Pages

Minggu, 24 Juni 2012

daun muda warnet blkg kampus

  1. Suatu waktu, pas aku lagi kluar kota, malemnya gak ada kegiatan. Kbetulan
    hotel tempat aku nginep dekat ma kampus universitas terkenal di kota itu.
    Malemnya, karena gak ada kegiatan, aku iseng menuju ke warnet yang terletak
    dekat hotel, persis disebrang universitas tersebut. Biasanya kalo malem
    gini, psti banyak mahaiswa dan mahaiswi yang lagi di warnet. Cuma ketika aku
    ke warnet dah cukup larut, dah ampir jam 10 malem. Kata bellboy hotel,
    warnet tu buka 24 jam. Sampe disana, warnet dah sepi, tapi aku lihat
    dipojokan masih ada prempuan abg lagi didepan komputer. aku minta petugas
    warnet komputer disebelah tu abg, dibolehin ma yang jaga. Aku duduk
    disebelahnya, aku senyum ketika dia noleh ke aku. Manis juga ni akan, dia
    pake jins dan blus tengan panjang. Karena blusnya ketat, tercetaklah
    sepasang toket yang lumayan besar. Dia juga senyum. "Sendirian aja nih",
    sapaku. "Berdua ma om kan". Aku senyum, brani juga ni anak. "Tumben si
    kesini om". "Aku dari luar kota, malem gini gak ada kerjaan, ya aku mampir
    ja ke warnet, kan bisa browsing". "Om suka browsing apaan". "Yang seru2".
    "apaan tu om". "Ya udah kamu logout ja, kita browsing bareng, pake 1
    komputer ja, nanti aq cari situs2nya". Dia mematikan sambungan internetnya,
    dan duduk disebelahku. Karena tempatnya sepit, jadi agak berdesakan. "Kamu
    namanya siapa? aku edo". "ayu om". "Kamu skola disini juga ya". "Iya om".
    "Dah semester brapa". "Baru masuk". "Wah masi abg banget ya". "La iyalah om,
    kan baru lulus smu, skarang kuliah disini". Aku membuka satu situs dewasa,
    "Kamu mo liat gambar atau video?" "Video lah om, kan lebi life". "Cuman
    donlodnya suka lama". "Ya gak apa, nunggunya kan bisa ngobrol". "Mangnya gak
    dicariin". "Dicariin sapa om, aku kos kok". Aku membuka situs dan mengklik
    movie, aku milih satu thread dan mulai donlod. Karena kebetulan warnet dah
    tinggal kita ber2, ditambah petugasnya, donlodnya jadi lumayan cepet. Abg
    lagi maen ma om2, "Gede banget ya om kontinya", kata ayu tanpa tedeng
    aling2. "Pernah gini Yu". "Om mo tau aja". "Kayanya pernah ya Yu". Ayu diam
    saja, matanya menatap layar monitor. Aku tidak menya2kan kesempatan ini,
    kuelus pahanya. "Om, geli ah", ayu menggeliat tapi tetep saja menatap layar
    monitor.

    Pahanya terus saja kuelus2, tangan kuselipkan diantara ke 2 pahanya, tanpa sadar
    Ayu membuka pahanya. Aku menggosok pahanya makin keatas kearah slangkangannya.
    Karena tempatnya sempit, Ayu gak bisa mengangkangkan pahanya lebar2. Tanganku
    pindah sasaran, kuelus toketnya yang membusung. Ayu kaget karena aku meremas
    perlahan toketnya, "Om..." dia melenguh tetapi tetep saja matanya menatap layar
    komputer. "Wah abis om, cari yan lan lagi dong om, yang seru kaya gini".

    Aku mengklik film brikutnya. Sembari nunggu donlod, aku meremes toketnya lagi.
    "Toket kamu besar dan kencang Yu, sering diremes2 ya". "Om iseng ih".
    "Tapi kamu suka kan", jawabku sembari terus meremes toketnya.
    Ayu membiarkan ulahku, kebetulan donlod dah slesai, Ayu kembali menatap
    tayangan di monitor tv, aku makin gencar meremes2 toketnya.
    "Yu, aku ngaceng nih", bisikku sembari mencium pipinya. "ke hotelku yuk".
    "Tanggung om, ampe filmnya abis ya". Wah asik juga nih, ajakanku dia iyakan.

    Aku terus saja meremas2 toketnya, Ayu mulai terangsang karena ulahku, lagian
    pengaruh film bokep mulai merasuk pada dirinya. Akhirnya filmnya slesai
    juga. "Jadi Yu, ikut aku ke hotel". "Yuk om, aku juga pengen neh". Aku
    menyelesaikan bayaran 2 komputer yang Ayu dan aku pake, aku menggandengnya
    kluar warnet dan berjalan menuju ke hotel. Gak jauh si jaraknya dari warnet.

    Ketika lewat resto yang masi buka, "Kamu laper gak Yu, kalo laper cari makan
    dulu yuk". Ayu mengiyakan ajakanku, mampirlah kita diresto itu, dah sepi,
    kami pesan makanan dan minuman. Karena sepi, pesanan cepet dihidangkannya.
    Sembari makan Ayu crita lebi banyak tentang dirinya. Rupanya dia sering ngen
    tot ma cowoknya, mahasiwa kakak kelasnya. Ya dikosnya bebas, jadi mudah aja
    cowoknya nginep dan ngen totin Ayu. "Kamu kok mau aku ajak ke hotel Yu".
    "Kata temenku, ngen tot ma om2 lebi nikmat dario ma cowok ndiri. Makanya aku
    penasaran, pengen nobain ngen tot ma om. Bener ya om bisa bikin aku nikmat".
    "Ntar kamu rasain ndiri ja". Kami makan santai saja sembari ngobrol,
    becanda. Makin dilihat Ayu makin bikin napsu aku. kalo dia tertawa, toket
    montoknya ikut berguncang2, padahal kliatan dia pake bra. "Toket kamu besar
    ya Yu, kalo kamu ketawa sampe ikutan bergerak. Keseringan diremes ya". "Iya
    om, hobi banget cowokku ngeremes dan ngemut pentil aku". "Kamu gak ada
    jadwal ngen tot ma cowok kamu malem ini". "dia lagi kluar kota om, kebetulan
    ktemu ma om, aku suka ngeliat om, ganteng, atletislagi badannya, mudahan ja
    konti om perkasa". Selesai makan, aku membayar billnya, trus kita menuju ke
    hotelku.

    Di kamar, Ayu kurangkul. Sebuah ciuman mendarat dipipinya. Aku
    menggandengnya dan duduk di sofa empuk yang ada di kamar. Kamar hotelnya
    cukup besar, berisi satu tempat tidur besar dan seperangkat sofa, selain
    meja rias. Aku mengambil minuman kaleng dari minibar, kubuka dan kuberikan
    kepadanya. "Ayo minum, santai saja, mau mandi dulu enggak, kan tadi panas diluar",
    kataku sambil menepuk2 pahanya.
  2. Sambil tersenyum-senyum aku berlalu ke kamar mandi. Gak lama kemudian, aku
    keluar dari kamar mandi hanya dengan bersarungkan handuk dipinggang.

    "Gantian deh mandi biar segar". Di kamar mandi, di bawah shower, Ayu
    mengelus2 toketnya dengan busa sabun, demikian pula dengan jembut dan
    memeknya, sehingga napsunya menjadi ber kobar2. Selesai mandi Ayu kluar
    hanya pake daleman yang seksi, bra dan CD mini yang tipis model bikini,
    sehingga bra hanya ditalikan di belakang leher dan punggungnya, sedang CD
    mininya ditalikan di kiri dan kanannya. Karena branya tipis, otomatis
    pentilnya yang sudah mengeras menonjol sekali, demikian juga jembutnya yang
    lebat sangat berbayang dengan CD tipis itu. Karena bentuknya yang mini,
    jembutnya menyembul di bagian atas, kiri dan kanan CDnya. aku yang sedang
    duduk di sofa membelalakkan mata ketika melihat dia keluar dari kamar mandi
    hanya berbalut bikini tipis dan seksi itu. "Lama sekali sih mandinya, pasti
    deh ngelus2 diri sendiri, ya. Kamu cantik sekali Yu, seksi sekali" katanya.
    Dia duduk disebelahnya dan menjawab "Habis om sih mandinya gak ngajak2,
    sehingga terpaksa Ayu ngelus2 sendiri. Om suka kan ngeliat Ayu pakai bikini
    seperti ini". "Suka banget, kamu napsuin deh Yu". "Udah ngaceng dong om".
    Ayu yakin melihat pemandangan yang menggairahkan ini pasti mengungkit
    nafsuku. kontiku terlihat mulai bergerak-gerak dibalik handuk yang
    disarungkan dipinggangku."Ayu tahu, pasti om suka, tak usah khawatir, kan
    malem ini sepenuhnya milik kita."

    Aku lalu mencium pipinya. Dalam hitungan detik mulut kami sudah lekat
    berpagutan. Ayu kurengkuh dengan ketat kedalam pelukanku. Tanganku mulai
    bergerilya me remas2 toketnya. Pentilnya yang sudah mengeras kupelintir2
    dari balik bra tipisnya, Ini membuat rangsangan yang lebih hebat lagi buat
    Ayu. Ayu menggeliat-geliat sambil mulutnya terus menyambut permainan bibir
    dan lidahku .

    Lidahnya menerobos mulutku dan bergulat dengan lidahku. Tangannya pun aktif
    menerobos handuk yang kukenakan dan me remas2 kontiku yang sudah mulai
    ngaceng itu. "Om gede banget kontinya, pasti om kuat deh ngen totnya. Kita all nite
    long ya om".

    Membalas gerakannya itu, tangan kananku mulai merayapi pahanya yang mulus.
    Aku menikmati kehalusan kulitnya itu. Semakin mendekati pangkal pahanya, Ayu
    membuka pahanya lebih lebar, biar tanganku lebih leluasa bergerak.

    Peralahan-lahan tanganku menyentuh gundukan memeknya yang masih tertutup CD
    bikini tipis. Jariku menelikung ke balik CDnya dan menyentuh bibir memeknya
    dan menggosok2 itilnya. Ayu mengaduh tetapi segera kubungkam oleh permainan
    lidahku. Badannya mulai menggeletar menahan nafsu yang semakin meningkat.
    Tangannya terus menggenggam kontiku yang besar dan panjang itu. "Om, besar
    banget sih kontinya, dipakaiin obat apa sih sampai besar begini", katanya
    sambil mengocok lembut kontiku. "Kamu sukakan sama kontiku", bukan
    menjawab dia malah balik bertanya. "Suka banget om, kalau sudah masuk semua
    rasanya memek Ayu sesak deh kemasukan konti om, apalagi kalau udah om
    enjot, gesekan konti om ke memek Ayu terasa banget. Ayu udah gak sabar nih
    om, udah pengen ngerasain konti om nggesek memek Ayu". jawabnya penuh
    napsu. Kocokan lembut jari-jarinya itu membuat kontiku semakin ngaceng
    mengeras. Aku mengerang-ngerang nikmat. Aku mulai menjilati dagu dan
    lehernya dan sejalan dengan itu bibir mungilnya itu menyentuh pentilku.

    Lidahnya bergerak lincah menjilatinya. Aku merasakan kenikmatan yang luar
    biasa. Tangannya makin cepat mengocok kontiku yang semakin berdenyut-denyut
    ngaceng. "Ayo ke ranjang", bisikku, "Kita tuntaskan permainan kita." Ayu
    bangkit berdiri, aku memeluknya. Kuangkat tubuhnya dan lidahku yang terus
    menerabas lehernya membuat nafasnya terengah-engah nikmat. Toketnya lembut
    menempel lekat di dadaku. Ayu kurebahkan di tempat tidur yang lebar dan
    empuk, aku menarik pengikat bra dan CDnya. Ayu biarkan aku melakukan
    semuanya sambil ber desah2 menahan napsunya yang makin menggila.

    Setelah tak ada selembar benangpun yang menempel di tubuhnya, aku mundur dan
    memandangi tubuhnya yang telentang bertelanjang bulat, bersih dan wangi
    sabun karena habis mandi. Aku memandangi rambutnya yang kepirangan tergerai
    sampai kepundak, toketnya yang padat dengan pentil yang sudah mengeras,
    perutnya yang rata dengan lekukan pusernya, pahanya yang mulus dengan
    pinggul yang bundar digantungi oleh dua bongkah pantat yang bulat padat dan
    di sela paha itu terlihat gundukan hitam lebat jembutnya. "Ngapain om hanya
    dilihatin saja," protesnya. "Aku kagum akan keindahan tubuhmu Yu", jawabku.
  3. "Semuanya ini milik om malem ini", katanya sambil merentangkan tangannya.
    Aku mendekat dan duduk dipinggir tempat tidur. Ayu kupeluk dengan erat. "Om,
    Ayu mau menjilati om, gantian ya", katanya. Aku berbaring, kemudian mulutnya
    mulai menjelajahi seluruh dada termasuk pentilku dan perutku, terus menurun
    ke bawah mendekati pusar dan pangkal pahanya. Dengan lincah Ayu melepaskan
    belitan handuk dipinggangku. kontiku yang sudah tegang itu mencuat keluar
    dan berdiri tegak. Dengan mulut ditangkapnya kepala kontiku itu. Lidahnya
    dengan lincah memutar- mutar kontiku dalam mulutnya. Aku mengerang-ngerang
    nikmat menahan semua sensasi itu.

    Puas mempermainkan kontiku Ayu merebahkan diri di sampingku. Aku mulai
    beraksi.Kusergap toket kanannya sembari tangan kananku meremas-remas toket
    kirinya. Bibirku mengulum pentil toketnyau yang mengeras itu. Toketnya juga
    mengeras diiringi deburan jantungnya. Puas toket kanan mulutku beralih ke
    toket kiri. Lalu perlahan tetapi pasti aku turun ke perutnya. Ayu
    menggelinjang-linjang menahan desakan birahi yang semakin menggila. Aku
    menjilati perutnya yang rata dan kujulurkan lidahku ke dalam pusarnya.
    "Auu.." Ayu mengerang, "Oh.. Oh.. Oh.." jeritnya semakin keras. Mulutku
    semakin mendekati pangkal pahanya. Perlahan-lahan pahanya membuka dengan
    sendirinya, menampakkan me meknya yang telah merekah dan basah. Jembut yang
    hitam lebat melingkupi me mek yang kemerah-merahan itu. Aku mendekatkan
    mulutku ke me meknya dan dengan perlahan lidahku menyuruk ke dalam me meknya
    yang telah basah membanjir itu. Ayu menjerit dan spontan duduk sambil
    menekan kepalaku sehingga lidahku lebih dalam terbenam. Tubuhnya
    menggeliat-geliat seperti cacing kepanasan. Pantatnya menggeletar hebat
    sedang pahanya semakin lebar membuka. "Aaa.. Auu.. Ooo..", jeritnya keras.
    Aku terus mempermainkan itilnya dengan lidah. Ayu menghentakkan pantatnya ke
    atas dan memegang kepalaku erat-erat. Ayu melolong keras. Pada saat itu
    kurasakan banjir cairan me meknya. Ayu sudah nyampe yang pertama.

    Aku berhenti sejenak membiarkan Ayu menikmatinya. Sesudah itu mulailah aku
    menjelajahi kembali bagian tersensitif dari tubuhnya. Kembali erangannya
    terdengar tanda napsunya mulai menaik lagi. Tangannya menjulur mencari-cari
    batang kontiku. kontiku telah ngaceng sekeras beton. Ayu meremasnya. Aku
    menjerit kecil, karena nafsuku pun sudah diubun-ubun butuh penyelesaian. Ayu
    kudorong sehingga rebah ke kasur empuk. Perlahan-lahan aku naik ke atasnya.
    Ayu membuka pahanya lebar-lebar siap menerima masuknya kontiku. Kepalanya
    bergerak-gerak, mulutnya terus menggumam. Matanya terpejam menunggu. Aku
    menurunkan pantatku. kontiku berkilat-kilat dengan kepalanya yang memerah
    siap menjalankan tugasnya. aku mengusap-usapkan kontiku di bibir me meknya.
    Ayu semakin menggelinjang. "Cepat om. Ayu sudah nggak tahan!" jeritku. Aku
    menurunkan pantatku perlahan-lahan. Dan.. BLESS! kontiku menerobos me meknya
    diiringi jeritannya. Ayu tidak perduli apakah tamu disebelah kamar mendengar
    jeritannya atau tidak. Aku berhenti sebentar membiarkan Ayu menikmatinya.

    Lalu kutekan lagi dengan keras sehingga kontiku yang panjang dan besar itu
    menerobos ke dalam dan terbenam sepenuhnya dalam liang me meknya. Ayu
    menghentak-hentakkan pantatnya ke atas agar kontinya masuk lebih dalam
    lagi. Ayu terdiam sejenak merasakan sensasi yang luar biasa ini. Lalu
    perlahan-lahan aku mulai mengenjotkan kontiku. Pantatnya diputar-putar
    untuk memperbesar rasa nikmat. Toketnya tergoncang-goncang seirama dengan
    genjotanku di memeknya. Matanya terpejam dan bibirnya terbuka,
    berdesis-desis menahankan rasa nikmat. Desisan itu berubah menjadi erangan
    dan kemudian akhirnya menjadi jeritan. Aku membungkam jeritannya dengan
    mulutku. Lidahku bertemu lidahnya. Sementara di bawah sana kontiku leluasa
    bertarung dengan memeknya. "OH..", erangnya, "Lebih keras om, lebih keras
    lagi.. Lebih keras.. Oooaah!" Tangannya melingkar merangkul ketat.

    Kuku-kukunya membenam di punggungku. pahanya semakin lebar mengangkang.
    Terdengar bunyi kecipak lendir memeknya seirama dengan enjotan kontiku.
    "Aku mau ngecret, Yu", bisikku di sela-sela nafasnya memburu. "Ayu juga om",
    sahutnya, "Di dalam aja om ngecretnya. Ayu ingin om ngecret di dalam." Aku
    mempercepat enjotan kontiku. Keringatku mengalir dan menyatu dengan
    keringatnya. Bibirku kutekan ke bibirnya. Kedua tanganku mencengkam kedua
    toketnya. Diiringi geraman keras aku menghentakkan pantatku dan kontiku
    terbenam sedalam-dalamnya. Pejuku memancar deras. Ayu pun melolong panjang
    dan menghentakkan pantatnya ke atas menerima kontiku sedalam-dalamnya.
    Kedua pahanya naik dan membelit pantatku. Ayu pun mencapai puncaknya.
    kontiku berdenyut-denyut memuntahkan pejuku ke dalam me meknya.
  4. Sekitar sepuluh menit kami diam membatu mereguk semua detik kenikmatan itu.
    Lalu perlahan- lahan aku mengangkat tubuhku. Aku memandangi wajahnya yang
    berbinar karena napsu yang telah terpuaskan. Aku tersenyum dan membelai
    wajahnya. "om hebat sekali", katanya, "Rasanya lebih nikmat dari dien tot
    cowokku deh". "Kamu juga luar biasa Yu, aku sungguh puas karena kamu lebih
    binal dari cewek abg laen yang pernah aku en totin, itu yang membuat napsuku
    juga berkobar2. Kamu tidak menyesal kan Yu ngen tot denganku?" "Tidak, Ayu
    malah pengen dipuasin lagi." "Jangan kawatir, stok pejuku masih banyak" .
    Aku mencabut kontiku dan rebah di sampingnya. Kami beralih ke kamar mandi.

    Aku memandikannya di shower. Kedua tanganku menyabuni seluruh tubuhnya,
    toket, puser, jembut dan memeknya menjadi sasaran elusan tanganku yang
    dipenuhi busa sabun. Gesekan, rabaan dan remasan tanganku akhirnya
    merangsang napsunya kembali. "om, Ayu sudah napsu lagi, pengen ngerasain
    konti om keluar masuk dimemek Ayu lagi", katanya sambil meremas2 kontiku
    yang juga mulai mengeras. "Iya Yu, sambil ngeremas2 toketmu, aku juga napsu,
    main lagi yuk, tapi di kamar mandi ya"., jawabku. dalam waktu singkat Ayu
    sudah membuat kontiku ngaceng lagi, keras sekali kontiku ketika
    dikocok2nya.

    Aku duduk di atas closet dengan kontiku yang sudah ngaceng mengacung tegak
    ke atas. Ayu mengangkangkan pahanya dan mendekatinya dari depan, siap-siap
    untuk dien tot. Ayu sudah duduk merapat di pahaku. kontiku yang sudah
    ngaceng tanpa halangan langsung menerobos memeknya, bersarang
    sedalam-dalamnya. Ayu kusuruh segera menggoyang pantatnya. Terasa nikmat
    sekali. Kedua toketnya kuremas2 dengan penuh napsu. Aku juga mengenjotkan
    kontiku kedepan kebelakang, walaupun dalam gerakan yang terbatas, tapi ini
    membuat ayu mengerang keras dan sudah terasa mau nyampe lagi. Hebat benar
    napsunya, baru sebentar goyang sudah mau nyampe saking nikmatnya. Ayu
    menjadi semakin liar dalam menggoyang pantatnya. Ayu sudah makin terangsang
    sehingga akhirnya badannya mengejang-ngejang diiringi erangan kenikmatan.
    "Auu.. om!" jeritnya. Untuk beberapa saat kami terdiam. Aku memeluknya
    erat-erat. "Yu, aku belum ngecret kok kamu udah nyampe. "Habis, nikmat
    banget sih rasanya konti om nyodok2 memek Ayu". "Kita terusin ya Yu", ayu
    hanya mengangguk lemas. Aku mengajaknya berdiri dan menyuruhnya membungkuk
    di wastafel dan membuka pahanya lebar2. Aku mendekat dari belakang. Tanganku
    menyapu lembut pantatnya yang mulus tapi padat. Ayu menggigit bibirnya dan
    menahan napas, tak sabar menanti masuknya kontiku yang masih keras.
    Tanganku melingkari kedua pahanya lalu kuarahkan kontiku ke memeknya.
    Perlahan-lahan kepala kontiku yang melebar dan berwarna merah mengkilap itu
    menerobos memeknya. Ayu mendongak dan mendesis kenikmatan. Sejenak aku
    berhenti dan membiarkan ayu menikmatinya, lalu mendadak kuhentakkan pantatku
    keras ke depan. Sehingga terbenamlah seluruh kontiku di me meknya.

    "Aacchh..!!", ayu mengerang keras. Rambutnya kujambak sehingga wajahnya
    mendongak ke atas. Sambil terus menggenjot me meknya, aku
    meremas2 kedua toketnya yang berguncang2 karena enjotanku yang keras,
    seirama dengan keluar masuknya kontiku di me meknya. Terdengar bunyi kecipak
    cairan memeknya, ayu pun terus mendesah dan melenguh. Mendengar itu semua,
    aku semakin bernafsu. Enjotan konti kupercepat, sehingga erangan dan
    lenguhannya makin menjadi2. "Oohh..! Lebih keras om. Ayo, cepat. Cepat.
    Lebih keras lagii!" Keringatku deras menetesi punggung dan dadanya. Wajahnya
    pun telah basah oleh keringat. Rambutnya semakin keras kusentak. Kepalanya
    semakin mendongak. Dan akhirnya dengan satu sentakan keras, aku membenamkan
    kontiku sedalam-dalamnya. Ayu menjerit karena kembali nyampe untuk yang
    kedua kalinya. Aku terus meremas2 toketnya dengan penuh nafsu. Aku pun makin keras
    menghentakkan kontiku keluar masuk me meknya sampai akhirnya pejuku menyemprot
    dengan derasnya di dalam memeknya. Rasanya tak ada habis-habisnya. Dengan lemas
    ayu rebah di wastafel dan aku menelungkup di atas punggungnya. Beberapa saat kami
    diam di tempat dengan kontiku yang masih menancap di memeknya. Kemudian aku
    membimbingnya ke shower, menyalakan air hangat dan kami berpelukan mesra
    dibawah kucuran air hangat.

    Akhirnya terasa juga perut lapar yang sudah minta diisi, padahal dah makan
    besar sebelum ke hotel. Kembali lagi enersiku terkuras ngen totin Ayu. Aku
    keluar lebih dulu, aku menelpon room service untuk memesan makanan kecil dan
    minumannya. Kemudian aku kembali ke kamar mandi dan memeluknya yang masih
    berada dibawah shower air hangat. "Yu, nikmat sekali ngen tot dengan kamu".
    "iya om, Ayu juga nikmat sekali, masih ada ronde ketiga kan om?". "Pasti
    dong". Terdengar bel pintu, aku menyarungkan handuk di pinggangku dan keluar
    kamar mandi, ternyata room service. Setelah itu aku kembali ke kamar mandi,
    shower dah dimatikan dan ayu lagi mengeringkan badannya dengan handuk. Aku
    pun keluar dari kamar mandi bersama dengan ayu, terbungkus handuk. Kita
    duduk di sofa. Kami makan makanan kecil sambil berpelukan. Nyaman rasanya
    dalam keadaan yang hampir telanjang berpelukan (kaya teletubies aja ya). Ayu
    menyandar di dadaku yang bidang. "om, Ayu bahagia sekali dengan om, mau
    rasanya Ayu jadi istrinya om, supaya bisa ngerasaain dien tot sampai lemas",
    sambil engelus2 pentilku. Aku mengangkat dagunya dan mencium bibirnya dengan
    mesra sekali. Selesai makan, kembali kamu berpelukan di tempat tidur
    walaupun seprei sudah kucel akibat pertempuran seru tadi, toh sebentar lagi
    kami akan membuat seprei itu lebih kucel lagi. Ayu berbaring dipelukanku,
    rambutnya yang basah kuelus2. Karena kenyang, lemas dan nyaman, ayu sampai
    tertidur dipelukanku. Setelah kubiarkan beberapa lama, ayu terbangun karena
    keningnya kucium dengan lembut. "Kamu tidur pules sekali Yu, gimana masih
    mau lagi tidak?" tanyaku sambil tersenyum. Ayu menggeliat, terbangun dan
    menuju ke kamar mandi karena ingin kencing. Selesainya ayu kembali ke
    pelukanku. Handphoneku berbunyi, aku bangun dan mengambil hp. Terus aku
    duduk disebelahnya di tempat tidur, sambil tersenyum aku bertanya "Yu, mau
    main bertiga enggak?" "om, dien tot sama om saja Ayu udah lemas begini,
    apalagi kalo dien tot sama 2 cowok". "Bukan 2 cowok yang, tapi 2 cewek,
    gimana, tadi ada cewek yang kirim sms nanyain kenapa kok aku belum jemput
    dia. Memang sih aku ngebook dia untuk malem ini, gak tau si bakalan ketemu
    kamu di warnet. Dina namanya" jawabku menerangkan. "Ya terserah om aja deh".
    "Ya udah, sekarang kamu tidur2an aja lagi, aku mau jemput Dina, enggak jauh
    kok tempatnya dari hotel", kataku sambil keluar kamar.
  5. Aku kembali dengan Dina, sepertinya Ayu ketiduran dikamar, lama baru
    pintunya dibuka. Ayu kuperkenalkan dengan Dina, Dina terbelalak melihat ayu
    yang sudah bertelanjang bulat, dan membuka jaketnya. Dina hanya pakai
    tanktop ketat dan celana pendek yang mini. Toketnya besa. Bulu tangannya
    panjang2 dan kelihatan ada kumis tipis diatas bibirnya. "Sori ya mbak, Dina
    enggak tahu sih kalau si oom sudah janjian dengan mbak", kata Dina ke Ayu.
    "Gak apa2 kok Din, kan si oom yang menentukan dia mau sama siapa", jawab
    Ayu. Aku keluar dari kamar mandi hanya dengan balutan handuk, aku sudah
    tidak sabar lagi untuk segera ngen tot dengan Dina. Dina segera duduk
    disebelahku di sofa. Aku merangkul Dina dan mencium bibirnya. aku mulai
    mengelus toket Dina yang montok itu, desah nafas nikmat terdengar dari mulut
    Dina. Dina pun tidak tinggal diam, tangannya menerobos handuk dan
    menggenggam kontiku yang sudah ngaceng sekeras tank baja. "Besar banget
    konti oom", kata Dina. "Memangnya kamu enggak pernah ngelihat konti segede
    ini Din", kataku sambil meringis2 kenikmatan karena Dina mulai meremas2
    kontiku. "Ngelihat yang gede sih sering oom, tapi yang segede ini sih Dina
    belum pernah lihat. Memek Dina sudah empot2an ngelihat konti oom segede
    ini, udah pengen dienjot oom", kata Dina yang juga sudah mulai napsu. Aku
    makin getol meremas2 toket Dina dari luar tanktopnya. Dina segera melepas
    lilitan handukku sehingga kontiku yang besar panjang itu langsung tegak
    menantang. Mulut Dina langsung menyergapnya, kontiku yang sudah tegang itu
    langsung diemutnya. Cukup lama Dina mengemut kontiku, sampai akhirnya aku
    sudah tidak dapat menahan napsuku lagi. Segera tanktop Dina dan celana
    pendeknya kulepas, kemudian menyusul bra dan CDnya sehingga Dina sudah
    bertelanjang bulat. Toket Dina besar dan kencang, dihiasi dengan sepasang
    pentil hitam yang besar juga, mungkin karena sering dihisap oom oom yang
    mengkontiinya. Jembutnya lebih lebat dari jembut Ayu, mengitari memeknya,
    sehingga memeknya tertutup oleh lebatnya jembut hitam itu. Aku menarik Dina
    ke tempat tidur, ayu memberi tempat untuk kamu. Aku berbaring merapat ke
    Dina. Kaki kuangkat dan kugesek-gesekkan diatas paha Dina, sementara aku
    kembali meremas toket Dina yang pentilnya sudah menonjol keras. Perlahan aku
    turun menciumi leher Dina dan memutar-mutarkan lidahku di pentil toketnya,
    sementara tanganku menjelajah ke pangkal paha Dina, menyibak jembutnya yang
    hitam lebat. Aku mengusap bibir memek Dina sehingga Dina menggelinjangkan
    pinggulnya. Dina memejamkan matanya menikmati sentuhan dan rangsanganku
    sambil meremas2 perlahan kontiku. Aku memainkan ujung jarinya menyapu bibir
    me mek Dina yang sudah membasah. Pentil Dina terus kujilati bersamaan dengan
    menggosok perlahan itil Dina dengan ujung jari telunjukku.

    Serta merta Dina menggoyangkan pantat dan pinggulnya, menggeleparkan dan
    membuka lebar pahanya dan membusungkan dadanya, sementara
    tangannya menggenggam erat kontiku yang mengeras dan berdenyut-denyut.
    "Uuff oom, diapakan tubuhku ini," Dina mengerang menahan kenikmatan.
    Tubuhnya menggelinjang keras sekali, paha Dina bergetar hebat dan kadang
    menjepit tanganku dengan erat saat jarinya masih menyentuh itil Dina.

    kontiku terus dicengkeram Dina dengan keras. Aku juga terus meremas
    perlahan toket Dina yang tambah mengeras dan membusung itu dengan tangan
    kiriku, sementara tangan kananku terjepit diantara kedua paha Dina. Dina
    terus meremas kontiku, tangan satunya memelukku erat sementara paha dan
    kakinya menggelepar keras sekali hingga sprei putih itu berserakan makin tak
    karuan, Dina sudah nyampe sebelum dien tot. Tanpa berhenti itil Dina terus
    kumainkan pelan. Ayu yang menonton adegan itu menjadi sangat terangsang
    sehingga memeknya juga sudah kuyup, tetapi gilirannya belum tiba sehingga
    ayu harus bersabar sambil menonton adegan super hot itu.

    Pentil Dina terlihat menonjol keras kecoklatan, Dina sudah terangsang
    kembali. Pahanya telah dibuka lebar-lebar. Memek nya basah, demikian pula
    jembut hitam lebat di seputarnya. Aku segera menaiki Dina, kontiku yang
    sudah menegang diarahkan ke memek Dina. Ujung kontiku menguak
    perlahan-lahan bibir memek Dina. Dina mendesah nikmat ketika aku
    perlahan-lahan menyuruk memasukkan konti yang besar itu menerobos memek
    Dina yang telah basah berlendir. Ketika separuh kontiku telah menerobos
    memek Dina, aku berhenti sejenak dan membiarkan Dina menikmatinya. Kulihat
    ekspresi wajah Dina yang menggelinjang kenikmatan. Tangannya meremas-remas
    kain seprei. Dari mulutnya keluar desah-desah nikmat. Ketika aku menikmati
    ekspresi penuh kenikmatan wajah Dina di saat itulah Ayu mencium pantatku.

    Aku terkejut karena geli. Karena itu aku menyodokkan kontiku dengan keras ke
    arah Dina. kontiku yang besar dan panjang itu langsung menerobos memek Dina
    sehingga tertanam sepenuhnya. Dina tersentak dan membelalakkan matanya
    sambil mengerang hebat. "Aaoohh oom", erang Dina penuh kenikmatan. Dina
    menhentak2kan pantatnya ke atas untuk menerima kontiku sepenuhnya. Pahanya
    membelit pinggangku.

    Setelah berhenti sejenak dan memberi kesempatan kepada Dina untuk menikmati
    sensasi ini, aku mulai bergerak. konti kuenjotkan maju mundur. Mula-mula
    perlahan-lahan, lalu bergerak makin cepat. Tubuh Dina bergetar-getar seirama
    dengan enjotan kontiku. Mulut Dina terbuka dan mendesis-desis. Aku segera
    melumat bibir Dina dan Dina membalasnya. Tubuhku mulai berkeringat, menetes
    dan menyatu dengan keringat Dina. Dina membuka pahanya lebar-lebar sehingga
    aku dapat leluasa menggenjot memeknya. Terdengar kecipak bunyi cairan memek
    Dina karena sodokan kontiku. "Aku mau nyampe oom" erang Dina. "Ayo, oom..
    Lebih keras! Auu!!" . Aku mempercepat gerakanku dan dalam hitungan dua
    menit, Dina menjerit sekeras-kerasnya sambil menghentak-hentakkan pantatnya
    ke atas. Tubuhnya menggeletar karena rasa nikmat yang luar biasa. Pahanya
    ketat membelit pinggangku dan tangannya memelukku dengan eratnya. Desah puas
    terdengar dari mulutnya. "Ayu masih menunggu Din", kataku mengingatkan. Dina
    mengangguk dan melepaskan pelukannya. Aku mencabut kontiku yang masih tegak
    keras dan berkilat-kilat karena dilumuri lendir memek Dina. Dari memek Dina
    kulihat aliran lendir memeknya. Dina tetap berbaring dengan paha terbuka dan
    mata tertutup. Toketnya membusung ke atas, agak memerah karena remasan dan
    gigitanku.
  6. aku menoleh ke arah Ayu, "Sekarang giliranmu Yu". Aku tahu bahwa ayu sudah
    sangat bernapsu. Langsung aku menyuruh ayu menungging, aku ingin melakukan
    lagi doggie style seperti yang kulakukan di kamar mandi beberapa saat yang
    lalu. "Ayo,om, ayu udah nggak sabar, nih. Pengen cepat dienjot konti om
    yang gede itu." "Siapa takut!" sahutku. Karena ayu sudah sangat terangsang,
    aku tidak menunggu lama-lama. Langsung saja kuarahkan kontiku ke arah
    memeknya. Jembutnya yang hitam lebat itu kusibak, tampaklah bibir memeknya
    yang berwarna merah muda dan basah berlendir. Ayu menurunkan kepalanya
    hingga bertumpu ke bantal. Pantatnya terangkat. Ayu meremas ujung-ujung
    bantal dengan nafasnya berdesah tak teratur. Bulu-bulu halus tubuhnya
    meremang, menantikan saat-saat sensasional ketika kontiku akan menerobos
    memeknya. Aku makin merapat. Aku mengelus-elus kedua belahan pantatnya.

    Perlahan-lahan aku mempermainkan jembut lebat disekitar memeknya yang sudah
    basah itu dan kemudian menggesek itilnya. Ayu mengerang-erang menahan
    napsunya yang semakin menggila. Pantatnya bergetar menahan rangsangan
    tanganku. "Ayo, om", erangnya. "Udah nggak tahan nih!" . Aku mengarahkan
    kontiku yang masih sangat keras itu ke arah memeknya. Kuselipkannya kepala
    kontiku di antara bibir memeknya. Ayu mendesah. Kemudian perlahan tapi
    pasti aku mendorong kontiku ke depan. kontiku menerobos memeknya. Ayu
    menjerit kecil sambil mendongakkan kepalanya keatas. Sejenak aku berhenti
    dan membiarkan ayu menikmatinya. Ketika ayu tengah mengerang-erang dan
    menggelinjang-gelinjang, mendadak aku menyodokkan kontiku ke depan dengan
    cepat dan keras sehingga kontiku meluncur ke dalam memeknya. Ayu tersentak
    dan menjerit keras. "Aduh om, enak!" jeritnya. Aku mempercepat enjotan
    kontiku di memeknya. Semakin keras dan cepat enjotanku, semakin keras
    erangan dan jeritannya. "Aa..h.!" jeritnya nyampe. Ayu terkapar di tempat
    tidur telungkup, sementara aku belum juga ngecret.

    Kemudian ayu kutelentangkan dan aku menaiki tubuhnya, pahaku menempel erat
    dipahanya yang mengangkang. Kepala kontiku ditempelkan ke itilnya. Sambil
    menciumi leher, pundak dan belakang telinganya, kepala konti kugerak-
    gerakan mengelilingi bibir memeknya yang sudah basah. Ayu merem melek
    menikmati kontiku di bibir memeknya, akhirnya kuselipkan kontiku. "Aah"'
    jeritnya keenakan. Ayu merasa kenikmatan yang luar biasa dan sedikit demi
    sedikit kumasukkan kontiku. Ayu menggoyangkan pantatnya sehingga kontiku
    hampir seluruhnya masuk. "om enjot dong kontinya, rasanya nikmat sekali".
    Perlahan aku mulai mengenjot kontiku keluar masuk memeknya. Ayu menarik2
    sprei tempat tidur saking enaknya, sementara paha nya dikangkangin
    lebar-lebar, hingga akhirnya kakinya melingkar di pantatku supaya kontiku
    masuk sedalam-dalam ke memeknya. Ayu berteriak-teriak dan merapatkan jepitan
    kakinya di pantatku, sambil menarik kuat-kuat sprei tempat tidur. Aku
    membenamkan kontiku seluruhnya di dalam memeknya. "om, aku nyampe
    lagi..Ahh.. Ahh.. Ahh," jeritnya. Beberapa saat kemudian, ayu membuka
    sedikit jepitan kakinya dipantatku, pahanya kubuka lebar2 dan akhirnya
    dengan cepat kuenjot kontiku keluar masuk memeknya. Nikmat sekali rasanya.
    setelah delapan sampai sembilan enjotan kontiku di memeknya dan akhirnya
    kurasakan ada sesuatu yang meledak dari dalam kontiku. Croot..
    Croot..Croot.. Croot.. "Yu, Aku keluar", erangnya. Pejuku muncrat banyak
    sekali memenuhi memeknya. Tanganku mencekal pahanya dan menarik erat-erat
    kearah kontiku, sehingga kontiku terbenam makin dalamnya di memeknya.
    Ayu bersimbah keringat, keringatnya yang bercampur dengan keringatku
    sendiri. Ayu mencengkam seprei kuat-kuat, menahan rasa nikmat yang melanda
    sekujur tubuhnya. Aku membiarkan kontiku tetap menancap di memeknya dan
    mendaratkan bibirku di bibirnya. Kami berpagutan erat. "Oh! nikmatnya!"
    katanya. "om luar biasa ya, udah ronde ketiga, bisa bikin aku 2 kali nyampe,
    dan ngecretnya tetap banyak". Aku mencabut kontiku dari memek nya. Pejuku
    bercampur cairan memeknya, menetes membasahi pahanya. Kami bertiga rebah di
    tempat tidur. Aku ditengah diantara Dina dan ayu. Aku mencium pipi mereka,
    kami hanya berbaring diam merasakan kenikmatan yang masih membekas. Akhirnya
    kami terlelap karena kelelahan.

    Pagi harinya ayu terbangun karena tempat tidur bergoyang dengan keras dan
    terdengar erangan Dina, aku sudah memulai aktivitas pagi dengan mengen toti
    Dina. Dina yang telentang mengangkang menjerit keenakan "Aa..", jeritnya.
    kontiku yang besar dan panjang itu menerobos ke luar masuk memeknya. Dina
    menghentak-hentakkan pantatnya ke atas sehingga kontiku menyuruk lebih
    dalam lagi. Aku berhenti dan membiarkan Dina menikmatinya. Dina terus
    mendesis-desis dan mengerang-erang nikmat. Aku terus mengenjotkan kontiku
    keluar masuk. Erangan Dina semakin keras. Toketnya bergoncang-goncang
    seirama dengan enjotanku. Dina mencengkam kedua lenganku sementara aku tetap
    saja mengocok kontiku keluar masuk dengan cepat. "Cepat.. oom.." gumam
    Dina, "Dina mau nyampe.." Aku lebih mempercepat tempo enjotanku. Tiba-tiba
    Dina menarik tubuhku hingga aku rebah sepenuhnya di atas tubuh Dina.
    "Aaahh..", jeritnya. Tubuh Dina bergetar hebat. Pantatnya dihentak-
    hentakkannya ke atas. Pahanya terangkat dan membelit pantatku sehingga
    menyatu sepenuhnya. Nafasnya terengah-engah. Aku mencabut kontiku yang
    berlumuran dengan cairan memek Dina, masih keras karena belum ngecret.
    "Sekarang giliranmu Yu", bisiknya. Tubuh Ayu kuraihnya dan toketnya menjadi
    sasaran remasanku. Tanganku satunya merambah jembutnya yang lebat. "Aah om",
    erang Ayu. "om kuat sekali ya". Aku tidak menjawab, hanya terus saja
    meremas2 toketnya. Ayu bangun dan segera mengemut kontiku, dijilati cairan
    yang melumuri konti itu, dan kemudian kepalanya yang besar itu terbenam
    didalam mulutnya. Ayu mengangguk2kan kepalanya sehingga konti besar itu
    keluar masuk di mulutnya. Aku mengerang keenakan. Jari2ku terbenam di dalam
    memeknya yang sudah basah karena menonton adegan syur antara aku dan Dina,
    napsuku juga sudah berkobar2 dari tadi. Ayu telentang dengan mata tertutup
    dan pahanya sudah mengangkang lebar siap untuk dien tot. Ayu menyudahi
    emutannya. Aku menaiki ayu dan mengarahkan kontiku yang masih keras ke
    memeknya. kontiku diusap-usap di bibir memeknya. Ayu mendesis dan mulai
    menggelinjang. Kepala kontiku perlahan-lahan mulai menguak bibir memeknya
    yang telah basah. Aku menekan kontiku sedikit demi sedikit dan kurasakan
    kontiku mulai memasuki memeknya. Ayu mulai mendesah-desah. Tiba2 aku
    menyurukkan kontiku ke dalam memeknya. "Aaa.." jeritnya keras. Matanya
    membelalak. kontiku menancap dalam sekali di memeknya. Kemudian aku mulai
    menggerak-gerakkan kontiku keluar masuk. Tanganku menyusup ke punggungnya
    dan memeluknya erat. Mulutku terbenam di lehernya. "Lebih keras lagi om",
    erangnya. Aku memompa kontiku keluar masuk semakin bersemangat. Keringat
    mengucur dari seluruh tubuhku, bercampur dengan keringatnya. Aku mengangkat
    sedikit dadanya. Mulutku segera menerkam toket kirinya yang
    berguncang-guncang itu. Dari toket kiri dia beralih ke kanan. " om, aku mau
    nyampe lagi", katanya terputus-putus. "Aku juga", sahutku. Aku meningkatkan
    kecepatan genjotan kontiku . Ayu menjerit-jerit semakin keras, dan
    merangkulku erat-erat. Ayu sudah nyampe. Akhirnya dengan satu hentakan keras
    aku membenamkan kontiku dalam-dalam. Ayu menjerit keras. Pantat dihentak-
    hentakkannya ke atas. Paha diangkat membelit pinggangku mengiringi
    muncratnya pejuku ke dalam memeknya. Sungguh pagi yang meletihkan tapi
    sangat nikmat. Sekitar sepuluh menit aku diam membiarkan kenikmatan itu
    mengendur perlahan-lahan. Aku melepaskan kontiku dan terhempas ke atas
    kasur empuk di antara Ayu dan Dina.
  7. Setelah beberapa saat beristirahat, kami beralih ke kamar mandi dan
    membersihkan tubuh. Kami saling menyirami dengan air hangat. Ayu dan Dina
    menggosokkan body foam ke badanku. Tidak dengan tangan tetapi dengan toket
    masing-masing. Diperlakukan seperti itu aku terangsang kembali.

    Perlahan-lahan kontiku mulai bangun lagi. "Wuii.. Si ujang sudah bangun
    nih", goda Ayu sambil mengelus kontiku, "Sesudah ini kita makan dan mulai
    ronde berikutnya", lanjutnya. Acara mandi selesai dan aku memesan makan pagi
    untuk kita bertiga. Ketika pesanan makan pagi datang, Ayu dan Dina bergegas
    kembali ke kamar mandi karena masih bertelanjang bulat. Aku menerima pesanan
    makan itu hanya dengan berlilitkan handuk di pinggang. Makanan yang tersedia
    disantap dengan lahap, setelah selesai kembali kami berbaring di tempat
    tidur yang sudah acak2an sepreinya.

    Ayu segera memulai aksinya, dengan penuh napsu segera kontiku diemutnya,
    dikocok2nya dikeluar masukkan ke mulutnya sehingga keras kembali. "Ayo",
    kataku, "Sekarang kalian menungging. Aku mau doggy-style". Tanpa
    berkata-kata Ayu dan Dina segera melaksanakan perintahku. Aku memandang
    pantat mereka, tanganku mengelus2 memek mereka dari belakang. itilnya
    kugesek2. "Ayo oom", kata Ayu, "sudah nggak sabar nih!". Aku mengarahkan
    kontiku yang sudah mengeras ke arah memek Ayu. Tanpa kesulitan, kontiku
    menembus memek Ayu yang telah basah itu. Beberapa menit mengenjot memek Ayu,
    aku lalu beralih ke Dina. Dina menjerit kecil ketika kontiku menerobos
    memeknya. Aku mengenjot perlahan lalu semakin cepat. Dina mengerang keras.
    Beberapa menit kemudian aku beralih ke Ayu. Begitu seterusnya berkali2.

    Akhirnya aku mengenjot memek Ayu dengan keras. Ayu menjerit keras dan terus
    mengerang-erang ketika kontiku bergerak keluar masuk memeknya. Aku
    mempercepat gerakan kontiku dan menghentak keras. Ayu menjerit keras,
    nyampe dan rebah ke atas tempat tidur. Melepaskan diri dari Ayu, aku beralih
    ke Dina. Dengan cepat aku menelentangkan Dina, kemudian menghujamkan
    kontiku ke dalam memeknya. Dina juga menjerit keras. toketnya berguncang2
    seirama dengan enjotan kontiku. "Aaauu, om" jeritnya, "Dina mau nyampe!"
    "Aku juga", balasku sambil menghentakkan kontiku keras-keras. Aku rubuh ke
    atas tubuh Dina, dina kutindih. Di saat itu kurasakan deras pejuku memancar
    ke dalam memeknya. Aku letih, juga Dina dan Ayu. Ayu merangkak mendekat dan
    aku mengelus-elus kepalanya. Aku bangun. dina dan Ayu juga. Aku duduk di
    tempat tidur. Dari memeknya pejuku bercampur dengan ciranku menetes keluar.
    Aku merangkul bahu mereka. "Terima kasih Din, terima kasih yu", kataku,
    "Harusnya ayu yang berterima kasih ke om, karena om sudah memberikan
    kenikmatan yang sangat buat ayu".

Tidak ada komentar: