Pages

Minggu, 24 Juni 2012

daun muda bos cabul

  1. Aku Dina, saat itu aku sedang berkelana di Bali, sebabnya adalah karena aku
    bertengkar dengan ayahku (ibuku sudah meninggal). Ayahku mengatakan bahwa
    aku tidak produktif, karena tiap ari kerjaku hanya menghambur2kan uangnya
    saja dengan belanja sana sini. Memang aku ini maniak blanja, laper mata
    sehingga melihat apa saja yang bagus kubeli, padahal aku gak butuh2 amat.
    Kebetulan kondisi keuangan ayahku mendukung kebiasaan maniakku itu. Ayah
    sering menegurku karena kebiasaanku yang tidak produktif itu. Aku
    tersinggung, sehingga timbul keinginanku untuk hidup mandiri, dan lokasi
    yang kupilih adalah Bali, kata temenku disana banyaklah kerjaan kalo mau
    kerja apa saja. Begitulah, akhirnya aku terdampar di Bali, seorang diri,
    tanpa sodara dan teman. Mula2 bingung juga aku mo ngapain. aku settle di satu
    losmen yang mur mer, untuk menghemat pengeluaranku. Mencari makan juga di
    warung2 sederhana yang mur mer juga. Cukup sengsara hidupku diawal2nya
    karena aku sudah terbiasa dengan kehidupan yang serba kecukupan di rumah
    ayahku. Tetapi tekadku untuk mandiri, lepas dari ayahku kupelihara teguh,
    rasa sengsara, perlahan2 menjadi biasa karena aku berusaha keras untuk
    menikmatinya. Segala macam usaha untuk mendapatkan uang walaupun sedikit aku
    lakukan, demikianlah aku kerja serabutan, apa saja kulakoni, kecuali yang
    satu itu, jual diri. Terus terang saja, waktu tinggal dengan ayahku, aku
    mempunyai banyak pacar, dan dengan pacar2ku itu aku sering sekali mereguk
    kenikmatan sex. Ini yang kadang menyiksaku, ampir gak tahan aku menahan diri
    untuk tidak ngesex dengan lelaki yang banyak seliweran disekitarku. Mereka
    suka dengan kecantikanku yang alami, warna kulitku yang sawomatang, tubuhku
    proporsional, toketku gak besar tapi gak bisa dibilang tocil. Pinggulku agak
    besar, sehingga kalo lelaki melihat aku memakai celana ketat baik panjang
    maupun pendek, dari belakang pasti napsu melihat gerakan pinggulku yang
    seirama dengan langkahku. Pinggulku menggeyol indah kekiri kekanan. Ada juga
    lelaki bule yang ngganteng banget, kaya aktor hollywood, yang terang2an
    ngajakin aq ngesex, malah dia menjanjikan segepok dolar amrik kalo aku bisa
    meladenin napsunya, tapi aku masih coba bertahan untuk tidak menerima
    tawaran yang sangat2 menggiurkan itu, dapet uang dan dapet kepuasan sex ,
    palagi kan katanya kon ti bule tu gede panjang. kon ti pacar2ku ya standard
    ukuran orang kitalah, walaupun harus diakui aku mendapat kenikmatan juga
    dari kon ti2 standard itu.

    Sampe satu siang, ketika aku berjalan didepan sebuah rumah makan, tiba2 ada
    sebuah sedan mewah yang memotong didepanku, sehingga aku terjatuh. Dari
    dalem mobil mewah itu keluar lelaki. Melihat wajahnya, rasa marah yang
    meluap2 karena aku diserempet sampe jatuh (kaya Cici Paramida aja ya)
    walaupun gak sampe lecet2, sirna seketika. Lelaki itu sangat tampan, bodinya
    sangat atletis. Dia segera menolongku bangkit sambil minta maaf dengan
    sangat. "Wah mbak, maaf sekali ya, saya sedang terburu, sehingga gak liat
    mbak lagi jalan. Ada yang luka mbak, ayu saya antar ke rumah sakit". "Gak
    kok mas, cuma kaget saja". Dia mengeluarkan hp nya, dia berbicara dengan
    seseorang untuk mengcancel pertemuannya siang ini. "Wah mbak, sebagai
    permintaan maaf dan bersyukur karena mbak gak sampe luka, gimana kalo saya
    traktir makan siang di resto ini". Aku melihat nama restonya, wah ini resto
    mewah yang makanannya mahal2, di deket rumah ayahku juga ada resto ini. "Ya
    deh mas, atau saya manggil apa enaknya". "Saya ... (dia menyebutkan
    namanya), mo manggil mas bole, manggil nama juga bole kok. Kalo mbak?" "Aku
    panggil mas aja deh ya, kayanya mas jauh lebi tua dari aku. Aku Dina, mas".
    Aku digandengnya masuk restoran yang terletak dipinggir pantai. Kelihatannya
    dia sudah menjadi pelanggan resto ini, kelihatan dari banyaknya waiter yang
    eknal dia. Dia milih tempat menghadap kelaut. "MO makan apa mbak?" "Jangan
    panggil mbak ah, Dina aja". "Ya deh, Dina mo maka apa". "Aku ikuta mas aja
    deh, mas kan yang tau menu yang enak2 dari restoran ini". "Doyan seafood
    kan?" "Doyan mas, aku apa juga aku makan, kecuali batu ma kayu ma beling".
    "Bisa aja kamu, kok eling". "Soalnya aku belon blajar ilmu kuda lumping".
    Tertawanya berderai mendengar guyonanku. "Bener kan tadi gak apa2 kamu Din".
    "Gak apa kok mas, aku cuma kaget". "Sekarang masih kaget?" "Masih mas". "Lo
    kok masi kaget". "Ya mas, kaget, kok ada ya lelaki didunia ini yang
    seganteng mas". "Bisa aja kamu". Demikianlah selama makan, kami bercanda2.
    Setelah makan selesai, dia bertanya lagi. "Kamu ke bali dalam rangka apa
    Din?". aku menceritakan kondisiku dengan ringkas. "O, kamu lagi cari kerjaan
    toh, ditempatku aja, mau?" "Jadi apa mas". Aku perlu asisten buat koordinir
    kerjaan di rumahku, ya kerjaan rumah tangga lah". "Jadi pembantu gitu?" "O
    enggaklah, masak prempuan secantik dan seseksi kamu dijadiin pembantu. Kaya
    kepala house keeping gitu, mau gak, bole tinggal dirumahku kok, gratis,
    makan minum juga gratis". "Tapi gak dapet gaji?" "Ya dapet lah, mau ya.
    butuhnya urgent neh, kalo gak kasian asistenku yang sekarang ini, dia dah
    bantu aku di pekerjaan, masih juga ketiban kerjaan ngurus rumahku". "Iya
    deh, buat mas yang ganteng apa si yang enggak?" "Oke kalo gitu mulai hari
    ini ya, abis makan kita ambil barang2 kamu dari losmen, dan kerumahku. Aku
    akan kasi kamu .... sebulan (dia menyebutkan satu angka yang besar). "Mau
    mas". Demikianlah aku pindah dari losmen murahan kerumahnya yang lebih besar
    lagi dari rumah ayahku. Aku diperkenalkan kepada sejumlah pembantu, ada yang
    urusan membersihkan rumah, cuci mencuci, masak memasak dan membersihkan dan
    merawat kebunnya yang luas, disamping ada seorang driver. Mereka semua
    hormat padaku, karen aku diperkenalkan sebagai kepala house keeping. Aku
    diajak ke satu kamar, besarnya seperti kamarku dirumah ayahku, ada
    soundsystem dan tv besar, pake ac pula (dilosmen aku bermandi kringet tiap
    malem karena so pasti murah ya tanpa fasilitas apa2, termasuk ac). "Wah mas,
    enak banget ya kerja ma mas". "Ya udah, kamu sosialisasi ma para pembantu,
    aku mesti pergi ke kantor ya". Aku ditinggal bersama sejumlah pembantu, aku
    mencoba akrab dengan mereka semua dengan bersikap merendah. "Ibu bapak, aku
    cuma kebetulan disuru jadi kepala house keeping, tapi aku tu pasti kala
    pengalaman ma ibu bapak, jadi kerjaan kita kroyok rame2 ya, aku bersedia kok
    melakukan kerjaan ibu bapak juga". Mereka senang karena aku gak sok2an,
    mentang2 ditunjuk jadi kepala, sebentar saja aku dah bisa berakrab2 dengan
    mereka semua, ngatur kerjaan dengan mereka semua. Cuma mereka sungkan kalo
    aku mbantu melakukannya. Ya udah akhirnya ya kalo mereka sibuk banget aku
    bantu, kalo enggak ya aku santai saja. Di halaman belakang rumah ada kolam
    renang yang lumayan luas, kerjaan pak bon yang membersihkan kolam yang
    hampir gak perna dipakai itu seminggu sekali. Aku dengan segala senang hati
    mbantu pak bon yang dah berumur itu membersihkan kotoran yang nempel
    didinding kolam. Denag pak sopir, aku juga bisa berakrab2, palagi pak
    sopirlah yang mengantarkan aku membeli semua keperluan rumah tangga, dan
    diriku sendiri, dengan catatan si mas gak make mobilnya. Kadang karena tau
    aku perlu banget pergi, si mas rela nyetir sendiri kekantornya supaya pak
    sopir bisa nganterian aku kesana kemari dengan mobil satunya lagi, gak
    semewah mobil si mas yang pasti, tapi cukuplah untuk beli2 ini itu.
    Maklumlah si mas itu pengusaha yang sukses dalam bisnis mobil mewah import
    build up. Demikianlah aku menjalani hari2ku dengan segala senang hati,
    kerjaan gak berat2 amat, uang berlimpah karena semua kebutuhan hidupku
    dipenuhi si mas, malah kadang si mas membelikan aku pakaian kalo aku harus
    ikut bantu di kantor. Kadang ada event besar dimana aku juga harus turut
    bantu asisten yang satunya lagi. nyaman sekali kan.
  2. Sampe suatu malem, si mas ngetok kamarku. "Napa mas?" "Aku lagi bete Din,
    temenin aku keluar yuk". Tumben dia ngajak aku keluar, biasanya aku liat di
    kantor, banyak prempuan2 muda yang cantik2 yang seliweran disekitarnya. "Lo,
    kan biasanya mas jalan ma mbak ajeng apa mbak Lina". "Aku bosen ma mreka
    Din, mreka tu cuma ngincer uangku aja, makanya penuh basabasi dan kaya pake
    topeng". "rus koq mas ngajak aku". "sejak aku ketemu kamu, kamu kayanya
    memperlakukanku apa adanya. Kamu kliatan sekali melakukan kerjaan kamu
    dengan senang ati". "Laiyalah mas, mana ada kerjaan yang lebi asik dari
    mbantu mas ngurus rumah besar ini, santai, trus mas ngasi duwitnya besar
    lagi, utuh lagi, karena semua kebutuhanku mas penuhi. Makanya buru2 cari
    permaisuri dong mas, jadi mas gak sepi dirumah besar ini". "ada kamu koq
    yang bisa bikin aku tentram, ngobrol ma kamu kayanya ngobrol ma orang yang
    dah lama aku kenal, padahal kamu baru 3 bulan ya dirumahku". Aku dibawanya
    ke dermaga dipinggir laut, sambil berjalan2 menikmati angin laut yang cukup
    kencang, kami ngobrol saja sambil berjalan menyusuri dermaga yang menjorok
    kelaut. Sampe diujung, kamu duduk ditangga yang turun ke bebatuan ditengah
    laut, angin cukup kencang menyapu ombak, sehingga ketika ombaknya memecah di
    bebatuan, airnya memercik tinggi sekali, demek deh pakean kami. "Mas dingin
    ni lama2 disini, bisa basah semua bajuku". Aku saat itu memakai jins ketat
    dan tanktop ketat sehingga lekakliku bodiku keliahatn dengan jales. aku
    kadang melihat juga sebersit kesan napsu di pandangan mata si mas. Biar aja,
    lelaki normal pasti juga gitu kalo ngeliat aku. "Ya udah, balik yuk, kita
    cari miuman anget aja ya, dipntai kayanya ada deh warung kopi atau semacam
    itu. Kembalinya dia menggandeng tanganku, karena dia sering menggandeng
    tanganku kalo sedang berjalan berdua aku, aku diem saja. Sesampai dipantai,
    kami mampir di warung kopi itu. Ramai juga suasana. ada beberapa prempuan
    muda yang menyapa si mas, tapi begitu melihat ada aku, mreka gak jadi
    mendekat. "Mas, terkenal ya, banyak temennya". "Iya mreka kan pake topeng,
    yang disapa itukan duitku". Pulang kerumah, dia bilang, "Din aku mo brenang,
    mo ikutan gak?" "Dah malem gini koq brenang si mas, kan dingin". "Justru
    kalo malem gini brenang airnya anget, bisa bikin relax, jadi gampang
    tidurnya". "aku gak punya pakean renang, mas". "aku punya bikini, kamu mo
    pake?" "Siapa punya mas, cewek2 mas ya". "Ah enggak, aku perna beli buat
    ole2 tapi akhirnya gak jadi aku kasi, buat kamu ja ya". Dia masuk kekamarnya
    dan keluar membawa bikini itu. 'Seksi amat mas bikininya", kataku karena
    bikininya minim sekali. "Prempuan seksi kudu pake pakean seksi dong". Karena
    saat itu dah malem, para pembantu dah istirahat. "Tu ganti ja dikamar
    bilas", katanya menujuk ke satu bangunan pondokan yang merupakan kamar
    bilas. Aku masuk kesana, membuka pakeanku dan mengenakan bikini minim itu.
    Ketika aku keluar si mas dah nunggu aku didipan memakai celana gombrong.

    "Wah seksi kamu Din". Karena minim makanya sebagain besar bodiku terpampang
    dengan jelas. Toketku gak tertutup bra semuanya sehingga belahannya
    kelihatan dengan jelas. Palagi jembutku yang lebat, ngintip dari belahan
    kaki cd nya. Kupikir ya iarlah dia menikmati tubuhku, cuma ngeliat ja gak
    apa, pikirku. Kami berenang mondar mandir beberapa kali. "Din, kamu napsuin
    deh", bisiknya ketika kami istirahat dipinggir kolam. Wah signal2 gak beres
    neh, pikirku. tapi aku diem aja, "udahan yuk mas, dingin lama2". "aku mau
    koq ngangetin kamu", katanya sambil memelukku dan mencium bibirku. "Din, dah
    lama aku suka ma kamu, terangsang ma bodi kamu. kamu ma ya Din ngeladenin
    aku malem ini". Ciumannya asik, kumisnya menggesek bibirku, palagi selama
    dia mengulum bibirku, tangannya asik memerah toketku dari luar braku.
    bendunganku bobol juga, sekian lama aku menahan napsuku untuk gak mikirin
    sex akhirnya gak ketahanan juga. aku diem saja ketika dia menggandengku
    masuk ke kamarnya. Pakean luar ku dan dia punya cuma kutenteng masuk
    kekamarnya.

    Dikamar, kembali dia memeluk aku dan mencium bibirku, lembut dan lama. Aku
    agresif sekali menyambut ciumannya, maklum deh aku dah nahan napsuku lama
    sekali, sekarang ada yang kasi kesempatan, aku gak bisa nahan diri lebih
    lama lagi. Dia terus mencium bibirku dan mulai dilumatnya dengan penuh
    napsu. Aku membalas lumatannya juga. "Din, aku suka sama badanmu yang
    montok", katanya sambil menciumi leherku. Aku diam saja, cuma mengusap2
    pinggungnya. tangannya mulai meremas2 toketku. Gak lama kemudian dia
    melepaskan braku. Ciumannya menjalar menyusuri leherku dan belakang
    kupingnya. Aku menggelinjang kegelian, "Geli mas ". Aku makin menggeliat
    ketika lidahnya menyelusuri toketku dan turun di belahannya. Dia terus
    memainkan lidahnya di toketku tapi tidak sampai ke pentilnya. "mas diisep
    pentilnya dong, nanti Dina isep kon ti mas juga", aku mendesah2. Dia terus
    saja menjilati daerah sekitar pentilku, tapi pentilnya tidak disentuh.

    Kemudian ciumannya turun ke arah perutku sambil tangannya mengusap2 daerah
    memekku. Aku gak tahan lagi, kepalanya kutarik dan kudekatkan ke pentilku.
    "Diisep dong mas ", rengekku. Dia segera mengisap pentilku dan tangannya
    meremas toketku. "Terus mas , diisep yang keras mas , enak mas akh",
    erangku. Dia mengemut pentilku bergantian, demikian pula toketku diremasnya
    bergantian. Sesekali tangannya mengelus2 itilku dari luar CDku. Aku bangkit,
    kulepas semua yang menempel dibadannya. kon tinya yang besar dan panjang
    sudah ngaceng dengan kerasnya. "kon ti mas besar dan panjang ya mas , keras
    banget lagi", kataku sambil menciumi kon tinya dan kukenyot kepalanya.

    Kepalanya kemudian kujilati dan jilatanku turun ke arah bijinya. Seluruh
    kon tinya kujilati. "Enak Din terusin dong emutannya", katanya. CDku
    langsung dilepasnya, "Ni jembut lebat banget", katanya sambil mengelus2
    jembutku yang tambah basah karena lendir memekku. Aku dibaringkan diranjang
    dan kemudian dia memutar tubuhnya sehingga posisinya menjadi 69. Dia mulai
    menjilati memekku. "Enak mas , terus", erangku keenakan. Aku makin
    menggelinjang ketika lidahnya menyentuh itilku. kon tinya kuemut dengan
    keras, kepalaku mengangguk2 mengeluar masukkan kon tinya dimulutku. Karena
    napsuku yang sudah berkobar, akhirnya aku gak bisa bertahan lebih lama lagi,
    aku nyampe kerana itilku dikenyot2nya, "mas , Dina nyampe mas , aakh".
    kon tinya kukocok dengan cepat keras sambil menikmati nyampeku. "Din, aku
    mau ngecret juga Din", katanya terengah. Segera kepala kon tinya kuemut lagi
    dan kukenyot dengan keras, tanganku terus mengocok kon tinya sampai akhirnya
    dia ngecret dimulutku. Banyak banget pejunya nyembur sampe meleleh keluar
    dari bibirku. kon tinya terus kukenyot sampe denyutan ngecretnya hilang baru
    kulepas. Pejunya kutelan tanpa rasa jijik, "Din nikmat banget ya emutanmu,
    pastinya emutan memekku lebih nikmat lagi ya", katanya terengah. Aku
    berbaring disebelahnya, kupeluk badannya. Belum dien tot saja dia sudah
    menggiring aku ke kenikmatan.
  3. Setelah itu kami membersihkan diri di kamar mandi. Didalam kamar mandi pun
    kami saling membersihkan badan pasangan. kon tinya mengeras lagi ketika
    kukocok2 pelan2, aku jongkok didepannya dan mengemut kon tinya lagi,
    langsung saja kon tinya ngaceng dengan kerasnya. Kepalaku bergerak maju
    mundur memasuk keluarkan kon tinya dimulutku. DIa gak bisa menahan diri
    lagi, langsung dia duduk di toilet, aku dipangkunya menghadap dirinya,
    sambil mengarahkan kon tinya ke memekku. Segera kon ti besarnya nancep
    dimemekku, terasa sekali memekku melebar untuk menampung kon tinya yang
    dienjotkan pelan2 sehingga makin nancep di memekku, "Enak mas , ssh". Aku
    mengenjotkan badanku maju mundur supaya kon tinya bisa nancep dalem di
    memekku, diapun mengenjotkan kon tinya juga sehingga terasalah gesekan
    kon tinya dimemekku. Nikmat banget rasanya. Sedang nikmat2nya, tiba2 dia
    berhenti mengenjotkan kon tinya. Dia menyuruhku memutar badanku tanpa
    mencabut kon tinya dari memekku. Aku disuruhnya nungging sambil berpegangan
    di wastafel.

    Mulailah dia mengenjotkan kon tinya dari belakang. Sambil mengenjot, toketku
    yang mengayun2 seirama enjotannya diremas2nya. "Akh mas , nikmat banget mas
    . kon ti mas nancepnya dalem banget mas. Sesek memek aku rasanya, gesekan
    kon ti mas kerasa banget, enjot terus yang cepet mas , aku udah mau nyampe
    lagi", erangku. "Cepet banget Din", katanya. "Abis nikmat banget sih mas
    kon tinya, jadi aku gak bisa nahan lagi", erangku. Dia makin cepat
    mengenjotkan kon tinya keluar masuk sampe akhirnya aku menggelinjang dengan
    hebat, "Akh mas , aku nyampe lagi, aku lemes mas ", erangku terengah2.
    Karena aku mengeluh lemes, dia mencabut kon tinya yang masih perkasa dan
    minta diemut lagi. Dia kembali duduk di toilet dan aku berlutut didepannya.
    Kembali kon tinya kuemut2 sambil kukocok2 dengan cepat dan keras, sampe
    akhirnya, "Din, aku ngecret lagi Din". Dia mengecretkan pejunya lagi didalem
    mulutku. Walaupun ini yang kedua, pejunya tetep saja banyak ngecretnya.

    Seperti tadi pejunya kutelen sambil terus mengemut kon tinya. Kami balik
    keranjang dan berpelukan, gak lama kami tertidur, penuh rasa kenikmatan
    terutama buat aku. Subuh aku terbangun, segera aku memakai pakeanku dan
    kleuar kamarnya, kalo maen lagi bisa keterusan tidurnya, nanti jadi bahan
    gosip orang serumah lagi. "Mas lanjutin nanti malem lagi ja ya, biar gak ada
    yang tau", kataku sambil meninggalkan kamarnya. Belum ada yang bangun
    sehingga aku mengendap2 menuju kamarku. Dikamarku, aku melepas semua yang
    kukenakan, berbaring dan meraba2 seluruh badanku, masih terasa bagimana
    besarnya kon tinya menyesaki memekku. Napsuku timbul lagi, aku menahannya,
    nanti malem kan bakalan ada ronde berikutnya. Hari itu berlalu dengan sangat
    lambat rasaku. Dia bilang, nanti malem kita create alesan miting di hotel
    sore sampe malem, jadi gak pulang kerumah, biar bisa muas2in maen ampe pagi.

    Aku mah hayu ja. Menjelang sore, dia pulang kerumah, dia kasi instruksi ma
    para pembantu bahwa dia akan miting sore sampe jauh malem, aku akan diajak
    supaya tau apa yang harus dilakukan kalo aku bantu juga jadi asisten di
    pekerjaannya. Para pembantu mah iya aja, namanya juga big boss yang ngomong.

    Aku disurunya pakean rapi, seperti beneran mo pergi miting. Menjelang
    magrib, aku ikut mobilnya, dia drive sendiri karena malem ini kebetulan pak
    sopir ada keprluan, gak tau ini kebetulan atau dia yang nyuru pak sopir off.
    Bilangnya si pak sopir yang minta off karena ada keperluan. gak pentinglah
    itu.

    Kami cari makan malem dulu, santai karena kami punya waktu seluruh malem
    sampe pagi. Setelah makan, dia membawaku ke satu hotel bintang 5, super
    mewah lah pokoknya, dia juga pesen kamar suit buat merayakan kenikmatan bagi
    kami berdua. Hari dah larut malam. "Mas, ngapain pesen yang paling mahal,
    kan cuma buat ngen tot kan". "Bener si cuma buat ngen tot, tapi aku mau
    ngen totnya kita ini berkesan buat kamu, juga nuat aku", jawabnya sambil
    mencium bibirku, mula2 si lembut. "aku beli bikini laen, kamu pake deh".

    "Mangnya mo berenang mas, mana kolam renangnya". "Berenang kan gak usah
    dikolam, diranjang juga bisa kan". Dia tersenyum. Aku segera masuk ke
    kekamar mandi, membuka semua pakeanku dan mengenakan bikini itu. sama
    minimhya dengan yang semalem, sehingga ampir semua bagian tubuhku terekspose
    dengan indahnya. Dia membelalak meliat bodiku yang seksi itu, segera aku
    dipeluknya dengan erat. Bibirku langsung diciumnya dengan penuh napsu,
    lidahnya yang dijulurkan ke mulutku kuisep kuat2 juga. Aku melingkarkan
    tanganku di lehernya. Dia langsung meremas2 toketku. Terasa kon tinya sudah
    ngaceng menekan ke perutku. Dia terus saja meremas2 toketku, ikatan braku
    diuraikannya sehingga terlepas. Baru kupakai gak sampai 5 menit dah dilepas
    lagi, he he. pentilku yang sudah mengeras langsung dijilatinya. Aku jadi
    menggelinjang kegelian dan juga nikmaat. Jilatannya turun terus ke bawah, ke
    puserku dan terus menciumi daerah memekku. CD bikiniku sudah basah. "Din
    kamu sudah siap dien tot ya, udah basah begini", katanya sambil melepas
    ikatan CDku. Gantian aku yang segera melucuti semua pakaiannya sehingga kita
    sudah berbugil ria. Dia membopongku sambil terus menciumi bibirku, kuat juga
    dia membopongku.

    Aku dibaringkan di ranjang, dia terus menciumi seluruh tubuhku, napsuku
    sudah berkobar2, berkali2 aku menggelinjang. Sambil mengulum bibirku,
    tangannya mengelus2 pinggulku, kemudian jarinya mulai mengilik memekku dan
    akhirnya itilku yang menjadi sasaran. Aku mengangkangkan pahaku supaya dia
    mudah mengakses memek dan itilku. Aku menggeliat2 saking napsunya. Jarinya
    makin cepet menggesek itilku, aku mengangkat2 pantatku karena sudah pengen
    banget dienjot, "Ayo dong mas , aku dien tot, udah pengen banget kemasukan
    kon ti mas lagi", rengekku. Dia kemudian menelungkup diatasku, kon tinya
    diarahkan ke memekku dan mulai nancep kepalanya di memekku, "Akh, enak mas ,
    masukin semuanya mas ", lenguhku. Dia mulai mengenjotkan kon tinya keluar
    masuk, makin lama makin cepat dan akhirnya dengan satu enjotan keras seluruh
    kon tinya nancep semuanya di memekku, "Akh, enak mas , masuk semuanya ya mas
    , memekku sampe sesek banget rasanya kesumpel kon ti mas ". Dia terus
    mengenjotkan kon tinya keluar masuk makin cepat dan keras, nikmat banget
    rasanya, "Enak mas , terus mas , enjot yang cepet dong", rengekku terus.
  4. Setengah permainan dia mencabut kon tinya dari memekku, "kenapa dicabut mas
    , belum nyampe", protesku. "Variasi dong", jawabnya sambil menjepitkan
    kon tinya yang keras banget di toketku. Aku menjepit kon tinya dengan
    toketku, dia bergerak maju mundur, menggesekkan kon tinya di toketku. Ketika
    dia memajukan kon tinya, kepalanya kuemut sebentar dan kemudian terlepas
    karena dia memundurkan lagi, terus seperti itu. "Enak Din", erangnya.

    Setelah puas digesek toketku dia berubah posisi lagi, "Kamu sekarang diatas
    ya Din", katanya sambil berbaring. Segera aku menaiki badannya dan
    menempatkan kon tinya yang ngaceng tegak di memekku. Aku menurunkan memekku
    pelan2 dan bles, kon ti besarnya mulai ambles di memekku, "Akh, enak banget
    mas ", lenguhku. Aku menaik turunkan pantatku dengan cepat sehingga
    kon tinyapun makin cepat terkocok2 didalem memekku, nikmat banget rasanya.
    Dia pun melenguh, "Enak Din, terus yang cepet". Aku merunduk dan mencium
    bibirnya, dia memeluk punggungku sambil gantian mengulum bibirku. Dia
    meremes2 toketku yang berguncang2 seiring dengan naik turunnya badanku
    mengocok kon tinya. Pentilku diplintir2nya. Aku makin bernapsu mengocok
    kon tinya dengan memekku. Dia memegang pinggulku sementara aku terus
    mengocok kon tinya. Kocokanku makin kencang, "mas , aku sudah mau nyampe
    nih", kataku terengah. DIa meraba itilku dan dikilik2nya, ini mempercepat
    proses aku nyampe, "Akh, mas , aku nyampe, akh nikmatnya", lenguhku dan aku
    ambruk menelungkup dibadannya.

    Aku mengeluarkan kon tinya dari memekku, masih perkasa kon tinya. Kemudian
    kon tinya aku ciumi dan kepalanya aku emut, kepalaku mengangguk2 mengeluar
    masukkan kon tinya dalam mulutku. "Din, kamu lihai dalam urusan ranjang nih,
    latihan sama siapa?" tanyanya. Aku tak menjawab, kon tinya terus kuemut
    sambil kukeluar masukkan di mulutku, batangnya aku kocok2 dengan cepat. "Akh
    enak banget Din" erangnya. Cukup lama aku mengemut kon tinya, rupanya karena
    sudah ngecret 2 kali, dia bisa bertahan lama sekali. kon tinya dikeluarkan
    dari mulutku dan aku disuruhnya nungging dipinggir ranjang. Dari belakang
    sambil berdiri dia mencolokkan kon tinya lagi kedalam memekku, sekali enjot
    kon tinya sudah amblas semua ke memekku, "Akh, enak banget mas ", erangku.

    Dia mengenjotkan kon tinya keluar masuk memekku, karena dia berdiri
    enjotannya terasa lebih keras dan lebih cepat, nikmatnya gak terlukiskan
    dengan kata2. Dia meraba2 lubang pantatku, kemudian terasa jarinya
    ditusuk2kan kepantatku. "mas sakit", protesku. Dia berhenti menusuk2
    pantatku, pinggulku dipegangnya sambil mengenjotkan terus kon tinya keluar
    masuk dengan cepat dan keras. Dia membungkuk dipunggungku supaya bisa
    meremes2 toketku yang berguncang2 seirama dengan sodokannya. Pentilku
    kembali diplintir2nya. "Enak mas , terus enjotannya, aku udah mau nyampe
    lagi mas ", erangku. "Cepet kok Din, aku belum ngerasa apa2", katanya sambil
    terus mengenjot memekku. Akhirnya aku tak bisa nahan lebih lama lagi, "mas ,
    aku nyampe mas , akh", aku tersungkur diranjang karena lemes, kon tinya
    tercabut dari memekku, masih keras dan berlumuran lendirku. Dia tidak
    memberi kesempatan aku istirahat, aku ditelentangkan dan kon tinya
    dimasukkan lagi ke memekku, terus mulai dienjotkan lagi keluar masuk dengan
    cepat dan keras. "mas , kuat amat sih ngen totnya, aku udah lemes mas , abis
    udah 2 kali nyampe", lenguhku, Dia tidak memperdulikan lenguhanku, terus
    saja kon tinya dienjotkan keluar masuk. Rupanya dia udah mau ngecret, makin
    lama enjotannya makin cepet dan keras, aku sudah pasrah saja telentang
    keenakan. Toketku diremas2 sambil memlintir2 pentilku, akhirnya "Din aku
    ngecret", dan terasa semburan pejunya dimemekku. Aku memeluk dan mengelus2
    punggungnya. "mas , nikmat banget ngen tot dengan mas , istirahat dulu ya mas
    , aku udah lemes banget", dia mencabut kon tinya dan rebah disebelahku. Tak
    lama kemudian aku tertidur kelelahan.

    Aku terbangun karena merasa ada yang mengelus2 toketku, dia sedang
    memandangi aku sambil mengelus2 toketku, "udah pagi ya mas ", kataku
    setengah ngantuk. "Belum baru jam 5, masih bisa seronde lagi ya Din",
    jawabnya. Luar biasa dia ini, gak puas2nya ngen totin aku. Aku dipeluknya dan
    bibirku diciumnya, aku membalas memeluknya. kon tinya mulai kuremas2
    sehingga terasa kembali mengeras, terus saja kuremas2 sampe jadi keras
    sekali. Dia sudah siap nyodok memekku lagi. Aku bangun dan mulai mengisap
    kon tinya, dia merubah posisi menjadi 69 sehingga bisa mengakses memekku.

    Memekku dijilatinya, aku mengangkangkan pahaku sehingga dia bisa menjilati
    itilku, Isepan ku menjadi melemah karena serangan fajar nya di memekku, "mas
    , subuh2 gini sudah ngasi kenikmatan lagi buat aku", kataku sambil mengocok2
    kon tinya. "mas , aku sudah napsu banget, dimasukin lagi dong mas ",
    pintaku. Dia sudah napsu juga, segera aku ditelentangkan, dinaiki dan
    kon tinya ditancapkan lagi ke memekku, kemudian mulai dienjotkan keluar
    masuk. Sebentar saja seluruh kon tinya sudah nancap kemabli di memekku,
    enjotannya tambah cepat dan keras, "Enak banget mas ", erangku. Dia terus
    saja mengenjot memekku dengan kon tinya. Akhirnya kembali aku mengejang
    keenakan, "mas , aku nyampe mas . mas pinter amat sih nyodok memekku,
    sebentar saja aku sudah nyampe", lenguhku. Dia terus saja mengenjotkan
    kon tinya keluar masuk. Cukup lama dia mengenjot memekku dengan kon tinya
    sampe akhirnya aku nyampe lagi, "mas aku nyampe lagi mas, mas lama banget
    sih ngecretnya, aku udah lemes banget mas ", erangku. Dia terus saja
    mengenjot memekku sampe akhirnya "Din, aku ngecret", dia menancapkan
    kon tinya dalem2 di memekku dan terasa semburan pejunya di memekku. "Nikmat
    banget ngen totin kamu Din, memek kamu bisa kedutan, kerasa kaya diemut sama
    mulut kamu", katanya. Kemudian dia mencabut kon tinya dari memekku dan
    berbaring disebelahku. "Din, nanti sore kita lanjut lagi yuk, kita ngen tot
    semalem lagi", katanya. Aku hanya tersenyum dan akhirnya tertidur lagi
    dipelukannya.

    Hari itu aku melakukan altivitas di rumah dengan lesu, maklum aja semaleman
    dien tot sampe nyampe berkali2, pastinya ngantuk dan lemes. Malemnya, dia
    menjeputku lagi dirumah, kembali dia kasi instruksi kalo aq mesti menghadiri
    penutupan miting yang kemaren. Pinter anget dia buat skenarionya, yang
    lainnya yang ada dirumah mah ho oh ja kalo bis bos yang nyampein. Kami nyari
    makan dulu seperti kemaren, selesai makan dia ngajakin aku santai di pub,
    dengerin musik sambil becanda2. Deket tengah malem baru balik ke hotel lagi.

    Dia masuk kamar mandi, ketika keluar hanya mengenakan celana pendek dan t
    shirt. Dia mengambilkanku can soft drink dingin, dibukakan untukku. Aku
    meminumnya. "Mau mandi yang?' tanyanya sambil memelukku. Aku diciumnya,
    tangannya segera meremas2 toketku kembali. Napsunya bukan main. Segera aku
    ditelanjanginya, toketku diciuminya dan pentilku diemut2nya, segera saja
    pentilku mengeras. Tangannya segera saja mengiliki2 itilku, dia sepertinya
    mau memanfaatkan waktu seefisien mungkin. "mas , kok napsu banget sih sama
    aku", tanyaku. "Abis ngen totin sama kamu nikmat banget sih", jawabnya. "Aku
    juga dapet nikmatnya dipatil lagi sama kon ti mas ", jawabku. Kemudian dia
    melepas celana dan t shirtnya, dia rupanya tidak mengenakan CD. kon tinya
    sudah ngaceng dengan keras. Dia duduk diubin di depanku, kakiku
    dikangkangkannya. Badanku diseretnya sehingga aku setengah rebah di
    dipinggir sofa. Lidahnya mulai menggesek memekku dari atas ke bawah. Itilku
    menjadi sasaran berikutnya, dijilat, dihisap, kadang digigit pelan, dijilati
    lagi, "mas , enak banget mas , terus mas ", erangku. Dia terus menjilati
    itilku sampe aku nyampe. "Akh mas , belum dien tot aku sudah nyampe kaya
    kemaren2, mas lihai banget deh makan memekku", kataku. Dia berdiri, aku
    ditariknya supaya duduk. kon tinya tepat ada dimukaku, segera saja aku
    genggam dan kuemut kepalanya. mulutku mulai mengeluar masukkan kon tinya
    sambil batangnya kukocok2 dengan cepat dan keras. Dia mengejotkan kon tinya
    pelan dimulutku seperti sedang ngen totin mulutku.
  5. Beberapa saat kemudian, dia berbaring disofa, aku segera menaiki badannya
    dan menancapkan kon tinya di memekku, kusentakkan badanku kebawah dengan
    keras sehingga sebentar saja kon tinya udah nancep semua di memekku. Aku
    menaik turunkan pantatku dengan cepat sehingga kon tinya terkocok oleh
    memekku dengan cepat juga, "Akh nikmat banget Din" erangnya. Aku merasa
    sudah mau nyampe, tapi dia menahan badanku sehingga aku berhenti mengenjot.

    kon tinya dikeluarkan dari memekku, aku disuruhnya telungkup menungging di
    sofa dan kembali kon tinya ditancapkan ke memekku dari belakang. "Bles,
    kon tinya langsung saja nancep semuanya ke memekku, "Akh, nikmatnya,", kali
    ini aku yang menggerang. Dia langsung mengenjot memekku dengan cepat dan
    keras. Terasa sekali kon tinya menggesek memekku, kalo dienjotkan dengan
    keras terasa kon tinya nancep dalem sekali di memekku. Makin cepat dienjot
    makin nikmat rasanya. Tiba2, "akh mas , aku nyampe, mas " , kenikmatanku
    meledak juga akhirnya. DIa terus saja mengenjotkan kon tinya keluar masuk
    dengan cepat sampe akhirnya kembali dia ngecret "Din, aku ngecret, nikmat
    banget rasanya Din", terasa kembali pejunya membanjiri memekku. "mas , aku
    lemes banget mas. mas gak ada matinya ya", kataku sambil tersenyum. "Ya udah
    kita mandi dan terus tidur, besok pagi kita main lagi ya", jawabnya sambil
    masuk ke kamar mandi. Aku berbaring saja di sofa sambil istirahat. Selesai
    mandi, dia keluar masih bertelanjang bulat. Giliranku mandi. Nikmat berdiri
    dibawah shower air hangat, apalagi setelah kerja keras barusan. Selesai
    mandi, dia sudah berbaring diranjang, aku berbaring disebelahnya dan tak
    lama kemudian aku tertidur.

    Ketika terbangun, hari sudah terang, aku males ngelakuin apa2, mendingan
    juga sama dia mereguk kenikmatan. Aku bangun ke kamar mandi, pipis dan sikat
    gigi. Aku pake saja sikat gigi yang ada, muka kubasuh dengan air dingin.
    Seger sekali rasanya. Ketika keluar dari kamar mandi dia sudah bengun. Dia
    sedang menyeduh kopi dan menghangatkan roti di microwave. Karena ini suite
    room makanya fasilitasnya lengkap. Aku duduk di meja makan. Dia
    menghidangkan roti. Aku menikmati saja yang disediakannya. "Mas, gak pulang
    kita, ntar timbul pertanyaan?'. "Tadi aku dah sms pak supir, ngasi tau kalo
    kita masi nyelesain kerjaan dulu baru pulang". "Bisa aja mas cari alesan".

    Sehabis mengisi perut, dia langsung menarik tanganku kembali ke ranjang. Aku
    dipeluknya, tangannya segera saja meremas2 toketku sambil mencium bibirku
    dengan gemasnya. Pentilku diplintir2nya pelan, napsuku segera saja berkobar,
    pentilku segera mengeras. Aku tidak tinggal diam, kon tinya yang sudah
    ngaceng keras sekali kukocok2. "Aku isep ya mas", kataku sambil mengubah
    posisi mendekati kon tinya. Kepala kon tinya kujilati kemudian pelan2
    kumasukkan ke mulutku. kon tinya kukulum2, kukeluar masukkan di mulutku.
    "Enak Din", erangnya. Kemudian dia menarik aku kembali kepelukannya. Bibirku
    kembali dilumatnya, aku membalas lumatannya, sementara tangannya terus saja
    meremas2 toketku. Tangannya kemudian mengarah kebawah, itilku menjadi
    sasaran berikutnya. "Akh mas , enak", erangku. Dia menciumi leherku, terus
    kebawah mengemut pentilku bergantian, aku terus mengerang keenakan.

    Ciumannya terus mengarah kebawah, berhenti di puserku sehingga aku
    menggelinjang kegelian, "Geli mas , nakal ih pagi2", kataku manja. Akhirnya
    sampailah ciumannya pada sasaran sesungguhnya, memek dan itilku. Jilatannya
    segera menyerbu itilku. Aku sudah mengangkang selebar2nya supaya dia mudah
    menjilati itilku. Dia meletakkan bantal dibawah pinggulku. "buat apa mas ,
    kan kon ti mas panjang. Gak usah diganjel masuknya juga dalem banget",
    tanyaku. Dia tidak menjawab, terus saja menjilati itilku yang makin
    terexpose karena ganjelan bantal itu. Aku jadi tau kenapa dia mengganjal
    pantatku dengan bantal, supaya dia mudah menjilati itilku. Jilatannya
    berubah menjadi emutan, itilku diemut2nya pelan. Aku menjadi makin
    blingsatan. "Akh mas , aku udah pengen dien tot, mas . Masukin dong kon tinya
    mas ", erangku. Dia menghentikan emutannya, aku dinaikinya dan mengarahkan
    kon tinya ke memekku. Dia menggosok2kan kepala kon tinya di memekku yang
    sudah basah banget, "Ayo dong mas , tancepin aja semuanya", erangku gak
    sabar. Aku makin menggelinjang karena gosokan kon tinya itu. Pelan2
    dimasukkannya kon tinya ke memekku. Dia menekan kon tinya masuk sedikit2
    demi sedikit. Karena ganjalan bantal, kon tinya jadi lebih mudah nancep.
    "Akh, ssh, enak banget mas , tancepin aja semuanya sekaligus sampe mentok",
    kataku. Dia mulai mengenjotkan kon tinya keluar masuk pelan sehingga sedikit
    demi sedikit kon tinya nacep makin dalem aja. Nikmat banget disodok kon ti
    besar dan keras kaya begitu. Enjotannya makin cepat dan dengan sekali hentak
    dkon tinya ditancepkan semuanya ke memekku, "akh enak banget mas ", erangku.

    Dia terus saja mengenjotkan kon tinya dengan keras dan cepat, "enak mas ,
    terus mas , yang cepet, aku udah mau nyampe mas ", erangku terengah2. Tau
    aku udah mau nyampe, dia mempercepat enjotan kon tinya, setiap enjotannya
    lengsung menancapkan kon tinya dalam2 di memekku. Pantatku menggeliat2 tidak
    teratur saking nikmatnya. Akhirnya sampe juga puncak kenikmatan buatku.
    Kakiku segera membelit kakinya, aku memeluk punbggungnya, "mas , aku nyampe,
    akh, ssh, enak banget mas ", jeritku keenakan. Dia terus saja mengenjotkan
    kon tinya keluar masuk setelah aku meletakkan kakiku diatas ranjang lagi,
    rasa nikmat membuatku terkapar, napasku tersengal2, dia tidak peduli dengan
    kondisiku, tetap saja kon tinya dienjotkan dengan cepat dan keras. Sebentar
    kemudian napsuku sudah bangkit lagi, aku mulai menggeliat2kan pantatku. "Din
    ganti posisi yuk", katanya sambil mencabut kon tinya dari memekku. Aku
    disuruhnya menungging dipinggir ranjang. Dia berdiri dibelakangku dan
    menancapkan kon tinya dimemekku. Sekali sodok, kon tinya sudah nancep sampe
    pangkalnya. Sambil berdiri dia mengenjot memekku. kon tinya bergerak keluar
    masuk memekku dengan cepat dan keras. Enjotannya lebih terasa keras karena
    dia berdiri sehingga tenaga enjotannya menjadi lebih besar, buatku sih
    tambah nikmat jadinya. "Akh mas , enak banget, enjotan kon ti mas terasa
    banget keluar masuk memek Dina, terus mas , ssh", erangku. Dia mempercepat
    enjotan kon tinya, "Din, aku udah mau ngecret Din", katanya. "iya mas , aku
    udah mau nyampe lagi, barengan ya mas ", jawabku. Tiba2 dia menjenjotkan
    kon tinya dalem2 dengan keras, "Din, aku ngecret, akh, ssh", erangnya.
    Akupun mengejang karena aku nyampe lagi, "mas aku juga nyampe mas , akh
    nikmat banget mas ," jeritku. Dia menelungkup diatas punggungku sehingga aku
    rebah keranjang. kon tinya tercabut dari memekku.
  6. Dia berguling dan berbaring disebelahku yang masih nelungkup. "mas , nikmat
    banget deh enjotannya kalo mas ngenjotnya sambil berdiri", kataku. Dia hanya
    tersenyum. Aku bangun ke kamar mandi, pipis. Kemudian memekku kusiram dengan
    shower, dingin rasanya. Kembali ke ruangan aku mengambil air dingin di
    lemari es, kuminum habis segelas, aku mengisinya lagi dan kuberikan
    kepadanya yang masih terkapar kelelahan. Aku masih pengen sekali lagi
    ngerasain kon tinya keluar masuk, segera saja aku mulai menjilati kon tinya.
    Terus kuemut2 sambil kukocok2, gak lama kon tinya sudah keras lagi. "Hebat
    mas , udah ngaceng lagi", kataku sambil terus mengocok kon tinya. "Kamu juga
    hebat Din, napsu kamu cepet sekali berkobar, kayanya kamu gak puas2 ya makan
    kon tiku", katanya. "Mana bisa puas mas , kan gak tiap hari memek ku keiisi
    kon ti mas , mumpung ada kesempatan ya dituntasin aja", kataku sambil
    kembali mengemut kon tinya. "Kan sekarang bisa tiap malem kalo kamu mau".

    Aku mengubah posisi nelungkup sambil mengangkang diatas mukanya, posisi 69.
    Dia tau apa yang harus dikerjakannya, sambil menikmati kon tinya yang sedang
    kuemut2 dia segera menjilati memekku sampe ke pantatku, itilku dikilik2
    dengan tangannya. Aku segera bangun dan menduduki kon tinya, kon tinya
    segera saja ambles dimemekku sekali lagi. Aku menaik turunkan pantatku
    sambil engejangkan memekku meremas kon tinya. Enjotanku makin cepat, dia
    merintih2 keenakan, "Enak Din, empotan memek kamu kerasa banget, lihai
    sekarang kamu ya Din", katanya. Setiap enjotan kebawah membuat kon tinya
    nancep semua di memekku. Setiap aku menaikkan pantatku, tampak bibir memekku
    turut terarik keluar karena cengkeraman memekku di kon tinya. Enjotanku
    makin lama makin cepat, 'akh mas enak mas , aku udah mau nyampe lagi",
    erangku, dia meremas2 toketku yang berguncang2 mengikuti irama enjotanku,
    pentilku diplintir2nya menambah kenikmatanku. Sampa akhirnya, "Akh mas , aku
    nyampee mas , ssh", akupun mabruk didadanya.

    Dia segera menggulingkan aku sehingga sekarang dia yang diatas, kon tinya
    yang masih keras tetap nancep di memekku. DIa sekarang yang ambil peran,
    mengenjot memekku dengan cepat dan keras. Cepat sekali enjotannya, aku hanya
    bisa ber aakh ssh saja saking enaknya, sampe akhirnya diapun gak tahan lagi,
    "Din, aku ngecret Din", erangnya sambil menancapkan kon tinya sedalam2nya di
    memekku. Terasa semburan pejunya di memeku sehingga akupun nyampe lagi untuk
    kesekian kalinya. Benar2 event yang sangat nikmat. Aku dien tot berkali2 dan
    berkali2 juga nyampe. Wah benar2 terpuaskan napsuku yang tertahan2 selama
    ini. Setelah istirahat dan mandi, dia mengantarkanku pulang kerumah.

Tidak ada komentar: