“Ada deh..,” ucapku sambil memandang Papa dengan senyuman.
“Ada deh itu apa..?” tanya Papa lagi sambil membetulkan posisi tubuhnya dan memandang ke arahku.
“Memangnya kenapa Pa..?” tanyaku lagi sedikit bercanda.
“Nggak ada racunnya kan..?” candanya.
“Ada, tapi kecil-kecil..” ujarku menyambut canda Papa.
“Kalau gitu, Papa bisa mati dong..” ujarnya sambil berdiri menghadap ke arahku.
Aku sedikit gelagapan, karena posisi Papa tepat di depanku.
“Kalau Papa mati, gimana..?” tanya Papa lagi.
Aku sempat terdiam mendengar pertanyaan itu.
“Lho.., kok kamu diam, jawab dong..!” tanya Papa sambil menggenggam kedua tanganku yang sedang memegang handuk.
Aku
kembali terdiam. Aku tidak tahu harus bagaimana. Bukan jawabannya yang
membuatku diam, tetapi keberadaan kami di kamar ini. Apalagi kondisiku
setengah bugil. Belum lagi terjawab, tangan kanan Papa memegang daguku,
sementara sebelah lagi tetap menggenggam tanganku dengan hangat. Ia
angkat daguku dan aku menengadah ke wajahnya. Aku diam saja diperlakukan
begini. Kulihat pancaran mata Papa begitu tenangnya. Lalu kepalanya
perlahan turun dan mengecup bibirku. Cukup lama Papa mengulum bibir
merahku. Perlahan tetapi pasti, aku mulai gelisah. Birahiku mulai
terusik. Tanpa kusadari kuikuti saja keindahan ini.
Nafsu
remajaku mulai keluar ketika tangan kiri Papa menyentuh payudaraku dan
melakukan remasan kecil. Tidak hanya bibirku yang dijamah bibir tebal
Papa. Leher jenjang yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu pun tidak luput
dari sentuhan Papa. Bibir itu kemudian berpindah ke telingaku.
“Pa..” kataku ketika lidah Papa masuk dan menggelitik telingaku.
Papa kemudian membaringkan tubuhku di atas kasur empuk.
“Pa.. nanti ketahuan Mama..” sebutku mencoba mengingatkan Mama.
Tetapi Papa diam saja, sambil menindih tubuhku, bibirku dikecupnya lagi.
Tidak lama, handuk yang melilit di tubuhku disingkapkannya.
“Vina, tubuh kamu sangat harum..” bisik Papa lembut sambil mencampakkan guling ke bawah.
Dalam posisi ini, Papa tidak puas-puasnya memandang tubuhku. Bulu halus
yang membalut kulitku semakin meningkatkan nafsunya. Apalagi begitu
pandangannya mengarah ke payudaraku.
“Kamu udah punya pacar, Vin..?” tanya Papa di telingaku.
Aku hanya menggeleng pasrah.
Papa kemudian membelai dadaku dengan lembut sekali. Seolah-olah menemukan mainan baru, Papa mencium pinggiran payudaraku.
“Uuhh..,” desahku ketika bulu kumis yang dipotong pendek itu menyentuh
dadaku, sementara tangan Papa mengelus pahaku yang putih. Puting susu
yang masih merah itu kemudian dikulum.
“Pa.. oohh..” desahku lagi.
“Pa.. nanti Mamm..” belum selesai kubicara, bibir Papa dengan sigap kembali mengulum bibirku.
“Papa sayang Vina..” kata Papa sambil memandangku.
Sekali lagi aku hanya terdiam. Tetapi sewaktu Papa mencium bibirku, aku
tidak diam. Dengan panasnya kami saling memagut. Saat ini kami sudah
tidak memikirkan status lagi. Puas mengecup putingku, bibir Papa pun
turun ke perut dan berlabuh di selangkangan. Papa memang pintar
membuatku terlena. Aku semakin terhanyut ketika bibir itu mencium
kemaluanku. Lidahnya kemudian mencoba menerobos masuk. Nikmat sekali
rasanya. Tubuhku pun mengejang dan merasakan ada sesuatu yang mengalir
cepat, siap untuk dimuntahkan.
“Ohh, ohh..” desahku panjang.
Papa
rupanya tahu maniku keluar, lalu dia mengambil posisi bersimpuh di
sebelahku. Lalu mengarahkan tanganku ke batang kemaluannya. Kaget juga
aku melihat batang kemaluannya Papa, besar dan tegang. Dengan mata yang
sedikit tertutup, aku menggenggamnya dengan kedua tanganku. Setan yang
ada di tubuh kami seakan-akan kompromi. Tanpa sungkan aku pun mengulum
benda itu ketika Papa mengarahkannya ke mulutku.
“Terus Vin.., oh.. nikmatnya..” gumamnya.
Seperti berpengalaman, aku pun menikmati permainan ini. Benda itu keluar
masuk dalam mulutku. Sesekali kuhisap dengan kuat dan menggigitnya
lembut. Tidak hanya Papa yang merasakan kenikmatan, aku pun merasakan
hal serupa. Tangan Papa mempermainkan kedua putingku dengan tangannya.
Karena
birahi yang tidak tertahankan, Papa akhirnya mengambil posisi di atas
tubuhku sambil mencium bibirku dengan ganas. Kemudian kejantanannya Papa
menempel lembut di selangkanganku dan mencoba menekan. Kedua kakiku
direntangkannya untuk mempermudah batang kemaluannya masuk.
Perlahan-lahan kepala penis itu menyeruak masuk menembus selaput dinding
vaginaku.
“Sakit.. pa..” ujarku.
“Tenang Sayang, kita nikmati saja..” jawabnya.
Pantat Papa dengan lembut menekan, sehingga penis yang berukuran 17 cm dan berdiameter 3 cm itu mulai tenggelam keseluruhan.
Papa
melakukan ayunan-ayunan lagi. Kuakui, Papa memang cukup lihai. Perasaan
sakit akhirnya berganti nikmat. Baru kali ini aku merasakan kenikmatan
yang tiada taranya. Pantas orang bilang surga dunia. Aku mengimbangi
kenikmatan ini dengan menggoyang-goyangkan pantatku.
“Terus Vin, ya.. seperti itu..” sebut Papa sambil mempercepat dorongan penisnya.
“Papa.. ohh.., ohh..” renguhku karena sudah tidak tahan lagi.
Seketika itu juga darahku mengalir cepat, segumpal cairan putih meleleh
di bibir vaginaku. Kutarik leher Papa hingga pundaknya kugigit keras.
Papa semakin terangsang rupanya. Dengan perkasa dikuasainya diriku.
Vagina
yang sudah basah berulangkali diterobos penis papa. Tidak jarang
payudaraku diremas dan putingku dihisap. Rambutku pun dijambak Papa.
Birahiku kembali memuncak. Selama tiga menit kami melakukan gaya
konvensional ini. Tidak banyak variasi yang dilakukan Papa. Mungkin
karena baru pertama kali, dia takut menyakitiku.
Kenikmatan
ini semakin tidak tertahankan ketika kami berganti gaya. Dengan posisi
69, Papa masih perkasa. Penis Papa dengan tanpa kendali keluar masuk
vaginaku.
“Nikmat Vin..? Ohh.. uhh..” tanyanya.
Terus terang, gaya ini lebih nikmat dari sebelumnya. Berulangkali aku melenguh dan mendesah dibuatnya.
“Pa.. Vina nggak tahan..” katakuku ditengah terjangan Papa.
“Sa.. sa.. bar Sayang.., ta.. ta.. han dulu..” ucap Papa terpatah-patah.
Tetapi aku sudah tidak kuat lagi, dan untuk ketiga kalinya aku mengeluarkan mani kembali.
“Okhh.. Ohkk.. hh..!” teriakku.
Lututku seketika lemas dan aku tertelungkup di ranjang. Dengan posisi
telungkup di ranjang membuat Papa semakin belingsatan. Papa semakin kuat
menekan penisnya. Aku memberikan ruang dengan mengangkat pantatku
sedikit ke atas. Tidak berapa lama dia pun keluar juga.
“Okhh.. Ohh.. Ohk..” erang Papa.
Hangat rasanya ketika mani Papa menyiram lubang vaginaku.
Dengan
peluh di tubuh, Papa menindih tubuhku. Nafas kami berdua
tersengal-sengal. Sekian lama Papa memelukku dari belakang, sementara
mataku masih terpejam merasakan kenikmatan yang baru pertama kali
kualami. Dengan penis yang masih bersarang di vaginaku, dia mencium
lembut leherku dari belakang.
“Vin, Papa sayang Vina. Sebelum menikahi Mamamu, Papa sudah tertarik sama Vina..” ucap Papa sambil mengelus rambutku.
Mama
dan adikku, tiga hari di rumah nenek. Selama tiga hari itu pula, aku
dan Papa mencari kepuasan bersama. Entah setan mana yang merasuki kami,
dan juga tidak tahu sudah berapa kali kami lakukannya. Terkadang malam
hari juga, walaupun Mama ada di rumah. Dengan alasan menonton bola di
TV, Papa membangunkanku, yang jelas perbuatan ini kulakukan hingga
sekarang.
Tamat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar