DAUN MUDA VINA
Vina...aku kenal ini ABG cukup lama,sekitar setahun yang lalu. Saat itu
aku mengantarkan dia untuk daftar sekolah disalah satu SMU swasta. Vina
adalah adik sepupu temanku. Dari situlah aku kenal dengan Vina. Aku dan
Vina cukup dekat,karena memang dulunya aku sering bermain kerumah Vina.
Vina tinggal disalah satu regency di kotaku. Sebenarnya dulu aku sempat
tertarik untuk mendekati Vina,tapi saat itu dia masih terlalu muda dan
kekanak-kanakan,jadi kuurungkan niat itu. Hingga dia terakhir setelah
dia duduk di bangku SMU,cerita seru itu bermula.
Sudah beberapa hari ini aku dan Vina sering ber-sms ria. Sekedar
bercanda,terkadang menelpon untuk mengobrol. Tak kulewatkan kesempatan
menelpon atau sms itu untuk melancarkan sedikit demi sedikit Ssi kepada
Vina. Dan nampaknya respon positif dikirimkan Vina untukku. Curhat demi
curhat dia lontarkan padaku,akupun menjadi pendengar dan pemberi solusi
sebisa mungkin. Kalau Vina melontarkan curhat kepadaku,aku pun juga
sama. Tapi bedanya,yang kulontarkan adalah Ssi alias Speak-Speak Iblis.
Hahahahaha....

Vina dari keluarga cukup berada,tipikalnya sedikit manja. Maklum dia
anak paling bontot dalam keluarga. Namun sepertinya Vina ini kurang
mendapat perhatian dalam bentuk kasih sayang dari ortunya yang seorang
pengusaha. Ayahnya sering keluar kota,sedangkan Ibunya juga seorang
pekerja keras. Kakak-kakak Vina pun sudah menikah,ada juga yang kuliah
di luar kota. Jadi seringnya tinggallah Vina seorang diri dirumah hanya
bersama pembantu.
Beberapa hari Ssi,ternyata serangan yang kulancarkan berhasil. Vina pun
menjadi pacar baruku. Dalam beberapa pertemuan awal,kami tidak pernah
melakukan macam2 karena memang kami jarang keluar karena sama2 belum
mempunyai waktu. Ortu Vina bisa dibilang memiliki peraturan ketat
dirumahnya,jadi Vina tidak bisa sembarangan keluar. Beruntung aku
mengenal baik keluarga itu,jadi akses khusus ada di tanganku.
Siang itu,Vina mengirimkan sms. Saat kubaca,ternyata Vina memintaku
kerumahnya malam ini. Ahh...bukannya biasa aku kerumahnya. Tapi saat
kubaca sms kedua,baru aku kaget.
“SAYANK,INGET YA NTAR MALEM KAMU KERUMAHKU. TAPI JAM 11 MALAM. AKU KANGEN.”
Begitu kira2 bunyi smsnya. Karena heran,akupun bertanya kenapa harus
menjelang tengah malam. Dia tidak mau memberikan alasan yang pasti,dan
hanya berkata akan rugi kalau aku tidak datang malam itu. Saat aku
tanya,apakah ortunya tidak marah aku bertamu malam2,Vina
menjawab,sembunyi2 aja. Gilaa... Sembunyi2 ?

Pukul 9 malam,Vina kembali mengingatkanku dan memintaku untuk membawa
motor saja agar tidak terlalu mencolok dan memarkirnya di mini market
depan regency. ( Kayak mau maling aja,pikirku...)
Pukul 10 lewat aku berangkat. Setelah sampai,segera kuparkir motor itu
di mini market. Kukira Vina akan mengajakku keluar,tapi ternyata malah
aku yang diminta kerumahnya. Karena tak jauh dari mini market
tersebut,aku berjalan kaki menuju rumah Vina,dan langsung sms dia bahwa
aku telah berada didepan rumahnya setelah lolos dari pos security depan.
Setelah menunggu beberapa menit,Vina keluar. Kulihat rumahnya dalam
keadaan sepi,sepertinya semua telah tertidur pulas. Vina berjalan pelan
dan membuka pintu gerbang dengan hati-hati. Ia memakai baju tidur yang
kunilai cukup tipis,hingga membuatku berpikiran mesum. Lalu dia
memintaku mengikuti dia masuk kerumahnya dengan perlahan2. Sial...malah
seperti penyusup jadinya,pikirku.
Lewat pintu belakang,aku mengikuti langkah Vina yang ternyata menuju kekamarnya. Sesampai dikamar,Vina menutup pintu kamarnya.
“Wahh...ada apa kok tumben aku disuruh dateng malem2 ? Pake acara ngendap2 pula.”,tanyaku.
“Maaf ya,yank... Aku cuma pengen banget ketemu ama kamu malem2. Tapi
nggak pernah bisa kan ? Makanya pake cara gini. Jangan marah ya
?”,jawabnya.
“Ohh...trus ?”,tanyaku.
“Papa Mamaku dah tidur di lantai atas. Biar kamu nggak marah aku kasih hadiah deh buat kamu.”,balasnya.
“Apa itu ?”,tanyaku lagi.
“Hadiahnya....ML...”,jawabnya sambil tersenyum.
WTF ?! Ini dia yang kutunggu dari awal dekat sama Vina. Akhirnya dapet juga,pikirku.
“Serius ?”,tanyaku.
Vina tak menjawab. Tapi dia langsung berpangku diatasku yang saat itu tengah duduk ditepi ranjang. Dia langsung menciumku.
Melumat bibirku dengan penuh nafsu.
Akupun membalasnya. Disaat berciuman dia merebahkan tubuhku. Sembari
duduk diatasku,Vina membuka pakaian tidurnya yang berupa terusan itu.
Saat dibuka,ternyata Vina tak memakai bra. Wooww...payudaranya
menyembul. Lalu,kembali Vina melumat bibirku. Dengan cepat,Vina melucuti
pakaianku,hingga aku telanjang bulat. Lampu kamarnya memang dibuatnya
remang2 namun masih bisa untukku melihat dengan jelas bentuk tubuh Vina
yang polos itu. Lalu Vina berbaring disamping. Kami masih berciuman.
Tangannya menggenggam penisku yang tegang itu. Dikocoknya penisku dengan
perlahan. Tak lama,Vina melepaskan ciumannya. Setelah Vina melepas cd
nya,Lalu ia mengarahkan kepalanya menuju selangkanganku. Dijilatinya
batang penisku. Lidahnya bermain menelusuri dari batang penisku hingga
ujung. Sesekali dihisapnya penisku. Dikulumnya,dan dikeluar-masukkan
kedalam mulutnya. Tak kurang dari lima menit,Vina menyudahi BJ nya. Lalu
ia mengambil posisi tengkurap namun diatas tubuhku. Rupanya posisi 69.
Kepala Vina yang berada tepat diselangkanganku,membuatnya leluasa
memainkan penisku dengan mulut dan lidahnya.
Akupun tak tinggal diam. Kujilati
bibir vaginanya. Vagina itu tidak berbau. Bersih,tanpa bulu jembi.
Kucoba memasukkan jariku kedalamnya. Masih sempit,pikirku. Lalu,sembari
memainkan jariku keluar-masuk,sesekali kujilati klitoris Vina. Sesekali
Vina tampak mendesah kecil. Beberapa kali pula,vagina itu mengalirkan
cairan beningnya. Rupanya,Vina seorang squirter. Dan aku baru tahu
tentang rahasia Vina ini. Memang,kami tak leluasa mendesah keras,karena
memang situasi yang tidak memungkinkan. Beberapa menit ber-69,Vina
berganti posisi. Sebelum itu Vina membisikkan sesuatu padaku
“Yank...Maaf ya,kalo tadi ada cairan banyak yang keluar dari anuku. Mungkin nanti juga gitu. Nggak apa-apa kan ?”,tanyanya.
“Ohh..Nggak apa-apa. Keluarin sepuas kamu,cantik.”,jawabku.
Dia mulai berjongkok diantara selangkanganku. Diraihnya batang penisku
dan diarahkannya kedalam vaginanya. Walaupun vagina itu sudah
basah,namun masih terasa sempit. Jadi harus secara perlahan-lahan agar
penisku bisa masuk seluruhnya. Setelah dirasa penisku terbenam
seluruhnya,Vina mulai bergerak naik-turun perlahan. Vaginanya terasa
mencengkeram batang penisku. Benar-benar masih sempit.
“mmmpphh...mppphh....Ugghh...”,desahnya pelan sembari bergoyang diatas tubuhku.
Vina terus bergerak naik-turun. Tak lama berselang,Vina mempercepat
goyangannya. Dengan nafas memburu,disertai goyangan yang cepat,Vina
nampak liar sekali. Berbeda dengan kesehariannya yang lebih tampak
pendiam. Tiba-tiba Vina mencabut penisku. Cairan kembali mennyemprot
kecil dari vaginanya. Membasahi perutku. Cairan itu begitu hangat. Tubuh
Vina menggelinjang menahan nikmat. Setelah itu kembali dimasukkannya
penisku. Kembali Vina bergoyang. Sembari bergoyang itu,kuremas payudara
Vina yang berukuran sedang. Sesekali kumainkan puting kecilnya.
“Aghh....Agghh...”,rintihnya pelan.
Lalu,kembali dicabutnya penisku. Menyemprotlah cairan itu kembali
membasahi perutku. Lalu kubaringkan Vina terlentang. Vina membuka kedua
kakinya. Segera kumasukkan penisku kedalam vaginanya. Perlahan dan
berirama aku mengeluar-masukkan penisku kedalam vaginanya. Sesekali kami
berciuman. Sesekali pula,kuhisap dan kujilati puting payudara Vina.
Vina seakan tak berhenti mendesah kecil.
“Teruusss,Yaank..Agh...Lebih cepeet...”,rintihnya.
Kupercepat goyanganku. Tampaknya
Vina akan menyemburkan kembali cairannya,segera kucabut penisku,dan
benar saja. Cairan itu menyemprot dan mengalir membasahi sprei. Tangan
Vina
mencengkeram lenganku. Disela kenikmatan itu,tiba-tiba terdengar pintu lantai atas dibuka dan ditutup. Celaka.....pikirku.
Suara langkah kaki terdengar menuruni tangga. Seakan mendekat menuju
kamar Vina. Kami berdua terdiam. Vina memberi isyarat agar aku tidak
mengeluarkan suara. Otakku sempat membayangkan. Bagaimana kalau kami
berdua ketahuan ? Bagaimana kalau aku digebukin ? Atau bagaimana kalau
aku dilaporkan polisi karena meniduri anak orang ? Bagaimana kalau....
Tapi ternyata langkah kaki itu memang mendekat namun sepertinya tidak
berhenti dikamar Vina. Melainkan berhenti disuatu tempat tak jauh dari
kamar. Dan seakan mengambil sesuatu dari kulkas dan kembali menuju atas.
Kami masih terdiam mayankinkan bahwa suara langkah itu sudah
benar-benar berada diatas. Begitu yakin langkah itu menjauh,Vina
membisikkan kepadaku.
“Ufff...itu tadi Papa. Mungkin lagi ngambil minuman ama makanan. Pasti
mau nonton bola di Tv atas.”,jelas Vina yang membuatku sedikit lega.
Penis yang tadinya tegang,serasa sedikit mengendor.
Dari lantai atas terdengar suara televisi yang sepertinya memang memutar
siaran bola. Dirasa cukup aman,kami melanjutkan aktivitas. Vina yang
melihat penisku sedikit melemas,langsung mengulumnya. Dihisapnya dan
dijilatinya hingga tak butuh waktu lama untuk membuatnya kembali tegang.
Lalu setelah itu,Vina kembali terlentang. Kami berciuman sejenak.
“Ntar kalo Papa kamu balik gimana?”,tanyaku sedikit khawatir.
“Nggak bakalan. Aku jamin. Nanti setelah pertandingan bola babak pertama
selesai baru Papa kebawah ngambil cemilan lagi. Dijamin.”,jawabnya.
Fiuuhh...untung deh kalo gitu. Masih ada waktu,toh sepertinya dari suaranya pertandingan bola baru akan dimulai.
Aku kembali memasukkan penisku. Bergerak perlahan dan berirama.
“Aghhh...Aghh..”,desah Vina.
Sembari aku bergoyang,Vina tampak sibuk memainkan klitorisnya dengan
jarinya. Vina kembali merintih tak karuan,namun dengan suara pelan
tentunya. Tak lama berselang,Vina kembali berbisik.
“Ahhh...Yank...mau..keluar lagiihh...Agghh....”,uajrnya.
Setelah beberapa tusukan,segera kucabut penisku. Dan cairan itu kembali
mengalir kecil membasahi sprei. Vina kembali kelojotan tak karuan. Tak
menunggu waktu lama,Kuminta Vina untuk menungging. Lalu,kubenamkan
penisku dari arah belakang Vina. Aku kembali bergerak maju mundur.
Tanganku berpegangan dipinggang Vina. Aku bergerak dengan cepat. Vina
pun mendesah tak karuan.
“Ogghh...ya...Ohhh....”,desahnya.
Beberapa menit berselang,Vina rupanya melakukan squirt kembali. Tubuhnya
menggelinjang dan bersimpuh dikasur. Doggy itu kusudahi,walau Cuma
sebentar.
Kembali kutelentangkan Vina. Dan kutindih tubuhnya. Kumasukkan penisku. Dan aku segera bergerak dengan cepat.
“Kalo aku keluar,dikeluarin dimana?”,tanyaku sambil bergoyang.
“Didalem aja,nggak apa-apa Yank...”,jawabnya.
“Hah...? Didalem ? Nggak takut hamil ?”,tanyaku setengah kaget.
“Aku nggak masa subur sekarang,sayank. Nggak usah khawatir.”,serunya sambil mencium pipiku.
Akupun bergerak dengan berirama. Beberapa menit kemudian,terasa sesuatu
mengalir deras kearah ujung penisku. Kupercepat gerakanku.
“Keluarin aja,Yank....Agghh...”,kata Vina.
Dan benar saja...
CROOTT...CROOTTT..CROTT...
Kutekan penisku lebih dalam.
Spermaku pun memenuhi ruang vagina milik Vina. Tubuhku mengejang. Kami
berciuman. Vina terlihat menikmati setiap semprotan spermaku yang
mengalir didalam vaginanya.
. Hingga semburan itu
melemah,kucabut penisku. Tak lama kemudian,Vina berjalan menuju kamar
mandi yang terletak diarea dalam kamarnya. Setelah bersih-bersih,akupun
melakukan hal yang sama.
Sebenarnya,ingin rasanya skalian mandi. Tapi karena situasi kurang
mendukung maka kuputuskan untuk mandi setiba dirumah saja. Kami berdua
mengobrol sejenak. Rupanya tak lama berselang,pertandingan babak pertama
terdengar usai. Kamipun menunggu sang empunya langkah untuk kembali
mengambil makanan dan kembali menuju atas. Begitu pertandingan bola
babak kedua dimulai,kamipun melakukan pertandingan ronde kedua. Dan
sama-sama menciptakan gol.
Aku beranjak pulang dari rumah Vina pukul 4 subuh setelah sang empunya
langkah kembali kekamar. Dan sebelum orang dirumah Vina bangun pagi,aku
segera pulang.
Kini,kami tak perlu susah untuk melakukan ML. Tidak lagi harus
mengendap2. Sekarang Vina sudah diperbolehkan keluar,namun masih tetap
dengan aturan jam malamnya. Lumayan lah. Pagi sampe siang masih bisa ada
waktu.
Sekian cerita dari saya...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar