Pages

Selasa, 26 Juni 2012

DAUN MUDA VINA

Vina...aku kenal ini ABG cukup lama,sekitar setahun yang lalu. Saat itu aku mengantarkan dia untuk daftar sekolah disalah satu SMU swasta. Vina adalah adik sepupu temanku. Dari situlah aku kenal dengan Vina. Aku dan Vina cukup dekat,karena memang dulunya aku sering bermain kerumah Vina.
Vina tinggal disalah satu regency di kotaku. Sebenarnya dulu aku sempat tertarik untuk mendekati Vina,tapi saat itu dia masih terlalu muda dan kekanak-kanakan,jadi kuurungkan niat itu. Hingga dia terakhir setelah dia duduk di bangku SMU,cerita seru itu bermula.:x


Sudah beberapa hari ini aku dan Vina sering ber-sms ria. Sekedar bercanda,terkadang menelpon untuk mengobrol. Tak kulewatkan kesempatan menelpon atau sms itu untuk melancarkan sedikit demi sedikit Ssi kepada Vina. Dan nampaknya respon positif dikirimkan Vina untukku. Curhat demi curhat dia lontarkan padaku,akupun menjadi pendengar dan pemberi solusi sebisa mungkin. Kalau Vina melontarkan curhat kepadaku,aku pun juga sama. Tapi bedanya,yang kulontarkan adalah Ssi alias Speak-Speak Iblis. Hahahahaha....:))
Vina dari keluarga cukup berada,tipikalnya sedikit manja. Maklum dia anak paling bontot dalam keluarga. Namun sepertinya Vina ini kurang mendapat perhatian dalam bentuk kasih sayang dari ortunya yang seorang pengusaha. Ayahnya sering keluar kota,sedangkan Ibunya juga seorang pekerja keras. Kakak-kakak Vina pun sudah menikah,ada juga yang kuliah di luar kota. Jadi seringnya tinggallah Vina seorang diri dirumah hanya bersama pembantu.
Beberapa hari Ssi,ternyata serangan yang kulancarkan berhasil. Vina pun menjadi pacar baruku. Dalam beberapa pertemuan awal,kami tidak pernah melakukan macam2 karena memang kami jarang keluar karena sama2 belum mempunyai waktu. Ortu Vina bisa dibilang memiliki peraturan ketat dirumahnya,jadi Vina tidak bisa sembarangan keluar. Beruntung aku mengenal baik keluarga itu,jadi akses khusus ada di tanganku.

Siang itu,Vina mengirimkan sms. Saat kubaca,ternyata Vina memintaku kerumahnya malam ini. Ahh...bukannya biasa aku kerumahnya. Tapi saat kubaca sms kedua,baru aku kaget.
“SAYANK,INGET YA NTAR MALEM KAMU KERUMAHKU. TAPI JAM 11 MALAM. AKU KANGEN.”
Begitu kira2 bunyi smsnya. Karena heran,akupun bertanya kenapa harus menjelang tengah malam. Dia tidak mau memberikan alasan yang pasti,dan hanya berkata akan rugi kalau aku tidak datang malam itu. Saat aku tanya,apakah ortunya tidak marah aku bertamu malam2,Vina menjawab,sembunyi2 aja. Gilaa... Sembunyi2 ?:eek:
Pukul 9 malam,Vina kembali mengingatkanku dan memintaku untuk membawa motor saja agar tidak terlalu mencolok dan memarkirnya di mini market depan regency. ( Kayak mau maling aja,pikirku...)

Pukul 10 lewat aku berangkat. Setelah sampai,segera kuparkir motor itu di mini market. Kukira Vina akan mengajakku keluar,tapi ternyata malah aku yang diminta kerumahnya. Karena tak jauh dari mini market tersebut,aku berjalan kaki menuju rumah Vina,dan langsung sms dia bahwa aku telah berada didepan rumahnya setelah lolos dari pos security depan. Setelah menunggu beberapa menit,Vina keluar. Kulihat rumahnya dalam keadaan sepi,sepertinya semua telah tertidur pulas. Vina berjalan pelan dan membuka pintu gerbang dengan hati-hati. Ia memakai baju tidur yang kunilai cukup tipis,hingga membuatku berpikiran mesum. Lalu dia memintaku mengikuti dia masuk kerumahnya dengan perlahan2. Sial...malah seperti penyusup jadinya,pikirku.
Lewat pintu belakang,aku mengikuti langkah Vina yang ternyata menuju kekamarnya. Sesampai dikamar,Vina menutup pintu kamarnya.
“Wahh...ada apa kok tumben aku disuruh dateng malem2 ? Pake acara ngendap2 pula.”,tanyaku.
“Maaf ya,yank... Aku cuma pengen banget ketemu ama kamu malem2. Tapi nggak pernah bisa kan ? Makanya pake cara gini. Jangan marah ya ?”,jawabnya.
“Ohh...trus ?”,tanyaku.
“Papa Mamaku dah tidur di lantai atas. Biar kamu nggak marah aku kasih hadiah deh buat kamu.”,balasnya.
“Apa itu ?”,tanyaku lagi.
“Hadiahnya....ML...”,jawabnya sambil tersenyum.
WTF ?! Ini dia yang kutunggu dari awal dekat sama Vina. Akhirnya dapet juga,pikirku.
“Serius ?”,tanyaku.
Vina tak menjawab. Tapi dia langsung berpangku diatasku yang saat itu tengah duduk ditepi ranjang. Dia langsung menciumku.  

Melumat bibirku dengan penuh nafsu. Akupun membalasnya. Disaat berciuman dia merebahkan tubuhku. Sembari duduk diatasku,Vina membuka pakaian tidurnya yang berupa terusan itu. Saat dibuka,ternyata Vina tak memakai bra. Wooww...payudaranya menyembul. Lalu,kembali Vina melumat bibirku. Dengan cepat,Vina melucuti pakaianku,hingga aku telanjang bulat. Lampu kamarnya memang dibuatnya remang2 namun masih bisa untukku melihat dengan jelas bentuk tubuh Vina yang polos itu. Lalu Vina berbaring disamping. Kami masih berciuman. Tangannya menggenggam penisku yang tegang itu. Dikocoknya penisku dengan perlahan. Tak lama,Vina melepaskan ciumannya. Setelah Vina melepas cd nya,Lalu ia mengarahkan kepalanya menuju selangkanganku. Dijilatinya batang penisku. Lidahnya bermain menelusuri dari batang penisku hingga ujung. Sesekali dihisapnya penisku. Dikulumnya,dan dikeluar-masukkan kedalam mulutnya. Tak kurang dari lima menit,Vina menyudahi BJ nya. Lalu ia mengambil posisi tengkurap namun diatas tubuhku. Rupanya posisi 69. Kepala Vina yang berada tepat diselangkanganku,membuatnya leluasa memainkan penisku dengan mulut dan lidahnya.
Akupun tak tinggal diam. Kujilati bibir vaginanya. Vagina itu tidak berbau. Bersih,tanpa bulu jembi. Kucoba memasukkan jariku kedalamnya. Masih sempit,pikirku. Lalu,sembari memainkan jariku keluar-masuk,sesekali kujilati klitoris Vina. Sesekali Vina tampak mendesah kecil. Beberapa kali pula,vagina itu mengalirkan cairan beningnya. Rupanya,Vina seorang squirter. Dan aku baru tahu tentang rahasia Vina ini. Memang,kami tak leluasa mendesah keras,karena memang situasi yang tidak memungkinkan. Beberapa menit ber-69,Vina berganti posisi. Sebelum itu Vina membisikkan sesuatu padaku
“Yank...Maaf ya,kalo tadi ada cairan banyak yang keluar dari anuku. Mungkin nanti juga gitu. Nggak apa-apa kan ?”,tanyanya.
“Ohh..Nggak apa-apa. Keluarin sepuas kamu,cantik.”,jawabku.
Dia mulai berjongkok diantara selangkanganku. Diraihnya batang penisku dan diarahkannya kedalam vaginanya. Walaupun vagina itu sudah basah,namun masih terasa sempit. Jadi harus secara perlahan-lahan agar penisku bisa masuk seluruhnya. Setelah dirasa penisku terbenam seluruhnya,Vina mulai bergerak naik-turun perlahan. Vaginanya terasa mencengkeram batang penisku. Benar-benar masih sempit.
“mmmpphh...mppphh....Ugghh...”,desahnya pelan sembari bergoyang diatas tubuhku.
Vina terus bergerak naik-turun. Tak lama berselang,Vina mempercepat goyangannya. Dengan nafas memburu,disertai goyangan yang cepat,Vina nampak liar sekali. Berbeda dengan kesehariannya yang lebih tampak pendiam. Tiba-tiba Vina mencabut penisku. Cairan kembali mennyemprot kecil dari vaginanya. Membasahi perutku. Cairan itu begitu hangat. Tubuh Vina menggelinjang menahan nikmat. Setelah itu kembali dimasukkannya penisku. Kembali Vina bergoyang. Sembari bergoyang itu,kuremas payudara Vina yang berukuran sedang. Sesekali kumainkan puting kecilnya.
“Aghh....Agghh...”,rintihnya pelan.
Lalu,kembali dicabutnya penisku. Menyemprotlah cairan itu kembali membasahi perutku. Lalu kubaringkan Vina terlentang. Vina membuka kedua kakinya. Segera kumasukkan penisku kedalam vaginanya. Perlahan dan berirama aku mengeluar-masukkan penisku kedalam vaginanya. Sesekali kami berciuman. Sesekali pula,kuhisap dan kujilati puting payudara Vina. Vina seakan tak berhenti mendesah kecil.
“Teruusss,Yaank..Agh...Lebih cepeet...”,rintihnya. 

Kupercepat goyanganku. Tampaknya Vina akan menyemburkan kembali cairannya,segera kucabut penisku,dan benar saja. Cairan itu menyemprot dan mengalir membasahi sprei. Tangan Vina
mencengkeram lenganku. Disela kenikmatan itu,tiba-tiba terdengar pintu lantai atas dibuka dan ditutup. Celaka.....pikirku.:eek:
Suara langkah kaki terdengar menuruni tangga. Seakan mendekat menuju kamar Vina. Kami berdua terdiam. Vina memberi isyarat agar aku tidak mengeluarkan suara. Otakku sempat membayangkan. Bagaimana kalau kami berdua ketahuan ? Bagaimana kalau aku digebukin ? Atau bagaimana kalau aku dilaporkan polisi karena meniduri anak orang ? Bagaimana kalau....:confused:
Tapi ternyata langkah kaki itu memang mendekat namun sepertinya tidak berhenti dikamar Vina. Melainkan berhenti disuatu tempat tak jauh dari kamar. Dan seakan mengambil sesuatu dari kulkas dan kembali menuju atas. Kami masih terdiam mayankinkan bahwa suara langkah itu sudah benar-benar berada diatas. Begitu yakin langkah itu menjauh,Vina membisikkan kepadaku.
“Ufff...itu tadi Papa. Mungkin lagi ngambil minuman ama makanan. Pasti mau nonton bola di Tv atas.”,jelas Vina yang membuatku sedikit lega.
Penis yang tadinya tegang,serasa sedikit mengendor.:-&
Dari lantai atas terdengar suara televisi yang sepertinya memang memutar siaran bola. Dirasa cukup aman,kami melanjutkan aktivitas. Vina yang melihat penisku sedikit melemas,langsung mengulumnya. Dihisapnya dan dijilatinya hingga tak butuh waktu lama untuk membuatnya kembali tegang. Lalu setelah itu,Vina kembali terlentang. Kami berciuman sejenak.
“Ntar kalo Papa kamu balik gimana?”,tanyaku sedikit khawatir.
“Nggak bakalan. Aku jamin. Nanti setelah pertandingan bola babak pertama selesai baru Papa kebawah ngambil cemilan lagi. Dijamin.”,jawabnya.
Fiuuhh...untung deh kalo gitu. Masih ada waktu,toh sepertinya dari suaranya pertandingan bola baru akan dimulai.
Aku kembali memasukkan penisku. Bergerak perlahan dan berirama.
“Aghhh...Aghh..”,desah Vina.
Sembari aku bergoyang,Vina tampak sibuk memainkan klitorisnya dengan jarinya. Vina kembali merintih tak karuan,namun dengan suara pelan tentunya. Tak lama berselang,Vina kembali berbisik.
“Ahhh...Yank...mau..keluar lagiihh...Agghh....”,uajrnya.
Setelah beberapa tusukan,segera kucabut penisku. Dan cairan itu kembali mengalir kecil membasahi sprei. Vina kembali kelojotan tak karuan. Tak menunggu waktu lama,Kuminta Vina untuk menungging. Lalu,kubenamkan penisku dari arah belakang Vina. Aku kembali bergerak maju mundur. Tanganku berpegangan dipinggang Vina. Aku bergerak dengan cepat. Vina pun mendesah tak karuan.
“Ogghh...ya...Ohhh....”,desahnya.
Beberapa menit berselang,Vina rupanya melakukan squirt kembali. Tubuhnya menggelinjang dan bersimpuh dikasur. Doggy itu kusudahi,walau Cuma sebentar. 

Kembali kutelentangkan Vina. Dan kutindih tubuhnya. Kumasukkan penisku. Dan aku segera bergerak dengan cepat.
“Kalo aku keluar,dikeluarin dimana?”,tanyaku sambil bergoyang.
“Didalem aja,nggak apa-apa Yank...”,jawabnya.
“Hah...? Didalem ? Nggak takut hamil ?”,tanyaku setengah kaget.
“Aku nggak masa subur sekarang,sayank. Nggak usah khawatir.”,serunya sambil mencium pipiku.
Akupun bergerak dengan berirama. Beberapa menit kemudian,terasa sesuatu mengalir deras kearah ujung penisku. Kupercepat gerakanku.
“Keluarin aja,Yank....Agghh...”,kata Vina.
Dan benar saja...
CROOTT...CROOTTT..CROTT...

Kutekan penisku lebih dalam. Spermaku pun memenuhi ruang vagina milik Vina. Tubuhku mengejang. Kami berciuman. Vina terlihat menikmati setiap semprotan spermaku yang mengalir didalam vaginanya.

. Hingga semburan itu melemah,kucabut penisku. Tak lama kemudian,Vina berjalan menuju kamar mandi yang terletak diarea dalam kamarnya. Setelah bersih-bersih,akupun
melakukan hal yang sama. Sebenarnya,ingin rasanya skalian mandi. Tapi karena situasi kurang mendukung maka kuputuskan untuk mandi setiba dirumah saja. Kami berdua mengobrol sejenak. Rupanya tak lama berselang,pertandingan babak pertama terdengar usai. Kamipun menunggu sang empunya langkah untuk kembali mengambil makanan dan kembali menuju atas. Begitu pertandingan bola babak kedua dimulai,kamipun melakukan pertandingan ronde kedua. Dan sama-sama menciptakan gol.

Aku beranjak pulang dari rumah Vina pukul 4 subuh setelah sang empunya langkah kembali kekamar. Dan sebelum orang dirumah Vina bangun pagi,aku segera pulang.
Kini,kami tak perlu susah untuk melakukan ML. Tidak lagi harus mengendap2. Sekarang Vina sudah diperbolehkan keluar,namun masih tetap dengan aturan jam malamnya. Lumayan lah. Pagi sampe siang masih bisa ada waktu.

Sekian cerita dari saya...



:confused:

Tidak ada komentar: