Aku mengenal om Roy tanpa sengaja, waktu itu hujan deras mengguyur Jakarta. Aku terpaksa lari2 dari sekolahku menuju halte didepan sekolah menerobos hujan, gak terlalu besar sih, tapi cukup untuk membuat baju seragamku basah. Cukup lama aku menunggu kendaraan umum, tapi yang menuju arah rumahku gak ada yang lewat, sampe halte menjadi sepi, hujan turun makin deras, aku jadi kedinginan karena baju seragamku yang basah itu. Sambil bersungut kulihat sebuah sedan berjalan lambat. Aku nekat aja, daripada nunggu kendaraan umum gak lewat2 aku mo numpang aja. Aku melambaikan tangan, segera mobil itu berhenti dan pintunya terbuka. Tampak seraut wajah ganteng, dah seumuran om om sih, ya gak apa, daripada kedinginan dan gak dapet kendaraan, aku nyelonong aja masuk ke mobilnya. "Numpang ya om..?" katanya. Dia tersenyum dan mengangguk, "Kehujanan..?" tanyanya sekenanya. Udah tau ujan pake nanya lagi, kataku dalam hati. Akhirnya kami berkenalan, "Nama saya Dina..." aku menyebut namaku sambil kami berjabat tangan. "Saya Roy..." dia pun memperkenalkan diri.
Setelah berbasa-basi sana-sini sambil menanyakan tempat tinggal dan sebagainya. Sepanjang jalan dia melirikku yang waktu itu masih kelas tiga SMU, tubuhku yang terbungkus baju basah agak menggigil, blouseku melekat memperlihatkan bra dan isinya yang ukurannya lumayan.
Sampai di rumah, aku turun dan melambaikan tangannya. Dia pun menggenjot pedal gas. Aku sudah melupakannya karena gak pernah bertemu lagi, sampe suatu sore aku melihatnya lagi sedang belanja disebuah hipermarket dimana aku sering belanja. Saat antri di kasir, aku memanggilnya, "Om Roy". Dia menoleh dan tersenyum, kayanya lupa-lupa ingat pada aku yang saat itu mengenakan t-shirt dan jeans. "Aku Dina.., lupa ya..?" Sambil berusaha keras mengingat, dia masih tersenyum, akhirnya dia ingat, aku anak SMU yang kehujanan beberapa waktu yang lalu. Singkat cerita kami kembali bersamaan, kali ini aku lebih banyak ngobrol tentang berbagai hal, dia hanya menjadi pendengar setia. "Om kok blanja sendiri, mangnya tantenya lagi repot ya". "Aku tinggal sendiri kok Din". "Oh, maaf, aku gak tau om". "Gak apa lagi". Saat mendekati rumahku, aku mempersilakan mampir, tapi dia menggeleng, "Lain kali..," ujarnya basa-basi. "om... lusa aku pesta perpisahan sekolah, boleh dong om anterin..?" pandanganku begitu memohon. Akhirnya dia mengiyakan. "Dress codenya apa?" "Santai aja om, gak usah formil". Sore sekitar pukul 18:30, dia menunggu aku di tempat yang dijanjikan, karena jalan ke rumahku tidak mungkin dilalui mobil. Dia berpakaian formil, menurutku lo, tapi buat dia ya biasa aja. Mungkin yang biasa buat orang seumuran dia, menjadi formil buat abg seumuranku.
Aku pun hanya mengenakan jin dan tanktop yang aq tutupi dengan blazer. Aku membawa tas lumayan besar, isinya baju ganti, siapa tau dia ngajakin aq jalan sehabis pesta, dalam hati aku mengharap sih. "Bawa apa Din, kok tasnya gede amir?" "Ah biasanya juga bawa tasnya segini kok om", jawabku. Belahan leherku yang agak dalam membuat dua bukit kembarku tersembul apabila aku salah posisi. Pesta perpisahan berlagsung meriah, meski dia kurang bisa menimati, mungkin karena pestanya abg. Temen2ku saling menggunjingkan om Roy, "Din, bagi2 dong ma kita", kata salah satu temen cewekku. "Enak aja, kalian kan dah sering maen ma om2, giliran aku dong skarang". Memang aku pengen jalan ma om Roy karena terpengaruh crita temen2ku yang dah sering jalan ma om2. Mereka bilang lebih nikmat maen ma om2 daripada ma cowok sepantaran kita. Sekitar pukur 23.00, acara selesai. Dia mengajakku pulang. "Acaranya menarik nggak, om?" tanyaku lincah. Dia hanya tersenyum menatapku. "om, jalan-jalan dulu yuk..!" ajakku. "Udah malem, mau kemana..?" dia bingung kelihatannya. "Muter-muter aja, om!" pintaku lagi, "Sambil ngobrol." Dia akhirnya mengiyakan ajakanku. Dia mengarahkan mobil menuju jalan tol Jagorawi. Begitu melewati pintu gerbang, "Ke Bogor ya om..!" tanyaku. Dia mengangguk. Kami berbagi cerita tentang kehidupan kami sehari-hari.
Aku memilih-milih CD dan akhirnya memuttar koleksi lagu-lagu kenangan. Ya lagu om2 lah, gak apa juga, daripada sepi kan.
Kira-kira mendekati Cibubur, aku merebahkan kepalaku ke pundaknya. Aku memiliki paduan badan yang seimbang, dengan tinggi 165 cm dan berat 50 kg, sungguh ideal, bibirku agak tebal dan bentuknya melengkung ke bawah. Entah darimana mulanya, tiba-tiba tangan kirinya telah merengkuh pundakku. Dibelainya pipiku yang halus, sementara tangan kanan tetap memegang stir. Aku tersenyum, dan semakin dalam membenamkan kepalaku ke pundaknya, tanganku tersandar di paha kirinya. Aku kembali tersenyum. Tanpa diduganya , tiba-tiba aku mengecup pipinya, "Aku mengagumi om.. sejak pertama ketemu." kataku lirih, amat dekat di telinganya, sehingga dengus nafasku begitu dekat di pipinya. kembali dia terkejut oleh gesekan lembut tangan ku tepat di selangkangannya.
Dia kaget, aku tertawa kecil, "Om, dah keras, besar ya om?" Aku terus mengelus-elus selangkangannya yang dah mengeras banget. Tangan kirinya tiba-tiba punya keberanian untuk menyentuh tonjolan di dada kiriku. Menyelip kedalam belahan tanktopku, kedalam braku dan meremas toketku dengan penuh napsu. Diremasnya pelan-pelan sambil sesekali memelintir pentil yang kecil dan lembut.
Dia kembali terkaget-kaget saat tiba-tiba aku melepaskan ikat pinggangku, menyingkap kemejanya dan kemudian membuka resliting celananya. Mobil dipacu pelan dan diarahkannya ke lajur kiri. Tangan lembutku menyerobot batang kon tolnya dan mengeluarkannya. "Om gede banget, panjang lagi". "Mangnya Dina belon pernah liat yang sebesar ini". "Belon om, punya cowok Dina gak segede om punya". tangan kananku terus meremas halus batang kon tolnya. Mendadak sebuah gerakan tidak terduga kulakukan, kepalaku menuju ke arah batang kon tolnya, dia kaget, digesernya tempat duduk, dan distel agak merebah sandaran kursinya, sambil terus menyetir, diaturnya agar kepalaku leluasa di pangkuannya. Dia tidak mau kepalaku yang indah tersenggol stir. Pelan-pelan aku mengecup, melumat dan menyedot batang kon tolnya, sambil kaki tetap menginjak pedal gas, pantatnya bergerak seirama sedotan mulutku, tangan kirinya berpindah-pindah antara toket kiri dan kanan yang lembut namun kenyal. Mobil masil meluncur menuju arah Bogor, makin lama sedotanku semakin liar, bajunya berantakan. Aku terus melumat, menjilat dan menyedot batang kon tolnya yang kian mengeras. Aku terus menyedot, batang kon tolnya, pinggangnya pun bergerak turun naik, mengikuti sedotanku. Kira-kira mendekati Bogor, dia sepertinya merasakan desakan hebat di batang kon tolnya, segera ditariknya kepalaku, dilumatnya bibirku, sambil tetap berusaha mendapatkan pandangan arah depan, agar tidak menabrak. Jemari lembut ku kini mengambil alih tugas mulutku, mengocok batang kon tolnya yang telah licin. "Din, kita cek in yuk". "Om dah gak tahan ya". "Iya nih, abis kamu nakal banget sih. Dah sering nyepongin kon tol ya Din, nikmat banget deh sepongan kamu". Mobilnya melewati gardu tol, dia membayar biaya tol dan mobil melaju kembali. Setelah masuk kota, mobilnya segera mengarah ke satu hotel yang terletak didaerah pemukiman, sehingga suasanya tenang. Aku lupa nama hotelnya. "Mau kan Din". "Siapa takut", jawabku. Kami turun dari mobil, aku menjinjing tasku. Portir hotel sepertinya dah kenal dengan om Roy, proses cek in berlangsung cepat, dan gak lama kemudian kami dah berada disebuah kamar. "Om sering kemari ya, portirnya sampe dah ngenalin. Ma abg ya om". "Iya sayang". Aku hanya tersenyum dan menyimpan tasku dilemari, melepas blazerku. . Sementara dia melepaskan pakean luarnya dan berbaring di ranjang hanya mengenakan CD. "Din, kesini dong". kon tolnya yang besar dan panjang masih ngaceng dengan kerasnya. Aku tersenyum melihat posenya yang menantang di ranjang. Aku duduk disebelahnya dan dia langsung mencium bibirku dengan penuh napsu. Aku membalas lumatannya juga. "Din aku dah napsu banget nih", katanya sambil menciumi leherku. "Sama, Dina juga napsu om". Dia mengusap2 punggungku dan mulai meremas2 toketku dari luar tanktopku. Gak lama kemudian dia melepaskan tanktop dan celana jinsku. Sepertinya dia gak mau menyia2kan waktu sedikitpun. Aku sih ok saja karena sejak tadi di kelas CDku dah basah membayangkan nikmatnya dien tot om Roy. Braku gak lama kemudian juga terlepas. Ciumannya menjalar menyusuri leher dan belakang kupingku. Aku menggelinjang kegelian, "Geli om ". Aku makin menggeliat ketika lidahnya menyelusuri toketku dan turun di belahannya. Dia terus memainkan lidahnya di toketku tapi tidak sampai ke pentilku. "om diisep pentilku dong", aku mendesah2. Dia terus saja menjilati daerah sekitar pentilku, tapi pentilku tidak disentuh. Kemudian ciumannya turun ke arah perutku sambil tangannya mengusap2 daerah no nokku, CDku sudah basah karena napsuku sudah berkobar2. "Din, kamu udah napsu banget ya, sampe CD kamu basah begini", katanya sambil meneruskan usapan. Aku gak tahan lagi, kepalanya kutarik dan kudekatkan ke pentilku. "Diisep dong om ", rengekku. Dia segera mengisap pentilku sambil meremas toketku. "Terus om , diisep yang keras om, enak om akh", erangku. Dia mengemut pentilku bergantian, demikian pula toketku diremas bergantian. Sesekali dielus2nya it ilku dari luar CDku.
Minggu, 24 Juni 2012
daun muda om roy
-
Dia bangkit, melepas CDnya. kon tolnya yang besar dan panjang sudah ngaceng dengan kerasnya. "kon tol om masih besar dan panjang ya om , keras banget lagi", kataku sambil menciumi kon tolnya dan mengenyot kepalanya. Kepalanya kemudian kujilati dan jilatanku turun ke arah bijinya. Seluruh kon tolnya kujilati. "Enak Din terusin dong emutannya", katanya. Kemudian dia memutar tubuhnya sehingga posisinya menjadi 69. CDku langsung dilepas, "Ni jembut lebat banget", katanya sambil mengelus2 jembutku yang sudah basah karena lendir no nokku. Dia mulai menjilati no nokku. "Enak om, terus", aku mengerang keenakan, dan makin menggelinjang ketika lidahku menyentuh it ilku. kon tolnya kuemut dengan keras, kepalaku mengangguk2 mengeluar masukkan kon tolnya dimulutku. Akhirnya aku gak bisa bertahan lebih lama lagi, aku nyampe kerana it ilku dikenyot2, "om , Dina nyampe om , aakh". kon tolnya terus kukocok dengan cepat dan keras. "Din, aku mau ngecret juga Din", katanya terengah. Segera kepala kon tolnya kuemut lagi dan kukenyot dengan keras, aku terus mengocok kon tolnya sampai akhirnya dia ngecret dimulutku. Banyak banget pejunya nyembur sampe meleleh keluar dari bibirku. kon tolnya terus kukenyot sampe denyutan ngecretnya hilang baru kulepas. Pejunya kutelannya tanpa rasa jijik, "Din nikmat banget ya emutanmu, pastinya emutan no nokmu lebih nikmat lagi ya", katanya terengah. Dia berbaring disebelahku, dipeluknya badanku. Belum dien tot saja dia sudah ngasih aku ke kenikmatan.
Setelah itu kami membersihkan diri di kamar mandi. Didalam kamar mandi pun kami saling membersihkan badan. kon tolnya mengeras lagi ketika kukocok2 pelan2, aku jongkok didepannya dan mengemut kon tolnya lagi, langsung saja kon tolnya ngaceng dengan kerasnya. Kepalaku bergerak maju mundur memasuk keluarkan kon tolnya dimulutku. Dia gak bisa menahan diri lagi, langsung dia duduk di toilet, aku dipangku berhadapan, sambil mengarahkan kon tolnya ke no nokku. Segera kon tolnya nancep dino nokku, terasa sekali no nokku melebar untuk menampung kon tolnya yang dienjotkan pelan2 sehingga makin nancep di no nokku, "Enak om, ssh". Aku mengenjotkan badanku maju mundur supaya kon tolnya bisa nancep dalem di no nokku, diapun mengenjotkan kon tolnya juga sehingga terasalah gesekan kon tolnya dino nokku. Nikmat banget rasanya. Sedang nikmat2nya, dia berhenti mengenjotkan kon tolnya. Aku disuruhnya memutar badanku tanpa mencabut kon tolnya dari no nokku. Aku disuruh nungging sambil berpegangan di wastafel. Mulailah dia mengenjotkan kon tolnya dari belakang. Sambil mengenjot, toketku yang mengayun2 seirama enjotannya kuiremas2. "Akh om , nikmat banget om . kon tol om nancepnya dalem banget om, Sesek no nok Dina rasanya, gesekan kon tol om kerasa banget, enjot terus yang cepet om , Dina udah mau nyampe lagi", erangku. "Cepet banget Din", katanya. "Abis nikmat banget sih kon tol om, jadi Dina gak bisa nahan lagi", erangku. Dia makin cepat mengenjotkan kon tolnya keluar masuk sampe akhirnya aku menggelinjang dengan hebat, "Akh om , Dina nyampe lagi, Dina lemes om ", erangku terengah2.
Bibirku langsung diciumnya dengan penuh napsu, lidahnya yang dijulurkan ke mulutku kuisep kuat2 juga. Dia melingkarkan tangannya di leherku dan langsung meremas2 toketku. Terasa kon tolnya yang masih ngaceng menekan ke perutku. Dia terus saja meremas2 toketku, pentilku yang sudah mengeras langsung dijilati. Aku jadi menggelinjang kegelian. Jilatannya turun terus ke bawah, ke puserku dan terus menciumi daerah no nokku yang sudah basah. "Din kamu sudah siap dien tot lagi ya, udah basah begini", katanya. Dia membopongku sambil terus menciumi bibirku. Aku dibaringkan di ranjang, sambil terus menciumi seluruh tubuhku, napsunya makin berkobar2, berkali2 aku menggelinjang. Sambil mengulum bibirku, dia mengelus2 pinggulku, kemudian jarinya mulai mengilik no nokku dan akhirnya it ilku yang menjadi sasaran. Aku mengangkangkan pahaku supaya dia mudah mengakses no nok dan it ilku. Aku menggeliat2 saking napsunya. Jarinya makin cepet menggesek it ilku, aku mengangkat2 pantatku karena sudah pengen banget dienjot, "Ayo dong om , Dina dien tot, udah pengen banget kemasukan kon tol om lagi", rengekku.
Dia kemudian menelungkup diatasku, kon tol diarahkan ke no nokku dan kepalanya mulai nancep di no nokku, "Akh, enak om , masukin semuanya om ", lenguhku. Dia mulai mengenjotkan kon tolnya keluar masuk, makin lama makin cepat dan akhirnya dengan satu enjotan keras seluruh kon tolnya nancep semuanya di no nokku, "Akh, enak om , masuk semuanya ya om, no nok Dina sampe sesek banget rasanya kesumpel kon tol om ". Dia terus mengenjotkan kon tolnya keluar masuk makin cepat dan keras. "Enak om, terus om, enjot yang cepet dong", rengekku terus. Setengah permainan dia mencabut kon tolnya dari no nokku, "Kenapa dicabut om, belum nyampe", protesku. "Variasi dong", jawabnya sambil menjepitkan kon tolnya yang keras banget di toketku. Aku menjepit kon tolnya dengan toketku, dia bergerak maju mundur, menggesekkan kon tolnya di toketku. Ketika dia memajukan kon tolnya, kepalanya kuemut sebentar dan kemudian terlepas karena dia memundurkan lagi, terus seperti itu. "Enak Din", erangnya. Setelah puas menggesek kon tolnya ditoketku, dia berubah posisi lagi.
"Kamu sekarang diatas ya Din", katanya sambil berbaring. Segera aku menaiki badannya dan menempatkan kon tolnya yang ngaceng tegak di no nokku. Aku menurunkan no nokku pelan2 dan bles, kon tolnya mulai ambles di no nokku, "Akh, enak banget om ", lenguhku. Aku menaik turunkan pantatnya dengan cepat sehingga kon tolnyapun makin cepat terkocok2 didalem no nokku, nikmat banget rasanya. Dia pun melenguh, "Enak Din, terus yang cepet". Aku merunduk dan mencium bibirnya, dia memeluk punggungku sambil gantian mengulum bibirku sambil meremes2 toketku yang berguncang2 seiring dengan naik turunnya badanku mengocok kon tolnya. Pentilku diplintir2. Aku makin bernapsu mengocok kon tolnya dengan no nokku. Dia memegang pinggulku sementara aku terus mengocok kon tolnya.
Kocokanku makin kencang, "om, Dina sudah mau nyampe nih", kataku terengah. Dia meraba it ilku dan dikilik2, ini mempercepat proses aku nyampe, "Akh, om , Dina nyampe, akh nikmatnya", lenguhku dan aku ambruk menelungkup dibadannya. Dia mengeluarkan kon tolnya dari no nokku, masih perkasa kon tolnya. Kemudian kon tolnya kuciumi dan kepalanya kuemut, kepalaku mengangguk2 mengeluar masukkan kon tolnya dalam mulutku. kon tolnya terus kuemut sambil dikeluar masukkan di mulutku, batangnya kukocok2 dengan cepat. "Akh enak banget Din" erangnya. Cukup lama aku mengemut kon tolnya, rupanya karena sudah ngecret 2 kali, dia bisa bertahan lama sekali. kon tol kukeluarkan dari mulutku dan aku disuruh nungging dipinggir ranjang. Dari belakang sambil berdiri dia mencolokkan kon tolnya lagi kedalam no nokku, sekali enjot kon tolnya sudah amblas semua ke no nokku, "Akh, enak banget om", erangku. Dia mengenjotkan kon tolnya keluar masuk no nokku, karena berdiri enjotannya menjadi lebih keras dan lebih cepat, nikmatnya gak terlukiskan dengan kata2. Dia meraba2 lubang pantatku, kemudian jarinya ditusuk2kan kepantatku. "om sakit", protesku. Dia berhenti menusuk2 pantatku, pinggulku dipegangi sambil mengenjotkan terus kon tolnya keluar masuk dengan cepat dan keras. Dia membungkuk dipunggungku supaya bisa meremes2 toketku yang berguncang2 seirama dengan sodokannya. Pentilku kembali diplintir2. "Enak om , terus enjotannya, Dina udah mau nyampe lagi om ", erangnya. "Cepet kok Din, aku belum ngerasa apa2", katanya sambil terus mengenjot no nokku. Akhirnya aku tak bisa nahan lebih lama lagi, "om , Dina nyampe om , akh", aku tersungkur diranjang karena lemes, kon tolnya tercabut dari no nokku, masih keras dan berlumuran lendirku. Dia tidak memberi kesempatan aku istirahat, aku ditelentangkan dan kon tol dimasukkan lagi ke no nokku, terus mulai dienjot lagi keluar masuk dengan cepat dan keras. "om , kuat amat sih kon tolnya, Dina udah lemes om , abis udah 2 kali nyampe", lenguhku. Dia tidak memperdulikan lenguhanku, terus saja kon tol dienjotkan keluar masuk. Makin lama enjotannya makin cepet dan keras, aku sudah pasrah saja telentang keenakan. Toketku diremes2 sambil memlintir2 pentilku, akhirnya "Din aku ngecret", dan pejunya menyembur dino nokku. Aku memeluk dan mengelus2 punggungnya. "om, nikmat banget ngen tot dengan om , istirahat dulu ya om , Dina udah lemes banget", dia mencabut kon tolnya dan rebah disebelahku. Tak lama kemudian kami tertidur kelelahan.
Subuh aku terbangun karena elusan ditoketku, "Udah pagi ya om ", kataku setengah ngantuk. "Belum baru jam 5, masih bisa seronde lagi ya Din", jawabnya. Aku dipeluk dan bibirku dicium, aku membalas memeluknya. kon tolnya mulai kuremes2nya sehingga terasa keras sekali. Dia sudah siap nyodok no nokku lagi. Aku bangun dan mulai mengisap kon tolnya, dia merubah posisi menjadi 69. no nokku dijilati, aku mengangkangkan pahaku sehingga dia bisa menjilati it ilku. Isepan ku menjadi melemah karena serangan di no nokku, "om , subuh2 gini sudah ngasi kenikmatan lagi buat Dina", kataku sambil mengocok2 kon tolnya. "om , Dina sudah napsu banget, dimasukin lagi dong om ", pintaku. Dia sudah napsu juga, segera aku diitelentangkan, dinaiki dan kon tolnya ditancapkan lagi ke no nokku, kemudian mulai dienjotkan keluar masuk. Sebentar saja seluruh kon tolnya sudah nancap kembali di no nokkuu, enjotannya tambah cepat dan keras, "Enak banget om", erangku. Dia terus saja mengenjot no nokku dengan kon tolnya.
Akhirnya kembali aku mengejang keenakan, "om , Dina nyampe om . om pinter amat sih nyodok no nok Dina, sebentar saja Dina sudah nyampe", lenguhku. Dia terus saja mengenjotkan kon tolnya keluar masuk. Cukup lama dia mengenjot no nokku dengan kon tolnya sampe akhirnya aku nyampe lagi, "om Dina nyampe lagi om , om lama banget sih ngecretnya, Dina udah lemes banget om ", erangku. Dia terus saja mengenjot no nokku sampe akhirnya "Din, aku ngecret", dia menancapkan kon tolnya dalem2 di no nokku dan terasa semburan pejunya di no nokku. "Nikmat banget no nok kamu Din, bisa kedutan, kerasa kaya diemut sama mulut", katanya. Kemudian dicabutnya kon tolnya dari no nokku dan berbaring disebelahku. "Din, nanti sore kita lanjut lagi yuk, kita ngen tot semalem lagi", katanya. "Dimana om?" "Ya ditempatku lah. Kau dicariin ortu gak". "Enggak lah om, aku dah pamit nginep di rumah temen, kan semalem pesta, pulang lusa juga gak apa". Aku akhirnya tertidur lagi dipelukannya.
Ketika terbangun, matahari dah tinggi. Terasa lapar juga karena kerja keras semalem kali ya. Om Roy ngajakin aku breakfast, rupanya dia dah pesan breakfast dianter ke kamar. Sehabis breakfast, kami mandi dan kemudian cek out karena dah waktunya, Aku mengenakan pakean yang aku bawa dari rumah kemarin. "Pantesan bawa tas besar, bawa baju ganti toh kamu". "Iya om, kalo abis mandi trus pake baju yg semalem rasanya kotor lagi deh". kami masih ngobrol ngalor ngidul dalam perjalanan pulang ke Jakarta. Di Jakarta, dia ngajak aku mampir ke warung padang. "Suka makanan padang kan Din". "Suka om, Dina mah suka apa aja, apalagi kon tol gede om", jawabku sambil tertawa. Sehabis makan, kita menurunkan perut dengan jalan2 di mal yang ada disebrang warung padang itu. Dia membelikan aku beberapa potong pakean. "Kok dibeliin om". "Ya berbagilah, kamu kan dah ngasi nikmat ma om semalem, gak apa kan kalo tanda terima kasinya om beliin kamu pakean". "Makasi ya om, sayang". "Bisa gombal juga ya kamu". Kemudian baru kami menuju ke apartmentnya, dah lewat magrib. "Wah asik ya om tinggal di apartment, pasti juga sering bawa abg kemari ya om". "La iyalah, ngelampiasin kalo napsu ma siapa kalo gak ma abg kaya kamu". Apartmentnya tipe studio tetapi ada mezanin nya, semacam balkon. Kamar tidurnya diatas, tanpa tembok lagi sehingga melalui pagar mezanin bisa langsung melihat kebawah. Aku duduk disofa. Dia masuk kamar mandi, ketika keluar dia hanya mengenakan celana pendek dan t shirt. "Asik ya apartmen nya, ada balkonnya. Punya om ya". "Bukan punya kantor". "Asik dong om dapet fasilitas apartment". "Bukan, ini sebenarnya untuk tamu kantor, gak dipake ya aku yang pake lah". Dia mengambilkan can soft drink dingin, dibukakan untukku. Aku meminumnya.Dia memelukku. Aku diciumnya sambil segera meremas2 toketku kembali.
Segera aku kutelanjangi, toketku diciumi dan pentilku diemut2, segera saja pentilku mengeras. Dia segera saja mengiliki2 it ilku."om , kok napsu banget sih sama Dina", tanyanku. "Abis ngen tot sama kamu nikmat banget sih", jawabnya. "Dina kan juga dapet nikmatnya dipatil lagi sama kon tol om ", kataku. Kemudian dia melepas celana dan t shirtnya, dia tidak mengenakan CD. kon tolnya sudah ngaceng dengan keras. Dia duduk di ubin di depanku, kakiku dikangkangkan. Badanku diseret sehingga aku setengah rebah di dipinggir sofa. Lidahnya mulai menggesek no nokku dari atas ke bawah. it ilku menjadi sasaran berikutnya, dijilat, dihisap, kadang digigit pelan, dijilati lagi, "om , enak banget om , terus om ", erangku. Dia terus menjilati it ilku sampe aku nyampe. "Akh om , belum dien tot Dina sudah nyampe, om lihai banget deh makan no nok Dina", kataku. Dia berdiri, aku ditarik supaya duduk. kon tolnya tepat ada dimukaku, segera saja kugenggam dan kuemut kepalanya. Aku mulai mengeluar masukkan kon tolnya sambil batangnya kukocok2 dengan cepat dan keras. Dia mengejotkan kon tolnya pelan dimulutku seperti sedang mengen toti mulutku.
Beberapa saat kemudian, dia berbaring disofa, aku segera menaiki badannya dan menancapkan kon tolnya di no nokku, kusentakkan badanku kebawah dengan keras sehingga sebentar saja kon tolnya udah nancep semua di no nokku. Aku menaik turunkan pantatku dengan cepat sehingga kon tolnya terkocok oleh no nokku dengan cepat juga, "Akh nikmat banget Din", erangnya. Dia menahan badanku sehingga aku berhenti mengenjot. kon tol dikeluarkan dari no nokku, aku disuruh telungkup menungging di sofa dan kembali kon tol ditancapkan ke no nokku dari belakang. Bles, kon tolnya langsung saja nancep semuanya ke no nokku, "Akh, nikmatnya,", kali ini aku yang menggerang. Dia langsung mengenjot no nokku dengan cepat dan keras. Terasa sekali kon tolnya menggesek no nokku, kalo dienjotkan dengan keras terasa kon tolnya nancep dalem sekali di no nokku. Makin cepat dienjot makin nikmat rasanya. Tiba2, "akh om , Dina nyampe, om " , aku meledak juga akhirnya. Dia terus saja mengenjotkan kon tolnya keluar masuk dengan cepat sampe akhirnya kembali dia ngecret, "Din, aku ngecret, nikmat banget rasanya Din", terasa kembali pejunya membanjiri no nokku. "om, Dina lemes banget om , baru sampe apartment udah dien tot lagi. om gak ada matinya ya", kataku sambil tersenyum. "Ya udah kita mandi dan terus tidur", jawabnya sambil masuk ke kamar mandi. Aku berbaring saja di sofa sambil istirahat. Selesai mandi, dia keluar masih bertelanjang bulat. Giliranku mandi. Selesai mandi, dia sudah berbaring diranjang di lantai mezanin, aku berbaring disebelahnya. Sensasinya beda, karena terasa berbaring dikamar yang sangat besar, tak lama kemudian aku tertidur.Ketika terbangun, dia gak ada diranjang. Aku bangun ke kamar mandi, pipis.muka kubasuh dengan air dingin. Seger sekali rasanya. Rupanya dia ada di pantri dilantai bawah sedang menyeduh kopi dan menghangatkan makanan di microwave. Aku duduk di meja makan. "Din, kalo laper lagi, masih ada makanan nih, tadi aku pesen dibeliin nasi goreng ma security apartment. Dah aku angetin nih, kan barusan kerja keras. kan kita masih mau satu ronde lagi". Aku hanya tersenyum mendengar kata2nya, aku mengunyah nasi goreng yang dibelinya dengan tenang. Sehabis mengisi perut, dia langsung menarik tanganku kembali ke ranjang di atas. Aku dipeluk, segera saja dia meremas2 toketku sambil mencium bibirku dengan gemasnya. Pentilku diplintir2nya pelan, napsuku segera saja berkobar, pentilku segera mengeras. Aku tidak tinggal diam, kon tolnya yang sudah ngaceng keras sekali kukocok2. "Dina isep ya om ", kataku sambil mengubah posisi mendekati kon tolnya. Kepala kon tolnya kujilati kemudian pelan2 kumasukkan ke mulutku. kon tolnya kukulum2, kukeluar masukkan di mulutku. "Enak Din", erangnya. Kemudian dia menarik aku kembali kepelukannya.
Bibirku kembali dilumat, aku membalas lumatannya, sementara dia terus saja meremas2 toketku. Tangannya kemudian mengarah kebawah, it ilku menjadi sasaran berikutnya. "Akh om, enak", erangku. Dia menciumi leherku, terus kebawah mengemut pentilku bergantian, aku terus mengerang keenakan. Ciumannya terus mengarah kebawah, berhenti di puserku sehingga aku menggelinjang kegelian, "Geli om", kataku manja. Akhirnya sampailah ciumannya pada sasaran sesungguhnya, no nok dan it ilku. Jilatannya segera menyerbu it ilku. Aku sudah mengangkang selebar2nya supaya dia mudah menjilati it ilku. Dia meletakkan bantal dibawah pinggulku. "Buat apa om, kan kon tol om panjang. Gak usah diganjel masuknya juga dalem banget", tanyaku. Dia tidak menjawab, terus saja menjilati it ilku yang makin terexpose karena ganjelan bantal itu. Aku jadi tau kenapa dia mengganjal pantatku dengan bantal, supaya dia mudah menjilati it ilku. Jilatannya berubah menjadi emutan, it ilku diemut2nya pelan. Aku menjadi makin blingsatan. "Akh om , Dina udah pengen dien tot, om .Masukin dong kon tol om ", erangku.
Dia menghentikan emutannya, aku dinaikinya dan mengarahkan kon tolnya ke no nokku. Dia menggosok2kan kepala kon tolnya di no nokku yang sudah basah banget, "Ayo dong om , tancepin aja semuanya", erangku gak sabar. Aku makin menggelinjang karena gosokan kon tolnya itu. Pelan2 dimasukkannya kon tolnya ke no nokku. Dia menekan kon tolnya masuk sedikit2 demi sedikit. Karena ganjalan bantal, kon tolnya jadi lebih mudah nancep. "Akh, ssh, enak banget om , tancepin aja semuanya sekaligus sampe mentok", kataku. Dia mulai mengenjotkan kon tolnya keluar masuk pelan sehingga sedikit demi sedikit kon tolnya nacep makin dalem aja. Enjotannya makin cepat dan dengan sekali hentak kon tolnya ditancepkan semuanya ke no nokku, "Akh enak banget om", erangku. Dia terus saja mengenjotkan kon tolnya dengan keras dan cepat, "Enak om, terus om, yang cepet, Dina udah mau nyampe om ", erangku terengah2. Tau aku udah mau nyampe, dia mempercepat enjotan kon tolnya, setiap enjotan lengsung menancapkan kon tolnya dalam2 di no nokku. Pantatku menggeliat2 tidak teratur saking nikmatnya. Akhirnya aku sampe juga. Kakiku segera membelit kakinya, aku memeluk punggungnya, "om, Dina nyampe, akh, ssh, enak banget om ", jeritku keenakan. Dia terus saja mengenjotkan kon tolnya keluar masuk setelah aku meletakkan kakiku diatas ranjang lagi, rasa nikmat membuatku terkapar, napasku tersengal2. Dia tidak peduli dengan kondisiku, tetap saja kon tolnya dienjotkan dengan cepat dan keras. Sebentar kemudian napsuku sudah bangkit lagi, aku mulai menggeliat2kan pantatku.
"Din ganti posisi yuk", katanya sambil mencabut kon tolnya dari no nokku. Aku disuruhnya menungging dipinggir ranjang. Dia berdiri dibelakangku dan menancapkan kon tolnya dino nokku. Sekali sodok, kon tolnya sudah nancep sampe pangkalnya. Sambil berdiri dia mengenjot no nokku. kon tolnya bergerak keluar masuk no nokku dengan cepat dan keras. Enjotannya lebih terasa keras karena dia berdiri sehingga tenaga enjotannya menjadi lebih besar. "Akh om , enak banget, enjotan kon tol om terasa banget keluar masuk no nok Dina, terus om , ssh", erangku. Dia mempercepat enjotan kon tolnya, "Din, aku udah mau ngecret Din", katanya. "Iya om , Dina udah mau nyampe lagi, barengan ya om ", jawabku. Dia mengenjotkan kon tolnya dalem2 dengan keras, "Din, aku ngecret, akh, ssh", erangnya. Akupun mengejang karena nyampe lagi, "om, Dina juga nyampe om , akh nikmat banget om ," jeritku. Dia menelungkup diatas punggungku sehingga aku rebah keranjang. kon tolnya tercabut dari no nokku. Dia berguling dan berbaring disebelahku yang masih nelungkup. "om , nikmat banget deh enjotannya kalo om ngenjotnya sambil berdiri", kataku. Dia hanya tersenyum. Dia bangun ke kamar mandi, pipis. Kembali ke ruangan dia mengambil air dingin di lemari es, diminum habis segelas, dia mengisinya lagi dan diberikan kepadaku yang masih terkapar kelelahan.
Aku masih pengen sekali lagi ngerasain kon tolnya keluar masuk, segera saja aku mulai menjilati kon tolnya. Terus kuemut2 sambil kukocok2, gak lama kon tolnya sudah keras lagi. "Hebat om , udah ngaceng lagi", kataku sambil terus mengocok kon tolnya. "Kamu juga hebat Din, napsu kamu cepet sekali berkobar, kayanya kamu gak puas2 ya makan kon tolku", katanya. "Mana bisa puas om , kan gak tiap hari no nok Dina keiisi kon tol om , mumpung ada kesempatan ya dituntasin aja", kataku sambil kembali mengemut kon tolnya. Aku mengubah posisi nelungkup sambil mengangkang diatas mukanya, posisi 69. Dia tau apa yang harus dikerjakan, sambil menikmati kon tolnya yang sedang kuemut2, dia segera menjilati no nokku sampe ke pantatku, it ilku dikilik2 dengan tangan. Aku segera bangun dan menduduki kon tolnya, kon tolnya segera saja ambles dino nokku sekali lagi. Aku menaik turunkan pantatku sambil mengejangkan no nokku meremas kon tolnya. Enjotanku makin cepat, dia merintih2 keenakan, "Enak Din, empotan no nok kamu kerasa banget, lihai sekarang kamu ya Din", katanya. Setiap enjotan kebawah membuat kon tolnya nancep semua di no nokku.
Setiap aku menaikkan pantatku, tampak bibir no nokku turut terarik keluar karena cengkeraman no nokku di kon tolnya. Enjotanku makin lama makin cepat, 'Akh om enak om , Dina udah mau nyampe lagi", erangku, dia meremas2 toketku yang berguncang2 mengikuti irama enjotanku, pentilku diplintir2 menambah kenikmatanku. Sampai akhirnya, "Akh om , Dina nyampee om , ssh", akupun ambruk didadanya. Dia segera menggulingkanku sehingga sekarang dia yang diatas, kon tolnya yang masih keras tetap nancep di no nokku. Dia sekarang yang ambil peran, mengenjot no nokku dengan cepat dan keras. Cepat sekali enjotannya, aku hanya bisa ber aakh ssh saja saking enaknya, sampe akhirnya diapun gak tahan lagi, "Din, aku ngecret Din", erangnya sambil menancapkan kon tolnya sedalam2nya di no nokku. Terasa semburan pejunya di no nokku sehingga akupun nyampe lagi untuk kesekian kalinya. "om , kapan Dina dien tot lagi", rengekku. "Nanti kalo ada kesempatan lagi".
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar