Pages

Minggu, 24 Juni 2012

daun muda cinta terlarang

  1. Aku Dina. Pertama kali aku mengenal cinta, hatiku sangat berbunga-bunga.
    Hanya sayangnya cinta pertamaku jatuh tidak pada orang yang tepat. Dia
    seorang pria yang sudah berkeluarga. Jadilah kami backstreet. Aku kenal dia,
    yang kupanggil MAS, ketika aku datang ke ultah temenku. Dia saat itu enjadi
    event organizer acara ultah tersebut. Sejak awal melihat dia aku sudah
    tertarik. Dia ganteng dan badannya atletis, aku diperkenalkan ma dia oleh
    temanku yang ultah. "Din, ini MAS, dia yang nyelenggaraan pesta ini, asik
    kan pestanya. Kamu nemenin MAS ngobrol ya". Temanku itu tau kalo aku suka
    dengan pria yang umurnya jauh lebih tua dari aku. Kami jadi asik ngobrol
    ngalor ngidul. Dia sangat humoris sehingga aku selalu terpingkal-pingkal
    mendengar guyonannya. Makin lama guyonannya makin mengarah yang vulgar, aku
    sih ok aja. Ketika aara makan, dia menemani aku menikmati hidangan yang
    tersedia. Ketika acar dansa, dia mengajak aku turun, ketika itu lagunya
    slow. Aku larut dalam dekapannya yang sangat mesra. Dia berbisik: "Din, kamu
    cantik sekali, kamu yang paling cantik dari semua prempuan yang dateng ke
    pesta ini. Aku suka kamu Din". "Mas kan dah punya keluarga, masak sih suka
    ma abg kaya aku". "Justru karena kamu masih abg, kecantikan kamu masih
    sangat alami, bukan polesan make up yang tebal".

    Memang sih dandananku biasa saja, tanpa make up yang tebal. Perempuan mana
    sih yang gak suka dipuji lelaki yang kebetulan dikaguminya. Ketika pulang
    dia mengantarkan aku pulang, sebelum aku turun dari mobil, pipiku
    dikecupnya, "Kapan2 kita ketemuan lagi ya Din, ni nomer hpku". Kami
    bertukaran no hp. Sejak pertemuan pertama itu, kami sering jumpa di mal,
    di bioskop atau ditempat fitnes.

    Karena dia tau aku suka fitnes, makanya diapun mendaftar menjadi member
    ditempat aku biasa fitnes. Karena sering ketemu, hubungan kami makin lama
    makin akrab. Dia adalah lelaki pertama yang mencium bibirku. Itu kejadiannya
    ketika kami sedang dibioskop. Karena bukan weekend, jumlah penontonnya
    sedikit, sehingga dia milih tempat duduk yang jauh dari penonton lain. Dia
    berbisik: "Din, aku sayang sekali ma kamu. Kamu?' "Aku juga sayang ma Mas,
    sayangnya ma dah keluarga ya". "Kita jalani aja dulu Din, gak apa kan kalo
    backstreet kaya gini. Pokoknya aku akan berusaha untuk ketemu kamu sesering
    mungkin, sayang". Dia meluncurkan rayuan mutnya, sehingga
    aku makin berbung-bunga. "Din..", panggilnya lagi. aku menoleh karahnya.
    Karena duduk kami berdempetan, dia langusng merangkul pundaknya dan
    mendekatkan bibirnya ke bibirku. aku memejamkan mataku, terasa lembut sekali
    bibirnya menyentuh bibirku, kemudian terasa bibirnya mulai mengisap bibirku.

    aku pasrah ketika dia cukup lama mengecup bibirku. "Mas", desahku ketika dia
    melepas bibirnya, seakan aku gak rela dia melepaskan bibirku. Diapun
    mengecup bibirku lagi, kali ini lebih lama lagi. Demikianlah sepanjang film
    itu kami tidak menikmati filmnya tetapi aku menikmati bagaimana bibirnya
    mengulum-ngulu bibirku. "Mas, aku sayang sekali ma mas, aku mau jadi pacar
    mas".

    Sejak kejadian dibioskop itu, kami menjadi rutin berciuman kalo ketemu,
    paling tidak kami melakukannya sebentar di mobil sebelum mobil jalan atau
    sebelum aku turun didepan rumahku. Temenku mengingatkan aku agar jangan
    terlalu larut dalam berhubungan dengan Mas, karena dia dah berkeluarga.
    "Nanti kamu yang nyesel lo kalo dia harus mutusin hubungan kamu dengan dia".
    Tapi aku tidak mengindahkan himbauan temanku. Aku seakan buta tertutup cinta
    yang makin lama makin berkobar-kobar.

    Sampai suatu weekend, dia mengajakku ke satu vila diluar kota, katanya dia
    mau survei tempat itu karena akan diadakan perhelatan disana. "Temenin aku
    yuk, mumpung bisa keluar kota ma kamu. Mau ya sayang". Karena aku dah lama
    pengen berdua dia seharian, aku turuti saja ajakannya. Ke ortu, aku pamit mo
    jalan ma temen2 ke vila mereka. Aku seneng sekali ketika dah duduk
    disebelahnya dalam mobilnya. Mobilnya meluncur arah luar kota. Saat itu aku
    mengenakan celana ketat dari kain yang cukup tipis berwarna putih sehingga
    bentuk bokongku yang bulat padat begitu kentara, dan bahkan saking ketatnya
    CDku sampai kelihatan sekali berbentuk segitiga. Atasannya aku mengenakan
    baju kaos putih ketat dan polos sehingga bentuk toketku yang membulat
    terlihat jelas, kaosku yang cukup tipis membuat braku yang berwarna putih
    terpampang jelas sekali. "Din, kamu seksi sekali deh pake pakean kaya gitu".
    "Mas suka kan". "Suka banget, palagi kalo amu gak pake baju Din". "Ih mas,
    mulai deh genit, aku turun disini aja deh", aku pura2 merajuk, padahal dalam
    hati seneng sekali mendengar pujiannya. "Ya udah turun aja he he",
    tertawanya berderai ketika dia mengatakan hal itu, tetpi mobil tetap melaju
    kencang. "Katanya disuruh turun, kok gak minggir". "Loncat aja kalo berani".
    "mas, iih", kataku sambil mencubit pinggangnya, mesra. Dia menggeliat
    kegelian, "Jangan dikitikin dong, nanti nabrak lo". "abis mas sih
    mulai duluan". Sepanjang jalan kami bercanda rian, sesekali tangannya
    gantian menggelitiki pinggangku, sehingga aku menggelinjang. Kadang
    tangannya mendarat di pahaku dan mengelus2nya sampe kedeket pangkal pahaku.
    aku menjadi merinding karena rabaannya. Maklum deh dia pria pertama yang
    melakukan hal ini. "Maas", aku hanya melenguh ketika pahaku dielus2 begitu.
    Karena aku tidak menolak, maka dia meneruskan elusannya dipahaku. aku
    menjadi gelisah, dudukku gak bisa diam, ada rasa geli bercampur nikmat dan
    aku merasa pengen kencing. "Mas maih jauh ya".

    "Napa Din". "aku pengen pipis". "Bentar lagi juga sampe. Itu bukan pengen
    pipis biasa Din". "abis apaan?" "Pasti kamu terangsang ya karena aku ngelus2
    paha kamu". "Ih", kucubit lagi pinggangnya.
  2. Mobilnya sudah masuk ke satu vila. Ada seorang bapak2 yang menyambut di
    gerbang vila. Dia orang yang ditugaskan pemilik vila untuk menunggui vila
    itu. Aku keluar dari mobil, ikut dengan dia melihat lokasi. Vilanya tidak
    terlalu besar tetapi halamannya luas. Dia mulai mengeluarkan catatannya,
    mengukur sana mengukur sini, mencoret2 di buku catatannya. Kadang dia
    menanyakan pendapatku tentang satu hal. Aku menjawab setauku saja. "Setelah
    selesai, dia berkata kepada si bapak, "Pak kami mo menginap di vila ini".
    "Iya, yang punya dah kasi tau bapak, ya silahkan saja pak. sudah saya sediakan
    makanan secukupnya di lemari es, kalo mo makan ya silahkan dihangatkan dulu.
    soalnya bapak mo pulang". Si bapak meninggalkan kami berdua. "Din, kita honimun ya",
    katanya sambil tersenyum. aku jadi berdebar2membayangkan apa yang aka
    dilakukannya padaku. Aku sering mendengar cerita teman2ku ang sudah pernah
    berhubungan sex dengan cowo2nya, mendengar betapa nikmatnya kalo mem3k
    kemasukan kont0l. Aku jadi merinding sendiri, aku pengen juga mengalami
    kenikmatan itu.

    Aku menghempaskan pantatku di sofa, dia menyusulku segera dan duduk rapat di
    sampingku, “Dina sayang” katanya sambil menggenggam erat dan mesra kedua
    belah tanganku. Selesai berkata begitu dia mendekatkan mukanya ke wajahku,
    dengan cepat dia mengecup bibirku dengan lembut. Hidung kami bersentuhan
    lembut. Dia mengulum bibir bawahku, disedot sedikit. Lima detik kemudian,
    dia melepaskan kecupan bibirnya dari bibirku. Aku saat kukecup tadi
    memejamkan mata, “Aku pengen melakukan itu ma kamu, sayang. Kamu
    bersediakah?”, rayunya lebih lanjut. Dia berusaha mengecup bibirku lagi,
    namun dengan cepat aku melepaskan tangan kananku dari remasannya,
    dadanya kutahan dengan lembut. “Mass” bisikku lirih. “Dina sayang, mau
    ya”, rayunya lagi. “Tapi mass, aku takut Mas”, jawabku. “Takut apa sayang,
    katakanlah”, bisiknya kembali sambil meraih tanganku. “Aku takut Mas
    nanti meninggalkan aku”, bisikku. Dia menggenggam kuat kedua tanganku
    lalu secepat kilat dia mengecup bibirku. “Dina sayangku, aku terus terang
    tidak bisa menjanjikan apa-apa sama kamu tapi percayalah aku akan
    membuktikannya kepadamu, aku akan selalu sayang sama kamu”, bujuknya
    untuk lebih meyakinkanku. “Tapi Mas” bisikku masih ragu. “Din, percayalah,
    apa aku perlu bersumpah sayang, kita memang masih baru beberapa bulan kenal
    sayang, tapi percayalah, yakinlah sayang, kalau Tuhan menghendaki kita pasti
    selalu bersama sayang”, rayunya lagi. “Lalu kalau aku sampai hamil gimana
    mass?” ujarku sembari menatapnya.”Aah, jangan khawatir sayang, aku akan
    bertanggung jawab semuanya kalau kamu sampai hamil, bagaimana sayang?”
    bisiknya. Rasioku sudah tidak jalan dengan baik, tertutup oleh rayuan
    mautnya dan rasa ingin merasakan kenikmatan yang makin menggebu.

    Tangannya bergerak semakin berani, yang tadinya hanya meremas jemari tangan
    kini mulai meraba ke atas menelusuri dari pergelangan tangan terus ke lengan
    sampai ke bahu lalu diremasnya dengan lembut. Dia memandangi toketku dari
    balik baju kaosku yang ketat, “Mas harus janji dulu sebelum…” aku tak
    melanjutkan ucapanku. “Sebelum apa sayang, katakanlah”, bisiknya tak sabar.

    Kini jemari tangan kanannya mulai semakin nekat menggerayangi pinggulku,
    ketika jemarinya merayap ke belakang diusapnya belahan pantatku lalu
    diremasnya dengan gemas. “aahh… Mas”, aku merintih pelan. “Mas aah mmas..
    aku rela menyerahkan semuanya asal Mas mau bertanggung jawab nantinya”, aku
    berbisik semakin lemah, saat itu jemari tangan kanannya bergerak semakin
    menggila, menelusup ke pangkal pahaku, dan mulai mengelus gundukan
    bukit mem3kku. Diusapnya perlahan dari balik celanaku yang amat ketat,
    dua detik kemudian dia memaksa masuk jemari tangannya di selangkanganku
    dan bukit mem3kku itu telah berada dalam genggaman tangannya.

    Aku menggelinjang kecil, saat jemari tangannya mulai meremas perlahan. Dia
    mendekatkan mulutnya kembali ke bibirku hendak mencium, namun aku menahan
    dadanya dengan tangan kananku, “eeehh Mas..berjanjilah dulu Mas”, bisikku di
    antara desahan nafasnya yang mulai sedikit memburu. “Oooh Dina sayang, aku
    berjanji untuk bertanggung jawab, aahh aku menginginkan keperawananmu
    sayang”, ucapnya. Sementara jemari tangannya yang sedang berada di sela-sela
    selangkangan pahaku itu meremas gundukan mem3kku lagi. “Ba.. baiklah Mas,
    aku percaya sama Mas”, bisikku. “Jadi?” tanyanya. “hh. lakukanlah mass, aku
    milik Mas seutuhnya.. hh..” jawabku. “Benarkah? ooh..Dina sayanggg.” Secepat
    kilat bibirku kembali dikecup dan dikulumnya, digigit lembut, disedot.

    Hidung kami bersentuhan lembut. Dengus nafasku terdengar memburu saat dia
    mengecup dan mengulum bibirku cukup lama. DIa mempermainkan lidahnya
    di dalam mulutku, aku mulai berani membalas cumbuannya dengan menggigit
    lembut dan mengulum lidahnya dengan bibirku. Lidah kami bersentuhan, lalu
    dia mengecup dan mengulum bibir atas dan bawahku secara bergantian. Terdengar
    suara kecapan-kecapan kecil saat bibir kami saling mengecup. “aah Dina sayang,
    kamu pintar sekali, kamu pernah punya pacar yaach?” tanyanya curiga. “Mm aku
    belum pernah punya pacar Mas, kan Mas yang selama ini ngajari aku ciuman”,
    sahutku. “Wah kamu belajarnya cepat seklai ya, jangan-jangan kamu sering
    nonton film porno yaa?” godanya. Aku tersenyum malu, dan
    wajahku pun tiba-tiba bersemu merah, aku menundukkan mukaku, malu. “I…iya
    Mas, beberapa kali”, sahutku terus terang sambil tetap menundukkan muka.
    “Dina sayang, kamu nggak kecewa khan karena aku benar-benar sangat
    menginginkan keperawananmu sayang?” tanyanya. “Aku serahkan apa yang bisa
    aku persembahkan buat Mas, aku ikhlas, lakukanlah Mas kalau Mas benar-benar
    menginginkannya”, sahutku lirih.

    Jemari tangan kanannya yang masih berada di selangkanganku mulai bergerak
    menekan ke gundukan mem3kku yang masih perawan, lalu diusap-usap ke atas dan
    ke bawah dengan gemas. Aku mem3kik kecil dan mengeluh lirih, kupejamkan
    mataku rapat-rapat, sementara wajahku nampak sedikit berkeringat. Dia meraih
    kepalaku dalam pelukannya dengan tangan kiri dan dia mencium rambutku. “Oooh
    masss”, bisikku lirih. “Enaak sayang diusap-usap begini”, tanyanya. “hh…
    iiyyaa mass”, bisikku polos. Jemarinya kini bukan cuma mengusap tapi mulai
    meremas bukit mem3kku dengan sangat gemas. “sakit Mas aawww” aku memekik
    kecil dan pinggulku menggelinjang keras. Kedua pahaku yang tadi menjepit
    pergelangan tangan kanannya kurenggangkan. Dia mengangkat wajah dan daguku
    kearahnya, sambil merengkuh tubuhku agar lebih merapat ke badannya lalu
    kembali dia mengecup dan mencumbu bibirku dengan bernafsu.
  3. Puas mengusap-usap bukit mem3kku, kini jemari tangan kanannya bergerak
    merayap ke atas, mulai dari pangkal paha terus ke atas menelusuri pinggang
    sampai ujung jemarinya berada di bagian bawah toketku yang sebelah kiri. Dia
    mengelus perlahan di situ lalu mulai mendaki perlahan, akhirnya jemari
    tangannya seketika meremas kuat toketku dengan gemasnya. Seketika itu pula
    aku melepaskan bibirku dari kuluman bibirnya, “aawww… Mas sakitt, jangan
    keras-keras dong meremasnya”, protesku. Kini secara bergantian jemari
    tangannya meremas kedua toketku dengan lebih lembut. Aku
    menatapnya dan membiarkan tangannya menjamah dan meremas-remas kedua
    toketku.

    “Auuggghh..” tiba2 dia menjerit lumayan keras dan meloncat berdiri. Aku yang
    tadinya sedang menikmati remasan pada toketku jadi ikutan kaget. “Eeehh
    kenapa Mas?” “Aahh anu sayang… kon t0lku sakit nih”, sahutnya sambil
    buru-buru membuka celana panjangnya di hadapanku. Aku tak menyangka dia
    berbuat demikian hanya memandangnya dengan terbelalak kaget. Dia membuka
    sekalian CDku dan “Tooiiing”, kon t0lnya yang sudah tegang itu langsung
    mencuat dan mengacung keluar mengangguk-anggukan kepalanya naik turun .

    “aawww… Mas jorok”, aku menjerit kecil sambil memalingkan mukaku ke samping
    dan menutup mukaku dengan tangan. “He…he…” dia terkekeh geli, batang kon t0lnya
    sudah kelihatan tegang berat, urat-urat di permukaan kon t0lnya sampai menonjol keluar
    semua. Batang kont0lnya bentuknya montok, berurat, dan besar. Sementara aku masih
    menutup muka tanpa bersuara, dia mengocok kon t0lnya dengan tangan kanannya,
    “Uuuaahh…nikmatnya”. “Din sebentar yaa… aku mau cuci kon t0lku dulu yaa… bau nih '
    soalnya”, katanya sambil ngibrit ke belakang, kon t0lnya yang sedang “ON” tegang itu jadi
    terpontang-panting sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ke sana ke mari
    ketika dia berlari. Aku masih terduduk di atas sofa dan begitu melihatnya
    keluar berlari tanpa pakai celana jadi terkejut lagi melihat kon t0lnya yang
    sedang tegang bergerak manggut-manggut naik turun. “aawww…” teriakku
    kembali sembari menutup mukaku dengan kedua jemari tanganku. “Iiihh…
    Din… takut apa sih, kok mukanya ditutup begitu”, tanyanya geli. “Itu Mas,
    kon t0l Mas”, sahutku lirih. “Lhoo… katanya sudah sering nonton BF kok masih
    takut, kamu kan pasti sudah lihat di film itu kalau kon t0l cowok itu bentuknya
    gini”, sahutnya geli. “Iya…m..Mas, tapi kon t0l Mas mm besar sekalii”, sahutku
    masih sambil menutup muka. “Yaach… ini sih kecil dibanding di film nggak ada
    apa-apanya, itu khan film barat, kon t0l mereka jauh lebih gueedhee… kalau kon
    t0lku kan ukuran orang Indonesia sayang, ayo sini dong kon t0lku kamu pegang
    sayang, ini kan milik kamu juga”, sahutnya nakal. “Iiih… malu aah Mas, jorok.”
    “Alaa.. malu-malu sih sayang, aku yang telanjang saja nggak malu sama kamu, masa
    kamu yang masih pakaian lengkap malu, ayo dong sayang kon t0l Mas dipegang biar
    kamu bisa merasakan milik kamu sendiri”, sahutnya sembari meraih kedua tanganku
    yang masih menutupi mukaku. pada mulanya aku menolak sambil memalingkan
    wajahku ke samping, namun setelah dirayu-rayu akhirnya aku mau juga.

    kedua tanganku dibimbingnya ke arah selangkangannya, namun kedua mataku
    masih kupejamkan rapat. Jemari kedua tanganku mulai menyentuh kepala
    kon t0lnya yang sedang ngaceng. Mulanya jemari tanganku hendak kutarik lagi
    saat menyentuh kon t0lnya yang ngaceng namun karena dia memegang kedua
    tanganku dengan kuat, dan memaksanya untuk memegang kon t0lnya itu, akhirnya
    aku hanya menurut saja. Pertama kali aku hanya mau memegang dengan kedua
    jemarinya. “Aah… terus sayang pegang erat dengan kedua tanganmu”, rayunya
    penuh nafsu. “Iiih… keras sekali Mas”, bisikku sambil tetap memejamkan mata.
    “Iya sayang, itu tandanya aku sedang ngaceng sayang, ayo dong digenggam dengan
    kedua tanganmu, aahh…” dia mengerang nikmat saat tiba-tiba saja aku bukannya
    menggenggam tapi malah meremas kuat.

    Aku terpekik kaget, “Iiih sakit mass…” tanyaku. Aku menatapnya gugup.
    “Ooouhh jangan dilepas sayang, remas seperti tadi lekas sayang oohh…”
    erangnya lirih. Aku yang semula agak gugup, menjadi mengerti lalu jemari
    kedua tanganku yang tadi sedikit merenggang kini bergerak dan meremas
    kon t0lnya seperti tadi. Dia melenguh nikmat. Aku kini sudah berani menatap
    kon t0lnya yang kini sedang kuremas, jemari kedua tanganku itu secara
    bergantian meremas batang dan kepala kon t0lnya. Jemari kiri berada di atas
    kepala kon t0lnya sedang jemari yang kanan meremas kon t0lnya. .dia
    hanya bisa melenguh panjang pendek. “.sshh…Din… terusss sayang, yaahh…
    ohh…ssshh”, lenguhnya keenakan. Aku memandangnya sambil tersenyum dan mulai
    mengusap-usap maju mundur, setelah itu kugenggam dan kuremas seperti semula
    tetapi kemudian aku mulai memompa dan mengocok kon t0lnya itu maju mundur.
    “Aakkkhh… ssshh” dia menggelinjang menahan nikmat. Aku semakin bersemangat
    melihatnya merasakan kenikmatan, kedua tanganku bergerak makin cepat maju
    mundur mengocok kon t0lnya. Dia semakin tak terkendali, “Din… aahhgghh…
    sshh…awas pejuku mau keluarr” teriaknya keras. aku meloncat berdiri begitu
    dia mengatakan kalimat itu, aku melepaskan remasan tanganku dan berdiri ke
    sebelahnya, sementara pandangan mataku tetap ke arah kon t0lnya yang baru
    kukocok. “Kamu kok lari sih…” bisiknya lirih disisiku. “Tadi katanya pejunya
    mau keluar mass… kok nggak jadi?” tanyaku polos. Rupanya dia gak mau ngecret
    karena aku kocok makanya dia bilang pejunya mau keluar.

    Dia meraih tubuhku yang berada di sampingnya dan dipeluknya dengan gemas,
    aku menggelinjang saat dia merapatkan badannya ke tubuhku sehingga toketku
    yang bundar montok menekan dadanya yang bidang. Aku merangkulkan kedua
    lenganku ke lehernya, dan tiba-tiba ia pun mengecup bibirku dengan mesra,
    kemudian dilumatnya bibirku sampai aku megap-megap kehabisan napas. Terasa
    kon t0lnya yang masih full ngaceng itu menekan kuat bagian pusarku, karena
    memang tubuhnya lebih tinggi dariku. Sementara bibir kami bertautan mesra,
    jemari tangannya mulai menggerayangi bagian bawah tubuhku, dua detik
    kemudian jemari kedua tangannya telah berada di atas bulatan kedua belah
    bokongku. Diremasnya dengan gemas, jemarinya bergerak memutar di bokongku.

    Aku merintih dan mengerang kecil dalam cumbuannya. Lalu dia merapatkan
    bagian bawah tubuhnya ke depan sehingga mau tak mau kon t0lnya yang tetap
    tegang itu jadi terdesak perutku lalu menghadap ke atas. Aku tak memberontak
    dan diam saja. Sementara itu dia mulai menggesek-gesekkan kon t0lnya yang
    tegang itu di perutku. Namun baru juga 10 detik aku melepaskan ciuman dan
    pelukannya dan tertawa-tawa kecil, “Kamu apaan sih kok ketawa”, tanyanya
    heran. “Abisnya… Mas sih, kan aku geli digesekin kaya gitu”, sahutku sambil
    terus tertawa kecil. Dia segera merengkuh tubuhku kembali ke dalam pelukannya,
    dan aku tak menolak saat dia menyuruhku untuk meremas kon t0lnya seperti tadi.
    Segera jemari tangan kananku mengusap dan mengelus-elus kon t0lnya dan sesekali
    kuremas.

    Dia menggelinjang nikmat. “aagghh… Din… terus sayang…” bisiknya mesra. Wajah
    kami saling berdekatan dan aku memandang wajahnya yang sedang meringis
    menahan rasa nikmat. “Enaak ya mass…” bisikku mesra. Jemari tanganku semakin
    gemas saja mempermainkan kon t0lnya bahkan mulai kukocok seperti tadi. Dia
    melepaskan kecupan dan pelukanku. “Gerah nih sayang, aku buka baju dulu yaah
    sayang”, katanya sambil terus mencopot kancing kemejanya satu persatu lalu
    dilemparkan sekenanya ke samping.
  4. Kini dia benar-benar polos dan telanjang bulat di hadapanku. Aku masih tetap
    mengocok kont0lnya maju mundur. “Sayang… kau suka yaa sama kont0lku”,
    katanya. Sambil tetap mengocok kont0lnya aku menjawab dengan polos. “suka
    sih Mas… habis kont0l Mas lucu juga, keras banget Mas kayak kayu”, ujarku
    tanpa malu-malu lagi. “Lucu apanya sih?” tanyanya. Aku memandangnya sambil
    tersenyum “pokoknya lucu saja”, bisikku lirih tanpa penjelasan. “Gitu yaa…
    kalau mem3k kamu seperti apa yaa… aku pengen liat dong”, katanya. Aku
    mendelik sambil melepaskan tanganku dari kont0lnya.

    “Mas jorok ahh…” sahutku malu-malu. “Ayo, aku sudah kepengen ngerasain nih…
    aku buka ya celana kamu”, katanya lagi. Dan dengan cepat dia berjongkok di
    depanku, kedua tangannya meraih pinggulku dan didekatkan ke arahnya. Pada
    mulanya aku agak memberontak dan menolak tangannya namun begitu aku
    memandang wajahnya yang tersenyum padaku akhirnya aku hanya pasrah dan
    mandah saat jemari kedua tangannya mulai gerilya mencari ritsluiting celana
    ketatku yang berwarna putih itu.

    Mukanya persis di depan selangkanganku sehingga dia dapat melihat gundukan
    bukit mem3kku dari balik celana ketatku. Dia semakin tak sabar, dan begitu
    menemukan ritsluitingku segera ditariknya ke bawah sampai terbuka, kebetulan
    aku tak memakai sabuk sehingga dengan mudah dia meloloskan dan memplorotkan
    celanaku sampai ke bawah. Sementara pandangannya tak pernah lepas dari
    selangkanganku, dan kini terpampanglah di depannya CDku yang berwarna putih
    bersih itu tampak sedikit menonjol di tengahnya. Terlihat dari CDku yang
    cukup tipis itu ada warna kehitaman, jembutku. Waahh… dia memandang ke
    atas dan aku menatapnya sambil tetap tersenyum. “Aku buka ya.. CDnya”, tanyanya.

    Aku hanya menganggukan kepala perlahan. Dengan gemetar jemari kedua tangannya
    kembali merayap ke atas menelusuri dari kedua betisku terus ke atas sampai kedua
    belah lah, dia mengusap perlahan dan mulai meremas. “Oooh…Masss” aku merintih kecil.

    kemudian jemari kedua tangannya merayap ke belakang kebelahan bokongku yang
    bulat. Dia meremas gemas disitu. Ketika jemari tangannya menyentuh tali
    karet CDku yang bagian atas, sreeet… secepat kilat ditariknya ke bawah CDku
    itu dengan gemas dan kini terpampanglah sudah daerah ‘forbidden’ ku.
    Menggembung membentuk seperti sebuah gundukan bukit kecil mulai dari bawah
    pusarku sampai ke bawah di antara kedua belah pangkal pahaku, sementara di
    bagian tengah gundukan bukit mem3kku terbelah membentuk sebuah bibir tebal
    yang mengarah ke bawah dan masih tertutup rapat menutupi celah liang
    mem3kku. Dan di sekitar situ ada jembut yang cukup lebat. “Oohh.. Din,
    indahnya…” Hanya kalimat itu yang sanggup diucapkan saat itu. Dia mendongak
    ketika aku sedang membuka baju kaosku, setelah melemparkan kaos sekenanya
    kedua tanganku lalu menekuk ke belakang punggungnya hendak membuka braku dan
    tesss… bra itupun terlepas jatuh di mukanya.

    Selanjutnya aku melepas juga celana dan CDku yang masih tersangkut
    di mata kakiku, lalu sambil tetap berdiri di depannya, aku tersenyum manis
    kepadanya, walaupun wajahku sedikit memerah karena malu. Toketku berbentuk
    bulat seperti buah apel, besarnya kira-kira sebesar dua kali bola tenis,
    warnanya putih bersih hanya pentil kecilnya saja yang tampak berwarna merah
    muda kecoklatan. “kamu cantik sekali sayang”, bisiknya lirih. Aku mengulurkan
    kedua tanganku kepadanya mengajaknya berdiri lagi. “Mass… aku sudah siap, aku
    sayang sama Mas, aku akan serahkan semuanya seperti yang Mas inginkan”, bisikku mesra.

    Dia merangkul tubuhku yang telanjang. Badanku seperti kesetrum saat kulitku
    menyentuh kulit nya, kedua toketku yang bulat menekan lembut dadanya yang bidang.
    Jemari tangannya tergetar saat mengusap punggungku yang telanjang, “Aahh.. Din kita
    ngem tot di kamar yuk, aku sudah kepingin ngen tot sayang”, bisiknya tanpa
    malu-malu lagi. Aku hanya tersenyum dalam pelukannya. “Terserah Mas saja,
    mau ngen totnya dimana”, sahutku mesra.

    Dengan penuh nafsu dia segera meraih tubuhku dan digendongnya ke dalam
    kamar. Direbahkannya tubuhku yang telanjang bulat itu di atas kasur busa di
    dalam kamar tengah, tempat tidur itu tak terlalu besar, untuk 2 orang pun
    harus berdempetan. Suasana dalam kamar kelihatan gelap karena semua gorden
    tertutup, gorden yang berada dalam kamar ini sama sekali tidak menghadap ke
    jalan umum namun menghadap ke kebun di belakang. Dia segera membuka gorden
    agar sinar matahari sore dapat masuk, dan benar saja begitu disibakkan sinar
    matahari dari arah barat langsung menerangi seluruh isi kamar. Dia
    memandangi tubuhku yang telanjang bulat di ranjang. Segera dia menaiki
    ranjang, aku memandangnya sambil tersenyum. Dia merayap ke atas tubuhku yang
    bugil dan menindihnya, sepertinya dia sudah tak sabar ingin segera memasuki mem3kku.

    “Buka pahamu sayang, aku ingin mengen totimu sekarang”, bisiknya bernafsu. “Mass…”
    aku hanya melenguh pasrah saat dia setengah menindih tubuhku dan kont0lnya yang
    tegang itu mulai menusuk celah mem3kku, tangannya tergetar saat membimbing
    kont0lnya mengelus mem3kku lalu menelusup di antara kedua bibir mem3kku.

    “Sayang, aku masukkan yaah… kalau sakit bilang sayang.. kamu kan masih perawan.”
    “Pelan-pelan Mas”, bisikku pasrah. Lalu dengan jemari tangan kanannya diarahkannya
    kepala kont0lnya ke mem3kku. Aku memeluk pinggangnya mesra, sementara dia mencari
    liang mem3kku di antara belahan bukit mem3kku. Dia mencoba untuk menelusup celah
    bibir mem3kku bagian atas namun setelah ditekan ternyata jalan buntu. “Agak ke bawah
    Mas, aahh kurang ke bawah lagi Mas… mm.. yah tekan di situ Mas… aawww pelan-pelan
    Mas sakiiit”, aku mem3kik kecil dan menggeliat kesakitan. Akhirnya dia berhasil
    menemukan celah mem3kku itu setelah aku menuntunnya, diapun mulai menekan ke
    bawah, kepala kont0lnya dipaksanya untuk menelusup ke dalam liang mem3kku
    yang sempit. Dia mengecup bibir ku sekilas lalu berkonsentrasi kembali untuk
    segera dapat membenamkan kont0lnya seluruhnya ke dalam liang mem3kku. Aku
    mulai merintih dan mem3kik-mekik kecil ketika kepala kont0lnya yang besar
    mulai berhasil menerobos liang mem3kku yang sangat-sangat sempit sekali.
    “Tahan sayang…aku masukkan lagi, sempit sekali sayang aahh”, erangnya mulai
    merasakan kenikmatan dan kurasakan kepala kont0lnya berhasil masuk dan
    terjepit ketat sekali dalam liang mem3kku.
    “aawwww…. masss sakiit…” teriakku memelas, tubuhku menggeliat kesakitan. Dia
    berusaha menentramkan aku sambil mengecup mesra bibirku dan dilumat dengan
    perlahan. Lalu, “tahan sayang, baru kepalanya yang masuk sayang, aku tekan
    lagi yaah”, bisiknya.
  5. Tiba2 dia mencabut kembali kont0lnya yang baru masuk kepalanya saja itu
    dengan perlahan. “Ah… sayang, aku masukin nanti saja deh, liang mem3kmu
    masih sangat sempit dan kering sayang.” “mem3kku sakit Mas”, erangku lirih.
    “Yahh… aku tahu sayang kamu kan masih perawan, kita bercumbu dulu sayang,
    aku kepingin melihat kamu nyampe”, bisiknya bernafsu. Segera dia merebahkan
    badannya di atas tubuhku dan dipeluknya dengan kasih sayang, “Din… hh..
    bagaimana perasaanmu sayang”, bisiknya mesra. Aku memandangnya dan tertawa
    renyah. “mm… aku bahagia sekali bersama Mas seperti ini, rasanya nikmat ya
    Mas berpelukan sambil telanjang kaya gini”, ujarku polos. “Iyaa sayang,
    anggaplah aku suamimu saat ini sayang”, bisiknya nakal.

    “Iih.. Mas, Mas cumbui isterimu dong, beri istrimu kenik…mmbhh”,
    belum sempat aku selesai ngomong, dia sudah melumat bibirku. Aku membalas
    ciumannya dan melumat bibirnya dengan mesra.Dia menjulurkan lidahnya ke
    dalam mulutku dan aku langsung mengulumnya hangat, begitu sebaliknya. Jemari
    tangan kirinya merayap ke bawah menelusuri sambil mengusap tubuhku mulai
    pundak terus ke bawah sampai ke pinggul dan diremasnya dengan gemas. Ketika
    tangannya bergerak kebelakang ke bulatan bokongku, dia mulai menggoyangkan
    seluruh badannya menggesek tubuhku yang bugil terutama pada bagian
    selangkangan dimana kont0lnya yang sedang tegang-tegangnya menekan gundukan
    bukit mem3kku. Dia menggerakkan pinggulnya secara memutar sambil menggesek-
    gesekkan batang kont0lnya di permukaan bibir mem3kku sambil sesekali ditekan-tekan.

    Aku ikut-ikutan menggelinjang kegelian, beberapa kali kepala kont0lnya yang tegang
    salah sasaran memasuki belahan bibir mem3kku seolah akan menembus liang mem3kku
    lagi. Aku hanya merintih kesakitan dan mem3kik kecil, “Aawwww… Mas saakiit”, erangku.
    “Aahh.. Din… mem3kmu empuk sekali sayang, ssshh”, dia melenguh keenakan.

    Beberapa menit kemudian setelah kami puas bercumbu bibir, dia menggeser
    tubuhnya kebawah sampai mukanya tepat berada di atas kedua bulatan toketku,
    kini ganti perutnya yang menekan mem3kku. Jemari kedua tangannya secara
    bersamaan mulai menggerayangi gunung “Fujiyama” milikku, dia mulai
    menggesekkan ujung-ujung jemarinya mulai dari bawah toketku di atas perut
    terus menuju gumpalan kedua toketku yang kenyal dan montok. Aku merintih dan
    menggelinjang antara geli dan nikmat. “Mass, geli”, erangku lirih. Beberapa
    saat dia mempermainkan kedua pentilku yang kemerahan dengan ujung jemarinya.
    Aku menggelinjang lagi, dipuntirnya sedikit pentilku dengan lembut. ” Mas…”
    aku semakin mendesah tak karuan. Secara bersamaan akhirnya dia meremas-
    remas gemas kedua toketku dengan sepenuh nafsu.

    “Aawww…Mas”, aku mengerang dan kedua tanganku memegangi kain sprei dengan
    kuat. Dia semakin menggila tak puas meremas lalu mulutnya mulai menjilati
    kedua toketku secara bergantian. Lidahnya menjilati seluruh permukaan
    toketku itu sampai basah, mulai dari toket yang kiri lalu berpindah ke toket
    yang kanan, digigit-gigitnya pentilku secara bergantian sambil diremas-remas
    dengan gemas sampai aku berteriak-teriak kesakitan. Lima menit kemudian
    lidahnya bukan saja menjilati kini mulutnya mulai beraksi menghisap kedua
    pentilku sekuat-kuatnya.

    Dia tak peduli aku menjerit dan menggeliat kesana-kemari, sesekali kedua jemari
    tanganku memegang dan meremasi rambutnya, sementara kedua tangannya tetap
    mencengkeram dan meremasi kedua toketku bergantian sambil menghisap-hisap pentilnya.

    Bibir dan lidahnya dengan sangat rakus mengecup, mengulum dan menghisap kedua
    toketku. Di dalam mulutnya pentilku dipilin dengan lidahnya sambil terus
    dihisap. Aku hanya bisa mendesis, mengerang, dan beberapa kali memekik kuat
    ketika giginya menggigiti pentilku dengan gemas, hingga tak heran kalau di
    beberapa tempat di kedua bulatan toketku itu nampak berwarna kemerahan bekas
    hisapan dan garis-garis kecil bekas gigitannya.

    Cukup lama dia mengemut toketku, setelah itu bibir dan lidahnya kini merayap
    menurun ke bawah. Ketika lidahnya bermain di atas pusarku, aku mulai
    mengerang-erang kecil keenakan, dia mengecup dan membasahi seluruh perutku.
    Ketika dia bergeser ke bawah lagi dengan cepat lidah dan bibirnya telah
    berada di atas gundukan bukit mem3kku. “Buka pahamu Din..” teriaknya tak
    sabar, posisi pahaku yang kurang membuka itu membuatnya kurang leluasa untuk
    mencumbu mem3kku itu. “Oooh… masss”, aku hanya merintih lirih. Dia
    membetulkan posisinya di atas selangkangan ku. Aku membuka ke dua belah
    pahaku lebar-lebar, aku sudah sangat terangsang sekali. Kedua tanganku masih
    tetap memegangi kain sprei, aku kelihatan tegang sekali. “Sayang… jangan
    tegang begitu dong sayang”, katanya mesra.

    “Lampiaskan saja perasaanmu, jangan takut kalau IDin merasa nikmat, teriak
    saja sayang biar puass….” katanya selanjutnya. Sambil memejamkan mata aku
    berkata lirih. “Iya mass eenaak sih mass”, kataku polos. Dia memandangi
    mem3kku yang sudah ditumbuhi jembut namun kulit dimem3kku dan sekitarnya itu
    tidak tampak keriput sedikitpun, masih kelihatan halus dan kencang. Bibir
    mem3kku kelihatan gemuk dan padat berwarna putih sedikit kecoklatan,
    sedangkan celah sempit yang berada di antara kedua bibir mem3kku itu tertutup rapat.

    “MAs… ngapain sih kok ngelamun, bau yaa Mas?” tanyaku sambil tersenyum. Wajahku
    sedikit kusut dan berkeringat.”abisnya mem3kmu lucu sih, bau lagi”, balasnya nakal. “Iiihh…
    jahat”, Belum habis berkata begitu aku memegang kepalanya dan mengucek-ucek
    rambutnya. Dia tertawa geli.
  6. Selanjutnya aku menekan kepalanya ke bawah, sontak mukanya terutama hidung
    dan bibirnya langsung nyosor menekan mem3kku, hidungnya menyelip di antara
    kedua bibir mem3kku. Bibirnya mengecup bagian bawah bibir mem3kku dengan
    bernafsu, sementara jemari kedua tangannya merayap ke balik pahaku dan
    meremas bokongku yang bundar dengan gemas. Dia mulai mencumbui bibir mem3kku
    yang tebal itu secara bergantian seperti kalau dia mencium bibirku. Puas
    mengecup dan mengulum bibir bagian atas, dia berpindah untuk mengecup dan
    mengulum bibir mem3kku bagian bawah. Karena ulahnya aku sampai
    menjerit-jerit karena nikmatnya, tubuhku menggeliat hebat dan terkadang
    meregang kencang, beberapa kali kedua pahaku sampai menjepit kepalanya yang
    lagi asyik masyuk bercumbu dengan bibir mem3kku. Dia memegangi kedua belah
    bokongku yang sudah berkeringat agar tidak bergerak terlalu banyak,
    sepertinya dia tak rela melepaskan pagutan bibirnya pada bibir mem3kku. aku
    mengerang-erang dan tak jarang mem3kik cukup kuat saking nikmatnya. Kedua
    tanganku meremasi rambutnya sampai kacau, sambil menggoyang-goyangkan
    pinggulku. Kadang pantat kunaikkan sambil mengejan nikmat atau kadang
    kugoyangkan memutar seirama dengan jilatan lidahnya pada seluruh permukaan
    mem3kku. aku berteriak makin keras, dan terkadang seperti orang menangis
    saking tak kuatnya menahan kenikmatan yang diciptakannya pada mem3kku.

    Tubuhku menggeliat hebat, kepalaku bergerak ke kiri dan ke kanan dengan cepat,
    sambil mengerang tak karuan. Dia semakin bersemangat melihat tingkahku,
    mulutnya semakin buas, dengan nafas setengah memburu disibakkannya bibir
    mem3kku dengan jemari tangan kanannya, terlihat daging berwarna merah muda
    yang basah oleh air liurnya bercampur dengan cairan lendirku, agak sebelah
    bawah terlihat celah liang mem3kku yang amat sangat kecil dan berwarna
    kemerahan pula. Dia mencoba untuk membuka bibir mem3kku agak lebar, namun
    aku mem3kik kecil karena sakit. “aawww mass.. sakiit”, pekikku kesakitan.
    “maaf sayang, sakit yaa…” bisiknya khawatir.

    Dia mengusap dengan lembut bibir mem3kku agar sakitnya hilang, sebentar kemudian
    lalu disibakkan kembali pelan-pelan bibir mem3kku, celah merahnya kembali
    terlihat, agak ke atas dari liang mem3kku yang sempit itu ada tonjolan
    daging kecil sebesar kacang hijau yang juga berwarna kemerahan, inilah itil,
    bagian paling sensitif dari mem3k wanita. Lalu secepat kilat dengan rakus
    lidahnya dijulurkan sekuatnya keluar dan mulai menyentil-nyentil daging
    itilku. Aku mem3kik sangat keras sambil menyentak-nyentakkan kedua kakiku ke
    bawah. Aku mengejang hebat, pinggulku bergerak liar dan kaku, sehingga
    jilatannya pada itilku jadi luput. Dengan gemas dia memegang kuat-kuat kedua
    belah pahaku lalu kembali menempelkan bibir dan hidungnya di atas celah
    kedua bibir mem3kku, dia menjulurkan lidahnya keluar sepanjang mungkin lalu
    ditelusupkannya lidahnya menembus jepitan bibir mem3kku dan kembali
    menyentil nikmat itilku dan, aku mem3kik tertahan dan tubuhku kembali
    mengejan sambil menghentak-hentakkan kedua kakiku, pantat ku angkat ke atas
    sehingga lidahnya memasuki celah bibir mem3kku lebih dalam dan
    menyentil-nyentil itilku. Begitu singkat karena tak sampai 1 menit aku
    terisak menangis dan ada semburan lemah dari dalam liang mem3kku berupa
    cairan hangat agak kental banyak sekali. Dia masih menyentil itilku beberapa
    saat sampai tubuhku terkulai lemah dan akhirnya pantatku pun jatuh kembali
    ke kasur. Aku melenguh panjang pendek meresapi kenikmatan yang baru
    kurasakan, sementara dia masih menyedot sisa-sisa lendir yang keluar ketika
    aku nyampe. Seluruh selangkanganku tampak basah penuh air liur bercampur
    lendir yang kental. Dia menjilati seluruh permukaan mem3kku sampai agak
    kering, “Sayaang… puas kan…” bisiknya lembut namun aku sama sekali tak
    menjawab, mataku terpejam rapat namun mulutku tersenyum bahagia. “Giliranku
    sayang, aku mau masuk nih… tahan sakitnya sayang”, bisiknya lagi tanpa
    menunggu jawabannya.

    Dia segera bangkit dan duduk setengah berlutut di atas tubuhku yang
    telanjang berkeringat. Toketku penuh lukisan hasil karyanya. Dengan agak
    kasar dia menarik kakiku ke atas dan ditumpangkannya kedua pahaku pada
    pangkal pahanya sehingga kini selangkanganku menjadi terbuka lebar. Dia
    menarik bokongku ke arahnya sehingga kont0lnya langsung menempel di atas
    mem3kku yang masih basah. Dia mengusap-usapkan kepala kont0lnya pada kedua
    belah bibir mem3kku dan lalu beberapa saat kemudian dengan nakal kont0lnya
    ditepuk-tepukkan dengan gemas ke mem3kku. Aku menggeliat manja dan tertawa
    kecil, “Mas… iiih.. gelii.. aah”, jeritku manja. “Sayaang, kont0lku mau
    masuk nih… tahan yaa sakitnya”, bisiknya nakal penuh nafsu. “Iiihh… jangan
    kasar ya mass… pelan-pelan saja masukinnya, aku takut sakiit”, sahutku polos
    penuh kepasrahan. Sedikit disibakkannya bibir mem3kku dengan jemari kirinya,
    lalu diarahkannya kepala kont0lnya yang besar ke liang mem3kku yang sempit.

    Dia mulai menekan dan aku pun meringis, dia tekan lagi… akhirnya perlahan-lahan
    mili demi mili liang mem3kku itu membesar dan mulai menerima kehadiran kepala
    kont0lnya. Aku menggigit bibir. Dia melepaskan jemari tangannya dari bibir
    mem3kku dan plekk… bibir mem3kku langsung menjepit nikmat kepala kont0lnya.
    “Tahan sayang…” bisiknya bernafsu. Aku hanya mengangguk pelan, mata lalu
    kupejamkan rapat-rapat dan kedua tanganku kembali memegangi kain sprei. Dia
    agak membungkukkan badannya ke depan agar pantatnya bisa lebih leluasa untuk
    menekan ke bawah. Dia memajukan pinggulnya dan akhirnya kepala kont0lnya
    mulai tenggelam di dalam liang mem3kku. Dia kembali menekan, dan aku mulai
    menjerit kesakitan. Dia tak peduli, mili demi mili kont0lnya secara pasti
    terus melesak ke dalam liang mem3kku dan tiba-tiba setelah masuk sekitar 4
    centi seperti ada selaput lunak yang menghalangi kepala kont0lnya untuk
    terus masuk, dia terus menekan dan aku melengking keras sekali lalu menangis
    terisak-isak. selaput daraku robek. Dia terus menekan kont0lnya, ngotot
    terus memaksa memasuki liang mem3kku yang luar biasa sempit itu. Dia
    memegang pinggulku, dan ditariknya kearahnya kont0lnya masuk makin ke dalam,
    Aku terus menangis terisak-isak kesakitan, sementara dia sendiri malah merem
    melek keenakan. Dan dia menghentak keras ke bawah, dengan cepat kont0lnya
    mendesak masuk liang mem3kku.

    dia mengerang nikmat. Dihentakkan lagi pantatnya ke bawah dan akhirnya kont0lnya
    secara sempurna telah tenggelam sampai kandas terjepit di antara bibir mem3kku.

    dia berteriak keras saking nikmatnya, matanya mendelik menahan jepitan ketat
    mem3kku yang luar biasa. Sementara aku hanya meme3kik kecil lalu memandangnya sayu.
    “Mass… aku sudah nggak perawan lagi sekarang”, bisikku lirih. Kami sama-sama tersenyum.
  7. Direbahkannya badannya di atas tubuhku yang telanjang, aku memeluknya penuh
    kasih sayang, toketku kembali menekan dadanya. mem3kku menjepit meremas kuat
    kont0lnya yang sudah amblas semuanya. Kami saling berpandangan mesra,dia
    mengusap mesra wajahku yang masih menahan sakit menerima tusukan kont0lnya.

    “Mas… bagaimana rasanya”, bisikku mulai mesra kembali, walaupun sesekali kadang
    aku menggigit bibir menahan sakit. “Enaak sayang.. dan nikmaat… oouhh aku nggak
    bisa mengungkapkannya dengan kata-kata sayang… selangit pokoknya”, bisiknya.
    “MAs, bagaimana kalau aku sampai hamil?” bisikku sambil tetap tersenyum.
    ”Oke…nanti setelah ngen tot kita cari obat di apotik, obat anti hamil”, bisiknya gemas.
    “Iihh… nakal…” sahutku sambil kembali mencubit pipinya. “Biariin…” “Maasss…” aku
    agak berteriak. “Apaan sih…” tanyanya kaget. Lalu sambil agak bersemu merah dipipi aku
    berkata lirih. “dienjot dong…” bisikku hampir tak terdengar.

    “Iiih kamu kebanyakan nonton film porno, kan mem3knya masih sakiit”,
    jawabnya. “Pokoknya, dienjot dong Mas…” sahutku manja. Dia mencium bibirku
    dengan bernafsu, dan akupun membalas dengan tak kalah bernafsu. Kami saling
    berpagutan lama sekali, lalu sambil tetap begitu dia mulai menggoyang
    pinggul naik turun. kont0lnya mulai menggesek liang mem3kku dengan kasar,
    pinggulnya menghunjam-hunjam dengan cepat mengeluar masukkan kont0lnya yang
    tegang. Aku memeluk punggungnya dengan kuat, ujung jemari tanganku menekan
    punggungnya dengan keras. Kukuku terasa menembus kulitnya.

    Tapi dia tak peduli, dia sedang mengen toti dan menikmati tubuhku. Aku merintih
    dan mem3kik kesakitan dalam cumbuannya. Beberapa kali aku sempat menggigit
    bibirnya, namun itupun dia tak peduli. Dia hanya merasakan betapa liang mem3kku
    yang hangat dan lembut itu menjepit sangat ketat kont0lnya.

    Ketika ditarik keluar terasa daging mem3kku seolah mencengkeram kuat kont0lnya,
    sehingga terasa ikut keluar. Aku melepaskan ciumannya dan mencubit pinggangnya.
    “Awww… aduuh Mass… sakit … . ngilu Mas” aku berteriak kesakitan. “Maaf sayang…
    aku mainnya kasar yaah? aku nggak tahan lagi sayang aahhgghghh”, bisiknya.
    “pejuku mau keluar, desahnya sambil menyemprotkan peju yang banyak di liang mem3kku.
    Kami pun berpelukan puas atas kejadian tersebut. Dan tanpa terasa kami ketiduran
    sambil berpelukan telanjang bulat karena kecapaian dalam permainan tadi.

    Kami tidur dua jam lamanya lalu kami berdua mandi bersama. Di dalam kamar
    mandi kami saling membersihkan dan berciuman. Dia minta aku jongkok. Dia
    mengajariku untuk menjilati serta mengulum kont0lnya yang sudah tegak
    berdiri. kont0lnya kukulum sambil mengocoknya pelan-pelan naik turun. “Enak
    banget yang, kamu cepet ya belajarnya. Terus diemut yang”, erangnya.

    Kemudian giliran dia, aku disuruhnya berdiri sambil kaki satunya
    ditumpangkan di bibir bathtub agar siap mendapat serangan oralnya. Dia
    menyerang selangkanganku dengan lidah yang menari-nari kesana kemari pada
    itilku sehingga aku mengerang sambil memegang kepalanya untuk
    menenggelamkannya lebih dalam ke mem3kku. Dia tahu apa yang kumau, lalu
    dijulurkannya lidahnya lebih dalam ke mem3kku sambil mengorek-korek itilku
    dengan jari manisnya. Semakin hebat rangsangan yang aku rasakan sampai aku
    nyampe, dengan derasnya lendirku keluar tanpa bisa dibendung. Dia menjilati
    dan menelan semua lendirku itu tanpa merasa jijik. “Mas, nikmat banget deh,
    aku sampe lemes”, kataku. “Ya udah kamu istirahat aja, aku mau ngangetin
    makanan dulu ya”, katanya. .Aku berbaring di ranjang, ngantuk sampe
    ketiduran lagi.

    DIa membangunkanku dan mengajakku makan nasi padang yang sudah disiapkannya.
    “Din, malem ini kita tidur disini aja ya, aku masih pengen ngerasain
    peretnya mem3kmu lagi. Kamu mau kan kita ngen tot lagi”, katanya sambil
    membelai pipiku. “Aku nurut aja apa yang mas mau, aku kan udah punyanya
    mas”, jawabku pasrah. Sehabis makan langsung Aku dibawanya lagi keranjang,
    dan direbahkan. Kami langsung berpagutan lagi, aku sangat bernapsu meladeni
    ciumannya. Dia mencium bibirku, kemudian lidahnya menjalar menuju ke toketku
    dan dikulumnya pentilku. Terus menuju keperut dan dia menjilati pusarku
    hingga aku menggelepar menerima rangsangan itu yang terasa nikmat. “Mas enak
    sekali..” nafasku terengah2. Lumatannya terus dilanjutkannya pada itilku.
    Itilku dijilatinya, dikulum2, sehingga aku semakin terangsang hebat.

    Pantatku kuangkat supaya lebih dekat lagi kemulutnya. Diapun merespons hal
    itu dengan memainkan lidahnya ke dalam mem3kku yang sudah dibukanya sedikit
    dengan jari. Ketika responsku sudah hampir mencapai puncak, dia
    menghentikannya. Dia ganti dengan posisi 6. Dia telentang dan minta aku
    telungkup diatas tubuhnya tapi kepalaku ke arah kont0lnya. Dia minta aku
    untuk kembali menjilati kepala kont0lnya lalu mengulum kont0lnya keluar
    masuk mulutku dari atas.

    Setelah aku lancar melakukannya, dia menjilati mem3k dan itilku lagi dari bawah.
    Selang beberapa lama kami melakukan pemanasan maka dia berinisiatif untuk
    menancapkan kont0lnya di mem3kku.

    Aku ditelentangkannya, pahaku dikangkangkannya, pantatku diganjal dengan
    bantal. “buat apa mas, kok diganjel bantal segala”, tanyaku. “biar masuknya
    dalem banget yang, nanti kamu juga ngerasa enaknya”, jawabnya sambil
    menelungkup diatasku. kont0lnya digesek2kan di mem3kku yang sudah banyak
    lendirnya lagi karena itilku dijilati barusan. “Ayo Mas cepat, aku sudah
    tidak tahan lagi” pintaku dengan bernafsu. “Wah kamu sudah napsu ya Din, aku
    suka kalo kita ngen tot setelah kamu napsu banget sehingga gak sakit ketika
    kont0lku masuk ke mem3k kamu”, jawabnya. Dengan pelan tapi pasti dia masukan
    kont0lnya ke mem3kku. “Pelan2 ya mas, biar gak sakit”, lenguhku sambil
    merasakan kont0lnya yang besar menerobos mem3kku yang masih
    sempit. Dia terus menekan2 kont0lnya dengan pelan sehingga akhirnya masuk
    semua. Lalu dia tarik pelan-pelan juga dan dimasukkan lagi sampai mendalam,
    terasa kont0lnya nancep dalem sekali. “Mas enjot yang cepat, Mas, aku udah
    mau nyampe ach.. Uch.. Enak Mas, lebih enak katimbang dijilat mas tadi”,
    lenguhku. “Aku juga mau keluar, yang”, jawabnya. Dengan hitungan detik kami
    berdua nyampe bersama sambil merapatkan pelukan, terasa mem3kku berkedutan
    meremes2 kont0lnya. Lemas dan capai kami berbaring sebentar untuk memulihkan
    tenaga.
  8. Sudah satu jam kami beristirahat, lalu dia minta aku mengemut kont0lnya
    lagi. “Aku belum puas yang, mau lagi, boleh kan?” yanyanya. “Boleh mas, aku
    juga pengen ngerasain lagi nyampe seperti tadi”, jawabku sambil mulai
    menjilati kepala kont0lnya yang langsung ngaceng dengan kerasnya. Kemudian
    kepalaku mulai mengangguk2 mengeluar masukkan kont0lnya dimulutku. Dia
    mengerang kenikmatan, “Enak banget Din emutanmu. Tadi mem3kmu juga ngempot
    kont0lku ketika kamu nyampe. Nikmat banget deh malam ini, boleh diulang ya
    sayang kapan2".

    Aku diam tidak menjawab karena ada kont0lnya dalam mulutku. “Din, aku udah
    mau ngecret nih, aku masukkin lagi ya ke mem3k kamu”, katanya sambil minta aku
    nungging. “MAu ngapain mas, kok aku disuru nungging segala”, jawabku tidak mengerti.
    “udah kamu nungging aja, mas mau ngen totin kamu dari belakang”, jawabnya. Sambil
    nungging aku bertanya lagi, “Mau dimasukkin di pantat ya mas, aku gak mau
    ah”. “Ya gak lah yang, ngapain di pantat, di mem3k kamu udah nikmat banget
    kok”, jawabnya. dengan pelan diumasukkannya kont0lnya ke mem3kku,
    ditekan2nya sampe amblas semua, terasa kont0lnya masuk dalem sekali, seperti
    tadi ketika pantatku diganjel bantal. kont0lnya mulai dikeluarmasukkan
    dengan irama lembut.

    Tanpa sadar aku mengikuti iramanya dengan menggoyangkan pantatku. Tangan
    kirinya menjalar ke toketku dan diremas-remas kecil, sambil mulai memompa
    dengan semakin cepat.

    Aku mulai merasakan nikmatnya dien tot, sakit sudah tidak terasa lagi. “Mas, aku udah
    ngerasa enaknya dien tot, terus yang cepet ngenjotnya mas, rasanya aku udah
    mau nyampe lagi”, erangku. Dia tidak menjawab, enjotan kont0lnya makin lama
    makin cepet dan keras, nikmat banget deh rasanya. Akhirnya dengan satu
    enjotan yang keras dia melenguh, “Din aku ngecret, aah”, erangnya. “Mas, aku
    nyampe juga mas, ssh”, bersamaan dengan ngecretnya pejunya aku juga
    nyampe.Kembali aku terkapar kelelahan.

    Ketika aku terbangun, hari udah terang. Aku nggeletak telanjang bulat di
    ranjang dengan Satu kaki terbujur lurus dan yang sebelah lagi menekuk
    setengah terbuka mengangkang. Dia yang sudah bangun lebih dulu, menaiki
    ranjang dan menjatuhkan dadanya diantara kedua belah paha ku. Lalu dengan
    gemas, diciumnya pusarku. ” Mass, geli!” aku menggeliat manja. Dia tersenyum
    sambil terus saja menciumi pusarku berulang2 hingga aku menggelinjang
    beberapa kali. Dengan menggunakan ke2 siku dan lututnya ia merangkak
    sehingga wajahnya terbenam diantara ke2 toketku.

    Lidahnya sedikit menjulur ketika dia mengecup pentilku sebelah kiri, kemudian pindah
    ke pentil kanan. Diulangnya beberapa kali, kemudian dia berhenti melakukan
    jilatannya. Tangan kirinya bergerak keatas sambil meremes dengan lembut
    toketku. Remasannya membuat pentilku makin mengeras, dengan cepat dikecupnya
    pentilku dan dikulum2nyasambil mengusap punggungku dengan tangan kanannya.
    “Kamu cantik sekali,” katanya sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku
    hanya tersenyum, aku senang mendengar pujiannya. Kurangkul lehernya,
    kemudian kucium bibirnya.

    Lidahnya yang nyelip masuk mulutku kuhisap2. Aku segera meraba kont0lnya lagi, kugenggam
    dan kugesek2kan ke mem3kku yang mulai berlendir. Lendir mem3kku melumuri
    kepala kont0lnya, kont0lnya menjadi makin keras. Urat2 berwarna hijau di
    kulit batang kont0lnya makin membengkak. Dia menekan pinggulnya sehingga
    kepala kont0lnya nyelip di bibir mem3kku. Terasa bibir mem3kku menjepit
    kont0lnya yang besar itu. Dia menciumi leherku, dadanya direndahkan sehingga
    menekan toketku. “Oh…mas”, lenguhku ketika ia menciumi telingaku. “Kakimu
    dibelitkan di pinggangku Din”, pintanya sambil terus mencium bibirku.

    Tangan kirinya terus meremas toketku sedang tangan satunya mengelus pahaku
    yang sudah kulingkarkan di pinggangnya. Lalu dia mendorong kont0lnya lebih dalam.
    Sesak rasanya mem3kku. Pelan2 dia menarik sedikit kont0lnya, kemudian
    didorongnya. Hal ini dia lakukan beberapa kali sehingga lendir mem3kku makin
    banyak keluarnya, mengolesi kepala kont0lnya.

    Sambil menghembuskan napas, dia menekan lagi kont0lnya masuk lebih dalam.
    Dia menahan gerakan pinggulnya ketika melihat aku meringis. “Sakit yang”,
    tanyanya. “Tahan sedikit ya”. Dia kembali menarik kont0lnya hingga tinggal
    kepalanya yang terselip di bibir luar mem3kku, lalu didorongnya kembali
    pelan2. Dia terus mengamati wajahku, aku setengah memejamkan mata tapi sudah
    tidak merasa sakit. “Din, nanti dorong pinggul kamu keatas ya”, katanya sambil
    menarik kembali kont0lnya.

    Dia mencium bibirku dengan lahap dan mendorong kont0lnya masuk kont0lnya. Pentilku
    diremesnya dengan jempol dan telunjuknya. Aku tersentak karena enjotan
    kont0lnya dan secara reflex aku mendorong pinggulku ke atas sehingga
    kont0lnya nancap lebih dalam. Aku menghisap lidahnya yang dijulurkan masuk
    ke mulutku. Sementara itu dia terus menekan kont0lnya masuk lebih dalam
    lagi. Dia menahan gerakan pinggulnya, rambutku dibelai2nya dan terus
    mengecup bibirku. kont0lnya kembali ditariknya keluar lagi dan dibenamkan
    lagi pelan2, begitu dilakukannya beberapa kali sehingga seluruh kont0lnya
    sudah nancap di mem3kku. Aku merangkul lehernya dan kakiku makin erat
    membelit pinggangnya.”Akh mas”, lenguhku ketika terasa kont0lnya sudah masuk
    semua, terasa mem3kku berdenyut meremes2 kont0lnya. “Masih sakit Din”,
    tanyanya. “Enak mas”, jawabku sambil mencakari punggungnya, terasa biji
    pelernya memukul2 pantatku. Dia mulai mengenjotkan kont0lnya keluar masuk
    mem3kku. Entah bagaimana dia mengenjotkan kont0lnya, itilku tergesek
    kont0lnya ketika dia mengenjotkan kont0lnya masuk. Aku menjadi terengah2
    karena nikmatnya. Dia juga mendesah setiap kali mendorong kont0lnya masuk semua,
    “Din, mem3kmu peret sekali, terasa lagi empotannya, enak banget sayang ngen tot dengan kamu”.

    Tangannya menyusup ke punggungku sambil terus mengenjotkan kont0lnya.
    Terasa bibir mem3kku ikut terbenam setiap kali kont0lnya dienjot masuk.
    “Mas”, erangku. Terdengar bunyi “plak” setiap kali dia menghunjamkan kont0lnya.
    Bunyi itu berasal dari beradunya pangkal pahanya dengan pangkal pahaku karena
    aku mengangkat pinggulku setiap dia mengenjot kont0lnya masuk.
    “Din, aku udah mau ngecret”, erangnya lagi. Dia menghunjamkan kont0lnya dalam2
    di mem3kku dan terasalah pejunya nyembur2 di dalam mem3kku. Bersamaan
    dengan itu, “Mas, aku nyampe juga mas”, aku mengejang karena ikutan nyampe.
    Nikmat banget bersama dia, walaupun perawanku hilang aku tidak nyesel karena
    ternyata dien tot itu mendatangkan kenikmatan luar biasa.

Tidak ada komentar: