat setelah aku menekan semakin dalam. Batang penisku telah hampir amblas seluruhnya. Imah cukup sabar menikmati permainanku, tetapi akhirnya dia tidak tahan.

“Imah rasanya kayak terbang…” dia meracau.

“Kenapa?”

“Enakh… Masukin semua atuh, Paak… supaya lebih enak…” Berkata begitu, tiba-tiba kedua tangannya merangkul dan menarik leherku. Diciuminya mukaku dengan penuh nafsu.

“Imaaaahhh.” bisikku sambil membalas menjilat-jilat permukaan wajahnya.

“Paak…”

Aku jadi ikut-ikutan tidak tahan, ingin segera menuntaskan permainan. Maka dengan agak kuat kutekan pantatku dalam-dalam, sehingga batang kemaluanku terbenam sepenuhnya di liang vagina Imah. Anak itu mengerang lirih, “Ssshhh…. aaaahhhh…, sssssssshhhh….., aaaaaaaahhhh….”

Dalam beberapa menit, kami bersanggama dalam posisi konvensional. Aku di atas, Imah di bawah. Itu pun sudah teramat sangat luar biasa nikmat. Ternyata Imah pintar sekali. Pinggulnya dapat berputar cepat seperti gasing, mengimbangi gerakan penetrasiku pada vaginanya. Setengah mati aku mengatur gerakan sembari terus mengendalikan kobaran birahiku. Kadang aku menekan dengan gerakan lembut satu-dua, sesekali kucepatkan dan kukuatkan seakan hendak menjebol dinding vagina Imah.*

Rupanya Imah termasuk type perempuan yang sangat panas dan liar dalam bermain cinta. Itulah justru yang kelak membuatku demikian tergila-gila kepadanya sampai-sampai tidak dapat lagi menghentikan perselingkuhan kami. Setiap kali aku berniat berhenti, bayangan erotisme Imah membuatku justru ingin mengulang-ulangnya kembali.

Tubuhnya tidak pernah berhenti bergoyang, seiring dengan erangan dan desahannya. Setiap kali aku menekan kuat-kuat, dia justru mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi sehingga kemaluan kami menyatu serapat-rapatnya. Bila aku menekan dengan gerakan lembut satu-dua, dia mengimbangi dengan menggoyangkan pinggulnya seperti penari jaipong. Nikmatnya tak dapat kulukiskan dengan kata-kata.

Aku merasa dinding pertahananku hampir jebol. Kenikmatan luar biasa yang kurasakan dari perlawanan Imah yang erotis sungguh tidak tertahankan lagi. Padahal baru beberapa menit. Aku segera mengendalikan diri, kutarik nafas panjang-panjang, lalu kutarik tubuhku dari tubuh Imah.

Aku menelentang, dan kuminta Imah menaiki tubuhku. Dia menurut. Dengan gerakan yang sangat cepat, dia segera nangkring di atas tubuhku. Diraihnya batang kemaluanku yang terus mengacung keras seperti tugu batu, dan diarahkannya kembali pada liang vaginanya.

Keringat menetes-netes dari wajahnya yang manis. Kuraih sepasang payudaranya yang bergelantung bebas, kuremas dan kuputar-putar dengan lembut. Imah mendesah sambil menekan pinggulnya agar batang kemaluanku melesak lebih dalam.

“Nggghhh….. sshhhh….aahhhh….,” kembali dia merintih dan mendesah.

“Kenapa, Maah?”

“Ennaakh…, enak, Paak….”

“Kamu pinter.”

“Bapak yang pinter! Imah bisa ketagihan kalau enak begini… Imah pingin ******* terus sama Bapak…”

“Kita ******* terus tiap hari, Mah…”

“Bapak mau?”

“Asal Imah mau.”

“Imah mau banget atuh, Pak. Enak banget ******* sama Bapak….”

“Ayo, genjot, Mah.. Kita main sampai pagi!”

Imah segera bergoyang lagi. Tubuhnya bergerak erotis naik-turun, maju-mundur, kiri-kanan, ditingkahi rintihan dan desahannya yang penuh nafsu. Aku diam saja, hanya sesekali kuangkat pantatku agar kemaluan kami bertaut lebih rapat. Akibatnya aku jadi lebih mampu bertahan. Dalam posisi seperti itu, aku tahu bahwa perempuan biasanya akan lebih cepat mencapai klimaks. Memang itu yang kuharapkan.

Perhitunganku tidak salah. Tidak terlalu lama, goyangan Imah semakin erotis dan menggila. Naik-turun, maju-mundur, dengan kecepatan yang fantastis. Erangan dan rintihannya pun semakin tidak terkendali. Aku jadi semakin bersemangat karena mengetahui dia akan segera mencapai orgasme.

“Paaak…., adduuh…, enak banget… enak banget… enak, Pak…, yah… yah…, Imah enak…”

“Saya juga enak, Maah…, teruuusss….”

“Oooohhh…. enak banget siihhh…., adduuuhhh…., adduuhh……”

“Terus, Maah… enak banget… enak ******* ya, Maah…?”

“Enakh…, ******* enak…, Imah seneng ******* sama Bapak…, ****** Bapak enak…”

“Memek kamu gurih…”

“Ooohhhh…., yah…, yah…, yah…., Imah mau keluar, Paak…, Imah nggak kuatts…”

Tubuh Imah mengejang pada saat dia mencapai orgasme. Kepalanya mendongak jauh ke belakang. Mulutnya mengeluarkan rintihan panjang sekali. Saat itu kurasakan liang vaginanya berdenyut-denyut, menambah kenikmatan yang fantastis pada batang kemaluanku.

Setelah itu dia menelungkup lunglai di atas tubuhku. Nafasnya memburu setelah menempuh perjalanan panjang yang membawa nikmat bersamaku. Kubiarkan sejenak dia menenangkan diri sementara kemaluan kami masih terus bertaut rapat. Sesaat kemudian, baru aku berbisik di telinganya, “Saya belum lho, Mah…?!”

Imah menengadah, mengangkat wajahnya menatapku. Dikecupnya bibirku.

“Kan mau sampai pagi?!” katanya dengan nada menggemaskan.

“Kamu mau istirahat dulu?”

“Nggak… terus aja, Pak.. Imah masih keenakan, kok…”

Sejenak kami berciuman. Dapat kurasakan jantung Imah masih bergemuruh, pertanda birahinya memang masih tinggi. Kuusap-usap pantatnya yang telanjang sementara kami berciuman rapat. Kemudian kugulingkan tubuhku, sehingga Imah kembali berada di bawah.*

Kucabut batang kemaluanku dari vagina Imah. Dia menatapku dengan rupa tidak mengerti. Kuberikan dia senyuman, lalu kuminta dia menelungkup. Imah mengerti sekarang, maka lekas-lekas dia menelungkup sambil cekikikan.

“Nungging, Mah…” kataku memberi komando.

Imah mengangkat pinggulnya hingga menungging seperti permintaanku. Aku dapat melihat mulut vaginanya yang merekah dari belakang. Kudekatkan mukaku, kucium mulut vaginanya, dan kupermainkan klitorisnya sejenak dengan ujung lidah. Imah merintih lirih, pantatnya mengangkat lebih tinggi sehingga mulut vaginanya merekah lebih lebar di depan mukaku. Kumasukkan lidahku lebih dalam, kemudian kusedot mulut vaginanya sampai berbunyi.

“Bapak emang pinter banget…” desis Imah sembari menggelinjang menahan nikmat.

“Kita tancap lagi ya, Maah…?!”

“Sampai pagi……..?!”

Aku berlutut di belakang tubuh Imah yang menungging. Pantatnya mencuat tinggi ke belakang guna memudahkanku menusuk kemaluannya. Kedua tangannya mencengkeram sprei yang kusut. Kepalanya terkulai. Kudengar dia mendesah lirih ketika batang kemaluanku perlahan menerobos masuk lewat belakang.

Kedua tanganku mencengkeram pantat Imah. Sejenak aku berhenti. Imah menoleh ke belakang karena tidak sabar. Kutekan lagi perlahan-lahan, sehingga dia kembali mengerang dengan kepala terkulai ke depan. Aku berhenti lagi. Kuusap-usap pantatnya, kucengkeram agak kuat, lalu kurekahkan dengan kedua tangan. Imah menoleh lagi ke belakang.

Tepat pada saat itu aku menekan kuat-kuat. Deg! Tubuh Imah sampai terdorong ke depan. Dia langsung membalas memundurkan pantatnya, diputar-putar, berusaha keras agar batang penisku masuk lebih dalam. Agak susah karena ukurannya super king.

Kembali dia menoleh ke belakang. Kutekan lagi kuat-kuat! Kini Imah sudah siap. Bersamaan dengan gerakanku, dia menyambut dengan mendorong pantatnya kuat-kuat ke belakang. Slep! Batang kemaluanku menyeruak masuk. Kutahan sejenak, lalu kudorong lagi sekuat-kuatnya. Imah kembali menyambut dengan gerakan seperti tadi. Kali ini dia mengerang lebih keras karena batang penisku masuk hingga menyentuh dinding rahimnya.

“Sakit, Mah?” tanyaku.

“Nggak… malah enak…, terusin, Paak…Imah belum pernah main kayak gini…”

Sambil menikmati bertautnya kemaluan kami, kupeluk erat tubuh Imah dari belakang. Kuciumi tengkuknya. Imah berusaha menoleh-noleh ke belakang, berharap aku menciumi bibirnya. Sesekali kuturuti permintaannya sambil meremas-remas kedua buah dadanya yang memuai semakin montok.

Kugerak-gerakkan pinggulku dengan irama lembut dan teratur, kunikmati bertautnya kemaluan kami dalam posisi “anjing kawin” itu sembari menciumi tengkuk dan leher Imah. Gadis itu menggeliat-geliatkan tubuhnya, pinggulnya bergoyang-goyang ke kiri dan ke kanan.*

Beberapa menit kemudian, nafas Imah mulai memburu kembali. Itu pertanda birahinya mulai meninggi, mendaki puncak kenikmatannya kembali. Maka aku mulai mengambil posisi. Kedua tanganku berpegangan pada pinggang Imah, sementara dia pun mengatur posisi pinggulnya supaya lebih memudahkan aku. Setelah itu dia menoleh ke belakang memandangiku. Tatapannya amat sayu, dan aku tahu, itulah tatapan perempuan yang sedang tinggi birahinya.

Aku mulai bergerak maju mundur. Satu dua, dengan irama teratur. Nafas Imah semakin kencang terdengar, seiring dengan semakin kuatnya hunjaman batang kemaluanku pada liang vaginanya. Aku memompa terus. Semakin lama semakin cepat dan kuat. Imah semakin terengah-engah. Tubuhnya berguncang-guncang, sesekali sampai terdorong jauh ke depan, tapi tidak sampai terlepas karena kutahan pinggangnya dengan kedua tangan.

Tubuh kami yang telanjang bulat dibanjiri peluh. Lebih-lebih Imah, keringatnya menciprat ke mana-mana karena tubuhnya berguncang-guncang. Itulah bagian dari erotisme Imah yang sangat aku suka. Belum pernah aku merasakan sensasi bersetubuh yang senikmat ini. Kurasakan ejakulasiku telah dekat, tapi kutahan sebisaku karena aku belum ingin segera menyudahi kenikmatan yang tiada tara ini. Kugigit bibirku kuat-kuat, sementara hunjaman penisku terus menguat dengan irama yang super cepat.

Imah semakin erotis. Nafasnya liar seperti banteng marah, erangannya bercampur dengan rintihan-rintihan jorok tiada henti.

“Ooohh…, aaahhh…, ohhh…, aahhhh…, teruuss, Paak…, teruuusssss…, Imah enak…, enak banget…, adduuuh, Maak…, Imah lagi keenakan nih, Maak…, oohhh… aaahhh…, terus, Paak… yah… yahhh… adduuuuh….. sssshhh…. Maaak….., Imah lagi ******* nih, Maak…, enaknyahhh…, adduuuhhh…., ooohh…, yaahhh… yaahhhhhhh…, terruuuusssss…”

Suara Imah keras sekali, tapi aku tidak peduli. Justru mendatangkan sensasi yang menambah nikmat. Toh tidak ada siapa-siapa di rumah ini, kecuali anakku yang sedang tidur lelap. Maka terus kucepatkan dan kukuatkan sodokan-sodokanku. Imah semakin tidak terkendali. Orgasmenya pasti sudah dekat, seperti aku juga.

Ketika kurasakan ejakulasiku telah semakin dekat, kucabut tiba-tiba penisku dari dalam liang surgawi Imah. Dengan gerak cepat, kubalikkan posisinya hingga menelentang, lalu secepat kilat pula kutindih tubuhnya dan kumasukkan kembali batang penisku. Imah menyambut dengan mengangkat pinggul agak tinggi, kedua pahanya mengangkang selebar-lebarnya memberi jalan. 

Vaginanya telah teramat sangat basah oleh lendir sehingga memudahkan batang penisku segera masuk. Tapi tetap saja aku harus menekan agak kuat karena mulut vaginanya kecil seperti perawan, sementara batang kemaluanku besar dan keras seperti pentungan kayu.

Kurasakan spermaku telah menggumpal di ujung batang kemaluanku, siap untuk dimuntahkan. Kulihat Imah pun sudah hampir mencapai klimaks. Maka, langsung saja kutancap lagi, cepat, kuat, dan kasar. Imah menjerit-jerit mengiringi pencapaian puncak kenikmatannya.

“Ssshhh….. aaahhh…, oooooohhh…, ****** Bapak enak banget siiihhh…, adduuhhh…., terruuusss…., yaaaaahhh…”

“Enak, Maah?”

“Enak bangeet…., Imah mau ******* terus kalau enak begini..…. ****** Bapak lezat…, addduhhhh…, tuuhh… yahh…, tuuhh… adduhhh…, enak banget siiihhh….”

“Puter terus, Maah… yah… yah…”

“Ohhh… enak banget, Paak…, enak bangeettt…., Imah doyan ****** Bapak…, enak ******* dengan Bapak…, Imah pingin ******* terussss…, addduuuhhhh…., enaknyaahhhh….”

“Saya hampir keluar, Mah…”

“Imah juga, Pak…, bareng…, bareng…., yahh…, teruusss… sodok…, yahhhh… terrrussss… yahhh… terusss… sedaaap… asyiiik…, yah… gituuhhh… yahhh…. yahhh… oooooohhh…”

Imah mengejang lagi, dia mencapai orgasmenya yang kedua. Pinggulnya terangkat setinggi-tingginya, sementara kedua tangannya memeluk tubuhku luar biasa erat. Pada detik bersamaan, aku pun mencapai puncak kenikmatanku. Air maniku menyembur-nyembur banyak sekali di dalam rongga vagina Imah. Bibir kemaluannya serasa berkedut-kedut menghisap batang kemaluanku hingga spermaku muncrat berkali-kali dan keluar sampai tetes terakhir. Luar biasa, sungguh belum pernah kurasakan nikmatnya bersetubuh seperti ini.
Imah mengangkat wajah menunggu aku menyelesaikan kalimat.*

“Tapi apa, Pak?” Dia penasaran. Aku tersenyum, lalu perlahan kuturunkan celana pendek beserta celana dalamku sekaligus. Batang kemaluanku langsung berdiri tegak tanpa penghalang.

“Adik saya ini nggak mau disuruh ngelupain kamu…!” kataku. Kontan muka Imah memerah, kemudian dia tersenyum malu-malu. Tanpa kusuruh, dia bangkit lalu berlutut di hadapanku. Cepat dia melucuti celana pendek beserta celana dalamku. Kemudian batang penisku digenggamnya dengan dua tangan. Seperti orang melepas kangen, sekujur tongkat wasiatku itu diciuminya bertubi-tubi., sementara kedua tangannya mengurut-urut dengan lembut. Aku membalas dengan mengusap-usap rambutnya.

Sejenak Imah mengangkat wajah memandangku. Matanya mulai sayu, pertanda dia telah terserang birahi. Kemudian lidahnya menjulur panjang. Topi bajaku dijilatnya dengan satu sapuan lidah. Aku menggelinjang. Otomatis batang penisku mengedut, dan gerakan itu rupanya menambah gemas Imah. Lidahnya jadi semakin lincah menjilat-jilat. Buah zakarku pun kebagian. Aku semakin tidak kuat menahan nikmatnya. Kedua pahaku mengangkang lebih lebar, pinggulku mengangkat sedikit, dan itu dimanfaatkan Imah untuk terus menjilat-jilat sampai ke belahan pantatku. Gila, ternyata rasanya luar biasa nikmat! Belum pernah aku merasakan lubang pantatku dijilat seperti ini.

“Enak banget, Mah… Kamu pinter banget,” aku mengaku terus terang. Kembali Imah mengangkat wajah memandangku. Matanya semakin sayu. Sejenak dia mencoba tersenyum, ada rasa bangga di wajahnya bisa membuatku keenakan seperti itu. Lalu mulutnya menganga lebar, batang kemaluanku dikulumnya dengan lembut, masuk perlahan-lahan sampai tiga perempatnya.

“Gede banget, siiih…??!” dia mendesis sambil menarik mulutnya dari batang penisku. “Imah kepingin masukin semua, nggak bisa! Nggak muat!”

Aku tersenyum saja. Kutekan sedikit kepalanya, dia mengerti, kembali batang penisku dimasukkannya ke dalam mulut. Kali ini dijejal-jejalkannya terus, tapi tetap tidak berhasil karena ukurannya yang super besar memang tidak memungkinkan. Matanya memandangku lagi sementara mulutnya terus mengulum sembari mengocok-ngocok batang penisku dengan tangan. Aku memberinya senyuman membuat dia senang.

“Pak, Imah juga pingin ngomong jujur,” tiba-tiba Imah berkata. Kedua tangannya kembali mengurut-urut batang penisku dengan mesra, sementara matanya sayu menatapku.*

“Ngomong apa?”

“Imah sempet malu karena tadi malem Imah kayak orang kesurupan. Imah emang gitu kalo’ bener-bener keenakan, Pak.”

“Tapi kamu nggak nyesel, kan?”

“Ya nggak. Imah cuma malu sama Bapak…”

“Emangnya enak ya, Mah?”

Imah tidak menjawab. Dia berdiri sembari menurunkan sendiri dasternya. Batang penisku kembali mengedut kuat, menyaksikan tubuh Imah menjadi telanjang, tinggal bercelana dalam. Sedari tadi dia memang tidak mengenakan BH. Kuraih tubuhnya agar lebih mendekat dengan melingkarkan kedua tanganku pada pantatnya yang bulat.*

Imah menggeliat kecil sementara pantatnya kuusap-usap. “Buka, ya?” kataku seraya menurunkan celana dalamnya, tanpa menunggu persetujuan. Seketika kemaluannya terpampang telanjang di depan mukaku. Aku menengadah menatap matanya, dan dia tersipu. Mungkin malu, tangannya bergerak hendak menutupi selangkangannya, tapi kucegah. “Memek kamu bagus,” kataku sambil membelai bulu-bulu hitam kemaluannya. Otomatis pinggulnya meliuk, mungkin dia kegelian. Aku malah tambah senang, gantian lidahku yang mengusap pangkal pahanya. Tentu saja dia semakin kegelian.*

Beberapa saat lidahku menari-nari di seputar perut dan pangkal pahanya. Imah menikmati perlakuanku dengan meliuk-liukkan pinggulnya. Kadang berputar perlahan, sesekali didorongnya maju mendesak mukaku. Aku jadi gemas, maka jemariku mulai beraksi. Imah mengangkang sambil menekuk lututnya sedikit ketika dirasakannya jari tengahku menyusup ke belahan vaginanya yang mulai basah.

Dari satu jari, dua jariku masuk, disusul jari ketiga. Imah mulai merintih. Pinggulnya bergerak menjauh, tetapi ketika tusukan jemariku mengendur, dia justru memajukan lagi pinggulnya. Aku jadi semakin “hot” menggosok-gosok mulut vaginanya dengan jari. Erangan dan desahan Imah mulai menjadi-jadi. Lututnya gemetar, mungkin tidak kuat menahan gelora birahi.


Tiba-tiba dia duduk mengangkang di pangkuanku. Tanpa ada rasa sungkan dan malu-malu lagi, leherku dipeluknya erat-erat sembari menyodorkan buah dadanya ke mukaku. Aku jadi gelagapan. Buah dadanya yang montok menutupi hampir seluruh wajahku. Imah mengikik. Dengan gemas, kugigit puting susunya sedikit, sehingga dia mengendurkan pelukannya. Baru aku lebih leluasa. Kuciumi buah dadanya yang sebelah kiri, kujilat dan kukenyot-kenyot putingnya, sementara yang kanan kuremas-remas dengan tangan. Kurasakan payudaranya mulai memuai semakin montok, dan putingnya mulai mengeras.

Sesekali aku juga menciumi sekitar ketiak Imah yang berkeringat. Aku suka bau badannya, harum seperti bayi. Keringatnya kuhisap dan kujilat-jilat. Imah menggelinjang semakin “hot”.

Beberapa saat kemudian, Imah menggerak-gerakkan pinggul dan meraih batang penisku. Sambil terus menikmati cumbuanku pada buah dadanya, dia berusaha menjejal-jejalkan batang penisku pada mulut vaginanya. Tapi aku pura-pura tidak tahu. Dia mulai kesal, desahannya semakin kuat dengan erangan-erangan tertahan. Batang penisku terus digosok-gosokkannya di belahan vaginanya yang basah, tetapi dia belum berhasil memaksanya masuk.

Kami lalu bertukar posisi. Aku bangkit, Imah duduk. Lalu kurebahkan tubuhnya. Dia melonjorkan sebelah kakinya di lantai, sementara yang sebelah lagi disangkutkannya di sandaran sofa. Posisinya itu membuat kemaluannya merekah, mempertontonkan belahannya yang merah basah. Kelentitnya menyembul. Aku tidak membuang waktu, langsung kucumbu kemaluannya dengan mulut dan lidah. Dia mengerang, “Uddaah, Paak….”

Aku tidak peduli karena aku memang masih ingin bermain-main. Imah sendiri mulai tidak terkendali. Tubuhnya mulai menggeliat-geliat dengan irama liar tak beraturan. Nafasnya memburu, mulutnya mengeluarkan desah dan erangan tak henti-henti. “Uddahh, Paak…, uddaaaahhh…, Imah nggak kuaattt……”

Mengetahui dia mulai dikuasai birahi, aku justru tambah senang. Pantatnya kuangkat. Imah mengangkang lebih lebar, sehingga kemaluannya semakin merekah. Mulut vaginanya menganga. Kusodokkan lidahku lebih dalam, kugoyang-goyang ujungnya dengan cepat, lalu kukenyot klitorisnya. Dia menjerit. Kembali kugosok-gosok seluruh dinding vaginanya dengan lidah, sementara kelentitnya kutekan dan kuusap-usap dengan ibu jari. Lendirnya jadi semakin banyak, pertanda birahinya semakin tinggi.

Tiba-tiba Imah mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi sambil menekan kepalaku kuat-kuat pada selangkangannya. Tubuhnya mengejang. Kutekan mulutku pada vaginanya, lidahku menjulur lebih dalam, lalu kukenyot dengan suatu hisapan panjang. Terdengar erangan Imah. Tubuhnya menggelepar-gelepar menyongsong detik-detik pencapaian orgasmenya, kutambah nikmatnya dengan terus mengenyot mulut vaginanya yang asin berlendir.

Setelah itu tubuh Imah agak sedikit lunglai. Nafasnya memburu. Kutindihi tubuh bugilnya. Kuciumi mukanya yang berkeringat. Dia tersenyum.

“Keenakan, ya?” godaku. Dia mengangguk. Tangannya meraih batang penisku. “Masukin yuk, Pak…”

Imah tidak berkata-kata lagi karena mulutnya kusumbat dengan suatu ciuman bibir yang panas dan panjang. Lidah kami saling membelit, menghisap, dan menjilat-jilat. Sementara itu kedua buah dadanya habis kuremas-remas. Kurasakan sepasang payudara indah itu telah amat keras dan padat. Lalu kembali kuraba selangkangannya. Vaginanya merekah menyambut usapan jariku, dan kelentitnya menyembul. Basah.

Sengaja aku mencium bibir Imah agak lama, aku ingin birahinya cepat meninggi. Rasanya aku berhasil. Dia semakin tidak sabar ingin menuntun batang kemaluanku memasuki liang surgawi miliknya. Aku pura-pura tidak tahu. Tubuhku menindihinya agak menyamping, sehingga batang kemaluanku menekan pahanya. Sambil terus berciuman bibir, justru jemariku yang kembali aktif menggerayangi vagina Imah.*

Imah yang lebih dulu melepas ciuman. Nafasnya terengah-engah. Birahinya pasti telah cukup tinggi. Kembali terang-terangan dia memintaku segera memasukkan batang kemaluanku. Dia tentu tidak tahu bahwa aku tengah berniat mempermainkannya sedari tadi. Akan kubuat dia merengek-rengek sekaligus akan kuberikan dia kenikmatan yang takkan terlupakan.

Kebetulan sekali telepon berdering.

“Angkat dulu,” kataku. “Kalo’ dari Ibu, bilang saya ke rumah Nenek.”

Imah mengatur nafasnya terlebih dahulu sebelum mengangkat telepon. Ternyata betul, itu dari istriku. Aneh, kejadian itu malah mendatangkan sensasi yang justru membuat birahiku semakin tinggi. Nikmat rasanya bercumbu dengan babu, sementara dia tengah menelepon dengan istri sendiri.*

Maka, kusuruh Imah menelentang di sofa sambil terus menelepon. Kebetulan meja telepon terletak persis di sebelah sofa. Kedua kakinya kukangkangkan lebar-lebar. Kukecup-kecup klitorisnya, membuat Imah tergagap-gagap menjawab telepon.

“Oh, eh, nggak tau, Bu,” katanya. Rupanya istriku sudah terlebih dahulu menelepon ke rumah ibunya, sehingga dia tahu bahwa aku tidak ada di sana. Tapi tentu saja dia tidak curiga. Dia hanya bertanya mengapa suara Imah terdengar seperti terengah-engah.

“Anu… saya tadi lagi di depan, Bu…, jadi lari-larian…” Imah menjawab sekenanya, sementara pinggulnya mengangkat-angkat saking keenakan vaginanya kukenyot-kenyot.

Celaka bagi Imah, istriku mengajaknya ngobrol agak lama. Rupanya dia memesankan banyak hal, terutama yang menyangkut urusan menjaga Gavin. Aku terus menggodanya dengan cumbuan yang justru semakin menggila. Batang kemaluanku bahkan kujejal-jejalkan ke mulutnya, sehingga dia menelepon sambil mengulum. Untungnya dia lebih banyak mendengar daripada bicara. Itu pun kadang-kadang dia agak gelagapan.

“Kamu denger nggak sih?” rupanya suatu ketika istriku bertanya karena merasa tidak mendapat respon.

“Mmm..mmm….” Imah kerepotan melepas batang penisku dari kulumannya. “Ya, Bu…, saya ngerti…” Istriku bicara panjang lebar lagi, maka kembali kusuruh Imah mengulum.

“Mmm… mm..mm…” dia merespon omongan istriku sambil terus mengulum, sementara sebelah tangannya tidak lupa mengocok-ngocok batang penisku. Lama-lama istriku curiga. Tapi tentunya dia tidak berpikir sejauh itu, dia hanya mengira Imah menelepon sambil makan permen. Imah mengiyakan.

“Iya, Bu… permen lolipop…,” katanya sambil menjilat topi bajaku yang merah mengkilat. Istriku marah. “Maaf, Bu…” kata Imah lagi. “Abis, permennya enak bangetth…”

Imah semakin berani. Dia kemudian malah berdiri, batang penisku digenggamnya kuat-kuat, lalu dijejalkannya ke mulut vaginanya. Kuturuti kemauannya. Sambil berdiri, kutahan pantat bulatnya, kuarahkan batang penisku pada liang vaginanya, lalu kutekan perlahan-lahan. Vaginanya telah amat basah oleh lendir pelumas, sehingga batang penisku dapat dengan mudah menyelusup. Imah menahan nafas.

“Buu… uddahh, ya? Saya mau… bbhuang airrr….” Berkata begitu, Imah langsung menutup telepon, lalu bermaksud melayani persanggamaan yang baru kumulai.

Dia langsung melingkarkan kedua tangannya di belakang leherku, memelukku erat-erat, lalu mencium bibirku lumat-lumat. Aku balas melumat bibirnya dengan tidak kalah panas. Sementara itu, kedua tanganku meremas-remas pantatnya yang bulat. Imah menggoyang-goyangkan pinggulnya, berusaha agar batang kemaluanku masuk lebih jauh ke dalam vaginanya. Aku sendiri tidak bergerak, kubiarkan Imah berusaha sendiri.*

Beberapa saat kemudian, Imah melepas ciuman. Nafasnya menghambur, panas memburu seperti lokomotif. Pinggulnya terus menggeliat-geliat, berputar dengan irama lambat. Dia jelas mulai tidak tahan. Dipeluknya tubuhku lebih ketat, lalu dia berbisik persis di telingaku,

“Ayuk, Paak…”

“Ayuk apa?” godaku. Imah tidak menjawab, melainkan mendorong pinggulnya sembari menahan pantatku dengan tangan. Rupanya dia masih dapat mengontrol diri, sedapat mungkin dia tidak ingin kelihatan liar seperti peristiwa pertama tadi malam. Aku tambah bersemangat ingin menggodanya. Pokoknya dia harus merengek-rengek kepadaku!

Sambil mengangkat pantatnya, kuperintahkan Imah menaikkan kedua kakinya lalu melingkarkannya di belakang pantatku. Kedua tangannya melingkar erat di leherku. Sementara itu, kemaluan kami tetap bertaut. Imah mengikik, posisinya persis anak monyet sedang digendong induknya. Aku tahu betul, posisi itu akan mendatangkan kenikmatan yang luar biasa baginya.

Benar saja, sebentar kemudian dia mulai mendesah-desah keenakan. Lebih-lebih setelah aku membawanya berjalan. Setiap aku melangkah, dia menahan nafas, lalu menghamburkannya dengan sedikit erangan tertahan. Semakin cepat aku melangkah, desah dan erangannya semakin kuat.

“Uddah, Paak…, uddaahhh….” desisnya setelah beberapa saat. Seperti yang sudah-sudah, itu berarti dia minta aku menyelesaikan permainan karena orgasmenya sudah dekat. Aku berhenti melangkah. Kusandarkan tubuh Imah ke meja makan. Dia mengangkat pantatnya sedikit. Sebelah kakinya setengah menjinjit ke lantai, sebelah lagi terangkat tinggi ke samping. Vaginanya jadi merekah, siap menerima hunjaman batang penisku. Tapi aku hanya menekan perlahan dengan gerakan satu-dua. Imah jadi penasaran.

“Ayuk, Paak…” pintanya lagi seperti tadi.

“Ayuk apa?” godaku lagi. Imah kembali tidak menjawab. Digeliatkannya tubuhnya sambil membuang wajahnya jauh ke belakang. Aku memutar pinggulku, lalu menekan lagi satu-dua. Pelan sekali.

“Yang kenceng dong, Paak…” desah Imah akhirnya.

“Begini?” aku mempercepat gerakanku dua-tiga kali.

“Yah, yah, terrusss…”

“Enak, Mah?”

“Enak bangetts…”

“Kamu doyan?”

“Doyan bangettt…, adduuuhhhh…, yahh…, yaahhh….”

Kulambatkan lagi gerakanku.

“Emangnya begini nggak enak?” godaku.

“Enaak…, tapi Imah mau yang kenceng…!!”

“Gini?” kucepatkan lagi gerakanku.

“Iyyahhh…, terruuusss…”

“Enak, Maah?”

“Enak…”

“Bilang dong! Bilang enak, bilang kamu doyan…”

“Enak…, Imah doyan…”

“Doyan apaan?”

“Aaang…, Bapak?!” Imah tersipu-sipu

“Ya udah, kalo’ nggak mau bilang…” Aku berpura-pura bergerak hendak mencabut penisku. Imah buru-buru menahan pantatku. “Iya, iya, Imah bilang! Imah doyan….” mata Imah semakin sayu dan suaranya berbisik lirih namun sangat jelas, “…doyan….. ngenthooot!”

Kucepatkan gerakanku sebagai “upah” karena dia sudah mau bicara terus terang. Matanya terpejam sedikit. Aku melambat lagi. Imah membuka mata kembali, tatapannya bertambah sayu. Kujulurkan lidahku, dia menyambut dengan juluran lidah pula. Ujung lidah kami beradu, bermain-main beberapa saat, lalu kembali kami berciuman. Lumat, tandas, sementara pinggulku bergerak maju-mundur mulai semakin cepat.

Ketika ciuman kulepaskan, Imah merebahkan badannya, telentang di atas meja. Dia nampak amat tidak berdaya diamuk birahi. Orgasmenya pasti sudah dekat. Aku hampir tidak tega, tapi aku ingin mendengar omongan-omongan joroknya seperti semalam. Aku suka erotisnya.

Maka gerakanku kuatur sedemikian rupa agar rasanya menggantung. Lambat tidak, cepat pun tidak. Sesekali bahkan kudiamkan batang penisku terbenam sebagian di liang vaginanya, lalu kuputar-putar pinggulku. Imah mengerang-erang, mendesah, menggeliat, dan mulai lupa diri.

“Bapaak…, ayuk, doong…..” desah gadis itu akhirnya. Suaranya bergetar menahan birahi.

“Ayuk apa?”

“Ngenthooothh…., Imah mau ******* sama Bapak…, Imah doyan ****** Bapaak… ****** Bapak enak, gemuk, panjang, memek Imah rasanya penuh bangettt…”

“Ini kan kita lagi *******?”

“Iya, tapi yang kenceng atuuuh! Imah nggak kuat, Paak…, Imah hampir keluar!”

“Begini?” kucepatkan lagi gerakanku.

“Yah, yah, terruuuss…, yaaaahhh….”

Terus kucepatkan hunjamanku. Lebih cepat, semakin cepat, cepat sekali. Imah sampai menjerit-jerit. Tubuhnya menggelepar-gelepar di atas meja. Keringatnya menciprat ke mana-mana. Birahinya tinggal selangkah lagi mencapai puncak.*

“Ennaknya, Paak…., enak bangeeettt…, teruuuuussss…., yah, yaaaahhh, yaaaaahhh….”

“Saya hampir keluar, Maah…”

“Imah juga, Imah juga…. Bareng, Pak, bareng…, haahhh…, haaahhhh….”

“Uuuuhhhhh……, enaknya ******* sama kamu, Maah…., uuuuhhhhhhh….!!!”

“Oooohhhhh…., terus, Paak…, yang kenceng! Yang kenceng! Yaaaahhhhh…., terruuuss…”

“Memek kamu sedap banget, Maah….”

“****** Bapak mantep…., enaakkk…, yaahhh…, terrruuuss…, Imah hampir keluaaar…”

Aku memompa tanpa henti, sampai tiba-tiba tubuh telanjang Imah mengejang. Pantatnya terangkat tinggi-tinggi, seakan hunjaman batang penisku masih kurang dalam dan kuat. Dia telah mencapai orgasmenya yang kedua. Saat itu gerakan pinggulku luar biasa cepat dan kuat, sehingga Imah menggapai puncak birahinya dengan menjerit panjang. Aku sendiri mencapai klimaks beberapa detik setelah itu. Air maniku menyembur-nyembur seakan tak mau berhenti. Crot! Crot! Crot! Banyak sekali. Nikmatnya tak terkatakan.*

Imah tersenyum memandangiku dengan nafas masih agak tersengal. Wajah manisnya kembali nampak lugu. Aku jadi gemas, kutindihi tubuh montok Imah yang bersimbah peluh. Kuciumi mukanya. Dia menikmati kecupan-kecupanku dengan memejamkan mata.

“Enak, Maah?” tanyaku berbisik tepat di telinganya.

“Enak banget, Pak… Imah sampe’ lemes!”

Kembali kuciumi sekujur muka Imah. Kening, mata, hidung, pipi, juga telinga. Keringatnya kujilat-jilat. Terakhir kami berciuman bibir lagi, sementara batang penisku kubiarkan menancap pada vaginanya yang banjir oleh lendir. Nikmatnya masih terasa.

“Saya seneng ******* sama kamu, Mah,” bisikku jujur setelah itu. “Soalnya enak banget!”

“Apalagi Imah. Nggak mimpi deh bisa ngerasain enak sama laki-laki hebat kayak Bapak!”

“Hebat apanya?”

“Semuanya! Orang kaya, baik, cakep, gagah…, mainnya pinter!”

“Kita bisa begini tiap hari kalo’ kamu mau.”

“Kalo’ ada Ibu?”

Aku tidak bisa menjawab. Kuputus pembicaraan dengan berciuman lagi beberapa saat. Akibatnya, kembali nampak tanda-tanda bahwa permainan masih akan berlanjut. Imah membelai-belai wajahku sementara matanya memandangiku. Lalu dia bergumam lirih,

“Imah takut nggak bisa beginian kalo’ ada Ibu…”

“Jangan dipikirin, Mah,” bisikku. “Yang penting, kamu harus tau bahwa saya ketagihan main sama kamu. Saya kepingin kita beginian terus. Pagi, siang, sore, malem.”

“Imah juga.”

“Sekarang kita masih punya waktu lima jam sebelum saya jemput si Gavin. Kamu masih kepingin, kan?”

Imah tersenyum sambil mengerjapkan mata, maka permainan pun berlanjut beberapa ronde lagi. Di dalam kamar tidurku, di kamar mandi, juga di dapur. Sungguh, nikmatnya seperti tak pernah habis. 
Read More..

DAUN MUDA PUTING MERAH YANG HOT

Perkenalanku dengan Yussi bermula dari chatroom. Waktu itu tahun 2001 dan aku masih duduk di tingkat 3 sebuah PTS di Medan dan usiaku masih 20 tahun. Sedangkan Yussi sudah berumur 22 tahun dan duduk di bangku kuliah tingkat akhir universitas swasta Jakarta Jurusan Teknik. Kala itu Yussi masih bekerja di perusahaan telekomunikasi swasta sebagai seorang programer.

Perkenalanku dengan Yussi semakin akrab walaupun kami tidak pernah ketemuan atau copy darat (maklumlah dia di Jakarta sedangkan aku di Medan). Setelah persahabatan kami berjalan 2 tahun akhirnya kami mempunyai kesempatan untuk ber-copy darat. Waktu itu bulan Desember 2003 aku memperoleh kesempatan untuk berlibur di Jakarta.

Singkat cerita akupun sampai di Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada tgl 26 Desember 2003 dan dengan berbekal beberapa lembar foto kirimannya, aku sore harinya pergi ke Mall Taman Anggrek untuk menemuinya.

Pertama sekali kumelihatnya, aku sungguh terpana. Bagiku, Yussi lebih cantik aslinya ketimbang di fotonya. Ditunjang lagi oleh penampilannya yang semakin dewasa yang disesuaikan dengan profesinya kini sebagai programer software di PT JS di kawasan Gatot Subroto Jaksel. Hal ini membuat aku semakin tertarik dengannya dan membuat birahiku naik secara perlahan-lahan.

Setelah bertemu, kami berdua mengelilingi Taman Anggrek hingga malam dan dinner disana. Setelah dinner kami berkesempatan mengelilingi Jakarta dan akhirnya kami pulang dan kuantar dia sampai ke rumahnya di kawasan Duri Kepa Jakarta Barat.

Pertemuan itu membawa kenangan tersendiri bagiku dan oleh sebab itu aku kembali mengajak Yussi keluar jalan-jalan keesokan harinya yang bertepatan dengan malam minggu.

Keesokan harinya, pagi-pagi benar aku menjemput Yussi setelah itu kami pergi makan pagi bersama dan mengelilingi Jakarta beserta mallnya hingga jam 10 malam. Sebenarnya aku masih sangat ingin bersamanya hingga larut malam, namun Yussi menolak karena katanya tidak ada yang menjaga rumah, sebab Papa, Mama, Koko, Kakak ipar dan Dedenya sedang ke Bogor menghadiri kondangan familinya.

Sebenarnya aku kecewa juga mendengar penolakannya itu, tapi kekecewaanku ternyata tidak lama. Terbukti Yussi waktu itu langsung mengajakku untuk menginap di rumahnya, karena dia tidak berani tidur sendirian. Akupun tidak mengiyakan secara langsung penawarannya itu, aku berpikir beberapa menit. Setelah berpikir beberapa menit aku pun mengiyakan tawaran Yussi dan tampaknya ia sangat senang sekali. Akhirnya kami sampai di rumahnya pukul 10 lewat 30 malam.

Segera setelah turun dari mobil, Yussi membuka pintu pagar dan pintu rumah. Lalu akupun masuk ke dalam rumahnya yang lumayan besar itu dan menempelkan pantatku pada kursi sofa di ruang tamunya. Seketika itu pikiranku melayang-layang membayangkan seandainya aku dapat menyalurkan hasratku pada Yussi. Terus terang saja, selama ini aku selalu horny jika mendengar suara dari Yussi dan aku pun selalu beronani membayangkan sedang menyetubuhinya. Bahkan tidak jarang pada saat kutelepon dia, aku sedang naked dan beronani sambil bertelepon dengan dia dan Yussi pun tahu semuanya itu.

Setelah mengunci pintu rumahnya, Yussi permisi padaku untuk mandi dan aku pun mengiyakannya. Mendengar Yussi mau mandi pikiranku bertambah kotor setelah sebelumnya aku membayangkan bisa menyetubuhinya. Lalu dengan langkah berjingkat-jingkat kuikuti langkah Yussi yang berjalan ke arah kamar mandi di ruang makan hingga aku melihat Yussi masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintunya.

Akupun segera memutar otakku mencari celah agar dapat mengintip Yussi. Namun belum sempat aku mendapatkan cara mengintip yang pas, tiba-tiba Yussi keluar dari kamar mandi dengan naked dan berteriak karena ada kecoa. Aku yang melihat Yussi keluar dengan naked hanya bisa terpaku dan diam. Mataku langsung tertuju pada dua daging kenyal yang bergantung di dadanya. Sungguh indah sekali buah dada Yussi yang berukuran 34 A (kuketahui ukurannya, karena aku pernah menanyakan ukuran bra nya lewat SMS dan dia pun memberitahu aku) dengan putingnya yang berwarna kecoklatan. Ingin rasanya lidahku langsung menyeruput wilayah dadanya itu. Pandangan mataku kini tertuju pada lubang vaginanya yang ditumbuhi oleh ilalang asmara walaupun tidak begitu lebat. Penisku pun langsung bangkit dan berdiri tegak. Waktu itu yang hanya ada di pikiranku hanyalah bagaimana caraku untuk meniduri Yussi. Tanpa pikir panjang akupun mendekati Yussi dan kurangkul tubuhnya lalu kutempelkan bibirku pada bibirnya yang lembut mereka itu. Yussi tidak memberikan perlawanan bahkan ia pun mengulum bibirku.

“Ah..” dia mendesah.

Aku pun semakin berani setelah mendengar desahannya itu. Lidahku keluar masuk ke rongga mulutnya yang mungil dan tanganku pun bergerilya meremas-remas dan terkadang meraba-raba onggokan daging kenyal di dadanya sambil memilin-milin putingnya yang sudah mulai mengeras. Sementara itu ia juga mulai mencoba menarik resleting celanaku dan tanpa kesulitan dia berhasil menurunkan celanaku dan menarik kaosku serta melemparnya ke lantai kamar mandi. Saat itu, ia sedikit terkejut, ketika tanpa sengaja tangannya menyentuh penisku yang masih dilapisi oleh celdamku.

“Oh.. Very big buanget tongkolmu, Dave”

[IMG]
Aku hanya menanggapinya dengan senyum dan tanganku masih bekerja memilin-milin puting susunya. Ciumanku mulai kuarahkan ke lehernya dan terus turun ke bawah dan berhenti di bagian putingnya. Di sini aku permainkan putingnya yang indah itu dengan lidahku. Terkadang kuemut, kuhisap dan kugigit lembut putingnya itu, sehingga membuat Yussi tak kuasa untuk menahan hawa nafsunya yang sudah hampir meledak. Tampaknya ia juga sudah tidak sabar untuk melihat dan merasakan penisku karena Yussi sedang berusaha menarik turun sempakku. Dan kemudian tanpa halangan yang berarti Yussi akhirnya berhasil menurunkan celdamku.

“Jangan disini Yos, kita cari tempat yang enak, ok? Gimana kalau kita maen di kamar kamu Yos?”
“Oh iya.. Enakan di kamar gue. Kita bisa ngent*t sampe puas”.

Lalu kugendong tubuhnya ke loteng dan kubawa ke dalam kamar tidurnya dan selanjutnya kurebahkan tubuh bugilnya diatas ranjang alga yang empuk. Tanpa menunggu lebih lama lagi, segera kuhisap puting susunya yang sudah semakin mengeras lagi.

“Ah.. Dave,” pekiknya.
“Yos.. Toket loe indah buanget. Gue suka buanget sama toket loe,” celetekku dengan penuh nafsu.
“Terus Dave.. Oh.. Geli..” desahnya.

Mendengar desahannya aku semakin bernafsu. Lambat laun ciumanku merambat turun ke pusarnya lalu ke gundukan di selangkangannya. Kemudian kumainkan clitorisnya dengan lidahku dan aku terus memasukkan ujung lidahku ke dalam lubang vaginanya yang harum itu. Kemudian dia mengangkat pinggulnya dan berseru,

“Oh.. My god.. Is very great.. Oh.. God..”

Sementara aku masih mempermainkan wilayah vaginanya dengan lidahku, Yussi semakin kencang menggoyang-goyangkan pinggulnya, kemudian dengan tiba-tiba dia berteriak,

“Dave.. aku.. ke.. lu.. aarr..” dan seketika itu tubuh Yussi mengejang dan matanya terpejam.

Sementara itu di gua keramatnya terlihat cairan kewanitaannya membanjiri vaginanya. Kuhisap cairannya itu dan kurasakan manis bercampur asin dengan aroma yang wangi dan hangat. Kuhisap cairannya dengan rakus sampai habis dan tubuhku kembali merambat ke atas menghisap putingnya kembali yang tampak indah bagiku. Rasanya bibirku masih belum puas menyusui putingnya itu.

Tak lama kemudian kulihat Yussi kembali menggeliat-geliat dan mendesah-desah. Ia tampak terangsang kembali dan memintaku untuk segera memasukkan penisku yang berukuran 16 cm dengan diameter 3 cm ke dalam gua keramatnya yang sudah basah sekali.

“Ayo.. Dave.. Masukkan tongkolmu ke memiawku. Gue sudah enggak tahan lagi,” pintanya.

Tanpa menunggu lebih lama lagi kuarahkan penisku ke dalam lubang vaginanya dan secara perlahan-lahan namun pasti penisku pun mulai menyeruak masuk ke dalam lubang vaginanya yang masih sempit (maklumlah Yussi masih virgin) dan akhirnya penisku berhasil masuk 3/4 ke dalam lubang vaginanya.

“Aduh.. Pelan-pelan ya, please,” erangnya sedikit tertahan.

Kembali kutekan penisku untuk masuk ke lubang vaginanya secara perlahan sehingga akhirnya aku berhasil memasukkan semua penisku ke dalam lubang vaginanya dan menyentuh dasar vaginanya.

“Oh.. Nikmat buanget..” katanya yang disertai dengan desahan halus.

Aku semakin bernafsu untuk menggenjotnya setelah mendengar desahan dan erangannya. Semakin dia mendesah, aku semakin mempercepat genjotanku di lubang vaginanya.

“Oh.. Dave.. ak.. uu.. suudahh.. ma.. uu.. kke.. luarr.. rr.. laggii..”
“Tahan Yos.. aku juga.. u.. da.. mau.. ke.. luuaarr, keluarkan di.. mana.. Yos?” tanyaku.
“Di.. Da..”
Belum sempat ia menjawab, aku sudah tak bisa menahannya lagi, sehingga akibatnya,
Crot.. Crot.. Crot.. Crot..!
Beberapa kali penisku menembakkan maniku yang banyak ke dalam lubang vaginanya dan saat itu juga aku merasakan cairan hangat Yussi beserta aliran darah perawannya menyelimuti batang penisku yang masih tegak di dalam vaginanya.
“Terima kasih Yos.. Kamu sudah memberikan aku kenikmatan malam ini..” ujarku sambil mengecup lembut bibirnya dan menarik keluar penisku.
“Aku juga ingin terima kasih ke kamu, karena telah memuaskan nafsuku untuk melakukan hubungan sex denganmu yang selama ini kupendam dalam anganku,” katanya tanpa malu-malu dengan mata yang sayu.
“Ayo.. Kita mandi berdua,” ajaknya sambil menarik tanganku.

Dan di kamar mandi itu, batang penisku kembali bereaksi ketika Yussi mengelus-elusnya. Tanpa malu-malu aku langsung menarik pinggang Yussi dan menyuruhnya menungging ke arahku. Aku pun secara perlahan lahan memasukkan penisku yang sudah menegang ke sela-sela pantatnya yang tidak begitu besar. Sejenak, Yussi tersentak, namun hal itu hanya berlangsung sebentar saja, karena Yussi kemudian menggerak-gerakkan pinggulnya ketika dirasakan penisku sudah masuk semuanya ke dalam lubangnya.

Ah.. Dave.. a.. kk.. uu.. ke.. ll.. uu.. aa.. rr.. l.. aa.. g.. ii..” erangnya dengan lembut.
“A.. k.. u.. juu.. ggaa..” kataku sambil menyemprotkan maniku ke lubang vaginanya kembali.

Setelah itu kami melanjutkan acara mandi kembali dan setelah mandi, sebelum tidur, aku mengent*tnya sekali lagi. Keesokan paginya pada saat aku bangun jam 7 pagi kembali kugenjot dia dan malam harinya kami kembali ber-ML ria..
Sungguh liburan yang berkesan dengan teman chatting. Terima kasih Yussi atas virginmu.


Read More..