DAUN MUDA NAMAKU LEONA EKA SARI
Leoni
Eka Sari namanya. bertubuh ramping dengan rambut panjang menawan. Ia
bekerja sebagai teller di sebuah bank swasta terbesar di kota Bkl. Aku
telah mengincarnya sejak lama. Membayangkan Leoni dengan seragam
biru-birunya, dengan rambut yang dicepol sehingga terlihat tengkuknya
yang berbulu halus.
Aku
ingin melihatnya telanjang, disetubuhi. Ia tinggal bersama adik
wanitanya di daerah Sawah Lebar. Aku tahu ia sering dijemput pacarnya.
Kemudian mereka menghabiskan waktu di rumahnya yang kosong. Adiknya
sering pulang terlambat.
Hari itu tiba akhirnya, aku telah membuat perjanjian dengan Doni seorang satpam di bank tempat Leoni bekerja.
Pagi
ini Leoni bertugas menjaga stan pameran di salah satu mall di tepi
pantai, kesempatan yang baik. Doni berhasil memasukkan obat perangsang
yang kuberikan padanya ke minuman Leoni, kemudian ketika Leoni mendadak
lemas ia membawanya dengan mobilku ke kamar kos Doni di wilayah pasar
minggu yang kumuh. Sesuai perjanjian aku yang berhak menikmatinya
terlebih dahulu.
Jam
10 pagi, Doni membopong tubuh indah itu ke kamarnya, aku telah menunggu
dari tadi. “Beres Don?” “Beres Pak.., ini anaknya, namanya Leoni Eka
Sari…” Aku mengangguk melihat Doni membaringkan Leoni di atas kasur
lusuhnya. “Bagus, sekarang lo pergi dulu ya, nanti giliranmu tiba, ajak
teman-temanmu juga…” Doni menatap gadis manis itu dengan bernafsu,
mengangguk kemudian pergi sambil menutup pintu.
Leoni
menggeliat lemas, aku yakin ia merasakan sesuatu yang aneh ditubuhnya,
lemas, namun bergairah, karena obat yang kuberikan tadi. Perlahan
kubukai sepatu kerjanya, kemudian blazer birunya kubuang.
“J..janggaaann….” desisnya ketika kubuka seragam blus u can see nya.
Dengan tidak sabar kuturunkan rok birunya. Leoni terlentang dikasur itu
hanya mengenakan cd dan bra putih dengan pola kartun. Begitu
menggemaskan.
Tubuhnya
langsing, dadanya sekepalan, kutarik ikat rambutnya sehingga terurai.
Kuambil kamera digitalku kemudian kuambil beberapa fotonya, lengkap
dengan seragam banknya yang berhamburan. Kemudian kubuka branya, kuambil
fotonya lagi, terakhir kulolosi cdnya. Kamu milikku, Leoni… desisku.
Dadaku berdetak keras melihatnya telanjang bulat terlentang pasrah.
Dengan cepat kubukai pakaianku sendiri kemudian mulai menjelajahi
sekujur tubuhnya..
Leoni
terengah-engah telanjang dibawah tubuhku. Aku berhasil membukai seluruh
seragam tellernya. Bahkan rambut panjangnya kini tergerai diatas
bantal. Ia masih menggeliat meronta tertahan, “jangan pak….” Desisnya.
Wajahnya yang meringis membayang gejolak gairah muda dan dilema moral
yang berbaur. Celana dalam katunnya yang berpola kartun menunjukkan
betapa belianya ia, tubuh jenjang sintal dengan perut rata.
Dada
bundar kecil yang kini mengencang dengan puting merah muda yang
mengeras. Walaupun kedua tangannya berusaha menahan dadaku, namun dengan
mudah kugerayangi leher jenjangnya dengan leluasa dengan lidahku.
Mungkin ia membiarkanku.
Leoni
mengerang dan mendesah, kurasakan tubuh langsingnya menggeletar ketika
tanganku merayapi buah dadanya, turun dengan liar ke perutnya, kemudian
menggeser masuk ke selangkangannya yang kini telanjang. Dengan sedikit
paksaan dengan pinggulku paha Leoni membuka dan kurasakan batangku yang
mengeras melekat di perutnya, menimbulkan sensasi yang luar biasa..
Sebelum
ia dapat mengatakan apa-apa kulumat bibir tipisnya, kurasakan awalnya
rontaan dan mulut yang berusaha menutup, namun ketika lidahku menyeruak
masuk ke dalam rongga mulutnya yang basah, rontaan itu melemas, berbalik
menyambut lidah dengan lidah, liur dengan liur. Jariku yang menggeliat
liar di selangkangannya kini basah, menandakan semua sistem tubuhnya
kini telah mengalah pada kenikmatan itu, perlahan tubuhku bergeser
membiarkan batangku mencari tempatnya.
“NGMMHH!!!”
Leoni masih sempat meronta sejenak ketika dirasakan sesuatu perlahan
menerobos selangkangannya. Namun reaksinya terlambat. Kurasakan
otot-otot kemaluannya meremas milikku. Hangat dan basah. Batangku masuk
sepenuhnya. Leoni menggelinjang tertahan dibawah tindihanku. Gadis itu
kini menjadi satu denganku. Sebelum ia sadari aku mulai bergerak
memompanya, kaki jenjangnya kini membuka lebar membiarkan aku bergerak.
“Nghhh
ohhhh paakkk… ohhhh…. Sshhh jangannn….” Leoni mulai melenguh lenguh
merasakan nikmat tertahan. Benar dugaanku, ia sudah diperawani, mungkin
oleh pacarnya. Aku terus memompanya dengan teratur, kutekan kedua
tangannya disamping tubuhnya sehingga dapat leluasa kulihat wajahnya
yang tirus itu.
Mulutnya
membuka terengah-engah, peluh mulai mengalir disekujur tubuhnya,
membasahi rambut panjangnya yang kini kusut tergerai di bantal yang
kumal, mengalir diantara kedua buah dadanya yang mengkal, kecil namun
sekal sesuai dengan tubuh langsingnya, tubuh ranum seorang gadis muda.
Ia
memejamkan matanya, malu mungkin, atau sekedar berkonsentrasi menikmati
persetubuhan kami. Sambil menikmati pemandangan itu, mendengarkan
lenguhan dan desahannya, aku memacu semakin cepat, membuat tubuh Leoni
menggelinjang dan mulutnya menganga lebar, nafasnya terdengar semakin
memburu. “Akkkkhhhhhhh paakkkkkk…….!!!” Mendadak tubuhnya
mengejang-ngejang, kurasakan otot kemaluannya meremas-remas milikku,
hangat dan nikmat. Kemudian tubuhnya melemas tak berdaya.
Kucabut
batangku dari selangkangannya, basah oleh cairan nikmatnya yang hangat.
Leoni tak berdaya ketika tubuhnya kubalik, tengkurap dibawahku. Sekali
lagi kuraba pantatnya yang sekal, sembari kugigiti tengkuknya dengan
gemas, disela rambut panjangnya yang tergerai basah oleh peluhnya.
Perlahan ujung batangku kugosokkan di keriput anusnya. Tubuh Leoni
terasa meremang.
“J..jangann pak… jangannn… ohhhh…” Leoni masih terengah engah ketika kutekan kemaluanku yang mengeras ke duburnya.
Luar
biasa nikmatnya kurasakan otot-otot pembuangannya itu berusaha menolak
kemaluanku, namun malah meremasnya dan menambah kenikmatanku.
Leoni
mengerang kesakitan. Aku tak tahu apakah ia pernah disodomi sebelum
ini, namun melewatkan pantat seindah pantat Leoni adalah bodoh sekali.
“NGKKHH!!! Sssakkiiittt…..aadhhuhhh…” Leoni mengerang kesakitan ketika
kumasuki duburnya, seret dan kesat. Lambat tapi pasti batangku tenggelam
dianusnya. Melesak dengan mantap. Perlahan kutarik pinggul ramping
gadis itu hingga ia sedikit menungging. Posisi mantap untuk menikmati
anusnya.
Leoni
menangis sesenggukan. Aku yakin pantatnya perih. Aku mulai mengoyang
pantatnya, sementara tangan kiriku mencengkeram pinggulnya, tangan
kananku menjambak rambut panjangnya yang lebat. Leoni terdongak sehingga
aku dapat menikmati wajah tirusnya, ekspresi kesakitannya, wajahnya
basah oleh peluh dan air matanya, meringis kesakitan karena aku mulai
menumbuk-numbuk duburnya. Merasakan nikmat jepitan otot duburnya.
Ahhh
luar biasa! Aku semakin bersemangat memperkosanya, menikmati tubuh
belianya. Leoni menangis merintih kesakitan, “Ammpunn…. Paakk .. s
sakitt… saakittt…” Ia meremas kasur lusuh dibawahnya menahan perih.
Rintihannya terdengar begitu merangsang dan menggairahkan,
kuremas-remass buah dadanya yang kejal sekepalan tanganku.
Wajahnya
kini terbenam diatas bantal, merintih tak berdaya. Remasan otot anusnya
membuatku tak tahan lagi, mendadak kurasakan kemaluanku seakan ingin
meledak karena nikmatnya, ‘plop’ dubur Leoni menguncup ketika kutarik
batang kemaluanku. Berkilat basah oleh campuran cairan pantat dan
kemaluannya.
Dengan
cepat kubalik tubuh ramping Leoni hingga terlentang kemudian kududuki
dadanya, “buka mulut Leoni, cepat….akhhh” sebelum sempat bereaksi
kujejalkan kemaluanku ke mulut Leoni yang membuka terengah.
“NGHmmmpppHHH!!!”
Ia
berusaha beronta namun kupegangi erat kepalanya, kemudian
…’srrrrrrrrrrt! Srrrrrt!!’ spermaku muncrat dengan deras mengisi
mulutnya, “Akkkkkhhhh Leoniii…..!” Mata Leoni terbelalak merasakan
cairan kental hangat mendadak mengisi rongga mulutnya.
Apalagi
aku menekan sedalam mungkin hingga ia terpaksa menelannya. Tubuh Leoni
lemas. Aku membiarkan kemaluanku di mulutnya hingga mengecil.
Kuperhatikan Leoni meringis jijik sambil berusaha menelan spermaku agar
bisa bernafas. Wajahnya yang basah oleh peluh dan airmata terlihat
begitu menggairahkan.
Aku
bangkit terengah-engah, luar biasa nikmatnya. “Leoni, denger ya, aku
punya foto-foto bagus nih.. jadi nurut ajalah..” kutunjukkan foto
telanjangnya tadi. Leoni hanya mampu meringkuk sambil menangis
sesenggukan. Mendadak Doni dan 2 orang rekannya masuk. Amad dan Warto,
bertubuh besar dan berkulit hitam, dari sekilas aku tahu mereka kuli
angkut pasar minggu.
Bau
dan kasar. Leoni akan sangat sibuk. “Jangaaan!! Ga mau!! Aku ga mau!!!”
Leoni meronta ketika mereka bertiga serentak membuka pakaian mereka dan
mengeroyoknya. “Nurut baelah Leoni… akhhh nikmat!” Doni langsung
menekan tubuh Leoni kekasur, memaksa menyetubuhinya. Leoni mengangkang
tak berdaya, sementara Amad dengan buas menyedoti dada Leoni, dan Warto
dengan kasar memegangi kepala Leoni memaksanya mengoral kemaluannya yang
mengeras.
“MmmpHHH
MMMPPHH!!!” Leoni meronta-ronta tak berdaya. Air matanya mengucur
deras. Ia tak pernah membayangkan harus melayani kuli-kuli seperti ini.
Bau tubuh mereka membuatnya mual. Apalagi mukanya dihenyakkan pada
bulu-bulu kemaluan yang dekil dan bau. “ohhhhhh enak niaaannn okkkhhh
cak ini raso mulut cewek bank !!” Warto mendesis-desis menikmati hangat
rongga mulut Leoni. “Akhhhhh mantaaappp!!” Doni meregang mendadak.
Memuncratkan spermanya mengisi rahim belia Leoni. Mungkin dari tadi ia
sudah mengintipku mengerjai Leoni. “Ayo ditengkurapkan… giliranku..”
Amad berkata sambil membalik Leoni dengan kasar.
Warto
terpaksa berhenti sementara menikmati kuluman Leoni. “Nghh!!!” Leoni
tersentak ketika Amad mulai menggagahinya dengan posisi tengkurap.
Pemandangan yang indah melihat Leoni menangis tersengal sengal sementara
kedua lelaki kumal dan kasar itu dengan leluasa melampiaskan nafsunya.
“cepetan Mad, aku nak nyicip pulo!” Warto berteriak tak sabar.
Mendadak
terdengar dering hp dari tas Leoni. Ah pasti teman2nya mencarinya.
Kuambil hp itu, “Dian”. Pasti rekan tellernya. “Leoni, jawab telponnya,
bilang kamu sakit.. ayo, kalo ga aku sebarin foto hotmu..”
Aku
menyorongkan Hp itu ke muka Leoni yang tengah diperkosa dari belakang
dalam kondisi tengkurap. “terus saja pak, genjot yang kuat, biar kita
liat gimana Leoni ngomong…” Aku menyeringai. Leoni terbelalak ketika
tombol kutekan, kutempelkan ditelinganya. Leoni menangis tak berdaya,
betapa ia merasa dilecehkan, “nghh.. iya…akhku.. ssakit Diann… oukhh… he
eh… gaa… jangan dijenguk.. gapapa…ukhhh…” aku tersenyum melihatnya
mati-matian bicara normal sementara Amad dengan sengaja
menyentak-nyentak sambil menyeringai.
Aku
beranjak keluar, sementara Doni masih terduduk lemas, menunggu pulih
kurasa. Jam 12 siang, kamar kos ini berlokasi di lantai 2, terbuat dari
papan. Tepat disebelahnya adalah pasar minggu yang ramai, dibawah
kulihat para kuli, preman, dan tukang beca bercampur masyarakat umum
yang belanja.
Dari
pintu yang kubuka kulihat giliran Warto kini menggagahi Leoni, ia
dipaksa menungging dengan posisi kepala di bantal. Kulihat sementara
menggenjot kemaluannya, Warto juga menggagahi anus Leoni dengan
jari-jarinya. Leoni hanya mampu merintih dan tersengal-sengal.
Mendadak
2 orang kuli pasar naik kearahku, “tadi kami denger ado cewek teriak
disini?” aku tersenyum, Leoni bakal lebih sibuk. “Ajak kawan-kawan yang
lain, cewek ini dari bank B**, gratis, biso dipake memek, dubur, mulut,
ayo” Mereka terbelalak melihat tubuh langsing Leoni yang tengah
menungging disodomi Warto, serta seragam B**nya yang berhamburan di
lantai.
Mereka
segera datang beramai ramai, Leoni berteriak tak percaya ketika 3 orang
lagi masuk dan langsung telanjang dengan penis yang mengacung.
Kuabadikan
dengan kameraku, setiap 2 orang selesai, 3 orang lagi naik, preman,
kuli pasar, tukang beca, mereka menikmati Leoni dengan sebisanya.
Sebagian
muncrat dirahimnya, duburnya, mulutnya, bahkan sekujur tubuhnya. Jam 15
sore ketika seorang kuli bertubuh besar selesai menggagahinya Leoni
pingsan. Lelaki itu memuncratkan spermanya di dada Leoni. Aku melihat
tubuh telanjang Leoni kini penuh peluh dan sperma kering. Cupang bekas
gigitan dan cubitan disekujur tubuhnya. Kurasa aku masih bisa
menggagahinya sekali lagi..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar