Minggu, 01 Juli 2012
RUDY MANUSIA BEJAT
hidupku. Aku termasuk orang yang cukup berada. Punya rumah bagus dan
juga mobil mewah. Dan yang paling utama adalah isteriku yang umurnya
separuh dari umurku. Aku amat mencintai isteriku yang masih muda dan
cantik itu. Apalagi kami berdua masih mempunyai hubungan darah yang
cukup dekat.
Kisah ini dimulai dari suatu hari Minggu pada 22 tahun yang lalu, cukup
lama memang, sewaktu aku masih berusia 15 tahun. Aku adalah anak bungsu
dari dua bersaudara. Saat itu aku tengah sibuk membaca buku pelajaran di
ruang tamu rumahku karena besok aku harus menghadapi ulangan. Aku masih
duduk di kelas satu SMA waktu itu. Kebetulan kedua orangtuaku pergi ke
rumah Oom Tanto. Tiba-tiba pintu depan dibuka dengan kasar. Kulihat
kakak perempuanku satu-satunya, Mbak Lia, masuk dengan tergopoh-gopoh.
Mukanya pun masam. Tanpa basa-basi, ia langsung membanting tubuhnya
duduk di sofa berseberangan denganku.
"Mbak Lia! Kenapa sih grasa-grusu kaya gitu! Nggak tahu ya gue lagi
belajar!" Aku menggerutu.
"Salah elu sendiri! Kenapa hari libur gini belajar?!" Mbak Lia tidak mau
kalah.
"Gue kan besok ada ulangan di sekolahan."
"Ulangan sih ulangan! Tapi elu nggak tau sih sebenarnya gue kenapa?"
kata Mbak Lia sambil tetap merengut.
"Emangnya Mbak kenapa?"
"Gue baru putus!"
"Sama Mas Toni?" tanyaku.
"Sama siapa lagi!" jawab Mbak Lia agak ketus.
"Sebabnya kenapa, Mbak?" tanyaku sedikit takut-takut.
Beberapa lama Mbak Lia tidak mau menjawab. Ia terdiam. Tapi.....
"Nggg... gimana ya, Rud, sebenernya gue mau juga nih nyeritain ke elu.
Elu kan tau gue udah ampir dua tahun pacaran sama Toni. Masa tadi waktu
dia nganter gue pulang ke rumah kan gue minta dia sedikit mesra ke gue,
dia nggak mau. Katanya dia, dia belum siap mesra-mesraan. Cowok macem
apaan tuh!"
"Emangnya Mbak pengennya mesra kaya apaan?"
"Gue kan minta dia cium gue di bibir. Eh, dia malah gemeteran."
"Ya ampun, Mbak! Kok gitu aja marahan sama dia?"
"Abis gimana? Kan gue pacar dia udah lama. Masa minta dicium aja nggak
boleh!"
"Boleh sih boleh. Kok maen paksa gitu, Mbak."
"Heh, anak kecil! Udah ah, jangan ikut campur urusan gue!"
"Eh, Mbak. Siapa bilang gue anak kecil. Mbak kan cuman lebih tua 2 tahun
dari gue."
Mbak Lia tidak menanggapi apa-apa. Ia masih juga merajuk.
"Wah, kalo Mbak Lia merengut terus, bisa kiamat dunia tuh! Kalo Mbak
emang pengen dicium, nih gue aja yang cium deh!" kataku sambil mencium
bibir Mbak Lia yang ranum.
"Plakk!" Sebuah tamparan mendarat di pipiku. Aw! Cukup sakit!
"Rudy! Apa-apaan sih elu! Emangnya elu pikir gue apanya elu sih!
Berani-beraninya nyium gue!" Mbak Lia menghardikku agak marah. Tetapi
kulihat mukanya sedikit merah, sedikit malu. Kemudian ia seperti
tertegun dengan tangannya memegang bibirnya yang baru saja kucium tadi.
Suasana diliputi keheningan. Aku tidak berani berkata-kata lagi, takut
menambah marah Mbak Lia.
Beberapa menit kemudian, tahu-tahu kulihat perubahan pada air muka Mbak
Lia. Tampaknya ia sudah kembali normal lagi. Malahan ia memandangi
sambil tersenyum manis penuh arti. Astaga! Aku baru menyadari apa
keinginan Mbak Lia ini.
"Rud, sori gue udah nampar elu tadi. Abis gue emosi banget sih. Ke sini
elu ke deket gue deh," katanya sambil mengulurkan tangannya.
Aku menyambut tangannya. Tanpa terduga, ia menarik tanganku dengan keras
sehingga tubuhku langsung berdekatan dengannya dalam jarak beberapa
sentimeter saja. Tiba-tiba tangannya merengkuh tubuhku. Bibirnya yang
merekah memagut bibirku. Dengan sendirinya bibirku pun menyambutnya. Aku
melayani pagutan bibir Mbak Lia dengan gairah yang tinggi. Kukulum bibir
Mbak Lia yang juga membalasku. Lalu lidah kami berdua pun saling
bersentuhan. Tanpa membuang-buang waktu, aku permainkan lidah Mbak Lia
yang cukup gesit bergerak laksana lidah seekor ular.
Tubuh kami berdua yang berhimpitan menimbulkan rangsangan yang cukup
berarti untukku. Apalagi setelah dadaku menempel erat pada payudaranya
yang berukuran tidak begitu besar namun bentuknya indah dan kencang. Dan
tak ayal lagi, penisku pun mulai berdiri mengencang. Aku tak sadar,
bahwa aku sudah terangsang oleh kakak kandungku sendiri! Namun hawa
nafsu birahi yang mulai melandaku sepertinya mengalahkan akal sehatku.
Mbak Lia sendiri juga tampaknya memiliki pikiran yang saja. Ia tidak
henti-hentinya mengulumi bibirku dengan nafsunya.
Akhirnya, nafsuku sudah tak tertahankan lagi. Sementara bibirku dan Mbak
Lia masih tetap saling memagut, tanganku mulai menggerayangi tubuh
kakakku itu. Kujamah gundukan daging kembar yang menghiasi dengan
indahnya dada Mbak Lia yang masih berpakaian lengkap. Dengan segera
kuremas-remas bagian tubuh yang sensitif tersebut.
"Aaah... Rudy... aah..." Mbak Lia mulai melenguh kenikmatan. Bibirnya
masih tetap melahap bibirku.
Mengetahui Mbak Lia tidak menghalangiku, aku semakin berani.
Remasan-remasan tanganku pada payudaranya semakin menjadi-jadi. Sungguh
suatu kenikmatan yang baru pertama kali kualami meremas-remas benda
kembar indah nan kenyal milik kakakku itu. Melalui kain blus yang
dikenakan Mbak Lia kuusap-usap ujung payudaranya yang begitu menggiurkan
itu. Tubuh Mbak Lia mulai bergerak menggelinjang.
"Uuuuhhh... Mbak....." Aku mendesah saat merasakan ada jamahan yang
mendarat di selangkanganku. Penisku pun bertambah menegang akibat
sentuhan tangan Mbak Lia ini, membuatku bagian selangkangan celana
panjangku tampak begitu menonjol. Mbak Lia juga merasakannya, membuatnya
semakin bernafsu meremas-remas penisku itu dari balik celana panjangku.
Nafsu birahi yang menggelora nampaknya semakin menenggelamkan kami
berdua, sehingga membuat kami melupakan hubungan kami sebagai
kakak-beradik.
"Aaauuhh... Rud... uuuh....." Mbak Lia mendesis-desis dengan liarnya
karena remasan-remasan tanganku di payudaranya bukannya berhenti, malah
semakin merajalela. Matanya terpejam merasa kenikmatan yang begitu
menghebat.
Tanganku mulai membuka satu persatu kancing blus Mbak Lia dari yang
paling atas hingga kancing terakhir. Lalu Mbak Lia sendiri yang
menanggalkan blus yang dikenakannya itu. Aku terpana sesaat melihat
tubuh kakakku itu yang putih dan mulus dengan payudaranya yang membulat
dan bertengger dengan begitu indahnya di dadanya yang masih tertutup
beha katun berwarna krem kekuningan. Tetapi aku segera tersadar, bahwa
pemandangan amboi di hadapannya itu memang tersedia untukku, terlepas
itu milik kakakku sendiri.
Tidak ingin membuang-buang waktu, bibirku berhenti menciumi bibir Mbak
Lia dan mulai bergerak ke bawah. Kucium dan kujilati leher jenjang Mbak
Lia, membuatnya menggerinjal-gerinjal sambil merintih kecil. Sementara
itu, tanganku kuselipkan ke balik beha Mbak Lia sehingga menungkupi
seluruh permukaan payudara sebelah kanannya. Puting susunya yang tinggi
dan mulai mengeras begitu menggelitik telapak tanganku. Segera
kuelus-elus puting susu yang indah itu dengan telapak tanganku. Kepala
Mbak Lia tersentak menghadap ke atas sambil memejamkan matanya. Tidak
puas dengan itu, ibu jari dan telunjukku memilin-milin puting susu Mbak
Lia yang langsung saja menjadi sangat keras. Memang baru kali ini aku
menggeluti tubuh indah seorang wanita. Namun memang insting kelelakianku
membuatku seakan-akan sudah mahir melakukannya.
"Iiiihh..... auuuhhh..... aaahhh....." Mbak Lia tidak dapat menahan
keliaran desahan-desahan nafsunya. Segala gelitikan jari-jemariku yang
dirasakan oleh payudara dan puting susunya dengan bertubi-tubi, membuat
nafsu birahinya semakin membulak-bulak.
Kupegang tali pengikat beha Mbak Lia lalu kuturunkan ke bawah. Kemudian
beha itu kupelorotkan ke bawah sampai ke perut Mbak Lia. Puting susu
Mbak Lia yang sudah begitu mengeras itu langsung mencelat dan mencuat
dengan indahnya di depanku. Aku langsung saja melahap puting susu yang
sangat menggiurkan itu. Kusedot-sedot puting susu Mbak Lia. Kuingat masa
kecilku dulu saat masih menyusu pada payudara ibuku. Bedanya, tentu saja
payudara kakakku ini belum dapat mengeluarkan air susu. Mbak Lia
menggeliat-geliat akibat rasa nikmat yang begitu melanda kalbunya.
Lidahku dengan liarnya tak ayal menggelitiki puting susunya sehingga
pentil yang sensitif itu melenting ke kiri dan ke kanan terkena hajaran
lidahku.
"Aiiih... Rudyyyyy..... Oooh....." Lenguhan Mbak Lia semakin lama
bertambah keras. Untung saja rumahku sedang sepi dan letaknya memang
agak berjauhan dari rumah yang paling dekat, sehingga tidak mungkin ada
orang yang mendengarnya.
Belum puas dengan payudara dan puting susu Mbak Lia yang sebelah kiri,
yang sudah basah berlumuran air liurku, mulutku kini pindah merambah
bukit membusung sebelah kanan. Apa yang kuperbuat pada belahan indah
sebelah kiri tadi, kuperbuat pula pada yang sebelah kanan ini. Payudara
sebelah kanan milik kakakku yang membulat indah itu tak luput menerima
jelajahan mulutku dengan lidahnya yang bergerak-gerak dengan liarnya.
Kukulum ujung payudara Mbak Lia. Lalu kujilati dan kugelitiki puting
susunya yang tinggi. Puting susu itu juga sama melenting ke kiri dan ke
kanan, seperti halnya puting susu payudaranya yang sebelah kiri tadi.
Mbak Lia pun semakin merintih-rintih karena merasakan geli dan nikmat
yang menjadi-jadi berbaur menjadi satu padu. Seperti tengah minum soft
drink dengan memakai sedotan plastik, kuseruput puting susu kakakku itu.
"Ruuuddd..... Aaaahhhhh....." Mbak Lia menjerit panjang.
Lidahku tetap tak henti-hentinya menjilati puting susu Mbak Lia yang
sudah demikian kerasnya. Sementara itu tanganku mulai bergerak ke arah
bawah. Kubuka retsleting celana jeans yang Mbak Lia kenakan. Kemudian
dengan sedikit dibantunya sambil tetap merem-melek, kutanggalkan celana
jeans itu ke bawah hingga ke mata kaki. Tubuh bagian bawah Mbak Lia
sekarang hanya dilindungi oleh selembar celana dalam dengan bahan dan
warna yang seragam dengan behanya. Meskipun begitu, tetap dapat kulihat
warna kehitaman samar-samar di bagian selangkangannya.
Ditunjang oleh nafsu birahi yang semakin menjulang tinggi, tanpa
berpikir panjang lagi, kulepas pula kain satu-satunya yang masih
menutupi tubuh Mbak Lia yang memang sintal itu. Dan akhirnya tubuh mulus
kakakku itu pun terhampar bugil di depanku, siap untuk kunikmati.
Tak ayal, jari tengahku mulai menjamah bibir vagina Mbak Lia di
selangkangannya yang sudah mulai ditumbuhi bulu-bulu tipis kehitaman
walaupun belum begitu banyak. Kutelusuri sekujur permukaan bibir vagina
itu secara melingkar berulang-ulang dengan lembutnya. Tubuh Mbak Lia
yang masih terduduk di sofa melengkung ke atas dibuatnya, sehingga
payudaranya semakin membusung menjulang tinggi, yang masih tetap dilahap
oleh mulut dan bibirku dengan tanpa henti.
"Oooohhh..... Rudddyyyy..... Iiiihhh..... Ruuud.....!"
________________________________________
Jari tengahku itu berhenti pada gundukan daging kecil berwarna kemerahan
yang terletak di bibir vagina Mbak Lia yang mulai dibasahi cairan-cairan
bening. Mula-mula kuusap-usap daging kecil yang bernama klitoris ini
dengan perlahan-lahan. Lama-kelamaan kunaikkan temponya, sehingga
usapan-usapan tersebut sekarang sudah menjadi gelitikan, bahkan tak lama
kemudian bertambah lagi intensitasnya menjadi sentilan. Klitoris Mbak
Lia yang bertambah merah akibat sentuhan jariku yang bagaikan sudah
profesional, membuat tubuh pemiliknya itu semakin menggerinjal-gerinjal
tak tentu arahnya. Melihat Mbak Lia yang tampak semakin merangsang, aku
menambah kecepatan gelitikanku pada klitorisnya. Dan akibatnya, klitoris
Mbak Lia mulai membengkak. Sementara vaginanya pun semakin dibanjiri
oleh cairan-cairan kenikmatan yang terus mengalir dari dalam lubang
keramat yang masih sempit itu.
Puas menjelajahi klitoris Mbak Lia, jari tengahku mulai merangsek masuk
perlahan-lahan ke dalam vagina kakakku itu. Setahap demi setahap
kumasukkan jariku ke dalam vaginanya. Mula-mula sebatas ruas jari yang
pertama. Dengan susah payah memang, sebab vagina Mbak Lia memang masih
teramat sempit. Kemudian perlahan-lahan jariku kutusukkan lebih dalam
lagi. Pada saat setengah jariku sudah amblas ke dalam vagina Mbak Lia,
terasa ada hambatan. Seperti adanya selaput yang cukup lentur.
"Aiiihh... Rud..." Mbak Lia merintih kecil seraya meringis seperti
menahan rasa sakit. Saat itu juga, aku langsung sadar, bahwa yang
menghambat penetrasi jari tengahku ke dalam vagina Mbak Lia adalah
selaput daranya yang masih utuh. Ternyata kakakku satu-satunya itu masih
perawan. Baru aku tahu, ternyata sebandel-bandelnya Mbak Lia, ternyata
kakakku itu masih sanggup memelihara kehormatannya. Aku sedikit salut
padanya. Dan untuk menghargainya, aku memutuskan tidak akan melanjutkan
perbuatanku itu.
"Rud..... Kok distop....." tanya Mbak Lia dengan nafas terengah-engah.
"Mbak, Mbak kan masih perawan. Nanti kalo gue terusin kan Mbak
bisa....."
"Biarlah, Rud. Selama ini kan gue udah coba jaga keperawanan gue.....
tapi useless..... Tetap nggak ada yang mau sama gue kaya si Toni. Jadi,
what for....."
"Tapi, kan gue adik Mbak sendiri. Kita seharusnya nggak ngelakuin ini,
Mbak..."
Mbak Lia tidak menjawab. Ia malah menjulurkan tangannya menggapai
selangkanganku. Begitu tangannya menyentuh ujung penisku yang masih ada
di dalam celana pendek yang kupakai, penisku yang tadinya sudah
mengecil, sontak langsung bergerak mengeras kembali. Ternyata sentuhan
lembut tangannya itu berhasil membuatku terangsang kembali, membuatku
tidak dapat membantah apapun lagi, bahkan aku seperti melupakan apa-apa
yang kukatakan barusan.
Dengan secepat kilat, Mbak Lia memegang kolor celana pendekku itu, lalu
dengan sigap pula celanaku itu dilucutinya sebatas lutut. Yang tersisa
hanya celana dalamku. Mata Mbak Lia tampak berbinar-binar menyaksikan
onggokan yang cukup besar di selangkanganku. Diremas-remasnya penisku
dengan tangannya, membuat penisku itu semakin bertambah keras dan
bertambah panjang. Kutaksir panjangnya sekarang sudah bertambah dua kali
lipat semula. Bukan main! Semua ini akibat rangsangan yang kuterima dari
kakakku itu sedemikian hebatnya.
"Mbak..... Gue buka dulu ya," tanyaku sambil menanggalkan celana
dalamku.
Penisku yang sudah begitu tegangnya seperti meloncat keluar begitu
penutupnya terlepas.
"Aw!" Mbak Lia menjerit kaget melihat penisku yang begitu menjulang dan
siap tempur. Namun kemudian ia meraih penisku itu dan perlahan-lahan ia
menggosok-gosok batang 'meriam'-ku itu, sehingga membuat otot-otot yang
mengitarinya bertambah jelas kelihatan dan batang penisku itu pun
menjadi laksana tonggak yang kokoh dan siap menghujam siapa saja yang
menghalanginya. Kemudian Mbak Lia menarik penisku dan membimbingnya
menuju selangkangannya sendiri. Diarahkannya penisku itu tepat ke arah
lubang vaginanya.
Sekilas, aku seperti sadar. Astaga! Mbak Lia kan kakakku sendiri! Apa
jadinya nanti jika aku sampai menyetubuhinya? Apa kata orang-orang nanti
mengetahui aku berhubungan seks dengan kakak kandungku sendiri?
Akhirnya aku memutuskan tidak akan melakukan penetrasi lebih jauh ke
dalam vagina Mbak Lia. Kutempelkan ujung penisku ke bibir vagina Mbak
Lia, lalu kuputar-putar mengelilingi bibir gua tersebut. Mbak Lia
menggerinjal-gerinjal merasakan sensasi yang demikian hebatnya serta
tidak ada duanya di dunia ini.
"Aaahhh..... uuuhhhh....." Mbak Lia mendesah-desah dengan liarnya
sewaktu aku sengaja menyentuhkan penisku pada klitorisnya yang kemerahan
dan kini kembali membengkak. Sementara bibirku masih belum puas-puasnya
berpetualang di payudara Mbak Lia itu dengan puting susunya yang
menggairahkan. Terlihat payudara kakakku itu dan daerah sekitarnya basah
kuyup terkena jilatan dan lumatanku yang begitu menggila, sehingga
tampak mengkilap.
Aku perlahan-lahan mulai memasukkan batang penisku ke dalam lubang
vagina Mbak Lia. Sengaja aku tidak mau langsung menusukkannya. Sebab
jika sampai kebablasan, bukan tidak mungkin dapat mengoyak selaput
daranya. Aku tidak mau melakukan perbuatan itu, sebab bagaimanapun juga
Mbak Lia adalah kakak kandungku, darah dagingku sendiri!
Mbak Lia mengejan ketika kusodokkan penisku lebih dalam lagi ke dalam
vaginanya. Sewaktu kira-kira penisku amblas hampir setengahnya, ujung
'tonggak'-ku itu ternyata telah tertahan oleh selaput dara Mbak Lia,
sehingga membuatku menghentikan hujaman penisku itu. Segera saja kutarik
penisku perlahan-lahan dari liang surgawi milik kakakku itu.
Gesekan-gesekan yang terjadi antara batang penisku dengan dinding lorong
vagina Mbak Lia membuatku meringis-ringis menahan rasa nikmat yang yang
tak terhingga. Baru kali ini aku merasakan sensasi seperti ini. Lalu,
kembali kutusukkan penisku ke dalam vagina Mbak Lia sampai sebatas
selaput daranya lagi dan kutarik lagi sampai hampir keluar seluruhnya.
Begitu terus kulakukan berulang-ulang memasukkan dan mengeluarkan
setengah batang penisku ke dalam vagina Mbak Lia. Dan temponya pun
semakin lama semakin kupercepat. Gesekan-gesekan batang penisku dengan
liang vagina Mbak Lia semakin menggila. Rasanya tidak ada lagi di dunia
ini yang dapat menandingi kenikmatan yang sedang kurasakan dalam
permainan cintaku dengan kakakku sendiri ini. Kenikmatan yang pertama
dengan kenikmatan berikutnya, disambung dengan kenikmatan selanjutnya
lagi, saling susul-menyusul tanpa henti.
Tampaknya setan mulai merajalela di otakku seiring dengan intensitas
gesekan-gesekan yang terjadi di dalam vagina Mbak Lia yang semakin
tinggi. Kenikmatan tiada taranya yang serasa tidak kesudahan, bahkan
semakin menjadi-jadi membuat aku dan Mbak Lia menjadi lupa
segala-galanya. Aku pun melupakan semua komitmenku tadi.
Dalam suatu kali saat penisku tengah menyodok vagina Mbak Lia, aku tidak
menghentikan hujamanku itu sebatas selaput daranya seperti biasa, namun
malah meneruskannya dengan cukup keras dan cepat, sehingga batang
penisku amblas seluruhnya dalam vagina Mbak Lia. Vaginanya yang amat
sempit itu berdenyut-denyut menjepit batang penisku yang tenggelam
sepenuhnya.
"Aaaauuuuwwww....." Mbak Lia menjerit cukup keras kesakitan. Tetapi aku
tidak menghiraukannya. Sebaliknya aku semakin bernafsu untuk memompa
penisku itu semakin dalam dan semakin cepat lagi penetrasi di dalam
vagina Mbak Lia. Tampaknya rasa sakit yang dialami kakakku itu tidak
membuat aku mengurungkan perbuatan setanku. Bahkan genjotan penisku ke
dalam lubang vaginanya semakin menggila. Kurasakan, semakin cepat aku
memompa penisku, semakin hebat pula gesekan-gesekan yang terjadi antara
batang penisku itu dengan dinding vagina Mbak Lia, dan semakin tiada
tandingannya kenikmatan yang kurasakan.
Hujaman-hujaman penisku ke dalam vagina Mbak Lia terus-menerus terjadi
sambung-menyambung. Bahkan tambah lama bertambah tinggi temponya. Mbak
Lia tidak sanggup berbuat apa-apa lagi kecuali hanya menjerit-jerit
tidak karuan. Rupa-rupanya setan telah menguasai jiwa kami berdua,
sehingga kami terhanyut dalam perbuatan yang tidak sepantasnya dilakukan
oleh dua orang kakak-beradik.
"Aaaah..... Rudy..... aaahhh....." Mbak Lia menjerit panjang. Tampaknya
ia sudah seakan-akan terbang melayang sampai langit ketujuh. Matanya
terpejam sementara tubuhnya bergetar dan menggelinjang keras. Peluh
mulai membasahi tubuh kami berdua. Kutahu, kakakku itu sudah hampir
mencapai orgasme. Namun aku tidak mempedulikannya. Aku sendiri belum
merasakan apa-apa. Dan lenguhan serta jeritan Mbak Lia semakin membuat
tusukan-tusukan penisku ke dalam vaginanya bertambah menggila lagi. Mbak
Lia pun bertambah keras jeritan-jeritannya. Pokoknya suasana saat itu
sudah gaduh sekali. Segala macam lenguhan, desahan, ditambah dengan
jeritan berpadu menjadi satu.
Akhirnya kurasakan sesuatu hampir meluap keluar dari dalam penisku.
Tetapi ini tidak membuatku menghentikan penetrasiku pada vagina Mbak
Lia. Tempo genjotan-genjotan penisku juga tidak kukurangi. Dan akhirnya
setelah rasanya aku tidak sanggup menahan orgasmeku, kutarik penisku
dari dalam vagina Mbak Lia secepat kilat. Kemudian dengan tempo yang
tinggi, kugosok-gosok batang penisku itu dengan tanganku. Tak lama
kemudian, cairan-cairan kental berwarna putih bagaikan layaknya senapan
mesin bermuncratan dari ujung penisku. Sebagian mengenai muka Mbak Lia.
Ada pula yang mengenai payudara dan bagian tubuhnya yang lain. Bahkan
celaka! Ada pula yang belepotan di jok sofa yang diduduki Mbak Lia.
Ditambah dengan darah yang mengalir dari dalam vaginanya, menandakan
keperawanan kakakku itu berhasil direnggut olehku, adik kandungnya
sendiri!
Dan akhirnya karena kehabisan tenaga, aku terhempas begitu saja ke atas
sofa di samping Mbak Lia. Tubuh kami berdua sudah bermandikan keringat
dari ujung rambut ke ujung kaki. Aku hanya mengenakan kaus oblong saja,
sedangkan Mbak Lia telanjang bulat tanpa selembar benangpun yang
menutupi tubuhnya.
ting tong...
Aku dan Mbak Lia langsung melompat mendengar suara bel pintu depan.
Astaga!
"Rudy! Lia! Buka pintu dong!"
Astaga! Orangtua kami berdua sudah datang! Celaka! Mana kami berdua
masih berantakan seperti ini. Setelah membersihkan air maniku yang
berceceran di mana-mana, dengan secepat kilat kami mengenakan busana
sekenanya. Aku hanya sempat memakai celana pendekku saja, sedangkan
celana dalamku kutendang masuk ke kolong sofa. Mbak Lia pun begitu.
Hanya blus dan celana jeans saja yang sempat dikenakannya. Beha dan
celana dalamnya ikut menemani celana dalamku di kolong sofa. Sisa-sisa
air mani kami berdua dan darah selaput dara Mbak Lia di jok sofa
langsung diduduki olehnya.
Kubuka pintu dan orangtuaku pun masuk ke dalam ruang tamu. Lalu aku
duduk di samping Mbak Lia. Kami berdua bersikap seperti biasa,
seakan-akan tidak pernah terjadi sesuatupun barusan. Ah! Lega rasanya
hatiku dan Mbak Lia! Ternyata orangtuaku tidak mencurigai bahwa kami
baru saja melakukan perbuatan yang tidak seharusnya berdua. Akhirnya
keduaku masuk ke ruang dalam. Sepeninggal mereka, aku dan Mbak Lia
saling berpandangan. Dan kami pun kemudian berciuman kembali,
seakan-akan belum puas akan persetubuhan yang baru saja kami lakukan
tadi.
Tiga tahun telah berlalu.....
Aku sekarang telah duduk di bangku kuliah, di jurusan manajemen pada
fakultas ekonomi sebuah universitas swasta besar di Jakarta. Kakak
perempuanku, Mbak Lia, setelah lulus SMA, melanjutkan kuliahnya di
akademi sekretaris terkenal di daerah Kali Malang, Jakarta Timur, sambil
bekerja di sebuah perusahaan besar di bilangan segitiga emas Jakarta.
Dan bersamaan dengan lulusnya ia dari akademi tersebut, ia diangkat
menjadi sekretaris general manager perusahaan tersebut.
Baru beberapa bulan ia bekerja sebagai sekretaris, sang general manager,
yang notabene atasannya, berniat akan mempersuntingnya. Sang manager
tertarik pada kecantikan dan kesintalan tubuh Mbak Lia. Aku tersenyum
ketika mendengar langsung dari Mbak Lia akan niat atasannya itu. Ah,
sang atasan tidak mengetahui bahwa aku telah mendahuluinya merenggut
keperawanan sang gadis pujaannya.
* * * * *
Hari ini tepat seminggu menjelang hari pernikahan Mbak Lia dengan Mas
Bambang, sang general manager. Mereka berdua sejak beberapa hari yang
lalu sudah sibuk mempersiapkan upacara dan resepsi pernikahan yang sudah
direncanakan beberapa bulan yang silam. Aku pun yang nanti dalam upacara
pernikahan akan berperan sebagai 'best man' yang mendampingi calon
mempelai wanita, Mbak Lia, ikut-ikutan sibuk. Mengurus ke sana, mengurus
ke sini, termasuk mengurus gadis-gadis yang akan bertindak sebagai
'pagar ayu' nanti, dan masih banyak lagi. Rencananya, upacara pernikahan
akan diadakan di sebuah gereja terkenal di Jakarta Pusat, dilanjutkan
dengan resepsi di sebuah gedung yang biasa digunakan untuk pesta
pernikahan di bilangan Gatot Subroto, dekat perempatan Kuningan, Jakarta
Selatan.
Malam pun tiba. Aku berbaring di kamar tidurku, lelah seharian pergi
mengurus macam-macam untuk acara pernikahan tersebut. Baru saja aku
memejamkan mata, tiba-tiba pintu kamar diketuk.
"Masuk. Nggak dikunci pintunya."
"Rud. Rudy." Ternyata yang mengetuk pintu adalah Mbak Lia. Ia masuk ke
dalam kamar dan langsung duduk di atas ranjang di sampingku yang
langsung duduk di situ.
"Kenapa, Mbak?"
"Gini. Gue takut, Rud."
"Takut? Sama apa?"
"Besok waktu gue married."
"Emangnya kenapa, Mbak. Takut kalo Mas Bambang tau bahwa Mbak udah nggak
perawan lagi."
"Bukan itu, Rud. Mas Bambang tuh orangnya nggak seperti yang elu sangka.
Dia tuh udah moderen banget. Dia nggak peduli apakah gue masih perawan
apa nggak. Bahkan kita berdua juga udah pernah maen beberapa kali kok,
meski baru sebatas petting aja. Dan sewaktu kita maen pertama kali, dia
nggak permasalahin keperawanan gue kok."
"Jadi apaan dong, Mbak."
"Gue takut entar kalo di malam pertama gue salah tingkah dan terus
ngecewain Mas Bambang."
"Lha, kok gitu dipikirin. Mbak kan bukan yang pertama kalinya. Kan dulu
Mbak sudah pernah sama gue."
"Tapi kan waktu itu, gue sama elu kan masih kecil. Kita kan sama-sama
masih SMA. Sekarang kan laen. Apalagi nanti kan Mas Bambang bakalan jadi
suami gue. Nanti kalo misalnya dia kecewa gimana? Bisa jadi berantakan
tuh urusannya."
"Oh, jadi Mbak pengen ngelakuin kaya dulu lagi sama
________________________________________
Sedikit malu-malu, Mbak Lia mengangguk, lalu ia melanjutkan, "Gue tahu,
Rud. Elu kan sekarang udah sering maen sama temen-temen cewek elu. Jadi
kan elu boleh dibilang udah jago. Ajarin gue dikit aja."
Memang, selama kuliah walaupun aku belum memiliki pacar sama sekali,
tetapi aku sudah sering bersetubuh dengan gadis-gadis teman kuliahku,
sekadar suka sama suka tanpa ada kelanjutannya. Namun kali ini, astaga!
Yang ingin bersetubuh denganku adalah kakakku sendiri, seperti dulu!
"Tapi kan, Mbak. Kita kan kakak adik. Masa kita mau ngelakuin seperti
dulu. Lagian dulu aja kita ampir kepergok Papa sama Mama. Ingat nggak,
Mbak."
"Jadi, elu begitu ya, Rud. Elu nggak mau nolongin kakak elu.
Mentang-mentang elu udah punya banyak cewek."
"Bukan begitu, Mbak. Tapi....."
"Sekali ini aja, Rud. Tolong ajarin gue. Kali ini aja," kata Mbak Lia
yang langsung membaringkan tubuhnya tertelentang di kasur. Payudaranya
yang terawat dengan baik mencuat membusung ke atas di balik kaus
oblongnya tanpa menggunakan beha. Tampak pentilan puting susunya yang
tinggi menonjol.
Apa boleh buat. Melihat pemandangan yang indah terpampang di hadapanku,
membuat nafsuku mulai timbul. Penisku mulai menegang. Masa bodoh dengan
hubungan kakak dan adik. Yang penting birahiku tersalurkan.
Kudekatkan mulutku ke dada Mbak Lia, lalu kukulum puting susunya yang
masih tertutup kain kaus oblong yang dipakainya. Puting susu yang
aslinya memang sudah tinggi itu semakin mengeras saja. Dan ini
membuatnya semakin menonjol di balik kaus oblongnya dan tentu saja
semakin menggiurkan. Dengan lidahku yang sudah menjulur keluar bagai
ular kujilati ujung pentil sensitif itu.
"Uuuuhhhh..... ooohhh....." Mbak Lia mulai mendesah-desah sambil
menggerinjal-gerinjal.
Sementara mulutku melumat puting susunya yang sebelah kiri, tanganku
memilin-milin puting susu payudaranya yang satu lagi. Tubuh kakakku itu
semakin menggeliat-geliat merasakan nikmat yang tak terhingga. Kemudian
tanganku memegang ujung kaus oblong Mbak Lia, lalu menariknya ke atas.
Mbak Lia pun membantuku menanggalkan kaus oblong itu. Dan sekarang
terhamparlah dada montok Mbak Lia yang telanjang tanpa terhalang apapun.
Melihat payudaranya yang kini jauh lebih besar dan lebih indah daripada
terakhir kali aku melihatnya tiga tahun lalu, ditambah puting susunya
yang juga lebih tinggi dan lebih merangsang, membuat nafsu birahiku
semakin merasuk sukma.
Tak ayal lagi, puting susu Mbak Lia langsung tertelan mulutku dan juga
langsung digelitiki dengan buasnya oleh lidahku, membuat mata kakakku
ini mendelik-delik kenikmatan. Dengan kecupan dan sedotan yang
bertubi-tubi, seluruh bagian ujung payudara itu menjadi basah kuyup
akibat lumatan mulut dan jilatan lidahku. Mulai dari puting susu yang
kiri sampai puting susu yang sebelahnya lagi. Kedua-dua benda mungil
yang merangsang birahi itu tak kulewatkan semua.
"Ruuuud..... auuhhhh....." Ternyata Mbak Lia masih tetap seperti tiga
tahun yang lalu. Desahan dan jeritannya masih tetap hampir tak
terkendali. Sementara tubuhnya yang tengah dilanda hawa nafsu
menggeliat-geliat tak tentu arah.
Aku pun tidak mau kalah. Kujilati lembah di antara kedua bukit membusung
di dada Mbak Lia, kemudian melingkari sekeliling lereng kedua bukit
tersebut. Sementara itu, jari-jemari kedua tanganku mempermainkan kedua
puting susu di puncak bukit-bukit tersebut. Ah! Betapa mengasyikkan
sekali seperti ini! Kuakui, aku sudah sering mempermainkan puting susu
gadis-gadis yang kusetubuhi. Namun yang paling kusuka, entah kenapa, dan
yang kuanggap paling menggiurkan, adalah puting susu milik kakakku
sendiri, Mbak Lia, yang sudah tidak pernah kujamah lagi sejak
persetubuhan pertama kami tiga tahun yang silam. Begitu tinggi, mencuat,
lagipula cepat sekali mengeras!
Puting susu Mbak Lia yang tinggi dan runcing kembali menjadi santapan
yang lezat mulutku. Bunyi kecepak-kecepak dan seruput-seruput terdengar
dari mulutku yang terus-menerus asyik melumat dan menghisap-hisap puting
susu kakakku itu. Tubuh Mbak Lia pun dibuatnya melengkung ke atas,
membuat payudaranya semakin mencuat ke atas, yang tentunya semakin
membuat gairah birahiku membulak-bulak. Sedotan-sedotanku pada puting
susu payudara Mbak Lia pun semakin menjadi-jadi. Seakan-akan aku tidak
mau melepaskan benda yang begitu menggairahkan ini.
Tak beberapa lama kemudian, kuhentikan lahapanku itu. Kuberalih ke
bagian bawah tubuh Mbak Lia. Kubuka retsleting celana pendeknya. Dan
astaga! Aku tidak menyangka-nyangka apa yang ada di dalamnya. Begitu aku
menanggalkan celana pendek itu, sekejap itu juga terpampangnya tubuh
Mbak Lia telanjang bulat. Rupa-rupanya, kakakku itu tidak mengenakan
celana dalam sama sekali. Langsung kucium bau vagina yang harum dan
segar. Kutahu, Mbak Lia selalu merawat vaginanya dengan telaten. Soalnya
di kamar mandi kulihat selalu ada beberapa cairan pembersih vagina
(kewanitaan) dari merek-merek terdengar dan harga-harganya pun sudah
dapat dipastikan relatif tidak murah.
Kudekatkan mulutku pada bibir vagina Mbak Lia. Ah! Bau khas vagina
wanita dengan aromanya yang tersendiri semakin menambah nafsu seksualku
yang memang sudah bangkit dari tadi. Dengan lembut dan penuh kasih
sayang kuciumi permukaan selangkangan kakakku itu yang sudah cukup lebat
ditumbuhi bulu-bulu kehitaman yang mengelilingi bibir liang
kenikmatannya. Kemudian dengan menjulurkan lidah, kucucukkan sedikit
lubang vagina Mbak Lia, sudah cukup membuatnya mengeluarkan sebuah
jeritan kecil. Aku tersenyum mendengarkannya. Kucucukkan lidahku sekali
lagi. Mbak Lia pun menjerit sekali. Timbul rasa isengku. Berulang-ulang
kulakukan hal yang sama, dan berulang-ulang pula terdengar jeritan dari
bibir Mbak Lia yang merekah setengah membuka. Sensual sekali! Tapi
anehnya, Mbak Lia tidak memprotes sedikitpun. Tampaknya ia suka sekali
diperlakukan seperti itu.
Jeritan kecil Mbak Lia berubah menjadi jeritan panjang saat ujung
lidahku menyentuh daging kecil kemerahan, klitorisnya. Dan semakin
bertambah panjang lagi, sewaktu lidahku menjilati daging kecil yang
sudah mulai membengkak tersebut. Sekalipun jeritan kakakku ini cukup
membuat sakit telingaku, namun aku tidak menghiraukannya. Berkali-kali
kujilati dan kugelitiki klitorisnya itu dengan garangnya tanpa ampun.
"Ooooooouuuuuuu..... Ruuuuuuudddddyyyyyyy.....!" Siapa coba yang
telinganya tidak sakit mendengar jeritan yang panjang ini.
"Crut.... Sruput... Clrrppuut....." Mulutku mulai melumat klitoris
kemerahan yang semakin bertambah bengkak. Sekali-kali kuseruput daging
kecil nan sensitif itu seperti sedang menyeruput es lilin.
Gerinjalan-gerinjalan tubuh Mbak Lia makin menjadi-jadi.
"Aaaaauuuuuuuwwww.....!" Mbak Lia menjerit sambil menjambak rambutku
cukup keras. Aku meringis kesakitan. Tetapi ini tidak menghalangi
usahaku untuk memasukkan lidahku sedalam-dalamnya ke dalam vagina Mbak
Lia.
Sedikit asin dan agak aneh memang rasanya ketika kujilati seluruh
permukaan dinding lubang kenikmatan milik kakakku ini. Pemilik lubang
itu terus meraung-raung dengan bebasnya. Aku pun semakin tambah
bernafsu. Petualangan lidahku di dalam vagina Mbak Lia bertambah membabi
buta. Boleh dibilang, tak ada secuil bagianpun dari dinding vagina Mbak
Lia yang luput dari jilatan lidahku itu. Bahkan, dinding vaginanya yang
licin dan sudah dibanjiri oleh cairan bening kenikmatan berulang-ulang
menjadi korban rambahan lidahku yang tak kenal ampun itu.
Satu jari... dua jari... dan tiga jari... akhirnya kusodokkan sekaligus
tiga jariku ke dalam vagina Mbak Lia. Sekarang lubang keramat itu memang
sudah tidak sesempit dulu. Tetapi bagaimanapun juga kurasakan tetap
lebih sempit daripada milik gadis-gadis teman kuliahku yang pernah
kusetubuhi. Tidak tahu mengapa, pokoknya sampai saat ini, kuanggap
segala 'perabot' vital milik kakakku itu adalah yang terbaik dibanding
milik gadis-gadis lainnya. Dengan susah payah, akhirnya ketiga jari
tersebut amblas semuanya ke dalam vagina Mbak Lia, diiringi oleh
lenguhan panjangnya.
Tubuh Mbak Lia terlonjak-lonjak ke sana ke sini saat kuhujam-hujamkan
jari-jemariku itu masuk-keluar lubang vaginanya, sementara mulutnya
terus mengeluarkan desahan-desahan dan tak jarang dibarengi dengan
jeritan-jeritan kecil. Mata Mbak Lia terpejam. Dan akhirnya, setelah
Mbak Lia sudah hampir mencapai orgasmenya, kuhentikan tusukan
jari-jariku itu.
"Aaaaahhhhh....." Mbak Lia melenguh panjang. Sepertinya ia merasa tidak
puas karena permainan dihentikan secara sepihak olehku, padahal ia
hampir memperoleh puncak kepuasannya.
Kemudian aku bangkit berdiri di samping ranjang. Kutanggalkan semua
pakaianku sampai bugil. Mbak Lia terpana melihat tubuhku yang sekarang
jauh lebih padat berisi daripada tiga tahun yang lampau. Lenganku kini
tegap dengan otot-otot yang menonjol di sana-sini. Dan yang membuatnya
bertambah terpana adalah batangan daging di selangkanganku yang begitu
mencuat dan berukuran cukup besar dan panjang.
"Uuhh..... Gila elu, Rud..... Punya elu tuh..... lebih gila dari
punyanya Mas Bambang....." tutur Mbak Lia jujur.
"Mbak, sekarang coba Mbak berlutut di ubin dan gue duduk di ranjang,
terus....."
"Ah, Rud. Gue nggak mau ah maen kaya gituan....." kata Mbak Lia sambil
menggelengkan kepalanya. Tampaknya ia tahu apa yang kumaksudkan.
"Lho, tapi kan nanti kalo Mbak sama Mas Bambang harus maen ginian."
"Tapi..... tapi..... gue jijik, Rud. Gue kan nggak pernah maen gituan.
Ama Mas Bambang aja gue juga belum pernah."
"Eh, Mbak Lia. Inget, gue ini kan adik Mbak sendiri. Jadi so pasti,
Mbak, dijamin bersih. Coba Mbak pikirin deh. Mbak aja bisa ngerawat
punya Mbak, masa gue nggak bisa ngerawat punya gue sendiri," kataku
membujuknya.
Setelah beberapa saat terdiam, Mbak Lia mengangguk ragu-ragu. Kemudian
ia berlutut di lantai, sedangkan aku duduk di hadapannya di atas kasur,
sehingga selangkanganku tepat berada di depan kepalanya.
"Ayo dong, Mbak, dimulai..."
Mbak Lia meraih penisku, lalu perlahan-lahan dengan takut-takut ia
mendekatkan penisku itu ke mulutnya. Sesaat ia diam saja. Kelihatannya
ia masih ragu-ragu untuk memasukkan batangku itu ke dalam mulutnya. Aku
menjadi tidak sabar lagi. Kucoba meyakinkannya. Akhirnya ia mau mencoba
lagi. Dengan mata terpejam, mulut Mbak Lia mulai melahap ujung penisku.
Tapi.....
"Cuh..... cuah....." Mbak Lia membatalkannya lagi. Ia meludah-ludah.
"Ya, Mbak!"
"Rud! Nggak usah ah! Gue nggak sanggup! Abis rasanya aneh sih! Yang lain
aja deh!"
Aku semakin tak sabaran. Tanpa ba bi bu lagi, kupegang belakang kepala
Mbak Lia dan kuhujamkan penisku ke dalam mulutnya. Dan langsung penisku
masuk seluruhnya ke dalam mulut Mbak Lia.
"Rrrruudd..... Gllpp..... ggrrrllpp....." Mbak Lia gelagapan menerima
penisku yang berukuran cukup besar itu masuk semuanya dalam mulutnya.
Bahkan ia sedikit kesulitan bernafas akibatnya. Mbak Lia pun
meronta-ronta mencoba mengeluarkan penisku itu, namun aku tidak
mengindahkannya. Malahan aku mulai memasuk-keluarkan penisku itu dalam
mulut Mbak Lia terus-menerus tanpa mempedulikan rasa keberatannya.
Lama-kelamaan, kelihatannya Mbak Lia akhirnya bisa menerima penisku itu.
Bahkan sebaliknya, bukan aku lagi yang aktif memompa penisku dalam
mulutnya, tetapi malah mulutnya yang asyik melumat penisku ini. Perasaan
jijik yang semua menghinggapinya, nampaknya kini telah dibuangnya
jauh-jauh dari benaknya. Berganti dengan keasyikkan dan kenikmatan
tersendiri baginya melumat benda besar dan kenyal milikku itu.
"Aaaaaiiiiiii..... Mbak Liiii...aaaaaa..... uuuuhhhh....." Giliran aku
yang melenguh keras. Kurasakan penisku berdenyut-denyut cukup kencang
seakan-akan ingin memuntahkan sesuatu. Namun aku mencoba menahannya
semampuku. Aku belum mau orgasme sekarang. Belum tiba saatnya! Tetapi
akibat semakin dahsyatnya permainan mulut dan lidah Mbak Lia pada batang
penisku itu, pertahananku pun jebol.
Aku sudah tidak bisa menahan lagi pergolakan yang terjadi di penisku.
Akhirnya tanpa adanya hambatan apapun, puncak kepuasanku pun tiba.
Dengan segera, lubang di ujung penisku menembakkan cukup banyak cairan
kental berwarna putih yang langsung memenuhi rongga mulut Mbak Lia. Dan
seperti sudah dikomando, kakakku itu menelan sebagian air maniku itu.
Bahkan sebelum penisku kukeluarkan sepenuhnya dari dalam mulutnya, ia
masih sempat menjilati sisa-sisa cairan kenikmatanku itu yang masih
menetes dari lubang 'meriam'-ku itu. Tampaknya ia amat menikmati
kelezatan rasa air maniku yang semula diogahinya. Aku pun karena merasa
keletihan langsung terkapar di kasur.
"Ruuuuddd! Kok elu udahan sih! Gue kan beloman! Gimana sih elu, Rud!"
Mbak Lia memprotes kekalahanku.
Aku menyesal dalam hati. Ini adalah kekalahan pertamaku sewaktu
bersetubuh dengan gadis manapun. Dalam permainanku dengan gadis-gadis
teman kuliahku pun aku selalu 'menang tanding'. Entah, kenapa kali ini
aku kalah saat bersenggama dengan kakakku sendiri. Apakah mungkin karena
aku begitu terangsang melihat tubuh kakakku itu yang begitu indah dan
montok? Apakah mungkin karena ia itu kakak kandungku sehingga membuat
nafsu birahiku lebih tinggi dari biasanya?
Akhirnya karena aku ingin bertindak adil, aku memutuskan untuk melayani
Mbak Lia yang masih merengut. Tetapi seketika itu juga, aku kembali
kecut setelah mengetahui penisku sudah kembali 'tidur'. Kucoba
mengelus-elus batang penisku itu. Namun percuma saja. Penisku masih
tetap belum bisa 'bangun'. Kucoba pula beberapa cara yang lain. Itu pun
sia-sia belaka.
Melihatku seperti kehabisan akal, Mbak Lia segera beraksi. Ia
mendorongku kembali tertelentang. Kemudian ia ikut naik ke atas ranjang,
dan coba tebak apa yang dilakukannya. Ternyata tubuh kakakku itu
menindihku. Mbak Lia menyodorkan payudaranya yang menggantung dengan
indahnya dari atas. Aku pun segera menyambut payudara itu dengan
riangnya. Kujilati puting susu Mbak Lia yang masih tetap tinggi dan
mengeras seperti tadi. Mbak Lia menggeram kecil sewaktu kugigit-gigit
kecil puting susu yang menggiurkan itu.
Setelah itu Mbak Lia turun lebih ke bawah. Kini ia menindih perutku.
Kakakku itu mengepit kedua belah payudaranya yang montok itu dengan
lengannya. Lalu ia menjepit batang penisku dengan belahan di antara
payudara itu. Kemudian Mbak Lia menggeser-geserkan penisku di lembah
tersebut. Gesekan-gesekan yang terjadi antara batang penisku dengan
lereng-lereng dua buah bukit menjulang yang mengapit lembah tersebut
ternyata memang ampuh, penisku kini mulai bangkit. Melihat usahanya
mulai menunjukkan hasil, Mbak Lia semakin menambah cepat gerakannya. Dan
benar saja. Tak lama kemudian, penisku telah kembali 'siap tempur'
seperti semula.
Tanpa mau membuang kesempatan emas, Mbak Lia langsung mengangkangi
selangkanganku. Setelah mengarahkan penisku tepat di bawah vaginanya, ia
mulai beraksi. Bertepatan dengan anjloknya tubuhnya ke bawah, penisku
pun langsung tertelan seluruhnya dalam vaginanya. Kami berdua sama-sama
melenguh cukup keras.
Aku tidak mau berdiam diri saja. Segera kuputar-putar penisku di dalam
lubang vagina Mbak Lia. Sementara itu Mbak Lia ikut mengimbangi dengan
menaik-turunkan sembari memutar-mutar pantatnya. Kami berdua semakin
lama semakin mempercepat tempo gerakan kami. Tanganku pun ikut ambil
bagian, meremas-remas payudara Mbak Lia dengan gemasnya. Kujepit kedua
puting susunya yang mengeras, sehingga tak ayal lagi, kedua puting susu
itu melejit dengan indahnya di antara jepitan jari-jariku.
Seiring dengan gerakan persenggamaan kami yang makin menggila, nafsu
birahi kami berdua pun semakin menjadi-jadi. Dan dengan nafsu yang
semakin membulak-bulak ini, kami pun juga makin memperganas persetubuhan
kami. Tak kurasa secara keseluruhan sudah hampir satu jam lamanya aku
dan Mbak Lia memulai permainan cinta kami.
Beberapa menit kemudian, bersamaan dengan mendekatnya waktu satu jam
itu, aku dan Mbak Lia mengalami orgasme berbarengan. Penisku memuntahkan
air mani ke dalam vagina kakakku itu semuanya. Sebagian malah ada yang
berlelehan keluar akibat tidak mampunya vaginanya menampung cairan
kenikmatanku itu yang kali ini jauh lebih banyak daripada orgasmeku yang
pertama tadi.
Akhirnya dengan tubuh bermandikan keringat yang mengalir deras, aku dan
Mbak Lia jatuh tertidur berdampingan di ranjangku. Penisku masih
menancap di dalam lubang vagina kakakku itu, sedangkan tanganku masih
menungkupi salah satu payudaranya yang ranum. Tengah malam, kami berdua
bangun, dan untuk menghindari agar tidak ketahuan kedua orangtuaku, Mbak
Lia bergegas pergi ke kamarnya sendiri dan melanjutkan mimpi indahnya
bersamaku hingga fajar tiba.
Hari yang ditunggu-tunggu, hari pernikahan kakakku, Mbak Lia, dengan
calon iparku, Mas Bambang, tiba. Seluruh acara pernikahan tersebut
berlangsung sukses. Keesokan harinya, mereka berdua pergi berbulan madu
ke Eropa, dan sekembalinya di tanah air, Mas Bambang langsung memboyong
isterinya ke Surabaya, karena sebagai seorang eksekutif di kantornya, ia
dipromosikan menjadi salah seorang direktur di kantor cabang di kota
tersebut. Sejak saat itu, aku tidak pernah berhubungan seks lagi dengan
Mbak Lia. Dan tidak ada seorangpun yang mengetahui apa yang pernah
terjadi antara kami berdua, termasuk Mas Bambang sekalipun. Aku dan Mbak
Lia berjanji akan merahasiakan hal ini rapat-rapat.
Sudah cukup lama memang, empat belas tahun lewat sudah.....
Kini aku telah menempati kedudukan yang cukup penting di sebuah
perusahaan properti terkenal, yang banyak membangun proyek-proyek
perumahan berskala besar. Tetapi sampai saat ini aku masih sendiri.
Terkadang, aku masih teringat pada kakakku, Mbak Lia. Memang, dengan
wajahku yang cukup tampan, ditambah tubuhku yang tinggi besar serta
tegap dan berotot, mencari teman kencan memang bukan masalah bagiku.
Barangkali sudah beberapa kali wanita yang jatuh ke dalam pelukanku.
Mulai dari gadis ingusan yang masih perawan hingga wanita karir relasi
bisnisku serta janda-janda kembang yang tergila-gila padaku, semuanya
pernah mampir di tempat tidurku. Boleh dibilang, aku telah tersohor
sebagai playboy kelas kakap di perusahaan tersebut. Bahkan bisa dihitung
jumlah karyawati di kantorku yang belum pernah merasakan ampuhnya penis
kebanggaanku! Aku memang termasuk sex maniac. Mulai dari karyawati baru
hingga manajer, bahkan sampai direktur, semua pernah kugarap. Termasuk
pesuruh kantorku, Wati, yang memang bentuk tubuhnya yahud!
Akan tetapi, semuanya itu kuanggap belum dapat menandingi semua yang
pernah dilakukan bersama Mbak Lia. Persetubuhanku dengan kakak
perempuanku satu-satunya itu sampai saat ini masih tetap terbaik
menurutku. Hingga saat ini masih belum terlupakan bagaimana keganasan
kakakku itu dalam bercinta denganku, juga masih terpatri jelas di otakku
bagaimana keindahan tubuhnya. Payudaranya yang montok dengan puting susu
yang runcing menjulang ditambah dengan vaginanya yang meskipun sudah
tidak perawan lagi, namun masih tetap sempit seperti layaknya milik
orang yang masih gadis. Apakah ini pertanda aku mencintai kakak
kandungku sendiri? Entahlah!
Oh ya, Mbak Lia sekarang sudah mempunyai anak yang kini mulai beranjak
dewasa bernama Diana. Usianya telah menginjak 14 tahun. Aku boleh
dibilang jarang berjumpa dengan Mbak Lia dan keluarganya, termasuk
Diana. Di samping tempat tinggalnya amat jauh jaraknya dari Jakarta ini,
aku pun sebisanya tidak mau berjumpa sesering mungkin dengan kakakku
itu. Aku kuatir apabila aku sering-sering berjumpa dengannya, mungkin
saja perbuatan kotor kami yang dulu bisa terulang kembali. Padahal
sekarang kan Mbak Lia sudah memiliki suami dan anak.
Selama 14 tahun ini terhitung baru beberapa kali saja aku mengunjungi
rumahnya di Surabaya. Pertama kali saat Diana lahir pada tahun pertama
pernikahannya dengan Mas Bambang. Waktu itu aku sempat mengira Diana
adalah anak hasil hubunganku dengannya. Tetapi setelah Mbak Lia
menjelaskan padaku bahwa itu tidak mungkin, sebab saat ia bersetubuh
denganku selalu pada 'masa aman'-nya, sehingga ia tidak mungkin
dihamiliku. Kedua pada ulang tahun pernikahan mereka yang kelima, dan
terakhir pada saat Diana berusia 10 tahun. Setelah itu, selama 4 tahun,
kami tak pernah berjumpa sedikitpun.
Kira-kira setahun yang lalu kudengar bahwa hubungan Mbak Lia dengan
suaminya, Mas Bambang, retak. Dan akhirnya mereka berdua bercerai. Mas
Bambang tak lama kemudian menikah lagi dengan sekretaris barunya di
kantor. Putri mereka satu-satunya, Diana, karena tidak ingin tinggal
bersama dengan ibu tiri, ikut dengan ibu kandungnya, masih tetap di
Surabaya. Setelah mendengar berita perpisahan mereka, aku sebenarnya
ingin mengunjungi Mbak Lia. Aku sudah rindu ingin melakukan persetubuhan
yang indah lagi dengannya. Tetapi niatku ini kubatalkan mengingat
kakakku ini sudah memiliki Diana. Bukankah tidak baik kalau keponakanku
satu-satunya ini mengetahui ibunya serong denganku, pamannya sendiri
alias adik kandung ibunya. Lagipula, aku belum mengetahui apakah kini
Mbak Lia masih merindukanku atau tidak.
________________________________________
"Triililit... triililit... triililit....." Telepon di meja kerjaku
berdiri. Ah, siapa sih ini yang siang-siang begini telepon. Apakah dia
tidak tahu bahwa kalau jam-jam segini aku tengah sibuk-sibuknya
menyelesaikan pekerjaanku yang menumpuk di kantor.
"Halo." Kuangkat gagang telepon.
"Hai, Rudy!" terdengar sahutan dengan suara yang kukenal.
"Eh, Mbak Lia." Ternyata kakakku yang di seberang sana.
"Siapa lagi kalo bukan gue, Rud?" Sudah lama di Surabaya, ternyata logat
Jakartanya masih tetap muncul, cuma ditambah dengan aksennya yang
sedikit medok seperti orang Jawa.
"Emangnya ada apa, Mbak? Mau maen lagi kaya dulu?" tanyaku menggodanya.
"Enak aja elu. Elu kudu tobat dong, Rud. Masa umur udah kepala tiga tapi
otak masih ngeres. Dulu kan dulu, Rud. Sekarang kan gue udah ada
momongan. Tuh si Diana."
"Gila amat. Diana udah segede gitu masih Mbak bilang momongan. Emangnya
kenapa sih, Mbak. Kok tumben Mbak telepon gue?"
"Gini lho, Rud. Elu kan tahu si Diana. Nah beberapa hari lagi di
sekolahnya bakalan ada acara spesial. Nah, semua murid di sana
orangtuanya diwajibkan dateng. Elu tau sendiri kan, si Diana papanya
udah nggak tau ke mana batang idungnya. Nah, elu gue minta bantuin ke
sini. Di acara itu nanti, elu pura-pura aja jadi suami gue, papanya
Diana gitu. Mau dong ya!"
"Ajegile! Gue disuruh jadi suami Mbak? Yang bener? Kalo disuruh maen
kaya dulu sih oke-oke aja, tapi kalo disuruh kawin sama kakak sendiri
wah suseh tuh!"
"Rud. Rud. Kan cuman pura-pura doang elu jadi suami gue. Satu ari aja.
Abis itu ya kita kembali kakak adik seperti biasa."
"Upahnya? Gue mau sama Mbak lho!"
"Udah ah, Rud. Elu jangan mikirin yang itu-itu lagi. Sekarang yang
penting, elu mau nggak bantuin gue?"
"Nggg..... gimana ya, Mbak. Gue belom bisa mutusin sekarang sebab gue
lagi sibuk banget. Nanti sore gue telepon Mbak gimana?"
"Sok sibuk elu. Iya deh gue tunggu. Daag." Telepon pun terputus.
Sambil menjinjing tas koper yang lumayan berat, aku tertatih-tatih
memasuki halaman rumah yang tidak begitu besar namun asri itu. Aku baru
saja turun dari taksi yang membawaku dari bandara setibanya aku di
Surabaya ini. Kutekan tombol bel pintu.
"Kwik kwik kwik kwik kwik....." Bel itu mengeluarkan seperti suara
burung.
Tak lama kemudian, pintu rumah dibuka dari dalam. Sesosok tubuh yang
kukenal dengan baik muncul di balik pintu.
"Mbak Lia, apa kabarnya?"
"Eh, elu, Rud. Gue sehat-sehat aja," sahut Mbak Lia sambil memelukku
dengan erat. Dadaku berdesir saat bersentuhan dengan payudaranya.
Sungguh, di usianya yang 34 tahun itu, ternyata tubuh Mbak Lia masih
terawat dengan baik. Ini dibuktikan dengan payudaranya yang masih tetap
kencang dan kenyal seperti anak gadis belasan tahun. Dan tentu saja, hal
ini membuatku terangsang. Tak kusadari, penisku mencuat dengan
sendirinya.
"Wah, bener-bener elu, Rud. Gue kirain udah insyaf elu. Ternyata elu
baru gue peluk aja udah ngaceng kaya gitu. Jadi ngeri nih gue
deket-deket sama elu," kata Mbak Lia meledekku.
"Habis, tetek Mbak sih, bikin gue terangsang," balasku sambil meremas
payudara kakakku.
"Rudy!" sergahnya sambil menepis tanganku. "Jangan begitu ah!"
"Iya deh, Mbak. Sori banget."
Tetapi namanya nafsu sudah sampai di ubun-ubun, apalagi berhadapan
dengan janda kembang yang cantik dan seksi seperti Mbak Lia, meskipun ia
adalah kakak kandungku sendiri, membuatku tidak mudah menyerah. Beberapa
kali aku mencoba mendekatinya dan selalu merayunya agar kembali
mencicipi penisku yang sudah mendambakan vaginanya begitu lama. Sampai
suatu hari.....
Siang itu kebetulan di rumah tinggal aku berdua dengan Mbak Lia.
Anaknya, Diana, seperti biasa masuk sekolah. Saat itu aku merasakan
nafsuku sudah tidak bisa tertahankan lagi. Segera saja kucari Mbak Lia.
Siapa tahu kali ini ia bisa kubujuk untuk melayaniku.
Aha! Itu dia! Kutemukan kakakku itu sedang asyik mencuci piring di
dapur. Dari belakang, diam-diam kupandangi tubuhnya. Amboi! Ternyata
tubuh Mbak Lia masih seperti yang dulu. Pinggang ramping, selaras dengan
pinggulnya yang tidak terlampau besar namun pantatnya membulat. Penisku
segera saja 'bangun' setelah kusaksikan pantat Mbak Lia yang
bergoyang-goyang ke kiri ke kanan sewaktu mencuci piring. Ah, betapa
seksinya kakakku ini!
Dengan mengendap-endap aku menghampiri Mbak Lia. Tanpa disadari olehnya,
aku langsung mendekap tubuh yang semampai itu dari belakang. Sengaja
kucengkeram payudaranya yang membulat kencang. Karena terkejut, piring
yang sedang dicucinya terlepas dan jatuh pecah berantakan di lantai.
"Rudy! Jangan, Rud, jangan! Lepasin gue! Jangan!" Mbak Lia
berteriak-teriak. Ia meronta-ronta sekuat tenaga. Tetapi apa boleh buat.
Tenagaku jauh lebih kuat. Percuma saja ia memberontak. Cekalan tanganku
yang begitu kencang membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa.
"Mbak. Gue tau Mbak sebenernya sekarang butuhin laki-laki kan? Coba masa
udah beberapa bulan Mbak nggak pernah maen sama laki-laki? Mbak kan
boleh dibilang masih teritung muda. Baru kepala tiga. Masa Mbak mau
ngelupain soal seks sih?"
"Tapi kan gue ini kakak elu, Rud. Udah cukup kesalahan kita dulu. Gue
nggak pengen sekarang terulang lagi," kata Mbak Lia yang kelihatan sudah
pasrah saja.
"Tapi Mbak ngakuin kan, bahwa Mbak dulu itu suka sekali kan? Ayo deh,
Mbak. Jangan mungkir lagi."
"Emang gue akuin, Rud. Dulu memang gue suka sama elu. Tapi kan sekarang
laen. Gue udah punya anak. Lagian nanti apa kata tetangga-tetangga gue
di sini kalo gue ada maen sama adik gue sendiri. Elu kan tau, gue
sekarang janda, kembang lagi. Janda kembang kan gampang digosipin
macem-macem. Jadi sekarang elu sama gue mesti hindarin hal-hal itu lagi.
Lepasin gue dong, Rud."
"Ala, Mbak jangan munafik deh. Akuin aja deh sekarang bahwa Mbak masih
butuh seks," timpalku. Tangan kiriku tetap meremas-remas payudara Mbak
Lia sementara tanganku yang satu meraba-raba selangkangannya. Ini
membuat Mbak Lia menghentikan rontaannya. Mulutnya pun mulai
mengeluarkan desahan-desahan seperti dulu.
"Ternyata adik gue ini bener. Gue masih butuh laki-laki. Gue masih butuh
seks. Gue masih butuh dia. Terserah dia deh kali ini gue mau diapain.
Gue pasrah aja," batin Mbak Lia dalam hati.
Merasakan Mbak Lia kini sudah tidak menolakku lagi, membuatku
melanjutkan aksiku lebih jauh lagi. Aku jongkok di belakang Mbak Lia.
Lalu kusibakkan rok yang dikenakannya ke atas. Wow! Tampak pahanya yang
masih tetap putih dan mulus seperti dulu. Segera saja kupelorotkan
celana dalamnya yang berwarna pink, sehingga telanjanglah gumpalan
pantatnya yang begitu montok. Langsung kuremas-remas pantat kakakku itu
dengan bersemangat.
"Auuuh....." Mbak Lia mendesah kecil dibuatnya.
Kemudian kaki Mbak Lia kurenggangkan sedikit, sampai terlihat vaginanya
dari bawah. Begitu kulihat aksesku ke vagina kakakku itu tanpa halangan
lagi, langsung saja aku tusukkan tiga jariku sekaligus ke dalam
vaginanya itu. Kali ini semua jariku itu dapat dengan mudah masuk begitu
saja ke dalam 'gua suci' itu. Pada usia sekarang, vagina Mbak Lia memang
sudah lebih lebar dibandingkan dulu, tetapi tetap masih cukup sempit dan
masih lentur. Seperti biasa kupermainkan jari-jemariku itu di dalam
lubang vaginanya.
"Iiih... Rudy..... Uuuhhh....." Sepertinya Mbak Lia sudah melupakan
penolakannya tadi. Ternyata ia masih tetap sebinal dulu dengan
desahan-desahannya yang liar. Apalagi setelah aku mulai menjilati
vaginanya dengan lidahku. Sambil tetap berdiri dan
menggerinjal-gerinjal, desahan-desahannya semakin bertambah keras.
Setelah puas menjejajahi vagina Mbak Lia dengan mulut dan lidahku, aku
kembali berdiri. Kuturunkan retsleting rok terusan yang dikenakannya.
Akhirnya terbukalah tubuh molek kakakku itu yang setengah telanjang,
dengan bagian bawahnya yang tidak ditutupi apa-apa serta bagian atasnya
yang hanya memakai beha yang melindungi payudaranya yang masih tetap
kencang. Segera kutanggalkan behanya itu.
"Aaaahhhhhh..... Ruudddyyyy....." Mbak Lia menjerit panjang. Aku
menyodokkan penisku dari belakang ke dalam lubang vaginanya. Sementara
itu tanganku mulai berpetualang di payudaranya. Kuremas-remas payudara
yang masih tetap kenyal itu, terasa pas di tangan. Tak ketinggalan pula
puting susunya yang begitu cepat menegang turut menjadi korban tanganku.
Kupompa penisku masuk-keluar di dalam vagina Mbak Lia dengan cepat.
Makin lama makin cepat lagi. Sampai-sampai bunyi kecipak-kecipak akibat
selangkanganku yang berbenturan cukup keras dengan pantatnya terdengar
jelas. Sementara kami berdua sudah tidak memikirkan apa-apa lagi,
termasuk adanya sepasang mata yang sejak beberapa menit yang lalu tampak
mengintip dari celah pintu dapur yang memang tidak tertutup rapat.
Akhirnya saat yang dinanti-nantikan itu terjadi juga. Dari dalam penisku
kusemprotkan cairan-cairan kepuasan yang amat banyak sekali, yang
langsung masuk ke dalam vagina Mbak Lia. Barangkali banyaknya air maniku
kali ini disebabkan karena aku sudah lama sekali tidak mengalami
kepuasan yang teramat sangat seperti saat ini. Kepuasan yang hanya dapat
aku peroleh jika aku melakukan persetubuhan dengan kakakku sendiri, Mbak
Lia.
________________________________________
Sore harinya. Setelah tidur siang, aku ingin mandi. Kulihat pintu kamar
mandi tertutup. Kuketuk pintu.
"Siapa di dalam ya?" tanyaku kepada orang di dalam kamar mandi.
"Saya, Oom. Diana."
"Masih lama nggak, Di. Oom pengen mandi nih. Abis panas sih."
"Bentar ya, Oom. Diana lagi handuk-handukkan."
Benar saja. Tak lama kemudian Diana muncul dari dalam kamar mandi.
Astaga. Ia hanya mengenakan selembar handuk saja yang diselimutkan di
tubuhnya. Baru kusadari sekarang, ternyata keponakanku satu-satunya ini
mewarisi ibunya, Mbak Lia. Gadis yang masih ingusan dan baru 14 tahun
ini, tubuhnya tampak telah berkembang demikian mekarnya. Lilitan handuk
yang begitu ketat menempel di tubuhnya yang belum begitu kering, semakin
menampakkan payudara remajanya yang masih kencang, meskipun ukurannya
belum begitu besar, ditunjang dengan kedua gumpalan pantatnya yang
tampaknya kenyal, berayun-ayun ke kiri ke kanan ketika ia berjalan. Aku
menelan air liur, terpesona, menyaksikan kesintalan tubuh keponakanku
itu. Tetapi seketika itu juga aku terkesiap. Astaga! Diana kan
keponakanku sendiri, putri satu-satunya dari kakak kandungku, Mbak Lia.
Hampir saja aku berpikiran yang tidak-tidak padanya. Akhirnya aku
langsung saja masuk ke kamar mandi.
Lima menit gebyar-gebyur, mandiku pun selesai. Setelah mengenakan
pakaian dan menaruh pakaian kotorku di keranjang pakaian yang ada di
sudut kamar mandi, aku keluar dari sana.
"Oom Rudy, sini. Mau nonton nggak? Ini lho filmnya bagus. Sini duduk di
sini, temenin Diana nonton," ajak Diana ketika aku masuk ke ruangan
keluarga. Keponakanku yang wajahnya juga cantik seperti ibunya sedang
menonton film kartun di televisi. Ah, dasar Diana. Sudah ABG seperti
itu, kegemarannya masih menonton film anak-anak, batinku sambil
tersenyum. Lalu aku duduk di samping Diana.
"Eh, Diana. Mama kamu ke mana?" tanyaku pada Diana ketika film yang
ditontonnya disela oleh iklan.
"Ngg..... katanya sih Mama lagi arisan di rumahnya Tante Santi."
"Udah lama perginya?"
"Paling-paling baru setengah jam."
"Oooo..."
"Emangnya kenapa, Oom? Udah kangen sama Mama?"
"Lho, kok kamu bisa bilang begitu. Oom kan adik mama kamu."
"Tapi Diana liat Oom tingkah lakunya nggak seperti adik Mama."
"Ah, sok tau kamu. Tau dari mana kamu, anak kecil."
"Oom, Diana udah bukan anak kecil lagi. Nih liat aja," kata Diana sambil
membusungkan dadanya, sehingga membuat payudara remajanya kian membulat.
Ingin rasanya aku menyentuhnya. Tapi mengingat ia keponakanku sendiri,
kuurungkan niatku itu.
"Eh, emangnya mentang-mentang tetek kamu udah gede, terus kamu jadinya
udah bukan anak kecil lagi. Belum tentu, Non. Entar Oom pegang tetek
kamu baru tau rasa lho," ancamku bercanda.
"Idiih... Oom jorok ah. Oom boleh jorok-jorokan tuh sama Mama, tapi
jangan deh sama Diana."
"Apa maksud kamu?"
"Diana tau apa yang Oom lakuin sama Mama tadi siang! Diana liat Oom sama
Mama ngelakuin hubungan yang bukan kaya kakak sama adiknya!'
Ucapan Diana itu bagaikan petir yang menyambar kepalaku di tengah hari
bolong. Tak kusangka! Ternyata persetubuhanku tadi siang dengan Mbak Lia
di dapur dilihat oleh Diana. Aku langsung tergagap-gagap.
"Nggg... ngg... Di..Di..Diana..... M..m..maksud kamu. K..k..k..kamu
ngeliat Oom sama Mama kamu?!"
Diana mengangguk.
"Ja..jadi kamu maunya apa, Di?"
"Sebenernya Diana ngesel punya paman kaya Oom. Sama kakaknya sendiri aja
bisa berbuat gituan. Apalagi sama orang lain. Jangan-jangan entar Oom
makan Diana juga," kata Diana santai. Aku tidak tahu apakah keponakanku
ini serius omongannya atau tidak.
"Aduh, jangan begitu dong, Di. Oom akuin emang Oom nggak pantas berbuat
yang nggak pantas sama Mama kamu. Tapi Oom nggak tau sebabnya. Cuma sama
Mama kamu aja Oom bisa puas, nggak bisa sama cewek-cewek lainnya."
Lalu aku menceritakan pada Diana semua kejadian yang pernah terjadi
padaku dan Mbak Lia dengan lengkap, mulai dari persetubuhan kami pertama
kali 17 tahun yang lampau. Diana kelihatan menyimak ceritaku dengan
serius. Ketika sampai pada bagian-bagian ceritaku yang vulgar, kulihat
mukanya memerah, namun tidak mengurangi keseriusannya sebagai pendengar
yang baik. Aku menyukainya.
"Oh... jadi Oom sama Mama... udah dari dulu... dari kecil..." Diana
bertanya takut-takut. Aku mengangguk.
"Diana jadi bingung... kenapa Mama bisa mau-maunya maen gituan sama
adiknya sendiri?" tanyanya lagi keheranan.
"Ah, kamu kan masih kecil, Di. Nanti kalo kamu udah dewasa pasti tau
kenapa sebabnya."
"Oom! Kan tadi udah Diana kasih tahu sama Oom! Diana udah bukan anak
kecil lagi! Kenapa Oom begitu amat sih?!" kata Diana dengan nada
meninggi.
"Weleh weleh... anak ingusan yang udah sok gede kamu!"
Diana bangkit berdiri dan berkacak pinggang, seakan-akan ingin
menantangku.
"Pokoknya Diana udah gede! Oom mau tau buktinya?!" tanya Diana tetap
bertolak pinggang.
"Apaan coba?!"
"Ini!" tukas Diana. Ia menyibakkan rok yang dipakainya tinggi-tinggi,
sehingga mempertunjukkan pahanya yang putih dan mulus. Juga pantatnya
yang indah, hanya ditutupi oleh celana dalam nylon berwarna kuning muda.
Kurasakan penisku mulai bergerak.
"Apa lagi coba?!"
Merasa aku menantangnya, Diana menarik ujung kaus oblongnya ke atas. Aku
menelan ludah menyaksikan betapa mulusnya tubuh bagian atas keponakanku
itu, dengan hanya beha berwarna coklat muda yang melindungi payudaranya
yang membulat dan tampak kenyal.
Penisku beraksi kian sigap dan mulai ereksi. Dan hawa nafsu pun sudah
merasuki otakku sepenuhnya. Tanpa berpikir panjang, aku bangkit dari
kursi dan langsung menyergap Diana. Kupeluk keponakanku itu dengan erat,
sehingga payudaranya yang ternyata memang kenyal menyatu dengan dadaku.
"Errrrgghhhh..... Oom..... errrghhh..... jangaaan....." Diana kelabakan
menghadapi serangan mendadak yang kulancarkan. Ia meronta-ronta dengan
kuat. Bagaimana pun juga aku jauh lebih kuat daripadanya. Karena sudah
kesetanan, aku sudah tidak memikirkan lagi bahwa Diana adalah
keponakanku sendiri. Pokoknya yang kutahu sekarang, yang sudah dalam
penguasaanku ini adalah wanita cantik yang lezat untuk disantap!
Kugigit ujung kaus oblong Diana sehingga tidak turun-turun lagi ke
bawah. Tanganku mulai beralih ke punggungnya. Dengan segera aku
melepaskan pengait tali beha yang dikenakannya. Dengan segera pula,
behanya itu jatuh ke bawah. Dan dengan segera pula payudara Diana yang
memang sudah berkembang demikian ranumnya menjadi siap kulahap. Seperti
gerak refleks, aku langsung melumat payudara yang masih kencang itu.
Pemilik payudara itu pun meronta-ronta terus.
"Ooomm..... jangaaannnn....." Diana menjerit mencoba mencegahku. Namun
aku tak peduli.
Tak ayal lagi, puting susu Diana dengan lingkaran kemerahan yang belum
begitu tinggi langsung menjadi santapan lezat mulutku yang terus
mengulumi pentil sensitif milik anak gadis belasan tahun itu. Lidahku
pun tidak mau ketinggalan ambil bagian. Ujung puting susu keponakan itu
kini sudah basah kuyup menerima gelitikan dan jilatan lidahku yang
bertubi-tubi datangnya. Puting susu Diana belum teramat tinggi memang,
tetapi bagaimanapun juga sudah cukup menggiurkan bagiku, sebab bentuknya
yang sudah kelihatan meruncing dengan lubang susu di ujungnya yang
kecil. Lingkaran kecoklatan yang mengitari puting susu tersebut juga
ideal ukurannya. Diameternya tidak terlalu besar juga tidak terlalu
kecil, seperti milik ibunya. Ini yang kusukai darinya.
Sementara itu, tanganku membuka retsleting rok bawahan Diana, lalu
memelorotkannya hingga jatuh ke lantai. Mulai kujamah bagian
selangkangan celana dalamnya yang kulihat sudah mulai basah sedikit.
Cairan bening yang sudah mulai menodai celana dalam nylon ini semakin
menampakkan beberapa bayangan hitam samar-samar yang belum merata.
Kugelitiki kain celana dalam itu yang tepat langsung menutupi vagina
Diana. Dan ini membuat celana dalam itu kian basah dengan cairan
kenikmatan yang keluar dari vagina tersebut. Sementara, di bagian atas,
mulutku masih tetap melumat payudara dan puting susunya dengan begitu
enaknya.
Merasakan kenikmatan yang tak ada duanya di dunia yang baru kali ini ia
alami, Diana sepertinya menghentikan pemberontakannya. Sekarang ia
tampaknya sudah begitu memasrahkan dirinya. Dengan tangannya yang
menggapai punggungku, ia membiarkan mulutku yang terus menyantap
payudaranya yang semakin bergetar dan tanganku yang terus menjelajahi
selangkangannya yang semakin basah. Hanya desahan-desahan kecil yang
terlontar dari mulutnya yang mungil dengan bibirnya yang ranum.
"Uuuhh..... Ooommm....." Diana sudah tidak bisa menahan nafsunya ketika
aku menyelipkan tanganku ke balik celana dalamnya yang sudah begitu
basah. Setelah menemukan 'tempat persinggahan' yang diinginkan akhirnya
tanganku itu berhenti di suatu tempat di balik celana dalam nylon itu.
Tubuh Diana terlonjak cukup keras sewaktu jari tengahku bergerak
mengitari bibir vaginanya yang belum begitu tebal, diikuti dengan
gerinjalan-gerinjalannya yang semakin liar saat jari tengahku itu mulai
mempermainkan klitorisnya yang masih berukuran kecil. Sekali lagi,
keponakanku itu tetap pasrah. Matanya terpejam meresapi segala rasa
nikmat tak terhingga yang pertama kali baginya.
Setelah puas bermain di bibir vagina itu, jari tengahku bergerak masuk
ke dalam lubangnya, lalu mulai mengucek-ucek dinding awal lubang
kenikmatan itu. Ini membuat pemilik lubang tersebut menggelinjang dengan
hebatnya. Aku tidak berhenti dengan itu. Jari tengahku itu semakin
bertambah dalam saja merambah lorong vagina Diana yang masih teramat
sempit. Sampai suatu saat seperti ada suatu selaput tipis yang
menghalangi perjalanan ujung jari tengahku. Seperti disambar geledek,
saat itu juga aku langsung sadar. Astaganaga! Lagi-lagi aku khilaf!
Diana kan adalah keponakanku sendiri! Lagipula ia masih di bawah umur!
Tidak sepatutnya aku melakukan ini! Aku langsung saja menarik tanganku
dari balik celana dalam gadis berumur 14 tahun itu, juga menghentikan
perbuatanku seluruhnya pada dirinya.
"Aaahh..... Ooomm... Ruuuddy....." Diana melenguh keras pada saat aku
berhenti menggaulinya. Seperti ada rasa ketidakpuasan pada dirinya
akibat kenikmatan yang terhenti begitu saja.
Sakit kurasakan di penisku ini karena ereksiku yang juga terganggu
mendadak begitu. Celaka! Aku harus menyalurkan nafsuku ini. Tetapi apa
boleh buat! Aku tidak boleh melampiaskannya pada Diana. Akhirnya
kutanggalkan celana pendek dan celana dalamku. Dan, toiiingg.....
penisku yang sudah amat tegang itu bagaikan per langsung mencelat keluar
dari celana dalamku begitu celana dalam itu kupelorotkan sampai ke
lutut. Diana tampak terpana menonton batang penisku yang berukuran cukup
besar dan keras itu.
Tanpa mau membuang-buang waktu, aku menggosok-gosok batang yang keras
itu dengan tangan kiriku. Sementara itu tangan kananku
memelintir-melintir kepalanya. Pokoknya segala macam cara dan metode
masturbasi yang kuketahui selama ini kugunakan agar nafsu birahiku itu
dapat terselesaikan dengan baik. Semakin cepat gosokan-gosokan itu
berlangsung. Otot-otot yang menghiasi permukaan batang penisku juga
semakin menonjol-nonjol akibatnya.
"Uuuhhh..... uuuuhhhh..... uuuhhhh....." Aku hanya bisa mendesis-desis
sewaktu permainan tanganku pada penisku sendiri kian menggila temponya.
Aku sudah tidak memperhatikan Diana yang masih terbengong-bengong
menyaksikan tingkahku yang melakukan onani sendiri. Akhirnya.....
"Crruutt..... cruuutt... crutt..." Laksana tembakan yang keluar dari
senapan mesin otomatis, tembakan-tembakan air maniku juga keluar hampir
tanpa henti dari penisku. Saking kencangnya tembakan-tembakan itu,
sebagian cairan kenikmatan itu terlontar sampai membasahi tubuh Diana
yang masih berdiri terpaku di depanku. Keponakanku itu menjerit kecil
sewaktu tubuhnya terkena muntahan air mani itu.
"Rudddyyyy!!!!!" Aku terkejut mendengar bentakan keras dari arah
belakangku. Kulihat juga Diana yang mendadak sontak pucat pasi seperti
baru saja melihat hantu yang menakutkan.
Ternyata Mbak Lia yang memergoki perbuatanku itu terhadap Diana. Ia
langsung saja marah besar. Meskipun aku telah menjelaskan bahwa aku
tidak berbuat lebih jauh pada anaknya itu, tetap saja ia tidak mau
mengerti. Bahkan aku langsung diusir dari rumahnya saat itu juga.
Akhirnya dengan perasaan bersalah aku mengemas-ngemasi barang-barang
yang kubawa dalam koper, lalu dengan tergopoh-gopoh aku keluar dari
rumah kakakku itu, kemudian langsung mencari taksi untuk mengantarku ke
bandara dan naik pesawat pulang ke ibukota. Saat itu bahkan tidak ada
seorangpun yang mengantarku apalagi ucapan selamat jalan!
Hubunganku dengan keluarga Mbak Lia renggang sejak peristiwa memalukan
di rumahnya di Surabaya antara aku dengan anaknya, Diana, yang terjadi
empat tahun yang lalu. Dan sampai saat ini pula, kakakku itu tetap hidup
berdua dengan putri satu-satunya itu yang kini telah dewasa. Usianya
sekarang 18 tahun dan kudengar ia tidak melanjutkan sekolahnya setelah
lulus SMA.
Aku sudah mulai melupakan kejadian itu, bahkan aku juga mencoba
melupakan hubungan incest yang pernah kulakukan bersama Mbak Lia, dan
juga semi-persetubuhanku dengan Diana. Aku pun juga sudah tidak pernah
lagi berhubungan seks dengan gadis-gadis teman sekantorku atau
wanita-wanita mana saja. Boleh dibilang, sepertinya saat ini aku sudah
insyaf, tidak menjadi petualang cinta lagi seperti dulu. Kurasakan aku
sudah mulai beranjak tua, 36 tahun. Sudah tidak pantas lagi rasanya aku
berbuat seperti masa lalu. Tetapi aku masih tetap sendiri.
"Ting... tong..."
Aku yang sedang membaca koran di ruang tamu langsung bangkit dan membuka
pintu. Aku terkejut melihat siapa yang ternyata datang.
"Mbak Lia? Diana?"
Dengan perasaan bingung bercampur heran, kupandangi dua makhluk manis
yang kini berada di hadapanku. Kakakku, Mbak Lia, masih seperti yang
dulu. Di usianya yang hampir kepala empat itu tubuhnya masih tetap
sintal. Payudara montoknya, yang selama itu sangat kusukai, masih tetap
membusung dan kencang. Memang raut wajahnya nampak sedikit lebih tua.
Namun itu tidak mengurangi kecantikan wajahnya yang memang pada dasarnya
sudah cantik.
Yang membuat aku agak pangling adalah melihat gadis yang berdiri di
samping Mbak Lia. Aku tidak mempercayai penglihatanku. Diana? Ya, Diana!
Gadis yang terakhir bersua denganku masih berusia 14 tahun, kini telah
terlihat dewasa di usia 18 tahun. Diana yang dulu terhitung mungil,
tubuhnya kini tumbuh pesat. Bahkan kini keponakanku itu sudah lebih
tinggi daripada ibunya. Kira-kira setinggi telingaku. Yang tidak jauh
berbeda, dan ini tidak pernah aku lupa, adalah payudaranya, masih tetap
membulat dan kencang seperti empat tahun silam. Hanya sekarang payudara
yang indah itu semakin tampak besar dan menonjol, di balik blus ketat
yang dikenakannya. Cuma tubuhnya tampak lebih kurus daripada dulu.
"Silakan masuk, Mbak, Di. Langsung dari Surabaya nih. Tumben."
Mbak Lia langsung memelukku dan menangis.
"Maafin gue, Rud. Gue salah. Waktu itu gue terlalu emosi. Gue ngerti
setelah Diana jelasin itu semua ke gue. Gue salah mengerti, Rud. Dan gue
nyesel udah ngusir elu begitu aja."
"Mbak nggak salah kok. Gue yang salah. Gue aja yang kebawa nafsu dulu.
Diana kan keponakan gue. Gue seharusnya nggak boleh berbuat itu sama
Diana."
"Kalian berdua nggak ada yang salah kok, Ma, Oom. Diana nggak nyalahin
siapa-siapa. Anggap aja itu udah berlalu," kata Diana mencoba menengahi.
Tetapi begitupun ia kelihatan salah tingkah bertemu muka denganku.
"Begini lho, Rud. Sejak kejadian dulu elu sama dia, tau nggak, Diana
nggak bisa tidur, nggak suka makan. Dia selalu teringat sama perbuatan
elu, Rud. Dia seneng bahwa pamannya itu nggak manfaatin kelemahannya
waktu itu. Terus terang aja, Rud. Diana cerita sama gue. Dia ngaku bahwa
ia suka sama elu. Tahu nggak, Rud. Elu tuh sering ada di mimpinya dia,"
aku Mbak Lia, masih tetap berdiri di depan pintu.
Tidak salah nih yang aku dengar dari mulut Mbak Lia? Diana, keponakanku
sendiri mencintaiku? Apakah itu mungkin? Apakah itu benar? Diana selalu
mengimpi-impikanku sejak saat itu?
"Di, bener apa yang barusan Mama kamu bilang?" tanyaku pada Diana. Diana
tidak menjawab. Ia hanya menunduk. Wajahnya memerah, tersipu-sipu. Namun
tak lama kemudian ia mengangkat kepalanya. Dan wajahnya yang cantik itu
tersenyum manis.
Tiba-tiba Diana menjatuhkan tas yang di bawanya ke bawah. Ia langsung
merangsek ke arahku dan langsung melompat memelukku. Bibirnya yang ranum
langsung pula memagut bibirku yang masih sedikit menganga. Karena tidak
siap menerima 'serangan'-nya ini, aku gelagapan. Namun berkat
pengalamanku dalam berhubungan dengan wanita, aku segera dapat
menyesuaikan diri. Kulayani pagutan bibir Diana dengan membalasnya
mengulum bibir yang merekah dengan sapuan tipis lipstick merah muda itu.
Dadaku bersentuhan dengan payudaranya yang membusung. Kekenyalan
payudaranya itu memang bukan main, membuat penisku langsung bersiap-siap
untuk 'ambil posisi'. Kemudian kulumat lidah keponakanku itu yang
menggeliat-geliat bagaikan cacing kepanasan. Sementara tanganku
meremas-remas gumpalan pantatku yang kini sudah begitu montok.
Sebelum melangkah lebih jauh, aku menoleh sejenak ke Mbak Lia. Tahu apa
yang kumaksud, Mbak Lia mengangguk. Tanpa mau membuang-buang waktu,
kutarik tangan Diana dengan keras, sehingga gadis itu naik ke atas
tubuhku. Kedua belah pahanya langsung nangkring menjepit pinggangku.
Payudaranya yang berayun-ayun indah kini tepat berada di mukaku. Sambil
berjalan masuk ke ruang tamu, kubuka empat kancing teratas blus Diana.
Dan terbukalah bagian atas blus tersebut. Payudaranya yang amat montok
itu langsung terpampang vulgar di hadapanku tanpa ditutupi apa-apa lagi.
Langsung kulahap gundukan-gundukan daging di dada Diana dengan
nikmatnya. Sementara itu keponakanku itu mulai mendesah-desah dan
menggelinjang. Kepalanya mendongak ke atas dan matanya terpejam. Aku
tidak mengindahkan Mbak Lia yang terpaksa harus membawa tas yang tadi
dijatuhkan anaknya dan juga terpaksa harus menutup pintu. Demikian pula
halnya dengan Diana. Gairah birahi yang demikian membahana membuat kami
berdua bagai melupakan segala-galanya.
Goyangan-goyangan lidahku yang terus menjilati puting susu Diana yang
tinggi dan lancip begitu bertubi-tubi tanpa henti. Diana
menggerinjal-gerinjal dengan keras. Pahanya menjepit pinggangku dengan
keras. Pinggangku sampai sakit dibuatnya. Tetapi aku tidak peduli. Saat
ini yang kurasakan adalah rasa nikmat yang mulai menyelimuti ujung-ujung
syarafku. Melumat payudara dan puting susu keponakanku yang amat
menggiurkan itu merupakan suatu keasyikkan sendiri untukku. Saat ini,
kurasakan tiada kenikmatan lain yang dapat menandingi nikmatnya
menyantap puting susu yang melenting ke sana ke sini akibat
jilatan-jilatan lidahku yang kian membabi buta.
"Aaahh... uuuuhhhh..... uuuuuhhhhh....." Desahan-desahan kenikmatan
semakin banyak bermunculan dari mulut Diana. Geliat-geliatan tubuhnya
makin menjadi-jadi merasa sensasi yang luar biasa akibat
sentuhan-sentuhan mulut dan lidahku pada ujung syaraf sensitif di
payudaranya. Urat-urat membiru pun mulai menghiasi dengan jelas seluruh
permukaan payudara yang bulat itu.
Masih dengan mulutku yang tetap berpetualang di dada Diana yang juga
masih menggelinjang, aku membopong keponakanku itu yang juga masih tetap
nangkring di pinggangku ke kamar tidurku. Tanpa menutup pintu,
kujatuhkan tubuh Diana ke atas kasur spring bed yang sangat empuk.
Saking keras jatuhnya, tubuhnya yang setengah bugil itu sempat
terlontar-lontar sedikit sebelum akhirnya tergolek pasrah di atas
ranjang itu.
Aku sendiri langsung melucuti semua pakaianku, sementara Diana
menanggalkan pakaiannya juga. Dan kami berdua pun kini sama-sama
telanjang bulat laksana dua orang bayi yang baru saja dilahirkan ke
dunia yang fana ini. Setelah itu Diana kembali tertelentang di kasur
dengan kaki-kakinya yang jenjang terjulur ke lantai. Tubuh bugilnya yang
putih dan mulus beserta payudara dengan puting susu nan tinggi yang
teronggok kokoh di dadanya, memang sebuah pemandangan yang amat menawan
hati.
"Oom... Oom Rudy..... Diana cinta sama Oom. Diana mau memberikan diri
Diana hanya kepada Oom... Tidak ke orang lain..." kata Diana jujur. Aku
terharu mendengar ketulusan keponakanku itu. Aku sangat menghargainya.
Betapa besar cintanya padaku hingga selama ini ia tetap menjaga
kehormatannya dengan sepenuh hati. Dan ia akan merelakan keperawanannya
itu hanya padaku. Aku berjanji dalam hati tidak akan membuatnya kecewa.
Aku berlutut di lantai menghadap selangkangan Diana. Kurenggangkan kedua
kakinya yang menjejak di lantai. Dengan begitu aku dapat memandang
langsung ke arah selangkangan keponakanku itu. Bulu-bulu halus yang
tumbuh di 'padang rumput' tipis yang menghiasi wilayah sensitif itu
begitu menggelora nafsu birahiku. Aromanya yang segar dan harum membuat
nafsuku itu kian meninggi, bahkan sampai merasuk ke sumsum tulang.
Kudekatkan mulutku ke vagina Diana dan kujulurkan lidahku untuk
mencicipi lezatnya lubang surgawi itu. Tubuh Diana terlonjak keras
ketika kucucukkan lidahku ke dalam vaginanya. Kukorek-korek seluruh
permukaan lorong yang gelap itu. Begitu hebat rangsangan yang kubuat
pada dinding lorong kenikmatan tersebut, membuat 'air bah' segera datang
membanjirinya.
"Iiiihhhh..... iuuuhhh..... aaaaahhhhh....." Desisan-desisan yang tak
menentu artinya secara beruntun keluar dari mulut sensual Diana yang
megap-megap setengah membuka. Nafas gadis 18 tahun yang molek itu
semakin terengah-engah. Keponakanku itu merasa dirinya sekarang sudah
terbang melayang tinggi ke awang-awang. Seluruh kenikmatan yang baru
kali ini dirasakannya begitu bertubi-tubi mendera sukmanya.
Gerinjalan-gerinjalan tubuhnya pun kian menjadi-jadi.
Kemudian aku berdiri. Dengan tangan bertumpu ke atas kasur, kucoba
mengarahkan ujung penisku ke vagina sempit yang tampak licin dan basah
milik Diana. Berhasil. Perlahan-lahan kuhujamkan 'tombak kebesaran'-ku
ke dalam vagina kemerahan itu. Tubuh keponakanku itu berkejat-kejat
dibuatnya merasakan nikmat penetrasi yang sedang kulakukan saat ini.
"Aaaaahhhh..... Oom..... aaaahhhhh....." Tak ayal jeritan-jeritan
mengalir dari mulutnya.
Akhirnya penisku amblas semua ke dalam liang gelap yang berdenyut-denyut
milik Diana setelah sebelumnya terasa seperti menubruk suatu selaput
tipis yang langsung terkoyak begitu saja diiringi dengan jeritan
keponakanku itu. Betapa nikmat sekali rasanya aku menyetubuhi seorang
perawan setelah sekian lama tidak melakukannya. Memang selama ini sudah
ada beberapa gadis yang kurenggut kesuciaannya, tetapi tidak ada yang
lebih berkesan daripada saat aku memperawani kakakku sendiri, Mbak Lia,
dua puluh satu tahun yang lampau.
Kenikmatan ini kian bertambah menjadi-jadi setelah aku melakukan
penetrasi lebih dalam dan intensif lagi. Gerakan memompa penisku dalam
vagina Diana semakin kupercepat. Terdengar suara kecipak-kecipak dan
lenguhan kami berdua saking asyiknya kami bersenggama. Rasanya saat ini
dunia menjadi miliki aku dan Diana berdua saja. Tak ada yang bisa
kulukiskan mengenai bagaimana nikmatnya persetubuhan kami berdua ini.
Tubuh kami yang sudah bersimbah peluh begitu menyatu padu seperti tak
bisa dipisahkan lagi oleh apapun oleh siapapun.
Seiring dengan tangan yang kembali meremas-remas perbukitan indah yang
menjulang tinggi di dada Diana, penisku terus melakukan
'serangan-serangan' yang tanpa henti di dalam vaginanya yang bertambah
kencang denyutan-denyutannya. Vagina memerah yang terus berdenyut-denyut
dan amat licin akibat begitu membanjirnya cairan-cairan kenikmatan yang
keluar dari dalamnya, terasa menjepit batang penisku. Demikian sempitnya
ruang gerak penisku di dalam lorong gelap itu, menjadikan
gesekan-gesekan yang terjadi begitu mengasyikkan. Ini merupakan sensasi
sendiri bagiku yang merasakan penisku seperti merasa diurut-urut oleh
seluruh permukaan dinding vagina Diana. Mulutku pun tak henti-hentinya
menyuarakan desahan-desahan kenikmatan tanpa bisa dihalangi lagi.
"Oiiiiihhh..... Oooomm..... Ooomm..... Ruuuudddyyy....." Diana
menjerit-jerit tidak karuan sementara tubuhnya juga melonjak-lonjak
dengan keras, sehingga spring bed yang sedang ditidurinya
berguncang-guncang dengan dahsyatnya.
Sekuat tenaga kuhujam-hujam penisku dengan lebih ganas lagi ke dalam
vagina Diana. Rasanya hampir habis tenaga dan nafasku dibuatnya. Tetapi
nafsu birahi yang begitu membulak-bulak tampaknya membuatku lupa pada
kelelahanku itu. Ini dibuktikan dengan sodokan-sodokan penisku yang
berusaha menusuk vagina keponakanku itu sedalam-dalamnya. Bahkan
berkali-kali ujung penisku itu sampai menyentuh pangkal vagina tersebut,
membuat Diana, pemiliknya, menjerit tertahan.
"Ooommm..... Ooommm..... Diana... mau..... keluar....." Diana melenguh
kencang. Ia merasakan sudah tidak bisa menahan klimaksnya lagi. Akan
tetapi aku belum merasakan klimaks sedikitpun. Langsung kutambah
kecepatan genjotan-genjotan penisku di dalam vaginanya. Begitu buasnya
sodokan-sodokanku itu membuat tubuh Diana bergoyang-goyang hebat,
sehingga spring bed pun bagaikan 'gempa bumi'. Sementara keponakanku itu
terus berteriak-teriak bagai kesetanan.
Akhirnya saat yang diharapkan itu tercapai. Aku melenguh panjang
merasakan orgasme teramat nikmat yang telah lama tak kurasakan, menyusul
Diana yang sudah terlebih dahulu memperoleh orgasmenya yang pertama
dalam hidupnya. Begitu nikmatnya orgasme yang kurasakan itu sehingga
membuat air maniku bagaikan air bah menerjang masuk ke dalam vagina
Diana. Kami berdua mengejan kencang saat titik-titik puncak itu
tercapai. Sungguh suatu pengalaman yang luar biasa!
"Gedebuk!" terdengar suara cukup keras dari arah pintu. Aku dan Diana
yang sama-sama berbaring kelelahan sambil mencoba memulihkan tenaga
menoleh.
Astaga! Kulihat di situ, kakakku, Mbak Lia sedang meringis kesakitan
seraya mengurut-urut lututnya. Ia hanya mengenakan baju atasnya
sementara bagian selangkangannya telanjang tanpa memakai celana dalam
lagi. Tampak vaginanya yang membasah begitu terkuak dan berdenyut-denyut
kencang. Rupa ia sejak tadi menonton 'permainan'-ku yang panas dengan
Diana. Dan saking terhanyutnya, Mbak Lia melakukan masturbasi sendirian.
Lalu hampir dengan orgasme yang aku dan Diana capai, Mbak Lia pun
orgasme pula. Karena begitu nikmatnya, tanpa sengaja ia terhuyung-huyung
dan jatuh menabrak pintu dengan kerasnya.
"Mbak... sini gabung dengan kita yuk!" ajakku pada kakakku itu. Mbak Lia
tidak menjawab. Ia menengok kepada anaknya seakan meminta persetujuan.
Diana pun mengangguk padanya.
Akhirnya dengan wajah berseri-seri, Mbak Lia menanggalkan seluruh
busananya hingga bugil di depan pintu lalu menghambur ke arah aku dan
Diana. Aku segera menyeretnya hingga ia jatuh tertelentang di kasur.
Tanpa mau membuang waktu, segera kusergap payudara terindah di dunia
milik Mbak Lia. Dengan sedotan-sedotan yang membabi buta kusantap
payudara yang tidak begitu besar tetapi membulat dan kenyal itu.
Gelitikan-gelitikan lidahku yang tidak kalah ganasnya di kedua puting
susunya yang begitu tinggi dan menggiurkan, membuat Mbak Lia
menggeliat-geliat. Mulutnya mulai mengeluarkan desahan-desahan tanda
kenikmatan, sementara matanya membelalak-belalak menahan nafsu yang
mulai menguasai seluruh sistem persyarafan di tubuhnya.
"Aaaaaahhhhh..... Ruddddyyyyy..... Auuuuuwwww....." Lolongan Mbak Lia
kian bertambah keras tatkala Diana tak mau kalah ingin memberikan kepada
ibunya pemanasan yang nikmat. Mulut keponakanku itu langsung melahap
vagina Mbak Lia. Dengan penuh nafsu, ia menjilati seluruh permukaan
bibir vagina ibunya itu. Tampak bibir kenyal yang sudah agak
menggelambir itu demikian basah dan mulai membengkak. Tak ketinggalan
pula, dijilatinya pula klitoris yang ada di pangkalnya yang tak kalah
bengkaknya dengan bibir vagina itu sendiri.
Lumatan-lumatan mulutku pada payudara dan puting susu Mbak Lia masih
berkelanjutan terus. Seakan-akan aku seperti tidak mau melepaskan kedua
bukit kenyal di dada kakakku itu yang amat merangsang. Sementara itu,
tanganku mulai menggapai dua bukit kembar di dada Diana yang masih asyik
menjelajahi vagina ibunya. Payudara gadis 18 tahun itu menjadi korban
bulan-bulanan keganasan remasan tanganku tanpa ampun. Bahkan puting
susunya yang kembali mengeras tak luput dari pelintiran-pelintiran ibu
jari dan jari telunjukku. Diana masih sempat melenguh kenikmatan di
tengah-tengah keganasannya 'menghabisi' vagina Mbak Lia dengan lidah
merahnya yang menjulur-julur seperti ular.
Tidak puas hanya dengan permainan lidah, Diana melangkah lebih jauh.
Tanpa berpikir panjang lagi, ia mencoba menusukkan jari tengahnya ke
dalam lubang vagina Mbak Lia, ibunya sendiri. Begitu jari tengah
tersebut berhasil amblas separuhnya, Diana memasukkan pula jari telunjuk
dan jari manisnya. Setelah itu menyusul jari kelingking. Lalu seperti
tak mau ketinggalan, ibu jarinya dimasukkannya juga. Akhirnya kelima
jari tangannya berhasil masuk sepenuhnya dalam vagina Mbak Lia yang
masih agak sempit tetapi begitu lentur. Nafsu birahi yang membahana
tampaknya membuat Diana melupakan bahwa yang didepannya itu adalah
ibunya. Ia seolah-olah melupakan dosa bahwa ia telah berbuat yang tidak
seharusnya pada ibu kandungnya sendiri. Apalagi ditambah
kenikmatan-kenikmatan yang dirasakannya akibat begitu buasnya permainan
jari-jemariku di puting susu payudaranya yang sudah teramat keras itu.
Aku bahagia sekali saat ini. Kurasakan bagaikan pepatah sekali merengkuh
dayung dua tiga pulau terlampaui, sekali main dua wanita cantik dan
seksi ada dalam penguasaanku. Mulutku dengan nikmatnya terus-menerus
melahap payudara Mbak Lia yang masih kencang di usianya yang sudah
mencapai 38, dengan puting susunya yang tinggi yang amat kugemari. Di
sisi lain, tangan beserta kelima jariku dengan aktif merambah payudara
Diana yang sangat membusung dan kenyal dengan puting susunya yang tidak
kalah asyik untuk dipermainkan dibandingkan puting susu Mbak Lia. Semua
ini membuat penisku yang sudah mengendor seusai persenggamaanku dengan
Diana tadi, dengan cepat ereksi kembali dengan segera. Tak pernah
sebelumnya nafsuku kembali bangkit secepat ini.
Dengan segera aku berlutut di atas ranjang. Kuminta Mbak Lia untuk
berlutut juga membelakangiku dengan tangan bertumpu di kasur, jadi dalam
posisi memberangkang. Kemudian Mbak Lia kudorong sedikit ke depan
sehingga pantatnya agak naik ke atas, yang lebih memudahkan penisku
untuk melakukan penetrasi ke dalam vaginanya. Setelah itu langsung
kusodok vagina yang menganga itu dengan penisku dari belakang. Tubuh
Mbak Lia terhenyak hingga hampir terjungkal ke depan akibat kerasnya
sodokanku itu, sementara mulutnya menjerit kecil. Dalam sekejap,
'tongkat kebesaran'-ku itu seluruhnya ditelan oleh vagina itu yang
langsung menjepitnya. Jepitan vagina kakakku yang berdenyut-denyut
menambah gairah birahiku yang memang sudah menggelora.
Dengan cepat, kutarik penisku sampai hampir keluar dari dalam vagina
Mbak Lia, lalu kutusukkan kembali dengan cepat. Kemudian kutarik dan
kusodok lagi, seterusnya berulang-ulang tanpa henti. Doronganku yang
keras ditambah dengan sensasi kenikmatan yang luar biasa membuat kakakku
itu beberapa kali nyaris terjerembab. Namun itu tidak menjadi masalah
sama sekali. Bahkan sebaliknya membuat permainan kami berdua menjadi
kian panas.
Diana pun tidak mau ketinggalan beraksi. Kulihat ia duduk mengangkang di
hadapan ibunya, memamerkan vaginanya yang telah kembali basah. Ibunya
itu langsung menyambar vagina yang mulai berdenyut-denyut keras itu.
"Iiiiiihh..... Maaaa..... Aaaaaahhhh....." Diana menjerit
sekeras-kerasnya. Mbak Lia mencucukkan lidahnya masuk ke dalam lubang
vaginanya yang bertambah banjir saja. Semakin lama semakin dalam
merambah seluruh dinding lorong kenikmatan yang begitu licin. Setiap
sentuhan lidahnya pada permukaan dinding yang basah dan mengkilap itu
ibarat tegangan listrik ribuan volt yang menyetrum Diana. Seketika itu
juga, tubuh Diana mengejang ke belakang. Payudara montok yang
menggantung kencang di dadanya kelihatan semakin membusung. Tanganku
yang menggapai-gapai untuk memegang kedua bukit kembar yang
menggairahkan itu tidak berhasil mencapainya. Jaraknya terlalu jauh,
sementara aku masih dengan 'semangat reformasi' menyetubuhi kakakku.
"Ah... ah... ah... Mbak... ah... ah... ah....." Nafasku terengah-engah.
Kurasakan sekujur tubuhku mulai kehabisan tenaga. Tenagaku sudah begitu
kuras dalam persetubuhanku yang pertama dengan Diana. Tetapi aku belum
mau berputus asa. Kucoba mengeluarkan sisa-sisa tenaga yang masih ada
semampuku. Dengan sedikit mengejan kugenjot penisku kembali ke dalam
vagina Mbak Lia sekuat-kuatnya. Kakakku itu pun makin memperganas
'serangan' lidah dan mulutnya pada vagina anaknya.
Akhirnya, dalam waktu lima menit, perjuanganku membuahkan hasil. Mbak
Lia melenguh panjang tanpa ia sudah tiba pada titik klimaksnya. Disusul
beberapa detik kemudian oleh penisku yang hampir memuntahkan segala
isinya.
Aku tidak mau mengambil resiko untuk menghamili kakakku sendiri. Aku
tidak tahu apakah hari ini ia masih mengalami menstruasi atau tidak.
Sebelum terlambat, secepat kilat kukeluarkan penisku dari dalam vagina
Mbak Lia yang langsung jatuh terkapar di kasur kecapaian. Mengetahui
maksudku, Diana langsung meraih penisku itu dan dimasukkan ke dalam
mulutnya. Hampir tersedak ia menelan batang penisku yang diameternya
cukup besar itu. Otot-otot mulutnya dipaksakan untuk melahap seluruh
'meriam perang'. Setelah merasakan sudah mencapai batas maksimum, Diana
mengocok penisku itu dalam mulutnya. Laksana memakan pisang, Diana
melumat batang penisku dengan nikmatnya.
Gesekan-gesekan yang terjadi antara kulit penisku yang sensitif dengan
mulut Diana yang basah dan licin ditambah dengan gigitan-gigitan kecil
yang dilakukan oleh giginya, membuat aku tidak dapat menahan diri lagi.
Muncratan-muncratan cairan kenikmatan yang keluar begitu banyaknya dari
penisku langsung ditelan seluruhnya hampir tanpa sisa oleh Diana.
Sebagian meleleh keluar dari mulutnya dan jatuh membasahi kasur. Belum
puas sampai di situ, ia masih menjilati sekujur batang penisku sampai
bersih total seperti sediakala. Bukan main!
Beberapa minggu kemudian, Diana mengandung. Akhirnya kami segera menikah
secara resmi sebelum perut keponakanku itu kelihatan membesar. Dalam
acara pernikahan yang berlangsung sederhana itu, aku hanya didampingi
oleh Mbak Lia sendiri yang bertindak mewakili orangtuaku yang sudah
beberapa tahun yang silam meninggal dunia.
Dan beberapa bulan berlalu. Kandungan istriku itu sudah begitu membesar.
Ketika merasa sudah tiba saatnya, ia ke sebuah rumah sakit di Jakarta
Pusat. Beberapa hari di rumah sakit, akhirnya anak pertamaku dengan
Diana lahir, perempuan, sehat walafiat dengan berat dan panjang normal.
Kami bertiga amat bahagia sekali.
Sejak saat itu sampai sekarang, hubungan antara aku dengan kedua wanita
yang sama-sama tinggal serumah denganku itu masih tetap mesra seperti
dulu. Sebagai suaminya yang baik, aku selalu mencukupi
kebutuhan-kebutuhan seks istriku, Diana, dengan
persetubuhan-persetubuhan yang amat panas dengan teknik-teknik yang
selalu berganti-ganti. Sebaliknya, Diana tidak menghalangi apalagi
melarang aku berhubungan seks pula dengan ibunya, Mbak Lia. Nafsu seksku
yang selama beberapa tahun hampir padam, saat ini makin menggelora lagi,
mengingat aku kini memiki sepenuhnya tubuh dan jiwa dua wanita yang
begitu menggairahkan, istriku, Diana, dan kakakku, Mbak Lia.
Bahkan tak
jarang kami melakukan persenggamaan sekaligus bertiga.
Selama ini pula, tidak seorangpun tetangga yang menyangka telah terjadi
sesuatu yang tidak seharusnya di antara kami bertiga. Mereka semua hanya
mengira bahwa penghuni rumah kami adalah seorang laki-laki, aku, yang
tinggal bersama istri dengan seorang anak, beserta seorang kakak
perempuannya. Tidak lebih, tidak kurang! Padahal yang terjadi
sesungguhnya amat berbeda. Aku, Diana, dan Mbak Lia, telah berjanji akan
selalu bersama-sama, selamanya. Together forever. Semua masalah akan
kami pecahkan bersama. Semua kenikmatan akan kami nikmati persama,
termasuk kenikmatan seksual. Boleh dikata, hubungan di antara kami
bertiga memang aneh, yaitu antara suami - istri - kakak - adik - ibu -
anak - paman - keponakan sekaligus!
TAMAT
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar